Walisongo: Para Sayid Tanah Jawa dan Ajarannya

Walisongo: Para Sayid Tanah Jawa dan Ajarannya

Untuk sedikit menambah riwayat-riwayat yang telah dikemukakan tadi, berikut kami menulis sekelumit tentang pengertian kata-kata Wali dan ajaran para Walisongo. Kaum muslimin di Jawa pada umumnya yakin, tersebar luasnya agama Islam di Jawa adalah berkat kegigihan, keuletan, dan kesabaran sejumlah ulama yang terkenal dengan sebutan, Walisongo atau Sembilan orang Wali. Ada sementara pendapat yang mengatakan,  jumlah wali pada masa itu hanyalah sembilan orang. Adapula yang berpendapat, jumlah mereka lebih dari sembilan namun, yang sembilan orang itulah yang terkenal luas. Sebutan Wali, sesungguhnya adalah singkatan dari kata waliyullah, yakni orang yang beroleh limpahan karunia dari Allah Swt, karena ketinggian mutu ketakwaan mereka kepada Allah dan kemantapan mereka dalam mengabdikan seluruh hidupnya demi kebenaran Allah dan keridhaan-Nya. Para waliyullah adalah hamba-hamba, diluar para Nabi dan Rasul, yang dicintai Allah Swt., sebagaimana firmanNya, “Ingatlah, bahwa sesungguhnya para Wali Allah itu, tidak khawatir terhadap mereka dan tidak pula mereka itu bersedih hati. Mereka, adalah orang-orang beriman dan senantiasa bertakwa” (QS Yunus [10]:62-63).

Allah Swt. menganugerahkan kehormatan atau kemuliaan, menurut kehendak-Nya, kepada siapa saja dari kalangan hamba-hambaNya yang saleh, baik mereka dari kalangan umat Muhamad Saw. maupun dari kalangan pengikut para Nabi dan Rasul sebelum beliau Saw.. Allah Swt. memberi ampunan pihak yang satu demi kemaslahatan pihak yang lain, memaafkan kesalahan pihak yang satu untuk kebaikan pihak yang lain, dan menolong pihak yang satu untuk keselamatan yang lain. Demikianlah, sebagaimana yang terdapat dalam hadis-hadis ‘Arafat (ditulis oleh Al-hafizh Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Targhib bab Ibadah Haji jilid III hal.323).  Bahkan, ada pula hadis-hadis yang menegaskan, di antara para hamba Allah yang saleh, ada yang justru karena kemuliaan (karamah) para waliyullah itu, Allah menurunkan rezeki dalam kehidupan di alam wujud. Karena mereka, Allah menurunkan air hujan, memberikan pertolongan kepada hamba-hambaNya, mencegah datangnya bencana, mendatangkan kebajikan, serta menyayangi semua penghuni bumi (hadis-hadis semacam itu antara lain yang diketengahkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan diriwayatkan oleh para perawi hadis sahih dan diriwayatkan juga oleh Anas bin Malik r.a. dan Thabrani dalam Al-Ausath.). 

 

Dakwah Walisongo adalah teladan luar biasa. Mereka dengan sabar, tabah, dan hati-hati mengikuti keadaan; mengindahkan tradisi yang sedang berlaku, serta memperhatikan sungguh-sungguh tabiat dan jiwa orang-orang yang hendak diberi pengertian. Dengan cara demikian, mereka berhasil baik dalam menjalankan tugas dakwah yang diwajibkan agama. Faktor utama lainnya yang menyebabkan keberhasilan mereka ialah: Mereka berakhlak mulia, berbudi luhur, berbicara lembut, bersabar, dan tidak menyentuh adat-istiadat setempat, di mana mereka (orang-orang yang hendak di islamkan) tumbuh dan dibesarkan. Walisongo memahami benar, tradisi dan kebiasaan yang sudah berlaku secara turun-temurun tidak mungkin dapat dihapus dengan perdebatan atau dilawan dengan berdialog. Lembaran-lembaran buku sejarah ,sebagian telah kami kemukakan dibuku ini, banyak memberitakan penyebaran agama Islam dikepulauan Indonesia, tanah Melayu dan kawasan sekitarnya, termasuk cara-cara yang ditempuh para dai pada masa dahulu. Di antara cara-cara yang ditempuh dan kegiatan yang dicurahkan untuk berdakwah ialah, menggunakan bentuk-bentuk kesenian indah yang sangat digemari penduduk.

Ke dalam bentuk-bentuk kesenian itu, para dai memasukkan unsur-unsur ajaran Islam dengan mengubah beberapa kata dan kalimat (dalam liriknya) dan di-isi dengan ajaran-ajaran Islam yang mudah diserap. Hingga sekarang, nyanyian dan tarian masih tetap dilakukan, sebagai pusaka peninggalan para dai zaman dahulu, karena para dai bekerja atas dorongan hati yang ikhlas dan semangat tasawuf yang tinggi. Dengan kesabaran luar biasa, mereka berpegang pada metode tut wuri handayani, yakni ‘mengikuti sambil menarik perlahan-lahan’. Dengan tekun, tahap demi tahap, mereka mengubah dan mengisi lirik nyanyian, lagu-lagu yang digemari penduduk, dengan untaian kata dan kalimat yang mengandung pengarahan akidah dan pendekatan diri kepada Allah Swt, serta pendidikan akhlak Islam.

Misalnya, cara yang ditempuh oleh seorang waliyullah terkenal dengan nama Joko Said, menggunakan pagelaran ‘wayang’, suatu kesenian Jawa yang sangat digemari penduduk pada masa itu. Beliau, menggubah cerita-cerita pewayangan dengan di isi prinsip-prinsip ajaran Islam secara luwes. Kemudian dipagelarkan (dipentaskan) di depan khalayak ramai. Pementasan ini, banyak digunakan untuk menyebarkan pengertian tentang agama Islam. Lirik nyanyian dan lagu-lagu yang biasanya digunakan untuk mengiringi tarian Srimpi, yang lazim dipentaskan di istana-istana kerajaan, diubah demikian rupa menjadi hikayat kepahlawanan paman Nabi Muhamad Saw. ,Sayiduna Hamzah bin Abdul Muthalib r.a.,  dalam membela agama Islam.

Sayid Ishak bin Ibrahim bin Al-Husain, menempuh cara penyebaran Islam dengan pengobatan untuk menolong penduduk yang sakit. Ada lagi di antara para dai lainnya, Sayid Abu Bakar di Filipina, yang menempuh cara dengan mendekati penguasa dan bangsawan yang berpengaruh untuk membantu mereka dalam pekerjaan mengelola pemerintahan atau kesultanan, sambil berdakwah mengajak mereka masuk agama Islam.

Ada lagi cara umum yang bercorak kesenian, yang ditempuh oleh para dai. Di berbagai tempat yang telah direncanakan, diselenggarakan hiburan semacam ‘pesta’, di isi dengan nyanyian dan lagu-lagu keagamaan (umpama shalawatan, mengucapkan kalimat-kalimat tauhid dan lain-lain yang serupa), dengan di iringi rebana. Pesta demikian itu dihadiri oleh banyak orang, ada yang telah masuk Islam dan ada juga yang belum. Mereka datang berduyun-duyun tertarik oleh suara rebana dan nyanyian-nyanyian. Usai pesta demikian itu, orang-orang yang belum memeluk Islam, makin dekat hubungannya dengan mereka yang telah memeluk Islam.  

 

K.H.Raden Abdullah bin Nuh,rahimahullah, mengatakan di dalam bukunya Walisongo, “Sembilan orang Wali ini, semuanya mengajarkan agama Islam secara murni, bermazhab Syafi’i dan termasuk Ahlus Sunnah wal jama’ah”.

Ada sementara pihak yang mengatakan, ajaran diantara Walisongo itu mengawinkan atau mengasimilasikan ajaran Islam dengan seni budaya lama (Syiwa Budha) di Jawa. Jelas, ini tidak mungkin, karena Walisongo adalah para ulama yang sangat besar ketakwaannya kepada Allah Swt. dan mengenal baik apa yang dihalalkan dan diharamkan oleh syariat Islam.

Di dalam Majalah Islam Al-Jamiah nomer 5, tahun 1, bulan Mei 1962 memuat sebuah makalah yang ditulis oleh Drs. Wiji Saksono dengan judul Islam Menurut Wejangan Walisongo Berdasarkan Sumber Sejarah,  menuturkan beberapa hal, antara lain: “Dari sembilan orang wali itu, hanya Sunan Bonang sajalah yang hingga dewasa ini dapat diketahui dengan jelas pokok-pokok ajarannya dan dapat dijadikan pegangan atau sumber rujukan. Adapun ajaran para Wali yang lain masih sangat samar dan belum terungkapkan. Banyak sekali yang telah ditulis orang tentang ajaran Walisongo, tetapi belum dapat dinilai sebagai sejarah dalam arti yang yang sebenarnya. Meski demikian, apa yang terdapat di dalam ajaran-ajaran Sunan Bonang itu sudah dapat dipastikan dan dijadikan ukuran untuk dapat diketahui corak ajaran Islam yang pertama masuk dipulau Jawa khususnya dan kepulauan Indonesia lainnya. Apabila kita menelaah dan mempelajari naskah-naskah dan mempelajari naskah-naskah Primbon wejangan Sunan Bonang, kita akan menjumpai nama-nama judul Kitab dan nama-nama tokoh sebagai sumber pemikiran Walisongo.

Nama-nama dan judul-judul kitab yang dimaksud ialah: Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali; Talkhish Al-Minhaj karya Imam Nawawi; Qut Al-Qulub karya Abu Thalib Al-Makki (salah satu kitab rujukan bagi kitab Ihyanya Al-Ghazali). Beberapa nama yang disebut dalam Primbon tersebut ialah: Pikantaki (Daud Al-Anthaki); Abu Yazid Al-Busthani; Muhyiddin Ibnu Arabi; Seh (Syaikh) Samangu Asarani (?); Abdul Qadir Al-Jailani; Syaikh Rudadi (?); Syaikh Sabti (?); Pandita Sujadi wa Kuwatihi (?); Tamhid Fi Bayanit-Taudih karya Abu Syukur As-Salami.

Fiqh, tasawuf, dan tauhid tersusun lengkap dan rapih dalam Primbon Sunan Bonang sesuai dengan ajaran akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan mazhab Syafi’i. Dalam primbon tersebut, disamping terdapat ajakan kepada tauhid, juga terdapat seruan kepada pembacanya agar menjauhkan diri dari perbuatan syirik (menyekutukan Allah Swt. dengan yang lain).

Sunan Bonang juga menegaskan adanya beberapa pemikiran sesat mengenai soal ketuhanan, antara lain :

  • Faham atau pemikiran yang menganggap Zat Allah adalah kekosongan hampa semesta.
  • Faham atau pemikiran yang beranggapan bahwa yang ada (maujud) adalah Allah, dan yang tidak ada (‘adam) pun Allah juga.
  • Faham atau pemikiran yang menganggap asma Allah itu adalah kehendakNya dan juga ZatNya. Demikian sebaliknya.
  • Faham atau pemikiran kaum Batiniyah yang antara lain mengatakan, semua makhluk adalah sifat Tuhan
  • Faham atau pemikiran Kawula Gusti, yaitu yang menganggap manusia dan Tuhan adalah bersatu
  • Faham atau pemikiran Wahdatul-Wujud (Pantheisme) yang mengatakan Tuhan itu identik dengan makhlukNya.

Semua faham, pemikiran, aliran atau ajaran-ajaran seperti yang dikemukakan tadi, oleh Sunan Bonang dinyatakan sesat dan kufur. Dasar-dasar akidah yang ditegakkan dan harus dipelihara, menurut ajaran Sunan Bonang, antara lain:

  • Allah adalah Al-Khaliq yang Maha Esa, mandiri, tidak tergantung pada apa pun juga dan Maha Kuasa. Ini merupakan asas Tauhid.
  • Manusia beroleh kebebasan berikhtiar, ini merupakan asas tanggung jawab insani. Pada penutup primbon tersebut, Sunan Bonang menyerukan: “Hendaklah perjalanan lahir batinmu sesuai dengan jalan syari’at, mencintai dan berteladan kepada Rasulallah Saw.”

Dari sekelumit isi Primbonnya Sunan Bonang itu, jelas tergolong Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dan serupa itulah, ajaran para Walisongo atau para dai lainnya yang tersebar di Hindia Timur dan kepulauan lainnya. Demikianlah riwayat singkat para Walisongo dan para dai serta ajaran-ajaran pokoknya.

Wallahua’lam

Silahkan baca uraian selanjutnya