Memakai sandal di kuburan

Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum memakai sandal di pekuburan. Jumhur ulama berpendapat tidak ada salahnya berjalan di pekuburan dengan memakai terompah. Namun, ada  yang memakruhkan memakai terompah mewah bila tidak ada alasannya (banyak duri dll).

Hadis riwayat Imam Bukhori, Muslim, Abu Daud dan Nasai dari Anas bin Malik r.a. ;Nabi Saw. bersabda: “Seorang hamba bila  telah diletakkan dalam kuburnya dan teman-temannya telah berpaling, sesungguhnya ia (si mayit) mendengar bunyi terompah-terompah mereka”. Para ulama mengambil hadis ini, sebagai dalil dibolehkannya berjalan di kuburan memakai terompah. Karena tidak akan didengar oleh simayit bunyi terompah itu jika tidak dipakai!

Jureir bin Ibnu Hazm berkata, ‘Saya melihat Hasan dan Ibnu Sirin berjalan dipekuburan dengan memakai terompah’.

Imam Ahmad bin Hanbal r.a menganggap makruh memakai terompah Sibtitterompah mewahdipekuburan berdasarkan riwayat Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah dari Basyirbekas budak Nabi Sawyang berkata: “Rasulallah Saw. melihat seorang lelaki yang berjalan di pekuburan dengan berterompah, maka sabdanya; ‘Hai orang yang berterompah Sibtit, lemparkan terompahmu itu’!. Lelaki itu pun menoleh, setelah diketahui yang bersabda Rasulallah Saw. maka ditanggalkan terompahnya lalu dilemparkannya”. Selanjutnya, imam Ahmad mengatakan makruh jika tidak ada alasan. Bila ada alasan yang mengharuskan seseorang  memakai terompah (karena banyak duri atau najis dll.), lenyaplah hukum makruh itu !

Berkata Khathabi, “Tampaknya hal itu dimakruhkan karena menunjukkan kemewahan. Karena terompah Sibtit itu biasa dipakai oleh golongan kaya untuk bermewah-mewah. Selanjutnya  beliau berkata, ‘Maka Keinginan Nabi Saw. hendaklah memasuki pekuburan itu dengan sikap tawadhu’ (rendah diri) dan berpakaian seperti orang khusyu’ “.

Dengan adanya dalil-dalil diatas para pembaca bisa menilai sendiri apakah benar komentar golongan pengingkar yang mengharamkan orang yang pakai sandal di pekuburan? Hukum makruhnya saja masih belum mutlak! Wallahua'lam

Silahkan ikuti kajian berikutnya