Dalil ziarah Kubur

Ziarah kubur, talkin, tahlil dan majlis zikir adalah tema yang sangat dominan dipermasalahkan antara lain kaumwahabi-salafi dan pengikutnya. Utamanya, berkenaan dengan praktik pengurusan jenazah dan peringatan wafatnya (haul) seorang Muslim. Dengan tegas, mereka menyebutnya sebagai bid‘ah dhalalah dan menghukuminya sebagai haram. Bahkan, sampai juga pada vonis musyrik kepada siapa pun yang mengamalkan.  .

Riwayat-riwayat mengenai kesunnahan ziarah kubur, antara lain:

  • Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis dari Sulaiman bin Buraidah yang diterima dari bapaknya, bahwa Nabi Saw. bersada, كُنْتُ نَهَيْتُكُم عَنْ زِيَارَةِ القُبُورِ, فَزُورُوهَا, وَفِي  رِوَايَةٍ فَإنَّهَا تُذَكِّر بالآخرة,  ”Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur. Namun kini berziarahlah kalian!.” Dalam riwayat lain, “... Barang siapa yang ingin berziarah ke kubur, hendaknya berziarah, karena sesungguh nya (ziarah kubur) itu mengingatkan kepada akhirat” (HR.Muslim)

Hadis yang serupa diatas dari Buraidah r.a., Nabi Saw. bersabda, “Dahulu saya melarang kalian menziarahi kubur, sekarang telah di-izinkan dengan Muhamad untuk berziarah pada kubur ibunya, karena itu berziarahlah ke perkuburan, sebab hal itu dapat mengingatkan pada akhirat”. (HR. Muslim [jilid 2 hal.366 Kitab al-Jana’iz], Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’i, Ahmad).

  • Dalam kitab Ma‘rifatus Sunan wal Atsar jilid 3 hal. 203, Imam Syafi’i berkata, “Ziarah kubur hukumnya tidak apa-apa (boleh). Namun, sewaktu menziarahi kubur hendaknya tidak mengatakan hal-hal yang menyebabkan murka Allah”. 
  • Dalam kitabnya Al-Umm meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Rasulallah Saw. bersabda, “Saya pernah melarang kamu berziarah kubur maka berziarahlah padanya dan jangan kamu mengatakan ucapan yang mungkar [Hajaran]”. (Tartib Musnad Imam Syafi’i, pembahasan tentang shalat bab ke 23 ‘Shalat jenazah dan hukum-hukumnya’ hadis nr. 603 jilid 1 hal. 217).

Riwayat-riwayat diatas jelas, awal mulanya Nabi Saw. melarang ziarah kubur namun kemudian membolehkannya setelah turunnya pensyariatan (legalitas) ziarah kubur dari Allah Swt Zat Penentu hukum (Syari’ al-Muqaddas). Anjuran sunnah untuk berziarah itu berlaku baik untuk lelaki maupun wanita. Karena dalam hadis itu tidak disebutkan kekhususan hanya untuk kaum pria saja. 

  • Al-Hakim An-Naisaburi dalam kitab Mustadrak Ala as-Sahihain jilid 1 hal.377 menyatakan, “Ziarah kubur merupakan sunnah yang sangat ditekankan”.

Masalah ini, bisa diketemukan juga dalam kitab para ulama; Ibnu Hazm dalam kitab al-Mahalli jilid 5 hal. 160; Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin jilid 4 hal.531; Abdur- Rahman al-Jaziri dalam kitab al-Fikh alal Madzahibil Arba’ah jilid 1 hal.540 (dalam penutupan kajian ziarah kubur) dan lainnya. Atas dasar itulah Syaikh Manshur Ali Nashif dalam kitab at-Tajul Jami lil Ushul jilid 1 hal. 381 menyatakan  “Menurut mayoritas Ahlusunah dinyatakan bahwa ziarah kubur adalah sunnah”.

Selain riwayat diatas, ada pula hadis Nabi Saw. mengenai ziarah dan pemberian salam pada ahli kubur:

  • Hadis dari Ibnu Abbas: “Ketika Rasulallah Saw. melewati perkuburan di kota Madinah, beliau menghadapkan wajahnya pada mereka seraya mengucapkan, ‘Semoga salam sejahtera senantiasa tercurah atas kalian wahai penghuni perkuburan ini, semoga Allah berkenan memberi ampun bagi kami dan bagi kalian. Kalian telah mendahului kami dan kami akan menyusul kalian’”. (HR. Tirmidzi). Hadis dari Aisyah r.a.

:كَانَ النَّبِي .صَ. كُلَّمَا كَانَ لَيْلَتَهَا يَخْرُجُ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ إلَى الْبَقِيْعِ فَيَقُوْلُ:  السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ دَ ار قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ, وَاَتَاكُمْ مَا تُوْعَدُوْنَ غَدًا مُؤَجِّلُوْنَ, وَاِنَّا اِنْشَا ءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ اللهُمَّ اغْفِرْ ِلاَهْلِ بَقِيْعِ الْفَرْقَدْ (رواه المسلم)       

“Nabi Saw. pada tiap malam gilirannya, ketika tengah malam keluar ke kuburan Baqi’, lalu bersabda, ‘Selamat sejahtera pada kamu tempat kaum mukminin dan nanti pada waktu yang telah ditentukan kamu akan menemui apa yang dijanjikan. Dan insya Allah kami akan menyusulmu dibelakang. Ya Allah ampunkan bagi penduduk Baqi’ yang berbahagia ini’”.(HR. Muslim).

 

Begitu juga mengenai shalat jenazah, merupakan fardhu kifayah (kewajiban bila telah dilakukan oleh sebagian orang, gugur lah kewajiban seluruh muslimin). Hadis riwayat imam Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.:

 اَنَّ النَّبِيَّ .صَ. كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِِ الْمُتَوَفَّّى عَلَيْهِ الدَّيْنُ فَيَسْألُ هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِـهِ فَضْلا? فَاِنْ حُدَِّث اَنَّهُ تَرَكَ وَفَاءً صَلَّى, وَاِلاَّ قَاَل لِلْمُسْـلِمِيْنَ                 "صَلُّوْا عَلَى صَاحِبِكُمْ" (رواه البخاري و مسلم)                

“Ada seorang lelaki yang wafat dalam keadaan berhutang,. Nabi Saw. menanyakan, ‘apakah ia ada meninggalkan kelebihan buat membayar hutangnya’? Jika dikatakan ada meninggalkan harta untuk membayarnya maka beliau menyalatkannya. Jika tidak, beliau akan memerintahkan kaum muslimin; ‘Shalatkanlah teman sejawatmu’”

Shalat jenazah menurut ahli figih mempunyai delapan rukun, bila salah satu rukun tersebut tidak terpenuhi, ia dianggap kurang sempurna oleh syara’. Diantara rukun-rukun tersebut doa untuk si mayat.

Sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Abud Daud dan Baihaqi serta disahkan oleh Ibnu Hibban sebagai berikut;

 

 اِذَا صَلَّيْتُمْ عَلَى الْمَيِّتِ فَأَخْلِصُوْا لَهُ الدُّعَاء (رواه أيو داود والبيهقي وابن الحبّان وصححه)                                                        

“Jika kamu menyalatkan jenazah berdoalah untuknya dengan tulus ikhlas”. Dengan demikian doa itu bisa didapatkan dari seluruh umat muslimin baik yang masih hidup maupun telah wafat, tidak hanya doa dari anak saleh untuk kedua orang tuanya! (keterangan lebih lengkap silahkan baca uraian selanjutnya).