Membangun masjid disisi kuburan

Membangun masjid disisi kuburan 

Ibnu Taimiyah–yang kemudian di-ikuti oleh kelompok Wahabi–dalam kitab al-Qaidah al-Jalilah halaman 22  antara lain, mengatakan, “Nabi melarang menjadikan kuburannya sebagai masjid, yaitu tidak memperbolehkan seseorang pada waktu-waktu shalat untuk mendatangi, shalat dan berdoa di sisi kuburannya, sekalipun maksudnya untuk beribadah kepada Allah. Karena dapat menjadi sarana perbuatan syirik. Boleh jadi, akan mengakibatkan seseorang melakukan doa dan shalat untuk ahli kubur dengan mengagungkan dan menghormatinya. Atas dasar itu, membangun masjid di sisi kuburan para waliyullah merupakan perbuatan haram. Walaupun, pembangunan masjid itu sendiri merupakan sesuatu yang ditekankan namun perbuatan seperti tadi dapat menjerumuskan seseorang ke dalam perilaku syirik maka hukumnya secara mutlak haram”. Berikut adalah dalil hadis-hadis Ibnu Taimiyah;   

  • Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani dikarenakan mereka telah menjadikan kubur para nabinya sebagai tempat ibadah”.(HR. Bukhari jilid 2 hal.111 dalam kitab al-Jana’iz,  hadis serupa dapat ditemukan dalam kitab Sunan an-Nasa’i jilid 2 hal. 871).
  • Sewaktu, Ummu Habibah dan Ummu Salamah menemui Rasulallah dan berbincang-bincang tentang tempat ibadah (gereja) yang pernah di lihatnya di Habasyah, lalu Rasulallah bersabda; “Mereka adalah, kaum yang setiap ada orang saleh dari mereka yang wafat, niscaya mereka akan membangun tempat ibadah diatasnya dan merekapun menghadapkan  wajahnya hanya ke situ. Mereka, di akhirat kelak tergolong makhluk yang buruk di sisi Allah”. (Sahih Muslim jilid 2 hal. 66 kitab al-Masajid).
  • Dari Jundab bin Abdullah al-Bajli yang mengatakan, “Aku mendengar lima hari sebelum Rasulallah wafat, beliau bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya sebelum kalian, terdapat kaum yang menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah. Namun, janganlah kalian melakukan semacam itu. Aku ingatkan hal itu pada kalian’”.(Sahih Muslim jilid 1 hal. 378). 
  • Diriwayatkan dari Nabi, beliau pernah bermunajat kepada Allah Swt. dengan mengatakan, “Ya Allah, jangan kau jadikan kuburku sebagai tempat penyembahan berhala. Allah melaknat kaum yang menjadikan kuburan para nabi sebagai tempat ibadah.”(Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 2 hal.246)  

 

Dengan dalil-dalil di atas, para pengikut Wahabi/Salafi mengejek, menghina dan mengatakan syirik terhadap pusara Walisongo atau para Sunan di Indonesia, yang kebanyakan di sisi makam mereka terdapat bangunan masjid.

Ada beberapa poin, yang harus diperhatikan dalam mengkritisi dalil kaum Pengingkar ini:

  • Hadis dari Ummu Salamah dan Ummu Habibah yang menjelaskan kaum Yahudi dan Nasrani menjadikan kubur orang saleh dari mereka sebagai tempat ibadah.  Dengan demikian, tujuan/niatkaum Yahudi dan Nasrani ialah menjadikan kuburan orang-orang saleh sekaligus sebagai kiblat (arah ibadah). Kepada kuburan itulah, mereka menghadapkan wajah mereka sewaktu bersujud. Hakekat perilaku inilah, yang dilarang dengan tegas oleh Rasulallah Muhamad Saw. Adapun, seorang muslim membangun masjid di sisi kuburan seorang waliyullah sekedar untuk mengambil berkah.
  • Al-Baidhawi dalam mensyarahkan hadis tadi menyatakan, “Hal itu karena, kaum Yahudi dan Nasrani selalu mengagungkan kubur para nabi dengan melakukan sujud dan menjadikannya sebagai kiblat (arah ibadah).Atas dasar inilah, akhirnya kaum muslimin dilarang untuk melakukan hal yang sama, karena merupakan perbuatan syirik yang nyata. Namun, jika masjid dibangun di sisi kuburan seorang hamba yang saleh dengan niat tabaruk (mencari berkah), maka pelarangan pada hadis tadi tidak dapat diterapkan padanya.” 
  • Hal serupa, juga dinyatakan oleh As-Sanadi dalam mensyarah kitab Sunan an-Nasa’i jilid 2 halaman 41, ia menyatakan, “Nabi melarang umatnya untuk melakukan perbuatan yang mirip prilaku Yahudi dan Nasrani dalam memperlakukan kuburan para nabi mereka, baik dengan menjadikannya sebagai tempat sujud dan tempat pengagungan, maupun arah kiblat tempat mereka menghadapkan wajahnya ke arahnya (kubur) sewaktu ibadah”. 
  • Sebagian hadis di atas, menyatakan larangan membangun masjid 'diataskuburan, bukan disisi (disamping) kuburan. Letak perbedaan redaksi inilah, yang kurang diperhatikan oleh kaum Wahabi dalam berdalil. 
  • Begitu pula, tidak jelas apakah pelarangan dalam hadis itu menjurus kepada hukum haram atau hanya sekedar makruh Hal itu, dikarenakan Imam Bukhari dalam sahihnya jilid 2 hal.111, mengumpulkan hadis-hadis itu dalam bab ‘apa yang dimakruhkan menjadikan masjid diatas kuburan’ (ma yukrahu min itikhadz al-Masajid alal Qubur). Ini meniscaya- kan, hal itu sekedar pelarangan yang bersifat makruh yang selayaknya dihindari, bukan mutlak haram.
  • Atas dasar itu, dalam kitab al-Maqalat as-Saniyah 427 disebutkan, Syeikh Abdullah Harawi dalam menjelaskan hadis di atas mengatakan, “Hadis tadi diperuntukkan bagi orang yang hendak melakukan ibadah di atas kuburan para nabi dengan niat untuk mengagungkan (menyembah) kubur mereka. Ini terjadi, jika posisi kuburan itu tampak (menonjol--pen.) dan terbuka. Jika tidak, maka melaksanakan shalat disitu tidak haram hukumnya”. 
  • Begitu pula, apa yang dinyatakan oleh salah seorang ulama Ahlusunah yang bermazhab Hanafi ,Abdul Ghani An-Nablusi, dalam kitab al-Hadiqah ast-Tsaniyahjilid 2 halaman 631; “Jika sebuah masjid di bangun di sisi kuburan (makam) orang saleh atau di samping kuburannya, yang hanya berfungsi untuk mengambil berkahnya saja, tanpa ada niatan untuk mengagungkan (menyembah)nya, hal itu tidak mengapa. Sebagaimana kuburan Ismail a.s. terletak di Hathim di dalam Masjidil Haram, dimana tempat ini adalah sebaik-baik tempat untuk melaksanakan shalat”.
  • Allamah Badruddin al-Hautsi pun menyatakan hal serupa dalam kitab Ziarah al-Qubur 28, “Arti dari menjadikan kuburan sebuah masjid adalah seseorang menjadikan kuburan sebagai kiblat (arah ibadah)dan untuknya di laksanakan peribadatan”. 
  • At-Thabrani dalam kitab al-Mu'jam al-Kabirjilid 3 hal. 204 menyatakan, di dalam masjid Khaif (di Mina dekat Makkah—) terdapat delapan puluh makam para nabi, padahal masjid itu telah ada sejak zaman salaf saleh. Lalu, mengapa para salaf saleh tetap mempertahankan berdiri tegaknya masjid tersebut? Jika itu, merupakan perbuatan syirik (haram), selayaknya sejak dari dulu telah dihancurkan oleh Rasulallah beserta para sahabat mulia beliau.  

