Pembacaan doa dan surah Yasin di malam nishfu Sya’ban

Berikut riwayat mengenai pembacaan doa dan surah Yasin pada malam Nishfu Sya’ban beserta macam-macam niatnya:

Ibnu Thawus dalam kitab Iqbal menyebutkan riwayat Kumail bin Ziyad Nakha’i yang menyatakan, “Pada suatu hari, saya (Kumail) duduk di Masjid Basrah bersama maulana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib k.w., membicarakan nishfu Sya’ban. Ketika, beliau ditanya tentang firman Allah Swt dalam surah Ad-Dukhan [44]:4: فِيْهَا يُفْرَقُ كُلُّ أمْرٍ حَكِيْمٍ   

(Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah). Amirul Mukminin mengatakan bahwa ayat ini mengenai malam nishfu Sya’ban. Orang yang beribadah di malam itu, tidak tidur dan membaca doa Hadrat Khidr a.s. akan lebih besar harapan diterima doanya.

Ketika malam itu beliau pulang kerumahnya, saya menyusulnya. Melihat saya, Imam Ali bertanya, ‘Apakah keperluan anda kemari’? Jawab saya; ‘Saya kemari untuk mendapatkan doa Hadrat Khidr’. Beliau mempersilahkan saya duduk seraya berkata, ‘Ya, Kumail, apabila anda menghafal doa ini dan membacanya setiap malam Jum’at, cukuplah itu untuk melepaskan anda dari kejahatan, anda akan ditolong Allah Swt., diberi rezeki dan doa ini makbul’. Ya, Kumail, lamanya persahabatan serta ke khidmatan anda, menyebabkan anda dikarunia nikmat dan kemuliaan untuk belajar’ ”.

 

Para ulama berbeda mengenai tafsir surah ad-Dukhan, ‘Lailah Mubarakah’  (لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ )

Sebagian Ulama mengatakan yang dimaksud adalah malam nishfu Sya’ban dan para ulama lainnya mengatakan itu adalah malam Laitul Qadar.

Dalam kitab Tafsir al-Qurtubi riwayat dari sahabat Ikrimah r.a.disebutkan:

       وَقَالَ عِكْرِيْمَةُ هِىَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يُبْرَمُ فِيْهَا أَمْرُ السَّنَةِ وَيُنْسَخُ اْلأَحْيَاءُ مِنَ اْلأَمْوَاتِ وَيُكْتَبُ الْحَاجُّ فَلاَ يُزَادُ فِيْهِمْ أَحَدٌ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْهُمْ أَحَدٌ وَرَوَى عُثْمَانُ بْنُ الْمُغِيْرَةِ قَالَ قَالَ النَّبِىَ (ص) تُقْطَعُ اْلأَجَالُ مِنْ شَعْبَانَ إلَى شَعْبَانَ حَتَّى أَنَّ الرَّجُلَ لَيَنْكِحُ وَيُوْلَدُ لَهُ وَقَدْ خُرِجَ اسْمُهُ فِى الْمَوْتَى. وَقَالَ اْلقَاضِى أبُوْ بَكْرِ بْنِ الْعَرَبي وَجُمْهُوْرُ الْعُلَمَاءُ عَلَى أنَّهَا لَيْلَةُ اْلقَدْرِ.

 

[Ikrimah berpendapat bahwa yang dimaksud Lailah Al Mubarakah itu adalah malam Nishfu Sya’ban]. Ikrimah berkata, “Di malam nishfu itu, Allah menentukan semua urusan dalam setahun, menghapus nama-nama orang dari daftar calon orang yang akan wafat (dipanjangkan umurnya) dan mencatat nama-nama orang yang akan melaksanakan haji tanpa ditambah atau dikurangi. Usman bin Mughirah meriwayatkan hadis bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ajal ditentukan dari satu Sya’ban ke bulan Sya’ban berikutnya, hingga seseorang menikah dikaruniai anak dan namanya dikeluarkan dari orang-orang yang akan wafat” (HR Ibnu Abi Dunya dan Al Dailami). Qadli Abu Bakar bin Al- Arabi dan jumhur ulama berkata, ‘bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadar.’” (Tafsir al-Qurtubi, XVI/85)

