Al-Quran dan Hadis Memerintahkan Bertawasul

Al-Quran dan Hadis Memerintahkan Bertawasul

Mayoritas ulama ahlussunah wal jama’ah menyatakan,  tawasul, istighatsah dan tabaruk adalah hal yang legal. Tidak melanggar syariat. Bahkan, tidak sedikit ulama sunni memberikan fatwa kepada praktik itu semua dengan mustahab. Sesuatu yang disukai dan dianjurkan.

Imam Ibnu Idris as-Syafi’i menyatakan,  ‘Sesungguhnya aku telah bertabaruk dari Abu Hanifah (imam para mazhab Hanafi) dan mendatangi kuburannya setiap hari. Jika aku memiliki hajat, maka aku melakukan shalat dua rakaat dan lantas mendatangi kuburannya dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan doaku di sisi (kuburan)-nya. Maka, tidak lama kemudian, akan dikabulkan  (Lihat Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 hal.123)

As-Samhudi yang bermazhab Syafi’i menyatakan, “Terkadang orang bertawasul kepadanya (Nabi Saw.red) dengan meminta pertolongan yang berkaitan suatu perkara. Hal itu memberikan arti bahwa Rasulallah Saw. memiliki kemampuan untuk memenuhi permintaan dan memberikan syafa’atnya kepada Tuhannya. Maka hal itu kembali kepada permohonan doanya, walaupun terdapat perbedaan dari segi pengibaratannya. Kadangkala seseorang meminta; ‘aku memohon kepadamu (wahai Rasulallah) untuk dapat menemanimu di surga…’, tiada yang dikehendakinya melainkan bahwa Nabi Saw. menjadi sebab dan pemberi syafa’at”. (Lihat: Kitab Wafa’ al-Wafa’ bi Akhbar Daarul Mustafa karya as-Samhudi Jilid 2 hal. 1374)

Abu Ali al-Khalal, salah seorang ulama mazhab Hanbali pernah menyatakan: “Tiada perkara yang membuatku gundah kecuali aku pergi ke kuburan Musa bin Jakfar (keturunan Rasulallah Saw. yang kelima). Aku bertawasul kepadanya dan Allah memudahkan jalan bagiku atas apa yang kukehendaki” (Lihat, Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 hal.120).

As-Syaukani Az-Zaidi menyatakan akan legalitas tawasul dalam kitab karyanya yang berjudul ‘Tuhfatud Dzakirin’, “Dan bertawasul kepada Allah Swt. melalui para nabi dan manusia saleh”.(Lihat: Kitab Tuhfatud Dzakirin hal.37)

Firman Allah Swt. dalam surah Ali-Imran[3]:49, “Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): ‘Sesungguhnya aku (Nabi Isa a.s.) telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, Kemudian aku meniupnya, Maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang wafat dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman’ ”.

Ayat di atas menyebutkan, para pengikut Isa al-Masih bertawasul kepadanya untuk memenuhi hajat mereka; termasuk menghidupkan orang wafat, menyembuhkan yang berpenyakit sopak dan buta. Tentu, mereka bertawasul kepada nabi Allah tadi bukan karena mereka meyakini bahwa Isa al-Masih memiliki kekuatan dan kemampuan secara independent. Akan tetapi, mereka meyakini bahwa Isa al-Masih dapat melakukan semua itu (memenuhi berbagai hajat mereka) karena Nabi Isa as. memiliki ‘kedudukan khusus’ (jah/wajih) di sisi Allah. Praktik ini sama sekali tidak tergolong syirik.

Dalam surah Yusuf [12]:97, Allah Swt. berfirman, “Mereka berkata:Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)’ ”.

Jika kita teliti lebih saksama, dalam ayat ini, anak-anak Ya’qub a.s. tidak meminta pengampunan dari Ya’qub sendiri secara independent. Mereka, tetap melihat bahwa otoritas mutlak pengampunan hanya ada pada Allah Swt. Namun, mereka menjadikan ayah mereka—yang tergolong sebagai kekasih Ilahi (nabi), memiliki kedudukan khusus di sisi Allah, sebagai wasilah (sarana penghubung) permohonan pengampunan dosa kepada Allah Swt.. Dan ternyata, nabi Ya’qub a.s. pun tidak menyatakan hal itu sebagai perbuatan syirik. Ya’qub a.s. tidak memerintahkan anak-anaknya agar memohon langsung kepada Allah Swt.. Malah Nabi Ya’qub a.s. menjawab permohonan anak-anaknya tadi dengan ungkapan: “Ya’qub berkata: ‘Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang’ ”(QS Yusuf [12]: 98).

 

Dalam surah An-Nisa [4]: 64, Allah Swt. berfirman, “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhamad Saw.) lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasul (Muhamad Saw.) pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.

Ayat di atas juga menegaskan bahwa Muhamad Saw., sebagai makhluk Allah, memiliki kedudukan (jah/maqam/wajih) sangat tinggi di sisi Allah, sehingga diberi otoritas oleh Allah Swt. untuk menjadi perantara (wasilah) dalam meminta pertolongan (istighotsah) kepada Allah Swt. Seperti yang akan diuraikan selanjutnya, para sahabat Rasulallah Saw., kaum salaf saleh, menggunakan kesempatan emas tersebut untuk memohon ampun kepada Allah Swt..melalui perantara Rasulallah Saw..

Majoritas ahli tafsir, termasuk para ahli tafsir dari kaum Wahabi, setuju bahwa ayat An-Nisa [4]:64 itu diturunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan. Ayat ini turun sebagai respon atas keinginan para sahabat untuk bertaubat kepada Allah Swt.. Ditegaskan dalam ayat itu: Allah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung. Dia Swt. memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah Saw.,  kemudian memintakan ampun kepada Allah Swt. Rasulallah Saw. juga diminta untuk memintakan ampun buat mereka. Dengan demikian Rasulallah Saw. bisa dijuluki sebagai Pengampun dosa secara kiasan/majazi, sedangkan Allah Swt. sebagai Pengampun dosa yang hakiki/sebenarnya.

Allah memerintahkan sahabat untuk menyertakan Rasulallah Saw. dalam permohonan ampun mereka. Hanya dengan jalan itu mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Allah Yang Maha Penyayang.

Sekali lagi, firman Allah Swt. di atas memerintahkan para sahabat Nabi Saw. meminta tolong kepada Rasulallah Saw. untuk berdoa pada Allah Swt. Menjadikan pengampunan Rasulallah Saw. sebagai wasilah untuk memperoleh ampunan Allah Swt. atas kesalahan-kesalahan mereka. Mengapa para sahabat tidak langsung memohon pada Allah Swt.? Bila hal ini dilarang, maka tidak mungkin Allah Swt. memerintahkan pada hamba-Nya sesuatu yang tidak di-zinkan-Nya! Masih banyak lagi firman Allah Swt. senada, antara lain: QS Ali-Imran [3]:159;  QS An-Nisa [4]: 106, QS An-Nur [24]: 62;  QS Muhamad [47]: 19; QS Al-Mumtahanah [60]: 12; dan QS Al-Munafiqun [63]: 5.

Dalam surah An-Naml [27]:38-40, Allah Swt. berfirman, “Sulaiman berkata, 'Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.’ 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin berkata, 'Aku akan datangkan kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu, sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya’. Seseorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab berkata, 'Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.' Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak dihadapannya, ia pun berkata, 'lni termasuk kurnia Tuhanku' ".  

Firman Allah Swt. di atas menerangkan, Nabi Sulaiman a.s. ingin mendatangkan singgasana Ratu Balqis dari tempat yang sangat jauh dalam tempo singkat. Hal ini merupakan kejadian yang luar biasa, sehingga Nabi Sulaiman a.s. dengan pengetahuan yang cukup luas mengatakan bahwa hal ini tidak mungkin terjadi kecuali dengan kekuasaan Allah. Dan pada saat itu, Nabi Sulaiman as. tidak minta tolong langsung pada Allah Swt. Sulaiman a.s. malah meminta tolong kepada makhluk Allah Swt. untuk memindahkan singgasana Ratu Balqis tersebut. Ayat ini juga sebagai dalil yang menunjukkan bahwa meminta tolong pada makhluk tidak menafikan ketauhidan kita kepada Allah Swt., baik itu dilakukan secara gaib maupun secara alami. Syirik adalah urusan hati.

Jika Nabi Sulaiman a.s. meminta perkara gaib ini dari para pengikutnya, dan jika seorang laki-laki yang mempunyai sedikit ilmu dari al-Kitab mampu melaksanakan permintaan itu, tentu kita terlebih lagi boleh meminta kepada orang yang mempunyai seluruh ilmu al-Kitab, yaitu Rasulallah Saw. dan Ahlu-Baitnya.

Begitu pula, menurut para ahli tafsir yang mendatangkan singgasana ratu Balqis itu jelas bukan Nabi Sulaiman a.s. sendiri tetapi orang lain. Dalam ayat ini, jelas bahwa Nabi Sulaiman as. bertanya kepada umatnya. Dan salah satu dari umatnya yang mempunyai ilmu, sanggup mendatangkan singgasana itu dengan sekejap mata. Dengan demikian, seorang yang mempunyai ilmu ini bisa dijuluki juga sebagai ‘Penolong/Pemindah’ singgasana Ratu Balqis secara kiasan, sedangkan Penolong/Pemindah yang hakiki/sebenarnya ialah Allah Swt.

Dalam banyak hadis disebutkan, doa seorang hamba masih akan terhalang bila tanpa bertawasul dengan bershalawat pada Nabi Muhamad Saw.. Amirul Mukminin, Imam Ali bin Abi Thalib k.w. berkata, Rasulallah Saw. bersabda, “Setiap doa terhijab (tertutup) sampai  membaca shalawat pada Muhamad dan keluarganya”. (Ibnu Hajr, Al-Shawaiq, halaman 88). Atas dasar hadis ini, Imam Ali bin Abi Thalib k.w. berfatwa, ‘Setiap doa antara seorang hamba dengan Allah selalu di antarai dengan hijab (penghalang, tirai) sampai dia mengucapkan shalawat pada Nabi Saw.. Bila ia membaca shalawat, terbukalah hijab itu dan masuklah doa.’ (Kanzul Umal, I:173, Faidh Al-Qadir V: 19).

Disebutkan juga, Rasulallah Saw. pernah bersabda, “Barangsiapa melakukan shalat dan tidak membaca shalawat padaku dan keluarga (Rasulallah Saw.), shalat tersebut tidak diterima (batal)”.(Sunan Daruqutni:136). Mendengar sabda Nabi Saw. ini, para sahabat di antaranya Jabir Al-Anshari berkata,  “Sekiranya aku shalat dan di dalamnya aku tidak membaca shalawat pada Muhamad dan keluarga Muhamad aku yakin shalatku tidak di terima”. (Zhahir Al-‘Uqba: 19). Begitu juga Imam Syafi’i dalam sebagian bait syairnya mengatakan, “Wahai Ahli Bait (keluarga) Rasulallah, kecintaan kepadamu diwajibkan Allah dalam Al-Quran yang diturunkan, Cukuplah petunjuk kebesaranmu, Siapa yang tidak bershalawat (waktu shalat) padamu tidak diterima shalatnya....”.

Banyak hadis yang meriwayatkan agar doa dikabulkan oleh Allah Swt., sebaiknya didahului dengan bertahmid dan bershalawat. Begitu juga, banyak riwayat mengenai tata cara bershalawat kepada Rasulallah Saw. dan keluarganya serta manfaatnya shalawat itu. Tidak lain semua itu, termasuk tawasul/wasitah pada Rasulallah Saw. dan keluarganya.

