Cara-cara memperingati hari-hari Allah 

 Allah Swt. berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), ‘Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah  mereka kepada hari-hari Allah”. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. ” (QS  Ibrahim [14] : 5).

Yang dimaksud dengan hari-hari Allah pada ayat itu,  peristiwa yang telah terjadi pada kaum-kaum dahulu serta nikmat dan siksa yang dialami mereka. Umat nabi Musa disuruh oleh Allah Swt. untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang telah lalu. Baik itu yang berupa nikmat atau berupa azab dari Allah Swt.. Dengan adanya peringatan maulid itu, kita selalu di-ingatkan kembali kepada junjungan kita Rasulallah Saw. sebagai penghulu para Nabi dan Rasul!

Tidak ada ketentuan syariat, cara mengingat atau memperingati hari-hari Allah yang harus diselenggarakan pada hari-hari tertentu. Juga tidak ditetapkan peringatan itu harus dilakukan secara berjamaah ataupun secara individual. Begitu juga halnya dengan peringatan maulid. Ia dapat diadakan setiap waktu, boleh secara individu atau berjamaah. Sudah tentu, waktu yang paling tepat ialah pada hari turunnya nikmat Allah. Dalam hal memperingati maulid Nabi Saw. waktu yang paling utama adalah pada bulan Rabiul-awal (bulan kelahiran Rasulallah Saw.).

Akan tetapi, mengingat besarnya manfaat peringatan maulid ini dan mengingat pula bahwa dengan cara berjamaah lebih utama dan lebih banyak barakah, peringatan maulid dapat diadakan pada setiap kesempatan yang baik secara berjamaah. Misalnya, pada hari-hari mengkhitankan anak-anak, pada waktu hari pernikahan, pindah rumah, pelaksanaan nazar yang baik, beroleh rezeki yang banyak dan lain sebagainya.

Mengenai pilihan waktu untuk memperingati hari-hari Allah, terdapat hadis sahih yang dapat dijadikan dalil. Hadis ini, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang puasa pada hari Asyura. Puasa sunnah Asyura dianjurkan oleh Rasulallah Saw. setelah beliau Saw.melihat kaum Yahudi di Madinah puasa pada hari 10 Muharram. Beliau Saw. bertanya kepada kaum Yahudi ‘mengapa mereka ini berpuasa pada hari itu’? Mereka menjawab, ‘Pada hari ini, Allah Swt. menyelamatkan Nabi mereka dan menenggelamkan musuh mereka’. Kemudian Nabi Saw. menjawab,                     نَحْنُ أوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ

‘Kami lebih berhak memperingati Musa  dari pada kalian’!

 

Terdapat pula, hadis lainnya yang diketengahkan Ibnu Taimiyah dari Ahmad bin Hanbal, “Aku mendengar berita, pada suatu hari sebelum Rasulallah Saw. tiba (di suatu tempat di Madinah) di antara para sahabatnya ada yang berkata, ‘Alangkah baiknya jika kita menemukan suatu hari dimana kita dapat berkumpul untuk memperingati nikmat Allah yang terlimpah kepada kita’. Yang lain menyahut, ‘Hari Sabtu!’ Orang yang lain lagi menjawab, ‘Jangan (karena) berbarengan dengan harinya kaum Yahudi’! Terdengar suara yang mengusulkan, ‘Hari Minggu saja!’ Dijawab oleh yang lain, ‘Jangan (karena) berbarengan dengan harinya kaum Nasrani!’ Kemudian menyusul yang lain lagi berkata, ‘Kalau begitu, hari Arubah saja!’ Dahulu mereka, menamakan hari Jum’at hari Arubah. Mereka, lalu pergi berkumpul di rumah Abu Amamah Sa’ad bin Zararah. Dipotonglah seekor kambing cukup untuk di makan bersama”.(Ibnu Taimiyah, Iqtidaus Shirathil Mustaqim)

Selain dua hadis tersebut di atas, terdapat hadis lainnya dari Imam Bukhari dan Muslim mengenai nyanyian yang didendangkan oleh sekelompok muslimin, untuk memperingati hari bersejarah. Peristiwanya terjadi dikala Rasulallah Saw. masih hidup di tengah umatnya. Nyanyian itu justru didendangkan orang ditempat kediaman Rasulallah Saw. berkaitan dengan datangnya hari raya Idul Akbar.

Peringatan demikian itu, dilakukan juga oleh sekelompok Muslim berkaitan dengan hari bersejarah lainnya, yakni hari Biats yaitu hari kemenangan suku-suku Arab melawan Persia, sebelum Islam. Pada hari itu, Abu Bakar dan Umar berusaha mencegah sejumlah wanita berkumpul dan menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan oleh orang-orang Anshar. Melihat Abu Bakar dan Umar berbuat demikian itu, Rasulallah Saw. menegur dua orang sahabatnya ini. Beliau Saw. minta agar kedua-duanya membiarkan mereka merayakan hari besar dengan cara-cara yang sudah biasa dipandang baik menurut tradisi dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Hadis yang berasal dari Ummul mukminin Aisyah r.a. itu lengkapnya sebagai berikut: “Pada suatu hari Abu Bakar As-Shiddiq ra datang kepada Aisyah ra (putrinya). Pada saat itu, dikediaman Aisyah r.a. ada dua orang wanita Anshar sedang menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan oleh kaum Anshar pada hari Bi’ats. Siti Aisyah r.a. memberitahu ayahnya, bahwa dua orang wanita yang sedang menyanyi itu bukan biduanita. Abu Bakar menjawab, ‘Apakah seruling setan dibiarkan dalam tempat kediaman Rasulallah?’ Peristiwa tersebut terjadi pada hari raya. Menanggapi pernyataan Abu Bakar r.a., Rasulallah Saw. berkata,‘Hai Abu Bakar, masing-masing kaum mempunyai hari raya, dan sekarang ini hari raya kita’“.(Sahih Bukhari, I:170 dan Sahih Muslim III: 210).

Yang dimaksud dalam hadis kata hari raya kita ialah, hari terlimpahnya nikmat Allah Swt. kepada kita. Karena itu, kita boleh merayakannya. Berdasarkan riwayat yang berasal dari Ummul Mukminin Aisyah r.a. itu imam Bukhari dan Muslim memberitakan, “di dalam tempat kediaman Nabi Saw. pada saat itu terdapat dua orang wanita sedang bermain rebana (gendang)”.

Dalam Sahih Bukhari, I:119 diriwayatkan sebuah hadis dari Aisyah r.a. yang berkata, “Pada suatu hari Rasulallah Saw. datang kepadaku. Saat itu, di rumah terdapat dua orang wanita sedang menyanyikan lagu-lagu Bi’ats. Beliau Saw. lalu berbaring sambil memalingkan wajah. Tak lama kemudian, datanglah Abu Bakar (ayah Aisyah). Ia marah kepadaku seraya berkata, ‘Apakah seruling setan dibiarkan berada di rumah Rasulallah? Mendengar itu, Rasulallah Saw. segera menemui ayahku lalu berkata, ‘Biarkan sajalah mereka’! Setelah Abu Bakar tidak memperhatikan lagi keberadaan dua orang wanita itu, mereka lalu keluar meninggalkan tempat”.

Riwayat lain, memberitakan, “Pada hari perayaan Muna, Abu Bakar r.a. datang kepada Siti Aisyah r.a. Ketika itu, di rumah istri Nabi Saw. terdapat dua orang wanita sedang menyanyi sambil menabuh/memukul rebana. Saat itu, Rasulallah Saw. sedang menutup kepala dengan burdahnya. Oleh Abu Bakar dua orang wanita itu dihardik. Mendengar itu, Rasulallah Saw. sambil menanggalkan burdah dari kepalanya berkata, ‘Hai Abu Bakar, biarkan mereka, hari ini hari raya!’”

Siti Aisyah r.a. juga menceritakan pengalamannya sendiri, “Aku teringat kepada Rasulallah Saw. di saat beliau Saw. sedang menutupi diriku dengan bajunya (yang dimaksud adalah hijab/kain penyekat), agar aku dapat menyaksikan beberapa orang Habasyah (Ethiopia) sedang bermain hirab (tombak pendek) di dalam masjid Nabawi (di Madinah). Beliau Saw. merentang bajunya di depanku agar aku dapat melihat mereka sedang bermain. Setelah itu, aku pergi meninggalkan tempat. Mereka, mengira diriku seorang budak perempuan Arab yang masih muda usia dan gemar bersenang-senang”.

Dalam Sahih Muslim ketika itu Aisyah r.a. mengatakan, “Aku melihat Rasulallah Saw. berdiri di depan pintu kamarku, pada saat beberapa orang Habasyah sedang bermain hirab didalam masjid Nabawi. Kemudian beliau Saw. merentangkan baju di depanku agar aku dapat melihat mereka bermain. Setelah itu aku pergi. Mereka, mengira diriku seorang budak perempuan Arab yang masih muda usia dan gemar bersenang-senang”.

 

Dalam hadis yang lain lagi Siti Aisyah r.a. menuturkan, “Pada suatu hari raya beberapa orang kulit hitam negro dari Habasyah bermain darq  (perisai terbuat dari kulit tebal) dan hirab. Saat itu, entah aku yang minta kepada Rasulallah Saw. ataukah beliau Saw. yang bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau ingin melihat’? Aku menjawab, ‘Ya’. Aku lalu diminta berdiri di belakang beliau demikian dekat hingga pipiku bersentuhan dengan pipi beliau Saw.. Kepada orang-orang yang bermain-main itu Rasulallah Saw. bersabda, ‘Hai Bani Arfidah…teruskan, tidak apa-apa’! Kulihat mereka terus bermain hingga merasa jemu sendiri. Kemudian, Rasulallah Saw. bertanya kepadaku, ‘Sudah cukup’? Kujawab, ‘Ya’. Beliau lalu menyuruhku pergi, ‘kalau begitu pergilah!’ ”

Dalam Sahih Muslim diriwayatkan juga sebuah hadis berasal dari Atha r.a yang menuturkan, yang bermain-main itu entah orang-orang Persia, entah orang-orang Habasyah (Ethiopia). Mereka bermain hirab di depan Rasulallah Saw. Tiba-tiba Umar Ibnul Khattab datang, ia lalu mengambil beberapa buah kerikil dan dilemparkan kepada mereka. Ketika melihat kejadian tersebut Rasulallah Saw. berkata, ‘Hai Umar, biarkan saja mereka’!

Kini, telah kita ketahui, bentuk perayaan atau peringatan  sebagaimana yang dituturkan hadis-hadis di atas ternyata bermacam-macam. Ada yang berupa ibadah puasa, ada yang dengan cara memotong kambing lalu dimakan bersama, ada yang merayakan dengan nyanyian, dan mendeklamasikan syair-syair sambil memukul rebana dan ada pula yang merayakan dengan bermain-main tombak serta perisai. Semua ini, diriwayatkan oleh para sahabat Nabi terdekat, bahkan oleh istri beliau Saw. sendiri yang langsung menyaksikan.

Semua riwayat ini, kemudian dicatat dan diberitakan oleh para imam ahli hadis seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Bukhari dan Muslim. Dalam hadis-hadis itu, telah diketahui pula bahwa Rasulallah Saw. membolehkan diadakannya perayaan-perayaan atau peringatan-peringatan hari bersejarah, terutama sekali hari-hari pelimpahan nikmat Allah Swt. kepada umat manusia.

Dalam hadis-hadis tadi beliau Saw. tidak pernah mengatakan perayaaan atau peringatan itu perbuatan kufur atau bid’ah dhalalah (sesat). Kita mengetahui pula, sayidina Abubakar r.a. menyebut nyanyian sebagai seruling setan. Sayidina Umar r.a. melempari orang-orang yang bermain tombak dengan kerikil. Kemudian Rasulallah Saw. menegor kedua sahabatnya tersebut. Karena beliau Saw. tidak memandang permainan-permainan atau perayaan-perayaan itu sebagai perbuatan kufur, maksiat atau keluar dari garis-garis yang ditentukan syariat Islam. Dua sahabat Nabi Saw. menerima tegoran Nabi Saw. dengan jujur dan ikhlas. Wallahua'lam

Silahkan ikuti kajian berikutnya