Tidak semua kata-kata ‘kullu’ , berarti semua/setiap

Tidak semua kata-kata ‘Kullu’, berarti semua/setiap

Kaum Pengingkar memahami hadis, ‘kullu bid‘atin dhalalah’ sebagai bersifat umum. Dengan begitu, kaum Wahabi menetapkan apa saja yang terjadi setelah zaman Rasulallah Saw. serta semua amal yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulallah Saw. adalah bid‘ah dhalalah.

Berikut ayat-ayat ilahi atau hadis yang ada kata-kata Kullu, yang mana kata ini tidak harus berarti semua/setiap, tapi bisa berarti khusus untuk beberapa hal saja. Begitu juga keumumannya tidak untuk semua hal tapi hanya untuk beberapa hal saja;

  • Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthi berkata: ”Mengenai hadis ‘kullu bid’atin dhalalah’ ini, bermakna ‘Aammun makhsush’, [sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya], seperti firman Allah, ‘[Angin taufan] …yang menghancurkan segala sesuatu’ [QS Al-Ahqaf[46] 25]. Namun, keumuman ayat ini tidak terpakai, karena pada saat itu gunung-gunung, langit dan bumi tidak ikut hancur, (atau ayat: ‘Sungguh telah kupastikan ketentuan-Ku, untuk memenuhi jahanam dengan jin dan manusia keseluruhan- nya’ (QS Assajdah [32]:13). Pada kenyataannya, bukan semua manusia masuk neraka, atau hadis: ‘Aku dan hari kiamat bagaikan kedua jari ini’ [dan kenyataannya kiamat masih ribuan tahun setelah wafatnya Rasul Saw.] (Syarh As-Suyuthi Juz 3 hal 189).
  • Perhatikan beberapa ayat berikut ini: Surah An-Naml [27]:23, “Ratu Balqis itu telah diberikan segala sesuatu”. Padahal, Ratu Balqis tidak diberi singgasana dan kekuasaan seperti yang diberikan kepada Nabi Sulaiman a.s; Surah Al-An'am [6]: 44, 'Kami bukakan bagi mereka pintu segala sesuatu'. Namun, Allah tidak membukakan pintu rahmat bagi mereka (orang-orang kafir durhaka). Dengan demikian, kalimat ‘segala sesuatu’ adalah umum, tetapi kalimat itu bermaksud khusus; Dalam surah Al-Kahfi [18]:79,’...terdapat seorang raja yang suka merampas semua perahu’. Ayat ini, menunjukkan tidak semua perahu yang akan dirampas oleh raja itu, melainkan perahu yang masih dalam kondisi baik saja. Oleh karena itu, seorang hamba yang saleh/Khidir sengaja membocorkan perahu orang-orang miskin itu, agar terlihat sebagai perahu yang cacat/jelek sehingga tidak ikut dirampas; Dalam surah Al-Anbiya [21]:30,‘....Dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup’. Meskipun, ayat ini menggunakan kalimat kulla namun, tidak berarti semua makhluk hidup diciptakan dari air.  Para malaikat, jin tidaklah Allah Swt.ciptakan dari air.
  • Dalam Sahih Bukhari dan Al-Muwattha terdapat penegasan, Rasulallah Saw. menyatakan bahwa jasad semua anak Adam akan hancur dimakan tanah. Mengenai itu, Ibnu 'Abdul Birr, rahimahullah, dalam At-Tamhid mengatakan: Hadis mengenai itu menurut lahirnya dan menurut keumuman maknanya adalah, semua anak Adam sama dalam hal itu. Akan tetapi, dalam hadis yang lain Rasulallah Saw. menegaskan pula, jasad para Nabi dan para pahlawan syahid tidak akan di makan tanah (hancur) !
  • Begitupun juga dalam hadis riwayat Imam Ahmad: 
  •                         عَنِ الْأَشْعَرِيِّ  قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهُ صَلَّى اللَّهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ  عَيْنٍزَانِيَةٌ 

  • “Dari al-Asyari berkata, Rasulallah Saw.bersabda: “Setiap mata berzina” (Musnad Imam Ahmad). Sekalipun, hadis ini menggunakan kata kullu, namun bukan bermakna semua/keseluruhan, akan tetapi bermakna sebagian, yaitu mata yang melihat kepada wanita ajnabiyah (yang bukan muhrim). Ibnu Hajar mengatakan; 'Hadis-hadis sahih yang mengenai satu persoalan harus dihubungkan satu sama lain untuk dapat diketahui dengan jelas maknanya yang mutlak dan yang muqayyad. Dengan demikian, semua yang diisyaratkan oleh hadis-hadis itu semuanya dapat dilaksanakan'.

        

Kelompok Salafi-Wahabi, juga mengajukan dalil firman Allah Swt.:

                      كُلّ  نفس ذَا ئٍقَة المَوْتِ  

‘Setiap yang bernyawa itu akan merasakan kematian’

Mereka mengatakan, kata ‘kullu’ pada ayat diatas  oleh semua pakar tafsir diartikan dengan ‘setiap’, karena kalau arti kullu itu diartikan dengan ‘Sebagian’, timbullah makna, bahwa ‘sebagian yang bernyawa  akan merasakan mati, dan sebagiannya lagi tidak’. Selanjutnya, mereka berkata begitu pula halnya, makna kullu pada hadis ‘kullu bid’atin dhalalah, wa kullu dhalalatin fin naar’ !

Sebagai kebiasaan golongan ini, mereka mengabaikan ayat-ayat Al-Quran maupun hadis-hadis lainnya, yang mengandung kata-kata umum, tetapi, tidak terpakai keumumannya, seperti yang telah kami kemukakan.

Menurut kaidah ilmu mantiq, kata-kata kullu itu tidak harus bermakna ‘setiap’ dan kata kullu itu ada dua macam, Kullu majmu’ dan Kullu jami’.

Kullu majmu’, berarti sebagian atau sekumpulan, bukan berarti setiap atau keseluruhan. Dialah yang dimaksud dengan bab: Kulli. Sebagian contohnya telah kami kemukakan. Contoh lainnya ialah:

        كُلّ رَجُل مِن بِنى تَمِيْم يحمِل  الَصُّخْرَةً الْعَظيْمَةً

Artinya, ‘Sebagian atau sekumpulan orang dari bani Tamim membawa batu yang besar’. Kata kullu disini, harus diartikan dengan sebagian atau sekumpulan orang, bukan setiap orang. Karena, pada kenyataannya ada saja orang dari bani Tamim yang tidak ikut membawa batu besar itu.

Adapun, Kullu jami’, berarti ‘setiap atau keseluruhan’, artinya melibatkan semua orang. Inilah, yang dimaksud dengan bab: Kulliyah. Contohnya ialah ayat ‘Kullu nafsin dzaaiqotul maut’. Oleh karena itu, kullu disitu diartikan, dengan setiap atau keseluruhan yang bernyawa. Tidak bisa kullu diayat ini, dijadikan sebagai kullu majmu’, karena pada kenyataannya dan juga didukung oleh ayat-ayat Al-Quran yang lain, bahwa memang semua yang bernyawa akan wafat.

Untuk membuktikan adanya dua macam makna ‘kullu’ ini, kami ketengahkan dua bait syair yang tercantum dalam kitab mantiq ‘Sullamul Munauruq’ oleh Imam Al-Akhdhori, yang telah diberi syarah oleh Syeikh Ahmad al-Malawi dan diberi Hasyiah oleh Syeikh Muhamad bin Ali as-Shabban:

 الَكُلّ حكمنَا  عَلَى الْمجْموْع  ككل ذَاكَ لَيْسَ ذَاوقَوْع     

   حيْثمَا لكُلّ فَرْد حُكمَا فَإنَّهُ كُلّيّة قَدْ علمَا       

Artinya: ‘Kullu itu, kita hukumkan untuk majmu’ (sebagian atau sekelompok) seperti ‘Sebagian itu tidak pernah terjadi’. Dan jika kita hukumkan untuk tiap-tiap satuan, maka dia adalah kulliyyah (jami’ atau keseluruhan) yang sudah dimaklumi’.

