Celaan golongan Pengingkar

Celaan golongan Pengingkar

Lebih jauh lagi, golongan Pengingkar menyatakan, majlis tahlil/yasinan di rumah si mayat yang baru wafat, diadopsi oleh para dai terdahulu dari upacara kepercayaan Animisme, agama Budha dan Hindu. Menurut kepercayaan Animesme, ruh-ruh keluarga yang wafat akan datang ke rumahnya masing-masing setelah pada hari 1-3-7 dan seterusnya. Ruh-ruh ini mengharap sajian-sajian dari keluarganya, bila tidak mereka akan marah dan lain-lain. Setelah mereka masuk Islam, akidah yang sama tersebut masih dijalankan golongan ini (repot untuk dihilangkannya). Maka para da’i–penyebar Islam di Indonesia termasuk Walisongo–merubah keyakinan mereka dan memasukkan ajaran-ajaran zikir untuk orang yang telah wafat.

Golongan Pengingkar menyatakan, ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha.

Penafsiran golongan ini ,khususnya Wahabi-Salafi, bahwa tahlil/yasinan sebagai adopsi dari Hindu adalah pemikiran yang tidak benar dan tidak berdasar. Sejarah mencatat, penyebaran agama Islam ke Indonesia dilakukan oleh para ulama kaum Alawiyin dari Hadramaut/Yaman Selatan yang pribadi, ilmu dan nasab mereka sudah dikenal oleh umat Islam. Ditanah air kita, mereka termasuk dengan julukan para Walisongo (sembilan wali). Dari Hadramaut ini, mereka menyebar ke Gujarat (India), ada di antara mereka ini yang kenegeri Cina, Kamboja, Siam (Thailand) sampai tiba ke Indonesia (selengkapnya, baca riwayat singkat pada bab kemuliaan keturunan Nabi Saw.di buku ini).

Riwayat mengenai hadiah pahala bacaan, atau hadiah pahala amalan yang ditujukan kepada orang-orang yang telah wafat ,sebagaimana telah kami kemukakan, sudah hadir beberapa ratus tahun sebelum para Dai Hadramut datang ke Indonesia, yang kemudian diadopsi menjadi praktik praktik tahlil .

Dalam Islam, kita dianjurkan untuk berdakwah dengan cara apapun selama cara tersebut tidak keluar dari prinsip akidah Islam. Para da’i masa lalu memasukkan unsur-unsur ajaran islam yang mudah diserap. Merubah beberapa kata dan kalimat keyakinan orang-orang Hindu yang muallaf ini kepada kalimat dan tauhid yang benar. Jadi para Da’i/ahli dakwah ini tidak merubah adat mereka ini, tapi memberi wejangan agar mereka berkumpul tersebut membaca zikir pada Allah Swt. dan berdoa untuk si mayat. Sedangkan, sajian-sajian tersebut tidak ditujukan pada ruh mayat tapi diberikan para hadirin sebagai sedekah dan penghormatan untuk tamu!  

Dengan demikian, para da’i merubah keyakinan orang-orang hindu yang salah kepada yang benar. Menuju kepada praktik yang sesuai dengan syariat Islam. Dakwah mereka ini, sangat hebat sekali mudah diterima dan dipraktekkan oleh orang-orang yang fanatik dengan agama dan adatnya. Bayangkan, lebih dari 85% penduduk Hindu Jawa beralih menjadi kaum Muslim.

Dakwah yang bisa merubah adat buruk suatu kaum kepada adat yang sejalan dengan syariat Islam serta bernafaskan tauhid adalah sesatu yang sangat bernilai dalam Islam. Jadi, para dai waktu itu bukannya mengadopsi adat-adat Hindu, sebagaimana sering dituduhkan oleh kaum Wahabi, tetapi mengajari pengikut adat Hindu ini kepada jalan yang dibenarkan syariat Islam. Mengadopsi dan Mengajari adalah dua kata yang mempunyai arti jauh berbeda.

Adapun, waktu pelaksanaan berzikir dan berdoa kepada Allah Swt. untuk si mayat  selama 1-3-7 hari atau lebih banyak hari lagi, ini semua boleh diamalkan. Oleh karena, di dalam syariat Islam tidak ada larangan waktu tertentu. Setiap waktu dibolehkan untuk berzikir dan berdoa kepada Allah Swt.. Banyak firman Ilahi dan hadis Rasulallah Saw. yang menganjurkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk berzikir dan berdoa setiap saat.

