Zikir secara jahar setelah sholat fardhu

  • Syaikh Sulaiman bin Sahman An-Najdi Al-Hanbali–wafat th 1349H–dalam kitabnya Tahqiq Al-Kalam fi Masyri‘iyyati Al-Jahr Bi-al-Zikir ba’da As-Salam (Menegaskan pembicaraan mengenai di syariatkan menjahar zikir setelah mengucapkan salam) halaman 48, mengatakan, “Hadis sahih dari Nabi Muhamad Saw. menyebutkan, men-jahar zikir setelah mendirikan shalat fardhu itu tidak mengganggu orang lain. Justru pendapat yang menentang sunnah itulah yang mengganggu dan membingungkan umat Islam. Bahkan, itulah kebatilan yang paling batil dan kemungkaran yang sangat jelas karena bertentangan dengan nash. Pendapat seperti itu, merupakan penolakan tanpa ilmu dan argumentasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan”.

 Juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan kata-katanya yang berbunyi sebagai berikut :

  • Hadis dari Amar bin Dinar, dia berkata: “Aku dikabari oleh Abu Ma’bad–bekas budak Ibnu Abbas yang paling jujur–dari tuannya yakni Ibnu Abbas dimana beliau berkata;

  اَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ المَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ   رَسُوْلِ الله                                                                   

Sesungguhnya berzikir dengan mengeraskan suara ketika orang selesai melakukan shalat fardhu, terjadi dimasa Rasulallah Saw.’“. (HR. Bukhori dan Muslim).

  • Dalam riwayat lain diterangkan, Ibnu Abbas berkata: “Aku mengetahui selesainya shalat Rasulallah Saw. dengan adanya ucapan takbir beliau (yakni ketika berzikir)”. (HR Bukhori [2:324] dalam Al-Fath Al-Bari dan Imam Muslim [1: 410]).
  • Hadis yang serupa diriwayatkan juga oleh: Imam al-Hafidz Al-Maqdisi dalam kitabnya ‘Al-Umdah Fi Al-Ahkaam’  halaman 25; Imam Abd Wahab Asy-Sya'rani dalam kitabnya Kasyf al-Ghummah hal.110; Imam Al-Kasymiri dalam kitabnya Fathul Bari hal. 315; As-Sayid Muhamad Siddiq Hasan Khan dalam kitabnya Nuzul Al-Abrar hal.97; Imam Al-Baghawi dalam kitabnya Mashaabiih as-Sunnah 1/48 dan Imam as-Syaukani dalam Nail al-Autar.
  • Ibnu Hajr (Fath-Al-Bari 2:325) mengatakan, ‘Dalam hadis tersebut terkandung makna bolehnya mengeraskan zikir setelah menunaikan shalat’.
  • Imam Suyuti dalam kitab Natijt Al-Fikr fi Al-Jahr Bi Al Dzikr (Hasil pemikiran mengenai zikir dengan suara keras). Tulisan tersebut dimuat dan dicetak dalam kitab Imam Suyuti Al-Hawi Lil Fatawi. Imam Suyuti (Lihat Al-Hawi Lil Fatawi 1:393) mengatakan: “Bila kamu memperhatikan secara cermat hadis-hadis yang kami (Imam Suyuti) kemukakan, kamu akan memahami–dari keseluruhannya–bahwa menjahar zikir setelah sholat itu tidak di makruhkan sama sekali, justru ada isyarat untuk mensunnahkan baik isyarat tersebut secara terang-terangan atau secara tersirat saja”.
  • Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam kitab I’lam Al-Muqi’in [2:289] mengatakan: “Ada ketentuan atau ketetapan (taqir atau ikrar) nabi Muhamad Saw. terhadap para sahabatnya untuk mengangkat suara dalam zikir setelah mengucapkan salam (penutup sholat wajib). Sehingga orang diluar masjid mengetahui bahwa sholat telah selesai.dan tidak seorangpun yang mengingkari (perbuatan) mereka (para sahabat) itu”.
  • Demikian pula yang dikatakan oleh Ibn Hazm dalam Al-Mahali [1V:260] Mas’alatu Raf’I Ash-Shauwti Bi-At Takbir Itsra Kulli Shalatin Hasanun [Masalah mengangkat suara (jahar) dengan takbir setelah melakukan sholat (fardhu) itu adalah baik].
  • Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm berkata sebagai berikut, Aku memilih untuk imam dan makmum agar keduanya berzikir pada Allah sesudah salam dari shalat dan keduanya melakukan zikir secara lirih. Kecuali imam yang menginginkan para makmum mengetahui kalimat-kalimat zikirnya maka dia boleh melakukan jahar sampai dia yakin para makmum itu sudah mengetahuinya kemudian diapun berzikir secara sir lagi.”  

Dengan demikian, tidak diketemukan pernyataan Imam Syafi’i atau ulama mazhab Syafi’i yang melarang zikir secara jahar, apalagi sampai memutuskannya sebagai bid’ah dholalah.

 

Masih banyak dalil mengenai kebolehan zikir baik secara sir maupun jahar yang tidak tercantum dibuku ini, tetapi kami kira cukup sebagai bukti bahwa amalan para ulama ahlus sunnah itu bersandar pada nilai-nilai yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulallah Saw.. Nash-nash yang telah dikemukakan sebelumnya menunjukkan keutamaan kumpulan majlis zikir. Allah Swt. akan melimpahkan rahmat, ketenangan dan ridha-Nya pada para hadirin, termasuk disini orang yang tidak niat untuk berzikir. Majlis seperti itulah yang sering dicari dan dihadiri oleh para malaikat. Alangkah bahagianya bila kita sempat dan selalu kumpul bersama majlis zikir yang dihadiri oleh malaikat tersebut, sehingga doa yang dibaca ditempat majlis zikir tersebut lebih besar harapan untuk diterima oleh Allah Swt.. 

Kita sering bertanya-tanya: Kalau kaum Pengingkar mengikuti Sunnah Rasualllah Saw., mengapa Para Imam dimasjidil Haram Mekah dan Madinah atau dalam masjid lain di Arab Saudi tidak pernah menjaharkan suaranya waktu berzikir seusai sholat? Padahal cukup jelas riwayat-riwayat sahih dari para sahabat (tokoh para salaf) berzikir dengan jahar seusai sholat Fardhu!?  Ataukah golongan pengingkar ini tidak pernah menemukan riwayat-riwayat tersebut? Wallahua’lam.

 

Silahkan ikuti kajian berikutnya.