Tahlil/Yasinan

Tahlil/Yasinan dan celaan golongan Pengingkar

Hadis-hadis yang telah dikemukakan sebagai dalil juga atas keabsahan/kebolehan pembacaan tahlil. Dalam majlis tahlil tujuan utama setelah membaca ayat-ayat Al-Quran, tasbih, tahmid, shalawat pada Nabi Saw. dan sebagainya, berdoa pada Allah Swt. agar pahala bacaan dihadiahkan khusus untuk si mayat dan untuk semua kaum Muslim. Majlis Tahlil, merupakan sedekah pahala dari bacaan zikir atas nama ahli kubur. Tahlil sebagai amal kebaikan, bukanlah sebuah kewajiban, jika ditinggalkan berdosa.

Dalam tradisi/adat lama, bila ada orang wafat, maka sanak famili dan tetangga berkumpul di rumah duka. Mereka bukannya mendoakan mayat tetapi begadang dengan bermain judi atau mabuk-mabukan atau ke-riang-an lainnya. Tahlil, disiarkan oleh para Walisongo (sembilan wali),  salah satunya ialah Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal Sunan Gunung Jati. Mereka, mengajarkan nilai-nilai Islam secara luwes dan tidak secara frontal menentang tradisi Hindu yang telah mengakar kuat di masyarakat, namun membiarkan tradisi itu berjalan, hanya saja diganti dengan nilai Islam yaitu dengan berzikir dan berdoa untuk mayat.

Memang, berkumpul untuk membaca tahlil adalah sesuatu yang tidak pernah ada pada zamannya Rasulallah Saw.. Itu memang bid‘ah (rekayasa), tetapi bid‘ah hasanah (rekayasa baik). Sifat rekayasa terletak pada bentuk berkumpulnya jama’ah (secara massal), bukan terletak pada bacaan yang dibaca pada majlis tersebut. Apa yang dibaca sebenarnya sejalan dengan kaidah-kaidah umum agama. Karena bacaan yang dibaca di sana banyak diriwayatkan dalam hadis Rasulallah Saw. Tidak lain, semuanya ini sebagai ijtihad para ulama berupa mengumpulkan orang untuk mencintai amal saleh. Adapun, Istilah Selamatan Kewafatan ini, tidak dikenal baik dalam Nash maupun masyarakat seluruh dunia.

 

Bentuk atau cara bacaan tahlil/yasinan itu terserah kepada keluarga si mayat. Pengamalan yang dibaca di Indonesia, Malaysia, Singapora, Yaman Selatan ialah: Pertama-tama berdoa dengan diiringi niat sebagai hadiah pahala bacaan kepada kaum Muslim yang telah lama wafat dan baru saja wafat. Lalu, dilanjutkan dengan membaca sejumlah ayat Al-Quran, antara lain: Surah Al-Fatihah, Surah Yaasin, ayat Kursi (Al-Baqarah [2]:255) dan beberapa ayat lainnya dari Al-Quran, tahlil (pengucapan la ilaha illallah), tasbih (pengucapan subhanallah), shalawat Nabi Saw. dan sebagainya. Setelah itu, ditutup dengan doa kepada Allah Swt. agar pahala bacaan yang telah dibaca itu dihadiahkan untuk orang-orang yang telah wafat terutama dikhususkan untuk orang yang baru wafat itu, yang oleh karenanya berkumpulnya orang-orang ini untuk dia. Juga berdoa pada Allah Swt. agar dosa-dosa kaum Muslim baik yang masih hidup maupun telah wafat diampuni oleh-Nya dan ditambah doa-doa lainnya.

Adapun, mengenai makanan yang dihidangkan oleh si pembuat hajat itu bukanlah esensi dari tahlil. Itu, diadakan hanyalah sebagai amalan suka rela dan niat sebagai amalan sedekah untuk si mayat. Tentu, sangat tidak dianjurkan jika memang tidak ada biaya untuk sampai mengada-adakan makanan dengan cara menghutang. Dengan demikian, amalan tersebut mustahab/baik dan akan sampai pahalanya kepada si mayat. Akan tetapi, bila keluarga si mayat mengamalkannya dengan terpaksa, atau dengan alasan hanya menurut adat istiadat setempat, maka amalan ini menurut sebagian ulama menjadi makruh hukumnya. Poin ini, biasanya juga menjadi perhatian kaum Wahabi-Salafi, dan di jadikannya sebagai dasar untuk mengharamkan tahlil/yasinan.

Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm mengatakan,  disunnahkan agar orang membuat makanan untuk keluarga mayat sehingga dapat menyenangkan mereka. Anjuran ini, juga ada dalam salah satu riwayat hadis Rasulallah Saw. tatkala datang berita wafatnya Jakfar. Rasulallah Saw. bersabda, “Buatkanlah makanan untuk keluarga Jakfar, karena telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan’ (Tartib Musnad Imam Syafi’i, pembahasan tentang shalat, bab ke 23 ‘Shalat jenazah dan hukum-hukumnya’ hadis nomor 602 jilid 1 hal.216). Tetapi, riwayat ini bukan berarti keluarga si mayat haram untuk mengeluarkan jamuan kepada para tamu yang hadir. Begitu juga, orang yang hadir tidak diharamkan untuk menyuap makanan yang disediakan oleh keluarga mayat.

Rasulallah Saw. sendiri setelah mengubur mayat pernah diundang makan oleh keluarga si mayat dan beliau memakannya. Sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Baihaqi dari Ashim bin Kulaib dari ayah seorang sahabat Anshar, berkata, “Kami telah keluar menyertai Rasulallah Saw. mengiringi jenazah, maka kulihat Rasulallah Saw. berpesan kepada penggali kubur, kata Beliau Saw.,  ‘Perluaslah arah kedua kakinya, perluaslah arah kepalanya’. Ketika beliau pulang ditemuilah orang yang mengundang dari pihak istrinya. Beliau pun memenuhi undangan itu, dan kami menyertainya lalu dihidangkan makanan. Maka, beliau Saw. mengulurkan tangannya, kemudian hadirin mengulur- kan tangan mereka, lalu mereka makan, dan aku melihat Rasulallah Saw. mengunyah suapan di mulutnya”. 

Riwayat hadis dari Thawus al-Yamani, seorang tabi`in terkemuka dari kalangan penduduk Yaman yang bertemu dengan para sahabat Nabi Saw.  

  • Imam As-Suyuthi di dalam kitab Al-Hawi li Al-Fatawi, jilid 2 halaman 194 berkata:ان سنة الاطعام سبعة أيام بلغنى أنهامستمر الى الأن بمكة و المدينة فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة الى الأن و انهم أخذوها خلفا عن سلف الى الصدر الأول ِ

“Sesungguhnya, kesunnahan memberikan sedekah makanan  selama tujuh hari merupakan perbuatan yang tetap berlaku sampai sekarang (yaitu masa Imam Suyuthi abad ke-9 H) di Makkah dan Madinah. Yang jelas kebiasaan tersebut tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat sampai sekarang, dan tradisi tersebut diambil dari ulama salaf sejak generasi pertama” (yakni para sahabat).

  • Pendapat Imam As-Suyuthi ini, didasarkan pada sebuah hadis riwayat Imam Ahmad bin Hanbal berkata dalam kitab Az-Zuhd, yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al-Hawi lil Fatawi jilid 2 halaman 178
  • قال الامام أحمد   حدثنا هاشم بن القاسم قال: حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس: ان   الموتى يفتنون فى قبورهم   سبعا فكانوا يستحبون أن يطعموا عنهم تلك الأيام.  قال الحافظ أبو نعيم فى الجنة: حدثنا أبو بكر بن مالك حدثنا            عبد الله بن أحمد بن حنبل حدثنا أبى حدثنا هاشم بن القاسم  حدثنا الأشجعى عن سفيان قال: قال طاوس ان الموتى     يفتنون فى قبورهم سبعا فكانوا يستحبون  أن يطعموا عنهم تلك الأيام                                                                                “Berkata Imam Ahmad bin Hanbal r.a.di dalam kitabnya Az Zuhd menerangkan: Telah menceritakan kepadaku Hasyim bin Qasim yang berkata: Telah menceritakan kepadaku al-Asyja’i dari Sufyan yang berkata: Telah berkata Imam Thawus; Sesungguhnya orang-orang yang wafat akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah wafat selama hari-hari tersebut. Telah berkata al-Hafiz Abu Nu’aim di dalam kitab Al-Jannah: Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar bin Malik, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, telah menceritakan ayahku (Ahmad), telah menceritakan kepadaku Hasyim bin al-Qasim, telah menceritakan kepada aku al-Asyja’i dari Sufyan sambil berkata: Telah berkata Imam Thawus: ‘Sesungguhnya orang-orang yang wafat akan mendapat ujian dari Allah dalam kuburan mereka selama 7 hari. Maka, disunnahkan bagi mereka yang masih hidup mengadakan jamuan makan (sedekah) untuk orang-orang yang sudah wafat selama hari-hari tersebut.’ ”

Hadis Thawus ini, dikategorikan oleh para ulama kita sebagai mursal marfu yang sahih. Dinamakan mursal marfu, karena riwayat ini hanya terhenti kepada Thawus, tanpa diberitahu siapa perawinya dari kalangan sahabat dan seterusnya dari Rasulallah Saw. Para ulama dalam tiga mazhab (Hanafi, Maliki dan Hanbali) menyatakan, hadis mursal marfu ini boleh dijadikan hujjah/dalil secara mutlak. Adapun, ulama mazhab Syafi`i menyatakan boleh dijadikan hujjah jika mempunyai penyokong (selain dari mursal Ibnu Musayyib). Dalam konteks hadis Thawus ini, ada dua riwayat penyokongnya yaitu hadis dari Ubaid dan dari Mujahid.

Sebagaimana yang telah dibahas oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam Al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyah jilid 2 halaman 30. Beliau ini ditanya dengan satu pertanyaan yang berhubungan dengan adanya pendapat ulama yang mengatakan bahwa orang wafat itu difitnah/diuji tujuh hari dalam kubur mereka, apa hadis ini mempunyai asal dari syariat?

  • Imam Ibnu Hajar menjawab: Pendapat tersebut mempunyai asal yang kokoh (ashlun ashilun) dalam syara’ di mana sejumlah ulama telah meriwayatkan; 1). Dari Thawus dengan sanad yang sahih, 2). Dari Ubaid bin Umair, dengan bersanad dalilnya dengan Ibnu Abdul Bar yang merupakan seorang yang lebih terkenal kedudukannya (maqamnya) dari kalangan tabi`in daripada Thawus. Bahkan, ada yang berkata dan menyatakan, Ubaid bin Umair ini, seorang sahabat karena beliau dilahirkan dalam zaman Nabi Saw. dan hidup pada sebagian zaman Sayidina Umar di Makkah. 3). Dari Mujahid. Dan tiga riwayat ini adalah hadis mursal marfu ,karena masalah yang dikatakan itu (berkaitan dengan orang wafat) adalah perkara gaib yang tidak bisa diketahui melalui/secara akal. Apabila, masalah semacam ini datangnya dari tabi`in, maka ia dihukumi mursal marfu’ kepada Rasulallah Saw. sebagaimana dijelaskan oleh para imam hadis:

Hadis Mursal boleh dijadikan hujjah menurut tiga imam (Hanafi, Maliki dan Hanbali) dan juga di sisi kita (yakni Syafi`i) apabila ia (hadis ini) disokong oleh riwayat lain. Dan Mursal Thawus telah disokong dengan dua (riwayat) mursal yang lain (yaitu Mursal Ubaid dan Mursal Mujahid), bahkan jika kita berpendapat bahwa Ubaid itu seorang sahabat, niscaya bersambungan riwayatnya dengan junjungan Nabi Saw.’.Telah sah riwayat Thawus: “Mereka memustahabkan/  membolehkan untuk diberi makan bagi pihak si wafat selama waktu tujuh hari tersebut’.

Imam Ibnu Hajar menyatakan, ’mereka’ disini (dalam kalimat hadis itu--pen) mempunyai dua pengertian di sisi ahli hadis dan ushul. Pengertian pertama, ’mereka’ adalah ’umat pada zaman Nabi Saw. di mana mereka melakukannya dengan diketahui dan di persetujui oleh Nabi Saw.’. Pengertian kedua, mengenai ’mereka’ berarti  ’para sahabat saja tanpa dilanjutkan kepada Nabi Saw.’ (yakni hanya di lakukan oleh para sahabat saja)”.

  • Telah dikemukakan juga oleh al-Hafizh al-Kabir Abul Qasim Ibnu Asakir dalam kitabnya yang berjudul Tabyiin Kazibil Muftari fi ma nusiba ilal Imam Abil Hasan al-Asy’ari, bahwa dia telah mendengar asy-Syaikh al-Faqih Abul-Fath Nashrullah bin Muhamad bin Abdul Qawi al-Mashishi berkata: ”Telah wafat asy-Syaikh Nashr bin Ibrahim al-Maqdisi pada hari Selasa 9 Muharram tahun 490 H di Damsyik. Kami telah berdiri/berhenti/berada dikuburnya selama tujuh malam, membaca Al-Quran pada setiap malam dua puluh kali khatam”.
  • Ibnu Taimiyah pernah ditanyai mengenai (hadis): “Bertahlil 70.000 (tujuh puluh ribu) kali dan dihadiahkan (pahalanya) kepada orang wafat, agar menjadi kebebasan bagi si mayat dari api neraka, adakah hadis tersebut shahih atau tidak? Dan apabila bertahlil seseorang dan dihadiahkan (pahala- nya) kepada orang wafat apakah pahalanya sampai kepada si wafat atau tidak”? Maka dijawab (oleh Ibnu Taimiyah):

‘Apabila seseorang bertahlil dengan yang demikian 70.000 atau kurang atau lebih dan dihadiahkan (pahalanya) kepada si wafat, Allah menjadikannya bermanfaat baginya dengan yang sedemikian itu. Dan hadis tersebut tidaklah shahih dan tidak juga dhaif. Allahlah yang Maha Mengetahui (Majmu al-Fatawa jilid 24 hal.324).

  • Al-Imam Muhamad Asy-Syaukani berkata, “Kebiasaan di sebagian negara mengenai perkumpulan atau pertemuan di masjid, rumah, di kuburan, untuk membaca Al-Quran yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah wafat, tidak diragukan lagi hukumnya boleh (jaiz), jika di dalamnya tidak terdapat kemaksiatan dan kemungkaran, meskipun ia tidak ada penjelasan (secara dzahir) dari syariat. Kegiatan melaksanakan perkumpulan itu, pada dasarnya bukanlah sesuatu yang haram (muharram fi nafsih), apalagi jika didalamnya diisi dengan kegiatan yang dapat menghasilkan ibadah, seperti membaca Al-Quran atau lainnya. Dan, tidaklah tercela menghadiahkan pahala membaca Al-Quran atau lainnya kepada orang yang telah wafat. Bahkan, ada beberapa jenis bacaan yang didasarkan pada hadis sahih (bacalah Surah Yasin kepada orang wafat di antara kamu). Tidak ada bedanya apakah pembacaan surat yasin tersebut dilakukan bersama-sama di dekat mayat atau di atas kuburnya, dan membaca Al-Quran secara keseluruhan atau sebagian, baik dilakukan di masjid atau di rumah”.(Al Rasa’i Al-Salafiyah, 46).

Lebih lanjut, Imam Asy-Syaukani berkata, “Para sahabat juga mengadakan perkumpulan di rumah-rumah mereka atau di dalam masjid, melagukan syair syair, mendiskusikan hadis-hadis dan kemudian mereka makan dan minum, padahal di tengah-tengah mereka ada Nabi Saw. Orang yang berpendapat, melaksanakan perkumpulan yang didalamnya tidak terdapat perbuatan-perbuatan haram adalah bid’ah, maka ia adalah salah, karena sesungguhya bid’ah adalah sesuatu yang dibuat-buat dalam masalah agama, sedangkan perkumpulan ini (yakni semacam tahlil), tidak termasuk bid’ah (membuat ibadah baru)”. (Al Rasa’i Al Salafiyah, 46).

Dengan demikian, amalan pembacaan Al-Quran dan sedekah pemberian makanan yang dihadiahkan pahalanya kepada si mayat itu, telah dikenal sejak zamannya para salaf saleh. Bahkan, Imam Ar-Rafi`i menyatakan, amalan ini masyhur di kalangan para sahabat tanpa di-ingkari. Amalan membaca Al-Quran, memberi makan atau sedekah kewafatan selama tujuh hari mempunyai nash yang kokoh dan merupakan amalan yang dianjurkan oleh generasi pertama Islam. Wallahua'lam.

Silahkan baca uraian selanjutnya