Kewajiban membaca Basmalah di Awal surah Al-Fatihah

Kewajiban membaca Basmalah di Awal surah Al-Fatihah

Dalam mazhab Syafi'iyah khususnya, mewajibkan setiap orang membaca Basmalah di awal surah Al-Fatihah dengan jahar/keras pada sholat maghrib, isya, shubuh dan jum’at, dengan suara lirih pada sholat dhuhur dan ashr. Oleh karena, basmalah merupakan ayat pertama dari surah ini. Hal tersebut didasarkan beberapa hadis berikut ini:

  • Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulalallah Saw. bersabda, “Jika kamu sekalian membaca Alhamdulillah, bacalah Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Sesungguhnya, Al-Fatihah itu Ummu Al-Quran (induk Al-Quran), Ummul-Kitab (induk Kitab), As-Sab’al-Matsani dan Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, adalah salah satu ayatnya”.(HR.Daruquthni [I:312], Imam Baihaqi [II:45], dan lain-lainnya dengan isnad sahih ,baik secara marfu’ mau pun secara mauquf). Syeikh Albani, mensahihkan hadis diatas dalam beberapa tempat dari kitabnya, dan dalam beberapa kitab karangan yang dinisbatkan kepada dirinya, antara lain kitab Sahih Al-Jami’ Wa Ziyadatuh[I:261] dan Shihatuh [I1I:179]. Meski pun demikian, dia tetap saja berkata dalam kitabnya ‘Sifat Sholat Nabi halaman 96’, “Kemudian Rasulallah Saw. membaca Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, dan tidak mengeraskan bacaan- nya” . Jika Basmalah, diakui oleh Syeikh ini, sebagai salah satu ayat dari Al-Fatihah, lalu mengapa tidak dikeraskan juga bacaannya?
  • Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan,dia membaca Al-Fatihah, lalu membaca ‘wa-laqad atainaaka sab’an min al-matsaaniya wal-Quranal adhiim’. Lalu, dia berkata, “Itulah Fatihat al-Kitab (Pembuka Al-Kitab/Al-Quran) dan Bismillahir Rahmanir Rahim, adalah ayat yang ketujuh” (Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Al-Fath VIII:382 mengatakan  hadis tersebut di riwayatkan oleh Imam Thabrani dengan isnad Hasan).
  • Diriwayatkan dari Ummu Salamah r.a., “Rasulallah Saw. membaca Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim dalam sholat, dan beliau menganggapnya sebagai satu ayat…”. (HR.Abu Dawud dalam as-Sunan [IV:37], Imam Daraquthni [I:307], Imam Hakim [II:231], Imam Baihaqi [II:44] dan lain-lainnya dengan isnad sahih). 
  • Imam Ishak bin Rahuwiyah, pernah ditanya tentang seseorang yang meninggalkan Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim. Maka dia menjawab, “Siapa yang meninggalkan ba’, atau sin, atau mim dari basmalah, maka sholatnya batal, karena Al-hamdu (Al-Fatihah) itu tujuh ayat”. (Hal ini akan ditemukan pada kitab Sayr A’lam Al-Nubala’ [XI:369] karangan Ad-Dzahabi).
  • Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah [r.a],  serta yang lainnya: “Sesungguhnya Nabi Muhamad   menjaharkan Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahiim”. (Hadis dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam Kasyf Al-Atsar [I:255]; Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra [II:47] dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan wa Al-Atsar [II:308] dan lain-lainnya; Al-Haitsami dalam Mujma’ Al-Zawaid [II:109] mengatakan, hadis tersebut, di riwayatkan oleh Al-Bazzar dan rijal-nya mautsuqun (terpercaya); Al-Daraquthni [I:303-304] telah meriwayatkan dalam berbagai macam isnad, siapa pun yang menemukannya tidak akan meragukan ke sahihannya. Rincian pembicaraannya dapat dilihat pada jilid III dari At-Tanaqudhat. Adapun, hadis dari Abu Hurairah ra., di riwayatkan oleh Imam Hakim dalam Al-Mustadrak-nya [I:232] dan perawi lainnya. Hadisnya sahih).
  • Ad-Dzahabi, berusaha melemahkan hadis tersebut dalam Talkhish Al-Mustadrak. Dia mengatakan, ‘Muhamad itu dhaif,  yang dia maksud adalah Muhamad bin Qais, padahal tidak demikian. Muhamad bin Qais, orang baik dan terpercaya, termasuk rijal (sanad) Imam Muslim, sebagaimana disebutkan dalam Tahdzib At-Tahdzib [IX:367]. Disitu, disebutkan Muhamad bin Qais diakui mautsuq oleh Ya’qub bin Al-Fusawi dan Abu Dawud, Al-Hafidh pun mengakui hal itu juga dalam At-Taqrib-nya. 
  • Dalam sahih Bukhori [II:251 dalam Al-Fath al-Bari], Abu Hurairah ra. berkata: “Pada setiap sholat dibaca (Al-Fatihah dan surah—Red.). Apa yang yang beliau perdengarkan (jaharkan), kamipun memperdengarkannya (menjaharkan nya), dan apa yang beliau samarkan (lirihkan), kamipun menyamarkannya (melirihkannya) ..”.
  • Imam Muslim dalam Sahih-nya [I:300], meriwayatkan hadis dari Anas r.a.,“Ketika suatu hari Rasulallah Saw. berada disekitar kami, tiba-tiba beliau mengantuk (tidur sebentar), lalu, mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Kami bertanya, ‘Apa yang menyebabkan engkau tertawa, wahai Rasulallah’? Beliau menjawab, ‘Tadi ada surah yang diturunkan kepadaku, lalu, beliau membaca Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim, inna a’thainakal kautsar….sampai akhir hadis’ “.
  • Imam Nawawi mengatakan, ‘Basmalah itu, merupakan satu ayat dari setiap surah, kecuali surah Bara’ah/at-Taubah, berlandaskan dalil, basmalah itu di tulis didalam mushaf dengan khath (tulisan/kaligrafi) mushaf. Hal itu, didasarkan kepada kesepakatan sahabat dan ijma’, mereka tidak akan menetapkan sesuatu didalam Al-Quran dengan khath Al-Quran, yang selain dari Al-Quran. Umat Islam, sesudah mereka, sejak dahulu sampai sekarang, sepakat atau ber-ijmak, basmalah itu tidak ada pada awal surah Bara’ah dan tidak ditulis padanya. Hal itu semua, menguatkan apa yang telah kami katakan. (Syarh Muslim IV:111)
  • Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al-Mujmir,  seorang Imam, Faqih, terpercaya, termasuk periwayat hadis sahih Enam, sempat bergaul dengan Abu Hurairah r.a. selama 20 tahun: "Aku melakukan sholat dibelakang Abu Hurairah r.a., maka dia membaca Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim, lalu, dia membaca Ummu Al-Quran hingga sampai kepada Wa laadh dhaallin, dia mengatakan amin. Dan, orang-orang pun mengucapkan amin. Setiap (akan) sujud, ia mengucapkan Allahu Akbar. Dan, apabila bangun dari duduk dia mengucap kan Allahu Akbar. Dan, jika bersalam (mengucapkan assalamu‘alaikum). Dia kemudian mengatakan, ‘Demi Allah, yang jiwaku ada pada kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku orang yang lebih mirip shalatnya dengan Rasulallah Saw. (daripada kalian)”. (Imam Nasa’i dalam As-Sunan II:134; Imam Bukhori mengisyaratkan hadis tersebut dalam sahihnya [II:266 dalam Al-Fath]; Ibnu Hibban dalam sahih-nya [V:100]; Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya I:251; Ibnu Al-Jarud dalam Muntaqa hal.184; Al-Daraquthni [I:300] mengatakan semua perawinya tsiqah; Hakim dalam Al-Mustadrak [I:232]; Imam Baihaqi dalam As-Sunan [II:58] dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan wa Al-Atsar [II:371], mengatakan,  isnadnya sahih. Dan hadis itu, disahihkan oleh sejumlah para penghafal hadis seperti Imam Nawawi; Ibnu Hajar dalam Al-Fath [II:267] mengatakan, Imam Nawawi membuat bab khusus ‘Menjaharkan Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim’, itulah hadis yang paling sahih mengenai hal tersebut). 
  • Hadis diatas, dikuatkan lagi dengan sabda Abu Hurairah ra., Rasulallah Saw. bersabda, ”Alhamdulillah rabbil ‘aalamiin sab’u ayat ihdaahunna Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, wa hiya as-sab’u al-matsaani wa al-Quraani al-‘adhiim, wa hiya Ummu Al-Quran wa Fatihat Al-Kitaab, (Al-Fatihah itu tujuh ayat, salah satunya adalah Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Itulah tujuh (ayat) yang diulang-ulang Al-Quran yang agung, dan itulah induk Al-Quran dan Fatihat (Pembuka) Al-Kitab (Al-Quran)”. Al-hafidh Al-Haitami dalam Al-Mujma’ [II: 109] mengatakan, “Hadis tersebut, diriwayatkan Imam Thabarani dalam Al-Ausath, rijal-nya tsiqat”.
  • Diriwayatkan, para sahabat yang empat-radhiyallahu‘anhum- khususnya khalifah Umar dan khalifah Ali, semuanya menjaharkan bacaan basmalah dalam Al-Fatihah (lihat kitab Ma’rifat As-Sunan Wa Al-Atsar [II:372 dan 378] ). 
  • Dalam Sahih Bukhori [IX:91 dalam Al-Fath], “Anas bin Malik r.a. pernah ditanya, mengenai bacaan Nabi Muhamad Saw.. Dia menjawab: ‘Bacaan Nabi itu, (mengandung) mad (dipanjangkan), (yakni) memanjangkan bacaan Bismillah, memanjangkan kata Ar-Rahman dan memanjangkan kata Ar-Rahim’”.
  • Ibnu Hajar dalam Al-Fath II:229 menetapkan, untuk menggunakan hadis yang menetapkan adanya jahar dalam membaca basmalah. Selanjutnya, dia mengatakan, ‘Maka jelaslah (benarnya), hadis yang menetapkan adanya jahar dengan basmalah’. 

Masih banyak yang perlu dicantumkan disini, insya Allah dengan riwayat diatas, cukup sebagai dalil bagi pengikut mazhab syafi’íyah. Wallahu’alam.

Silahkan baca uraian berikutnya.