Kelompok Salafi-Wahabi ada yang mengatakan, bila kata kullu pada hadis  kullu bíd’atin dhalalah diartikan dengan ‘sebagian’, maka seharusnya juga kata ‘kullu’ pada hadis ‘wa kullu dhoalatin fin naar’,  diartikan juga dengan ‘dan sebagian kesesatan itu didalam neraka’.

Orang yang mengatakan hal ini, jelas-jelas tidak mengetahui perbedaan antara kulli dan kulliyah, tidak juga tahu bahwa kullu itu ada yang majmu’ dan ada pula yang jami’. Kata kullu pada hadis ‘kullu bid’atin dhalalah’ bisa saja sebagai kullu jami’, yang telah ditakhsish oleh dalil-dalil lainnya––sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Dan bisa juga, sebagai kullu majmu’, sehingga artinya adalah ‘sebagian bid’ah itu sesat’ dan itulah bid’ah yang sayiah. Namun demikian, kata kullu pada ‘wa kullu dhalalatin fin naar’  tidak bisa dijadikan sebagai kullu majmu’, melainkan dia tetap sebagai kullu jami’, sehingga tetap berarti ‘setiap yang sesat itu didalam neraka’. Oleh karena itu, tidak terdapat dalil-dalil lain, yang mentakhsish keumumannya.

 

Sekelompok ulama mengatakan, 'Hal yang umum hendaknya tidak diamalkan dulu, sebelum dicari kekhususan kekhususannya'. Kecenderungan kaum Wahabi-Salafi,  sering mengabaikan ayat-ayat Al-Quran maupun hadis yang mengandung kata-kata umum, tapi tidak terpakai keumumannya. Tidak ada dalam logika kaum Wahabi-Salafi makna umum yang ditakhsish.  Mereka sangat sulit menerima bahwa pada hadis ‘kullu bid’atin dhalalah’ adalah bermakna umum, yang telah di takhsish oleh dalil-dalil lainnya––sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Agama Islam, bukan hanya masalah peribadatan saja. Allah Swt. menetapkan agama Islam bagi umat manusia mencakup semua perilaku dan segi kehidupan manusia. Yang kesemuanya ini, bisa dimasuki bid‘ah hasanah maupun yang sayi’ah (buruk). Untuk itu, tidak ada jalan yang lebih tepat, daripada yang telah ditunjukkan oleh para imam dan ulama Fiqih, yaitu sebagaimana yang telah dipecahkan oleh Imam Syafi'i dan lain-lain, yang antara lain telah kami kemukakan. Penghukuman haram, sesat, mungkar bahkan ‘syirik’, adalah penghukuman tanpa dalil. Dalil untuk mengharamkan sesuatu perbuatan haruslah menggunakan nash/dalil yang jelas, baik itu dari Al-Quran maupun hadis yang melarang dan mengingkari amalan tersebut. Dengan demikian, tidak bisa suatu perbuatan diharamkan, hanya karena Nabi Saw. atau Salafus Saleh tidak pernah mengamalkannya. 

Para ulama, mengenal beberapa macam sunnah yang sumbernya langsung dari Rasulallah Saw., umpamanya;  Sunnah Qauliyah, Sunnah Fi’liyah dan Sunnah Taqriyah.

Sunnah Qauliyah, sunnah dimana Rasulallah Saw. sendiri menganjurkan suatu amalan, dan riwayatnya sampai kepada kita bukan dengan cara dicontohkan, melainkan dengan ucapan saja, dan belum tentu kita mendapatkan dalil bahwa Rasulllah Saw. pernah mengamalkannya.Ucapan beliau itu, tidak selalu berbentuk fi'il amr (kata perintah), tetapi, bisa saja dalam bentuk anjuran, janji pahala dan sebagainya. Contohnya, hadis Rasulallah Saw. yang menganjurkan orang untuk belajar berenang, tetapi kita belum pernah mendengar bahwa Rasulallah Saw. atau para sahabat telah berenang atau kursus berenang!

Sunnah Fi'liyah, sunnah yang ada dalilnya dan pernah dilakukan langsung oleh Rasulallah Saw. Misalnya, ibadah shalat sunnah seperti shalat istisqa’, puasa sunnah Senin Kamis dan lain sebagainya. Para shahabat, melihat langsung beliau Saw. melakukannya, kemudian meriwayatkannya kepada kita. Adapun, Sunnah Taqriyah, sunnah dimana Rasulallah Saw. tidak melakukannya langsung, juga tidak pernah memerintahkan  namun hanya mendiamkannya saja. Contohnya, ialah beberapa amalan para sahabat yang telah kami kemukakan sebelumnya.

Kalau kita teliti, perbedaan faham setiap ulama atau setiap mazhab selalu ada. Perbedaan itu, sebenarnya terletak pada soal penafsiran. Atau berangkat dari perbedaan standar dan metode penafsiran. Namun, sama-sama bersandar pada Kitabullah dan Sunnah Rasulallah Saw. Hanya saja, para ulama salaf tidak sedemikian mudah memvonis kelompok yang berbeda dengannya sebagai sesat, kafir dan sebagainya.

Begitu juga, ketika menimbang sejumlah amal ibadah yang belum pernah dikerjakan oleh Rasulallah Saw. atau para sahabatnya, akan tetapi, diamalkan oleh para ulama salaf (ulama terdahulu) atau ulama khalaf (ulama belakangan). Misalnya, mengadakan majlis Maulid Nabi Saw.,majlis tahlil/yasinan dan lain sebagainya. Pada dasarnya, para ulama mengadakan hal baru itu, bersandar pada nilai-nilai yang terkandung dalam Kitabullah atau Sunnah Rasulallah Saw. Apa yang didengungkan dalam majlis-majlis yang divonis bid‘ah oleh kaum Wahabi-Salafi, adalah kalimat tauhid, tasbih, takbir dan Shalawat kepada Rasulallah Saw. Itu semua dianjurkan oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya. Semuanya ini, tidak lain bertujuan untuk takarub/ mendekatkan kita kepada Allah Swt.!

Telitilah isi hadis qudsi berikut ini:

...... وَمَا تَقَرَّبَ اِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْئٍ أحَبَّ اِلَيَّ  مِمَّا افْتَرَ ضْتُ عَلَيْهِ, وَمَا يَزَالُ

عَبْدِي يَتَقَرَّبُ أِلَيَّ  بِالنّـَوَافِلِ حَتَّى اُحِبَّهُ فَاِذَا أحْبَبْتُهُ  كُنْتُ سَمْـعَهُ  الَّذِي يَسمَعُ

بِهِ وَبَصَرَهُ اَلَّذِي يُبْصِرُبِهِ, وَيَدَهُ اَلَّتِي يَبْـطِشُ بِهَا وَرِجْلـَهُ اَلَّتِي يَمْشِي بِهَا وَاِنْ

سَألَنِي اَْعْطَيْتُهُ وَلَئِنِ اسْتَعَـاذَنِي لاُعِيْذَنَّهُ. (رواه البخاري)                             

 “.... HambaKu yang mendekatkan diri kepadaku dengan sesuatu yang lebih Kusukai daripada yang telah Kuwajibkan kepadanya, dan selagi hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan nawafil (amalan-amalan atau shalat sunnah) sehingga Aku mencintainya, jika Aku telah mencintainya. Akulah, yang menjadi pendengaran- nya dan dengan itu ia mendengar, Akulah, yang menjadi penglihatannya  dan dengan itu ia melihat, dan Aku yang menjadi tangannya dengan itu ia memukul (musuh), dan Aku juga menjadi kakinya dan dengan itu ia berjalan. Bila ia mohon kepadaKu itu pasti Kuberi dan bila ia mohon perlindungan kepadaKu ia pasti Ku lindungi”. (HR Bukhari)

Dalam hadis qudsi ini, Allah Swt. mencintai orang-orang yang menambah amalan sunnah disamping amalan wajIbnya. Wallahu’alam.

Silahkan baca uraian berikutnya.