 

Usman bin Hunaif meriwayatkan, “Sesungguhnya telah datang seorang lelaki yang tertimpa musibah (buta matanya) kepada Nabi Saw. Lelaki itu mengatakan kepada Rasulllah, ‘Berdoalah kepada Allah untukku agar Dia (Allah Swt) menyembuhkanku!’. Kemudian Rasulallah bersabda, ‘Jika engkau menghendaki, aku akan menundanya untukmu, dan itu lebih baik. Namun, jika engkau menghendaki, aku akan berdoa (untukmu)’. Kemudian dia (lelaki tadi) berkata, ‘Mohonlah kepada-Nya (untukku)!’ Rasulallah memerintah dia untuk mengambil air wudu, kemudian ia berwudu dengan baik, lantas melakukan shalat dua rakaat. Kemudian ia (lelaki tadi) membaca doa, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, dan aku datang menghampiri-Mu, demi Muhamad sebagai Nabi yang penuh rahmat. Ya Muhamad, sesungguhnya aku telah datang menghampiri-mu untuk menjumpai Tuhan-ku dan meminta hajat-ku ini agar terkabulkan. Ya Allah, jadikanlah dia sebagai pemberi syafa’at bagiku’. Usman bin Hunaif berkata, ‘Demi Allah, belum sempat kami berpisah, dan belum lama kami berbicara, sehingga laki-laki buta itu menemui kami dalam keadaan bisa melihat dan seolah-olah tidak pernah buta sebelumnya’ ”.

Riwayat di atas, termaktub dalam kitab-kitab hadis, antara lain: Imam At-Tirmidzi Sunan at-Tirmidzi, V: 531, hadis ke-3578; Imam an-Nasa’I, Sunan al-Kubra, VI: 169, hadis ke-10495; Imam Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I: 331 dan 441, hadis ke-1385; Imam Ahmad, Musnad Imam Ahmad, IV: 138, hadis ke-16789; Al-Hakim An-Naisaburi, Mustadrak as-Sahihain, I: 313; as-Suyuthi, al-Jami’ as-Shaghir, halaman 59.

Ibnu Taimiyah pun menyatakan kesahihan riwayat di atas. Syaikh Jakfar Subhani melakukan kajian tentang sanad hadis di atas ini di dalam bukunya yang berjudul Ma'a al-Wahabiy yinfi Khuthathihim wa 'Aqa'idihim. Dia berkata, “Tidak ada keraguan tentang keshahihan sanad hadis ini. Bahkan, ulama yang dipercaya oleh kalangan Wahabi yaitu Ibnu Taimiyah mengakui keshahihan sanad hadis ini, dengan mengatakan, 'Sesungguhnya yang dimaksud dengan nama Abu Jakfar yang terdapat di dalam sanad hadis ini adalah Abu Jakfar al-Khathmi. Dia seorang yang dapat dipercaya.”

Bahkan, Raffa'i–seorang penulis golongan Wahabi abad ini yang cenderung mendhaifkan/melemahkan hadis-hadis yang berkaitan dengan tawasul, kali ini ia mensahihkan hadis di atas. Raffa‘i dalam Al-Tawashshul ila Haqiqah at-Tawasul, menyatakan,

  • Tidak diragukan bahwa hadis ini sahih dan masyhur. Telah terbukti tanpa ada keraguan sedikit pun bahwa seorang yang buta dapat melihat kembali dengan perantaraan doa Rasulallah Saw..’

Hadis ini, telah diriwayatkan oleh Nasa'i, Baihaqi, Tirmidzi dan Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya. Zaini Dahlan, di dalam kitabnya Khulashah al-Kalam, menyebutkan hadis ini beserta dengan sanad-sanadnya yang sahih yang kesemua- nya berasal dari Bukhari di dalam Tarikh-nya, serta Ibnu Majah dan Hakim dalam Mustadrak mereka berdua. Jalaluddin as-Suyuthi juga menyebutkan hadis ini dalam kitabnya al-Jami'.

Walaupun Raffa‘i mengakui kesahihan hadis tawasul di atas, anehnya sebagian pengikut Wahabi menyatakan bahwa tawasul/ istighatsah semacam itu perbuatan sia-sia dan bertentangan dengan kedudukan Allah Yang Maha Mendengar dan Mengetahui. Mereka sering berkata:

“Kenapa kita harus berdoa melalui orang dengan alasan ia lebih dekat kedudukannya di sisi Allah dan doanya lebih didengar oleh-Nya? Bukankah Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui atas doa para hamba-Nya?”.

Dari riwayat yang telah kami kemukakan di atas, dapat kita ambil pelajaran mengenai bagaimana Nabi mengajarkan cara bertawasul. Kita juga dapat mengambil pelajaran bahwa bersumpah atas nama pribadi Nabi ‘Bi Muhamadin’ adalah hal yang diperbolehkan (legal menurut syariat Islam). Begitu juga dengan kedudukan (jah) nabi Muhamad Saw. yang tertera dalam kata ‘Nabiyurrahmah’. Jika tidak, maka sejak semula Nabi Saw. akan menegur lelaki tersebut. Jadi, tawasul lelaki tersebut melalui pribadi Muhamad–bukan hanya doa Nabi–yang sekaligus atas nama sebagai Nabi pembawa Rahmat yang merupakan kedudukan (jah) tinggi anugerah Ilahi merupakan hal legal menurut syariat Islam.

Diriwayatkan oleh ‘Aufa al-‘Aufa dari Abi Said al-Khudri, bahwa Rasulallah Saw. pernah menyatakan,

  • Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat (di masjid) maka hendaknya mengatakan, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu demi para Pemohon kepada-Mu. Dan aku memohon kepada-Mu, demi langkah kakiku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar untuk berbuat aniaya, sewenang-wenang, ingin pujian dan berbangga diri. Aku keluar untuk menjauhi murka-Mu dan mengharap ridha-Mu. Maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau jauhkan diriku dari api neraka. Dan hendaknya Engkau ampuni dosaku, karena tiada Zat yang dapat menghapus dosa melainkan diri-Mu’. Niscaya Allah akan menyambutnya dengan wajah-Nya kepadanya dan memberinya balasan sebanyak tujuh puluh ribu malaikat”. (Sunan Ibnu Majah, I: 256, hadis ke-778).

Dalam hadis di atas Rasulallah Saw. mengajarkan tentang bagaimana kita berdoa untuk menghapus dosa kita dengan menyebut (bersumpah dengan kata ‘demi’) diri (Zat) para peminta doa dari para manusia salehdengan ungkapan ‘Bi haqqi Sailin ‘alaika‘ (demi para pemohon kepada-Mu). Dengan begitu, Rasulallah Saw. membenarkan, bahkan mengajarkan bagaimana kita bertawasul kepada diri dan kedudukan para manusia salehkekasih Ilahi (wali Allah) untuk menjadikan mereka sebagai sarana penghubung antara kita dengan Allah.

 

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, ia mengatakan, “Ketika Fatimah binti Asad wafat, Rasulallah Saw. datang dan duduk di sisi kepalanya sembari bersabda: ‘Rahimakillah ya ummi ba’da ummi‘ (Allah merahmatimu wahai ibuku pasca ibu [kandung]-ku). Kemudian beliau Saw. menyebut  pujian terhadapnya, lantas mengafaninya dengan jubah beliau. Kemudian Rasulallah memanggil Usamah bin Zaid, Abu Ayub Al-Anshari, Umar bin Khatab dan seorang budak hitam untuk menggali kuburnya. Kemudian mereka menggali liang kuburnya. Sesampai di liang lahat, Rasulallah Saw. sendiri yang menggalinya dan mengeluarkan tanah lahat dengan menggunakan tangan beliau Saw.. Setelah selesai (menggali lahat), kemudian Rasulallah Saw. berbaring di situ sembari berkata: ‘Allah Yang menghidupkan dan mewafatkan. Dan Dia Yang selalu hidup, tiada pernah wafat. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad. Perluaskanlah jalan masuknya, demi Nabi-Mu dan para nabi sebelumku”. (Lihat, Kitab al-Wafa’ al-Wafa’).

Hadis yang serupa juga diriwayatkan At-Thabrani dalam Al-Kabir dan Al-Ausath. Rasulallah Saw. bertawasul pada dirinya sendiri dan para Nabi sebelum beliau Saw.. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadis dari Anas bin Malik, “Ketika Fatimah binti Asad istri Abu Thalib ,bunda Imam Ali bin Abi Thalib k.w. wafat, Rasulallah Saw. sendirilah yang menggali liang-lahad. Setelah itu (sebelum jenazah dimasukkan ke lahad) beliau masuk ke dalam lahad, kemudian berbaring seraya bersabda, ‘Allah yang menghidupkan dan mewafatkan, Dialah Allah yang Maha Hidup. Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu kepada ibuku—panggilan ‘ibu’, karena Rasulallah Saw. ketika masih kanak-kanak hidup di bawah asuhan Fathimah binti Asad. Lapangkanlah kuburnya dengan demi Nabi-Mu (yakni beliau Saw. sendiri) dan demi para Nabi sebelumku. Engkaulah, ya Allah Maha Pengasih dan Penyayang’. Beliau Saw. kemudian mengucapkan takbir empat kali. Setelah itu beliau Saw. bersama-sama Al-Abbas dan Abu Bakar memasukkan jenazah Fathimah binti Asad kedalam lahad”. (HR At-Thabrani dalam Al-Kabir Al-Ausath.)

Pada hadis di atas, jelas Rasulallah Saw. berdoa dan bertawasul kepada diri beliau Saw. sendiri, juga kepada para Nabi sebelum beliau Saw!

Dalam kitab Majma’uz-Zawaid, IX:257 disebut nama-nama perawi hadis tersebut, yaitu Ruh bin Shalah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim. Ada perawi yang dinilai lemah, tetapi pada umumnya adalah perawi hadis-hadis sahih. Adapun, para perawi yang disebut oleh At-Thabrani di dalam Al-Kabir Al-Ausath semuanya baik (jayid). Ibnu Hiban, Al-Hakim dan lain-lain yang membenarkan hadis dari Anas bin Malik tersebut.

Selain mereka, terdapat juga nama Ibnu Abi Syaibah yang meriwayatkan hadis itu secara berangkai dari Jabir. Ibnu Abdul Bir meriwayatkan hadis tersebut dari Ibnu Abbas dan Ad-Dailami meriwayatkannya dari Abu Nu’aim. Jadi hadis di atas in,i diriwayatkan dari sumber-sumber yang saling memperkuat kebenarannya. Atas dasar itu, Ibnu Taimiyah sendiri dalam kitabnya At-Tawasul wa al-Wasilah dengan mengutip pendapat para ulama Ahlusunah seperti Ibnu Abi ad-Dunya, al-Baihaqi, dan at-Thabrani, melegalkan tawasul sesuai dengan hadis-hadis yang ada.

Dengan demikian, baik Al-Quran maupun Sunnah amat menekankan kepada umat Muhamad Saw. untuk melaksanakan tawasul. Hal ini menunjukkan bahwa praktik tawasul tidak bertentangan dengan konsep kesempurnaan Ilahi. Di sini kita, akan sebutkan secara ringkas beberapa bentuk tawasul yang dianjurkan Al-Quran:

Silahkan baca uraian selanjutnya