Dalil yang menggerak-gerakkan telunjuk dan jawabannya

Dalil yang menggerak-gerakkan telunjuk dan jawabannya:

Mereka mengatakan, sunnah hukumnya menggerak-gerakkan telunjuk, berdalil sebagai berikut:

Riwayat  Wa’il bin Hujrin yang menerangkan, “Kemudian Nabi mengangkat jari telunjuknya (ketika tasyahud), aku melihat beliau menggerak-gerakkan, sambil berdoa” (HR.Nasa’i).

Hadis ini, oleh sebagian mazhab Maliki sebagai dalil untuk mensunnahkan tahrik telunjuk itu, dengan gerakan yang sederhana, dimulai sejak awal tasyahud hingga akhirnya. Dan gerakan tersebut, mengarah ke kiri dan ke kanan, bukan ke atas dan ke bawah (Al-Fighul Islami 1/716).

Mereka berdalil pula hadis dari Ibnu Umar,  “Menggerak gerakkan telunjuk diwaktu shalat, dapat menakut-nakuti setan”.

Hadis ini dho’if, hanya diriwayatkan seorang diri oleh Muhamad bin Umar al-Waqidi (Al-Majmu’ III/454 dan Al-Minhajul Mubin hal.35). Ibnu Adi dalam Al-Kamil Fi Al-Dhu’afa VI/2247, “Tahrik jari (telunjuk) dalam sholat, dapat menakut-nakuti setan  hadis maudhu’”.

Mereka berdalil, dengan ucapan Syeikh Al-Albani ,imam kelompok Wahabi, dalam kitabnya Sifat-sifat Sholat Rasulallah Saw. ,khusus- nya hal.158-159, mengemukakan sebuah hadis, “Beliau (Saw.) mengangkat jarinya (dan), menggerak-gerakkannya seraya berdoa. Beliau (Saw) bersabda; ‘Itu ,yakni jari,  sungguh lebih berat atau lebih keras bagi setan daripada besi’”.        

  • Redaksi hadis yang sebenarnya, tidak seperti yang disebutkan oleh Syeikh ini. Syeikh ini, telah menyusun dua hadis yang berbeda, dengan menyusupkan kata-kata yang bukan dari hadis. Redaksi hadis yang sebenarnya, terdapat dalam Al-Musnad II:119, Al-Du’a karangan Imam Thabarani II:1087, Al-Bazzar dalam Kasyf Al-Atsar I:272 dan kitab hadis lainnya ialah; “Diriwayatkan dari Nafi’, Abdullah bin Umar r.a., jika (melakukan) sholat ber-isyarat dengan (salah satu) jarinya, lalu diikuti oleh matanya, seraya berkata, Rasullah Saw. bersabda; ‘Sungguh, itu lebih berat bagi setan daripada besi’“. Al-Bazzar berkata; “Katsir bin Zaid, meriwayatkan secara sendirian (tafarrud) dari Nafi’, dan tidak ada riwayat (yang diriwayatkan Katsir ini) dari Nafi’, kecuali hadis ini”. Syeikh Albani sendiri, dikitab Sahihah-nya IV:328 mengatakan; ‘Saya berkata, Katsir bin Zaid adalah Al-Aslami yang dha’if/lemah’! 

Oleh karena itu, jelas dalam hadis diatas ini,  tidak di sebutkan kata-kata Yuharrikuha (menggerak-gerakkannya), tetapi hanya disebutkan ‘berisyarat dengan jarinya’. 

  • Para Imam (Mujtahidin) pun, tidak mengamalkan hadis yang mengisyaratkan tahrik itu, termasuk ulama dahulu dari kalangan Imam Malik (Malikiyah) sekali pun. Orang yang melakukan tahrik itu, bukan dari mazhab Malikiyah dan bukan juga yang lainnya. Al-Hafidh Ibnu Al-Arabi Al-Maliki dalam Aridhat Al-Ahwadzi Syarh Turmduzi II/85 menyatakan, “Jauhi lah olehmu, menggerak-gerakkan jarimu dalam tasyahud, dan janganlah berpaling ke riwayat Al-Uthbiyah, karena riwayat tersebut baliyah (mengandung bencana)”.
  • Al-Hafidh Ibnu Al-Hajib Al-Maliki dalam Mukhtashar Fiqh-nya mengatakan, ‘yang masyhur dalam mazhab Imam Malik, tidak menggerakkan telunjuk yang di-isyaratkan itu’.
  • Tiga imam mazhab (Hanafi, Syafi’i dan Hanbali) tidak memakai dhohir hadis Wa’il bin Hujr tersebut, dan  tidak mensunnahkan tahrik. Oleh karena itu, mensunnahkan tahrik berarti menggugurkan hadis Ibnu Zubair dan hadis-hadis lainnya, yang menunjukkan Nabi Saw. tidak menggerak-gerakkan telunjuk.
  • Imam Baihaqi, yang bermazhab Syafi’i, memberi komentar terhadap hadis Wa’il bin Hujr, “Terdapat kemungkinan, yang dimaksud dengan tahrik disitu, mengangkat jari telunjuk, bukan menggerak-gerakkannya secara berulang, sehingga dengan demikian tidak lah bertentangan dengan hadis Ibnu Zubair”. Kesimpulan Imam Baihaqi ini, hasil dari penerapan metode penggabungan dua hadis diatas yang berbeda.

Kalau mengikuti komentar Imam Baihaqi ini, memang semulanya jari telunjuk itu tidak bergerak, ketika sampai pada hamzah illallah, ia kita angkat, itu menunjukkan adanya penggerakan jari telunjuk tersebut, tetapi, bukan digerak-gerakkan berulang-ulang, sebagaimana pendapat sebagian orang. Wallahu a’lam.

Silahkan baca uraian pada Bab 6 berikutnya.