Tauhid Rububiyah

Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah

Dalam catatan sejarah, Muhamad Ibnu Abdul Wahab terkenal sebagai seorang yang amat mahir dalam bidang retorika. Kemahirannya ini mengakibatkan tidak sedikit orang menjulukinya sebagai “Syaikhul Islam”. Ajarannya yang paling terkenal adalah dibidang tauhid. Muhamad Ibnu Abdul Wahab membagi keyakinan tauhid menjadi dua macam: Tauhid Rububiyah dan Tauhid Ulu-hiyah. Bagi Muhamad Ibnu Abdul Wahab, tauhid rububiyah adalah hal yang diakui benar baik oleh kaum Muslim maupun non-Muslim. Adapun, tauhid uluhiyah dinilai Ibnu Abdul Wahab sebagai pembeda antara kekufuran dan keimanan.

Ibnu Abdul Wahab berkata, “Hendaknya setiap Muslim dapat membedakan antara kedua jenis tauhid ini. Kaum Muslim harus tahu bahwa orang-orang kafir tidak mengingkari keberadaan Allah Swt. sebagai Pencipta, Pemberi rezeki dan Pengatur.  Jika telah terbukti bagi anda orang-orang kafir mengakui yang demikian, niscaya anda mengetahui bahwa perkataan anda, ‘Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan dan tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah, serta tidak ada yang mengatur urusan kecuali Allah, tidaklah menjadikan diri anda seorang muslim sampai anda mengatakan: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dengan mengikuti/ disertai melaksanakan artinya’” (Muhamad bin Abdul Wahab, Fi Aqaid al-Islam, hal.38).

 

Tauhid Rububiyah

Kata ar-Rab dalam pandangan Wahabi diartikan sebagai Pencipta. Penerjemahan ar-Rab dengan “pencipta” adalah sesuatu yang tidak tepat. Arti kata ar-Rab, baik makna leksikal maupun dalam penggunaannya dalam Al-Quran, tidak keluar dari arti “Yang memiliki urusan pengelolaan dan pengaturan”. Makna umum ini, sejalan dengan berbagai macam ekstensinya, seperti pendidikan, perbaikan, kekuasaan dan kepemilikan. Coba perhatikan kutipan dua ayat Al-Quran berikut:

“Wahai manusia, sembahlah Rab-mu yang telah menciptakan kamu.” (QS Al Baqarah [2]: 21);  “Sebenarnya Rab kamu ialah Rab langit dan bumi yang telah menciptakannya” (QS Al-Anbiya [21]: 56).   

Jika kata ar-Rab berarti Pencipta, ayat-ayat  di atas tidak diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu atau kata yang telah menciptakannya. Karena jika tidak, berarti terjadi pengulangan kata yang tidak perlu. Jika kita meletakkan kata al-Khaliq (Pencipta), sebagai ganti kata ar-Rabb pada kedua ayat di atas maka tidak lagi diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu dan kata yang telah menciptakannya. Sebaliknya, jika kita mengatakan arti kata ar-Rabb adalah Pengatur atau Pengelola maka disana tetap diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu dan kata yang telah menciptakannya.

Sehingga dengan demikian, makna atau arti ayat  pertama di atas, “Sesungguhnya Zat yang telah menciptakanmu,  Pengatur urusan kamu”, sementara arti pada ayat kedua, “Sesungguhnya pencipta langit dan bumi, Penguasa dan Pengatur keduanya “.

Karena itu, perkataan Muhamad Ibnu Abdul Wahab yang berbunyi “Adapun tentang tauhid rububiyah, baik Muslim mau pun Kafir mengakuinya” adalah perkataan yang tidak tepat. Al-Quran sendiri menyatakan,”Apakah aku akan mencari Rab selain Allah, padahal Dia adalah Rab bagi segala sesuatu” (QS Al-An’am [6]: 164). Firman Allah Swt. kepada Rasul-Nya ini tidak lain berarti agar beliau menyampaikan kepada kaumnya sebagai berikut: ‘Apakah engkau memerintahkan aku untuk mengambil Rab, yang aku akui pengelolaan dan pengaturannya selain Allah, yang tidak ada pengatur selain-Nya sebagaimana engkau mengambil berhala berhalamu dan mengakui pengelolaan dan  pengaturannya’.

Jika semua orang-orang kafir mengakui bahwa pengelolaan dan pengaturan hanya semata-mata milik Allah ,sebagaimana di katakan Muhamad bin Abdul Wahab, ayat diatas tidak mempunyai arti sama sekali dan tentu mereka tidak memerintahkan untuk mengambil Rab selain Allah. Muhamad bin Abdul  Wahab, menukil pemikiran ini dari Ibnu Taimiyah tanpa melalui proses pengkajian. Akibatnya, kaum Wahabi begitu mudah mengkafirkan kaum non-Wahabi. Baik Al-Quran maupun Sunnah, tidak ada keterangan yang menyebutkan tentang adanya kaum musyrik beriman dengan tauhid rububiyah saja! Al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa mereka itu bukanlah kaum beriman.

Ayat-ayat berikut–tentang keimanan kaum musyrikin–yang dikutip dalam kitab-kitab tafsir para ulama;

Surah al-Ankabut [29]:61,“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:” Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan” Tentu mereka akan menjawab:” Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).”

Al-Qurthubi berkata, maka betapakah mereka (dapat) di palingkan (dari jalan yang benar)’ maksudnya: Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku dan berbalik dari menyembah-Ku. Artinya: Sesungguhnya, mereka akan mengatakan jawaban itu dengan lisan mereka saja, ketika ditegakkan dalil-dalil atas mereka, sementara hakikatnya mereka tidak mengatakannya (tidak beriman).” [Tafsir al Jami’ Li Ahkam al Qur’an, 13/161.]

Surah Yunus [10]:31,“Katakanlah:”Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang wafat dan mengeluarkan yang wafat dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka akan menjawab:” Allah”. Maka katakanlah:” Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada- Nya).”

Al-Qurthubi berkata,“..Maka mereka akan menjawab, Allah..” Sebab mereka meyakini, bahwa Sang pencipta adalah Allah . Atau mereka akan mengatakan Dia adalah, ‘Allah’, jika mereka mau berfikir dan bersikap obyektif.”[Ibid, 8/ 247].

Ibnu Athiyah berkata tentang ayat di atas, “Maka mereka akan menjawab,’Allah’.” Tidak ada jalan bagi mereka, kecuali mengatakannya (tapi tidak beriman) dan mereka tidak dapat menentang dengan selainnya.[ Al Muharrar al Wajiz,9/38].

Imam al-Baidhawi berkata, Maka mereka akan menjawab, ’Allah’.” Sebab, mereka tidak dapat menentang dan membantah dalam masalah ini, mengingat begitu jelasnya bukti. [Anwar at tanzil,1/434. Keterangan serupa juga terdapat dalam tafsir Ruh al Ma’ani, jilid 7 juz 11, 161.]

Al-Gharnathi berkata tentang surah Yunus:31, “Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rezeki kepadamu..’.“ Ayat ini, berargumentasi atas kaum kafir dengan hujjah yang banyak lagi jelas, yang tiada jalan bagi mereka melainkan mengakuinya.”[ At Tashil Li Ulum at tanzil,1/356.] 

Selain mereka, bisa kita temukan keterangan serupa dalam tafsir Fathu al-Qadir karya asy-Syaukani dan al-Jawahir al-Hisan karya ats-Tsa’alibi…, demikian juga keterangan mereka pada surah al Mu’minun [23]:84-92.

Ibnu Jarir at-Thabari, ketika menafsirkan surah al-Baqarah [2]:22, menukil dua pendapat, tentang siapa yang menjadi objek pembicaraan dalam firman Allah Swt, ”Karena itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui” (bahwa tidak satupun dari para sekutu itu yang menciptakanmu dan memberikan rezeki kepadamu).

Pendapat pertama, yang dimaksud adalah kaum Musyrik dan Ahlul Kitab. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas r.a.

Pendapat kedua, Yang dimaksud hanya Ahlul Kitab. Ini pendapat, Mujahid dan dari generasi Salaf.

Selanjutnya Ibnu Jarir at-Thabari berkata, “Dalam hemat saya, yang mendorong Mujahid  menyandarkan objek pembicaraan hanya untuk Ahlul Kitab ,Taurat dan Injil, menganggap bangsa Arab tidak mengetahui bahwa Allah itu adalah Sang Pencipta, Pemberi Rezeki. Karena mereka mengingkari keesaan Tuhan dan mempersekutukanNya dalam penyembahan sesembahan lain. Ada juga, yang berpendapat demikian. Hanya saja, firman Allah Swt. dalam kitab-Nya, mereka itu mengakui ke Esaan Allah, tetapi mereka menyekutukan-Nya dalam penghambaan sesembahan-sesembahan lain.” [Tafsir Jami al Bayan, 1/164.]

Walaupun, at-Thabari  tidak memilih pendapat Mujahid, namun terbukti di kalangan ahli tafsir Salaf ada yang berpendapat seperti itu. Pengakuan mereka akan ke Mahapenciptaan dan ke Mahapengaturan Allah Swt, tidak meniscayakan mereka mentauhidkan Allah dalam Rububiyah/Khaliqiyah, karena pada waktu yang sama mereka juga menyekutukan Allah dalam Rububiyah/Khaliqiyah! Mereka berkeyakinan, selain Allah sebagai Pencipta, Pengatur alam semesta dan sebagai Tuhan Akbar, ada pula tuhan-tuhan lain, yang memiliki kemandirian dalam menjalankan fungsi Rububiyah.

Berikut beberapa firman Allah Swt. yang menjelaskan keyakinan kaum Musyrik Arab, yang menyamakan sesembahan-sesembahan mereka dengan Allah Swt.:

“Dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat”, dan dikatakan kepada mereka:’Di manakah sesembahan-sesembahan yang dahulu kamu selalu menyembah (nya), selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri? Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang orang yang sesat dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.” (QS asy-Syuaraa [26]:91-98).

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (QS Yusuf [12]:106). Tentang ayat ini, Ibnu Jauzi dalam tafsirnya menerangkan, mereka yang di maksud bukanlah Mukmin sejatinya,…ia berkata, “Jika dikatakan, ‘bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’  Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud, bukanlah hakikat keimanan akan tetapi maknanya. Meskipun kebanyakan dari mereka menampakkan keimanan (hanya) dengan lisan-lisannya, mereka itu adalah orang-orang musyrik.” [ Zad al Masir, 4/227.]

Ibnu Athiyah, menukil dari Ibnu Abbas r.a.; “Ayat itu untuk Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), mereka beriman kepada Allah, kemudian mereka menyekutukan-Nya dari sisi kekafiran mereka kepada nabi-Nya. Atau dari sisi perkataan mereka Uzair itu anak Tuhan, Isa anak Tuhan…”[ Al Muharrar al Wajiz,9/386-387].

Ibnu Abi Hatim, menukil dua riwayat tentang tafsir ayat diatas. Ayat ini, berbicara tentang syirik ashqar/kecil. Maksudnya ialah riya’. Ia berkata, “….Dari Zakariya Ibnu Zurarah, ayahku bercerita kepadaku, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Abu Jakfar Muhamad Ibnu Ali tentang ayat: ‘Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutu- kan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).’ Abu Jakfar berkata, ‘Syirik dalam ketaatan. Seperti ucapan seorang, ‘Anda bukan karena Allah, tapi karena si fulan.’” [Tafsir Abu Hatim 7/ 2208].

Ibnu Jarir at-Thabari berkata, “Tentang takwil firman Allah, –– ‘Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka berbuat kesyirikan’ (QS Yusuf:106), Allah berfirman, ‘Dan kebanyakan mereka (yang disifati oleh Allah dengan firmanNya, ‘Dan banyak sekali tanda-tanda [kekuasaan Allah] di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya’)––, mereka tidak mengakui bahwasanya Allah Pencipta, Pemberi rizki dan Pencipta segala sesuatu, melainkan mereka berbuat kesyirikan kepada Allah dalam peribadatan kepada patung-patung. Mereka menjadikan selain Allah, sebagai tandingan bagi Allah dan menyangka bahwa Allah memiliki anak. Maha tinggi Allah, dari apa yang mereka ucapkan. Dan para ahli tafsir berpendapat seperti pendapat kami ini.”[Tafsir At Thabari 13/372].

Imam at-Thabari sadar tentang kemusyrikan mereka dalam penyembahan, meskipun mereka beriman tentang pengesaan Allah dalam urusan penciptaan dan pengaturan, bukanlah sebab  satu2nya. Disamping itu, mereka mengklaim bahwa Allah punya anak––Maha Suci Allah dari anggapan itu. Ini adalah akidah terburuk kaum Musyrik Arab.  Allah Swt. berfirman dalam surah Maryam [19]:88-93, “Dan mereka berkata, Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat, ‘karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak’, mengatakan bahwa  Allah berfirman, ‘Langit-langit dan bumi serta gunung-gunung dan seluruh makhluk selain manusia dan jin benar-benar terkejut karena kemusyrikan itu dan hampir-hampir musnah, akibatnya karena kemaha Agungan Allah.’”[Tafsir Ibnu Katsir,3/146.]

Memang ada ayat yang artinya, ‘dan jika engkau bertanya kepada mereka: Siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: Allah, maka bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah Swt.)’? (al-Zukhruf:87). Namun, ayat berikutnya menjelaskan bahwa mereka bukan kaum yang beriman. Firman Allah Swt: ‘Dan (Allah mengetahui) ucapannya (Muhamad): Ya Tuhanku, sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman. Maka berpalinglah (hai Muhamad) dari mereka...sampai akhir ayat‘ (al-Zukhruf:88, 89).  

Beragam ayat yang berbicara tentang akidah kaum musyrik Arab, Allah memiliki anak, misalnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 116; Surah Yunus ayat 68; Surah al-Kahfi; An-Najm dan lain lain.

Dalam surah an-Najm [53]:19-23 menyebutkan nama-nama tuhan sesembahan yang mereka yakini sebagai “putri-putri” Tuhan. Allah Swt berfirman,“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan. Yang demikian itu, tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.”

 Asy-Syaukani  tentang ayat, Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan–berkata, ‘Bagaimana kalian menjadikan bagi Allah sesuatu yang kalian benci untuk diri kamu sendiri, yaitu anak-anak perempuan. Kalian menjadikan untuk kalian apa-apa yang kalian sukai, berupa anak-anak lelaki. Hal demikian, karena klaim mereka bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.’ [Tafsir Fathu al Qadir, 5/131.]

Al-Qurthubi berkata, “Dan barang siapa membolehkan untuk menjadikan malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah, berarti ia menjadikan para malaikat itu serupa dengan Allah. Sebab anak itu sejenis dan serupa dengan bapaknya.” [Al-Jami’ Li Ahkam Al-Quran,15/122].

Keterangan serupa, dijelaskan oleh an-Nasafi dalam tafsir- nya. Ia berkata, “Kemudian Allah menekankan kebohongan mereka, dengan firman-Nya, ‘Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya[Tafsir an-Nasafi,2/142].

Keterangan serupa juga disampaikan oleh al Alusi dalam tafsir Ruh al Ma’ani, jilid X juz, 18/90.

Baik al-qur’an maupun sunnah tidak ada menyebut bahwa orang-orang Musyrik beriman dengan tauhid rububiyah saja! Sebaliknya al-quran mengatakan dengan jelas, bahwa mereka bukan orang yang beriman. Bagaimana kita boleh mengubahnya mengatakan mereka beriman dengan tauhid rububiyah? Telah diketahui oleh kaum muslimin dari zaman dahulu banyak orang kafir tidak mengakui wujudnyaTuhan, apalagi mentauhidkan-Nya!

Sebenarnya, masih banyak lagi yang perlu dicantumkan disini, tapi Insya Allah pendapat sebagian ulama yang telah kami kemukakan, cukup jelas bahwa kaum Musyrik Arab itu menyekutukan Allah tidak hanya dalam  Uluhiyah semata, tetapi mereka juga menyekutukan Allah dalam Rububiyah-Nya! Mereka ini meyakini ,selain Allah sebagai Tuhan, juga ada tuhan-tuhan selain Allah. 

Jika golongan Wahabi-Salafi, tidak sependapat dengan pakar tafsir diatas, adalah hak mereka. Akan tetapi, mereka tidak berhak menganggap pilihannya adalah satu-satunya tafsiran dalam ayat-ayat tersebut, apalagi memaksa orang lain menerima pilihannya itu!

Sesuatu hal yang aneh, jika dalam sebuah masalah golongan wahabi membanggakan tafsir Salaf seperti; Ibnu Abbas r.a, Mujahid, Qatadah atau Imam Malik, namun ketika para salaf ini berseberangan dengan golongan ini dalam sebuah masalah atau dalam memahami ayat-ayat/hadis-hadis sifat, nukilan-nukilan dari mereka tidak digubris, bahkan nama-nama mereka segera di kesampingkan!

Silahkan ikuti kajian berikutnya.