Nama-nama Walisongo dan silsilah mereka

Nama-nama Walisongo dan silsilah mereka

Nama-nama sembilan orang Wali yang sangat dikenal oleh kaum Muslim di Pulau Jawa ialah: 1. Maulana Malik Ibrahim, 2. Sunan Ampel, 3. Sunang Bonang, 4. Sunan Giri, 5. Sunan Drajat, 6 Sunan Kalijaga, 7. Sunan Kudus, 8. Sunan Muria, 9. Sunan Gunung Jati. Riwayat hidup singkat Walisongo ini, sebagai berikut:

 

Maulana Malik Ibrahim

Beliau, adalah Wali pertama dalam jajaran sembilan orang Waliyullah di Jawa. Nama lengkap dan silsilah nasabnya: Maulana Malik Ibrahim bin Barokat Zainul-Alam bin Jamaluddin Al-Husain (Jamaluddin Al-Akbar) bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi bin Muhamad Shahib Marbath bin Ali bin Alawi bin Muhamad bin Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhamad bin Ali bin Jakfar As-Shadiq bin Muhamad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Imam Husain bin Al-Imam Ali bin Abi Thalib k.w. dan Fathimah Az-Zahra r.a. binti Muhamad Rasulallah Saw. Tidak diragukan sama sekali, Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan Alawiyin, yakni keturunan ahlu-bait Rasulallah Saw.

Amat besar jasa dan pengabdian beliau kepada masyarakat, dan mengeluarkan penduduk pulau Jawa yang pada zamannya masih banyak terbenam di dalam kekufuran, yaitu penganut agama Hindu dan Budha atau dua-duanya sekaligus Syiwa Budha. Dari penganut agama Hindu, hanya golongan Waisya, Sudra, dan Paria yang dapat diajak memeluk Islam. Sedangkan, dari kaum Brahma dan Kesatria pada umumnya sukar menerima dakwah Islam, karena agama Islam akan menyamakan kedudukan sosial mereka dengan rakyat biasa, yakni kaum Waisya, Sudra, dan Paria. Oleh karena itu, banyak dari mereka ini yang hijrah ke Pulau Bali untuk mempertahankan agamanya, yang hingga sekarang dikenal dengan agama Hindu Bali.  

Ada yang mengatakan, Maulana Malik Ibrahim berasal dari Persia, bahkan dikatakan juga bahwa beliau nikah dengan saudara wanita Raja Cermin. Akan tetapi, riwayat seperti itu tidak mempunyai dasar yang kuat. Stamford Raffles ,seorang politikus Inggris, dalam bukunya History of Java yang ditulis tahun 1817 M menegaskan bahwa Maulana Malik Maghribi (julukan Maulana Malik Ibrahim) seorang dari keturunan dari (Ali) Zainal Abidin bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib, yakni suami Siti Fathimah binti Muhamad Saw. Mengenai negeri Cermin hingga sekarang tidak dapat dipastikan letak geografisnya. Menurut Raffles, terletak di Hindustan, sedangkan pakar sejarah yang lain mengatakan terletak dikepulauan Indonesia. Beberapa riwayat menuturkan,  Maulana Malik Ibrahim datang dari Gujarat, India. Menurut petunjuk yang terdapat pada batu nisan makam Maulana Malik Ibrahim, beliau wafat dalam tahun 882 H, bertepatan dengan tahun 1419 M dikota Gresik, sebuah desa yang bernama Gapura (sekarang namanya jalan Malik Ibrahim).

 

Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Sunan Ampel dilahirkan sekitar tahun 1381 M di Champa. Mengenai nama Champa, para pakar sejarah berbeda pendapat. Menurut Encyclopaedia Van Nederlandsche Indie, Champa adalah nama sebuah negeri kecil di Kamboja. Akan tetapi, Stamford Raffles mengatakan,negeri Champa bukan di Kamboja, melainkan di Aceh (Sumatera) dan yang sekarang bernama Jeumpa. Pendapat Raffles tampaknya lebih mendekati kebenaran, karena Aceh dalam sejarah terkenal sebagai daerah islam pertama di Indonesia.

Sunan Ampel (Raden Rahmat), adalah saudara sepupu dengan Maulana Malik Ibrahim, di Gresik. Nama asli dan silsilahnya ialah; Raden Rahmat bin Ibrahim Asmoro (Sunan Nggesik, Tuban) bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Syah Jalal …dan silsilah seterusnya sekaitan dengan silsilah Malik Ibrahim.

Beliau menikah dengan puteri tumenggung (hampir sama dengan bupati) Tuban Arya Teja, yang bernama Nyai Ageng Manila. Dari perkawinannya ini, ia beroleh empat orang anak, ialah: Puteri Nyai Ageng Maloka, Maulana Makhdum Ibrahim (dijuluki Sunan Bonang), Syarifuddin (Hasyim) yang dijuluki Sunan Drajat, yang keempat ialah seorang puteri.

Sunan Ampel dalam upayanya mengembangluaskan pemeluk agama Islam di pulau Jawa, menyelenggarakan pondok pesantren di Ampel, Surabaya. Di sanalah, ia mendidik pemuda-pemuda Muslim sebagai calon-calon dai dan mubaligh yang akan menyebar keberbagai daerah. Di antara mereka adalah: Raden Paku yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Giri; Raden Patah (Abdul Fattah) yang kemudian menjadi sultan Bintoro Demak yang bergelar Sultan Alam Akbar Al-Fattah, kerajaan Islam yang pertama di Jawa; Raden Makhdum Ibrahim putra Sunan Ampel sendiri, yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Bonang; Syarifuddin (Hasyim, yang juga putra Sunan Ampel sendiri) yang terkenal juga dengan sebutan Sunan Drajat; Para dai mubaligh yang pernah diutus ke Blambangan untuk mengislamkan rakyat di sana; dan para pejuang Islam lainnya. Semuanya itu,  mantan-mantan murid gemblengan Sunan Ampel. Beliau wafat di Surabaya dan dimakamkan di Ampel, Surabaya, Jawa Timur.

 

Sunan Bonang (Maulana Makhdum Ibrahim)

Beliau, adalah putra Sunan Ampel dan silsilah nasabnya sekaitan dengan silsilah nasab ayahnya. Sunan Bonang sangat giat dan semangat tinggi menyebarkan agama Islam di Jawa Timur, terutama di Tuban dan sekitarnya. Beliau juga menyelenggarakan pendidikan agama Islam dan menempa calon-calon dai serta muballigh yang akan bertugas menyebarkan agama Islam keseluruh pelosok pulau Jawa.

Konon, Sunan Bonang inilah yang menciptakan gending Dhurmo yang menghilangkan kepercayaan tentang adanya hari-hari sial menurut ajaran Hindu dan menghapus nama dewa-dewa sakti. Sebagai penggantinya, Sunan Bonang menanamkan pengertian dan kepercayaan tentang adanya para Malaikat dan para Nabi. Apa saja yang tidak bertentangan dengan ajaran dan kepercayaan Islam, oleh Sunan Bonang ditempuh sebagai jalan untuk mendekatkan rakyat kepada agama Islam. Dimasa hidupnya, beliau turut berperan dan membantu penyelesaian pembangunan Masjid Agung Demak.

Ini merupakan kenyataan yang membuktikan dukungan Sunan Bonang kepada kerajaan Islam yang pertama di Demak. Menurut makalah yang ditulis oleh Drs. Wiji Saksono yang berjudul Islam Menurut Wejangan Walisongo berdasarkan Sumber Sejarah mengetengahkan, bahwa Sunan Bonang yang bergelar Prabu Hanyakrawarti dan berkuasa di dalam Sesuluking Ngelmi lan Agami sama kedudukannya dengan seorang Mufti besar, yang berwenang memecahkan masalah-masalah keagamaan (Islam) dan ilmu. Ajaran-ajaran Sunan Bonang sedikit atau banyak mewakili ajaran ayahnya ,Sunan Ampel, dan saudaranya Sunan Drajat. Sunan Bonang juga seperguruan dengan Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati, yaitu berguru kepada Maulana Ishak. Sunan Bonang adalah, guru pertama dari Sunan Kalijaga.

 

Sunan Giri (Raden Paku)

Nama asli dan silsilah nasabnya adalah: Muhamad Ainul Yakin bin Makhdum Ishak bin Ibrahim Asmoro bin Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Syah Jalal dan silsilah seterusnya sekaitan dengan silsilah Maulana Malik Ibrahim. Beliau ini, keturunan Rasulallah Saw. sebagaimana Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel dan lain-lain.

Sebagaimana yang telah dikemukakan, Sunan Giri adalah salah satu murid Sunan Ampel. Waktu Sunan Giri berguru kepada Sunan Ampel, beliau bertemu dengan Maulana Makhdum Ibrahim (Sunan Bonang), putra Sunan Ampel. Beberapa lama kemudian, Sunan Ampel menyuruh putranya ini bersama Sunan Giri berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah Haji, sambil menuntut ilmu lebih dalam lagi. (info; di Makkah waktu itu, banyak sekali para Pakar Islam yang bermazhab Syafi’iyah, bukan aliran Wahabi/Salafi). Sebelum berangkat menuju Tanah Suci, mereka berdua singgah di Pasai untuk menambah bekal ilmu. Yang dimaksud ilmu dalam hal ini, ialah ilmu ketuhanan menurut ajaran tasawuf. Pada masa itu, konon banyak ulama berdatangan dari Persia dan India ke Pasai. Usai menunaikan ibadah haji, dua orang muda itu pulang ke Jawa. Sunan Giri berhasil memperoleh ilmu ladunni, sehingga gurunya di Pasai memberinya nama Ainul Yakin.

Yang menakjubkan banyak orang, ialah Sunan Giri justru lebih tersohor daripada gurunya. Dari berbagai pelosok, orang berdatangan untuk berguru kepadanya. Bahkan, ada pula yang datang dari kepulauan Maluku. Beberapa daerah di bagian timur Indonesia seperti Madura, Lombok, Makassar, dan lain-lain, bangga memperoleh ilmu dari Sunan Giri. Hingga abad ke 17 M, semua perguruan agama Islam yang diselenggarakan oleh anak cucu keturunan Wali ini–kendati mereka tidak disebut sebagai wali–terkenal dengan nama perguruan ‘Giri’.

Perguruan-perguruan tersebut, banyak dikunjungi oleh anak-anak para pembesar dan tokoh-tokoh terkemuka di Maluku. Di Hitu pernah terjadi upacara penghormatan besar untuk menyambut kedatangan sepucuk surah dari sang Raja Bukit—demikianlah sebutan masyarakat di Hitu kepada salah seorang keturunan Sunan Giri (Giri dari bahasa Sansekerta, artinya Bukit).

Sungguh benar, keturunan Sunan Giri banyak yang beroleh kekuasaan politik penting. Pengaruhnya dalam penobatan raja-raja dipulau Jawa dan sekitarnya amat besar. Sunan Giri dimakamkan dibukit Giri (Gresik). Sepeninggalnya, kegiatan menyebarkan agama Islam diteruskan oleh Sunan Dalem, Sunan Sedam margi dan Sunan Prapen.

 

Sunan Drajat (Maulana Syarifuddin)

Maulana Syarifuddin terkenal dengan sebutan Sunan Drajat (di Sedayu-Lamongan, Jawa Timur,). Ia putra dari Sunan Ampel. Silsilah nasabnya juga sama dengan silsilah ayahnya sendiri yakni Sunan Ampel, sebagai keturunan dari Rasulallah Saw. Dia juga seorang dai yang gigih dan tekun menyebarkan kebenaran agama  Islam kepada rakyat. Beliau juga termasuk pendukung setia Raden Patah dan turut serta mendirikan kerajaan Islam pertama di Demak (Jawa).

