Haul ala Wahabi

Keterangan singkat Peringatan Haul

Sebenarnya dalil peringatan Haul (peringatan tahunan) para sholihin yang telah wafat ini, tidak perlu kami kutip disini, karena keterangan sebelumnya tentang ziarah kubur, tahlil dan sebagainya, telah mencakup juga keabsahan dari peringatan Haul ini. Kajian berikut, kami hanya akan tambahkan beberapa riwayat mengenai haul.

Dalam peringatan haul ini, para hadirin baca tahlil/ yasinan, berzikir kepada Allah Swt. kemudian diakhiri dengan berdoa kepada Allah Swt., agar pahala bacaan itu dihadiahkan kepada ruh orang saleh yang diperingati ini. Setelah selesai berzikir bersama, para ulama yang hadir akan mengumandangkan riwayat hidup orang wali/saleh ini, dan menyerukan pada para hadirin agar bisa mencontoh amal perbuatan para sholihin yang terpuji, dimasa hidupnya mereka.  

Diriwayatkan, Rasulallah Saw., setiap tahun selalu berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud. Sesampainya di Uhud, beliau mengucapkan salam, yang kalimatnya termaktub dalam Al-Quran surah Ar-Ra’d [13] ayat 24: “Keselamatan atasmu berkat kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”.

Para sahabat pun melakukan apa yang telah dilakukan Rasulallah Saw, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi dari Al-Wakidi, ‘Bahwa Nabi Saw.senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun. Dan sesampainya di sana beliau mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya, “Salamun ‘alaikum bima shabartum fani‘ma uqbad dar”.(QS Ar-Ra’d: 24).

Abu Bakar juga melakukan hal itu setiap tahun, kemudian Umar, lalu Usman. Fatimah juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdoa. Sa’ad bin Abi Waqash mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut, kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata, “Mengapa kalian tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salam kalian?” 

Dalam kitab Najhul Balaghah dan kitab Manaqib As-Sayidis Syuhada Hamzah r.a oleh Sayid Jakfar Al-Barzanji, dijelaskan bahwa riwayat itu menjadi sandaran hukum bagi orang-orang Madinah yang melakukan Ziarah Rajabiyah (ziarah tahunan setiap bulan Rajab) ke makam Sayidina Hamzah. Hal ini, ditradisikan oleh keluarga Syaikh Junaid al-Masra’i, yang pernah bermimpi bertemu dengan Sayidina Hamzah, yang menyuruhnya melakukan ziarah tersebut. 

Dalam Jala Azh-Zhalam Ala Aqidatil Awam disebutkan, “Ketahuilah, sangat dianjurkan bagi setiap muslim, yang menginginkan anugerah Allah dan kebaikan-kebaikannya untuk selalu menghadang barokah pemberian, makbulnya doa dan turunnya rahmat di hadapan para wali (waliyullah), pada majlis-majlis perkumpulan mereka, baik ketika masih hidup atau setelah wafatnya. Begitu pula, ketika berada di makamnya atau ketika berziarah menyebut keutamaannya atau membaca Manakib-ManakIbnya”.

Jika haul dinilai sebagai sebagai bid‘ah, itu sungguh merupakan bid‘ah mahmudah (bid‘ah yang terpuji) atau bid‘ah hasanah (bid‘ah yang baik). Semuanya, tidak bersebrangan dengan prinsip dan kaidah hukum syariat Islam. Tidak ada alasan, untuk menuduh penyelenggaraan haul itu bid‘ah dhalalah. Jadi, sesuatu yang menurut asalnya (pada dasarnya) halal, tidak boleh di haramkan kecuali atas dasar dalil yang benar dan jelas, serta sejalan dengan penegasan Allah dan Rasul-Nya tentang pengharamannya.

 

Haul ala Wahabi     

Kaum Wahabi-Salafi membid‘ahkan dan menyatakan bahwa peringatan haul para ulama atau para waliyullah sebagai sesuatu yang munkar. Mereka, memandang bahwa haul merupakan cara mengkultuskan makhluk. Akan tetapi, mereka pernah mengadakan haul untuk memperingati wafatnya Syaikh Muhamad Abdul Wahab dan Syaikh Utsaimin. Tokoh pertama adalah imam gerakan Wahabi, Yang kedua adalah penerusnya di zaman kontemporer. Mereka berargumen, haul untuk kedua tokoh ini sebagai boleh-boleh saja karena tidak diadakan tiap tahun! Darimana mereka mendapatkan dalil, suatu perbuatan yang diharam kan oleh mereka, akan menjadi halal hukumnya bila diamalkan tidak setiap tahun? Sungguh, alasan yang “aneh”.

Peringatan itu terjadi di Riyadh, Arab Saudi pada hari Sabtu,21-04-1400H s/d hari Kamis, 27-04-1400H, bertepatan dengan tanggal 08-03-1980 s/d tanggal 14-03-1980. Acara diselenggarakan dibawah kepanitiaan University Islam (ala za’mihi) Muhamad Ibnu Saud Al-Islamiyah. Perayaan itu mengambil slogan: “Perayaan menyambut Minggu Muhamad Abdul Wahab”. Majlis ini, dimeriahkan dengan kehadiran tokoh Wahabiyah, , Abdul Aziz Bin Baz, yang merangkap sebagai ketua umum bagi Pejabat Al-Buhuts Al-Ilmiyyah Wal-ifta’ wad-dakwah wal-irsyad (ala-za’mihim). Hadir pula Hasan bin Abdullah Ali Syaikh, Menteri Pengajian Tinggi Saudai Arabia.

Mereka, juga memperingati semacam haul untuk Syekh Utsaimin dengan nama ‘Haflah Takrim”. Haul’ al-Utsaimin mereka adakan pada bulan Januari 2010 di sebuah hotel di Kairo di bawah naungan Duta Besar Saudi di Kairo, Hisham Muhyiddin. Acara haul itu dibuka dengan pembacaan ayat-ayat Al-Quran, dilanjutkan sambutan-sambutan berisi pujian terhadap almarhum. Sambutan pertama disampaikan ketua Yayasan ar-Rusyd sekaligus Presiden Asosiasi Penerbit Saudi. Dalam sambutannya itu, ia memuji peran Syekh Utsaimin dalam penyebaran agama Islam. Sambutan selanjutnya disampaikan Abdullah, putra Utsaimin, kemudian Atase Kebudayaan Saudi Muhamad bin Abdul Aziz Al-Aqil.

Tokoh terakhir ini, belakangan banyak mengulas manakib Syekh al-Utsaimin dengan menjelaskan tahun lahir dan wafatnya. Dia berkata; “Perayaan ini adalah sedikit yang bisa kami persembahkan untuk mendiang Syekh Utsaimin.” Acara haul ditutup dengan saling tukar tanda kehormatan antara Yayasan ar-Rusyd, Yayasan Utsaimin, Atase Kebudayaan dan Deputi Menteri Kebudayaan dan Informasi. Di perayaan itu juga dideklarasikan sebuah syair:

               وَاللهِ  لَوْ وَضَعَ اْلأَناَمُ مَحَافِلاَ مَاوَفَتِ الشَّيْخَ اْلوَقُورَ حَقَّهُ

“Demi Allah, seandainya segenap manusia membuat banyak perayaan untuk Syaikh Usaimin, hal itu tidaklah mampu memenuhi hak beliau.”

Syair ini, secara telanjang menunjukkan kecenderungan “pengkultusan” kaum Wahabi-Salafi kepada Syaikh Usaimin. Syaikh Usaimin adalah, salah satu penerus Muhamad bin Abdul Wahab. Ia, adalah tokoh yang sangat gencar mengkritik keras praktik maulidan, tahlil dan shalawatan. Salah satu ucapannya yang terkenal, sebagaimana ia tuliskan dalam karyanya, al-Manahi al-Lafdziyah halaman 161: “Dan saya tidak mengetahui sampai detik ini bahwa Muhamad (baca:Nabi Muhamad Saw.) adalah makhluk Allah yang lebih utama dari segala makhluk apa pun secara mutlak.” Wallahu’alam.

Silahkan baca uraian selanjutnya