Peringatan Maulid, Menghidupkan Rasa Cinta

Peringatan Maulid, Menghidupkan Rasa Cinta

Hikmah terbesar dari peringatan maulid Nabi Saw. adalah, meneguhkan iman serta membangkitkan cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Beberapa firman Allah Swt.,

Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu (para nabi dan rasul) terdapat  pelajaran bagi orang-orang yang berakal”.(QS. Yusuf [12 ]: 111); “Dan semua kisah para Rasul kami ceriterakan kepadamu, yang dengan kisah-kisah itu Kami teguhkan hatimu.” (QS. Hud [11 ]: 120); “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah  aku (Muhamad), dan Allah akan mencintai kamu”. (QS Ali Imran [3]: 31).

Allah Swt. di dalam kitab suci Al-Quran banyak menceritakan riwayat-riwayat para Nabi dan Rasul secara berulang-ulang dibeberapa Surah. Umpama riwayat Nabi Isa a.s. dalam surah Maryam, di sini kisah beliau mulai kelahirannya hingga dewasa, bahkan dikisahkan juga dakwah dan mukjizatnya. Juga riwayat Nabi Ibrahim, Nabi Yusuf, Nabi Sulaiman dan nabi-nabi lainnya [a.s.]. Allah mengisahkan bagaimana kehidupan, kemuliaan/ kedudukan para rasul ini. Tidak lain itu, semua agar para pembaca Al-Quran dapat mengambil pelajaran dan memperteguh iman dalam hati.

Kalau kisah para Nabi dan Rasul yang lain saja, sudah sedemikian besar arti dan manfaatnya, apalagi kisah kelahiran dan kehidupan junjungan kita Nabi besar Muhamad Saw., penghulu para nabi dan rasul !!

Begitu juga telah dikemukakan, di antara tanda-tanda orang yang bertakwa adalah orang yang mau mengagungkan syiar Allah Swt..(QS.Al-Hajj [22]:32). Orang yang mengagungkan apa yang mulia di sisi Allah Swt. adalah yang terbaik baginya di sisi Allah Swt.(QS. Al-Hajj [22]: 30).

Tidak diragukan lagi, Rasulallah Saw. adalah makhluk yang paling mulia di antara makhluk-makhluk Ilahi, dengan kenabian dan kerasulannya, dengan segala mukjizat termasuk mukjizat yang terbesar, yaitu Al-Quran yang dikaruniakan Allah kepada beliau Saw., adalah lambang kebenaran dan kebesaran (syiar) serta lambang kekuasaan Allah Swt.. Memuliakan dan mengagungkan syiar Allah ini, adalah bukti dari hati yang bertakwa kepada Allah Swt.

Di dalam majlis maulid ini, selalu dikumandangkan shalawat, riwayat kisah Rasulallah Saw. dan ceramah agama. Semuanya ini,  sangat baik dan sejalan dengan dalil-dalil hukum syara’ serta sejalan dengan kaidah-kaidah umum agama. Bahkan shalawat ini adalah perintah Allah Swt. sebagaimana firman-Nya: “Sesungguh- nya Allah dan para Malaikat sentiasa bersalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya ” (QS Al-Ahzab [33]: 56).

Arti shalawat Allah Swt. pada ayat ini menurut ahli tafsir berarti pujian Allah Swt. terhadap Nabi Saw.. Pernyataan kemuliaannya serta maksud meninggikan dan mendekatkannya. Begitu juga shalawat para Malaikat kepada beliau Saw. untuk memuji, memuliakan, dan mendoakan Rasulallah Saw.. Dan orang yang beriman disuruh juga bershalawat dan bersalam pada Beliau Saw.

Kita juga dianjurkan oleh Allah Swt agar ingat-mengingatkan sesama muslim karena hal ini sangat bermanfaat bagi kita sebagaimana Firman-Nya, “Dan ingatkanlah, karena peringatan itu sesungguhnya bermanfaat bagi orang orang yang beriman”.  (Ad- Dzariyat [51]:55). Juga Allah memerintahkan agar kita selalu berbuat kebaikan, di mana kebaikan itu bisa menghapuskan dosa: “Sungguhlah bahwa kebaikan meniadakan keburukan”.  (QS Hud [11]: 114)

Tidak diragukan lagi, orang yang membaca riwayat maulidin Nabi Saw. ,baik secara individu maupun berjamaah, adalah termasuk berbuat kebaikan.

Sekali lagi, menarik kesimpulan arti firman-firman Allah dan hadis-hadis di atas ini bahwa kesempurnaan iman seseorang itu amat bergantung pada kecintaannya terhadap Rasulallah Saw.. Kecintaan, ketaatan dan keimanan pada Allah Swt. dan Rasul-Nya, ini akan bertambah tebal dan mantap di hati kita bila selalu diingatkan berulang-ulang dengan membaca dan mendengar riwayat kisah kehidupan Rasulallah Saw. serta bershalawat pada beliau Saw.!

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasulallah Saw. telah bersabda, “Tidak sempurna iman kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada anak, ibu-bapa dan manusia seluruhnya.” Dalam hadis lain, riwayat Imam Bukhori, Nabi Saw. bersabda, “Tidak sempurna iman kamu, sehingga aku  lebih kamu cintai daripada diri kamu sendiri.” Umar bin Khatab r.a. berkata, "Ya Rasulallah aku mencintaimu lebih daripada diriku sendiri”.   

Dalam hadis Rasulallah Saw. kita diperintahkan untuk mencintai Rasulallah Saw. melebihi dari anak-anak kita sendiri, orang tua dan manusia seluruhnya. Keimanan kita, tergantung dengan besarnya kecintaan kita kepada Beliau Saw. Cinta kepada Beliau Saw. berarti kita cinta kepada Allah Swt.. Dengan sering memperingati hari kelahiran Rasulallah Saw. akan memantepkan hati kita untuk bisa mencontoh pribadi dan perjalanan beliau Saw.

 

Dalam kitab Kasyfud-Dzunun dikemukakan, orang pertama yang menulis kitab Maghazi (Manakib atau perilaku kehidupan Nabi Muhamad Saw.) ialah Muhamad bin Ishaq. Ia  terkenal dengan sebutan Ibnu Ishak. Beliau wafat pada tahun 151 H (pada zaman tabi’in). Dengan indah dan cemerlang ia menguraikan riwayat maulid Nabi serta menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik dari bentuk-bentuk peringatan, seperti walimah, sedekah dan kebajikan-kebajikan lainnya yang semuanya bersifat ibadah.

Dapat dipastikan, masa hidupnya Muhamad bin Ishak ini pada zaman yang menurut sejarah Islam disebut zaman kaum Tabi‘in. Oleh karena itu, dapatlah di simpulkan, bahwa semua yang ditulis dan diterangkan olehnya berasal dari orang-orang yang menyaksikan sendiri kehidupan para sahabat Nabi Saw.. Hasil penulisannya, kemudian diteruskan pada zaman berikutnya oleh Ibnu Hisyam, wafat dalam tahun 213 H. Ia menulis riwayat tentang perilaku kehidupan Nabi Saw., dan berhasil menyelesai- kannya dengan baik, sehingga ia dianggap sebagai penulis pertama riwayat kehidupan Nabi Saw.

Dengan menulis kitab tersebut, Ibnu Hisyam tidak bermaksud menghimpun semua nash yang pernah diucapkan oleh Rasulallah Saw. atau oleh para sahabat terdekat beliau Saw.. Meskipun demikian, ternyata buah karyanya beroleh sambutan baik dan dibenarkan oleh para ulama dan para pemuka masyarakat Islam. Tidak lain, semuanya ini bertujuan memelihara dan melestarikan data sejarah kehidupan Nabi Saw.

Adapun, orang pertama yang menulis kitab maulid Nabi dan kemudian dibaca di depan umum dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan oleh para penguasa daulat Abassiyah, adalah Imam Al-Hafizh Hujjatul Islam Al-Qadhi Askar Amirul Mukminin Muhamad Al-Mahdi Al-Abbasi. Beliau wafat tahun 207 H. Imam ini, adalah orang pertama yang menghimpun hadis-hadis para sahabat Nabi Saw. mengenai kebajikan dan pahala membaca riwayat maulid Nabi Saw.. Adapun, para imam lainnya dalam menulis kitab-kitab maulid banyak mengambil dari Al-Waqidi, kitab rujukan yang banyak dibaca dalam peringatan-peringatan maulid yang diadakan oleh para Khalifah dan menteri-menterinya. Kecuali itu, kitab tersebut juga banyak dibaca di dalam perguruan-perguruan agama Islam pada hari-hari peringatan dan hari-hari raya, pada bulan-bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. Sehingga kitab maulid karya Al-Waqidi ini banyak dihafal oleh kaum muslimin dan anak-anak keturunan mereka.

Silahkan baca uraian selanjutnya