Kewajiban membaca Basmalah di Awal surah Al-Fatihah

Kewajiban membaca Basmalah di Awal surah Al-Fatihah

Dalam mazhab Syafi'iyah khususnya, mewajibkan setiap orang membaca Basmalah pada awal surah Al-Fatihah dengan jahar/keras pada shalat maghrib, isya, subuh, jum’at dan suara lirih pada shalat dhuhur dan asr. Oleh karena, basmalah merupakan ayat pertama dari surah ini. Hal tersebut didasarkan beberapa hadis berikut ini:

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al-Mujmir ,seorang Imam terpercaya  periwayat hadis sahih enam, sempat bergaul dengan Abu Hurairah r.a. selama 20 tahun: "Aku melakukan shalat dibelakang Abu Hurairah r.a., dia membaca Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim, setelah itu dia membaca Ummu Al-Quran hingga sampai Wa laadh dhaallin, dia mengatakan amin. Orang-orang pun mengucapkan amin. Setiap (akan) sujud, ia mengucapkan Allahu Akbar. Apabila bangun dari duduk dia mengucapkan Allahu Akbar.  Jika bersalam (mengucapkan assalamu‘alaikum). Kemudian dia berkata,  ‘Demi Allah, yang jiwaku ada pada kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku orang yang lebih mirip shalatnya dengan Rasulallah Saw. (daripada kalian)”.(Imam Nasa’i dalam As-Sunan II:134; Imam Bukhori mengisyaratkan hadis tersebut dalam sahihnya [dalam Al-Fath II:266]; Ibnu Hibban dalam sahih-nya  [V:100]; Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya I:251; Ibnu Al-Jarud dalam Muntaqa hal.184; Al-Daraquthni [I:300] mengatakan semua perawinya tsiqah; Hakim dalam Al-Mustadrak [I:232]; Imam Baihaqi dalam As-Sunan [II:58] dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan wa Al-Atsar [II:371], mengatakan, isnadnya sahih. Dan hadis itu, disahihkan oleh sejumlah para penghafal hadis seperti Imam Nawawi; Ibnu Hajar dalam Al-Fath [II:267] mengatakan, Imam Nawawi membuat bab khusus ‘Menjahar kan Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim’, itulah hadis yang paling sahih). 

Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulalallah Saw. bersabda, “Jika kamu  membaca Alhamdulillah, bacalah Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Sesungguhnya, Al-Fatihah itu Ummu Al-Quran (induk Al-Quran), Ummul-Kitab (induk Kitab), As-Sab’al-Matsani dan Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, adalah salah satu ayatnya”.(HR.Daruquthni [I:312], Imam Baihaqi [II:45], dan lain-lain dengan isnad sahih ,baik secara marfu’ mau pun secara mauquf). Al-hafidh Al-Haitami dalam Al-Mujma’ [II: 109] mengatakan, “Hadis tersebut, diriwayatkan Imam Thabarani dalam Al-Ausath, rijal-nya tsiqat”.

Syeikh Albani, mensahihkan hadis diatas dalam beberapa tempat dari kitabnya, dan dalam beberapa kitab karangan yang dinisbatkan kepada dirinya, antara lain kitab Sahih Al-Jami’ Wa Ziyadatuh [I:261] dan Shihatuh [I1I:179]. Meski pun demikian, dia tetap saja berkata dalam kitabnya Sifat Shalat Nabi halaman 96’, ‘Kemudian Rasulallah Saw. membaca Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim,  dan tidak mengeraskan bacaannya’.

Jika Basmalah, diakui oleh Syeikh ini sebagai salah satu ayat dari Al-Fatihah, lalu mengapa tidak dikeraskan juga bacaannya?

Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan bahwa dia membaca Al-Fatihah, lalu membaca ‘wa-laqad atainaaka sab’an min al-matsaaniya wal-Quranal adhiim’. Lalu, dia berkata, “Itulah Fatihat al-Kitab (Pembuka Al-Kitab/Al-Quran) dan Bismillahir Rahmanir Rahim, adalah ayat yang ketujuh” (Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Al-Fath VIII:382 mengatakan  hadis tersebut di riwayatkan oleh Imam Thabrani dengan isnad Hasan).

Diriwayatkan dari Ummu Salamah r.a., “Rasulallah Saw. membaca Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim dalam  shalat, dan beliau menganggapnya sebagai satu ayat…”. (HR.Abu Dawud dalam as-Sunan [IV:37], Imam   Daraquthni [I:307], Imam Hakim [II:231], Imam Baihaqi [II:44] dan lain-lain dengan isnad sahih). 

Imam Ishak bin Rahuwiyah, pernah ditanya tentang seseorang yang meninggalkan Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim. Dia menjawab, “Siapa yang meninggalkan ba’atau sin atau mim dari basmalah, shalatnya batal, karena Al-hamdu (Al-Fatihah) itu tujuh ayat”. (Hal ini akan ditemukan pada kitab Sayr A’lam Al-Nubala’ [XI:369] karangan Ad-Dzahabi).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abu Hurairah [r.a] dan lainnya: “Sesungguhnya Nabi Muhamad  Saw.  menjaharkan Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahiim”. (Hadis dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam Kasyf Al-Atsar [I:255]; Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra [II:47] dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan wa Al-Atsar [II:308]; Al-Haitsami dalam Mujma’ Al-Zawaid [II:109] mengatakan, hadis tersebut, diriwayatkan oleh Al-Bazzar dan rijal-nya mautsuqun (terpercaya); Al-Daraquthni [I:303-304] telah meriwayatkan dalam berbagai macam isnad, siapa pun yang menemukannya tidak akan meragukan kesahihannya. Rincian pembicara- annya dapat dilihat pada jilid III dari At-Tanaqudhat. Adapun, hadis dari Abu Hurairah r.a., di riwayatkan oleh Imam Hakim dalam Al-Mustadrak [I:232] dan perawi lainnya. hadisnya sahih).

Ad-Dzahabi, melemahkan hadis diatas dalam kitab Talkhish Al-Mustadrak. Dia mengatakan, ‘Muhamad itu dhaif, yang dia maksud adalah Muhamad bin Qais. Padahal tidak demikian, Muhamad bin Qais, orang baik dan terpercaya, dia termasuk rijal (sanad) Imam Muslim, sebagaimana disebutkan dalam Tahzib At-Tahzib [IX:367]. Disitu, disebutkan Muhamad bin Qais diakui mautsuq oleh Ya’qub bin Al-Fusawi dan Abu Dawud, Al-Hafidh pun mengakuinya dalam kitab At-Taqrib-nya. 

Dalam sahih Bukhori [II:251 Al-Fath al-Bari], Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada setiap shalat dibaca (Al-Fatihah dan surah—Red.). Apa  yang beliau perdengarkan (jaharkan), kamipun memperdengarkannya dan apa yang beliau samarkan (lirihkan), kamipun menyamarkannya (melirihkannya) ..”.

Imam Muslim dalam Sahih-nya [I:300], meriwayatkan hadis dari Anas r.a.,“Ketika suatu hari Rasulallah Saw. berada disekitar kami, tiba-tiba beliau mengantuk (tidur sebentar), lalu, mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Kami bertanya, ‘Apa yang menyebabkan engkau tertawa, wahai Rasulallah’? Beliau menjawab, ‘Tadi ada surah yang diturunkan kepadaku, lalu, beliau membaca Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim, inna a’thainakal kautsar….sampai akhir hadis’ “.

Imam Nawawi mengatakan, ‘Berlandaskan dalil, basmalah itu merupakan satu ayat dari setiap surah, kecuali surah Bara’ah/at-Taubah.  Basmalah itu ditulis didalam mushaf dengan khath (tulisan/kaligrafi) mushaf. Hal itu, didasarkan kepada kesepakatan sahabat dan ijmak. Mereka tidak akan menetapkan sesuatu didalam Al-Quran dengan khath Al-Quran, yang selain dari Al-Quran. Umat Islam, sesudah mereka, sejak dahulu sampai sekarang, sepakat atau ber-ijmak, basmalah itu tidak ada pada awal surah Bara’ah dan tidak ditulis padanya. Hal itu semua, menguatkan apa yang telah kami katakan. (Syarh Muslim IV:111)

 Diriwayatkan, para sahabat yang empat-radhiyallahu‘anhum-khususnya khalifah Umar dan khalifah Ali, semuanya menjaharkan bacaan basmalah dalam Al-Fatihah (lihat kitab Ma’rifat As-Sunan Wa Al-Atsar [II:372 dan 378] ). 

Dalam sahih Bukhori [IX:91 Al-Fath], “Anas bin Malik r.a. pernah ditanya, mengenai bacaan (basmalah) Nabi Muhamad Saw.. Dia menjawab: Bacaan Nabi itu, (mengandung) mad (dipanjangkan), (yakni) memanjangkan bacaan  Basmalah, memanjangkan kata Ar-Rahman dan memanjangkan kata Ar-Rahim’”.

Ibnu Hajar dalam Al-Fath II:229 menetapkan, agar menggunakan hadis yang menetapkan adanya jahar dalam membaca basmalah. Selanjutnya, dia mengatakan, ‘Jelaslah, bahwa dalam hadis telah menetapkan bacaan basmalah dengan jahar’.

Ada pun hadis Anas r.a. antara lain mengatakan: “Aku melakukan shalat dibelakang Nabi Muhamad Saw., Abu Bakar, Umar dan Usman,. mereka memulai (bacaan Alquran) dengan Alhamdulillah Rabbil ‘Aalamiin dan mereka tidak menyebut (membaca) Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim baik di awal pembacaannya mau pun di akhirnya”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka aku tidak mendengar salah satu di antara mereka membaca Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, (Imam Muslim dalam sahih-nya [I:299 no.50 dan 52].)

Hadis tersebut mu’allal (mempunyai banyak ‘ilat atau menurunkannya dari derajat sahih). Diantara ‘ilat yang melemahkan derajat hadis itu adalah, ungkapan terakhir dalam hadis tersebut ‘Mereka tidak menyebut atau membaca Bismillah’. Sebenarnya itu bukan dari perkataan (hadis) Anas, tetapi hanya perkataan salah seorang perawi yang memahami kata-kata Alhamdulillah Rabbil ‘Aalamiin dan tidak bermaksud untuk meniadakan basmalah dari Al-Fatihah.

Ada beberapa indikasi mengenai kelemahan hadis Anas r.a diatas tersebut;

a). Hadis yang sahih dan tsabit (kuat) yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Anas berlawanan dengan hadis tersebut. Dalam hadis itu disebutkan, “Bacaan Nabi itu (mengandung) mad (dipanjangkan)…(baca hadisnya dihalaman sebelumnya)

b). Semua Hafidh,penghafal hadis,yang menulis dalam Mushthalah Hadis dan mengarang mengenai hadis, menyebutkan hadis Anas tersebut sebagai contoh hadis mu’allal yang meniadakan menjahar basmalah dalam Al-Fatihah itu..Disamping mu’allal, bersifat meniadakan bacaan basmalah. Adapun hadis Anas lainnya dan banyak hadis dari para sahabat menetapkan (istbat) adanya jahar dalam membaca basmalah. Menurut ilmu ushul fiqh,  yang menetapkan (al-mutsbit) itu harus didahulukan daripada yang meniadakan, apalagi yang meniadakan itu masih mengandung ‘ilat (berupa hadis mu’allal). Men-jam’u (mengkompromikan) pun tidak bisa dilakukan. Wallahu a’lam.

(Lebih mudah dan lengkapnya tentang pembacaan Al-Fatihah dan Basmalah, silahkan baca  kitab ,terjemahan, Shalat Bersama Nabi Saw. karya Hasan Bin Ali As-Saqqaf, terbitan Dar al-Imam an-Nawawi, Oman, Jordania] cet. pertama 1993, diterjemahkan oleh Drs. Tarmana Ahmad Qosim diterbitkan oleh Pustaka Hidayah  Bandung).  

 Silahkan baca uraian berikutnya.