Golongan yang melarang tahlil/yasinan berdalil lagi dengan hadis, “Man tasyabbaha biqaumin fa hua minhum” (Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka (dia) itu termasuk dalam kelompok mereka). Karena tahlil menurut mereka, menyerupai perbuatan kaum hindu, orang yang menyerupai perbuatan mereka termasuk dalam kelompok mereka.

Penafsiran hadis di atas seperti itu jelas tidak tepat dan dangkal sekali. Kalau memang benar, penafsirannnya seperti itu, lalu bagaimana dengan Rasulallah Saw.? Telah dikenal oleh kita, hadis sahih mengenai riwayat puasa Asyura (10 Muharam). Anjuran puasa ini, setelah beliau Saw. melihat kaum Yahudi Madinah puasa pada 10 Muharam. Ketika itu, beliau Saw. bertanya kepada kaum Yahudi sebab mereka berpuasa pada hari itu. Mereka menjawab, karena pada hari itu Allah menyelamatkan Nabi mereka ,Musa a.s., dan menenggelamkan musuh mereka. Kemudian Nabi Saw. menjawab, نَحْنُ أوْلَى بِمُوسَى مِنْكُم

“Kami lebih berhak memperingati Musa daripada kalian.” (HR. Bukhari [jilid 4 hal.55] dan Muslim ).

Apakah beliau Saw. termasuk kelompok Yahudi, karena berpuasa seperti halnya orang yahudi? Begitu pula agama Kristen, Hindu, Budha, Yahudi menganjurkan untuk berpuasa dan bersedekah. Islam mengajurkan pula berpuasa -baik yang wajib maupun sunnah. Tetapi, cara puasa dalam Islam berbeda dengan cara berpuasa orang-orang non Islam!!

Kelompok Pengingkar mengajukan dalil lagi ,yang dianggap ampuh oleh mereka, tentang pendapat Imam Syafi’i yang tertulis dalam kitab al-Umm 1/318;

وأكرهالمأتم وهي الجماعة وإن لم يكنلهم بكاء فإنذلك يجدد الحزن ويكلف المؤنة ما مع مضى فيه من الأثر

“Aku tidak menyenangi Ma’tam, yakni sebuah jama’ah/ perkumpulan, walaupun tidak ada tangisan bagi mereka, sebab sesungguhnya itu memperbaharui kesedihan dan membebani biaya beserta apa yang pernah terjadi”.

Perkataan ini, bukanlah sebagai pengharaman/larangan tahlil, jelas Imam Syafi’i mengatakan ‘aku tidak menyenangi’, bukan mengatakan bid’ah munkar, sesat, haram dan sebagainya.   Al-Ma’tam berasal dari kata “atama–ya’timu”, yang bermakna ‘apabila dikumpulkan antara dua perkara”.    Ma’tam, adalah setiap perkumpulan (perhimpunan) dari laki-laki atau perempuan baik dalam hal kesedihan maupun kegembiraan. Imam Syafi’i menghukumi makruh atas illat yang beliau sebutkan sendiri, yujaddidul huzn wa yukal liful ful mu’nah (memperbaharui kesedihan dan membebani biaya). Apabila, tidak ada illat, maka hukum makruh itu juga tidak ada, sebab kaidah ushul fiqh mengatakan: al-Illatu tadillu alal Hukmi  (illat itu menunjukkan atas hukum)”.

Jika, perkataan Imam Syafi’i tersebut tetap dipaksakan untuk dijadikan pelarangan berkumpul dirumah mayat untuk pembacaan Tahlil dimana didalamnya terdapat zikrallah, akan bertentangan dengan sabda Rasulallah Saw., antara lain:

  • Dari Abu Hurairah ra, ia berkata,”Rasulallah Saw. bersabda: “Tidaklah berkumpul suatu kaum di dalam suatu rumah dari rumah-rumah Allah Swt, sambil membaca Al-Quran bersama-sama, kecuali Allah Swt akan menurunkan kepada mereka ketenangan hati meliputi mereka dengan rahmat, dikelilingi para malaikat dan Allah Swt. memujinya di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (Sunan Ibnu Majah: 221).
  • Dari Abi Said Al Khudri berkata, Rasulallah Saw. bersabda, ”Dan tidaklah berkumpul suatu kaum sambil menyebut asma Allah Swt. kecuali mereka akan dikelilingi para malaikat, Allah Swt akan melimpahkan rahmat kepada mereka, memberikan ketenangan hati, dan memujinya di hadapan makhluk yang ada disisi-Nya.” (Sahih Muslim nr. 4868). 

Dan masih banyak lagi dalil mengenai berkumpul untuk berzikir, selengkapnya silahkan baca ke bab Kumpulan majlis zikir dibuku ini.

Hal yang harus pula kita ketahui bahwa kalimat “benci/ membenci” yang ditulis para ahli hadis adalah “Kariha/ yakrahu/ Karhan” yang berarti Makruh. Makruh mempunyai dua makna, makna bahasa dan makna syariah. Makna makruh secara bahasa adalah benci. Makna makruh dalam syariah, sesuatu hal yang bila dikerjakan tidak mendapat dosa, dan bila ditinggalkan mendapat pahala. Dalam istilah para ahli hadis, jika bicara tentang suatu hukum, tidak ada istilah kalimat benci, tidak suka, senang, hal itu tidak ada dalam fatwa hukum, namun yg ada adalah keputusan hukum haram, makruh, mubah, sunnah, atau wajib.

Dengan demikian, jelas sudah makna ucapan imam Syafi’i itu, adalah hukumnya makruh. Kemakruhan ini, baru timbul jika dapat menimbulkan suasana hati keluarga mayat sebagai “memperbaharui kesedihan” atau kemungkinan timbul suasana hati yang tidak ikhlas akan ketetapan Allah Swt. terhadap mayat (meratap).

Adapun, hadis sahih dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali, ”Kami (yakni para sahabat semuanya), memandang/menganggap bahwa berkumpul di tempat keluarga mayat dan membuatkan makanan sesudah di kuburnya mayat, termasuk dari bagian meratap.”(HR. Imam Ibnu Majah [no 1612] ).

Hadis ini, adalah larangan Meratap yang dibenci didalam Agama, bukan larangan kumpulan Tahlil, yang didalamnya terdapat zikir dan doa kepada mayat, adapun soal membuat makanan dalam hadis ini sifatnya masih sangat umum.

Golongan pengingkar melarang tahlil mengutip pula jawaban seorang Imam ,Sayid Al-Bakr Ad-Dimyathi Asy-Syafi’i, terhadap pertanyaan yang diajukan kepadanya mengenai kebiasaan (‘urf) di suatu negeri, jika ada yang wafat, mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dari keluarga mayat. Keluarga mayat, karena merasa sangat malu, terpaksa menyediakan makanan yang banyak untuk mereka…, apakah mendapat pahala orang yang melarangnya?

“Jawaban Imam ini, terhadap apa yang telah ditanyakan, ,....نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.

“Iya.., apa yang dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayat dan menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya kaidah-kaidah agama dan mendorong Islam serta umat Islam” (Imam Sayid Al Bakr Ad Dimyathi Asy-Syafi’i, Ianatut Thalibin, 2/165. Mawqi’ Ya’sub).

Sebenarnya, perkataan imam ini adalah jawaban atas pertanyaan terhadap sikap pentakziyah yang menunggu disajikan makanan, sehingga keluarga mayat menyediakan makanan dengan terpaksa atau merasa terbebani, inilah yang tidak dibenci/ disenangi dan tidak dianjurkan oleh para ulama. Jawaban si Syeikh ini, tidak tepat untuk dijadikan dalil untuk mengharamkan majlis Tahlil. Karena keluarga mayat yang mengadakan tahlil atau mengundang tahlil, umumnya pada malam harinya atau malam selanjutnya, mereka telah mempersiapkan dan tidak merasa terbebani, karena mereka meniatkannya sebagai amal sedekah atau amal kebaikan atas nama ahli kubur. Untuk menetapkan hukum haram, haruslah di-ikuti dengan dalil dari Al-Quran maupun Hadis.

Begitu pula kalau jawaban si Syeikh ini dijadikan dalil sebagai pelarangan berkumpul dirumah mayat untuk pembacaan Tahlil/zikir, akan bertentangan dengan fatwa para pakar hadis, yang telah kami kemukakan, yaitu memberikan jamuan makan (pahalanya) untuk yang wafat selama tujuh hari. Wallahua’lam.

Silahkan baca uraian selanjutnya