Apakah kemampuan atau ketidak-mampuan merupakan tolok ukur Tauhid& Syirik? 

Mengkhususkan tema ini, kelompok wahabi-salafi mempunyai paham yang lain dalam masalah tauhid dan syirik dan ini persis sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya.

Mereka menetapkan bahwa salah satu dari tolok ukur tauhid dan syirik adanya kemampuan atau ketidak-mampuan orang yang di minta pertolongan untuk merealisasikan kebutuhan yang diminta. Jika dia mampu tidak ada masalah, namun jika tidak mampu maka itu syirik. Sungguh ini merupakan kesalahan yang nyata. Masalah ini sama sekali tidak pengaruh dalam masalah tauhid dan syirik, melainkan hanya merupakan pembahasan tentang bermanfaat atau tidak bermanfaatnya permintaan.

Dengan pemahaman seperti ini, golongan Wahabi sering menghardik para peziarah Rasulallah Saw. dengan mengatakan, “Hai musyrik, Rasulallah Saw. tidak memberikan manfaat sedikit pun kepadamu.” Pikiran seperti ini, sangat naif sekali. Sebenarnya masalah manfaat atau tidak, tidak memberikan pengaruh didalam masalah tauhid dan syirik.

Pandangan Wahabi-Salafi ini, meneruskan pandangan Ibnul Qayim–murid Ibnu Taimiyah–yang mengatakan, “Salah satu di antara bentuk syirik, ialah meminta kebutuhan dari orang yang telah wafat, serta memohon pertolongan dan menghadap kepada mereka. Inilah asal mula syirik yang ada di alam ini. Karena sesungguhnya orang yang telah wafat telah terputus amal perbuatannya. Mereka tidak memiliki sedikit pun kekuasaan untuk mendatangkan bahaya dan manfaat bagi dirinya.” (Mufid bin Abdul Wahab, Fath al-Majid, hal. 67).

Bagaimana mungkin permintaan sesuatu dari orang yang masih hidup dikatakan tauhid, sementara permintaan sesuatu yang sama dari orang yang telah wafat dikatakan syirik? Seandainya benar, itu tidak lebih memiliki arti hanya menetapkan bahwa meminta dari orang yang wafat tidak bermanfaat, namun tidak bisa menetapkan bahwa perbuatan itu syirik.

Adapun, perkataan beliau yang berbunyi, ‘Orang yang telah wafat tidak memiliki sedikit pun kekuasaan untuk mendatangkan bahaya atau manfaat bagi dirinya’, ini adalah merupakan perkataan umum, mencakup untuk semua manusia baik yang telah wafat maupun yang masih hidup. Karena seluruh makhluk ,baik yang hidup maupun yang wafat, tidak memiliki sedikitpun ke kuasaan atas dirinya dan hanya memiliki kekuasaan atas dirinya semata-mata dengan izin dan kehendak Allah.

Dengan adanya semua keterangan diatas, kelompok wahabi-salafi disatu sisi mereka mengatakan orang harus langsung minta pada Allah Swt, disisi lain mereka mengatakan boleh memohon melalui hamba Allah Swt. selama mereka masih hidup serta mampu untuk menolongnya. Ini semua, taktik golongan wahabi-salafi sendiri, karena ini adalah cara paling aman bagi mereka untuk menghindari pertentangan yang ada pada paham atau keyakinan mereka.

Dengan adanya semua keterangan diatas, kita bisa ambil kesimpulan bahwa Rasulallah Saw. dan para sahabat bukan dari golongan Salafi/Wahabi, disebabkan:

Para sahabat sering menjadikan Rasulallah Saw. dan hamba yang saleh sebagai perantara antara Allah dan mereka. Para sahabat sering memerlukan Nabi Saw. untuk memohonkan perlindungan dan pengampunan dari Allah Swt., walaupun Allah sendiri sanggup mendengar setiap ucapan dan panggilan para sahabat tersebut dan Dia juga lebih dekat di banding urat lehernya (para hamba-Nya).Rasulallah Saw. tidak menolak permohonan para sahabat dan tidak bersabda kepada sahabat: ‘Pergilah dan mintalah pada Allah Swt. secara langsung’!

Silahkan ikuti kajian berikutnya.