Disamping doa hadrat Khidr tersebut ada doa malam nishfu Sya’ban yang masyhur/terkenal, diriwayatkan oleh Abu Syaibah di dalam Al-Mushannif  dan oleh Abu Dunya di dalam Ad-Dua, berasal dari Ibnu Mas’ud r.a. Ada pula, hadis dari Ibnu Umar yang mengatakan, Seorang hamba Allah yang memanjatkan doa-doa (doa nishfu Sya’ban) itu, Allah pasti meluaskan penghidupannya (rezekinya). Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir dan At-Thabarani meriwayatkan juga hadis tersebut dengan lafal  tidak jauh berbeda.Juga beberapa sumber rujukan yang mengisnadkan sebagian isi doa nishfu dari Umar bin Khatab r.a.

 

Sebagian kalimat doa malam nishfur Sya’ban antara lain sebagai berikut:

“Ya Allah Tuhanku Pemilik nikmat, tiada ada yang bisa memberi nikmat atas-Mu. Ya Allah Pemilik kebesaran dan kemuliaan. Ya Allah Tuhanku Pemilik kekayaan dan Pemberi nikmat. Tidak ada yang patut disembah hanya Engkau. Engkaulah tempat bersandar. Engkaulah tempat berlindung dan pada Engkaulah tempat yang aman bagi orang-orang yang ketakutan.

Ya Allah Tuhanku, jika sekiranya Engkau telah menulis dalam buku besar-Mu bahwa adalah orang yang tidak bebahagia atau orang yang sangat terbatas mendapat nikmat-Mu, orang yang dijauhkan daripada-Mu atau orang yang disempitkan dalam mendapat rezeki, maka aku memohon dengan karunia-Mu, semoga kiranya Engkau pindahkan aku kedalam golongan orang-orang yang berbahagia, mendapat keluasan rezeki serta diberi petunjuk kepada kebajikan. Sesungguhnya Engkau telah berkata dalam kitab-Mu yang telah diturunkan kepada Rasul-Mu, dan perkataan-Mu adalah benar, yang berbunyi: Allah mengubah dan menetapkan apa-apa yang dikehendaki Nya dan pada-Nya sumber kitab. Ya Allah, dengan tajalli-Mu Yang Mahabesar pada malam Nisfu Sya’ban yang mulia ini, Engkau tetapkan dan Engkau ubah sesuatunya, maka aku memohon semoga kiranya aku dijauhkan dari bala bencana, baik yang aku ketahui atau yang tidak aku ketahui, Engkaulah Yang Mahamengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Dan aku selalu mengharap limpahan rahmat-Mu ya Allah Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Bagi yang ingin mengetahui lafal doa ini, bisa baca pada kitab Majmu’ Syarif  yang banyak dijual pada toko-toko buku agama.

 

Adapun, pembacaan surah Yasin pada malam Nishfu Sya’ban beserta macam-macam niatnya, merupakan hasil ijtihad para ulama.

Dalam kitab Asnal Mathalib, disebutkan;

وَأَمَّا قِرَاءَةُ سُوْرَةِ يس لَيْلَتَهَا بَعْدَ الْمَغْرِبِ وَالدُعَاءِ الْمَشْهُوْرِ فَمِنْ تَرْتِيْبِ   بَعْضِ أهْلِ الصَّلاَحِ مِنْ عِنْدِ نَفْسِهِ قِيْلَ هُوَ الْبُوْنِى وَلَا بَأْسَ بِمِثْلِ ذَلِكَ.

“Adapun pembacaan surah Yasin pada malam Nishfu Sya’ban setelah Maghrib dan doa masyhur merupakan hasil ijtihad sebagian ulama, ia adalah Syeikh Al-Buni dan hal itu bukan suatu hal yang buruk”. (Asna al-Mathalib, 234).

Dalam kitab Fathul Malik Al-Majid disebutkan,

 كَمَا قَالَ (وَمِنْ خَوَاصِ سُوْرَةِ يس)كَمَا قَالَ بَعْضُهُمْ أنْ تَقْرَأَهَا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ الأُوْلَى بِنِيَّةِ طُوْلِ اْلعُمْرِ وَالثَّانِيَةُ بِنيَّةِ دَفْعِ الْبَلاَءِ وَالثَّالِثَةُ بِنِيَّةِ اْلإسْتِغْنَاءِ عَنِ النَّاسِ.

