Tawasul melalui Kedudukan dan Keagungan Hamba Saleh

Tawasul melalui Kedudukan dan Keagungan Hamba Saleh.

Manusia saleh yang dimaksud disini adalah sebagaimana apa yang dikemukakan oleh Rasulallah Saw. kepada Muadz bin Jabal r.a., Rasulallah bersabda, Wahai Muadz, apakah engkau mengetahui apakah hak Allah kepada hamba-Nya? Muadz menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’. Kemudian Rasulallah bersabda, ‘Sesungguhnya hak Allah kepada Hamba-Nya adalah hendaknya hamba-hamba-Nya itu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya terhadap apapun’. Agak beberapa lama, kembali Rasulallah bersabda, ‘Wahai Muadz’ Aku (Muadz) menjawab, ‘Ya, wahai Rasulallah’. Rasulallah bertanya, ‘Adakah engkau tahu, apakah hak seorang hamba ketika telah melakukan hal tadi?’. Aku menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’. Rasulallah Saw. bersabda, ‘Ia tiada akan mengazabnya’” (HR Sahih Muslim dengan syarh dari an-Nawawi, I: 230-232).

Hadis di atas jelas, maksud dari hamba yang saleh adalah setiap orang yang melakukan penghambaan penuh (ibadah) kepada Allah dan tidak melakukan penyekutuan terhadap Allah Swt.. Dikarenakan tawasul bukanlah tergolong syirik, para pelaku tawasul pun bisa masuk kategori orang saleh pula. Tentu jika ia melakukan peribadatan yang tulus dan tidak melakukan kesyirikan. Orang-orang saleh semacam itulah yang dinyatakan dalam Al-Quran sebagai pemancar cahaya Ilahi yang dengannya mereka hidup di tengah-tengah manusia:

“Dan apakah orang yang sudah wafat kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan” (QS Al-An’am [6]: 122).

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan dia mengampuni kamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Hadid [57]: 28).

Sebagaimana diketahui, fungsi dan kekhususan cahaya adalah, ia sendiri itu terang dan mampu menerangi obyek lain.  Begitu juga dengan manusia saleh yang mendapat otoritas pembawa pancaran Ilahi. Dengan demikian, tawasul itu bukan hanya sebatas berkaitan dengan doa para manusia kekasih Ilahi itu saja, bahkan pada pribadi para manusia kekasih Ilahi itu juga.

Dahulu, Rasulallah Saw. mengajarkan seseorang tentang tata cara memohon kepada Allah Swt. dengan menyeru Nabi untuk bertawasul kepadanya, dan meminta kepada Allah agar mengabulkan syafa’atnya (Nabi) dengan mengatakan,

“Wahai Muhamad, Wahai Rasulallah! Sesungguhnya aku bertawasul denganmu kepada Tuhanku dalam memenuhi hajatku agar dikabulkan untuk ku. Ya Allah, terimalah bantuannya padaku”.(Lihat, Majmu’atur Rasail wal Masail karya Ibnu Taimiyah, I:18).

Jelas sekali, yang dimaksud dengan lelaki di atas adalah sahabat yang sezaman dan pernah hidup bersama Rasulallah Saw. Sengaja kita ambil rujukan dari Ibnu Taimiyah agar pengikut sekte Wahabi memahami dengan baik apa sinyal dibalik tujuan kami menukil dari kitab syeikh mereka itu, agar mereka berpikir.

Kaum Pengingkar melarang dan mengafirkan orang bertawasul dengan pribadi yang telah wafat. Mereka dengan tegas melarang bertawasul dengan memanggil “Ya Muhamad!”  Imam kaum Wahabi, Muhamad Ibnu Abdul Wahab mengharamkan tawasul dengan cara ini dengan merujuk dari kitab at-Tawasul wa al-Wasilah oleh Ibnu Taimiyah. Padahal, di kitab lain karangan Ibnu Taimiyah yang berjudul  al-Kalim at-Thayyib terbitan al Maktab al Islami, Cet. Ke-5 tahun 1405 H/1985 menyarankan bagi orang-orang yang terkena penyakit semacam kelumpuhan (al-khadar) pada kaki, hendaklah mengucapkan: “Ya Muhamad…”. Dengan demikian, apa yang ditulis Ibnu Taimiyah dalam kitab at-Tawasul wa al-Wasilah berlawanan sendiri dengan apa yang dia tulis dalam kitabnya al-Kalim at-Thayyib.

As-Samhudi dalam kitab “Wafa’ al-Wafa’” (jilid 2 hal. 448) menyatakan, ”Dahulu, Ali bin Abi Thalib selalu duduk di depan serambi yang berhadapan dengan kuburan (Rasulallah, red). Di situ terdapat pintu Rasulallah yang di depannya terdapat jalan yang dipakai Nabi keluar dari rumah Aisyah untuk menuju Masjid (Raudhah). Di tempat itulah, terdapat tiang (pilar) tempat shalat penguasa (amir) Madinah. Ia (Ali bi Abi Thalib) duduk sambil menyandari tiang itu. Oleh karena itu, Al-Aqsyhari mengatakan, ‘Tiang tempat shalat Ali itu, hingga kini sangat disembunyikan dari para pengunjung tempat suci (Haram) agar para penguasa dapat (leluasa) duduk dan shalat di tempat itu, hingga hari ini’. Disebutkan, tempat itu disebut dengan ‘Tempat para Pemimpin’ (Majlis al-Qodaat) karena kemuliaan orang yang pernah duduk di situ (yaitu Ali bin Abi Thalib, red)”. Dalam kitab yang sama, as-Samhudi (pada jilid 2 hal.450) menukil dari Muslim bin Abi Maryam dan pribadi-pribadi lain yang menyatakan, “Pintu rumah Fatimah binti Nabi Saw. terletak di ruangan segi empat yang berada di sisi kubur. Sulaiman berkata, Muslim telah berkata kepadaku, ‘Jangan engkau lupa untuk mengerjakan shalat di tempat itu. Itu adalah pintu rumah Fatimah dimana Ali bin Abi Thalib selalu melewati- nya’ ”.

Ibnu Sa’ad dalam kitab at-Thabaqat al-Kubra (jilid 5 hal. 107) menukil sebuah riwayat, “Sewaktu Husain bin Ali bin Thalib meninggalkan Madinah untuk menuju Makkah, ia bertemu dengan Ibnu Muthi yang sedang menggali sumur. Ia berkata kepada Husein, ‘Aku telah menggali sumur ini, tetapi tidak kudapati air dalam ember sedikit pun. Jika engkau berkenan untuk mendoakan kami kepada Allah dengan berkah’. Husein berkata, ‘Berikan sedikit air yang kau punya!’ Kemudian diberikan kepadanya air, lalu ia meminumnya sebagian dan berkumur-kumur dengan air tadi kemudian mengembalikannya ke dalam sumur. Seketika itu, sumur menjadi memancarkan air dengan melimpah” .

Imam Syafi‘i pernah bertabaruk pada gamis Imam Ahmad bin Hanbal seperti termaktub dalam kitab Tarikh Dimasyqi, Rabi berkata, “Sesungguhnya Imam Syafi'i pergi ke Mesir bersamaku, lalu berkata kepadaku, ‘Wahai Rabi, ambil surat ini, dan serahkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, selanjutnya datanglah kepadaku dengan membawa jawabannya!’ Ketika memasuki kota Baghdad, kutemui Imam Ahmad sedang shalat subuh. Aku pun shalat di belakang beliau. Ketika beliau hendak beranjak dari mihrab, aku serahkan surat itu. ‘Ini surat dari saudaramu Imam Syafi'i di Mesir,’ kataku. ‘Kau telah membukanya?’ tanya Imam Ahmad. ‘Tidak, wahai Imam’.

Abu Abdullah (imam Ahmad) membuka dan membaca isi surat itu, kemudian kulihat beliau berlinang air mata. ‘Apa isi surat itu wahai Aba Abdullah (Imam Ahmad)?’ tanyaku. Dia (imam Ahmad) berkata, ‘Isinya menceritakan bahwa Imam Syafi‘i bermimpi bertemu dengan Rasulallah Saw’.. Beliau Saw. berkata, ‘Tulislah surat kepada Ahmad bin Hanbal dan sampaikan salamku kepadanya. Kabarkan padanya bahwa dia akan mendapatkan cobaan, yaitu dipaksa mengakui bahwa Al-Quran adalah makhluk,  janganlah diikuti. Allah akan meninggikan ilmunya hingga hari kiamat’. ‘Ini  suatu kabar gembira’, kataku. Lalu, beliau menuliskan surat balasan seraya memberikan padaku gamis yang melekat di kulitnya. Aku pun mengambil surat itu dan menyerahkannya kepada Imam Syafi‘i. ‘Apa yang diberikan Imam Ahmad padamu?’ tanya Imam Syafi’i. ‘Gamis yang melekat dengan kulit beliau,’ jawabku. ‘Kami tidak akan merisaukanmu, tapi basahi gamis ini dengan air, lalu berikan kepadaku air itu untuk bertabaruk dengannya,’ kata  Imam Syafi‘i.”

Umar bin Khatab pernah bertawasul kepada Ibnu Abbas ketika memohon kepada Allah untuk diturunkan hujan. Hal ini, termaktub dalam Sahih Bukhari dari riwayat Anas bin Malik, “Bahwasanya jika terjadi musim kering yang panjang, maka Umar bin Khattab memohon hujan kepada Allah dengan bertawasul dengan Abbas Ibnu Abdul Muthalib. Dalam doanya ia berkata; ‘Ya Allah, dulu kami senantiasa bertawasul kepada-Mu dengan Nabi Saw. dan Engkau memberi hujan kepada kami. Kini kami bertawasul kepada-Mu dengan paman Nabi kami, maka berilah hujan pada kami’. Anas berkata; ‘Maka Allah menurunkan hujan pada mereka’”.(Sahih Bukhari, II: 32, hadis ke-947 Bab Shalat Istisqa’)

Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu Syarh al-Muhadzdzab (jilid 5 hal. 68) menukil riwayat, bahwa Umar bin Khatab telah meminta doa hujan dengan bertawasul dan bertabaruk melalui Abbas (paman Rasulallah). Hal ini sebagaimana yang telah kita kemukakan sebelumnya dengan menyatakan, ‘Ya Allah, dahulu jika kami tidak mendapat hujan maka kami bertawasul kepada-Mu melalui Nabi kami, lantas engkau menganugerahkan hujan kepada kami. Dan kini, kami bertawasul kepada-Mu melalui paman Nabi-Mu, maka turunkanlah hujan bagi kami. Kemudian turunlah hujan’. Dalam kitab yang sama, disebutkan bahwa Muawiyah telah meminta hujan melalui Yazid bin al-Aswad dengan mengucapkan, “Ya Allah, kami telah meminta hujan melalui pribadi yang paling baik dan utama di antara kami (sahabat, red). ‘Ya Allah, kami meminta hujan melalui diri Yazid bin al-Aswad. Wahai Yazid, angkatlah kedua tanganmu kepada Allah’. Ia mengangkat kedua tangannya diikuti oleh segenap orang (yang berada disekitarnya). Maka, mereka dianugerahi hujan sebelum orang-orang kembali ke rumah masing-masing”.

Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari (Syarah Sahih al-Bukhari,II:399) dalam menjelaskan peristiwa permintaan hujan oleh Umar bin Khatab melalui Abbas, menyatakan, “Dapat diambil suatu pelajaran bahwa dimustahabkan (sunah) untuk memohon hujan melalui pemilik keutamaan dan kebajikan, juga ahlul bait (keluarga) Nabi”.

Ibnu Atsir dalam kitab Usud al-Ghabah (Jilid:3 hal.167) dalam menjelaskan tentang pribadi (tarjamah) Abbas bin Abdul Muthalib pada nomor ke-2797 menyatakan,  “Sewaktu orang-orang dianugerahi hujan, mereka berebut untuk menyentuhi Abbas dan mengatakan 'Selamat atasmu wahai Penurun hujan untuk Haramain'”.

Imam Syaukani dalam Ad-Durr An-Nadhid Fi Ikhlashi Kalimati Tauhid  menyatakan:

  • Tidak seorang pun dari para sahabat Nabi yang mengingkari atau tidak membenarkan prakarsa Khalifah Umar r.a. untuk bertawasul dengan paman Nabi Saw. yaitu Abbas r.a.. Saya (Imam Syaukani) berpendapat, tawasul diperkenankan tidak hanya khusus pada pribadi Rasulallah Saw. sebagaimana yang dikatakan oleh Syeikh Izuddin. Mengenai soal itu ada dua alasan (dalil/hujjah). 

Pertama, telah disepakati bulat oleh para sahabat Nabi Saw, yaitu sebagaimana dikatakan dalam hadis Umar bin Khatab.

Kedua, tawasul pada para ahlul-fadhl (pribadi-pribadi utama dan mulia) dan para ahli ilmu (para ulama), pada hakekatnya adalah tawasul pada amal kebajikan mereka. Sebab, tidak mungkin dapat menjadi ahlul-fadhl dan ulama, kalau mereka itu tidak cukup tinggi amal kebajikannya. Jadi, kalau orang berdoa kepada Allah Swt. dengan mengucap, ‘Ya Allah, aku mohon kepada-Mu dengan bertawasul kepada orang alim yang bernama Fulan….’, itu telah menunjukkan pengakuan- nya tentang kedalaman ilmu yang ada pada orang alim yang dijadikan wasilah.

Hal ini dapat dipastikan kebenarannya berdasarkan sebuah hadis dalam Sahih Bukhori dan Sahih Muslim tentang hikayat tiga orang dalam gua yang terhambat keluar karena longsornya batu besar hingga menutup rapat mulut gua. Mereka kemudian berdoa dan masing-masing bertawasul dengan amal kebajikannya sendiri-sendiri. Pada akhirnya, Allah mengabulkan doa mereka dan terangkatlah batu besar yang menyumbat mulut gua.

Walaupun riwayat di atas menunjukkan bahwa Umar bin Khatab r.a. bertawasul kepada pribadi yang masih hidup, akan tetapi hal itu tidak berarti secara otomatis bahwa bertawasul kepada yang telah wafat adalah haram.  Tidak ada dalil, baik dari firman Ilahi atau Sunnah Rasulallah Saw. yang menyatakan keharaman bertawasul pada orang yang telah wafat. Sebenarnya, tawasul pada pribadi seseorang baik yang masih hidup maupun telah wafat itu pokoknya adalah sama, yaitu berdoa kepada Allah Swt. 

Dari riwayat-riwayat di atas dapat kita ambil pelajaran untuk menjawab anggapan orang-orang seperti al-Jadi dalam kitabnya yang berjudul At-Tabaruk Anwa’uhu wa Ahkamuhu halaman 261 dan as-Syatibi dalam al-I’tisham jilid 2 halaman 9, di mana keduanya sepakat bahwa, ‘Tabaruk hanya diperbolehkan kepada diri dan peninggalan Rasulallah saja’. Alasan mereka, Rasulallah tidak pernah memerintah- kannya. Selain itu, alasan lainnya adalah, ‘Tidak ada riwayat yang menjelaskan legalitas perilaku semacam ini’ (tabaruk kepada pribadi selain Nabi). Bahkan, as-Syatibi menyatakan,  ‘Barangsiapa yang melakukan hal itu maka tergolong bid‘ah, sebagaimana tidak diperbolehkannya mengawini perempuan lebih dari empat’.

Telah jelas riwayat-riwayat dibuku ini dan masih banyak yang tidak tercantum disini, yang membuktikan bahwa para sahabat mengambil berkah kepada sesama sahabat yang dianggap lebih utama dari sisi ketakwaan. Entahlah, mengapa al-Jadi dan as-Syatibi tidak pernah menemukan riwayat-riwayat semacam itu? Lagi pula, jika bertabaruk kepada sahabat adalah bid‘ah, mengapa sahabat Umar telah bertabaruk kepada Abbas? Apakah khalifah Umar telah melakukan bid‘ah, karena melakukan satu perbuatan yang Rasulallah Saw. tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya? Beranikah menvonis sahabat seperti Umar bin Khatab (khalifah kedua) sebagai ahli bid‘ah?Wallahua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya