Dalil kelompok pengingkar hadiah pahala bagi mayat

Dalil kelompok pengingkar hadiah pahala bagi mayat  

Orang-orang yang mengingkari dan menganggap senjata ampuh terhadap kelompok mazhab Syafi’i dengan ucapan mereka: “Imam Syafi’i sendiri toh mengatakan bahwa pahala bacaan Al-Quran tidak akan sampai kepada mayat, walaupun didoakan kepada Allah agar disampaikan….?”

Menanggapi pertanyaan diatas perlu diketahui bahwa Imam Syafi’i tidak pernah mengatakan amalan tersebut sebagai bid’ah atau melarang apalagi mencela orang-orang yang mengamalkan- nya. Beliau jelas mengetahui bahwa para tokoh ulama Mazhab Hanafi, Maliki dan Imam Ahmad bin Hanbal sendiri berpendapat, pahala bacaan itu sampai kepada mayat. Kalau Imam Syafi’i sampai mengecam apalagi menuduh sebagai amalan bid’ah,  sama saja beliau menuduh para imam tiga mazhab sebagai ahli bid’ah yang akan masuk neraka. Harus dibedakan juga antara pendapat mazhab Syafi’i dan pendapat Imam Syafi’i. Tidak semua hukum yang berlaku dalam mazhab Syafi’i sependapat dengan pendapat Imam Syafi’i sendiri, karena terdapat kemungkinan dan kebolehan untuk mentahqiq/meluruskan kembali pendapat sang Imam ini.

Begitu pula, tidak terdapat ucapan Imam Syafi’i yang mengatakan, pendapat yang sudah beliau kemukakan harus diamalkan dan tidak boleh diganggu gugat oleh pengikut-pengikut beliau sesudahnya. Justru beliau sendiri mengatakan, ‘Jika kamu dapatkan di dalam kitabku sesuatu yang menyalahi sunnah Rasulallah Saw. maka ambillah sunnah Rasulallah Saw. dan tinggalkan ucapanku.’

Ucapan ini, walaupun merupakan ketawadhuan, namun dengan penuh pertimbangan dan semangat kehati-hatian telah dilaksanakan oleh para ulama pengikut beliau. Jadi tidak benar, kalau dikatakan bahwa para ulama Syafi’iyah mengikuti saja secara membabi buta ucapan imam Syafi’i, karena kalau itu dilakukan berarti menentang perintah Imam Syafi'i sendiri.

Ada beberapa masalah yang sudah diputuskan oleh Imam Syafi’i, tetapi dengan pertimbangan-pertimbangan yang teliti ditahqiq kembali oleh para ulama mazhab Syafi’i belakangan dan hasil pentahqiqkan mereka itulah yang berlaku dan diamalkan didalam mazhab Syafi’i. Contoh diantara masalah-masalah tersebut: 

  • Hukum shalat idul fithri dan idul Adha ,menurut imam Syafi’i, wajib atas orang-orang yang berkewajiban menghadiri shalat Jum’at. Beliau mengatakan, didalam Al-Mukhtasar, “Barang- siapa wajib atasnya menghadiri jum’at, maka wajib atasnya menghadiri idul fithri dan idul adha”.

Pendapat beliau ini, oleh para sahabat Syafi’i dibawa kepada pengertian yang tidak seperti dhohirnya, karena menimbulkan hukum kewajiban (fardhu a’in) atas sholat dua hari raya tersebut, dan ini menyalahi ijmak kaum muslimin. Oleh karena itu, beberapa tokoh mazhab Syafi’i seperti Abu Ishak dan Al-Istakhri memberi komentar sebagai berikut: Menurut Abu Ishak, ucapan imam Syafi’i itu ialah: “Barangsiapa dituntut shalat jum’at secara wajib, maka dia dituntut shalat ‘id secara sunnah”.

Adapun, menurut Al-Istakhri, makna ucapan imam Syafi'i, “Barangsiapa dituntut shalat jum’at secara fardhu, maka dia dituntut shalat id secara (fardhu) kifayah”. Dan ternyata, yang terpakai dalam mazhab Syafi’i adalah, hukum sholat dua hari raya itu bukan wajib, melainkan sunnah muakkadah.

Dalam bacaan ayat Al-Quran, imam Syafi’i mempunyai dua fatwa, yang pertama,  beliau mengatakan pahala bacaan bisa sampai kepada mayat, yang kedua, mengatakan bahwa pahala bacaan ayat suci tidak bisa dihadiahkan. Tetapi, fatwa yang kedua ,walaupun masyhur, tetap fatwa yang lemah/dho’if, yang tidak terpakai dalam mazhab Syafi’i. Bahkan, imam Syafi’i sendiri berkata, pembacaan Al-Quran disisi kubur sangat baik, sebagaimana yang diriwayatkan Imam Nawawi berikut ini;

   قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمهُ اللَّه: ويُسْتَحَبُّ أنْ يُقرَأَ عِنْدَهُ شيءٌ

   مِنَ القُرآنِ، وَإن خَتَمُوا القُرآن عِنْدهُ كانَ حَسناً

“Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, ‘disunnahkan agar membaca sesuatu dari Al-Quran disisi kuburnya, dan apabila mereka mengkhatamkan Al-Quran disisi kuburnya, maka itu bagus’” (Riyadlush Salihin [1/295] lil-Imam an-Nawawi; Dalilul Falihin [6/426] li-Imam Ibnu ‘Allan; al-Hawi al-Kabir fi Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26] lil-Imam al-Mawardi dan lainnya. Imam Syafi’i juga menyukai pembacaan Al-Quran disisi kubur.

        قال الشافعى : وأحب لو قرئ عند القبر ودعى للميت

Imam Syafi’i berkata; “aku menyukai sendainya dibacakan (Al-Quran) disisi kubur dan berdoa untuk mayat. (Ma’rifatus Sunani wal Atsar [7743] lil-Imam al-Muhaddis al-Baihaqi).

 

Berikut, fatwa para ulama mengenai masalah ini: 

  • Imam Nawawi ,seorang ulama mazhab Syafi’i ini, dalam Syarah muslim mengatakan, ‘Adapun bacaan Al-Quran maka yang masyhur dalam mazhab Syafi’i tidaklah sampai pahalanya kalau dihadiahkan kepada mayat, tetapi sebagian sahabat-sahabatnya berfatwa pahala bacaan sampai kepada mayat’ (Sahih Muslim jilid 1 hal.90).
  • Dalam kitab yang sama Imam Nawawi berkata, ‘Adapun yang dikabarkan oleh Qadhi Abu Hasan Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Hawi, bahwa sebagian ahli berpendapat mayat tidak akan menerima apa-apa lagi sesudah wafatnya, itu adalah mazhab yang salah dan jelas kebatilannya, karena berlawanan dengan nash-nash kitabullah, sunnah dan ijmak umat. Pendapat ini, tidak layak untuk diperhatikan.”
  • Imam Nawawi, dalam Syahrul Muhadzib mengatakan, ‘Disunnahkan bagi orang yang berziarah kekuburan membaca beberapa ayat Al-Quran dan berdoa untuk  penghuni kubur’. Imam Nawawi menyimpulkan, membaca Al-Quran bagi arwah orang-orang yag telah wafat dilakukan juga oleh kaum Salaf (terdahulu).
  • Imam Nawawi, mengutip penegasan Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad bin Taimiyah (Ibnu Taimiyah) sebagai berikut, “Barangsiapa berkeyakinan bahwa seorang hanya dapat memperoleh pahala dari amal perbuatannya sendiri, dia menyimpang dari  ijmak para ulama dan dilihat dari berbagai sudut pandang keyakinan demikian itu tidak dapat di benarkan”.
  • Begitu pula, dalam kitab Al-Adzkar halaman 140, Imam Nawawi mengatakan, “Dalam hal sampainya bacaan Al-Quran para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur dari Mazhab Syafi’i dan sekelompok ulama bahwa pahalanya tidak sampai. Namun, Ahmad bin Hanbal beserta sekelompok ulama dan juga sekelompok para sahabat Syafi’i berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka, yang lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa, ‘Ya Allah sampaikanlah pahala ayat yang aku baca ini kepada si fulan…’”
  • Dalam kitab Al-Majmu’jilid 15/522; ”Berkata Ibnu Nahwi dalam syarah Minhaj, ‘Dalam mazhab Syafi’i menurut qaul yang masyhur, pahala bacaan tidak sampai. Tetapi, menurut qaul yang mukhtar/terpilih sampai, apabila dimohonkan kepada Allah agar disampaikan pahala bacaan tersebut. Dan seharusnya memantapkan pendapat ini, karena dia adalah doa. Maka, jika boleh berdoa untuk mayat dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh si pendoa, maka kebolehan berdoa dengan sesuatu yang dimiliki oleh si penulis adalah lebih utama’”. 
  • Dalam kitab Fathul Wahabkarangan Syeikh Zakaria al-Anshari jilid II/19: Walaupun, sekiranya imam Syafi’i mengatakan tidak sampai pahalanya, tetapi beliau tetap mengakui adanya segi positif bacaan Al-Quran terhadap mayat. Hal ini karena terbukti ,seperti yang kita kemukakan, beliau (imam Syafi'i) menyukai diamalkannya hal tersebut.
  • Dalam kitab Tuhfahjilid VII/71, imam Ibnu Hajar Al-Haitami mengatakan, “Imam Syafi’i dan ashab menashkan,  sunnah membaca ayat-ayat Al-Quran yang mudah disamping mayat dan berdoa sesudahnya, karena doa disitu lebih bisa diharapkan pengabulannya dan karena mayat akan mendapatkan berkah bacaan Al-Quran seperti halnya orang yang hadir”.
  • Dalam kitab Ar-Ruh13, Ibnul Qayyim menyebutkan,  “Berkata Hasan bin Saleh Az-Za’farani, ‘Aku pernah bertanya kepada imam Syafi’i tentang membaca Al-Quran disamping kubur’. Beliau menjawab: Tidak mengapa…’”.
  • Dalam kitab Fathul Muin bab wasiat, “Tentang pahala bacaan Al-Quran, kebanyakan dari para Imam mazhab kita (mazhab Syafi’i) berfatwa bahwa pahala bacaannya sampai. Begitu juga fatwa yang mu’tamad dari Imam Subki (seorang ulama syafi’í yang terkenal) dan lain-lain.” Kemudian dalam Fathul Muin menyimpulkan, “Fatwa Imam Syafi’i yang mengatakan ,pahala bacaan tidak sampai, ialah kalau bacaan itu tidak dilakukan di hadapan mayat, tidak diniatkan untuk mayat atau ia niatkan tetapi, tidak dimintakan (didoakan) kepada Tuhan untuk menyampaikannya.”
  • Kitab I’anat at-Thalibin , sebuah kitab fikih yang dipakai di Indonesia, jilid 3 halaman 221, “Perkataan tidak sampai pahala bacaan kepada mayat adalah pendapat yang dha’if/ lemah. Sebagian sahabat kita berfatwa pahalanya sampai.” Demikian pula dalam kitab Bujairimi Minhaj jilid 3 hal.286, “Perkataan ‘tidak sampai pahala bacaan’ adalah dha’if. Sedangkan perkataan ‘Dan sebagian ashab Syafi’i mengatakan, ‘sampai’ adalah mu’tamad (terpegang).” 

 

Dengan demikian, memahami pernyataan Imam Syafi’i itu mengandung pengertian; “Jika Al-Quran tidak dibaca dihadapan mayat dan tidak pula meniatkan pahala bacaan itu untuknya, tidak sampai pahalanya”. 

Kelompok pengingkar menyebutkan dalil lagi untuk menolak hadiah pahala, sebuah hadis riwayat Imam Muslim, dari Abu Hurairah r.a, 

“Apabila seorang manusia wafat, putuslah amalnya, kecuali tiga hal: Sedekah jariyah (terus menerus berjalan), ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang mendoakannya”. Selanjut-nya mereka berkata: Kata-kata ingata’a amaluhu (putus amalnya) pada hadis tersebut, menunjukkan bahwa amalan-amalan apapun kecuali yang tiga itu, tidak akan sampai pahalanya kepada mayat!

Pikiran seperti itu adalah tidak tepat,  yang dimaksud hadis tersebut sangat jelas, tiap mayat telah selesai dan putus amalnya, karena ia tidak diwajibkan lagi untuk beramal. Tetapi,ini bukan berarti putus pengambilan manfaat dari amalan orang yang masih hidup untuknya. Begitu juga, tidak ada keterangan dalam hadis tersebut, si mayat tidak dapat menerima syafa’at, hadiah bantuan doa dan sebagainya dari orang lain, selain dari anaknya yang saleh.

Nabi Saw. mencontohkan doa anak yang saleh, karena dialah yang bakal selalu ingat dan berdoa untuk orang tuanya, dimana orang-orang lain telah melupakannya. Dari anak saleh ini, si mayat sudah pasti dan selalu (kontinu) menerima syafa’at darinya. Adapun, anak yang tidak saleh, tidak selalu ingat dan  berdoa untuk orangtuanya. Dengan demikian, hadis ini tidak akan berlawanan/ berbenturan maknanya dengan hadis-hadis lain yang menerangkan akan sampainya pahala amalan orang yang masih hidup kepada simayat. Begitu juga, amal jariah dan ilmu yang bermanfaat,  selama dua hal ini masih diamalkan oleh manusia yang masih hidup, maka si mayat selalu (kontinu) menerima juga syafa’at darinya.

Banyak hadis Nabi Saw. yang menyebutkan amalan-amalan orang yang hidup ,selain doa dari anaknya, bermanfaat bagi si mayat. Disamping yang telah kami kemukakan, juga doa kaum muslimin pada sholat jenazah, pelunasan hutang oleh Abi Qatadah untuk seorang mayat, doa kaum muslimin sesama muslimin ,baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, sebagaimana firman Allah Swt dalam surah Al-Hasyr [59]:10.

Dalam syarah Thahawiyah halaman 456 disebutkan:  ‘Dalam hadis tersebut, tidak dikatakan ingata’a intifa’uhu (terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat), tetapi, di sebutkan ingata’a amaluhu (terputus amalnya). Adapun, amalan orang lain itu, milik orang yang mengamalkannya, jika dia menghadiahkan- nya kepada si mayat, akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi, yang sampai itu adalah pahala orang yang mengamalkan, bukan pahala amal si mayat itu. Berikut, beberapa fatwa para pakar Islam:

  • Dalam Al-Majmujilid 15/522  ImamNawawi berkata ‘telah  ijmak ulama, sedekah itu dapat terjadi untuk mayat, dan sampai pahalanya, beliau tidak mengaitkan bahwa sedekah itu harus dari seorang anak’.
  • Hal yang serupa, diungkapkan oleh Syaikh Bakri Syatha Dimyati dalam kitab I’anatut Thalibin jilid 3/218, ‘Dan, sedekah untuk mayat, dapat memberi manfaat kepadanya baik sedekah itu dari ahli warisnya  maupun dari yang selainnya’.
  • Begitu pula, hadis dari Anas bin Malik r.a. mengenai hadiah pahala Qurban,“Ali k.w. berkorban dengan dua ekor kambing kibas. Yang satu (pahalanya), untuk Nabi Muhamad Saw., yang kedua (pahalanya), untuk eliau sendiri. Ditanyakan lah hal itu kepadanya (Ali k.w.) dan beliau menjawab, ‘Nabi Saw. memerintahkan saya untuk melakukan hal demikian, saya selalu melakukan dan tidak meninggalkannya‘”.(HR SahihTurmudzi jilid VI hal. 219).  
  • Aisyah r.a. mengatakan, Rasulallah Saw. menyuruh di datangkan seekor kibas untuk di korbankan. Setelah di datangkan, beliau Saw. berdoa,

               بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ اُمَّةِ مُحَمَّدٍ ثُمَّ ضَحَّى بِهِ        

Artinya: “Dengan nama Allah. Ya, Allah terimalah (pahala korban ini) dari Muhamad, keluarga Muhamad dan dari umat Muhamad. Kemudian (Nabi Saw) menyembelihnya.” (HR.Sahih Muslim  jilid XIII hal.122).

  • Dalam kitab Bariqatul Muhamadiyahjilid II, hal.99 cet. Mustafa Babil Halabi, pengarangnya memberi komentar tentang hadis terakhir diatas, sebagai berikut, “Nabi Muhamad memberikan pahalanya kepada umat beliau. Ini berarti, pelajaran dari Nabi bahwa amalan orang lain bisa memberi manfaat kepada orang lain. Mengikut ajaran dan petunjuk Nabi ini, berpegang dengan tali yang teguh’.
  • Begitu pula, hadis yang serupa diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud dan Turmudzi dari Jabir r.a. yang menerangkan bahwa ia pernah shalat  'Iedul Adha bersama Rasulallah Saw., setelah selesai shalat beliau diberikan seekor domba lalu beliau menyembelihnya seraya mengucapkan:  “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah, kurban ini untukku dan untuk umatku yang belum melakukan qurban”.

Komentar Imam Nawawi dalam syarah Muslim jilid 8/187, ‘Diperoleh dalil dari hadis ini, seseorang boleh berkorban untuk dirinya dan untuk segenap keluarganya, serta menyatukan mereka bersama dirinya dalam hal pahala. Inilah, mazhab kita dan mazhab jumhur’.

 

Kelompok Pengingkar, menyebutkan dalil lagi,firman Allah Swt:  “Tidaklah ada bagi seseorang itu kecuali apa yang dia usahakan”. (QS. An-Najm [53]:39). Mereka mengatakan, ayat ini jelas bahwa manusia tidak akan mendapat pahala dari amal orang lain bagaimanapun juga. Orang yang berfatwa bahwa menghadiahkan pahala itu boleh dan sampai kepada mayat, termasuk orang yang bodoh dan tidak mengerti agama!

Sebenarnya ayat itu, menerangkan hukum yang terjadi pada syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, bukan hukum dalam syariat Nabi Muhamad Saw.. Pangkal ayat ini, “Atau belumkah dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab Nabi Musa dan kitab Nabi Ibrahim yang memenuhi ke wajibannya, bahwa tiada memikul seseorang akan dosa orang lain, dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain yang diusahakannya”

Seorang ahli tafsir Khazin dalam kitab Tafsir-nya jilid VI halaman 223 menerangkan ayat ini, “Ayat itu untuk Kaum Ibrahim dan Musa. Adapun, bagi umat ini (umat Islam),mereka bisa mendapat pahala dari usahanya dan dari usaha orang lain.”

Dalam ayat ini, Allah Swt. tidak mengatakan, orang yang telah wafat  tidak dapat mengambil manfaat kecuali dari usahanya sendiri. Agar kita tidak terperosok dalam penafsiran yang salah tentang ayat tersebut, ada baiknya kita lihat pendapat beberapa ulama berikut ini:

  • Dalam kitab Syarah Thahawiyah 455 diterangkan dua jawaban untuk ayat tersebut, garis besarnya antara lain: Manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun akan memperoleh banyak kawan dan sahabat, menikahi istri dan melahirkan anak, melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan menyebabkan orang-orang cinta serta suka padanya. Manusia yang banyak sahabat dan kawan yang cinta padanya, bila wafat akan memperoleh manfaat dari doa para sahabat dan kawan-kawannya tersebut (misalnya, ketika shalat jenazah, ziarah kuburnya dan sebagainya—pen.). Dalam satu penjelasan Allah Swt. menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh manfaat dengan doa serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka, jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu. (Dengan demikian pahala ketaatan yang dihadiahkan kepadanya oleh kaum mukiminin adalah sebenarnya bagian dari usahanya sendiri).

Ayat Al-Quran, tidak menafikan adanya manfaat untuk seseorang disebabkan usaha orang lain. Ayat Al-Quran hanya menafikan kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain. Dua perkara ini, jelas berbeda. Allah Swt. berfirman, “orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang dia usahakan sendiri.” Adapun, usaha orang lain, adalah milik orang yang mengusahakannya. Jika dia mau, dia boleh memberikannya kepada orang lain atau boleh menetapkan- nya untuk dirinya sendiri. Jadi, pada kata lil-insan pada ayat itu, adalah lil-istihqaq yakni menunjukkan arti ‘milik‘. Inilah dua jawaban yang dipilih oleh pengarang kitab Syarah Thahawiyah.

  • Ibnu Abbas r.a dalam menafsirkan ayat tersebut, mengatakan: 

          هَذَا مَنْسُوْخُ الحُكْمِ فِي هَذِهِ الشَّرِيْعَةِ بِقَوْلِهِ تَعَالَى اَلْحَقُنَابِهِم ذُرِّيَّتَهُمْ فَاُدْخِل الأَبْنَاءُ الجَنَّةَ بِصَلاَحِ الآبَاءِ 

“Ayat ini telah di-naskh (dikesampingkan) hukumnya dalam syari’at kita dengan firman Allah Ta’ala; ‘Kami kumpulkan bersama mereka anak keturunan mereka’, maka anak-anak (yang beriman) dimasukkan ke surga berkat perbuatan baik orang tua mereka”. (Tafsir Khazin jilid 4/223). Firman Allah Swt. yang dimaksud oleh Ibnu Abbas sebagai naskh (pengenyampingan) surah An-Najm [53]:39  adalah surah At-Thur [52]:21:  “Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka Kami hubungkan anak cucu mereka itu…sampai akhir ayat.

  • Al-Jalalain (yaitu Jalaluddin Al-Hamali dan Jalaluddin As-Sayuthi) dalam tafsirnya mengenai ayat An-Najm:39 antara lain mengatakan, “Yang dimaksud dengan kalimat ‘apa yang telah diusahakan’ (maa sa’aa) pada ayat tersebut, hal-hal yang berupa kebajikan. (Dengan demikian) Manusia tidak memperoleh suatu apa dari hal-hal yang bukan kebajikan”.

Sebagai uraian terhadap tafsir Al-Jalalain ini, Syeikh Sulaiman bin Umar Al-Ajili–terkenal dengan nama Al-Jamal– menerangkan, ayat tersebut merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya, yaitu ayat An-Najm:38  yang menegaskan, ‘Seseorang yang berdosa tidak memikul dosa orang lain’. Al-Jamal mengatakan, karena dosa orang lain tidak menjadi beban orang yang tidak melakukan perbuatan salah.

Lebih jauh, Al-Jamal menerangkan penafsiran ayat An-Najm:39 itu, harus dikaitkan dengan ayat At-Thur:21, yaitu firman Allah: ‘Dan orang-orang  yang beriman, …sampai akhir ayat’.Selain itu, penafsiran ayat An-Najm:39 harus dihubungkan pula dengan hadis-hadis Nabi Saw., antara lain hadis yang mengatakan: ‘Apabila seorang anak Adam wafat, putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara; Ilmu bermanfaat, sedekah jariyah dan anak saleh yang berdoa untuknya (orang tuanya)’..”. 

Sebagai dalil, ia mengemukakan ayat At-Thur:21 itu bersifat pemberitaan dari Allah Swt.. Semua ayat, yang bersifat pemberitaan tidak terkena naskh (tidak mansukh). Ibnu Abbas mengatakan, ayat An-Najm [53]:39 pada hakikatnya semakna dengan hadis, “Apabila seorang anak Adam wafat, putuslah semua amalnya kecuali tiga perkara…. anak saleh.yang berdoa untuknya (orangtua). Jika dipikirkan secara mendalam, penyebab anak saleh berdoa untuk orang tuanya, sesungguhnya itu merupakan hasil amal kebajikan orang tua yang mengasuhnya dengan baik sejak kecil. Jadi, berarti orangtua memetik hasil usahanya sendiri. Selanjutnya ia mengatakan, kebajikan atau amal saleh yang dilakukan oleh seseorang, dapat mendatangkan manfaat atau pahala bagi orang lain. Hal ini, dibenarkan oleh hadis-hadis sahih yang menerangkan, para Nabi dan orang-orang saleh atas izin Allah Swt. dapat memberi pertolongan (syafa’at) kepada orang lain. Barangsiapa yang memikirkan dan merenungkan nash-nash Al-Quran dan hadis mengenai persoalan itu, ia akan menemukan banyak pengertian tentang kenyataan itu. Oleh karena itu, tidaklah semestinya kalau ayat An-Najm [53]:39 ditafsirkan terlepas dari kaitan ayat-ayat lain, dan hadis-hadis Nabi Saw. (termasuk hadis tentang pahala haji, sedekah, hutang dan lain-lain–pen.). Sesuatu yang kelihatan nya bersifat umum, ternyata mengandung banyak kekhususan.

  • Dalam Nailul Authar jilid 4/102 disebutkan, kata-kata “tidak ada bagi seseorang itu...”  maksudnya adalah, tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), seseorang bisa mendapatkan sesuatu yang tidak dia usahakan.
  • Ibnu Taimiyah, dalam kitab Al-Futuhat al-Ilahiyah halaman 235-237, menguraikan keterangan secara rinci tentang amalan orang hidup yang bermanfaat bagi orang yang telah wafat, antara lain;        a. Kisah dua anak yatim dari orangtua yang saleh, sebagaimana termaktub surah Al-Kahfi [18]:82. Itu pun, sepenuhnya merupakan manfaat yang di peroleh dari orang lain, bukan dari amal kebajikan dua anak yatim itu sendiri.                                                                                                                  b. Rasulallah Saw. menangguhkan shalat jenazah bagi orang yang wafat dalam keadaan berhutang, hingga hutangnya dilunasi oleh orang lain. Seperti yang dilakukan oleh Qatadah r.a. dan Ali bin Abi Thalib r.a.. Itu pun, merupakan kenyataan, manfaat dapat diperoleh dari amal kebajikan orang lain.     c. Zakat fitrah diwajibkan atas anak kecil (yang belum baligh) yang menjadi tanggungan orang tua atau walinya. Hal ini, merupakan ketentuan syariah yang mengandung pengertian, manfaat pahala yang diperoleh anak itu datang dari amal kebajikan orang lain yang menginfakkan zakat tersebut, bukan dari amal dan usaha anak itu sendiri. Sebagai catatan, wajib zakat dikenakan atas harta anak yang masih kecil (harta waris peninggalan orangtuanya) atau atas harta orang yang sakit ingatan. Semua ini, menunjukkan mereka dapat memperoleh pahala dari zakat yang dikeluarkan dari hartanya, sekalipun mereka tidak mempunyai kesanggupan berpikir dan beramal. Mereka, memperoleh pahala dari zakat hartanya yang diatur dan dilakukan orang lain.
  • d Syafa’at Nabi Saw. akan diberikan di Padang Mahsyar kepada orang-orang yang menghadapi hisab, kepada calon penghuni surga untuk memasukkan mereka ke dalam surga, dan kepada para pelaku dosa besar utuk mengeluarkan mereka dari neraka. Ini berarti, seseorang mengambil manfaat atas usaha orang lain..                                                                        
  • e. Anak-anak orang mukmin (yang wafat dalam keimanan) akan masuk surga dengan amal bapak mereka (yang mukmin) dan ini juga berarti mengambil manfaat semata-mata dari amal orang lain (QS at-Thur [52]: 21—pen.).                                              
  • f. Orang yang duduk dengan ahli zikir akan diberi rahmat (ampunan) dengan berkah ahli zikir meskipun dia bukan termasuk ahli zikir dan duduknya pun bukan untuk berzikir melainkan untuk keperluan tertentu. Maka nyatalah bahwa orang itu telah mengambil manfaat dengan amalan orang lain. (HR. Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah–pen.).              
  • g. Shalat jenazah dan berdoa untuk mayat dalam shalat ini, adalah pemberian syafa’at untuk mayat dengan shalat tersebut. Ini juga mengambil manfaat dengan amalan orang lain yang masih hidup.     h. Allah Swt. berfirman pada Rasulallah Saw., “Tidaklah Allah akan mengazab/menyiksa  mereka sedangkan engkau masih ada di antara mereka.” “Kalaulah bukan karena laki-laki yang mukmin dan wanita-wanita yang mukmin.”.(Al-Fath [48]:25). “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia terhadap sebagian yang lain niscaya rusaklah bumi ini.” (Al-Baqarah [2]: 25). Dalam ayat-ayat ini, Allah Swt. mengangkat azab sebagian manusia dengan sebab manusia lain. Ini juga termasuk mengambil manfaat dengan amalan orang lain. Dan masih ada lagi  perinciaan Ibnu Taimiyah yang tidak kami cantumkan di sini.

 

