Sekelumit sejarah dinasti Bani-Umayah/Abbasiyah

Sekelumit sejarah dinasti Bani-Umayah/Abbasiyah

Kebencian dan kedengkian sebagian orang kepada keturunan Ahlul-Bait Rasulallah Saw., mengingatkan kita kepada sejarah peradaban Islam semasa dinasti Bani Umayah dan dinasti Bani Abbasiyah. Lebih jauh dari itu, menurut riwayat, kaum Muslimin mulai dilanda perselisihan, pertengkaran dan perpecahan sejak masa-masa terakhir kekhalifahan Usman bin Affan r.a., kurang lebih di periode terakhir dasawarsa keempat Hijriah. Kala itu, perang saudara terus berkecamuk, di antaranya:

  • Peperangan antara kekuatan trio Aisyah, Thalhah, Zubair [radhiyallahu ‘anhum] melawan kekuatan Amirul-Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib r.a. Perang saudara ini, berkobar di Bashrah. Sejarah Islam, menyebutnya dengan nama Waqatul-Jamal. Disusul kemudian oleh perang saudara yang tidak kalah hebatnya, yaitu perang Shiffin, antara kekuatan Khalifah Ali r.a. melawan kekuatan pemberontak dibawah pimpinan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Kemudian, disusul dengan perang yang berkobar di kawasan yang terkenal dengan sebutan Bainan Nahrain (Di antara dua Bengawan), yakni daerah antara dua bengawan Tigris dan Eferat (Dajlah dan Al-Furat).  Pertengkaran dan perpecahan yang diakibatkan oleh perang saudara Bainan-Nahrain ini jauh lebih parah daripada yang diakibatkan perang saudara yang sebelumnya. Dalam perang saudara ini kekuatan Imam Ali ra, terpecah dan sempal menjadi dua. Sebagian, tetap setia kepada Amirul Mukminin Ali dan yang sebagian lainnya memberontak dan memerangi sayidina Ali r.a.. Sempalan atau pecahan inilah, yang dalam sejarah Islam terkenal dengan kaum Khawarij, dibawah pimpinan Abdullah bin Wahb Ar-Rasibi.

Disusul kemudian perang saudara yang berkobar dalam rangka kebijakan Imam Ali r.a. menumpas pemberontakan kaum Khawarij, di Nahrawand. Perang saudara ini, lebih memperparah lagi perpecahan kaum muslimin. Dalam perang saudara di Nahrawand ini, kekuatan Imam Ali r.a. unggul dan berhasil menghancurkan kekuatan bersenjata kaum Khawarij, yang sejak terjadinya pembangkangan sudah mengkafir-kafirkan Imam Ali r.a..

Kekuatan-kekuatan anti Bani Hasyim, yang sudah ada sejak sebelum Islam, dengan kemenangan Imam Ali itu, mereka makin bertambah dendam. Adapun, dalam perang Shiffin, kekuatan Imam Ali r.a. mundur teratur akibat pertengkaran dan pertikaian intern mengenai masalah Tahkim bi Kitabillah (Penyelesaian secara damai berdasarkan Kitabillah).  

Setelah kekuatan Imam Ali r.a. mundur dan kembali ke Kufah, di sana Imam Ali r.a. menjadi sasaran pembunuhan gelap yang dilakukan oleh komplotan Khawarij. Beliau tewas ditikam Abdurrahman Muljam. Kekhalifahannya diteruskan oleh putranya, Al-Hasan r.a.. Sayangnya, sisa-sisa kekuatan pendukung ayahnya, sudah banyak mengalami kemerosotan mental dan patah semangat. Bahkan, terjadi penyeberangan kepihak Muawiyah untuk mengejar kepentingan-kepentingan materi. Termasuk di dalamnya Ubaidillah bin Al-Abbas (saudara misan Imam Ali r.a.), yang oleh Al-Hasan r.a. diangkat sebagai panglima perangnya!

Hilanglah sudah, imbangan kekuatan antara pasukan Al-Hasan r.a. dan pasukan Muawiyah. Akhirnya, diadakanlah perundingan secara damai antara kedua belah pihak. Dalam perundingan itu, Al-Hasan r.a. menyerahkan kekhalifan kepada Muawiyah atas dasar syarat-syarat tertentu. Berakhirlah, sudah kekhalifahan Ahlu-Bait Rasulallah Saw.. Seluruh kekuasaan atas dunia Islam, jatuh ketangan Muawiyah bin Abi Sufyan.