“(Diantara keistimewaan surah Yasin), sebagaimana sebagian dari mereka (para ulama) berkata, agar dibaca pada malam Nishfu Sya’ban sebanyak 3 kali. Yang pertama, dengan niat memohon panjang umur, kedua niat terhindar dari bencana dan ketiga niat agar tidak bergantung kepada orang lain”. (Fathu al-Malik al-Majíd, 19).

 

Dalam kitab Talkhish Fatawa Ibnu Ziyad disebutkan,

حَدِيْثُ يس لِمَا(مَسْئَلَةٌ)حَدِيْثُ يس لِمَا قُرِئَتْ لَهُ لاَ أَصْلَ لَهُ وَلَمْ أَرَ مَنْ عَبَّرَ بِأَنَّهُ مَوْضُوْعٌ فَيَحْتَمِلُ أنَهُ لاَ أصْلَ لَهُ فِى الصِّحَّةِ وَالَّذِىْ أعْتَقِدُهُ جَوَازُ رِوَايَتِهِ بِصِيْغَةِ التَّمْرِيْضِ نَحْوُ بَلَغَنَا كَمَا يَفْعَلُهُ أصْحَابُ الشَّيْخِ اِسْمَعيِلَ اْلَجْبَرِتى .

“(Persoalan)Hadis yang berbunyi, “Surah Yasin dapat dibaca sesuai dengan niat tujuannya” merupakan hadis yang tidak ada dasarnya. Namun, saya tidak mengetahui/menemukan ulama yang mengatakannya sebagai hadis palsu. Bisa jadi yang dimaksud adalah hadis tersebut tidak sahih. Saya meyakini bahwa boleh meriwayatkan hadis tersebut dengan redaksi riwayat yang tidak tegas, seperti telah sampai pada kami yang dilakukan oleh para sahabat Syeikh Ismail Al-Jabrati (dari Yaman).” (Talkhísh Fatawa Ibnu Ziyad, 301)

Dengan banyaknya riwayat mengenai keutamaan bulan (malam nishfu) Sya’ban maka semua amalan saleh (shalat sunnah, sedekah, puasa dan membaca tiga kali surah Yasin dengan niatnya sekali, membaca doa yang ditulis para salaf) pada bulan Sya’ban dan khususnya pada malam nishfu Sya’ban itu mustahab untuk diamalkan bagi orang yang ingin mengamalkan nya. Tidak ada seorangpun dari para Salaf yang menyesatkan, mengharamkannya amalan sunnah atau mubah, kecuali golongan wahabisme-salafisme dan pengikutnya.

 

Ibadah dan berdoa pada malam Nishfu Sya’ban meski bermacam-macam, tapi makna dan intinya sama yakni bermohon kepada Allah Swt. untuk kebaikan didunia dan akhirat. Ada yang shalat sunnah enam rakaat pada waktu antara maghrib dan Isya’. Banyak hadis yang tidak diragukan kebenarannya mensunnahkan shalat enam rakaat tersebut. Ada pula, yang mengisinya dengan bertawasul membaca surah Yasin (sebagaimana yang telah dikemukakan) pada malam nishfu sya’ban. Setiap selesai membaca Yasin disambung dengan doa, hal ini diulangi sampai tiga kali. Ini semua, tidak lain merupakan tawasul kepada Allah Swt. dengan kitab suci-Nya, dengan firman-Nya dan dengan kesucian sifat-sifat-Nya.

Para ulama sepakat kesahihan hadis Rasulallah Saw. tentang riwayat tiga orang yang tertutup di goa, kemudian berdoa kepada Allah Swt. dengan bertawasul kepada amal kebaikan yang pernah mereka perbuat, dan Allah Swt. mengabulkan doa mereka. Kalau bertawasul dengan amal kebaikan tersebut dibolehkan dan mustajab doanya, apalagi sebelum berdoa kepada Allah Swt. bertawasul dengan firmanNya,surah Ya Sin, insya Allah lebih besar lagi harapan doa kita dikabulkan oleh Allah Swt..Wallahua'lam

Silahkan ikuti kajian berikutnya.