Keimanan keluarga Rasulallah Saw.

Berikut, beberapa riwayat menurut para pakar Islam,  tentang keimanan keluarga Rasulallah Saw. dan riwayat sebagian kaum muslimin yang menolak keimanan mereka:     

  • Abdul Muthalib dan kedua oang tua Rasulallah Saw. hidup dalam masa Fatrah, suatu masa dimana terjadi kekosongan Nubuwah dan Risalah. Seperti orang-orang jahiliyah yang belum datang kepada mereka risalah kenabian, mereka masuk kategori ahlu fatrah, mereka termasuk ahli surga juga. (Prof. DR. Wahbah Zuhaili, tafsir Al-Munir,juz 8, hal.42).

Ahlul Fatrah itu, berdasarkan firman Allah dalam surah Al-Isra [17]:15, ”Kami tidaklah mensiksa (suatu kaum) hingga kami mengutus (kepada mereka) seorang Rasul”. Sebagai bentuk keadilan Allah, akan mensiksa suatu kaum setelah jelas risalah datang kepada mereka, tetapi tidak di indahkannya. Dari ayat ini, dapat difahami bahwa keluarga nabi Saw. sebelum dirinya diangkat menjadi Nabi dan Rasul, adalah termasuk ahlu fatrah. Karena itu, mereka tidak tidak digolongkan kepada orang-orang musyrik atau kafir.

  • Nabi Saw. pernah menjelaskan bahwa nasabnya adalah suci (ayah-ayahnya adalah keturunan manusia yang suci); ”Saya Muhamad bin Abdillah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizaar. Tidaklah terpisah manusia menjadi dua kelompok (nasab), kecuali saya berada diantara yang terbaik dari keduanya. Maka, saya lahir dari ayah–ibuku, dan tidaklah saya terkena ajaran jahiliyah dan saya terlahir dari pernikahan (yang sah). Tidaklah saya, dilahirkan dari orang yang jahat, sejak Adam sampai berakhir pada ayah dan ibuku. Maka, saya adalah pemilik nasab yang terbaik diantara kalian dan sebaik-baik nasab (dari pihak) ayah”. (Baihaqi dalam Dalailun Nubuwah dan Imam Hakim dari Anas r.a.). Hadis ini, diriwayatkan juga oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya juz 2,hal.404; Imam At-Thabari dalam tafsirnya juz 11, hal. 76.
  • Rasulallah pernah bersabda; ”Aku selalu berpindah-pindah dari tulang sulbi orang-orang yang suci kedalam rahim-rahim wanita yang suci pula”. Firman Allah Swt.; Dan perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud”.(QS As-Syuaraa’ [26]: 219). Ibnu Abbas r.a. dalam menafsirkan firman Allah  diatas;

                       وَتَقَلُّبَكَ فِى السَّاجِدِيْنَ

Kata Ibnu Abbas,“Dia (Muhamad) berpndah-pindah dalam sulbi-sulbi para nabi sehingga dilahirkan oleh ibundanya. (Aminah)”. (HR. Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduyah, dan Abu Nuaim dalam ad-Dalail). Demikian pula, disebutkan dalam ad-Durrul Mantsur jilid 5 hal. 98 dan lain-lain.

  • Imam Fakhrurrozi menyatakan, semua orang tua para Nabi muslim, dengan berdalil,· 'Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk sembahyang), dan (melihat pula) perobahan gerak badan kamu di antara orang-orang yang sujud’.(QS.surat As-Syuaraa’: 218-219). Sebagian ulama menafsiri ayat ini bahwa cahaya Nabi berpindah dari orang yang ahli sujud (mukmin) ke orang yang ahli sujud lainnya!
  • Sabda Nabi Saw; ”Saya adalah Nabi yang tidak berdusta, saya adalah putra Abdul-Mutholib.” (HR.Bukhori no.2709, 2719, 2772, Sahih Muslim no.1776).

Riwayat-riwayat diatas dan kajian berikutnya ,bagi orang yang mau berpikir, membuktikan orang tua, kakek dan nenek Rasulallah Saw., bukan seorang musyrik penyembah berhala, tetapi seorang yang beriman kepada Allah Swt. yang mengikuti agama Nabi Ibrahim a.s. Rasulullah Saw. sendiri menyatakan, mereka.adalah orang-orang yang suci, bukan orang-orang musyrik. Karena orang musyrik itu najis, sebagaimana firman Allah Swt:

                       يَا أَيُّهَاالَّذِينَ آَ مَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ            

“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang   musyrik itu najis”

  • Nabi Muhamad Saw., adalah penghuni bumi yang paling baik nasabnya secara mutlak. Nasab beliau dari segi kemuliaan berada di puncaknya. Diantara musuh-musuh beliau, yang memberikan pengakuan akan indahnya nasab beliau, adalah Abu Sufyan (sebelum masuk islam). Ketika berhadapan dengan penguasa Romawi, dia berkata; ’Kaum yang paling mulia adalah kaumnya, kabilah yang paling mulia adalah kabilahnya dan marga yang paling mulia adalah marganya’. (Ibnu Qayim al Jauziyah, Zaadul Ma’ad,I/32). Wallahua'lam

 

  Silahkan ikuti kajian berikutnya.