Keturunan (Ahlul-Bait) Rasulallah Saw.

Terdapat kecenderungan bahwa sebagian kelompok muslimin menyatakan bahwa dzuriyah (keturunan) Rasulallah Saw. telah punah. Mereka, memandang bahwa kini sudah tidak ada kelompok yang bergelar sayid/sayidah, syarif/syarifah. Ahlul Bait sudah punah seiring dengan tewasnya cucu Rasullullah Saw.: Hasan dan Husain.  Hal lain yang cukup mengagetkan, adalah pandangan sebagian kelompok muslimin yang cenderung tidak mau mengakui kemuliaan nasab Ahlul Bait. Bagi mereka, semua anak-cucu Adam a.s. adalah sama dan sederajat. Tak ada posisi khusus, apalagi kemuliaan tertentu.

 

Dalam bab ini, kami ingin mengutip dan mengumpulkan riwayat-riwayat mengenai kemuliaan nasab Ahlul-Bait atau keturunan Rasulallah Saw. Selain dikutipkan sejumlah pendapat dari para ulama klasik, dalam bab ini kami kutipkan juga perdebatan mengenai eksistensi dan kedudukan ahlul bait antara ulama golongan Pengingkar dan ulama golongan lainnya. Dari kelompok Pengingkar, ada ulama bernama Syaikh Ali Tanthawi. Dari penyanggahnya, kami kutipkan makalah yang  ditulis oleh Syaikh Segaf Ali Alkaff. Kami kutipkan pula, pendapat ulama asal Indonesia, Prof. Dr. HAMKA mengenai gelar Sayid atau Habib dan peran keturunan Rasulallah Saw (Kaum Alawiyin) dalam penyebaran agama Islam di Indonesia, termasuk para Walisongo.

 

Pembahasan mengenai keturunan Rasulallah Saw. ini sama sekali tidak bermaksud hendak membuka perdebatan atau polemik. Tidak lain bermaksud menyampaikan wasiat Rasulallah Saw.. Karena semua yang diwasiatkan serta dianjurkan oleh Rasulallah Saw. harus kita terima dan amalkan. Allah Swt. berfirman,                                         

                    وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا                                           

“Apa yang diberikan Rasul (Muhamad) kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”. (QS Al-Hasyr [59]:7). Semua ucapan Rasulallah Saw. adalah kebenaran yang diwahyukan Allah Swt. pada beliau Saw., firman-Nya,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الهَـوَى إنْ هُوَ إلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى                                                                      

“Dan dia (Muhamad Saw.) tidak mengucapkan sesuatu menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya bukan lain adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadanya”.(QS Surah An-Najm [53]:3-4)

 

Memandang ahlul bait dan keturunan Rasulallah Saw. sebagai orang-orang yang mulia sama sekali tidak mengurangi makna atau firman Allah Swt. dalam surah Al-Hujurat [49 ]:13 berikut ini:

يَآ اَيُّهَا النَّـاسُ إنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَّ أنْثىَ وَجَعَلنَاكُمْ شُعُوبًا    

 وَّ قَبَآئِل َلِـتَعَارَفُوْا, إنَّ أكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أتقَاكُم          

“Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian terhadap Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu”

Dan tidak pula mengurangi makna sabda Rasulallah Saw. yang mengatakan, “Tiada kelebihan bagi orang Arab atas orang bukan Arab (‘ajam), dan tiada kelebihan bagi orang bukan Arab atas orang Arab kecuali karena takwa”.

 

Juga tidak bertentangan dengan surah Al-Ahzab [33]: 33 yang menegaskan,

   إنَّمَا يُرِيْدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ اَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيْرًا   

“Sesungguhnya Allah hendak menghapuskan noda dan kotoran (ar-rijsa) dari kalian, ahlul-bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya” 

 

Kemuliaan yang diperoleh seorang beriman dari kebesaran takwanya kepada Allah dan Rasul-Nya adalah, kemuliaan yang bersifat umum, yakni hal ini dapat diperoleh setiap orang yang beriman dengan jalan takwa. Lain halnya dengan kemuliaan ahlul-bait dan keturunan Rasulallah Saw., mereka memperoleh kemuliaan berdasarkan kesucian yang dilimpahkan dan dikarunia- kan Allah Swt. sebagai keluarga dan keturunan Rasulallah Saw.. Jadi, kemuliaan yang ada pada mereka bersifat khusus, dan tidak mungkin dapat diperoleh orang lain yang bukan ahlul bait dan bukan keturunan Rasulallah Saw..

Akan tetapi, itu bukan berarti bahwa keturunan Rasulallah Saw. tidak diharuskan bertakwa kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka harus selalu menyadari kedudukannya ditengah-tengah umat Islam, menjaga diri dari ucapan-ucapan, perbuatan dan sikap yang dapat mencemarkan kemuliaan keturunan Muhamad Rasulallah Saw.. Tidak akan ada kesan bahwa para keturunan Rasulallah Saw. menonjol-nonjolkan diri, menuntut penghormatan dari orang lain, karena kaum muslimin yang menghayati syariat Islam pasti menempatkan mereka pada kedudukan sebagaimana yang telah menjadi ketentuan syariat.

Bahkan, Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Ahzab [33]:30-31 bahwa bila mereka (ahlul-bait) berbuat maksiat akan dilipatkan dua kali dosanya dan bila mereka berbuat kebaikan akan dilipatkan dua kali pahalanya. Dengan memperbesar ketakwaan pada Allah dan Rasul-Nya mereka ini, memperoleh dua kemuliaan yaitu kemuliaan khusus dan kemuliaan umum. Adapun, orang-orang selain mereka, dengan ketakwaan kepada Allah dan Rasul-Nya hanya memperoleh kemuliaan umum. Itulah, yang membedakan martabat kemuliaan ahlul bait dan keturunan Rasulallah Saw. dengan martabat kemuliaan orang-orang selain ahlul bait dan keturunan Rasulallah Saw.. Ketinggian martabat yang diberikan Allah Swt. kepada mereka (ahlul bait) merupakan penghargaan Allah Swt. kepada Rasul-Nya Muhamad Saw..

 

As-Sayid Al-Allamah Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad rahimahullah, seorang keturunan dari Rasulallah Saw.,yang digelari al-Ustaz oleh penduduk Hadhramaut, Yaman Selatan, mengatakan dalam kitab An-Nashaih, antara lain: “Memuji dan menyanjung diri sendiri, membanggakan leluhur dari ahli agama dan orang-orang utama serta menyombongkan nasab, semua itu merupakan perbuatan tercela dan sangat buruk sekali. Banyak sekali keturunan orang mulia yang tidak punya bashirah dan tidak tahu hakikat agama, mendapat cobaan seperti ini. Barangsiapa membanggakan nasab dan leluhurnya, seraya memandang rendah orang lain, maka dia akan kehilangan berkahnya para leluhur....” (Is’adur-Rofiq juz II, hal.85).

Dalam al-Fushuul al-Ilmiyyah wal Ushul al-Hikamiyah bab  ke-25 hal. 88–91, Al-Habib Abdullah antara lain mengatakan, ” …Dan telah berkata sebagian orang, apabila dikatakan kepadanya, ‘seseorang dari kalangan ahlul bait An-Nabawi telah melakukan perbuatan-perbuatan yang menyalahi ajaran agama, dan bercampur baur perbuatannya antara makrifat dan maksiat’. Mereka menjawabnya, ‘Mereka itu ahlul bait Rasulallah Saw., Rasulallah adalah pemberi syafaat bagi mereka dan barangkali dosa-dosa mereka tidak mencelakakan mereka’.

Ini, adalah ucapan yang amat buruk, yang mencelakakan diri orang yang berkata dan juga mencelakakan diri orang jahil yang dimaksud itu. Bagaimana seseorang boleh berkata demikian, sedangkan kitab Allah yang mulia telah menunjukkan bahwasanya ahlul bait dilipatkan bagi mereka pahala atas segala kebajikan mereka, dan demikian pula dilipatkan hukuman terhadap dosa kesalahan mereka. Sebagaimana firman Allah Swt., ‘Wahai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa diantaramu yang melakukan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan dilipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat. Dan adalah yang demikian itu mudah bagi Allah. Dan barangsiapa diantara kamu semua sekalian (isteri-isteri Nabi Saw) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat, dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia.’ (al-Ahzab [33]:30-31).  

 

Dan para isteri junjungan Nabi Saw. adalah dari kalangan ahlul bait baginda Saw., barangsiapa yang berkata atau menyangka bahwa meninggalkan ketaatan dan melakukan maksiat tidak akan mencelakakan seseorang dikarenakan kemuliaan nasabnya dan karena kesalehan datuknya maka dia telah mendustai Allah Swt. dan menyalahi ijma’ kaum muslimin. 

 …Dan barangsiapa dari kalangan Ahlul-Bait yang tidak menjalani  jalan para salaf mereka yang suci, dimana mereka telah mencampur antara taat dan maksiat karena kejahilan, maka sewajarnya juga mereka ini dimuliakan dan dihormati karena hubungan kekerabatan mereka dengan junjungan Nabi Saw.. Barangsiapa yang mampu memberi nasihat (kepada mereka), hendaklah dia tidak meninggalkan menasihati mereka dan mendorong mereka untuk mengikuti jalan para pendahulu mereka yang saleh dari segi ilmu, amal-amal saleh, akhlak yang baik, sirah perjalanan hidup yang diridhai. Kabarkanlah kepada mereka, bahwasanya mereka paling utama dan lebih berhak  untuk berbuat demikian dibandingkan manusia lain. Dan maklumkan juga, bahwa nasab semata-mata tidak bermanfaat dan tidak menjadikan derajat seseorang itu tinggi, selagi dia mengabaikan ketakwaan, mencintai dunia, meninggalkan ketaatan dan mencemarkan diri dengan berbagai perbuatan yang menyalahi ajaran agama. Para penyair dari kalangan para imam dan ulama telah memberi penekanan mengenai masalah ini dalam syair-syair mereka, sehingga sebagian dari mereka mengatakan:

Sungguh manusia anak agamanya

Maka jangan kau tinggal takwa demi mengunggulkan nasab

Dengan Islam telah ditinggikan derajat Salman orang Parsi

Manakala syirik merendahkan bangsawan  Abu Lahab”.

 

Keturunan Nabi Saw. merupakan orang-orang yang memiliki fadhilah dzatiyah (keutamaan dzat) yang dikaruniakan Allah Swt. kepada mereka melalui hubungan darah/pertalian nasab dengan manusia pilihan Allah Swt. dan paling termulia Rasulallah Saw.. Jadi, bukan pilihan mereka sendiri untuk menjadi keturunan Nabi Saw. dan bukan berdasarkan pahala atas amal baik mereka, melainkan telah menjadi qudrat dan kehendak Ilahi sejak mula.

 

Oleh karena itu, tidak ada alasan apapun untuk merasa iri hati, dengki terhadap keutamaan mereka. Hal inilah, justru yang dipertanyakan Allah dalam firman-Nya,

اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلَى مَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ                       

“Ataukah (apakah) mereka (orang-orang yang dengki) merasa irihati (hasut) terhadap orang-orang yang telah diberi karunia oleh Allah.”  (QS. An-Nisa’ [4]: 54)                

Orang-orang yang menjadi sasaran iri dengki dan yang diberi karunia, dalam ayat tersebut, adalah ahlul bait (keturunan) Rasulallah Saw.. Untuk lebih mendalami masalah ini, dapat merujuk: (Syawahid at-Tanzil, oleh Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, jilid 1, hal.143 hadis  ke 195, 196,197,198; Manaqib Al-Imam Ali bin Abi Thalib, oleh Al-Maghazili Asy-Safi’i, hal.467 hadis ke 314; Yanabi al-Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal.142, 328  dan 357; Al-Haidariyah hal.121, 274 dan 298, cet.Istanbul; Ash-Shawa’iq al-Muhriqah, oleh Ibnu Hajar Asy-Syafi’i, hal.150 cet.Al-Muhamadiyah, hal. 91 cet. Al-Maimaniyah, Mesir; Nurul Abshar oleh Asy-Syablanji hal.101 cet. Al-Usmaniyah, hal.102 cet. As- Sa’idiyah; Al-Ittihaf Bi Hubbil Asyraf, oleh Asy-Syibrawi Asy-Syafi’i, hal.76; Rasyafah Ash-Shadi, oleh Abu Bakar Al-Hadhrami, hal.37 dan masih banyak lagi lainnya). Wallahua'lam

Silahkan ikuti kajian berikutnya