Argumen Kumpulan Majlis Zikir

Argumen Kumpulan Majlis Zikir        

Sebelum masuk pada argumen kaum Wahabi mengenai keharaman majlis zikir,penting kita memperhatikan terlebih dahulu alinea-alinea berikut.

Kita sudah kebanjiran ahli pikir. Tapi maha sedikit ahli zikir. Padahal keseimbangan keduanya amatlah diperlukan. Dalam ritual yasinan, tahlil, manakiban dan lain-lain, terdapat dimensi transedental. Yakni niat ibadah pada Allah. Selain itu juga ada aspek sosial berupa antara lain mengokohkan ikatan tali silaturahmi, bertemu orang lain, dan saling menyapa. Inilah salah satu modal sosial yang belakangan semakin luntur. Masyarakat kita belakangan semakin lemah untuk mampu hidup secara kolektif.

Apa makna zikir yang selalu diperintahkan dalam banyak Al-Quran dan hadis Nabi Saw.? Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud Zikir ialah mengingat pada Allah Swt. Makna ini mencakup segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia untuk mengingat pada Allah Swt. dan Rasul-Nya, misalnya: shalat, bertasbih, bertahlil, bertakbir, majlis ilmu, memuji Allah dan Rasul-Nya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran-Nya, sifat-sifat keindahan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan yang telah dimiliki-Nya, membaca riwayat para utusan Allah dan sebagainya. Tidak lain semuanya ini untuk lebih mendekatkan diri kita pada Allah Swt. sehingga kita mencintai dan dicintai Allah Swt. dan Rasul-Nya.

Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fathul Bari jilid 11 hal. 209 mengatakan, “Yang dimaksud dengan zikir adalah mengucapkan kata-kata yang diperintahkan untuk diperbanyak pengucapannya. Hal ini seperti al-baqiyat as-shalihat (amal saleh yang kekal manfaatnya) berupa zikir;. Suhhanallah wal-hamdulillah, wa lâ ilâha illallâh wallahu Akbar (Maha suci Allah, segala puji hanya milik Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah itu Mahabesar). Juga seperti zikir-zikir yang lainnya, yaitu membaca hauqalah  (la haula wa la quwwata illa billah, [tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah]), basmalah (bismillah ar-Rahman ar-Rohim [dengan nama Allah yang Pengasih dan Penyayang]), istighfar (astaghfirullah, [aku mohon ampunan dosa dari Allah]), hasbalah (hasbunallah wa ni’ma al-wakil, ni’ma al-maula wa ni’ma an-nashir [cukuplah bagi kami Allah, dan Dia sebaik-baik pelindung, sebaik-baik majikan dan sebaik-baik penolong]). Demikian pula, doa (permohonan) untuk  kemaslahatan/kebaikan dunia dan akhirat.

Zikir juga berarti mengamalkan secara terus menerus apa yang diwajibkan atau dianjurkan oleh Allah Swt., seperti membaca Al-Quran, membaca hadis, belajar atau menuntut ilmu, juga melakukan shalat sunnah. Zikir juga kadang-kadang berupa pelafalan/pengucapan dengan lidah dan orang yang mengucapkan nya berpahala. Dalam zikir semacam ini, tidak disyaratkan untuk menghadirkan hati. Dan jika zikir tersebut disertai pemaknaan dan penghayatan seperti mengakui keagungan Allah dan membersih- kan atau mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan, maka zikir tersebut semakin sempurna..

Ibnu Hajar selanjutnya mengatakan bahwa Al-Fakhr Ar-Razi berkata, ‘Yang dimaksud Zikir dengan lisan itu ialah (pengucapan) kata-kata yang mengandung tasbih [menyucikan Allah], tahmid [memuji Allah] dan tamjid [memuliakan dan mengagungkan Allah Swt.]. Sedang yang dimaksud dengan zikir qalb (dalam hati) ialah berpikir mengenai dalil-dalil atau bukti-bukti mengenai Dzat Allah, sifat-sifatNya dan yang berkaitan dengan taklif [kewajiban yang dibebankan oleh syariat] berupa perintah dan larangan. Dengan begitu, orang yang berzikir akan mengetahui hukum-hukum serta rahasia-rahasia Allah yang ada pada (semua) makhluk-Nya.

Sedangkan zikir dengan anggota tubuh (lainnya) ialah bahwa anggota tubuh semuanya dipergunakan –secara optimal atau penuh– dalam taat kepada Allah Swt.. Meskipun demikian, Allah Swt. menyebut shalat itu sebagai zikir. Seperti difirmankan-Nya:..maka pergilah (untuk menuju) ke zikrullah (shalat jumat). Diriwayatkan dari sebagian al-‘arifin –ahli tauhid– bahwa zikir itu dilakukan lewat tujuh segi:

zikir mata dengan menangis;

zikir telinga dengan mendengarkan (ajaran Allah);

zikir lidah dengan menyanjung atau memuji Allah  zikir kedua tangan  dengan memberi infak, sedekah, zakat, hadiah dan lain-lainnya;

zikir badan dengan al-wafa (memenuhi tuntutan dan janji);

zikir hati dapat dilakukan dengan adanya khauf (rasa takut akan murka Allah) dan raja’ (penuh pengharapan terhadap rahmat dan karunia Allah Swt);

zikir ar-ruh dengan berserah diri kepada ketentuan Allah serta ridho/rela atas apa yang ditentukannya. ” Demikianlah Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. 

 

Sayid Sabiq, ulama kontemporer yang sering disebut sebagai dekat dengan kaum Wahabi menulis dalam kitabnya Fiqh Sunnah jilid 4 hal. 247 ,bahasa Indonesia, cet. pertama th.1978 ditulis, bahwa Imam Qurtubi berkata:

“Majlis zikir maksudnya ilmu dan peringatan yakni majlis dimana disebut firman-firman Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya. Begitupun berita-berita (riwayat-riwayat) mengenai orang-orang saleh dari golongan Salaf, ucapan-ucapan imam dahulu yang zuhud, yang bebas dari bid‘ah dan hal yang dibuat-buat, bersih dari maksud jelek dan maksud serakah”.

                                                                                         

Dalil-dalil zikir termasuk dalil zikir secara jahar (agak keras)

Ditemukan banyak ayat Al-Quran yang memerintahkan kaum Muslim untuk berzikir, antara lain, “Hai orang-orang yang beriman! Berzikirlah kamu pada Allah sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah pada-Nya  diwaktu  pagi mau pun  petang!”. (QS Al-Ahzab:41-42); “Berzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (QS Al-Baqarah [2]:152). “...Yakni orang-orang zikir pada Allah baik diwaktu berdiri, ketika duduk dan diwaktu berbaring”.  (QS Ali Imran [3]:191); “Yaitu orang-orang yang beriman, dan hati mereka aman tenteram dengan zikir pada Allah. Ingatlah dengan zikir pada Allah itu, maka hatipun akan merasa aman dan tenteram”. (QS Ar-Rad [13]:28).

Dalam hadis qudsi, Allah Swt. berfirman,


اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْـدِي بِي, وَاَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكـرُنِي, فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي  وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ                    

خَيْرٍ مِنْهُ وَإنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِرَاعًا   وَإنِ اقْتَرَبَ إلَيَّ   ذِرَاعًا      

     ذِرَاعًا اقْتَرَبْتُ إلَيْهِ بَاعًـا وَإنْ أتَانِيْ يَمْشِي أتَيْتُهُ هَرْوَلَة

 

“Aku ini menurut prasangka hambaKu, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya (hatinya), maka Aku akan ingat pula padanya dalam diriKu (hati-Ku), jika ia mengingat-Ku di depan umum, maka Aku akan mengingatnya pula di depan khalayak (al-mala’) yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR. Bukhari  [jilid 12, hal. 384], Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).  

  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Al-Fath Al-Bari jilid 13, hal.387 mengatakan, “Sebagian ahli sunnah memberikan jawaban mengenai hadis di atas, bahwa kemungkinan yang dimaksud dengan al-mala’ (sekolompok makhluk) yang lebih baik daripada kelompok manusia muslim yang sedang berzikir, adalah kelompok para nabi dan syuhada, karena mereka–sebagaimana diberitakan Al-Quran–hidup di sisi Tuhannya (bahkan diberi rezeki).”
  • Allamah Al-Jazari dalam kitabnya Miftahul Hishnil Hashin berkata,“Hadis di atas merupakan dalil dibolehkannya berzikir dengan jahar (suara keras).”
  • Imam Suyuthi berkata, “Zikir di hadapan orang-orang tentulah zikir jahar, maka hadis itulah dalil yang membolehkannya’.
  • Al-Hafizh Al-Suyuti dalam Al-Hawi Lil Fatawi jilid 1, halaman 389 mengatakan, “Dan berzikir dalam sekelompok orang itu tidak terbukti kecuali dengan jahar.”

 

Hadis qudsi dari Mu’adz bin Anas, secara marfu’, Allah Swt. berfirman, قَالَ اللهُ تَعَالَى: لاَ يَذْكُرُنِي اَحَدٌ فِى نفْسِهِ اِلاَّ ذَكّرْتُهُ فِي مَلاٍ مِنْ مَلاَئِكَتِي وَلاَيَذْكُرُنِي فِي مَلاٍ اِلاَّ ذَكَرْتُهُ فِي المَلاِ الاَعْلَي                           

“Tidaklah seseorang berzikir pada-Ku dalam hatinya kecuali Aku pun akan berzikir untuknya di hadapan para malaikat-Ku. Dan tidak juga seseorang berzikir pada-Ku di hadapan orang-orang kecuali Aku pun akan berzikir untuknya di tempat yang tertinggi’” (HR. Thabrani).

Rasulallah Saw. bersabda,             

                         سَبَقَ المُفَرِّدُونَ قاَلُوْا وَمَا المُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللهِ ا قَالَ ; الذَّاكِرُونَ اللهَ  وَالذَّاكِرَاتِ   

         “Telah majulah orang-orang istimewa! Tanya mereka ‘Siapakah orang-orang istimewa?’ Ujar Nabi Saw. ‘Mereka ialah orang-orang yang berzikir baik laki-laki maupun wanita’”  (HR. Muslim).

  • Perumpamaan orang-orang yang zikir pada Allah dengan yang tidak, adalah seperti orang yang hidup dengan yang wafat! (HR.Bukhari).
  • Perumpamaan perbedaan antara rumah yang dipergunakan zikir kepada Allah didalamnya dengan rumah yang tidak ada zikrullah didalamnya, bagaikan perbedaan antara hidup dengan wafat”. (HR Muslim).
  • Hadis dari Abu Sa’id Khudri dan Abu Hurairah r.a., mereka mendengar sendiri dari Nabi Saw. bersabda,

      لاَ يَقْـعُدُ قَوْمٌ يَذْكُـرُنَ اللهَ تَعَالَى إلاَّ حَفَّتْـهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمةُ, وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

  • “Tidak satu kaum (kelompok) pun yang duduk zikir kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka akan dikelilingi Malaikat, akan diliputi oleh rahmat, akan beroleh ketenangan, dan akan disebut-sebut oleh Allah pada siapa-siapa yang berada di sisi-Nya”. (HR.Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi).
  • Diterima dari Ibnu Umar bahwa Nabi Saw. bersabda,     إذَا مَرَرْتُم بِرِيَاضِ الجَنَّة فَارْتَعُوْا, قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنَّة يَا رَسُولُ الله. قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ فَإنَّ لِلَّهِ تَعَالَى سَيَّرَاتٍ مِنَ المَلآئِكَةَ يَطْلُبُونَ حِلَـقَ الذِّكْرِ فَإذَا أتَوْا عَلَيْهِمْ حَفُّوبِهِمْ.  

“Jika kalian lewat di taman-taman surga, hendaklah kamu ikut bercengkerama! Tanya mereka; ‘Apakah itu taman-taman surga ya Rasulallah’? Ujar Nabi Saw.; ‘Ialah lingkaran lingkaran zikir karena Allah Swt. mempunyai rombongan pengelana dari Malaikat yang mencari-cari lingkaran dzikir. Maka jika ketemu dengannya mereka akan duduk mengelilinginya’”.

  • Dalam sebuah hadis panjang, Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasulallah Saw. bersabda, [“Sesungguhnya Allah memilik sekelompok Malaikat yang berkeling di jalan-jalan sambil mencari orang-orang yang berzikir. Apabila mereka menemukan sekolompok orang yang berzikir kepada Allah, maka mereka saling menyeru, 'Kemarilah kepada apa yang kamu semua hajatkan'. Lalu mereka mengelilingi orang-orang yang berzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit. Apabila orang-orang itu telah berpisah (bubar dari majlis zikir) maka para malaikat tersebut berpaling dan naik ke langit. Maka bertanyalah Allah Swt. kepada mereka (padahal Dialah yang lebih mengetahui perihal mereka). Allah berfirman, ‘Darimana kalian semua’? Malaikat berkata, ‘Kami datang dari sekelompok hamba-Mu dibumi. Mereka bertasbih, bertakbir dan bertahlil kepada-Mu.’ Allah berfirman,‘Apakah mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata, ‘Tidak pernah.’ Allah berfirman, ‘Seandainya mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata, ‘Andai mereka pernah melihat-Mu niscaya mereka akan lebih meningkatkan ibadahnya kepada-Mu, lebih bersemangat memuji-Mu dan lebih banyak bertasbih pada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Lalu apa yang mereka pinta pada-Ku’? Malaikat berkata, ‘Mereka minta surga kepada-Mu.’

Allah berfirman, ‘Apa mereka pernah melihat surga?’ Malaikat berkata: ‘Tidak pernah!’ Allah berfirman, ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihatnya?’ Malaikat berkata, ‘Andai mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan bertambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya dan semakin besar keinginan untuk memasukinya.’ Allah berfirman, ‘Dari hal apa mereka minta perlindungan’? Malaikat berkata, ‘Dari api neraka.’ Allah berfirman,  ‘Apa mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata, ‘Tidak pernah’. Allah berfirman, ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata, ‘Kalau mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya.’

Allah berfirman, ‘Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka.’ Salah satu dari malaikat berkata, ‘Di situ ada seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok mereka, dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah dia akan diampuni juga?).’ Allah berfirman, ‘Mereka (termasuk seseorang ini) adalah satu kelompok dimana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa’.”] Sedangkan, dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir: “Aku ampunkan segala dosa mereka, dan Aku beri permintaan mereka”. (HR. Bukhari X1 :209 dan Imam Muslim 1V:2070)

Nash-nash di atas menunjukkan keutamaan kumpulan majlis zikir. Allah Swt. akan melimpahkan rahmat, ketenangan dan ridha-Nya pada para hadirin, termasuk disini orang yang tidak niat untuk berzikir. Majlis seperti itulah, yang sering dicari dan dihadiri oleh para malaikat. Alangkah bahagianya bila kita selalu kumpul bersama majlis-majlis zikir yang dihadiri oleh malaikat tersebut sehingga doa yang dibaca ditempat majlis zikir tersebut lebih besar harapan untuk diterima oleh Allah Swt.

Juga hadis-hadis tersebut menunjukkan mereka berkumpul berzikir secara jahar, karena berzikir secara sirran/pelahan sudah biasa dilakukan oleh perorangan!

  • Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Dikeluarkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan disahihkan oleh Imam Al-Hakim dari hadis Abu Darda ra. secara marfu’ Rasulallah Saw. bersabda, ‘Senangkah kalian jika aku beritahukan mengenai amal yang paling baik dan paling bersih/suci di sisi Raja kalian. Lebih tinggi derajatnya bagi kalian, bahkan lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan kertas (uang), serta lebih baik daripada bertemu dengan musuh kalian lalu kalian menebas leher musuh itu dan (atau) mereka membunuh kalian (menebas leher kalian)?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Rasulallah Saw. bersabda: ‘Itulah zikrullah mengingat Allah Azza wa Jalla (Yang Maha Perkasa dan Agung)’“. (HR.Tirmidzi [V:459, Ibnu Majah [2:1245], Al-Hakim [1: 496]. Hadis ini sahih).

Ibnu Hajar telah mengisyaratkan mengenai zikir tersebut, ketika menjelaskan jihad dan keutamaan orang yang berjihad (al-mujahid). Bahwa mujahid itu seperti orang yang sedang beribadah puasa tidak berbuka (sering berpuasa), seperti yang bangun malam (untuk ibadah) tidak pernah tidur dan keutamaan-keutamaan lainnya yang menunjukkan keutamaan jihad dibanding- kan dengan amal-amal saleh lainnya. Keutamaan jihad–berjuang untuk kemaslahatan dan kejayaan agama Islam–itu juga diakui lebih utama dibandingkan dengan zikir dengan lisan saja tanpa pemaknaan dan penghayatan. Jika ada yang kebetulan berkesempatan atau dengan sengaja menyempatkan diri untuk melakukan zikir dengan lisan dan hatinya, serta menghayatinya–dan itu semua dilaksanakan ketika dia melakukan shalat, puasa, sedekah atau berperang melawan orang-orang kafir–maka itulah yang mencapai derajat yang tinggi.

  • Menurut Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi, tiada perbuatan saleh, kecuali zikir merupakan syarat untuk membenarkan atau meluruskannya. Sehingga, siapa saja yang tidak berzikir umpamanya ketika bersedekah atau puasa, maka amal ibadahnya tidak sempurna. Jadi, zikir, jika dilihat dari fungsinya yang seperti itu dapat dinilai sebagai amal yang paling mulia. Perhatikanlah, hadis yang berarti, “Niat Mukmin itu lebih hebat  daripada amalnya.” (HR. Thabarani dalam Al-kabir V1:185; Baihaqi dalam Su’ab Al-Iman V:343; Al-Hafidh Al-Sakhawi dalam Al-Maqashud Al-Hasanah halaman 450). Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fath jilid 11, halaman 210, mengenai sanad hadis ini, mengatakan, “Sanad hadis tersebut meski dha’if, tetapi semuanya dapat memperkuat hadis tersebut.” Lihat pula kitab Majma’ Al-Zawa’id jilid 1, hal. 61.
  • Zaid bin Aslam dari sebagian sahabat, dia berkata,

            اِنْطَلَقْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ(صَ) لَيْلَةً, فَمَرَّ بِرَجُلٍ فِي المَسْجِدِ يِرْفَعُ صَوْتَهُ فَقُلْتُ             

          يَا رَسُوْلَ اللهِ عَسَى اَنْ يَكُوْنَ هَذَا مُرَائِيًا فَقَالَ: لاَ وَلاَكِنَّهُ اَوَّاهُ. (رواه البيهاقي        

Aku pernah berjalan dengan Rasulallah Saw. di suatu malam. Lalu beliau melewati seorang lelaki yang sedang meninggikan suaranya di sebuah masjid. Akupun berkata,Wahai Rasulallah, jangan-jangan orang ini sedang riya’.’ Beliau berkata, ‘Tidak! Akan tetapi dia itu seorang awwah (berdoa, mengadu, menghiba  kepada Allah).’” (HR. Baihaqi).

  • Hadis dari Abi Sa’id Al-Khudri ra., dia berkata, sabda Rasulallah Saw;

                          اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ  حَتَّى يَقُولُ اِنَّهُ مَجْنُوْنٌ

“Perbanyaklah zikir kepada Allah sehingga mereka (yang melihat dan mendengar) akan berkata: ‘Sesungguhnya dia orang gila.’” (HR. Hakim, Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Ibnu Hibban, Ahmad, Abu Ya’la dan Ibnu as-Sunni)

  • Hadis dari Ibnu Abbas r.a. dia berkata : Rasulallah Saw. bersabda:                اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ حَتَّى يَقُولَ المُنَافِقُوْنَ اِنَّكُمْ تُرَاؤُوْنَ

“Banyak banyaklah kalian berzikir kepada Allah sehingga orang-orang munafik akan berkata, ‘Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang riya’.’” (HR. Thabrani).

Imam Suyuthi, dalam kitabnya Natijatul Fikri fil Jahri bid Dzikri berkata, “Bentuk istidlal (penggunaan dalil) dengan dua hadis di atas adalah bahwa ucapan ‘Dia itu gila’ dan ‘Kamu itu riya’’, hanyalah dikatakan kepada orang-orang yang berzikir dengan jahar, bukan dengan lirih (sir).”

Zikir dengan jahar itu dapat menggugah semangat dan melembutkan hati, menghilangkan ngantuk, sesuatu yang tidak akan didapatkan pada zikir secara lirih (sir).

Dan di antara yang membolehkan lagi zikir jahar ini adalah ulama mutaakhhirin terkemuka Al-Allaamah Khairuddin ar-Ramli, dalam risalahnya yang berjudul Taushilul Murid ilal Murad bi Bayani Ahkamil Ahzab wal Aurad beliau mengatakan sebagai berikut, “Jahar dengan zikir dan tilawah, begitu juga berkumpul untuk berzikir baik itu di majlis ataupun di masjid adalah sesuatu yang dibolehkan dan disyariatkan berdasarkan hadis (qudsi) Nabi Saw., ‘Barangsiapa berzikir kepada-Ku (Allah) dihadapan orang-orang, maka Aku pun akan berzikir untuknya dihadapan orang-orang yang lebih baik darinya’, dan firman Allah Swt., ‘Seperti zikirmu terhadap nenek-moyangmu atau zikir yang lebih mantap lagi’ (QS Al-Baqarah [2]:200), bisa juga dijadikan sebagai dalilnya (dalil jahar)”.

Sebagian ulama hanya memakruhkan zikir jahar yang terlalu keras (menjerit-jerit). Begitu juga jahar yang tidak keterlaluan bila menyebabkan dirinya riya’ atau mewajibkan zikir secara jahar. Berapa banyak perkara yang sebenarnya mubah tapi karena diwajibkan atau disyariatkan pelaksanaanya dengan cara-cara tertentu. Padahal, agama tidak mengajarkan demikian, maka ia akan berubah menjadi makruh, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Qari’ dalam Syarhul Miskat, Al-Hashkafi dalam Ad-Durrul Mukhtar dan beberapa ulama lainnya.

  • Syaikh Sulaiman bin Sahman An-Najdi Al-Hanbali–wafat th 1349H–dalam kitabnya Tahqiq Al-Kalam fi Masyri‘iyyati Al-Jahr Bi-al-Zikir ba’da As-Salam (Menegaskan pembicaraan mengenai disyariatkan menjahar zikir setelah mengucapkan salam) halaman 48, mengatakan, “Hadis sahih dari Nabi Muhamad Saw. menyebutkan bahwa men-jahar zikir setelah mendirikan shalat fardhu itu tidak mengganggu orang lain. Justru pendapat yang menentang sunnah tersebutlah yang mengganggu dan membingungkan umat Islam. Bahkan, itulah kebatilan yang paling batil dan kemungkaran yang sangat jelas karena bertentangan dengan nash. Pendapat seperti itu juga merupakan penolakan tanpa ilmu dan argumentasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan”.
  • Hadis dari Amar bin Dinar, dia berkata: “Aku dikabari oleh Abu Ma’bad–bekas budak Ibnu Abbas yang paling jujur–dari tuannya yakni Ibnu Abbas dimana beliau berkata; 

             اَنَّ رَفْعَ  الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ المَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ رَسُوْل اللهَ              ِ

‘Sesungguhnya berzikir dengan mengeraskan suara ketika orang selesai melakukan shalat fardhu, terjadi dimasa Rasulallah Saw.’“. (HR. Bukhori dan Muslim).

  • Dalam riwayat yang lain diterangkan, Ibnu Abbas berkata: “Aku mengetahui selesainya shalat Rasulallah Saw. dengan adanya ucapan takbir beliau (yakni ketika berzikir)”. (HR Bukhori [2:324] dalam Al-Fath Al-Bari dan Imam Muslim [1: 410])
  • Ibnu Hajr (Fath-Al-Bari 2:325) mengatakan, ‘Dalam hadis tersebut terkandung makna  bolehnya mengeraskan zikir setelah menunaikan sholat’.
  • Imam As-Suyuthi  dalam Natijatul fikri Jahri Bid Zikri, menyatakan, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya mengenai tokoh Sufi yang membentuk kelompok-kelompok zikir dengan suara agak keras, apakah itu merupakan perbuatan makruh atau tidak? Jawab beliau: Itu tidak ada buruknya (tidak makruh)! Ada hadis yang menganjurkan zikir dengan suara agak keras (jahar) dan ada pula menganjurkan dengan suara pelan (sirran). Penyatuan dua macam hadis ini yang tampaknya berlawanan, semua tidak lain tergantung pada keadaan tempat dan pribadi orang yang akan melakukan itu sendiri.
  • Dalam kitab Majmu al-Fatawa, mengenai majlis zikir, Ibnu Taimiyah dimintai pendapat mengenai perbuatan berkumpul beramai-ramai berzikir, membaca Al-Quran, berdoa sambil menanggalkan serban dan menangis, sedangkan niat mereka bukanlah karena riya ataupun membanggakan diri tetapi hanyalah karena hendak mendekatkan diri kepada Allah Swt.. Adakah perbuatan-perbuatan ini dibolehkan? Beliau menjawab, “Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan perintah syariat (mustahab) untuk berkumpul dan membaca Al-Quran dan berzikir serta berdoa....” (Pertanyaan ini berkaitan dengan majlis zikir yang dilakukan kaum Sufi Syaziliyah di masjid-masjid).
  • Ibnu Hajr dalam kitabnya Khatimatul Fatawa mengatakan: “Wirid-wirid, bacaan-bacaan secara jahar, yang dibaca oleh kaum Sufi (para penghayat ilmu tasawuf) setelah sholat menurut kebiasaan dan suluh (amalan-amalan khusus yang ditempuh kaum Sufi) sungguh mempunyai akar/dalil yang sangat kuat”.
  • Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm berkata sebagai berikut, Aku memilih untuk imam dan makmum agar keduanya berzikir pada Allah sesudah salam dari shalat dan keduanya melakukan zikir secara lirih. Kecuali imam, yang menginginkan para makmum mengetahui kalimat-kalimat zikirnya, maka dia boleh melakukan jahar sampai dia yakin, para makmum itu sudah mengetahuinya kemudian diapun berzikir secara sir

Dengan demikian tidak diketemukan pernyataan Imam Syafi’i atau ulama Mazhab Syafi’i yang melarang zikir secara jahar apalagi sampai memutuskan- nya sebagai bid’ah dholalah .

Imam An-Nawawi, berkaitan dengan masalah membaca secara jahar dan lirih, berpendapat, “Membaca Al-Quran maupun berzikir lebih utama secara lirih (sir) bila orang yang membaca khawatir untuk riya atau mengganggu orang yang sedang shalat di tempat itu atau orang yang sedang tidur. Di luar situasi seperti ini, zikir secara jahar adalah lebih utama.”

Selain itu, juga membaca Al-Quran dan zikir secara jahar ini manfaatnya berdampak pada orang-orang yang mendengar, lebih konsentrasi atau memusatkan pendengarannya sendiri, membangkitkan hati pembaca sendiri, hasrat berzikir lebih besar, menghilangkan rasa ngantuk dan lain-lain. Menurut sebagian ulama bahwa beberapa bagian Al-Quran lebih baik dibaca secara jahar, adapun bagian lainnya dibaca secara lirih. Bila membaca secara lirih akan menjenuhkan, bacalah secara jahar dan bila secara jahar melelahkan maka bacalah secara lirih.

Sebagian orang senang berzikir secara jahar untuk dapat memerangi bisikan busuk (was-was), godaan hawa nafsu, lebih konsentrasi tidak mudah lengah, dan langsung menyatukan ucapan lisan dengan hatinya, lebih khusyu’ apalagi dengan irama zikir yang enak, menghilangkan ngantuk dan lain-lain.

  • Terdapat riwayat bahwa Umar bin Khattab r.a. berzikir secara jahar, sedangkan sahabat Abu Bakar a. dengan suara lirih (sir). Waktu mereka berdua ditanya oleh Rasulallah Saw. mereka menjawab dengan penjelasan seperti di atas itu. Ternyata, Rasulallah Saw. membenarkan mereka berdua ini! (lihat, Al-Fatawa al-Hadisiyah halaman 56, Ibnu Hajr al-Haitami).

Kaum Mukmin dianjurkan berzikir setiap saat. Baik dalam keadaan junub, haid, nifas (kecuali bacaan ayat Al-Qurannya), maupun dalam keadaan suci, sedang sibuk atau lenggang waktu, sedang berbaring atau duduk dan pada setiap tempat. Itulah, yang dimaksud ayat Allah Swt. di antaranya surah An-Nisa [4]:103. Zikir semacam ini boleh dilaksanakan terus menerus! Lain halnya dengan shalat, ada syarat dan waktu-waktu tertentu yang tidak boleh melakukan shalat, umpama: orang yang sedang haid, nifas, junub (harus mandi dulu).

Adapun, mengenai adab berzikir, antara lain dinyatakan oleh Syaikh Ali Al-Marsyafi dalam kitabnya Manhajus Shalih:

“Kita sebaiknya selalu dalam keadaan bersih yakni mandi dan berwudu’, menghadap kiblat (kalau bisa), duduk ditempat yang suci (bukan najis). Orang agar sepenuhnya konsentrasi (penuh perhatian) dengan hatinya mengenai zikir yang dibaca itu. Tempat zikir tersebut ditaburi dengan minyak wangi. Berzikir dengan ikhlas karena Allah Swt...”.

Yang dimaksud Syaikh Ali Al Marsyafi ditaburi minyak wangi pada tempat zikir, agar tempat zikir tersebut semerbak wangi baunya. Dalam hal ini, dibolehkan semua jenis bahan yang bisa menimbulkan bau harum umpama minyak wangi, sebangsa kayu-kayuan (gahru dan sebagainya) atau menyan Arab, yang kalau dibakar asapnya berbau wangi. Bau-bauan wangi ini lebih mengkhusyukkan, menyegarkan pribadi orang atau para hadirin, menyenangkan mereka yang hadir di majlis zikir ini. Bau harum ini malah lebih diperlukan bila berada di ruangan yang banyak dihadiri oleh manusia agar berbau semerbak ruangan tersebut.

Hadis dari Abu Hurairah ra, Rasulallah Saw.bersabda: “Siapa yang diberi wangi-wangian janganlah ditolak, karena ia mudah dibawa dan semerbak harumnya”. (HR. Muslim, Nasa’i dan Abu Dawud). Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Nasa’i: “Adakalanya Ibnu Umar ra. membakar uluwwah tanpa campuran, dan adakalanya kapur barus yang dicampur dengan uluwwah seraya berkata, ‘Beginilah Rasulallah Saw. mengasapi dirinya.’

Dengan adanya riwayat-riwayat yang dikemukakan di atas cukup jelas mengenai dibolehkannya zikir baik secara lirih maupun jahar.

                                                                             

Dalil-dalil yang mencela kumpulan zikir secara jahar

Golongan Pengingkar dan pengikutnya mengajukan dalil-dalil sebagai dasar haramnya orang berkumpul berzikir secara jahar. Dalil-dalil yang mereka ajukan antara lain firman Allah Swt:

Dan apabila dibacakan (kepadamu) ayat-ayat suci Al-Quran, maka dengarkanlah dia dan perhatikan agar kamu diberikan rahmat’. (QS Al-A’raf [7]:204). Ayat ini, dibuat dalil oleh mereka untuk melarang  pembacaan Al-Quran secara bersama, apalagi diamalkan dalam sebuah majlis zikir seperti istighatsah, tahlil, yasinan dan lain lain.

Sudah tentu, pemikiran seperti ini adalah faham yang keliru, karena makna atau yang dimaksud firman Allah Swt itu, bila ada orang membaca Al-Quran (di luar shalat), sedangkan orang lainnya tidak ikut membaca bersama orang tersebut, maka yang tidak ikut membaca disunnahkan untuk mendengarkan serta memperhatikan bacaan Al-Quran. Tujuannya agar mereka mendapat pahala dan rahmat dari Allah Swt. Jadi bukan berarti ayat ini melarang orang bersama-sama membaca Al-Quran dalam kumpulan majlis zikir!

Selain firman Allah di atas, mereka juga biasanya mengajukan dalil,

“Dan  ingatlah Tuhanmu di dalam hatimu sambil merendah- kan diri dan merasa takut serta tidak dengan suara keras (yang berlebihan) di pagi maupun sore hari.” (QS Al-A’raf [7]:205), untuk mengharamkan majlis zikir.

Ayat ini, juga tidak bisa dibuat dalil untuk melarang semua bentuk zikir secara jahar. Sebenarnya yang dimaksud ayat ini adalah untuk orang-orang yang sedang mendengarkan Al-Quran, yang sedang dibaca oleh orang lain, sebagaimana ditunjukkan pada surah Al-A’raf [7]:204. Dengan demikian, makna surah Al-A’raf [7]: 205 tadi, “Berzikirlah kepada Tuhanmu di dalam hati wahai orang yang memperhatikan dan mendengarkan bacaan Al-Quran dengan merendahkan diri serta rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara (yang berlebihan)...’.

Seperti ini pula, makna yang dikehendaki oleh ulama pakar di antaranya, Ibnu Jarir, Abu Syaikh dan Ibnu Zaid. Sedangkan Imam Suyuthi dalam kitabnya Natijatul Fikri berkata, “Ketika Allah Swt. memerintahkan untuk inshat (memperhatikan bacaan Al-Quran) dikhawatirkan terjadinya kelalaian dari mengingat Allah Swt., maka dari itu disamping perintah inshat zikir di dalam hati tetap dibebankan agar tidak terjadi kelalaian mengingat Allah Swt.. Karenanya ayat tersebut diakhiri dengan ‘Dan janganlah kamu termasuk di antara orang-orang yang lalai’.

Bahkan, menurut Imam Ar-Razi bahwa surah Al-A’raf [7]:205 justru menetapkan zikir dengan jahar yang tidak berlebihan, bukan malah mencegahnya karena di situ disebut juga  “...dan bukan dengan mengeraskan suara (jahar yang berlebihan)...” Sehingga dapat di ambil kesimpulan bahwa tuntutan ayat itu adalah “melakukan zikir antara lirih dan jahar yang berlebihan”. Makna  yang demikian, sesuai dan dikuatkan oleh firman Allah Swt. dalam surah Al-Isra’ [17]:110 yang berbunyi, “Janganlah kamu mengeraskan suara dalam berdoa dan janganlah pula kamu melirihkannya melainkan carilah jalan tengah di antara yang demikian itu.”

Selain nash Al-Quran diatas, mereka juga sering mengutip hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Marduwaih dan Al-Baihaqi dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a. yang berkata,

“Kami pernah bersama Rasulallah Saw. dalam sebuah peperangan, maka terjadilah satu keadaan di mana kami tidak menuruni lembah dan tidak pula mendaki bukit kecuali kami mengeraskan suara takbir kami. Maka mendekatlah Rasulallah Saw. kepada kami dan bersabda, ‘Lemah lembutlah kalian dalam bersuara karena yang kalian seru bukanlah Zat yang tuli atau tidak ada. Kalian menyeru hanya kepada Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sesungguhnya yang kalian seru itu lebih dekat kepadamu ketimbang leher-leher onta tungganganmu’”  

Atas dasar hadis di atas, kaum Pengingkar sering berargumen, “Mengapa kita harus mengeraskan suara dalam berzikir...? Padahal hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari di atas memerintahkan untuk merendahkan suara ketika berzikir karena Zat yang dituju dalam berzikir adalah Allah Swt. bukan Zat yang tuli, bukan Zat yang tidak ada bahkan ilmu dan kekuasan-Nya ada di hadapan kita. Dia lebih dekat kepada kita dibanding leher-leher onta tunggangan kita.”

Menurut hemat kami, alasan ini pun tidak tepat untuk dijadikan dalil melarang atau mengharamkan semua bentuk zikir jahar. Perintah irba’u (merendahkan suara) di hadis tersebut bukanlah hukum wajib sehingga berakibat haramnya berzikir secara jahar. Hal ini karena perintah dengan menggunakan kata ar-rab’u adalah semata-mata untuk memberikan kemudahan kepada mereka.

Berdasarkan inilah, Syaikh Ad-Dahlawi dalam Al-Lama‘at Syarhul Misykat mengatakan bahwa irba‘u adalah satu isyarat di mana larangan jahar hanyalah untuk memudahkan, bukan karena berzikir secara jahar tidak disyariatkan. Sebenarnya hadis ini berkaitan dengan larangan mengangkat suara zikir di jalanan atau ketika sedang berjalan-jalan, berbeda dengan hadis-hadis yang telah kami kemukakan. Berzikir secara jahar seusai shalat atau berzikir berkelompok telah disebutkan dalam hadis-hadis sahih di antaranya juga disebutkan dalam Shahihain (Shahih Bukhari dan Shahih Muslim).

Jika sekiranya Rasulallah Saw. tidak mencegah para sahabat berzikir secara keras di jalanan apalagi dalam waktu peperangan menaiki dan menuruni bukit, maka mereka jelas akan menyangka bahwa mengeraskan suara zikir yang berlebihan (menjerit-jerit) sewaktu dalam perjalanan adalah disunnahkan. Padahal sunnah yang seperti itu tidak dikehendaki oleh Beliau Saw.. Pada saat itu, mengeraskan zikir, dalam perjalanan perang menuju Khaibar, tidak ada kebaikannya, bahkan bisa menimbulkan bencana kalau sampai didengar oleh musuh. Terlebih lagi ada hadis mengatakan “Perang itu adalah suatu tipu daya.” Beliau Saw. juga melarang mereka supaya nantinya tidak merasa lebih lelah dan kesulitan dalam menghadapi peperangan. Al-Bazzazi juga menerangkan demikian.

Pengarang kitab Fathul Wadud Syarah Sunan Abi Daud mengatakan bahwa kata-kata rafa‘u ashwatahum (meninggikan suara mereka) menunjukkan bahwa mereka terlalu berlebihan dalam menjaharkan zikir. Maka hadis itu tidaklah menuntut larangan men-jahar-kan zikir secara mutlak. Jadi zikir jahar yang dilakukan oleh para sahabat ketika itu adalah jahar yang berlebihan (menjerit-jerit) sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa riwayat berkaitan dengan larangan itu.

Bila hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari di atas ini dipakai sebagai dalil untuk melarang semua bentuk zikir secara jahar, maka akan berbenturan dengan hadis-hadis sahih yang berkaitan dengan zikir secara jahar.

Dasar larangan golongan Pengingkar atas Majlis zikir, juga  mengutip suatu riwayat,

Umar bin Khatab r.a. mencambuk suatu kaum yang berkumpul karena kaum ini berdoa untuk kebaikan kaum muslimin dan para pemimpin’. Dengan berdalil pada riwayat  ini, mereka melarang semua bentuk berzikir secara jahar.

Umpama riwayat tersebut benar-benar ada dan sahih, kita harus meneliti dahulu mengapa Umar bin Khatab r.a. melarang mereka berkumpul untuk berdoa kebaikan tersebut. Sehingga tidak langsung menghukumi semua perkumpulan manusia untuk doa kebaikan itu dilarang. Zikir dan doa itu termasuk amal ibadah yang sangat dianjurkan oleh Allah Swt. dan Rasulallah Saw.. Tidak ada kewajiban dalam syariat tentang tata cara berzikir dan berdoa, boleh dilakukan secara berkumpul atau pun secara individu. Penafsiran seperti itu adalah sangat sembrono, karena bisa mengakibatkan orang merendahkan sifat Umar bin Khatab.

Kelompok Pengingkar juga mengatakan ada riwayat dari Bukhari yang berkata,

Ada suatu kaum setelah melaksanakan shalat maghrib seorang dari mereka berkata, “Bertakbirlah kalian semua pada Allah seperti ini… bertasbihlah seperti ini….dan bertahmidlah seperti ini…maka Ibnu Mas’ud r.a. mendatangi orang ini dan berkata, '….. sungguh kalian telah datang dengan perkataan bid‘ah yang keji atau kalian telah menganggap lebih mengetahui dari sahabat Nabi.'”

Riwayat di atas, oleh kaum Pengingkar itu juga dibuat dalil untuk melarang semua kumpulan majlis zikir, alasan seperti ini juga tidak tepat sama sekali. Pertama, kita harus mengetahui dahulu kalimat takbir, tasbih atau tahmid yang diperintahkan orang tersebut pada sekelompok muslimin itu. Kedua, misalkan bacaan takbir, tasbih, tahmid serta cara pemberitahuan sesuai yang dianjurkan oleh Nabi Saw. maka tidak mungkin Ibnu Mas’ud r.a. akan melarangnya, karena Rasulallah Saw. sendiri meridhai dan memberi kabar gembira bagi kelompok kaum yang sedang berzikir. Ketiga, kelompok tersebut belum melakukan zikir yang diperintahkan oleh orang itu, oleh karenanya Ibnu Mas’ud bukan tidak menyenangi kumpulan zikir dan bacaannya, tapi beliau tidak menyenangi cara pemberitahuan orang tersebut kepada kelompok itu, yang seakan-akan mewajibkan atau mensyariatkan kelompok tersebut untuk mengamalkan hal tersebut, karena zikir adalah amalan-amalan sunnah bukan wajib.

Bahkan, sekarang sering dijual dan dikumandangkan dipasar-pasar atau ditoko-toko diberbagai negara; Saudi Arabia, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Marokko, Mesir dan negara barat maupun timur, qasidah  dan zikir pujian pada Allah Swt dan sholawat atas Nabi Muhamad Saw. Kalau semua zikir jahar ini mungkar dan dilarang maka menjual dan mengumandangkan kaset-kaset inipun harus dilarang, terutama dinegara-negara Islam yang anti majlis zikir. Tapi, nyatanya sampai detik ini tetap berjalan malah lebih banyak lagi toko yang jual kaset, CD tersebut karena banyak peminatnya.Wallahu’alam.

Silahkan baca uraian pada bab 8 berikutnya.