Dengan hilangnya kekhalifahan dari tangan Ahlul-Bait, dimulailah masa pembasmian, pengejaran dan pembunuhan terhadap anak-cucu keturunan Ahlul-Bait dan pendukung-pendukungnya, yang dilancarkan oleh Daulat Bani Umayah.

                                                                   

Dalam sebuah Risalah  khusus mengenai tragedi pembantaian Al-Husain r.a. di Karbala oleh pasukan daulat Bani Umayah, Ibnu Taimiyah menulis:

  • Allah memuliakan Al-Husain bersama anggota-anggota keluarganya, dengan jalan memperoleh kesempatan gugur dalam pertempuran membela diri, sebagai pahlawan syahid. Allah telah melimpahkan keridhaan-Nya kepada mereka, mereka itu, orang-orang yang ridha bersembah sujud kepada-Nya. Allah, merendahkan derajat mereka yang menghina Al-Husain r.a. beserta kaum keluarganya. Allah menimpakan murka-Nya kepada mereka dengan menjerumuskan mereka ke dalam tingkah laku durhaka, perbuatan-perbuatan zalim dan memperkosa kehormatan martabat Al-Husain r.a. dan kaum keluarganya, dengan jalan menumpahkan darah mereka.

Peristiwa tragis yang menimpa Al-Husain r.a., pada hakikatnya bukan lain adalah, nikmat Allah yang terlimpah kepadanya, agar ia beroleh martabat dan kedudukan tinggi sebagai pahlawan syahid. Suatu cobaan yang Allah tidak memperkenankan terjadi atas dirinya pada masa pertumbuhan Islam (yakni masa generasi pertama kaum muslimin). Cobaan berat pun sebelum Al-Husain r.a. telah dialami langsung oleh datuknya, ayahnya dan paman-pamannya (yakni Rasulallah Saw., Ali bin Abi Thalib, Jakfar bin Abi Thalib, dan Hamzah bin Abdul Mutthalib [r.a.])”. (Ibnu Taimiyah, Al-Iqtidha hal. 144)  

Semua orang dari ahlul-bait Rasulallah Saw., direnggut hak-hak asasinya, direndahkan martabatnya, dilumpuhkan perniagaannya, dan diancam keselamatannya jika mereka berani menyanjung atau memuji sayidina Ali r.a., dan tidak bersedia tunduk kepada kekuasaan Bani Umayah.

Imam Muslim dan Imam Tirmidzi dari Saad Ibnu Waqqash yang mengatakan:

  • Ketika Muawiyah menyuruh aku untuk mencaci-maki Abu Thurab (julukan untuk Imam Ali), aku katakan kepadanya (kepada Muawiyah); Adapun, jika aku sebutkan padamu tiga perkara yang pernah diucapkan oleh Rasulallah Saw. untuk- nya (untuk sayidina Ali r.a.), maka sekali-kali aku tidak akan mencacinya. Jika salah satu dari tiga perkara itu aku miliki, hal itu lebih aku senangi dari pada unta yang bagus. (Pertama) Ketika Rasulallah Saw. meninggalkannya (meninggalkan Ali r.a.) di dalam salah satu peperangannya,  ia (Ali r.a.) berkata, ‘Wahai Rasulallah, mengapa engkau tinggalkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak kecil?’ Pada waktu itu, aku (Sa’ad Ibnu Abi Waqqash) mendengar Rasulallah Saw. bersabda, ‘Apakah engkau tidak cukup puas jika engkau disisiku seperti Harun disisi Musa? Hanya saja tidak ada kenabian sepeninggalku.’

(Kedua), aku pun mendengar beliau Saw. bersabda pada hari Khaibar, ‘Aku akan berikan panji-panji ini pada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan ia pun dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya’. Pada waktu itu, kami sama-sama penuh berharap (agar dipilih oleh Nabi Saw.), tetapi Beliau Saw. bersabda: ‘Panggilkan Ali kepadaku!’  Ali  dihadapkan pada beliau Saw. sedang ia sakit kedua matanya. Nabi Saw. meludah pada mata Ali, kemudian beliau Saw. memberikan panji-panji perang padanya sehingga Allah Swt. memberi kemenangan kepadanya. (Ketiga), ketika Allah Swt. menurunkan ayat Mubahalah (QS Ali Imrani [3]:6), Rasulallah Saw. memanggil Ali, Fathimah, Hasan dan Husain, kemudian beliau Saw. berdoa, ‘Ya Allah, mereka adalah keluargaku’”. (Dikutip dari ,terjemahan, kitab At-Taj Al-Jami’ Lil Ushuli Fi Ahaditsir Rasuli, jilid 3 hal. 710 cet. pertama th.1994, oleh Syaikh Manshur Ali Nashif Al-Husaini)

Dalam kitab yang sama (hal. 708) dikemukakan, sebuah hadis diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Sahal Ibnu Sa’ad r.a., “Ketika kota Madinah dipimpin oleh seorang dari keluarga Marwan (baca:  Marwan Ibnu Hakam), maka sang penguasa memanggil Sahal Ibnu Sa’ad dan menyuruhnya untuk mencaci maki Ali.  Ketika Sahal tidak mau melakukannya, sang penguasa berkata kepadanya, ‘Jika engkau tidak mau mencaci-maki Ali, maka katakan semoga Allah Swt. mengutuk Abu Thurab’. Kata Sahal, ‘Bagi Ali, tidak ada suatu nama yang disenangi lebih dari pada nama Abu Thurab (panggilan Rasulallah Saw. kepada Imam Ali r.a.—pen.), dan ia amat bergembira jika dipanggil dengan nama itu’…sampai akhir hadis’ ”.

Dan masih banyak lagi, riwayat  tentang pelaknatan, pencacian terhadap sayidina Ali r.a. dan penyiksaan kepada para pendukung dan pencinta ahlul-Bait, yang tidak kami cantumkan di sini. Keadaan seperti itu ,menurut sejarah, berlangsung selama masa kekuasaan Daulat Bani Umayah yang berkuasa kurang lebih selama satu abad, kecuali beberapa tahun saja selama kekuasaan berada di tangan Umar bin Abdul Aziz r.a.. Kehancuran Daulat Bani Umayah diujung pedang kekuatan orang-orang Bani Abbas, ternyata tidak menghentikan gerakan kampanye ‘anti Ali dan anak-cucu keturunannya’. Demikianlah, yang terjadi hampir selama kejayaan Daulat Abassiyah, lebih dari empat abad!

Perpecahan politik, perang saudara, dan keruntuhan Daulat Abbasiyah, tidak hanya memporak-porandakan kesatuan dan persatuan umat Islam, tetapi juga tidak sedikit merusak ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. Berbagai macam pandangan, pemikiran dan aliran saling bermunculan. Hampir semuanya, tak ada yang bebas dari pengaruh politik yang sedang berkuasa.

Selama kurun kekuasaan Daulat Bani Umayah dan Daulat Bani Abasiyah, sukar sekali dibayangkan adanya kebebasaan dan keleluasaan menuturkan hadis-hadis Rasulallah Saw. tentang ahlul-bait. Apalagi berbicara tentang nilai dan perilaku kebijakan sayidina Ali k.w.. Banyak ulama kala itu, yang sengaja menyembunyikan hadis-hadis Nabi yang berkaitan dengan ahlul-bait. Ada juga, sebagian dari mereka yang sengaja melakukan dengan maksud politik untuk ‘mengubur’ nama-nama keturunan Rasulallah Saw.. Selain untuk tujuan politik, cara itu dipakai juga demi menyelamatkan diri dari siksaan penguasa. Selain itu, di masa tersebut, juga bermunculan hadis-hadis palsu, khususnya berkenaan dengan tema ahlul bait.