  • Ibnu Taimiyah pernah ditanya juga tentang bacaan Al-Quran untuk mayat dan juga tentang tasbih, tahmid, tahlil dan takbir jika dihadiahkan kepada mayat, sampaikah pahalanya atau tidak? Beliau menjawab sebagaimana tersebut dalam kitab beliau Majmu Fatawa jilid 24 halaman 324: “Sampai kepada mayat pahala bacaan Al-Quran dari keluarganya. Dan tasbih, takbir serta seluruh zikir mereka kepada Allah Taala apabila mereka menghadiahkan pahalanya kepada mayat akan sampai pula kepadanya”.
  • Hadis tentang wasiat Ibnu Umar r.a. yang tertulis dalam Syarah Aqidah Thahawiyah halaman 458, dari Ibnu Umar ra., “Bahwasanya beliau berwasiat agar di atas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal dan akhir surah al-Baqarah.” Hadis ini, dijadikan pegangan oleh Muhamad bin Hasan dan Imam Ahmad bin Hanbal untuk menyetujui pendapat di atas. Padahal, Imam Ahmad sebelumnya termasuk orang yang mengingkari sampainya pahala amalan dari orang yang hidup pada orang yang telah wafat. Namun, setelah beliau mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat Ibnu Umar ini beliau pun mencabut pengingkarannya itu. (Mukhtashar Tazkirah Qurtubi 25).
  • Selain fatwa Imam Ahmad bin Hanbal, juga fatwa masalah tersebut dari para ulama dalam mazhab Hanafi, Maliki dan mazhab Syafi’i, antara lain; Muhamad bin Ahmad al-Marwazi dalam kitab Hujjatu Ahli Sunnah Wal-Jama’ah hal.15; Syaikh Ali bin Muhamad bin Abil Iz (Syarah Aqidah Thahawiyah hal.457); Dr. Ahmad Syarbasi (Yasalunaka  fid din wal-hayat 3/413); Ibnul Qayyim al-Jauziyah (Yasalunaka fid din wal-hayat jilid 1/442), Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ar-Ruh mengatakan, “Al-Khallal  dalam kitab nya Al-Jami: “Sewaktu membahas ‘Bacaan disamping kubur’; Al-Allamah Muhamad al-Arabi  (Majmu Tsalatsi Rasa’il); Imam Qurtubi (Tazkirah Al-Qurtubi 26), menyepakati mengenai sampainya pahala bacaan Al-Quran kepada si mayat. Bahkan, Imam Sya’bi meriwayatkan: ‘Orang-orang Anshar jika ada di antara mereka yang wafat, maka mereka berbondong-bondong kekuburnya sambil membaca Al-Quran disampingnya (kuburannya)’. Ucapan Syekh Sya’bi ini, dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ar-Ruh hal.13; Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa.
  • Dalam sebuah hadis dari Ibnu Abbas r.a, Rasulallah Saw. bersabda, “Tiada seorang muslim wafat, maka berdiri menyembahyangkannya empat puluh (40) orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, melainkan dapat dipastikan Allah menerima syafaat dan permintaan ampun mereka itu”. (HR. Muslim). Hadis yang serupa, disebutkan dalam kitab Sunan Abu Daud jilid III halaman 203. "Seseorang mayat yang disembahyangkan oleh sekumpulan umat islam yang jumlahnya 100 orang, bisa memberi syafa'at kepada mayat".(HR Muslim jilid VII hal.17). Hadis serupa diriwayatkan pula oleh Imam Turmudzi dalam shahihnya jilid 4 hal.247.
  • Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, Nabi Saw. bersabda, “Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca Al-Fatihah, Qul Huwallahu Ahad dan Alhakumut takatsur, lalu ia berdoa, ‘Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mukminin dan Mukminat penghuni kubur ini’, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafa’at) pada hari kiamat”.
  • Malik bin Hubairoh jika menyembahyangkan jenazah dan melihat orang-orangnya hanya sedikit, mereka dibagi tiga (3) baris, kemudian ia berkata, Rasulallah Saw. bersabda, ‘Siapa yang disembahyangkan oleh tiga barisan, maka telah dapat dipastikan’”. (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dalam shohihnya jilid IV hal.247). Maksud kata-kata ,dapat dipastikan, dalam hadis itu, pasti diampunkan mayatnya dan Allah akan menerima syafa’at dan permohonan mereka.
  • Hadis dari Abu Hurairah berkata: Beberapa hari tidak terlihat oleh Rasulallah Saw. tukang sapu masjid, beliau bertanya tentang orang itu. Dijawab, ‘Ia, telah wafat’. Nabi bersabda, ‘Mengapakah kamu tidak memberitahu padaku’? ‘Tunjukkan padaku kuburannya.’ Maka, orang-orang menunjukkan kepada Nabi Saw. kuburannya. Disitu Nabi shalat mayat (jenazah). Kemudian setelah shalat bersabda, ‘Sesungguhnya kubur-kubur ini tadi penuh kegelapan, dan Allah telah menerangi padanya dengan shalatku pada mereka’”.(HR. Bukhari dan Muslim). Wallahua'lam.
  • Silahkan baca uraian selanjutnya