Kewajiban baca surah Al-Fatihah dalam sholat

Kewajiban baca surah AlFatihah dalam sholat

Sebagian kelompok muslimin, ada juga yang mencela, membid’ahkan pembacaan surah Al-Fatihah ,khususnya bagi makmum, yang  diamalkan pengikut mazhab Syafi’iyah, pada setiap rakaat dalam sholat jahar (isya, maghrib, shubuh dan jum’at). Berikut, kami nukil riwayat-riwayat kewajiban membaca Al-Fatihah, baik bagi imam maupun makmum:

  • Firman Allah Swt.,  ‘Dan sesungguhnya, Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung’. (Al-Hijr[15]:87). Yang dimaksud tujuh ayat dalam ayat Al-Hijr, surah Al-Fatihah.
  • Imam Bukhori (V11:381 Al-Fath Al-Bari) meriwayatkan, dari Abu Sa’id Al-Mu’alla, “Nabi Muhamad Saw. lewat dan aku (sedang) sholat. Lalu, beliau memanggilku. Aku tidak menjawab hingga aku selesaikan sholatku, aku datangi beliau Saw.. Beliau bersabda, ‘Apa yang menghalangimu untuk mendatangiku, ketika aku memanggilmu’? Aku menjawab, ‘aku sedang sholat (ketika itu)’. Beliau Saw. bersabda, ‘Bukankah Allah Swt. berfirman, ‘wahai orang orang beriman, jawablah (penuhilah) panggilan Allah dan Rasul-Nya’? Setelah itu, beliau bersabda; ‘Senangkah jika aku mengajarimu surah yang paling agung didalam Al-Quran, sebelum aku keluar dari masjid’? Setelah–berselang beberapa saat–Nabi Muhamad Saw. pergi untuk keluar dari masjid. Lalu, aku mengingatkannya. Beliau bersabda, ‘Alhamdu lillahi Rabbil-alamin, itulah tujuh ayat,yang diulang-ulang dan (itulah) Al-Quran yang diberikan padaku’ ”.
  • Hadis dari Abu Hurairah r.a, Rasulallah Saw.bersabda, “Ummu Al-Quran ialah, tujuh ayat yang diulang-ulang dalam Al-Quran yang agung” (HR.Bukhori dalam Sahih-nya [V11:381] Al-Fath Al-Bari).
  • Hafiz Ibnu Hajr dalam Fathul Bari V11:382 mengatakan, “Imam Thabrani meriwayatkannya dengan dua isnad yang bagus, dari Umar r.a, dan dari Ali k.w. Dia mengatakan, ‘As-Sab’u Al-Matsani itu, adalah Fatihat Al-Kitab‘ (Al-Fatihah). Dari Umar ada tambahan ‘Diulang-ulang pada setiap rakaat’”
  • Imam Bukhori (11:238), Imam Muslim (1:295) dan dalam Al-Fath al-Bari (11:241), ada pembahasan yang lengkap mengenai sabda Rasulallah Saw., ‘Tidak ada sholat–yang mencukupi–, bagi orang yang tidak membaca Fathihat Al-Kitab’. Hadis ini, menurut Imam Bukhori mutawatir. Maksud hadis ini, bukan tidak ada sholat yang sempurna, melainkan tidak ada sholat yang mencukupi (sah) bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah. Karenanya, dalil wajIbnuya membaca al-Fatihah ini, berlaku baik untuk sholat berjamaah maupun yang melakukan sholat sendirian (munfarid).
  • Dalam redaksi, yang dikeluarkan oleh Al-Isam’ili melalui jalan Abbas bin Al-Walid Al-Narsi–gurunya Imam Bukhori– dari Sufyan dengan isnad tersebut, ‘Tak ada satu sholat pun yang mencukupi, jika tidak dibacakan Fatihat Al-Kitab’. Al-Hafidh Ibnu Hajar, dalam Al-Fath (11:241) menyebutkan, riwayat itu ada mutaba’ahnya (yang mengikuti dan menguatkannya) yaitu, yang diriwayatkan Al-Daraquthni, begitu pula ada saksi penguatnya yang diriwayatkan Ibnu Hibban [dalam Sahihnya V:89] dan Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya.
  • Hadis riwayat Imam Bukhori [11:277] dan Imam Muslim [1:298], sabda Rasulallah Saw. ,kepada seseorang yang melakukan sholat tidak sempurna, “Kemudian lakukan itu, pada (gerakan) sholatmu semuanya (setiap raka’at)”.
  • Imam Bukhori (pada juz ‘Membaca [al-Fatihah] di belakang Imam’ [bab wajib membaca al-Fatihah, bagi imam dan makmum, dan ukuran minimal yang dibaca] hal. 8 cet. Al-Iman Madinah Al-Munawarah) mengatakan, “secara mutawatir, ada berita dari Rasulallah Saw., tidak ada sholat (yang sah), kecuali dengan membaca Ummu Al-Quran’ (yakni al-Fatihah). Abdullah bin Amr r.a meriwayatkan, “Nabi Muhamad Saw. berkhutbah, “Siapa yang melakukan sholat wajib atau sunnah, hendaklah membaca Ummu Al-Quran dan (ayat) Quran bersamanya. Jika dia sampai (selesai) membaca Ummu Al-Quran itu, cukup baginya. Dan, siapa yang (melakukan sholat) bersama imam, maka hendaklah dia membaca (ummul Al-Quran itu) sebelumnya, atau jika dia (imam) diam. Oleh karena itu, siapa yang melakukan sholat tidak membaca Ummu Al-Quran, maka sholatnya khidaj (kurang)” (beliau mengucapkannya) tiga kali. (HR.Abdar-Razzaq dalam Al-Mushannaf (II:133 nr. 2787). Hadis ini hasan, sesungguhnya Al- Mutsanni bin As-Shabbah itu tidak  tercela dalam periwayatannya dari Amr bin Syu’aib. Hal itu, sebagaimana dikatakan oleh para penghafal hadis, dan telah disebutkan mengenai riwayat hidupnya, dalam Tahdzib At-Tahdzib (X:33). Tetapi, dia terkena ikhtilath (kekacauan/percampuran) dalam periwayatannya dari Atha, sebagaimana ahli hadis menjelaskan hal itu. Dia diakui kuat/tsiqah oleh yahya bin Mu’in. Wallahua'lam
  • Silahkan baca uraian berikutnya.