Kita ambil contoh, hadis Al-Kisa. Sumber pertama hadis ini, diriwayatkan oleh isteri beliau Saw. yang bernama Ummu Salamah r.a., menuturkan peristiwanya sebagai berikut;

“Pada suatu hari Rasulallah Saw. berada di tempat kediamanku bersama Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Bagi mereka, kubuatkan khuzairah (makanan terbuat dari tepung gandum dan daging). Usai makan mereka tidur, kemudian Rasulallah menyelimutkan di atas mereka Kisa’ (jenis pakaian yang lebar) atau qathifah (semacam kain halus). Beliau lalu berdoa, ‘Ya Allah, mereka itulah ahlul baitku, hilangkanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.’ ” (HR. At-Thabari dalam ‘Tafsir-nya’).

Penuturan Ummu Salamah r.a. ini, diriwayatkan juga oleh sumber-sumber lain dengan beberapa perubahan kalimat dan tambahan pada bagian terakhir kalimat (yaitu setelah akhir kalimat ‘mereka sesuci-sucinya’), contohnya berikut ini:

  • Ketika itu, Ummu Salamah bertanya: ’Apakah aku tidak termasuk mereka?’ Rasulallah Saw. menjawab, ‘Engkau berada dalam kebajikan.’;
  • Hadis lain, dengan tambahan pada bagian akhir kalimat sebagai berikut: Ummu Salamah bertanya: ‘Aku, ya Rasulallah, apakah aku tidak termasuk ahlul-bait’? Rasulallah Saw. menjawab: ‘Engkau beroleh kebajikan, engkau termasuk isteri-isteri Nabi’; 
  • Hadis lain lagi, dengan tambahan kalimat terakhir: Ummu Salamah berkata: ‘Ya Rasulallah, masukkan aku bersama mereka’. Rasulallah Saw menjawab:‘Engkau termasuk ahliku (ahlu-baitku)’; 
  • Hadis lain lagi dengan tambahan, Ummu Salamah bertanya: ‘Apakah aku bersama mereka?’ Rasulallah Saw. menjawab: Engkau berada ditempatmu, engkau berada dalam kebajikan
  • Hadis lain yang agak panjang, dengan tambahan, Ummu Salamah bertanya: ‘ya Rasulallah, dan aku’?...Demi Allah, beliau Saw. tidak menjawab; ’Ya’. Beliau Saw. menjawab: ‘Engkau beroleh kebajikan’.

Demikianlah, kita mengetahui dengan jelas, hadis-hadis tersebut di atas ada kesamaan dalam menyebutkan, Ali, Fathimah Az-Zahra, Al-Hasan dan Al-Husain [r.a.] sebagai ahlul bait Rasulallah Saw.. Akan tetapi, dalam ‘Apakah Ummu Salamah (isteri Nabi Saw) termasuk ahlul bait Rasulallah Saw.’, tidak terdapat kesamaan. (Tafsir At-Thabari jilid XXII; 5,6,7,8; Tuhfatul-Ahwadzi jilid IX;66 dan Keutamaan Keluarga Rasulallah Saw. oleh K.H.Abdullah bin Nuh). 

Perbedaan kedudukan isteri Nabi Saw. Ummu Salamah r.a. yang diriwayatkan oleh hadis-hadis di atas masih tidak seberapa mencolok. Sebab, bagaimana pun juga, isteri Nabi Saw. adalah termasuk keluarga beliau Saw., kendati tidak disebut ahlul bait. Berikut, hadis semakna yang sangat mencolok dan mengejutkan, yang memasukkan orang lain kedalam ahlul bait Rasulallah Saw..

  • Abu Ammar berkata, “Aku duduk di rumah Watsilah bin Al-Asqa, bersama beberapa orang lain yang sedang membicarakan Ali r.a. dan mengecamnya. Ketika mereka berdiri (hendak meninggalkan tempat), Watsilah segera berkata, ‘Duduklah, kalian hendak kuberitahu tentang orang yang kalian kecam itu (Ali r.a.). Di saat aku sedang berada di kediaman Rasulallah Saw., datanglah Ali, Fathimah, Hasan dan Husain. Beliau kemudian melemparkan Kisa’-nya (jenis pakaian yang lebar) kepada mereka, seraya bersabda, ‘Ya Allah, mereka ini ahlu-baitku. Ya Allah, hapuskanlah kotoran dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.’ Aku (Watsilah) bertanya, ‘Ya Rasulallah, bagaimanakah diriku’? Beliau menjawab, ‘Dan engkau’! Watsilah bin Al-Asqa melanjutkan kata-katanya, ‘Demi Allah, bagiku peristiwa itu merupakan kejadian yang sangat meyakinkan.’” (Hadis ini tercantum dalam Tafsir At-Thabari jilid XXII: 6, hadis dari Abu Nuaim Al-Fadhl bin Dakkain. Ia menerimanya, dari Abdussalam bin Harb. Abdussalam menerimanya dari Kaltsum Al-Muharibi yang menerimanya dari Abu Ammar).

Periwayatan para perawi yang berbeda-beda dari peristiwa/kejadian yang sama itu menunjukkan dengan jelas, bahwa “kelainan tidak terletak pada peristiwanya, melainkan pada orang-orang yang meriwayatkannya (para perawi)”. Sadar atau tidak sadar, masing-masing terpengaruh oleh suasana persilangan sikap dan pendapat akibat pertikaian politik masa lalu.

Dinasti Bani Umayah dan Bani Abbas kini sudah punah. Akan tetapi,  rupanya pengaruh politiknya masih berpengaruh sampai zaman kita sekarang. Salah satu buktinya adalah, jarang sekali di kumandangkan atau dikenal dengan merata oleh kaum Muslim hadis-hadis mengenai keturunan/nasab (Ahlul-Bait) Rasulallah Saw.. Demikian pula, dengan banyaknya ulama yang yang memutar balik, menggeser dan menakwil makna hadis-hadis mengenai ahlul-bait, hadis tsaqalain, dan hadis safinah berdasarkan pemikiran mereka sendiri. Demikian juga, cukup banyak pakar ulama, yang sengaja menyembunyikan riwayat-riwayat mengenai keutamaan Ahlul-Bait dan keturunannya.

Yang lebih jauh dan aneh, adanya kelompok yang  menyatakan dengan seenaknya sendiri, bahwa keturunan Nabi Saw. (dzuriyah nabi) telah punah. Semuanya, telah terbantai di peperangan antara Sayidina Husain bin Ali bin Abi Thalib dan pengikutnya [ra] dengan golongan Yazid bin  Muawiyah di Karbala.

Begitu pula ada golongan yang mengatakan, kita semua keturunan Nabi Adam a.s., jadi tidak ada perbedaan antara keturunan Rasulallah Saw. dengan keturunan lainnya, kecuali orang yang paling bertakwa dan sebagainya. Sebagian golongan Pengingkar menggunakan argumen ini untuk menghapus jejak dan eksistensi Ahlul Bait.

Ada lagi, yang lebih parah. Karena tidak senang atau dengki kepada keturunan Nabi Saw., mereka berani mengatakan bahwa keturunan ini telah putus dan tidak ada sama sekali atau masih belum konkret adanya nasab tersebut. Omongan mereka ini, menjiplak omongan orang kafir Quraisy kepada Rasulallah Saw. waktu putra Beliau Saw. yang terakhir wafat dan belum sempat memiliki keturunan. Mendengar bisikan-bisikan golongan pengingkar ini, kita teringat akan peristiwa nyata pada masa-masa kelahiran agama Islam. Kisah ringkasnya seperti berikut:

“Ketika putra Rasulallah Saw. yang bernama Qasim wafat di usia belia, salah seorang tokoh musyrikin Quraisy bernama Ash bin Wail bersorak-sorak gembira. Ia bersorak bahwa Rasulallah Saw. tidak akan mempunyai keturunan lebih lanjut. Ulah-tingkah dan ucapan Ash bin Wail inilah yang menjadi sebab turunnya wahyu Ilahi Surah Al-Kautsar kepada Rasulallah Saw. Ayat terakhir surah Al-Kautsar menegaskan: ‘Sungguhlah, orang yang membencimu itulah yang abtar (putus keturunan)’. Firman Allah Swt. terbukti dalam kenyataan, bahwa keturunan Rasulallah Saw. berkembang-biak dimana-mana, sedangkan keturunan Ash bin Wail putus dan hilang ditelan sejarah! Ash bin Wail sudah tiada bersisa, tetapi teriakannya masih mengiang-ngiang di telinga golongan pengingkar, pembenci keturunan Rasulallah Saw. tersebut.  

Kini, kita rujuk kitab-kitab tafsir yang menjelaskan Surah Al-Kautsar. Selengkapnya surah ini berbunyi:  

                   إنَّإ أعْطَيْنَاكَ الكَوْثرَْ فَصَلِّ  لِرَبِّكَ  وَانْحَرْإنَّ شَانِئَكَ هُوَالأبْتـَرْ  

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.  Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorban lah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus ”. (QS Al-Kautsar [108]: 1-3).

Surah ini, diturunkan sebagai jawaban terhadap tuduhan bahwa keturunan Rasulallah Saw. telah terputus dengan wafatnya Qasim. Jadi, yang dimaksud kalimat Nikmat yang banyak dalam ayat itu, menurut ahli tafsir adalah bahwa Rasulallah Saw. memiliki keturunan yang banyak dan baik, melalui pernikahan antara Siti Fathimah Az-Zahra dan Sayidina Ali bin Abi Thalib k.w.. Kebanyakan dari keturunan Siti Fathimah ini menjadi para Imam yang memberi petunjuk masalah-masalah yang berkaitan dengan ketaatan kepada Allah Swt. dan keridhaan-Nya. Adapun, yang dimaksud kalimat "Orang yang membencimu dialah yang terputus"  adalah orang yang beranggapan bahwa Rasulallah Saw. tidak memiliki keturunan!

Penjelasan seperti itu, dapat dibaca di antaranya dalam kitab-kitab berikut: [Tafsir Fathul Qadir, oleh Asy-Syaukani, jilid 30, hal.504; Tafsir Gharaibul Quran (catatan pinggir) Majmaul Bayan, jilid 30, hal.175; Tafsir Majmaul Bayan, oleh Ath-Thabrasi, jilid 30, hal.206, cet. Darul Fikr, Beirut; Nurul Abshar, oleh Asy-Syablanji, hal.52, cet. Darul Fikr, tahun 1979 Miladiyah; Al-Manaqib, oleh Syahrasyub, jilid 3, hal.127].

Menurut Ustaz Quraish Shihab, dalam bukunya Tafsir Atas Surah-Surah Pendek.., surah Al-Kautsar ini diturunkan di Makkah dan merupakan surah ke-14 dalam turunnya wahyu serta surah ke-108 dalam urutan mushaf. Al-Kautsar, menurut arti kata berasal dari akar kata yang sama dengan Katsir yang berarti ’Banyak’. Jadi Al-Kautsar berarti, sesuatu nikmat yang banyak.  Ustaz Quraish Shihab mengemukakan, Ulama berbeda pendapat dalam mengartikan ‘Al-Kautsar’ pada surah ini:

Pendapat pertama, sebagian berpegang pada hadis nabi dari Anas bin Malik (HR Muslim dan Ahmad) yang menceritakan ‘Al-Kautsar’ sebagai sebuah nama telaga yang ada disurga, yang dianugerahkan oleh Allah kepada Nabi. Menurut Ustaz Quraish Shihab, hadis ini ditolak oleh Muhamad Abduh sebagai penjelasan terhadap surah Al-Kautsar.

Pendapat kedua, sebagian lagi berpegang sejarah pada hadis lainnya mengenai ejekan Abtar yang berarti ‘terputus keturunan’. Sehingga Al-Kautsar berarti Allah menganugerahkan keturunan yang banyak kepada Rasulallah Saw.. Pendapat kedua ini, dikutip juga oleh Imam Suyuthi dalam bukunya Asbab Annuzul serta Addur Al-Mantsur, serta ulama pakar tafsir lainnya seperti Al-Alusi, Al-Qasimi,Al-Jamal, Abu Hayan, Muhamad Abduh, Thabathabai dan lain lain. Pendapat kedua ini, merupakan pendapat yang paling banyak dipercaya oleh para ulama ahli tafsir.

Pendapat ketiga, sebagian lagi menganggap bahwa Al-Kautsar berarti keduanya, yaitu nikmat Allah yang banyak, yang diberikan kepada Nabi Muhamad Saw.. Salah satunya, berupa keturunan yang banyak, telaga di surga serta nikmat-nikmat lainnya.

Sejarah meriwayatkan juga, waktu putra beliau Saw. yang terakhir wafat dan belum sempat memiliki keturunan, sedangkan saat itu nabi Saw. serta Khadijah r.a. dalam usia yang telah cukup tua. Waktu Khadijah sedang hamil, semua orang menunggu apakah Khadijah akan memberikan seorang anak lelaki atau perempuan. Ketika ternyata Khadijah melahirkan seorang puteri (yang kemudian diberi nama Fatimah Az-Zahra), maka orang-orang Quraisy bersorak dan mengatakan bahwa Muhamad "Abtar". Kata-kata Abtar ini adalah, ejekan yang diberikan kepada orang yang terputus keturunannya.

Pendapat terbanyak dari ahli tafsir mengenai sebab-sebab turunnya surah Al-Kautsar ialah, Allah Swt. memberikan nikmat kepada Nabi Saw. berupa keturunan yang sangat banyak. Jika riwayat dari berbagai pakar tafsir ini diterima, itu berarti Al-Quran telah menggaris bawahi sejak dini, tentang akan berlanjutnya keturunan Nabi Muhamad Saw., dan bakal banyak dan tersebarnya mereka itu.

Allah menurunkan wahyu kepada nabi Muhamad Saw. berupa surah Al-Kautsar ini, menunjukkan bahwa Allah Swt. sesungguhnya telah memberikan nikmat yang banyak dengan kelahiran sayidah Fatimah r.a. tersebut, dan dari rahim Siti Fatimah r.a. akan lahir keturunan yang banyak. Selanjutnya, dalam ayat tersebut Rasulallah diperintahkan untuk bershalat dan berkurban (akikah sebagai wujud rasa syukurnya). Dan pada ayat yang ketiga disebutkan, musuh-musuh Rasulallah yang mengejek itulah yang kemudian diejek oleh Al-Quran sebagai ‘Abtar’ (terputus).

Surah ini dimulai, dengan kata ‘Inna/Sesungguhnya’ yang menunjukkan bahwa berita yang akan diungkapkan selanjutnya adalah sebuah berita yang besar yang boleh jadi lawan bicara atau pendengarnya meragukan kebenarannya.”

Ustaz Quraish Shihab juga mengutip pendapat lainnya, bahwa penggunaan kata "kepadamu" pada ayat ketiga menunjukkan, bahwa anugerah Allah tersebut (berupa keturunan yang banyak) tidak terkait dengan kenabian melainkan merupakan pemberian Allah kepada pribadi Nabi Muhamad Saw. yang dikasihi-Nya.

Dalam buku tersebut, juga dikemukakan beberapa argumen yang mendukung bahwa dzurriyah/keturunan Rasulallah Saw. memang dilanjutkan melalui rahim Fatimah r.a. dan bukan melalui anak lelakinya. Di antaranya, dalam surah Al-An‘am [6]: 84-85, bahwa Al-Quran menganggap nabi Isa a.s. sebagai dzurriyah Ibrahim meski pun beliau a.s. lahir dari Maryam (seorang perempuan keturunan Ibrahim as). Juga banyak hadis yang mengutarakan bahwa Rasulallah memanggil Al-Hasan dan Al-Husain sebagai "anakku".

Sejarah juga membuktikan, dari rahim Siti Fatimah, Rasulallah Saw. memperoleh dua orang cucu (putra) yang sangat dicintai beliau yaitu Al-Hasan dan Al-Husain r.a. Kemudian setelah peristiwa Karbala, satu-satunya anak lelaki yang tersisa dari keturunan Al-Husain yaitu Ali Ausath yang bergelar "Zainal Abidin" atau "Assajad" (ahli sujud), kemudian beliau ini meneruskan keturunan Nabi Saw. dari Imam Husain. Demikian juga, keturunan dari Imam Hasan.

Imam Husain sendiri, memiliki enam anak lelaki, dan hanya satu yang selamat setelah peristiwa Karbala. Sedangkan, Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib k.w. memiliki sebelas anak lelaki, beberapa di antaranya meneruskan keturunan. Hingga saat ini, alhamdulillah ada banyak sekali dzurriyah (keturunan) Nabi Saw. dari Siti Fatimah r.a. melalui Ali Zainal Abidin Assajjad bin Husein bin Ali bin Abi Thalib [r.a.] dan kemudian menyebar di seluruh muka Bumi. Bahkan, menurut Ustaz Quraish Shihab, dzurriyah (keturunan)  Nabi Saw. ini begitu banyaknya dibandingkan keturunan manusia lainnya. Demikianlah sedikit keterangan dari bukunya Ustaz Quraish Shihab.

Pernah juga di Indonesia, berita yang dimuat dikoran-koran beberapa silang waktu lalu, pernyataan salah seorang ulama Indonesia yang menyatakan bahwa Hasan bin Ali bin Abi Thalib tidak punya keturunan. Semua keturunan Husain bin Ali bin Abi Thalib sudah dibantai di Karbala, pernyataan seperti ini sering diutarakan pada hari ulang tahun Al-Irsyad. Pernyataan seperti itu, sudah tentu tidak ada dalilnya sama sekali baik secara aqli (akal) maupun naqli (nash). Ungkapan ini,  tidak lain karena ketidak-senangannya atau kedengkian pada golongan Alawiyin (salah satu julukan keturunan Nabi yang dari Hadramaut/Yaman Selatan).

Bila Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib r.a. dianggap tidak ada dalam sejarah, maka akan fiktif pulalah teman-teman beliau seperti Az-Zuhri dan Said bin Musayab, yang kedua tokoh ini merupakan sumber banyak hadis sunni. Begitu pula, kitab-kitab hadis dan kitab-kitab fiqih serta sejarah Islam yang memuat banyak nama-nama cucu dari sayidina Hasan dan sayidina Husain bin Ali bin Abi Thalib, semuanya ini harus dihapus atau dibuang!

Begitu pula, cucu keempat Rasulallah Saw. ,Imam Jakfar As-Shadiq r.a., yang terkenal dalam sejarah dan dikenal oleh empat Imam juga (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Ahmad bin Hanbal [r.a.] ) dan pengikutnya. Imam Jakfar As-Shadiq, adalah nama yang sangat dikenal oleh semua mazhab baik itu Ahlus-sunnah wal jama’ah, Syiah, Zaidiyyah, Salafi/Wahabi  dan lainnya. Dari nasab Imam Jakfar As-Shadiq banyak juga melahirkan tokoh-tokoh ulama besar Islam. Nama dan nasabnya ialah, Jakfar As-Shadiq bin Muhamad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib k.w..  Beliau lahir tahun 80 H/699 M dan wafat tahun 150 H/765M. Ibu beliau ialah, cucu dari khalifah Abu Bakar As-Shiddiq r.a. yang bernama Ummu Farwah binti Al-Qasin bin Muhamad bin Abu Bakar As-Siddiq. Menurut riwayat, yang pernah berguru juga dengan Imam Jakfar ini yaitu, Imam Abu Hanifah (80-150 H/699-767M) dan Imam Malik bin Anas (93-179H/712-795M).

Kalau kita ziarah ke kuburan Baqi’ di Madinah, di sana akan kita dapati kuburan secara berurutan yang telah dikenal baik di kalangan para ulama. Masing-masing kuburan Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib, Imam Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Imam Muhamad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib k.w. dan kuburan Imam Jakfar As-Shadiq bin Muhamad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib.

Segala sesuatu, baik Al-Quran dan Sunnah Rasulallah Saw. serta sejarah, disampaikan melalui riwayat yang ditulis oleh para perawi dan diteruskan serta dikembangkan oleh ulama-ulama pakar baik dari zaman dahulu sampai akhir zaman nanti. Begitupun juga mengenai nasab keturunan manusia banyak kita ketahui dengan melalui riwayat yang ditulis dari zaman dahulu sampai akhir zaman. Karena semua itu anjuran agama agar manusia selalu menulis hal-hal yang dianggap penting. Dengan adanya riwayat-riwayat ini, kita bisa mengenal sejarah Islam, datuk-datuk dan keturunan Rasulallah Saw., para Nabi dan Rasul lainnya, para sahabat dan para tabi’in dan para ulama atau suku-suku lainnya.Wallahua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya