Dalil-dalil zikir, termasuk zikir secara jahar (agak keras)

Dalil-dalil zikir termasuk dalil zikir secara jahar (agak keras)

Ditemukan banyak ayat Al-Quran yang memerintahkan kaum Muslim untuk berzikir, antara lain, “Hai orang-orang yang beriman! Berzikirlah kamu pada Allah sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah pada-Nya  diwaktu  pagi mau pun  petang!”. (QS Al-Ahzab:41-42); “Berzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (QS Al-Baqarah [2]:152). “...Yakni orang-orang zikir pada Allah baik diwaktu berdiri, ketika duduk dan diwaktu berbaring”.  (QS Ali Imran [3]:191); “Yaitu orang-orang yang beriman, dan hati mereka aman tenteram dengan zikir pada Allah. Ingatlah dengan zikir pada Allah itu, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram”. (QS Ar-Rad [13]:28).

Dalam hadis qudsi, Allah Swt. berfirman,


اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْـدِي بِي, وَاَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكـرُنِي, فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي  وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ                    

خَيْرٍ مِنْهُ وَإنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِرَاعًا   وَإنِ اقْتَرَبَ إلَيَّ   ذِرَاعًا      

     ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ إلَيْهِ بَاعًـا وَإنْ أتَانِيْ يَمْشِي أتَيْتُهُ هَرْوَلَة

 

“Aku ini menurut prasangka hambaKu, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya (hatinya), maka Aku akan ingat pula padanya dalam diriKu (hati-Ku), jika ia mengingat-Ku di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak (al-mala’) yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR. Bukhari  [jilid 12, hal. 384], Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).  

  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Al-Fath Al-Bari jilid 13, hal.387 mengatakan, “Sebagian ahli sunnah memberikan jawaban mengenai hadis di atas, bahwa kemungkinan yang dimaksud dengan al-mala’ (sekolompok makhluk) yang lebih baik daripada kelompok manusia muslim yang sedang berzikir, adalah kelompok para nabi dan syuhada, karena mereka–sebagaimana diberitakan Al-Quran–hidup di sisi Tuhannya (bahkan diberi rezeki).”
  • Allamah Al-Jazari dalam kitabnya Miftahul Hishnil Hashin berkata,“Hadis di atas merupakan dalil dibolehkannya berzikir dengan jahar (suara keras).”
  • Imam Suyuthi berkata, “Zikir di hadapan orang-orang tentulah zikir jahar, maka hadis itulah dalil yang membolehkannya’.
  • Al-Hafizh Al-Suyuti dalam Al-Hawi Lil Fatawi jilid 1, halaman 389 mengatakan, “Dan berzikir dalam sekelompok orang itu tidak terbukti kecuali dengan jahar.”

 

Hadis qudsi dari Mu’adz bin Anas, secara marfu’, Allah Swt. berfirman, قَالَ اللهُ تَعَالَى: لاَ يَذْكُرُنِي اَحَدٌ فِى نفْسِهِ اِلاَّ ذَكّرْتُهُ فِي مَلاٍ مِنْ مَلاَئِكَتِي وَلاَيَذْكُرُنِي فِي مَلاٍ اِلاَّ ذَكَرْتُهُ فِي المَلاِ الاَعْلَي                           

“Tidaklah seseorang berzikir pada-Ku dalam hatinya kecuali Aku pun akan berzikir untuknya di hadapan para malaikat-Ku. Dan tidak juga seseorang berzikir pada-Ku di hadapan orang-orang kecuali Aku pun akan berzikir untuknya di tempat yang tertinggi’” (HR. Thabrani).

Rasulallah Saw. bersabda,             

                         سَبَقَ المُفَرِّدُونَ قاَلُوْا وَمَا المُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللهِ ا قَالَ ; الذَّاكِرُونَ اللهَ  وَالذَّاكِرَاتِ   

 “Telah majulah orang-orang istimewa! Tanya mereka ‘Siapakah orang-orang istimewa?’ Ujar Nabi Saw. ‘Mereka ialah orang-orang yang berzikir baik laki-laki maupun wanita’”  (HR. Muslim).

  • Perumpamaan orang-orang yang zikir pada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang wafat! (HR.Bukhari).
  • Perumpamaan perbedaan antara rumah yang dipergunakan zikir kepada Allah didalamnya dengan rumah yang tidak ada zikrullah didalamnya, bagaikan perbedaan antara hidup dengan wafat”. (HR Muslim).
  • Hadis dari Abu Sa’id Khudri dan Abu Hurairah r.a., mereka mendengar sendiri dari Nabi Saw. bersabda,

      لاَ يَقْـعُدُ قَوْمٌ يَذْكُـرُنَ اللهَ تَعَالَى إلاَّ حَفَّتْـهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمةُ, وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

  • “Tidak satu kaum (kelompok) pun yang duduk zikir kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka akan dikelilingi Malaikat, akan diliputi oleh rahmat, akan beroleh ketenangan, dan akan disebut-sebut oleh Allah pada siapa-siapa yang berada di sisi-Nya”. (HR.Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi).
  • Diterima dari Ibnu Umar bahwa Nabi Saw. bersabda,     إذَا مَرَرْتُم بِرِيَاضِ الجَنَّة فَارْتَعُوْا, قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنَّة يَا رَسُولُ الله. قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ فَإنَّ لِلَّهِ تَعَالَى سَيَّرَاتٍ مِنَ المَلآئِكَةَ يَطْلُبُونَ حِلَـقَ الذِّكْرِ فَإذَا أتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوبِهِمْ.  

“Jika kalian lewat di taman-taman surga, hendaklah kamu ikut bercengkerama! Tanya mereka; ‘Apakah itu taman-taman surga ya Rasulallah’? Ujar Nabi Saw.; ‘Ialah lingkaran lingkaran zikir karena Allah Swt. mempunyai rombongan pengelana dari Malaikat yang mencari-cari lingkaran dzikir. Maka jika ketemu dengannya mereka akan duduk mengelilinginya’”.

  • Dalam sebuah hadis panjang, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasulallah Saw. bersabda, [“Sesungguhnya Allah memilik sekelompok Malaikat yang berkeling di jalan-jalan sambil mencari orang-orang yang berzikir. Apabila mereka menemukan sekolompok orang yang berzikir kepada Allah, maka mereka saling menyeru, 'Kemarilah kepada apa yang kamu semua hajatkan'. Lalu mereka mengelilingi orang-orang yang berzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit. Apabila orang-orang itu telah berpisah (bubar dari majlis zikir) maka para malaikat tersebut berpaling dan naik ke langit. Maka bertanyalah Allah Swt. kepada mereka (padahal Dialah yang lebih mengetahui perihal mereka). Allah berfirman, ‘Darimana kalian semua’? Malaikat berkata, ‘Kami datang dari sekelompok hamba-Mu dibumi. Mereka bertasbih, bertakbir dan bertahlil kepada-Mu.’ Allah berfirman,‘Apakah mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata, ‘Tidak pernah.’ Allah berfirman, ‘Seandainya mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata, ‘Andai mereka pernah melihat-Mu niscaya mereka akan lebih meningkatkan ibadahnya kepada-Mu, lebih bersemangat memuji-Mu dan lebih banyak bertasbih pada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Lalu apa yang mereka pinta pada-Ku’? Malaikat berkata, ‘Mereka minta surga kepada-Mu.’

Allah berfirman, ‘Apa mereka pernah melihat surga?’ Malaikat berkata: ‘Tidak pernah!’ Allah berfirman, ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihatnya?’ Malaikat berkata, ‘Andai mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan bertambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya dan semakin besar keinginan untuk memasukinya.’ Allah berfirman, ‘Dari hal apa mereka minta perlindungan’? Malaikat berkata, ‘Dari api neraka.’ Allah berfirman,  ‘Apa mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata, ‘Tidak pernah’. Allah berfirman, ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata, ‘Kalau mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya.’

Allah berfirman, ‘Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka.’ Salah satu dari malaikat berkata, ‘Di situ ada seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok mereka, dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah dia akan diampuni juga?).’ Allah berfirman, ‘Mereka (termasuk seseorang ini) adalah satu kelompok dimana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa’.”] Sedangkan, dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir: “Aku ampunkan segala dosa mereka, dan Aku beri permintaan mereka”. (HR. Bukhari X1 :209 dan Imam Muslim 1V:2070)

 

Nash-nash di atas menunjukkan keutamaan kumpulan majlis zikir. Allah Swt. akan melimpahkan rahmat, ketenangan dan ridha-Nya pada para hadirin, termasuk disini orang yang tidak niat untuk berzikir. Majlis seperti itulah, yang sering dicari dan dihadiri oleh para malaikat. Alangkah bahagianya bila kita selalu kumpul bersama majlis-majlis zikir yang dihadiri oleh malaikat tersebut sehingga doa yang dibaca ditempat majlis zikir tersebut lebih besar harapan untuk diterima oleh Allah Swt.

Juga hadis-hadis tersebut menunjukkan mereka berkumpul berzikir secara jahar, karena berzikir secara sirran/pelahan sudah biasa dilakukan oleh perorangan!

  • Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan disahihkan oleh Imam Al-Hakim dari hadis Abu Darda ra. secara marfu’ Rasulallah Saw. bersabda, ‘Senangkah kalian jika aku beritahukan mengenai amal yang paling baik dan paling bersih/suci di sisi Raja kalian. Lebih tinggi derajatnya bagi kalian, bahkan lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan kertas (uang), serta lebih baik daripada bertemu dengan musuh kalian lalu kalian menebas leher musuh itu dan (atau) mereka membunuh kalian (menebas leher kalian)?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Rasulallah Saw. bersabda: ‘Itulah zikrullah mengingat Allah Azza wa Jalla (Yang Maha Perkasa dan Agung)’“. (HR.Tirmidzi [V:459, Ibnu Majah [2:1245], Al-Hakim [1: 496]. Hadis ini sahih).

Ibnu Hajar telah mengisyaratkan mengenai zikir tersebut, ketika menjelaskan jihad dan keutamaan orang yang berjihad (al-mujahid). Bahwa mujahid itu seperti orang yang sedang beribadah puasa tidak berbuka (sering berpuasa), seperti yang bangun malam (untuk ibadah) tidak pernah tidur dan keutamaan-keutamaan lainnya yang menunjukkan keutamaan jihad dibanding- kan dengan amal-amal saleh lainnya. Keutamaan jihad–berjuang untuk kemaslahatan dan kejayaan agama Islam–itu juga diakui lebih utama dibandingkan dengan zikir dengan lisan saja tanpa pemaknaan dan penghayatan. Jika ada yang kebetulan berkesempatan atau dengan sengaja menyempatkan diri untuk melakukan zikir dengan lisan dan hatinya, serta menghayatinya–dan itu semua dilaksanakan ketika dia melakukan shalat, puasa, sedekah atau berperang melawan orang-orang kafir–maka itulah yang mencapai derajat yang tinggi.

  • Menurut Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi, tiada perbuatan saleh, kecuali zikir merupakan syarat untuk membenarkan atau meluruskannya. Sehingga, siapa saja yang tidak berzikir umpamanya ketika bersedekah atau puasa, maka amal ibadahnya tidak sempurna. Jadi, zikir, jika dilihat dari fungsinya yang seperti itu dapat dinilai sebagai amal yang paling mulia. Perhatikanlah, hadis yang berarti, “Niat Mukmin itu lebih hebat  daripada amalnya.” (HR. Thabarani dalam Al-kabir V1:185; Baihaqi dalam Su’ab Al-Iman V:343; Al-Hafidh Al-Sakhawi dalam Al-Maqashud Al-Hasanah halaman 450). Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fath jilid 11, halaman 210, mengenai sanad hadis ini, mengatakan, “Sanad hadis tersebut meski dha’if, tetapi semuanya dapat memperkuat hadis tersebut.” Lihat pula kitab Majma’ Al-Zawa’id jilid 1, hal. 61.
  • Zaid bin Aslam dari sebagian sahabat, dia berkata,

            اِنْطَلَقْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ(صَ) لَيْلَةً, فَمَرَّ بِرَجُلٍ فِي المَسْجِدِ يِرْفَعُ صَوْتَهُ فَقُلْتُ             

          يَا رَسُوْلَ اللهِ عَسَى اَنْ يَكُوْنَ هَذَا مُرَائِيًا فَقَالَ: لاَ وَلاَكِنَّهُ اَوَّاهُ. (رواه البيهاقي        

Aku pernah berjalan dengan Rasulallah Saw. di suatu malam. Lalu beliau melewati seorang lelaki yang sedang meninggikan suaranya di sebuah masjid. Akupun berkata,Wahai Rasulallah, jangan-jangan orang ini sedang riya’.’ Beliau berkata, ‘Tidak! Akan tetapi dia itu seorang awwah (berdoa, mengadu, menghiba  kepada Allah).’” (HR. Baihaqi).

  • Hadis dari Abi Sa’id Al-Khudri ra., dia berkata, sabda Rasulallah Saw;

                          اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ  حَتَّى يَقُولُ اِنَّهُ مَجْنُوْنٌ

“Perbanyaklah zikir kepada Allah sehingga mereka (yang melihat dan mendengar) akan berkata: ‘Sesungguhnya dia orang gila.’” (HR. Hakim, Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Ibnu Hibban, Ahmad, Abu Ya’la dan Ibnu as-Sunni)

  • Hadis dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata : Rasulallah Saw. bersabda:                اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ حَتَّى يَقُولَ المُنَافِقُوْنَ اِنَّكُمْ تُرَاؤُوْنَ

“Banyak banyaklah kalian berzikir kepada Allah sehingga orang-orang munafik akan berkata, ‘Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang riya’.’” (HR. Thabrani).

Imam Suyuthi, dalam kitabnya Natijatul Fikri fil Jahri bid Dzikri berkata, “Bentuk istidlal (penggunaan dalil) dengan dua hadis di atas adalah bahwa ucapan ‘Dia itu gila’ dan ‘Kamu itu riya’’, hanyalah dikatakan kepada orang-orang yang berzikir dengan jahar, bukan dengan lirih (sir).”

Zikir dengan jahar itu dapat menggugah semangat dan melembutkan hati, menghilangkan ngantuk, sesuatu yang tidak akan didapatkan pada zikir secara lirih (sir).

Dan di antara yang membolehkan lagi zikir jahar ini adalah ulama mutaakhhirin terkemuka Al-Allaamah Khairuddin ar-Ramli, dalam risalahnya yang berjudul Taushilul Murid ilal Murad bi Bayani Ahkamil Ahzab wal Aurad beliau mengatakan sebagai berikut, “Jahar dengan zikir dan tilawah, begitu juga berkumpul untuk berzikir baik itu di majlis ataupun di masjid adalah sesuatu yang dibolehkan dan disyariatkan berdasarkan hadis (qudsi) Nabi Saw., ‘Barangsiapa berzikir kepada-Ku (Allah) dihadapan orang-orang, maka Aku pun akan berzikir untuknya dihadapan orang-orang yang lebih baik darinya’, dan firman Allah Swt., ‘Seperti zikirmu terhadap nenek-moyangmu atau zikir yang lebih mantap lagi’ (QS Al-Baqarah [2]:200), bisa juga dijadikan sebagai dalilnya (dalil jahar)”.

Sebagian ulama hanya memakruhkan zikir jahar yang terlalu keras (menjerit-jerit). Begitu juga jahar yang tidak keterlaluan bila menyebabkan dirinya riya’ atau mewajibkan zikir secara jahar. Berapa banyak perkara yang sebenarnya mubah tapi karena diwajibkan atau disyariatkan pelaksanaanya dengan cara-cara tertentu. Padahal, agama tidak mengajarkan demikian, maka ia akan berubah menjadi makruh, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qari’ dalam Syarhul Miskat, Al-Hashkafi dalam Ad-Durrul Mukhtar dan beberapa ulama lainnya.

  • Syaikh Sulaiman bin Sahman An-Najdi Al-Hanbali–wafat th 1349H–dalam kitabnya Tahqiq Al-Kalam fi Masyri‘iyyati Al-Jahr Bi-al-Zikir ba’da As-Salam (Menegaskan pembicaraan mengenai disyariatkan menjahar zikir setelah mengucapkan salam) halaman 48, mengatakan, “Hadis sahih dari Nabi Muhamad Saw. menyebutkan bahwa men-jahar zikir setelah mendirikan shalat fardhu itu tidak mengganggu orang lain. Justru pendapat yang menentang sunnah tersebutlah yang mengganggu dan membingungkan umat Islam. Bahkan, itulah kebatilan yang paling batil dan kemungkaran yang sangat jelas karena bertentangan dengan nash. Pendapat seperti itu juga merupakan penolakan tanpa ilmu dan argumentasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan”.
  • Hadis dari Amar bin Dinar, dia berkata: “Aku dikabari oleh Abu Ma’bad–bekas budak Ibnu Abbas yang paling jujur–dari tuannya yakni Ibnu Abbas dimana beliau berkata; 

             اَنَّ رَفْعَ  الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ المَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْل اللهَ              ِ

‘Sesungguhnya berzikir dengan mengeraskan suara ketika orang selesai melakukan shalat fardhu, terjadi dimasa Rasulallah Saw.’“. (HR. Bukhori dan Muslim).

  • Dalam riwayat yang lain diterangkan, Ibnu Abbas berkata: “Aku mengetahui selesainya shalat Rasulallah Saw. dengan adanya ucapan takbir beliau (yakni ketika berzikir)”. (HR Bukhori [2:324] dalam Al-Fath Al-Bari dan Imam Muslim [1: 410])
  • Ibnu Hajr (Fath-Al-Bari 2:325) mengatakan, ‘Dalam hadis tersebut terkandung makna bolehnya mengeraskan zikir setelah menunaikan sholat’.
  • Imam As-Suyuthi  dalam Natijatul fikri Jahri Bid Zikri, menyatakan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya mengenai tokoh Sufi yang membentuk kelompok-kelompok zikir dengan suara agak keras, apakah itu merupakan perbuatan makruh atau tidak? Jawab beliau: Itu tidak ada buruknya (tidak makruh)! Ada hadis yang menganjurkan zikir dengan suara agak keras (jahar) dan ada pula menganjurkan dengan suara pelan (sirran). Penyatuan dua macam hadis ini yang tampaknya berlawanan, semua tidak lain tergantung pada keadaan tempat dan pribadi orang yang akan melakukan itu sendiri.
  • Dalam kitab Majmu al-Fatawa, mengenai majlis zikir, Ibnu Taimiyah dimintai pendapat mengenai perbuatan berkumpul beramai-ramai berzikir, membaca Al-Quran, berdoa sambil menanggalkan serban dan menangis, sedangkan niat mereka bukanlah karena riya ataupun membanggakan diri tetapi hanyalah karena hendak mendekatkan diri kepada Allah Swt.. Adakah perbuatan-perbuatan ini dibolehkan? Beliau menjawab, “Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan perintah syariat (mustahab) untuk berkumpul dan membaca Al-Quran dan berzikir serta berdoa....” (Pertanyaan ini berkaitan dengan majlis zikir yang dilakukan kaum Sufi Syaziliyah di masjid-masjid).
  • Ibnu Hajr dalam kitabnya Khatimatul Fatawa mengatakan: “Wirid-wirid, bacaan-bacaan secara jahar, yang dibaca oleh kaum Sufi (para penghayat ilmu tasawuf) setelah sholat menurut kebiasaan dan suluh (amalan-amalan khusus yang ditempuh kaum Sufi) sungguh mempunyai akar/dalil yang sangat kuat”.
  • Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm berkata sebagai berikut, Aku memilih untuk imam dan makmum agar keduanya berzikir pada Allah sesudah salam dari shalat dan keduanya melakukan zikir secara lirih. Kecuali imam, yang menginginkan para makmum mengetahui kalimat-kalimat zikirnya, maka dia boleh melakukan jahar sampai dia yakin, para makmum itu sudah mengetahuinya kemudian diapun berzikir secara sir

Dengan demikian tidak diketemukan pernyataan Imam Syafi’i atau ulama Mazhab Syafi’i yang melarang zikir secara jahar apalagi sampai memutuskan- nya sebagai bid’ah dholalah .

Imam An-Nawawi, berkaitan dengan masalah membaca secara jahar dan lirih, berpendapat, “Membaca Al-Quran maupun berzikir lebih utama secara lirih (sir) bila orang yang membaca khawatir untuk riya atau mengganggu orang yang sedang shalat di tempat itu atau orang yang sedang tidur. Di luar situasi seperti ini, zikir secara jahar adalah lebih utama.”

Selain itu, juga membaca Al-Quran dan zikir secara jahar ini manfaatnya berdampak pada orang-orang yang mendengar, lebih konsentrasi atau memusatkan pendengarannya sendiri, membangkitkan hati pembaca sendiri, hasrat berzikir lebih besar, menghilangkan rasa ngantuk dan lain-lain. Menurut sebagian ulama bahwa beberapa bagian Al-Quran lebih baik dibaca secara jahar, adapun bagian lainnya dibaca secara lirih. Bila membaca secara lirih akan menjenuhkan, bacalah secara jahar dan bila secara jahar melelahkan maka bacalah secara lirih.

Sebagian orang senang berzikir secara jahar untuk dapat memerangi bisikan busuk (was-was), godaan hawa nafsu, lebih konsentrasi tidak mudah lengah, dan langsung menyatukan ucapan lisan dengan hatinya, lebih khusyu’ apalagi dengan irama zikir yang enak, menghilangkan ngantuk dan lain-lain.

  • Terdapat riwayat bahwa Umar bin Khattab r.a. berzikir secara jahar, sedangkan sahabat Abu Bakar a. dengan suara lirih (sir). Waktu mereka berdua ditanya oleh Rasulallah Saw. mereka menjawab dengan penjelasan seperti di atas itu. Ternyata, Rasulallah Saw. membenarkan mereka berdua ini! (lihat, Al-Fatawa al-Hadisiyah halaman 56, Ibnu Hajr al-Haitami).

Kaum Mukmin dianjurkan berzikir setiap saat. Baik dalam keadaan junub, haid, nifas (kecuali bacaan ayat Al-Qurannya), maupun dalam keadaan suci, sedang sibuk atau lenggang waktu, sedang berbaring atau duduk dan pada setiap tempat. Itulah, yang dimaksud ayat Allah Swt. di antaranya surah An-Nisa [4]:103. Zikir semacam ini boleh dilaksanakan terus menerus! Lain halnya dengan shalat, ada syarat dan waktu-waktu tertentu yang tidak boleh melakukan shalat, umpama: orang yang sedang haid, nifas, junub (harus mandi dulu).

Adapun, mengenai adab berzikir, antara lain dinyatakan oleh Syaikh Ali Al-Marsyafi dalam kitabnya Manhajus Shalih:

“Kita sebaiknya selalu dalam keadaan bersih yakni mandi dan berwudu’, menghadap kiblat (kalau bisa), duduk ditempat yang suci (bukan najis). Orang agar sepenuhnya konsentrasi (penuh perhatian) dengan hatinya mengenai zikir yang dibaca itu. Tempat zikir tersebut ditaburi dengan minyak wangi. Berzikir dengan ikhlas karena Allah Swt...”.

Yang dimaksud Syaikh Ali Al Marsyafi ditaburi minyak wangi pada tempat zikir, agar tempat zikir tersebut semerbak wangi baunya. Dalam hal ini, dibolehkan semua jenis bahan yang bisa menimbulkan bau harum umpama minyak wangi, sebangsa kayu-kayuan (gahru dan sebagainya) atau menyan Arab, yang kalau dibakar asapnya berbau wangi. Bau-bauan wangi ini lebih mengkhusyukkan, menyegarkan pribadi orang atau para hadirin, menyenangkan mereka yang hadir di majlis zikir ini. Bau harum ini malah lebih diperlukan bila berada di ruangan yang banyak dihadiri oleh manusia agar berbau semerbak ruangan tersebut.

Hadis dari Abu Hurairah ra, Rasulallah Saw.bersabda: “Siapa yang diberi wangi-wangian janganlah ditolak, karena ia mudah dibawa dan semerbak harumnya”. (HR. Muslim, Nasa’i dan Abu Dawud). Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Nasa’i: “Adakalanya Ibnu Umar ra. membakar uluwwah tanpa campuran, dan adakalanya kapur barus yang dicampur dengan uluwwah seraya berkata, ‘Beginilah Rasulallah Saw. mengasapi dirinya.’

Dengan adanya riwayat-riwayat yang dikemukakan di atas cukup jelas mengenai dibolehkannya zikir baik secara lirih maupun jahar. Wallahaua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya