Mencium Tangan dan Kaki

Mencium Tangan dan Kaki

Masih banyak orang yang keliru memahami kata ta’zhim (penghormatan tinggi) dan kata ibadah. Kekeliruan ini mengakibatkan pencampuradukkan antara dua kata tersebut. Sehingga menarik kesimpulan pengagungan (ketundukan) berarti penyembahan. Berdasarkan pengertian yang salah ini, mereka berpendapat bahwa bersikap khidmat dan bersikap rendah diri di depan pusara Rasulallah Saw, pusara orang-orang saleh, mencium tangan orang-orang saleh atau para wali, para penguasa maupun orang kaya yang saleh, dianggap juga sebagai sikap berlebih-lebihan (ghuluw), yang dapat menyeret orang pada sesembahan selain Allah Swt. (syirik). Begitu pula  adat istiadat dan tradisi yang berlaku dikalangan masyarakat Jawa. Pada tiap hari Raya pada umumnya orang Jawa–juga yang beragama Islam–berjongkok (bersungkem) didepan ayah ibunya masing-masing.  

Sebenarnya, semua ini sama sekali tidak bisa diartikan penyembahan. Bahkan, tidak terlintas sama sekali dalam hati serta pikiran untuk menyembah orang-orang saleh atau wali, yang dicium tangannya, sebagaimana menyembah Tuhan. Semua itu hanyalah ta’zhim atau tabaruk (mencari keberkahan).

 

Hadis-hadis Rasulallah Saw. dan atsar para sahabat yang berkaitan dengan mencium tangan dan kaki:

  • Kisah dua orang Yahudi yang bertanya kepada Nabi Saw. berkenaan sembilan ayat yang Allah turunkan kepada Nabi Musa a.s. Rasulallah Saw. menjawabnya secara rinci tidak kurang satu pun. Kemudian kedua orang Yahudi tersebut mencium tangan dan kaki baginda Nabi Saw. (HR An-Nasa’i no. 4078, Ibnu Majah 3705 dan Tirmidzi berkata hadis hasan sahih 2733 & 3144 serta di sahihkan juga oleh Imam al-Hakim).
  • Abu asy-Syaikh dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari sahabat Ka’ab Ibnu Malik bahwa ia berkata, “Ketika turun ayat tentang (diterimanya) taubatku, aku mendatangi Rasulallah lalu mencium kedua tangan dan kedua lututnya.”  
  • Dari Buraidah r.a., “Sesungguhnya seorang lelaki datang  kepada Nabi Saw. lantas mencium tangan dan kaki beliau Saw” (HR al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak dan mensahihkannya).
  • Dari Zari (salah satu delegasi suku Abdil Qais) berkata, “Sewaktu kami tiba di Madinah, kami segera turun dari kendaraan kemudian mencium tangan Nabi Saw.”(HR. Imam al-Bukhari dan Abu Daud 5225).
  • Imam al-Bukhari dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad, imam Ahmad, Abu Daud, Ibnu al-Arabi dalam Juzu-nya serta imam al-Baghawi dalam Mu’jam-nya, meriwayatkan bahwa ketika utusan Abdul Qais tiba di Madinah, mereka mencium tangan dan kaki baginda Saw.. Dalil ini, telah diuraikan lagi oleh Ibnu Abdul Bar, dikuatkan dengan dalil lain oleh al-Hafidh Ibnu Hajar dan di keluarkan juga oleh imam Abu Ya’la, Thabarani serta al-Baihaqi dengan sanad yang bagus (jayid).
  • Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Kami menghampiri Nabi Saw., kemudian mencium tangannya”.(HR. Abu Daud 5223).
  • Diriwayatkan oleh imam Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari As-Saddi, berkenaan dengan firman Allah Swt, “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu bertanya (kepada Nabi Saw.) perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kamu akan menyusahkan kamu. (QS.Al-Maidah [5]:101). Setelah mendengar ayat ini, Sayidina Umar r.a. bangun menuju kepada Nabi Saw. dan mencium kaki baginda Rasulallah Saw.” 
  • Didalam kitab Sharim al-Maslul oleh Ibnu Taimiyah yang mengambil riwayat hadis dari Ibnu al-Arabi dan al-Bazar, “Sesungguhnya seorang lelaki menyaksikan mukjizat sebatang pohon datang kepada Rasulallah Saw., kemudian kembali ke tempatnya semula. Lelaki itu berkata sambil berdiri kemudian terus mencium kepala, tangan dan kaki Rasulallah Saw.”

Menurut riwayat Ibnu al-Arabi, “Lelaki tersebut meminta izin kepada Nabi Saw. untuk mencium beliau, Nabi Saw. pun mengizinkan. Lalu lelaki tersebut mencium kepala dan kaki baginda Saw..”

Ada sebagian orang mengatakan, kalau cium tangan dan kaki Nabi Saw. dibolehkan karena beliau adalah Rasulallah Saw., tetapi kalau selain beliau Saw. hukumnya haram. Pikiran semacm itu, adalah perkiraan mereka sendiri. Dan sangat jauh sekali dari kenyataan, karena kalau mencium tangan dan kaki itu dilarang oleh syariat Islam, Rasulallah Saw. adalah orang yang pertama kali melarang perlakuan para sahabat terhadap Nabi Saw.. Karena Rasulallah Saw. adalah pembawa syariat Islam dan sudah tentu sebagai contoh bagi umatnya. Bila hal itu, khusus untuk beliau Saw., beliau juga akan menjelaskannya. Wallahua'lam.

Silahkan ikuti kajian berikutnya.