Tidak banyak riwayat yang menuturkan kehidupan Sunan Drajat, kapan dilahirkan dan kapan dia wafat. Akan tetapi, beliau dikenal sebagai waliyullah dan orang yang berjiwa sosial. Kasih sayang dan bantuannya kepada orang-orang yang hidup serba kekurangan, orang-orang sengsara, anak-anak telantar dan yatim piatu menjadi buah bibir masyarakat luas. Kekhususan Sunan Drajat, ia memberikan apa saja yang di milikinya bila diminta oleh orang yang membutuhkan. Terdapat juga, riwayat yang mengatakan, bahwa Sunan Drajat itulah yang menciptakan tembang ‘Pangkur’.

 

Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid)

Nama aslinya, Raden Mas Syahid (R.M.Syahid) putra Ki Tumenggung Wilatikta, bupati Tuban. Tentang nasab atau silsilah Sunan Kalijaga, terdapat perbedaan pendapat dikalangan pakar sejarah Walisongo. Sebagian mengatakan, dia seorang dari suku Jawa Asli. Sebagian lagi dari pakar sejarah menegaskan, nama asli Sunan Kalijaga ialah Zainal Abidin dan ia putra Sunan Ampel yakni bersaudara dengan Sunan Drajat, Sunan Bonang, dan Sunan Kudus. Jika itu benar, berarti silsilah nasabnya sama dengan ayahnya yaitu Sunan Ampel yang bersambung sampai Imam Ali bin Abi Thalib k.w. istri Fathimah Az-Zahra binti Muhamad Saw.

Ada sementara penulis yang mengatakan, dia berdarah keturunan Arab yang berpuncak kepada Sayiduna Abbas bin Abdul Muthalib (paman Rasulallah Saw.). Menurut penulis riwayat ini, Sunan Kalijaga adalah anak Tumenggung Wila Tirto, gubernur Jepara, bin Ario Tejo Kusumo, gubernur Laku, bin Ario Nembi bin Lembu Suro, gubernur Surabaya, bin Tejo Tuban bin Khurames bin Abdullah bin Abbas bin Abdullah bin Ahmad bin Jamal bin Hasanuddin bin Arifin bin Ma’ruf bin Abdullah bin Muzakir bin Wakhis bin Abdullah Azhar bin Abbas bin Abdul Muthalib bin Hasyim dan seterusnya. Akan tetapi, pembuktian si penulis seperti itu sukar diterima kebenarannya, dan nama-nama yang disebutnya pun janggal. Sunan Kalijaga kawin dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishak dan beroleh seorang putra dan dua orang puteri, yaitu: Raden Umar Said, kemudian disebut Muria, Dewi Rukayah, dan Dewi Sofiah.

Sunan Kalijaga seorang waliyullah yang sangat besar toleransinya, seorang pujangga (ahli hikmah) dan seorang filosof. Penulis Belanda, menyebutnya Reizende Mubalig (Mubaligh Keliling). Tiap pergi untuk bertabligh selalu di ikuti oleh beberapa orang ningrat (kaum bangsawan Jawa) dan cendekiawan. Mereka ini menaruh simpati besar kepada Sunan Kalijaga, bukan karena Wali ini orang Jawa Asli, melainkan karena ia berpikir kritis, cermat dan berpandangan jauh kedepan.

Dia termasuk Wali yang sangat dihormati dan disegani. Sampai zaman sekarang ini, dia dikenal oleh semua lapisan masyarakat Jawa dari lapisan atas (bangsawan) sampai lapisan bawah (rakyat jelata). Beliau tidak hanya mengislamkan rakyat saja, tetapi juga mahir mengislamkan (memasukkan unsur-unsur dan pandangan Islam) keberbagai cabang kebudayaan Jawa seperti seni musik (gamelan dan gending), seni drama (dalam pementasan wayang kulit) dan kesusasteraan.

Kendati bukan penggemar kesenian, Sunan Kalijaga menguasai dengan baik ilmu karawitan (gending-gending dan lagu Jawa termasuk teori musik gamelan). Dia memesan serancak (seperangkat) gamelan dari seorang empu terkenal. Gamelan itu diberi nama Kyai Sekati, kemudian ditempatkan di serambi masjid Demak. Media dakwah yang bercorak seni rebana dan lagu-lagunya yang berirama Arab, yang sudah mulai dikenal oleh sebagian kaum Muslimin Jawa, dibiarkan terus berlangsung dan Sultan Kalijaga menambah media dakwahnya dengan gamelan. Rebana dan gamelan dihidupkan bersama, terutama pada tiap tahun memperingati hari lahir Nabi Muhamad Saw. Gamelan yang berada di bawah tarub (atap terbuka) di depan serambi masjid Demak, dihiasi dengan berbagai bunga agar menarik perhatian orang banyak, dan gamelan itu ditabuh tiada henti-hentinya.

Sunan Kalijaga, adalah seorang ulama yang sangat besar ketakwaannya kepada Allah Swt. dan mengenal baik apa yang dihalalkan dan yang diharamkan oleh syariat Islam. Mengenai kapan Sunan Kalijaga dilahirkan dan kapan wafatnya, tidak diketahui dengan pasti oleh pakar sejarah Islam di Indonesia. Yang sudah pasti, ialah Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, masih termasuk Kabupaten Demak, disebelah Timur Laut kota Demak.

 

Sunan Kudus (Jakfar Shadiq)

Jakfar Shadiq atau yang terkenal dengan nama Sunan Kudus, adalah putra Raden Usman Haji yang bergelar Sunan Ngudung di Jipang Panolan (ada yang mengatakan letaknya diutara kota Blora). Ada lagi sebagian pakar sejarah Islam di Indonesia yang mengatakan, Sunan Kudus adalah putra Sunan Ampel. Jika ini benar, maka nasab silsilahnya sama dengan nasab silsilah Sunan Ampel dan termasuk keturunan Rasulallah Saw. atau kaum Alawiyin sama dengan tiga saudaranya Sunan Drajat, Sunan Bonang, dan Sunan Kalijaga.

Sunan Kudus, disamping kegiatannya sebagai dai penyebar agama Islam yang teguh berpegang pada ketentuan hukum syariat, seperti halnya para wali lainnya, ia pun mempunyai kedudukan resmi sebagai senopati (Panglima Perang) kerajaan Islam Demak.  Peninggalan Sunan Kudus yang paling menonjol adalah Masjid Agung di kota Kudus. Bahkan, menara yang berada di depan masjid Agung pun diberi nama Kudus. Nama Kudus, diambil dari nama kota Baitul Makdis, yang oleh orang-orang Arab disebut juga dengan nama Al-Quds (bermakna Suci). Beliau  wafat dan dimakamkan di lingkungan Masjid Menara Kudus.

 

Sunan Muria (Raden Umar Said)

Nama aslinya Sunan Muria, adalah Raden Umar Said (ada yang menulis Raden Umar Syahid), termasuk Walisongo yang kondang ditanah Jawa. Beliau, dijuluki Sunan Muria karena ia hidup dilereng gunung Muria dan jenazahnya dimakamkan di sana. Dalam riwayat disebut, Sunan Muria putra Sunan Kalijaga. Dengan demikian, nasab silsilahnya ada dua versi. Versi pertama yaitu yang meriwayatkan Sunan Kalijaga orang Jawa Asli. Versi kedua meriwayatkan, Sunan Kalijaga berdarah keturunan Arab (silahkan rujuk kembali riwayat Sunan Kalijaga).

Sunan Muria, menikah dengan puteri Sunan Ngudung yang bernama Dewi Sujinah. Dari perkawinannya, beroleh seorang putra yang bernama Pangeran Santri, kemudian mendapat nama julukan Sunan Ngadilangu. Sunan Muria termasuk pendukung setia Kerajaan Islam Demak, bahkan bersama-sama Raden Patah dan lainnya, dia turut serta dalam mendirikan kerajaan tersebut dan ikut serta dalam penyempurnaan pembangunan Masjid Agung Demak.

Dalam kegiatan mendakwahkan kebenaran agama Allah ,Islam, ia lebih suka bergerak di desa-desa pedalaman yang letaknya jauh dari keramaian kota. Ia sendiri lebih senang tinggal di desa, dan bergaul sehari-hari dengan rakyat jelata untuk ditarik masuk ke dalam agama Islam. Meski demikian, dia tidak menolak siapa saja yang datang untuk menuntut agama Islam. Kawasan tempat ia berdakwah terletak dilereng gunung Muria, 18 km dari kota Kudus. Dalam mempertahankan kelestarian seni budaya Jawa sebagai media dakwah, dia menciptakan gending (lagu-lagu) Sinom dan Kinanti, yang liriknya antara lain berbunyi: “Islam ageming urip, tan kena tininggala” (Agama Islam adalah busana kehidupan, tidak boleh ditinggalkan).

 

Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Sunan Gunung Jati mempunyai banyak nama, antara lain Syarif Hidayatullah, Makhdum Gunung Jati dan masih banyak nama lainnya, yang paling terkenal ialah dengan nama Faletehan atau Fatahillah. Nasab silsilahnya ialah: Syarif Hidayatullah bin Abdullah (Umdatuddin) bin Ali Nur Alam bin Maulana Jamaluddin Al-Akbar Al-Husain bin Sayid Ahmad Syah Jalal bin Amir Abdul Malik bin Alwi bin Muhamad Shahib Marbath...dan silsilah seterusnya sekaitan dengan silsilah Maulana Malik Ibrahim. Dengan demikian Sunan Gunung Jati, adalah keturunan ahlu-bait Rasulallah Saw, yakni termasuk kaum Alawiyin.

Silsilah dan Nasab Sunan Gunung Jati ini dipandang absah, karena sudah dicocokkan dengan naskah yang ada di Palembang, yaitu silsilah nasab Sunan Palembang dan dengan silsilah nasab yang berada di Banyuwangi. Menurut riwayat, Sunan Gunung Jati datang dari Pasai (Sumatera utara) dan masa itu Pasai diduduki oleh orang-orang Portugis yang datang dari Malaka. Malaka direbut oleh Portugis pada tahun 1511 M.

Sunan Gunung Jati, pernah menuntut ilmu dikota Makkah, kemudian nikah dengan adik perempuan Sultan Trenggono (Sultan Demak ke tiga). Sultan-sultan Banten, adalah keturunan beliau. Pada masa kekuasaan Sultan Trenggono ,berkat kegiatan dan jasa-jasa Sunan Gunung Jati, banyak daerah Jawa Barat berhasil di Islamkan, kemudian dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Demak. Untuk mempertahankan keislaman daerah-daerah itu, Sunan Gunung Jati tetap berada di Jawa.

Pada masa itu, Jawa Barat masih berada dibawah kekuasaan kerajaan Hindu. Demikian pula Banten dan Sunda Kelapa. Atas izin dan persetujuan Sultan Demak, Trenggono, berangkatlah sebuah ekspedisi Islam ke Banten dibawah pimpinan Sunan Gunung Jati. Setelah berjuang sekian lama dengan gigih dan tabah, pada akhirnya Banten jatuh ketangan Muslimin dan Sunda Kelapa pun dapat direbut dari kekuasaan Pajajaran. Dalam tahun 1526 M kolonial Portugis menginjakkan kaki di Sunda Kelapa, tetapi tak lama kemudian mereka dengan kekerasan diusir oleh Sunan Gunung Jati dan para pengikutnya. Serangan Franciso De Sa pun oleh Sunan Gunung Jati dipukul mundur, kemudian mereka lari meninggalkan Sunda Kelapa kembali ke Malaka (1527 M). Demikianlah, perjuangan beliau terhadap golongan kolonial Portugis yang berani mengacak-acak tanah tumpah darahnya di Pasai. Sunan Gunung Jati, wafat dalam tahun 1570 M dan dimakamkan didaerah Cirebon (Jawa Barat).

 

Dari semua uraian tadi ini, dapat kita ambil kesimpulan bahwa  yang mendakwahkan agama Islam pada umumnya orang-orang Arab atau keturunan Arab, yang datang melalui India atau negeri lain. Mereka, bertebaran diberbagai kawasan di Timur dan melalui mereka inilah agama Islam tersebar. Dari semuanya itu, dapat diketahui bahwa para penyebar agama Islam itu banyak terdiri dari kaum Sayid Alawiyin dari Hadramaut.

Sebagaimana diketahui, para Sayid itu pada umumnya dipandang sebagai sumber pemikiran dan sumber kehidupan spiritual dari pusat-pusat agama Islam, baik yang berada dinegeri-negeri Arab, di India maupun dikawasan Timur Jauh. Sedang ada orang yang mengatakan, penyebaran agama Islam yang pertama adalah dari orang-orang keturunan Cina atau keturunan Hindia, adalah tidak benar!  

Adapun, nama-nama yang didahului dengan sebutan Sunan semuanya adalah nama-nama julukan atau gelar yang berasal dari kata Susuhunan, artinya Yang Mulia. Demikian pula gelar Maulana yang bermakna Pemimpin kita. Semua nama julukan atau nama gelar tersebut, diberikan oleh masyarakat muslimin di Jawa pada masa dahulu, karena ketika itu mereka belum mengenal sebutan Sayid, Syarif, dan Habib yang lazim digunakan untuk menyebut nama-nama keturunan ahlu-bait Rasulallah Saw.

Nama julukan suku Alawiyin (keturunan Rasulallah Saw. dari Hadramaut/Yaman selatan)  diambil dari nama datuknya, yaitu Sayid Alwi bin Abdullah. Nasab atau silsilahnya sebagai berikut: Alwi bin Abdullah alias Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Al-Naqib bin Muhamad al-Naqib bin Ali Al-Uraidhi bin Jakfar As-Sadiq bin Muhamad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib k.w. suami Sayidah Fathimah Az-Zahra binti Muhamad Saw.

Di Indonesia, kaum Alawiyin telah banyak berkembang. Sebagian nama suku dari kaum Alawiyin yang terkenal di Indonesia, antara lain: Ahmad Hamid Munfar; Ba Abud; Ba Ali; Ba Aqil Al-Saqqaf; Ba Bareyk; Bafaqih; Bafaraj; Baharun; Ba Hasyim; Al-Bahr; Ba Husein; Al-Baiti; Balakhi; Albar; Barakwan; Barakbah; Basyiban; Basurrah; Ba Umar; Bilfaqih; Bin Abbad; Bin Ahsan; Bin Qutban; Bin Sahl; Bin Syuaib; Bin Thahir; Bin Yahya; Barum; Bu Futim; Bu Numay; Taqawi; Jamal Al-Lail; Alhamid; Alhasni; Alhaneman; Al-Khird; Az-Zahir; As-Sumeyt; As-Saqqaf; As-Sakran; Al-Safi; Al-Masyhur; Maula Al-Dawilah; Maula Khailah; Almuhdhar; Almudhir; Almunawar Al-Saqqaf; Muqaibil; Musawa; Muthabar; Wahth; Alhaddar; Alhadi; Hinduan; As-Sri; As-Syatri; As-Syihab; Syaikh Abu Bakar; Aidid; Aqil bin Salim; Al-Attas; Al-Aydarus; Fad’aq; Fakhr; Alqadri; Aljufri; Al-Junaid; Alhabsyi; Alhaddad; Alkaf; Madehi; Maghribi; Mahdali, Marzaq dan lainnya.   Wallahua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya