Dalil-dalil yang melarang ziarah kubur

Dalil-dalil yang melarang ziarah kubur

Walaupun, banyak hadis sahih yang mensunnahkan ziarah kubur baik untuk lelaki maupun wanita, masih ada golongan Pengingkar yang melarang ziarah kubur, secara umum berlandaskan pada sejumlah fatwa ulama sebagai berikut:  

  • Fatwa Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhaj as-Sunah jilid 2 hal. 441 menyatakan,“Semua hadis-hadis Nabi yang berkaitan dengan menziarahi kuburnya merupakan hadis yang lemah (Dhaif), bahkan dibuat-buat (Ja’li)”.  
  • Dalam kitab at-Tawasul wal Wasilah156, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Semua hadis yang berkaitan dengan ziarah kubur Nabi adalah hadis lemah, bahkan hadis bohong”.
  • Ungkapan Ibnu Taimiyah ini, diikuti secara fanatik oleh semua ulama Wahabi, termasuk Abdul Aziz bin Baz dalam kitab kumpulan fatwanya yang berjudul Majmuatul Fatawa bin Baz jilid: 2 hal.754.
  • Ada lagi, yang berdalil ayat Al-Quran, “Dan jangan lah kamu sekali-kali mensholatkan (jenazah) seorang wafat di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya” (QS At-Taubah [9]:84). Mereka, menganggap ayat ini, membuktikan akan pelarangan ziarah kubur secara mutlak. Padahal, mayoritas ulama Ahlusunah menafsirkan ayat ini berkaitan dengan kuburan kaum munafik, bukan kaum muslim, apalagi kaum mukmin. (Al-Baidhawi dalam kitab Anwar at-Tanzil jilid 1 hal.416 dan al-Alusi dalam kitab Ruhul Ma’ani jilid 10 hal.155).
  • Ada lagi, yang mengambil dasar dalil hadis Nabi Saw.: “Jangan susah-payah bepergian jauh kecuali ke tiga buah masjid; Al-Masjidul-Haram, masjidku ini (di Madinah) dan Al-Masjidul-Aqsha (di Palestina)”, sebagai dalil melarang ziarah ke makam Nabi Saw. Sebenarnya hadis ini, berkaitan dengan masalah shalat, bukan berkenaan dengan masalah ziarah kubur. Yang dimaksud hadis tersebut, “Jangan bersusah-payah bepergian jauh hanya karena ingin bersembahyang di masjid lain, kecuali tiga masjid yang disebutkan dalam hadis itu’. Karena sholat di semua masjid itu sama pahalanya, kecuali tiga masjid tersebut. Makna ini, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Rasulallah Saw. pernah bersabda: “Orang tidak perlu bepergian jauh dengan niat mendatangi masjid karena ingin menunaikan shalat di dalamnya, kecuali Al-Masjidul-Haram (di Makkah), Al-Masjidul-Aqsha (di Palestina) dan masjidku (di Madinah)”. Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan,hadis ini terkenal luas (masyhur) dan baik.
  • Ada lagi argumen mereka,‘Bahwa ziarah kubur dilarang pada masa awal perkembangan Islam. Alasannya, akan bisa menjatuhkan orang dalam bahaya kesyirikan dan kondisi keimanan seseorang. Jadi sebagai tindakan hati-hati sangatlah wajar jika kita kaum muslimin untuk tidak melakukan ziarah kubur’. Masih ada lagi alasan-alasan mereka yang aneh, untuk melarang ziarah kubur. 

Argumen kelompok Pengingkar di atas, khususnya yang terakhir didorong oleh kekhawatiran berlebihan, dan tidak berdasarkan sunnah Rasulallah Saw. tetapi berdasarkan pikiran, logika dan angan-angan mereka sendiri. Apalagi,  dengan fatwa bid‘ah dhalalah/haram dan bahkan syirik. Ini sangat berbeda dengan pandangan Al-Allamah Syaikh Ibnu Hajar, “Ziarah kubur—apalagi ke makam para wali, dan melakukan perjalanan kesana, merupakan upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt. yang di hukumi sunnah.” (Imam Nawawi, Al-Fatawi Al-Kubro juz.II hal.24).

Bila pemikiran kelompok Pengingkar diatas, dijadikan alasan untuk melarang ziarah kubur, hal itu akan berbenturan pula dengan hadis-hadis sahih Rasulallah Saw yang mensunnahkan ziarah kubur, memberi salam dan berdo’a untuk ahli kubur, dan lain sebagainya. Cukup banyak, riwayat hadis bahwa Rasulallah Saw. dan para sahabatnya ketika ziarah kubur mendoakan dan memberi salam kepada ahli kubur. Begitu juga banyak riwayat yang menyatakan,  para sahabat, para salaf dan khalaf ketika ziarah (makam) Rasulallah Saw. sambil bertawasul/bertabaruk kepada beliau(selengkapnya baca bab tawasul/tabaruk disite ini).

Syariat Islam menyatakan adanya kehidupan ruh-ruh kaum Mukmin yang telah wafat di alam barzakh. Mereka bisa mengerjakan shalat, bisa menghadiri tempat kuburnya, terbang kemana-mana menurut kehendaknya, berdoa kepada Allah Swt. untuk para kerabatnya yang masih hidup, mendengar omongan orang yang hidup dan lain sebagainya. Kalau ruhnya orang mukmin biasa saja bisa berbuat demikian, apalagi dengan Ruhnya Rasulallah Saw., para Nabi, para wali, dan kaum shalihin. Dengan adanya hadis-hadis itu, para penziarah berdoa kepada Allah Swt. untuk ahli kubur tersebut bukan berdoa kepada ahli kubur tetapi untuk ahli kubur; juga bertawasul, bertabaruk dengan penghuni kubur itu,  agar penghuni kubur itu ikut berdoa kepada Allah Swt. untuk penziarah itu. Wallahua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya