Pendapat (Fatwa) Para Pakar Islam

Pendapat (Fatwa) Para Pakar Islam

Seorang ulama terkenal, Imam Taqiyudin Ali bin Abdul-Kafi As-Sabki (wafat tahun 756 H) menulis kitab khusus tentang kemuliaan dan kebesaran Nabi Muhamad Saw. Bahkan, ia menfatwakan, barangsiapa menghadiri pertemuan untuk mendengarkan riwayat maulid Nabi Muhamad Saw. serta keagungan maknanya ia memperoleh barokah dan ganjaran pahala.

  • Imam Syihabudin Ahmad bin Muhamad bin Ali bin Hajar Al-Haitsami As-Sa’di Al-Anshari Asy-Syafi’i (wafat tahun 973 H) menulis kitab khusus mengenai kemuliaan Nabi Saw.. Ia memandang hari Maulid Nabi Saw. sebagai hari raya besar yang penuh barokah dan kebajikan. Imam Abdur-Rabi Sulaiman At-Thufi As-Shurshuri Al-Hanbali terkenal dengan nama Ibnul-Buqi (wafat tahun 716 H), menulis sajak dan syair-syair  bertema pujian memuliakan keagungan Nabi Muhamad Saw.. Tiap hari maulid Nabi, para pemimpin Muslim berkumpul di rumahnya. Ia lalu minta salah seorang dari hadirin supaya mendendangkan syair-syair  Al-Buqi itu.
  • Dalam kitab Majmu Fatawa Ibnu Taimiyah, jilid 23, hal. 133, dan kitabnya Iqtidha al-Shirat al-Mustaqim, hal.294-295, bab ‘Ma Uhditsa min al-Ayad al-Zamaniyah wa al-Makaniyah’ (Perayaan yang diada-adakan pada waktu dan tempat tertentu), Ibnu Taimiyah mengatakan, “Memuliakan hari maulid Nabi dan menyelenggarakan peringatannya secara rutin banyak dilakukan orang. Mengingat maksudnya yang baik dan bertujuan memuliakan Rasulallah Saw., adalah layak jika dalam hal itu mereka beroleh pahala besar. Sebagaimana telah saya katakana kepada anda, bahwa bisa jadi sesuatu yang dianggap buruk oleh seseorang mukmin yang lurus ada kalanya dianggap baik oleh orang lain. Demikian halnya apa yang diada-adakan oleh sebagian orang dengan menganalogikan pada orang-orang Nasrani yang merayakan kelahiran Isa, atau karena rasa cinta kepada Nabi Saw. dan untuk memujanya, Allah Swt. akan memberi mereka pahala atas cinta dan usahanya ini, bukan atas kenyataan bahwa itu suatu bid‘ah …”.

Dalam teks yang disebutkan di atas, Ibnu Taimiyah juga menyebutkan fatwa Imam Ahmad Ibnu Hanbal, tatkala orang-orang bercerita kepada Imam Ahmad mengenai seorang pangeran yang membelanjakan 1000 dinar untuk membuat hiasan Al-Quran, beliau (Imam Ahmad) mengatakan: “Itulah tempat terbaik baginya untuk menggunakan emas”.

Seorang editor majalah kelompok Salafi-Wahabi, Iqtidha, Muhamad al-Fiqqi, menulis dua halaman catatan kaki untuk teks tersebut.  Di dalamnya ia berteriak keras, “Kaifa yakunu lahum tsawab ala hadza?.. Ayyu ijtihad fi hadza”? (Bagaimana mungkin mereka dapat memperoleh pahala untuk hal tersebut? … Ijtihad macam apa ini?).

Para ulama Salafi kontemporer bisa dikatakan berlebihan dan menyimpang menyangkut peringatan maulid ini. Mereka mengubah sikap Ibnu Taimiyah tersebut dengan ketetapan hukum mereka sendiri. Padahal, Ibnu Taimiyah adalah tokoh ulama panutan golongan ini.

Pengarang Salafi yang lain ,Manshur Salman, juga bersikap serupa di atas, ketika menerangkan isi kitab Al-Ba‘its ala Inkar al-Bida karya Abu Syamah. Karena Abu Syamah bukannya mengkritisi peringatan maulid, tetapi justru menyatakan, ‘Sungguh itu (peringatan maulidin Nabi Saw.) suatu bid‘ah yang patut dipuji dan diberkati’.

Pembolehan peringatan hari kelahiran Nabi Saw. oleh Ibnu Taimiyah ini─yang oleh para pendukungnya telah diartikan secara keliru sebagai suatu kritikan atas peringatan maulid─telah disebut sebut oleh para ulama Sunni seperti: Sa‘id Hawwa dalam al-Sirah bi Lughat al-Syi‘r wa al-Hubb; Ibnu Alawi al-Maliki dalam, Mafahim Yajibu an Tushahhah; as-Sayid Hasyim al-Rifa‘i dalam Adillat Ahl al-Sunnah wa al-Jama‘ah; dan Abdal-Hay al-Amruni dan Abdal-Karim Murad dalam Hawla Kitab al-Hiwar ma‘a al-Malik.

Dengan demikian, menurut Ibnu Taimiyah, merayakan dan menghormati kelahiran Nabi Saw. dan menjadikannya sebagai saat-saat yang dihormati, sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang, adalah baik, dan terdapat pahala yang besar, karena niat baik mereka dalam menghorwafat Nabi Saw..

Anehnya, ada ulama dari kelompok Salafi-Wahabi mengatakan, sesungguhnya binatang yang disembelih untuk  acara maulid, lebih haram daripada Babi! Sedangkan, dalam kitab Muallafaat (Muhamad Ibnul Wahab) jilid 6 hal.227 mengatakan, '....dan manusia menjadi saksi atas kamu, bahwa kamu pergi ke majlis maulid dan menghadiri majlis mereka dan membacakannya kepada mereka dan kamu makan makanan yang disediakan di majlis itu, maka sekiranya kamu mengetahui ini adalah Kufur (keluar  dari agama)'. Ucapan imam golongan Wahabi ini, berseberangan dengan ucapan ulama yang paling mereka andalkan dan juluki Syeikhul Islam, yaitu Syeikh Ibnu Taimiyah.

 

  • Al-Hafizh Al-Qasthalani, dalam Al-Mawahibul ladun-niyah juz 1 hal. 148 cet. almaktab al-Islam berkata, “Maka Allah akan menurunkan rahmat-Nya kepada orang yang menjadikan kelahiran Nabi Saw. sebagai hari besar”.
  • Al-Hafizh Assakhawi, dalam Sirah al-Halabiyah berkata, “Tidak dilaksanakan maulid oleh salaf hingga abad ketiga, tetapi dilaksanakan setelahnya dan tetap ummat Islam diseluruh pelosok dunia melaksanakan dan bersedekah pada malamnya dengan berbagai macam sedekah dan memperhatikan bacaan maulid dan terlimpah terhadap mereka keberkahan yang sangat besar”
  • Imam Al-Hafizh Ibnul Jauzi, dengan kitab maulidnya yang terkenal al-arus berkata tentang pembacaan maulid sebagai berikut, “Sesungguhnya membawa keselamatan tahun itu, dan berita gembira dengan tercapai semua maksud dan keinginan bagi siapa yang membacanya dan merayakannya”
  • Imam Al-Hafizh Ibnu Abidin dalam syarahnya maulid Ibnu Hajar berkata, “Ketahuilah salah satu bid‘ah hasanah adalah pelaksanaan maulid di bulan kelahiran Nabi Saw.”.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani, dalam al-Durar al-Kaminah fi ‘Ayn al-Mi’ah al-Tsaminah menyebutkan, Ibnu Katsir pada hari-hari terakhir hayatnya, menulis sebuah kitab berjudul Mawlid Rasulallah yang tersebar luas. Kitab tersebut, menyebutkan kebolehan dan anjuran memperingati maulid Nabi Saw.” (Ibnu Katsir, Mawlid Rasulallah, editor Shalah al-Din Munajjad [cet. Dar al-Kitab al-Jadid, Beirut], 1961). Dalam kitab Ibnu Katsir tersebut, mengatakan, “Malam kelahiran Nabi Saw. adalah malam yang agung, mulia, diberkati, dan suci, suatu malam yang membahagiakan bagi orang-orang beriman, bersih, bersinar cemerlang, dan tak ternilai harga- nya” (ibid, hal.19)  
  • Jalaluddin al-Suyuthi berkata, Syaikh Islam, seorang tokoh hadis pada masanya (Ahmad Ibnu Hajar Al-Asqalani), pernah ditanya mengenai kebiasaan memperingati kelahiran Nabi Saw.. Beliau memberikan jawaban sebagai berikut; “Sehubungan dengan asal muasal dari kebiasaan memperingati kelahiran Nabi Saw, itu merupakan suatu bid‘ah yang kita tidak menerimanya dari para saleh di antara kaum muslim terdahulu pada masa tiga abad pertama Hijriah. Meskipun demikian, praktik tersebut melibatkan bentuk-bentuk yang terpuji dan bentuk-bentuk yang tak terpuji.  

Apabila dalam praktik peringatan tersebut, orang-orang hanya melakukan hal-hal terpuji saja, dan tidak melakukan yang sebaliknya, maka itu bid‘ah yang baik.Tetapi, bila tidak demikian, maka tidak baik. Dalil dasar dari nash yang bisa dipercaya untuk merujuk keabsahannya telah saya temukan, yaitu suatu hadis sahih yang dimuat dalam kumpulan Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim, bahwa Nabi Saw. datang ke Madinah dan menemukan orang-orang Yahudi berpuasa pada tanggal sepuluh Muharam (Asyura), maka beliau bertanya kepada mereka tentang hari itu dan mereka menjawab: 'Hari ini, adalah hari Allah Swt menenggelamkan Firaun dan menyelamatkan Musa a.s., maka kami pun berpuasa untuk menyatakan syukur kepada Allah Swt.’  

Dalil ini, menunjukkan keabsahan berterima kasih kepada Allah Swt. atas karunia-Nya yang diberikan pada suatu hari tertentu, baik dalam bentuk pemberian nikmat maupun penghindaran dari bencana. Kita mengulang rasa syukur kita dalam peringatan hari tersebut setiap tahun, dengan menyatakan syukur kepada Allah Swt. dalam berbagai bentuk peribadatan seperti sujud syukur, puasa, memberi sedekah atau membaca Al-Quran. …Lalu, karunia apa lagi yang lebih besar daripada kelahiran Nabi Saw.?  Melihat kenyataan demikian, kita seharusnya memastikan untuk memperingatinya pada hari yang sama, sehingga sesuai dengan cerita tentang Musa as. dan tanggal sepuluh Muharam di atas. Akan tetapi, orang yang tidak melihat persoalan ini penting, merayakannya pada hari apa saja dalam bulan itu, bahkan sebagian meluaskannya lagi pada hari apa saja sepanjang tahun, pengecualian apapun dapat diambil dalam pandangan semacam ini”. (Al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawi).

  • Dalam pandangan mufti Mekah, Ahmad Ibnu Zaini Dahlan, “Memperingati hari kelahiran Nabi Saw. dan mengingat Nabi Saw. itu dibolehkan oleh ulama muslim.” (Al-Sirah al-Nabawiyah wa al-Atsar al-Nabawiyah, hal. 51—Kutipan-kutipan selanjutnya kebanyakan diambil dari karya ini).
  • Imam al-Subki, mengatakan; “Pada saat kita merayakan hari kelahiran Nabi Saw, rasa persaudaraan yang kuat merasuk ke hati kita, dan kita merasakan sesuatu yang khas”.
  • Imam Al-Jauzi (Al-Hafizh Jamaluddin Abdurrahman Al-Jauzi) seorang imam mazhab Hanbali wafat tahun 567 H mengatakan, “Manfaat istimewa yang terkandung dalam peringatan maulid Nabi Saw. ialah timbulnya perasaan tenteram di samping kegembiraan yang mengantarkan umat Islam kepada tujuan luhur. Orang-orang pada masa Daulat Abbasiyah dahulu memperingati hari maulid Nabi Saw. dengan berbuat kebajikan menurut kemampuan masing-masing, seperti mengeluarkan shadaqah, infak dan lain-lain.

Selain hari maulid, mereka juga memperingati hari-hari bersejarah lainnya, misalnya hari keberadaan Nabi Saw. di dalam goa Hira sewaktu perjalanan hijrah ke Madinah. Penduduk Bagdad memperingati dua hari bersejarah itu dengan riang gembira, berpakaian serba bagus dan banyak berinfak.”

  • Imam al-Syaukani, dalam al-Badr al-Thali‘ mengatakan, “Dibolehkan merayakan hari kelahiran Nabi Saw.”. Beliau pun mengatakan, Mulah Ali al-Qari memiliki pandangan yang sama dalam kitabnya, Al-Maurid al-Rawi fi al-Maulid al-Nabawi’, yang ditulis secara khusus untuk mendukung perayaan hari kelahiran Nabi Saw..
  • Imam Abu Syamah ,guru Imam al-Nawawi, dalam kitabnya tentang bid‘ah, al-Ba‘its ala Inkar al-Bida‘ wa al-Hawadis, berkata: “Bid‘ah yang paling baik pada masa kita sekarang ini adalah peringatan hari kelahiran Nabi Saw.. Pada hari tersebut orang-orang memberikan banyak sumbangan, melakukan banyak ibadah, menunjukkan rasa cinta yang besar kepada Nabi Saw., dan menyatakan banyak syukur kepada Allah Swt. karena telah mengutus Rasul-Nya kepada mereka, untuk menjaga mereka agar mengikuti sunah dan syariah Islam”.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Haitami, mengatakan, Sebagai- mana orang-orang Yahudi merayakan Hari Asyura dengan berpuasa untuk bersyukur kepada Allah Swt, kita pun mesti merayakan maulid.

(Selayaknya) orang bersyukur kepada Allah Swt. atas rahmat yang telah Dia berikan pada suatu hari tertentu, baik berupa kebaikan yang besar ataupun keterhindaran dari bencana.  Hari tersebut dirayakan setiap tahun setelah peristiwa itu. Ungkapan syukur terlahir dalam berbagai bentuk peribadatan seperti sujud syukur, puasa, sedekah, dan membaca Al-Quran. Lantas, kebaikan apa lagi yang lebih besar dari kedatangan Nabi Saw., seorang Nabi penyebar rahmat, pada hari maulid?

 

Imam Nawawi (Al-Hafizh Muhyiddin bin Syarat An-Nawawi),  wafat dalam tahun 676 H, mensunnahkan peringatan maulid Nabi Saw.. Fatwa Imam Nawawi tersebut diperkuat oleh Imam Al-Asqalani (Al-Hafizh Abul-Fadhl Al-Imam bin Hajar Al-Asqalani) yang wafat dalam tahun 852H. Dengan berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan. Imam Al-Asqalani memastikan, memperingati hari maulid Nabi Saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau merupakan amalan yang mendatangkan pahala.

Soal bentuk dan cara pelaksanaan peringatan maulid dapat selalu berubah. Syariat Islam hanya menetapkan kewajiban mengingat nikmat Allah Swt., dan ini dapat dilaksanakan pada tiap kesempatan dan tiap keadaan. Adapun, bentuk dan caranya boleh saja mengikuti kelaziman yang biasa berlaku dalam masyarakat, asalkan tidak menyalahi prinsip-prinsip ajaran agama Islam.

                      

  • Doktor Abdul Ghaffar Muhamad Aziz, guru besar ilmu da’wah pada Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo, dalam makalahnya mengenai maulid yang dimuat di majalah Al-Islam antara lain:

“Memang ada sementara orang yang berpendapat terlampau keras dan secara mutlak tidak membenarkan adanya peringatan-peringatan keagamaan dalam bentuk apa pun juga dan menganggapnya bid‘ah yang tidak diakui oleh agama. Akan tetapi, saya berpendapat, peringatan–peringatan itu tidak ada buruknya, asal saja diselenggarakan menurut cara-cara yang sesuai dengan ajaran syariat.

Tidak ada salahnya kalau peringatan Maulid, Isra Mikraj,  atau peringatan-peringatan keagamaan lainnya, dengan mengadakan pidato-pidato, ceramah-ceramah dan pelajaran khusus, baik dimasjid-masjid, balai-balai pertemuan maupun lewat segala macam mas media. Peringatan, akan dapat mengingatkan kaum muslimin pada soal-soal yang bersangkutan dengan agama.

Selama peringatan-peringatan itu berlangsung, mereka sekurang-kurangnya memperoleh kesegaran jiwa dan melepaskan sementara kesibukan sehari-hari mengenai urusan hidup kebendaan yang tiada habis-habisnya dan terus-menerus. Mengenai manfaat peringatan, Allah Swt. telah berfirman: ‘Dan ingatkanlah, karena peringatan itu sesungguhnya bermanfaat bagi orang-orang yang beriman’, (Adz-Dzariyat [51]: 55)

Peringatan keagamaan yang diselenggarakan tanpa berlebih-lebihan atau pemborosan yang tidak perlu, dapat dipandang sebagai sunnah hasanah (perjalanan baik) yang diakui oleh hukum syara’ bahkan diterima dengan baik dalam zaman kita sekarang. Zaman sekarang ini seakan-akan Allah Swt. hendak meratakan dan melestarikan berlangsungnya peringatan-peringatan keagama- an  itu sepanjang tahun. Seakan-akan Allah menghendaki supaya setiap orang Muslim dari saat ke saat selalu berada di dalam suasana Al-Quran, suasana sunnah Rasul-Nya dan suasana kehidupan Islam, yang dari suasana segar seperti itu Allah menghendaki kebaikan bagi umat manusia.

Mulai dari bulan Muharram dengan segala kegiatan yang ada di dalamnya sampai dengan bulan Rabiul Awal yang penuh peringatan-peringatan Maulid Nabi Saw, sampai bulan Rajab dengan peringatan Isra Mikraj, terus hingga bulan Sya’ban dan bulan turunnya Al-Quran Ramadhan disambung lagi dengan tiga bulan musim haji yaitu Syawal, Dzul Qi’dah dan Dzul Hijjah. Demikianlah, suasana keagamaan berlangsung terus menerus dan berulang-ulang setiap tahun.          

Pendapat sementara orang yang memandang peringatan maulid Nabi Saw. atau peringatan keagamaan lainnya sebagai bid‘ah, terletak pada pengertian atau ta’rif tentang bid‘ah dan sunnah. Mereka mengatakan bahwa ‘setiap bid‘ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka’ sebagaimana yang terdapat di dalam hadis sahih. Akan tetapi, mereka itu melupakan sesuatu yang amat penting yaitu bid‘ah yang disebut sesat (dhalalah) dan yang tempatnya di neraka bukan lain adalah bid‘ah yang diisyaratkan oleh Al-Quran, yakni firman Allah Swt.: ‘Mereka mensyariatkan sebagian dari agama sesuatu yang tidak diizinkan Allah’ (Asy-Syura [42]: 21). Jadi bid‘ah yang terlarang itu ialah penambahan bentuk peribadatan (yang pokok--pen) di dalam agama. Hal ini, sama sekali tidak terdapat dalam peringatan keagamaan yang diadakan, seperti peringatan maulid Nabi Saw. dan peringatan keagamaan lainnya”.

As-Sayid Muhamad bin Alawi Al-Maliki ,rahimahullah,  seorang ulama yang memegang teguh tauhid tidak luput dari tuduhan kafir ulama Salafi/Wahabi. Hal ini, karena beliau tidak sefaham dengan pendapat kelompok Salafi/Wahabi. Makalah beliau Haulal–Ihtifal Bil-Maulidin Nabawi asy-Syarif (Sekitar Peringatan Maulid Nabi yang Mulia), merupakan salah satu karya tulis, dari beberapa karya ulama dan penyair Islam kenamaan, yang dimuat dalam buku koleksi tulisan pilihan dari para ulama dan para penyair Islam yang berjudul Baaqah Ithrah, cetakan pertama tahun 1983, yang terbit di Makkah.

Beliau, sempat berkomentar secara singkatnya; ‘tidak dapat disangkal, mengumpulkan orang banyak untuk memperingati Maulid, merupakan salah satu cara terpenting mendakwahkan kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Ini, merupakan kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Dalam kesempatan itu, para ulama dapat mengingatkan umat kepada junjungan kita Rasulallah Saw.. Peringatan maulid Nabi Saw. tidak lain memantulkan kegembiraan kaum muslimin menyambut junjungan mereka Rasulallah Saw.. Bahkan, orang kafir ,seperti Abu Lahab, pun beroleh manfaat disebabkan rasa gembira menyambut kelahiran beliau.

Sebuah hadis dalam Sahih Bukhari menerangkan bahwa setiap hari Senin Abu Lahab diringankan siksanya, karena ia memerdekakan budak perempuannya, Tsuwaibah, sebagai tanda kegembiraannya menyambut kelahiran putera saudaranya Abdullah bin Abdul Muthalib, yaitu Muhamad Saw.. Jadi, jika orang kafir saja beroleh manfaat dari kegembiraannya menyambut kelahiran Rasulallah Saw., apalagi orang yang beriman.

Al-Hafizh Syamsuddin Muhamad bin Nashiruddin al-Dimasyqi juga berkata, “Jika orang kafir yang nyata-nyata telah dicela oleh Allah melalui firman-Nya, ‘Celakalah dua tangan Abu Lahab,’  serta dia kekal dalam neraka, memperoleh keringanan siksa setiap hari Senin lantaran kegembiraannya dengan kelahiran Nabi Muhamad Saw., lalu bagaimana dengan orang yang sepanjang hidupnya bergembira dengan kelahiran beliau dan dia pun wafat dalam keadaan bertauhid?” 

Pernyataan senang dan gembira menyambut kelahiran Nabi Saw. merupakan tuntunan Al-Quran. Allah Swt. berfirman;                                                                                                      قُلِ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَالِكَ فَلْـيَفْرَحُوا 

“Katakanlah: ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendak- lah (dengan itu) mereka bergembira.” (QS. Yunus [10 ]: 58)

Allah Swt. memerintahkan kita bergembira atas rahmat-Nya dan Nabi Muhamad Saw. jelas merupakan rahmat Allah terbesar bagi kita dan semesta alam, sebagaimana firman-Nya,

                       وَمَا أرْسَلـْنَاكَ إلاَ رَحْمَةً لِلعَالَمِـيْنَ

“Dan Kami tidak mengutusmu kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta.” (QS.Al-Anbiya [21 ]:107)

Rasulallah Saw. sendiri menghormati hari kelahiran beliau, dan bersyukur kepada Allah atas karunia nikmat-Nya yang besar itu. Cara beliau menghormati hari kelahirannya dengan berpuasa. Hadis dari Abu Qatadah yang mengatakan, ketika Rasulallah Saw. ditanya oleh beberapa orang sahabat mengenai puasa beliau tiap hari Senin, beliau menjawab:

                ذَالِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ اَوْ اُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْه                 ِ

“Pada hari itu, aku dilahirkan dan pada hari itu, juga Allah Swt. menurunkan wahyu kepadaku”. (HR Sahih Muslim).

Dalam pertanyaan tersebut, Rasulallah Saw. tidak menjawab, ‘Puasa hari senin itu mulia dan boleh-boleh saja..’. Ini menunjukkan, hari kelahiran beliau Saw. mempunyai nilai tambahan daripada hari-hari lainnya. Jelaslah, bahwa Nabi Saw. memperhatikan hari kelahiran beliau Saw. dan hari diturunkannya wahyu kepada beliau Saw, karena memang merupakan bermulanya sejarah bangkitnya islam. Puasa yang beliau lakukan itu merupakan cara beliau memperingati hari maulidnya sendiri. Memang tidak berupa perayaan, tetapi makna dan tujuannya adalah sama, yaitu Peringatan. Jadi, peringatan dapat dilakukan dengan cara berpuasa, dengan memberi makan kepada pihak yang membutuhkan, dengan berkumpul untuk berzikir dan bershalawat atau dengan menguraikan keagungan perilaku beliau sebagai manusia termulia dan sebagainya.

Silahkan baca uraian selanjutnya