Amalan-Amalan Bulan Sya’ban & Rajab

Keterangan mengenai bulan (nishfu) Sya’ban dan Rajab

Di dalam Islam, dikenal adanya hari-hari, bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. umpamanya hari Jum’at, bulan Ramadhan, bulan Haji dan lain sebagainya. Allah Swt. akan lebih meluaskan Rahmat dan Karunia-Nya melebihi daripada hari-hari atau bulan-bulan biasa. Dengan demikian siapa yang beramal saleh pada waktu-waktu tersebut lebih besar harapannya Allah Swt. akan mengampunkan dosanya dan doanya dikabulkan oleh-Nya.

Bulan Sya‘ban adalah termasuk bulan suci atau mulia dan cukup dikenal di kalangan kaum Muslim. Mengapa? Karena banyak riwayat hadis yang mengemukakan kemuliaan  bulan tersebut.

Nama Sya’ban adalah salah satu nama bulan dari 12 bulan Arab lainnya, yaitu satu bulan sebelum bulan Ramadhan. Adapun yang dimaksud nishfu (pertengahan) Sya’ban yaitu tanggal 15 bulan Sya’ban. Malam nishfu Sya’ban, yaitu mulai waktu maghrib pada tanggal 14 Sya’ban. Banyak hadis yang dipandang mu’tamad oleh para ulama pakar mengenai keutamaan bulan Sya’ban dan malam nishfu Sya’ban, di antaranya:

  • Hadis  dari Aisyah r.a., “Tidak terlihat olehku Rasulallah Saw. berpuasa satu bulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan tidak satu bulan yang hari-harinya lebih banyak dipuasakan Nabi daripada bulan Sya’ban”.(HR. Bukhari dan Muslim).
  • Riwayat dari Usamah bin Zaid r.a. katanya, “Tanya saya, ‘Ya Rasulallah, kelihatannya tidak satu bulan pun yang lebih banyak anda puasakan dari Sya’ban’. Ujar Nabi,  ‘Bulan itu sering dilupakan orang, karena letaknya antara Rajab dan Ramadhan, sedang pada bulan itulah (bulan Sya’ban) diangkatnya amalan-amalan kepada Allah Rabbul ‘alamin. Maka, saya ingin amalan saya dibawa naik selagi saya dalam berpuasa’”. (HR Abu Daud dan Nasa’i dan disahkan oleh Ibnu Khuzaimah).
  • Hadis dari Ummu Salamah r.a., katanya, “Belum pernah aku melihat Nabi Saw. berpuasa dua bulan berturut-turut terkecuali di bulan Sya’ban dan Ramadhan”.(HR. Tirmidzi dengan sanad Hasan).
  • Abu Dawud mengemukakan hadis dari Abdullah bin Abi Qais dari Aisyah r.a. sebagai berikut, “Bulan yang paling disukai Rasulallah Saw. ialah berpuasa di bulan Sya’ban. Kemudian, beliau menyambung puasanya hingga ke Ramadhan”. (Sunan Abu Daud, juz 2 hal. 323 ).
  • Hadis dari Imran Ibnu Hushain r.a., “Nabi Saw. pernah berkata pada seseorang lelaki, ‘Apakah engkau pernah berpuasa sebagian dari bulan Sya’ban ini?’ Jawab lelaki itu, ‘Tidak’. Sabda Nabi Saw., ‘Jika engkau telah menyelesaikan bulan Ramadhan, maka puasalah dua hari sebagai puasa pengganti bulan Sya’ban’ “. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Nishfu Sya’ban

Mengenai nishfu Sya’ban yang diriwayatkan Tirmidzi di dalam An-Nawadir dan oleh Thabarani serta Ibnu Syahin dengan sanad Hasan (baik), berasal dari ‘Aisyah r.a. yang menuturkan, Rasulallah Saw. pernah menerangkan;

                    هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَغْفِرُ الله ُ المُسْتَغْفِرِيْنَ ,

                    وَ يَرْحَمُ المُسَتَرْحِمِيْنَ وَ يُؤَخِّرُ أهْلَ الحِقدِ عَلَى حِقْدِهِمْ

‘Pada malam nishfu Sya’ban ini, Allah mengampuni orang-orang yang mohon ampunan dan merahmati mereka yang mohon rahmat serta menangguhkan (akibat) kedengkian orang-orang yang dengki’.

Di sekitar hadis terakhir diatas ini, beredar sejumlah hadis lainnya yang memandang mustahab/baik kegiatan menghidupkan (ihya) malam nishfu Sya‘ban.  Diantaranya;   

  • Hadis riwayat Ibnu Majah dari Amirul mukminin Ali k.w.; Hadis riwayat Ibnu Majah, Tirmidzi dan Ahmad dari ‘Aisyah r.a.; riwayat Ibnu Majah dan Ahmad dari Abu Musaa. dan sebagainya. Terkabulnya doa yang dipanjatkan pada malam tersebut lebih besar harapannya dan pada bulan itulah diangkatnya amalan-amalan kepada Allah Rabbul ‘alamin.
  • Hadis dari sayidah Aisyah r.a: “Suatu malam Rasulallah shalat, kemudian beliau bersujud panjang, sehingga aku menyangka bahwa Rasulallah telah diambil, karena curiga maka aku gerakkan telunjuk beliau dan ternyata masih bergerak. Setelah Rasulallah usai shalat beliau berkata, ‘Hai Aisyah engkau tidak dapat bagian’?. Aku menjawab, ‘Tidak ya Rasulallah, aku hanya berpikiran yang tidak-tidak (menyangka Rasulallah telah wafat) karena engkau bersujud begitu lama’. Beliau bertanya, ‘Tahukah engkau, malam apa sekarang ini?’. ‘Rasulallah yang lebih tahu, jawabku’. ‘Malam ini adalah malam nisfu Sya’ban, Allah mengawasi hambaNya pada malam ini, Dia memaafkan, mereka yang memohon ampunan, memberi kasih saying, mereka yang memohon kasih saying, dan menyingkirkan orang-orang yang dengki‘“ (HR. Baihaqi). Menurut perawinya hadis ini mursal (ada rawi yang tidak sambung ke sahabat), namun cukup kuat.
  • Dalam hadis Ali k.w. Rasulallah bersabda, “Malam nisfu Sya’ban, maka hidupkanlah dengan salat dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah turun kelangit dunia pada malam itu, Allah bersabda, ‘Orang yang meminta ampunan akan Aku ampuni, orang yang meminta rizqi akan Aku beri dia rizqi, orang-orang yang mendapatkan cobaan maka aku bebaskan, hingga fajar menyingsing’”. (HR. Ibnu Majah dengan sanad lemah).

Ingat sekali lagi, para Ulama berpendapat bahwa hadis lemah dapat digunakan untuk fadhail ‘amal (keutamaan amal). Walaupun, sebagian hadis-hadis tersebut tidak sahih, namun melihat dari hadis-hadis lain yang menunjukkan keutamaan bulan Sya’ban, dapat diambil kesimpulan bahwa malam nisfu sya’ban jelas mempunyai keutamaan dibandingkan dengan malam-malam lainnya. Mari kita ikuti kajian berikutnya.  

  • Hadis yang dikemukakan oleh ulama Wahabi ,Syeikh al-Albani, dalam Silsilah al-Ahadis al-Shahihah, No. 1144,, “Allah melihat kepada hamba-hambaNya pada malam nishfu sya’ban, Dia ampuni semua hamba-hamba-Nya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuhan (orang yang saling membenci).”
  • Ibnu Thawus dalam kitab Iqbal, riwayat dari Kumail bin Ziyad Nakha’i menyatakan, “Pada suatu hari, saya duduk di Masjid Basrah bersama maulana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib k.w., membicarakan hal nishfu Sya’ban. Ketika, beliau ditanya tentang firman Allah Swt dalam surah Ad-Dukhan [44]:4: ‘Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah’. Amirul Mukminin mengatakan, ’ayat ini mengenai malam nishfu Sya’ban, orang yang beribadat di malam itu, tidak tidur, dan membaca doa Hadrat Khidr a.s. akan lebih besar harapan diterima doanya.’

Ketika beliau pulang ke rumahnya, di malam itu, saya menyusulnya. Melihat saya, Imam Ali bertanya, ‘Apakah keperluan anda kemari’? Jawab saya;  ‘Saya kemari untuk mendapatkan doa Hadrat Khidr’. Beliau mempersilahkan saya duduk seraya berkata, ‘Ya, Kumail, apabila anda menghafal doa ini dan membacanya setiap malam Jum’at, cukuplah itu untuk melepaskan anda dari kejahatan, anda akan ditolong Allah Swt., diberi rezeki, dan doa ini akan makbul’. Ya, Kumail, lamanya persahabatan serta kekhidmatan anda, menyebabkan anda dikarunia nikmat dan kemuliaan untuk belajar’ ”.        

Disamping doa hadrat khidr tersebut ada doa malam nishfu Sya’ban yang masyhur/terkenal, diriwayatkan oleh Abu Syaibah di dalam Al-Mushannif  dan oleh Abu Dunya di dalam Ad-Dua, berasal dari Ibnu Mas’ud r.a. Ada pula, hadis dari Ibnu Umar yang mengatakan, Seorang hamba Allah yang memanjatkan doa-doa (doa nishfu Sya’ban) itu, Allah pasti meluaskan penghidupannya (rezekinya). Ibnu Jarir, Ibnul Mundzir dan At-Thabarani meriwayatkan juga hadis tersebut dengan lafal  tidak jauh berbeda. Seperti doa, antara lain berbunyi; ‘Ya Allah, jika Engkau telah menyuratkan nasibku.....dan seterusnya.’ Bagi yang ingin mengetahui lafal doa ini, bisa baca pada kitab Majmu‘’ syarif  yang banyak dijual pada toko-toko buku agama.

Banyak riwayat yang menerangkan, bahwa orang yang memanjatkan doa malam nishfu Sya’ban ini akan diluaskan rezekinya dan sebagainya. Juga beberapa sumber rujukan yang mengisnadkan sebagian isi doa nishfu dari Umar bin Khatab r.a.. Keterangan-keterangan demikian ini, tentu atas dasar taufik atau persetujuan dari Nabi Saw.  Sebab, tidak ada kewenangan pada seorang sahabat atau lainnya untuk memberitahu suatu imbalan pahala yang bersifat ghaib kalau tidak dari Nabi Saw..

Jadi doa-doa nishfu Sya’ban ,baik yang dari Imam Ali kw. (doa Hadrat Khidr) serta dari sahabat-sahabat Nabi lainnya, sudah terkenal di kalangan para salaf. Tidak ada seorangpun dari mereka yang menyesatkannya, kecuali kaum Wahabi!

Ibadah dan berdoa pada malam Nishfu Sya’ban meski bermacam-macam, tapi makna dan intinya sama yakni bermohon kepada Allah Swt. untuk kebaikan didunia dan akhirat. Ada yang shalat sunnah enam rakaat pada waktu antara maghrib dan Isya’. Banyak hadis yang tidak diragukan kebenarannya mensunnahkan shalat enam rakaat tersebut. Ada pula, yang mengisinya dengan bertawasul membaca surah Ya Sin pada malam nishfu sya’ban. Setiap selesai membaca Yaa Sin disambung dengan doa, hal ini diulangi sampai tiga kali. Ini semua, tidak lain merupakan tawasul kepada Allah Swt. dengan kitab suci-Nya, dengan firman-Nya dan dengan kesucian sifat-sifat-Nya.

Para ulama sepakat kesahihan hadis Rasulallah Saw. tentang riwayat tiga orang yang tertutup di goa, kemudian berdoa kepada Allah Swt. dengan bertawasul kepada amal kebaikan yang pernah mereka perbuat, dan Allah Swt. mengabulkan doa mereka. Kalau bertawasul dengan amal kebaikan tersebut dibolehkan dan mustajab doanya, apalagi bertawasul dengan firman Allah Swt., surah Ya Sin, sebelum berdoa kepada Allah Swt., insya Allah lebih besar lagi harapan doa kita dikabulkan oleh Allah Swt.

Kalimat doa nishfu Sya’ban, “Ya Allah Tuhanku Pemilik nikmat, tiada ada yang bisa memberi nikmat atas-Mu. Ya Allah Pemilik kebesaran dan kemuliaan. Ya Allah Tuhanku Pemilik kekayaan dan Pemberi nikmat. Tidak ada yang patut disembah hanya Engkau. Engkaulah tempat bersandar. Engkaulah tempat berlindung dan padaMUlah tempat yang aman bagi orang-orang yang ketakutan. Ya Allah Tuhanku, jika sekiranya Engkau telah menulis dalam buku besar-Mu bahwa adalah orang yang tidak bebahagia atau orang yang sangat terbatas mendapat nikmat-Mu, orang yang dijauhkan daripada-Mu atau orang yang disempitkan dalam mendapat rezeki, maka aku memohon dengan karunia-Mu, semoga kiranya Engkau pindahkan aku kedalam golongan orang-orang yang berbahagia, mendapat keluasan rezeki serta diberi petunjuk kepada kebajikan. Sesungguhnya Engkau telah berkata dalam kitab-Mu yang telah diturunkan kepada Rasul-Mu, dan perkataan-Mu adalah benar, yang berbunyi: Allah mengubah dan menetapkan apa-apa yang dikehendaki Nya dan pada-Nya sumber kitab. Ya Allah, dengan tajalli-Mu Yang Mahabesar pada malam Nisfu Sya’ban yang mulia ini, Engkau tetapkan dan Engkau ubah sesuatunya, maka aku memohon semoga kiranya aku dijauhkan dari bala bencana, baik yang aku ketahui atau yang tidak aku ketahui, Engkaulah Yang Mahamengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. Dan aku selalu mengharap limpahan rahmat-Mu ya Allah Tuhan Yang Maha Pengasih.”

 

Dalil-dalil dari Kelompok Pengingkar

Jika ditelaah dalil-dalil keutamaan bulan dan malam nishfu Sya’ban, dalam kenyataannya banyak beredar hadis, baik yang dhaif maupun yang sahih atau hasan. Hadis-hadis ini, diakui kebenarannya oleh sebagian ulama kaum Wahabi-Salafi. Sayangnya, sebagian besar dari kelompok pengingkar, karena fanatiknya dengan  faham mereka sendiri, tidak segan-segan dan berani menvonnis bahwa amalan amalan itu semuanya bid‘ah munkar yang harus diperangi.

Golongan ini dengan kasar sering menuduh sesat, bid‘ah bahkan syirik atas amalan-amalan: Tawasul, Tabaruk, menghidup- kan malam Nishfu Sya’ban, peringatan maulidin Nabi Saw. dan sebagainya. Alasan yang sering kita dengar dari mereka; “Rasul Saw. tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya. Begitu juga para shahabatnya tidak ada satu pun di antara mereka yang mengerjakannya. Demikian pula para tabi‘in dan tabi’ut-tabi‘in”. Atau ucapan mereka: “Kita kaum muslimin di perintahkan untuk mengikuti Nabi Saw. yakni mengikuti segala perbuatan Nabi. Semua yang tidak pernah beliau lakukan, mengapa justru kita yang melakukannya..? Bukankah kita harus menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi Saw., para sahabat, ulama-ulama salaf? Karena melakukan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi adalah bid‘ah”.               

Kaidah seperti itulah, yang sering dijadikan pegangan  untuk menyerang kelompok lain. Mereka pun, sering dengan gegabah menuduh bid‘ah, sesat, haram, munkar, syirik terhadap semua amalan nawafil atau mubah. Retorika mereka seperti ‘Rasulallah Saw., para sahabat dan tabi‘in tidak pernah melakukan amalan...’, seakan-akan mereka itu pernah hidup pada zamannya Rasulallah Saw. atau zamannya para sahabat beliau Saw.

Kesimpulan itu, kebanyakan tidak didasarkan pada hasil telaah yang saksama. Tidak sedikit perkara yang sebenarnya masuk dalam ikhtilaf fiqhiyah (masalah furu‘), mereka langsung tarik menjadi masalah ushul (pokok/tauhid) dengan tuduhan sesat dan syirik! Hal ini, seperti terlihat dalam kecaman kaum Pengingkar dan pengikutnya, membid‘ahkan munkar hadis dan amalan bulan Sya‘ban, seperti:

  • Barangsiapa yang shalat seratus rakaat pada malam nishfu dari bulan Sya’ban, ia baca pada tiap-tiap rakaat sesudah al-Fatihah, Qulhu sepuluh kali, maka tidak seorang pun yang shalat seperti itu melainkan Allah kabulkan semua hajat yang ia minta pada malam itu…sampai akhir hadis.
  • Barangsiapa yang membaca pada malam nishfu Sya’ban al-Ikhlash seribu kali dalam seratus rakaat… ..sampai akhir hadis.      
  • Barangsiapa yang shalat pada malam nishfu Sya’ban 12 rakaat, ia baca pada tiap-tiap rakaat al-Ikhlash 30 kali ………sampai akhir hadis.
  • Riwayat yang menerangkan bahwa Nabi Saw. Shalat nishfu Sya’ban 14 rakaat, setelah selesai beliau membaca al-Fatihah 14 kali, al-Ikhlash 14 kali, ayat kursi satu kali...... sampai akhir hadis”.

Selanjutnya, kelompok Pengingkar ini, menyatakan:

Imam Ibnu Jauzi berkata, “Tentang hadis-hadis (di atas) ini, kami tidak ragu lagi tentang palsunya, semua rawi-rawinya pada tiga hadis di atas majhul (tidak diketahui keadaannya oleh ahli hadis). Dan hadis yang keempat juga maudhu (palsu) dan sanadnya gelap (tidak diketahui).           

Imam Nawawi berkata, “Shalat rajab, shalat nishfu Sya’ban adalah dua Bid‘ah, Munkar lagi Jelek”.

Ibnu Taimiyah berkata, “Shalat raghaib (shalat pada malam Jum’at pertama di bulan Rajab), dan shalat pada awal malam bulan Rajab, dan shalat pada awal malam Mikraj, dan shalat Al-Fiyah (seribu) malam nishfu Sya’ban, adalah Bid‘ah dengan kesepakatan pemuka-pemuka Agama (Islam).Adapun, hadis-hadis yang diriwayatkan (semuanya?) Dusta dengan Ijmak Ahli Ilmu Hadis”. (Fatawa Ibnu Taimiyah jilid 23 hal.131 s/d 135).      

Imam Fatani berkata, “Tentang shalat nishfu Sya’ban itu tidak ada satu pun kabar atau riwayat (yang sahih) melainkan riwayat yang dho’if atau palsu. Oleh karena itu, janganlah kita tertipu dengan disebutnya (shalat nisfu sy‘ban itu) . Di kitab QUT dan Ihya dan yang selain keduanya”. (As-Sunan wal  Mubta-da’at hal.144 dan 145).

Imam Al-Iraqi yang mengoreksi hadis-hadis yang terdapat di Kitab Ihya mengatakan, “Hadis-hadis tentang shalat malam nishfu Sya’ban itu adalah hadis yang Bathil. Ibnu Majah meriwayatkan dari hadis Ali, apabila datang malam nishfu Sya’ban maka shalatlah pada malamnya dan puasalah pada waktu siangnya. Tapi semua sanadnya dhaif.

 

Atas argumen kaum Pengingkar di atas, kami memberikan tanggapan:

Tidak adanya pengakuan atau kepercayaan para Imam di atas tentang hadis-hadis, yang berkaitan dengan shalat pada malam nishfu Sya’ban yang ditentukan bilangan rakaatnya dan bacaan-bacaan tertentu di dalam shalat tersebut, bukan berarti amalan ini hukumnya haram. Untuk mengharamkan suatu amalan haruslah menggunakan dalil nash yang jelas, baik itu dari Al-Quran maupun Hadis, yang melarang atau mengharamkan amalan tersebut. Oleh karena, syari’at tidak melarang orang shalat sunnah mutlak berapa rakaat yang mereka kehendaki dengan bacaan apa pun dari Al-Quran.

Para Imam itu, juga tidak mengingkari adanya hadis-hadis Rasulallah Saw. yang diakui oleh para ulama pakar lainnya termasuk ulama dari golongan Pengingkar sendiri, mengenai keutamaan bulan dan malam nishfu Sya’ban tersebut.

Kaum Pengingkar tampaknya mempunyai faham, hadis-hadis yang dhaif–walaupun dalam masalah kebaikan–tidak boleh untuk diamalkan. Dengan lain perkataan, bila amalan yang tercantum di dalam hadis dhaif itu diamalkan, otomatis menjadi haram atau bid‘ah sesat yang harus diperangi.

Kepercayaan di atas, telah menyalahi Ijmak (sepakat) Ulama yang mengatakan, “Hadis yang dhaif itu boleh diamalkan bila berkaitan dengan Fadhail ‘Amal (amalan-amalan yang mulia/baik [Fathul Muin:32])”.

Hadis dhaif adalah, hadis yang mempunyai asal/akar, tetapi belum memenuhi syarat-syarat hadis hasan atau sahih, misalnya karena ada di antara perawi dari hadis tersebut yang majhul (tidak dikenal) atau lemah hafalannya  Tetapi, bila banyak beredar hadis dha’if mengenai amalan yang sama dan diriwayatkan oleh berbagai perawi lainnya, dia meningkat menjadi hadis hasan (baik), begitu juga hadis hasan bila banyak diriwayatkan oleh para perawi yang berbeda-beda dia akan meningkat menjadi hadis sahih. Hanya dengan satu hadis saja–walau pun hadis ini lemah tetapi tidak bertentangan dengan hadis sahih–tentang keutamaan bulan Sya’ban dan Rajab, sudah cukup sebagai dalil untuk mengamalkan amalan-amalan saleh pada kesempatan emas tersebut. Apalagi, masih ada dalil yang tidak dha’if mengenai keutamaan bulan dan malam nishfu Sya’ban itu. Dengan demikian, orang tidak bisa main pukul sama rata bahwa semua hadis mengenai kemuliaan bulan dan malam nishfu Sya’ban adalah munkar.

Mengapa justru kaum Wahabi yang memutuskan,  semua amalan-amalan ibadah pada bulan dan nishfu Sya’ban adalah bid‘ah munkar serta melarang orang shalat sunnah ekstra dan amalan ibadah lainnya pada waktu yang mulia tersebut?

Banyak riwayat yang menyebutkan amalan ibadah shalat sunnah atau bacaan-bacaan di dalam shalat yang diamalkan para sahabat yang sebelum dan sesudahnya tidak pernah diperintahkan oleh Rasulallah Saw. atau tidak ada dalilnya dari beliau Saw.(lihat amalan-amalan bid’ah para sahabat pada bab bid’ah dibuku ini) tetapi diridhoi oleh beliau Saw.

Begitu juga Sayidina Umar bin Khattab r.a. pernah mengatakan, ‘Bid‘ah yang nikmat’ pada shalat Tarawih. Tidak ada satu pun dari para sahabat yang mengatakan bahwa kata-kata ‘Bid‘ah’ itu otomatis Haram, Munkar yang harus diperangi.

Shalat sunnah Mutlak itu, boleh dilakukan kapan saja (kecuali ,menurut ilmu fiqih, lima waktu tertentu yang dilarang) dan berapa saja jumlah rakaat yang di kehendaki. Shalat sunnah itu, menurut ilmu Fiqih dibagi menjadi dua macam yaitu Mutlak dan Muqayad. Untuk sunnah Mutlak cukuplah orang berniat shalat saja (shalat yang tidak ada namanya).           

Imam Nawawi–rahimahullah–sendiri berkata, “Seseorang yang melakukan shalat sunnah dan tidak menyebutkan berapa rakaat yang akan dilakukan dalam shalatnya itu, bolehlah ia melakukan satu rakaat lalu bersalam dan boleh pula menambah- nya menjadi dua, tiga, seratus, seribu rakaat dan seterusnya.  Apabila, seseorang shalat sunnah dengan bilangan yang tidak diketahuinya, lalu bersalam, maka hal itupun sah pula, tanpa perselisihan pendapat antara para ulama. Demikianlah, yang telah disepakati oleh golongan kami (mazhab Syafi’i)  dan diuraikan pula oleh Imam Syafi’i di dalam Al-Imla”. (Dinukil dari kitab Fiqih Sunnah Sayid Sabiq ,terjemahan Indonesia, jilid 2 cet. kedua thn. 1977 hal. 11).  

Pada halaman 12 di kitab yang sama ditulis,  Imam Baihaqi meriwayatkan dengan isnadnya, “Bahwa Abu Dzar r.a. melakukan shalat (sunnah) dengan rakaat yang banyak. Setelah salam, ia ditegur oleh Ahnaf bin Qais r.a. katanya, ‘Tahukah anda bilangan rakaat dalam shalat tadi, apakah genap atau ganjil?’ Ia (Abu Dzar) menjawab, ‘Jikalau saya tidak mengetahui berapa jumlah rakaatnya, maka cukuplah Allah mengetahuinya, sebab saya pernah mendengar kekasihku Abul Qasim (Nabi Muhamad Saw.) bersabda–sampai disini Abu Dzar menangis–kemudian dilanjutkan pembicaraannya; saya mendengar kekasihku Abul Qasim bersabda, Tiada seseorang hamba pun yang bersujud kepada Allah satu kali, melainkan diangkatlah ia oleh Allah sederajat dan dihapus kan daripadanya satu dosa’ (Menurut al-Albani dalam kitabnya Tamamul Minnah jilid 1 hal.292 cet.pertama th.2001, terjemahan bahasa Indonesia, hadis ini ada dalam sahih al-Baihaqi dan di dalamnya tidak ada perawi yang diperselisihkan, begitu juga imam Ahmad telah meriwayatkan hadis ini).

Adapun, mengenai shalat sunnah Muqayad itu terbagi dua: Pertama, Yang disyariatkan sebagai  shalat-shalat sunnah yang mengikuti shalat wajib/ fardhu dan inilah yang disebut shalat Rawatib (misalnya shalat-shalat sunnah fajr, zuhur, asar, maghrib dan Isya). Kedua: Yang disyariatkan bukan sebagai shalat sunnah yang mengikuti shalat Fardhu/wajib (misalnya shalat tasbih, shalat Istisqa dan lain-lain).      

Abu Dzar r.a.–sahabat nabi Saw. yang terkenal–telah melakukan shalat sunnah Mutlak (yang hanya niat shalat saja), tanpa mengetahui berapa jumlah rakaat yang beliau kerjakan itu. Tidak ada para sahabat yang mengatakan bahwa amalan itu Bid‘ah munkar, Haram dan sebagainya! Abu Dzar r.a. juga menyebutkan suatu dalil umum yang membolehkan amalan shalat sunnah itu berapa pun jumlahnya, yaitu ‘Tiada seseorang hamba pun yang bersujud kepada Allah ....sampai akhir hadis’. Mengapa justru kaum Wahabi berani menvonnis amalan-amalan shalat sunnah Mutlak pada malam nishfu sebagai bid‘ah munkar, haram dan lain sebagainya?                  

Imam Nawawi sendiri telah mengatakan bahwa orang dibolehkan/sah shalat sunnah satu, dua, sampai ratusan rakaat dengan satu kali salam bila shalat sunnah itu tidak disebutkan berapa rakaat sebelumnya. Imam yang cukup terkenal ini pun tidak mengingkari kebolehan orang untuk shalat sunnah (Mutlak) terserah berapa rakaat yang dia kehendaki. Sangat aneh, jika kaum Wahabi berani membid‘ahkan, menyatakan munkar atau haram orang yang mengamalkan ibadah shalat sunnah Mutlak di malam yang mulia yaitu nishfu Sya’ban? Perhatikan beberapa riwayat berikut ini;

 

Pengakuan Ibnu Taimiyah

  • Ibnu Taimiyah mengkhususkan amalan shalat pada nishfu Sya’ban dan memujinya: Berkata Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu‘’ Fatawa’ jilid 24 halaman 131 mengenai amalan Nishfu Sya'ban sebagai berikut:

                           إذا صلَّى الإنسان ليلة  النصف وحده  أو في  جماعة خاصة

                                          كما كان  يفعل طوائف من المسلمين فهوحَسَنْ  

"Apabila seorang itu menunaikan shalat pada malam Nishfu Sya'ban secara individu atau berjamaah secara khusus sebagaimana yang dilakukan oleh sebilangan masyarakat Islam, hal itu adalah baik”.

Lihat, bagaimana Ibnu Taimiyah memuji siapa yang menghidupkan amalan khusus pada malam Nishfu Sya'ban yaitu dengan menunaikan shalat sunnah pada waktu itu baik secara perseorangan mau pun secara berjama’ah,  Ibnu Taimiyah menyifatkan amalan khusus itu sebagai hasan/baik.

  • Pada halaman 132 di kitab yang sama itu, Ibnu Taimiyahmengakui adanya hadis yang mengkhususkan untuk ibadah shalat malam Nishfu Sya’ban:
    وأما ليلة النصف - من شعبان - فقد رُوي في فضلها أحاديث وآثار ، ونُقل عن طائفة من السلف أنهم كانوا يصلون فيها، فصلاة الرجل فيها وحده قد تقدمه فيه سلف وله فيه حجة (( فلا ينكر مثل هذا )) ، أما الصلاة جماعة فهذا مبني على قاعدة عامة في الاجتماع على الطاعات والعبادات

“(Berkenaan malam Nishfu Sya'ban) maka telah diriwayatkan mengenai kemuliaan dan kelebihan Nishfu Sya'ban dengan hadis-hadis dan atsar, di nukilkan dari golongan Salaf (orang-orang dahulu) bahwa mereka menunaikan shalat khusus pada malam Nishfu Sya'ban, shalatnya seseorang pada malam itu secara perseorangan sebenarnya telah dilakukan oleh ulama Salaf dan dalam perkara tersebut terdapat hujjah/dalil maka jangan di-ingkari, manakala shalat secara jama’ah (pada malam nishfu sya'ban) adalah dibina atas hujah/ dalil kaedah pada berkumpulnya manusia dalam melakukan amalan ketaatan dan ibadat”.

  • Dalam kitabnya Iqtidha' As-Shirat Al-Mustaqim pada halaman 266, Ibnu Taimiyah mengatakan:

ليلة النصف مِن شعبان. فقد روي في فضلها من الأحاديث المرفوعة والآثار ما يقتضي: أنها ليلة مُفضَّلة. وأنَّ مِن السَّلف مَن كان يَخُصّها بالصَّلاة فيها، وصوم شهر شعبان قد جاءت فيه أحاديث صحيحة. ومِن العلماء من السلف، من أهل المدينة وغيرهم من الخلف: مَن أنكر فضلها ، وطعن في الأحاديث الواردة فيها، كحديث:[إن الله يغفر فيها لأكثر من عدد شعر غنم بني كلب] وقال: لا فرق بينها وبين غيرها. لكن الذي عليه كثيرٌ مِن أهل العلم ؛ أو أكثرهم من أصحابنا وغيرهم: على تفضيلها ، وعليه يدل نص أحمد - ابن حنبل من أئمة السلف - ، لتعدد الأحاديث الواردة فيها، وما يصدق ذلك من الآثار السلفيَّة، وقد روي بعض فضائلها في المسانيد والسنن

“(Malam Nishfu Sya'ban) telah diriwayatkan mengenai kemuliaannya dari hadis-hadis Nabi dan pada kenyataan para sahabat telah menjelaskan bahwa itu adalah malam yang mulia dan di kalangan ulama As-Salaf  yang mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan melakukan shalat khusus padanya dan berpuasa bulan Sya'ban. Ada dikalangan Salaf (orang yang terdahulu), sebagian dari ahli Madinah dan selain mereka sebagian di kalangan Khalaf (orang belakangan) yang mengingkari kemuliannya dan menyanggah hadis-hadis yang diriwayatkan padanya seperti hadis: ['Sesungguhnya Allah Swt. mengampuni padanya lebih banyak dari bilangan bulu kambing bani kalb']. Akan tetapi, di sisi kebanyakan ulama ahli Ilmu atau kebanyakan ulama Mazhab kami dan ulama lain adalah memuliakan malam Nishfu Sya’ban, dan yang demikian adalah kenyataan Imam Ahmad bin Hanbal dari ulama Salaf, karena cukup banyak hadis yang menyatakan mengenai kemuliaan Nishfu Sya'ban.

Begitu pula, kenyataan para ulama As-Salaf, telah menyatakan kemuliaan Nishfu Sya'ban dalam banyak kitab hadis Musnad dan Sunan”.

Jelas, Ibnu Taimiyah sendiri mengakui dan tidak mengingkari kebaikan amalan khusus pada nishfu Sya’ban, termasuk di dalamnya shalat sunnah. Beliau juga mengatakan, amalan ibadah pada malam nishfu Sya’ban dikerjakan oleh para Salaf. Tetapi sayangnya, kaum Wahabi-Salafi yang mengaku sebagai penerus akidah Ibnu Taimiyah ini, telah mengharamkan dan membid‘ahkan mungkar amalan dalam bulan dan nishfu Sya’ban ini!  Mereka, hanya menyebutkan kata-kata Ibnu Taimiyah yang sefaham dengan mereka, tetapi kata-kata Ibnu Taimiyah yang tidak sefaham, mereka kesampingkan!

  • Al-Qasthalani dalam kitabnya, Al-Mawahib Alladunniyah jilid 2 halaman 59, menuliskan bahwa para tabi’in di negeri Syam seperti Khalid bin Mi’dan dan Makhul telah mengkhususkan beribadah pada malam Nishfu Sya’ban. Dari mereka berdua, orang-orang mengambil panutan. Selanjutnya, Al-Qasthalani berkata, perbedaan pendapat para ulama Syam hanya dalam bentuk cara ibadah pada malam Nishfu Sya’ban. Ada yang mengamalkan dimasjid secara berjama’ah, yaitu pendapat Khalid bin Mi’dan, Luqman bin Amir dan disetujui oleh Ishaq bin Rahawaih. Ada lagi, yang mengamalkan sendiri-sendiri di rumah atau di tempat lainnya, pendapat ini disetujui oleh Al-Auza’i dan para ulama Syam umumnya.

 

Menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan beribadah itu, telah disepakati pula oleh para ulama mazhab antara lain: Ibnu Abidin Al-Hanafi dalam Hasyiah Raddul Mukhtar Juz 2 hal.25; Ibnu Najem al-Hanafi dalam Bahru ar-Raiq juz 2 hal. 56; Imam Dasuqi Al-Maliki dalam as-Syarh al-Kabir juz 1 hal.399; Imam Syafi’i dalam al-Umm juz 2 hal 264; Alkhatib Syirbini dalam Mughni Muhataj juz 1 hal.591. IbnuTaimiyah Al-Hanbali dalam kitab Majmu’ Fatawa juz 23 hal.132; Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Kitab Lathif al-Ma’arif hal.263 dan lain-lain. Wallahua’lam.

 

Kemuliaan Bulan Rajab

Alasan-alasan dan dalil-dalil yang telah dikemukakan untuk memperkokoh keabsahan kemuliaan, keutaman bulan dan malam nishfu Sya’ban, pada dasarnya memperkuat juga keabsahan kemuliaan dan keutamaan bulan Rajab. Lepas dari itu semua, kami ingin menambahkan secara singkat, riwayat-riwayat mengenai kemuliaan dan amalan pada bulan Rajab berikut ini. Keterangan yang muktamad tentang bulan Rajab adalah, bulan itu termasuk bulan-bulan yang dihormati dan dimuliakan. Al-Quran menyebut- nya sebagai Asyhurul Hurum, yaitu, Dzulka’idah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

Dalam bulan tersebut, Allah Swt. melarang peperangan. Ini merupakan tradisi yang sudah ada jauh sebelum turunnya syariat Islam. Allah Swt. berfirman;   “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”. (QS At-Taubah [9]: 36).

 

Di dalam surah Al-Maidah [5]: 2, Allah Swt.berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan lah melanggar kehormatan bulan-bulan haram”.       

Empat bulan haram itu, di sebutkan juga dalam sabda Rasulallah Saw. berikut ini, “Sesungguhnya zaman telah berputar seperti pada hari penciptaan langit dan bumi, setahun terdapat dua belas bulan dan empat di antaranya adalah bulan haram dan tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Dzulka’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab mudhar yang berada di antara jumadal Ula, Jumadad Tsani, dan Sya’ban”. (HR Bukhari dan Muslim).               

Imam al-Qurtubi di dalam tafsir-nya, Nabi Saw. sendiri pernah menegaskan, “bulan Rajab itu adalah bulan Allah, yaitu bulan Ahlullah. Dan di katakan penduduk (mukmin) Tanah Haram itu Ahlullah, karena Allah yang memelihara dan memberi kekuatan kepada mereka”. (al-Qurtubi, Jami’ Ahkam Al-Quran, VI: 326).

Dinamakan bulan-bulan haram karena diharamkannya berperang di bulan-bulan itu kecuali musuh yang memulai. Hadis dari Anas bin Malik r.a. berkata; “Bahwa Rasulallah Saw. apabila masuk bulan Rajab selalu berdoa, ‘Allahuma bariklana fii rajab wa sya’ban, wa balighna ramadan.’ Artinya, ‘ya Allah, berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban; dan sampaikan kami ke bulan Ramadan’” (HR.Ahmad dalam Musnad-nya juz 1: 259 hadis no 2346 dan Tabrani).

Hadis ini, disebutkan dalam banyak keterangan, seperti dikeluarkan oleh Abdullah bin Ahmad di dalam Zawa’id al-Musnad (2346).Al-Bazzar didalam Musnadnya–sebagaimana disebutkan dalam kitab Kasyf al-Astar– (616); Ibnu As-Sunni di dalam Amal al-Yawm Wa al-Lailah (658); Ath-Thabarani di dalam (al-Mu’jam) al-Awsath (3939), Kitab ad-Du’a’ (911). Abu Nu’aim di dalam al-Hilyah (VI:269). Al-Baihaqi di dalam Syu’ab (al-Iman) (3534), Kitab Fadha’il al-Awqat (14). Al-Khathib al-Baghdadi di dalam al-Muwadhdhih (II:473).      

  • Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulallah bersabda; “Puasalah pada bulan-bulan haram (mulia)”. (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).
  • Imam Ath-Thabrani meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah r.a., “Nabi Saw. tidak menyempurnakan puasa sebulan setelah Ramadhan kecuali pada Rajab dan Sya’ban.” 
  • Al-Syaukani dalam Nailul Authar, (dalam pembahasan puasa sunnah) sabda Nabi Saw., ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang’, itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya. Ditulis juga oleh al-Syaukani, dalam Nailul Authar, bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhamad bin Manshur al-Sam’ani yang mengatakan, tidak ada hadis yang kuat (baca; lemah) yang menunjukkan kesunnahan puasa Rajab secara khusus. Disebutkan juga, bahwa Ibnu Umar memakruhkan puasa Rajab (walau pun ia dibantah oleh Asma binti Abu Bakar). Abu Bakar al-Tarthusi juga mengatakan, puasa Rajab adalah makruh, karena tidak ada dalil yang kuat. Namun demikian, sesuai pendapat al-Syaukani, bila semua hadis yang secara khusus menunjukkan keutamaan bulan Rajab dan disunnahkan puasa di dalamnya kurang kuat untuk dijadikan landasan, maka hadis-hadis yang umum (seperti yang tercantum diatas) itu cukup menjadi hujah atau landasan. Disamping itu, karena juga tidak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab!      

 

Puasa di bulan Rajab dibolehkan (mubah) berdasarkan hadis sahih.. Sebagian sahabat dan salafus saleh memakruhkan jika berpuasa Rajab sebulan penuh dan sebagian lainnya tidak memakruhkannya.             

  • Hadis sahih tentang hal tersebut adalah; Imam Muslim meriwayatkan dalam Sahih-nya, “Telah menceritakan pada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan pada kami Abdullah bin Numairih, telah menceritakan pada kami Ibnu Numair, telah menceritakan pada kami ayah kami, telah menceritakan pada kami Usman bin Hakim Al-Anshari berkata, ‘Aku bertanya pada Sa’id bin Jubair tentang puasa Rajab dan kami saat itu sedang berada di bulan Rajab’, Ia menjawab, Aku mendengar Ibnu Abbas berkata, ‘Adalah Nabi berpuasa (di bulan Rajab) sampai kami berkata nampaknya beliau akan berpuasa (bulan Rajab) seluruhnya, lalu beliau tidak berpuasa sampai kami berkata, Nampaknya beliau tidak akan berpuasa (bulan Rajab) seluruhnya’“.
  • Al-albani sendiri dalam Al-Irwa mengatakan, Hadis di atas di-takhrij oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (VI:139) dan Ahmad (I:26). Saya (Albani) katakan: Bahkan hadis ini juga di-takhrij oleh Imam Abu Ya’la dalam Al-Musnad (VI: 156, no.2547); Al-Baihaqi dalam Al-Kubra (IV:906); dan dalam Syu’abul Iman (VIII:316, no. 3638).

 

Kendati demikian, ada pula hadis-hadis lain yang memakruhkan berpuasa di bulan Rajab jika berpuasa satu bulan penuh (Al-Baihaqi dalam Sya’bul Iman (VIII: 330, no. 3653). Ibnu Umar termasuk yang memakruhkan berpuasa di bulan Rajab walau pun, ia dibantah oleh Asma binti Abu Bakar (HR. Ahmad dalam Al-Musnad I: 180, no. 176; Al-Baihaqi dalam Al-Kubra III:893). Diriwayatkan bahwa Umar bin Khathab r.a. juga tidak menyukai puasa di bulan Rajab (namun kedudukan hadisnya diperbincangkan, karena ada Rijal yang tidak dikenal) (HR. At-Thabrani dalam Al-Ausath XVI:427 no. 7851). Akan tetapi, Imam Al-Haitsami mengomentari hadis ini: “Dalam sanadnya ada Hasan bin Jablah dan aku tidak menemukan orang yang menyebutkan tentang siapa dia ini, selebihnya Rijal-nya Tsiqat.”(Majma’ Az-Zawa’id, III:191).

  • Imam al-Baihaqi (Sunan al-Kubra, 1994, Maktabah Dar al-Baz: Makkah al-Mukarramah, juz.3 hlm 319) meriwayatkan dari Imam Syafi’i: “Telah sampai kepada kami, bahwa Asy-Syafi’i mengatakan, ‘Sesungguhnya doa itu mustajab pada lima malam: malam juma’at, malam Idul Adha, malam Idul Fithri, malam pertama bulan Rajab dan malam nisfu Sya’ban’”.

Berdasarkan keterangan tadi, jelaslah kepada kita bahwa bulan Sya’ban dan bulan Rajab mempunyai dalil-dalil yang tersendiri. Sumber-sumber hukum Islam, dan keterangan baik para ulama Salaf mau pun Khalaf telah memberitahu bahwa terdapat hadis-hadis yang sahih, hasan, mursal, marfu’, maudhu’, dhaif, dhaif jiddan (amat lemah) tentang amalan-amalan seputar bulan Sya’ban dan Rajab. Begitu juga banyak hadis yang beredar mengenai keutamaan bulan Sya’ban dan bulan Rajab.

Oleh karena itu, kita tidak bisa pukul sama rata bahwa semua hadis tentang amalan ibadah pada bulan Sya’ban dan Rajab itu palsu, dhaif ….dan tidak ada yang sahih atau hasan. Setiap isu dan dalil, harus difahami secara menyeluruh lagi mendalam, agar kita tidak tersesat dari landasan yang benar. Jangan lagi pada malam atau bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah Swt. yang masih ada dalilnya, pada hari-hari biasa saja tidak ada larangan untuk shalat sunnah mutlak, puasa atau berdoa kepada Allah Swt., selama shalat sunnah (yang hanya berniat shalat saja) tidak dikerjakan pada waktu-waktu yang di makruhkan oleh agama (ump. seusai shalat Shubuh, seusai shalat Asar dan sebagainya yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqih).

Begitu juga, puasa sunnah (hanya berniat puasa saja) tidak boleh diamalkan pada hari-hari yang dilarang menurut ahli Fiqih. Firman Allah Swt.; ‘Berdoalah pada-Ku Aku akan mengabulkan- nya” juga firman-Nya “Dirikanlah shalat untuk mengingatKu”. Dalam ayat ini, tidak dibatasi lafazh doa yang harus dibaca, begitu juga tidak dibatasi hanya shalat wajib saja. Adapun, mengenai puasa sunnah (yang hanya berniat puasa saja) banyak hadis yang meriwayatkan.                 

Semua ibadah yang diamalkan karena Allah Swt, adalah baik. Bahkan, amalan-amalan yang dikerjakan pada zaman jahiliyyah pun bisa kita tiru kalau mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Sebagai contoh, satu hadis yang diriwayatkan Al-Hakim dari Nubaisyah r.a.;

  • Seorang lelaki bertanya kepada Nabi Saw., ‘Wahai Rasulallah, kami memberi persembahan (kepada berhala) di zaman jahiliyah, apa yang harus dilakukan di bulan Rajab ini’? Beliau Saw. menjawab, Sembelihlah binatang ternak karena Allah, di bulan apapun, lakukanlah kebaikan karena Allah dan berilah makanan’”.  Imam Al-Hakim mengatakan, ‘Isnad hadis ini adalah sahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam sahih mereka berdua’. (Abu Abdillah al-Hakim, al-Mustadrak ala Sahihain, 1990, Cetakan pertama, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah : Beirut, juz 4, hlm 263).
  • Imam Syaukani sendiri dalam Nailul Authar berkata, “Tidak ada dalil yang kuat yang memakruhkan puasa di bulan Rajab begitu juga tidak ada hadis yang kuat (baca; lemah) yang menunjukkan kesunnahan puasa Rajab secara khusus”.

Dengan demikian, amalan ibadah puasa bulan Rajab serta amalan ibadah memperbanyak shalat sunnah atau berzikir adalah amalan mubah, yang sudah pasti juga mendapat pahala dari Allah Swt.. Semua amalan baik walau pun kecil pasti akan dicatat juga sebagai kebaikan, begitu juga amalan buruk walau pun kecil pasti akan dicatat juga sebagai keburukan (Al-Zalzalah [99]:7-8). Begitu pula, menurut kaidah ulama, hadis yang dhaif boleh diamalkan bila mengandung Fadhail ‘Amal.

Orang yang tidak mau beramal pada bulan yang mulia itu juga tidak ada salahnya. Begitu juga orang yang ingin beramal pada bulan yang mulia itu akan mendapat pahala. Karena tidak ada satu amal yang baik (shalat, berzikir, berdoa dan lain-lain) yang tidak diberi pahala oleh Allah Swt..

Semoga kita semua diberi taufiq oleh Allah Swt. Amin. Wallahua’lam.

Silahkan baca uraian pada bab 11