Atas dasar ini, membangun masjid di sisi kuburan manusia mulia (para nabi atau wali) jika tidak untuk tujuan syirik, dibolehkan.

  • Abu Jundal, salah seorang sahabat mulia Rasulallah. Para Ahli sejarah menjelaskan peristiwa yang dialami oleh Abu Jundal dengan menyatakan, “Suatu saat, sepucuk surat Rasulallah sampai ke tangan Abu Jundal. Kala surat itu sampai, Abu Bashir (juga sahabat mulia Rasulallah yang menemani Abu Jundal .red) tengah mengalami sekarat. Beliau wafat, dalam posisi menggenggam surat Rasulallah. Kemudian Abu Jundal mengebumikan beliau (Abu Bashir–red) di tempat itu, dan membangun masjid di atasnya.” Kisah ini, dapat dilihat dalam karya Ibnu Asakir dalam kitab Tarikh Ibnu Asakir jilid 8 hal.334 atau kitab al-Isti’ab jilid 4 hal. 21-23 karya Ibnu Hajar.
  • Firman Allah, “Ketika orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata, ‘Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua)mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka.’ Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan diatasnya.’”  (QS. al-Kahfi [18]: 21)

Jelas sekali, mayoritas masyarakat ahli tauhid (monoteis) kala itu sepakat untuk membangun masjid di sisi makam Ashabul-Kahfi. Tentu, kelompok Pengingkar pun sepakat dengan kaum muslimin lainnya, Al-Quran bukan hanya sekedar kitab cerita yang hanya begitu saja menceritakan peristiwa-peristiwa menarik zaman dahulu tanpa memuat ajaran untuk dijadikan pedoman hidup kaum muslimin.

Para ulama tafsir Ahlusunah, tentang ayat Kahfi di atas berpendapat, para penguasa kala itu adalah orang-orang ahli tauhid kepada Allah Swt., bukan kaum musyrik penyembah kuburan (quburiyun). Hal ini, seperti yang dikemukakan oleh az-Zamakhsari dalam kitab Tafsir al-Kasyaf  jilid 2 hal.245; Fakhrurrazi dalam kitab Mafatihul Ghaib jilid 21 hal.105; Abu Hayyan al-Andalusi dalam kitab al-Bahrul Muhith dalam menjelaskan ayat 21 dari surah al-Kahfi tadi dan Abu Sa’ud dalam kitab Tafsir Abi Sa’ud jilid 5 hal. 215.

Jika kisah pembuatan masjid diatas makam Ashabul-Kahfi merupakan perbuatan syirik, pasti Allah Swt. menyindir dan mencela hal itu dalam lanjutan kisah tadi, karena syirik adalah perbuatan yang paling dibenci oleh Allah Swt.. Namun, terbukti Allah Swt. tidak melakukan teguran baik secara langsung maupun tidak langsung (sindiran). 

Di dalam Masjid Nabawi Madinah, terdapat kuburan manusia termulia Rasulallah Saw., juga kuburan Sayidina Abubakar dan Sayidina Umar bin Khattab [r.a]. Di masjid tersebut jutaan kaum muslimin shalat di samping, di belakang, di depan kuburan mulia ini. Kuburan ini–walaupun sekarang sekelilingnya diberi pagar besi–letaknya bukan di sisi  tetapi malah di dalam Masjid Nabawi. Wallahu a'lam.

Silahkan baca uraian selanjutnya