Argumen Kumpulan Majlis Zikir

 

              Argumen Kumpulan Majlis Zikir

 

Sebelum masuk pada argument golongan Pengingkar mengenai keharaman majlis zikir, penting kita memperhatikan terlebih dahulu alinea-alinea berikut.

Kita sudah kebanjiran ahli piker, tetapi maha sedikit ahli zikir. Padahal keseimbangan keduanya amatlah diperlukan. Dalam ritual yasinan, tahlil, manakiban dan lain-lain, terdapat dimensi transedental. Yakni niat ibadah pada Allah. Selain itu juga ada aspek sosial berupa antara lain mengokohkan ikatan tali silaturahmi, bertemu orang lain, dan saling menyapa. Inilah salah satu modal sosial yang belakangan semakin luntur. Masyarakat kita belakangan semakin lemah untuk mampu hidup secara kolektif.

 

Apa makna zikir yang selalu diperintahkan dalam Al-Quran dan hadis Nabi Saw.? Para ulama menyatakan bahwa yang dimaksud Zikir ialah mengingat pada Allah Swt. Makna ini mencakup segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia untuk mengingat pada Allah Swt. dan Rasul-Nya, misalnya: shalat, bertasbih, bertahlil, bertakbir, majlis ilmu, memuji Allah dan Rasul-Nya, menyebutkan sifat-sifat kebesaran-Nya, sifat-sifat keindahan-Nya, sifat-sifat kesempurnaan yang telah dimiliki-Nya, membaca riwayat para utusan Allah dan sebagainya. Tidak lain semuanya ini untuk lebih mendekatkan diri kita pada Allah Swt. sehingga kita mencintai dan dicintai Allah Swt. dan Rasul-Nya.

 

Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fathul Bari jilid 11 hal. 209 mengatakan, “Yang dimaksud dengan zikir adalah mengucapkan kata-kata yang diperintahkan untuk diperbanyak pengucapannya. Hal ini seperti al-baqiyat as-shalihat (amal saleh yang kekal manfaatnya) berupa zikir; Suhhanallah wal-hamdulillah, wa lâ ilâha illallâh wallahu Akbar (Maha suci Allah, segala puji hanya milik Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan Allah itu Mahabesar). Juga seperti zikir-zikir yang lainnya, yaitu membaca hauqalah  (la haula wa la quwwata illa billah, [tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah]), basmalah (bismillah ar-Rahman ar-Rohim [dengan nama Allah yang Pengasih dan Penyayang]), istighfar (astaghfirullah, [aku mohon ampunan dosa dari Allah]), hasbalah (hasbunallah wa ni’ma al-wakil, ni’ma al-maula wa ni’ma an-nashir [cukuplah bagi kami Allah, dan Dia sebaik-baik pelindung, sebaik-baik majikan dan sebaik-baik penolong]). Demikian pula, doa (permohonan) untuk  kemaslahatan/kebaikan dunia dan akhirat.

 

Zikir juga berarti mengamalkan secara terus menerus apa yang diwajibkan atau dianjurkan oleh Allah Swt., seperti membaca Al-Quran, membaca hadis, belajar atau menuntut ilmu, juga melakukan shalat sunnah. Zikir juga kadang-kadang berupa pelafalan/pengucapan dengan lidah dan orang yang mengucapkannya berpahala. Dalam zikir semacam ini, tidak disyaratkan untuk menghadirkan hati. Dan jika zikir tersebut disertai pemaknaan dan penghayatan seperti mengakui keagungn Allah dan membersihkan atau mensucikan-Nya dari segala sifat kekurangan maka zikir tersebut semakin sempurna..

 

Ibnu Hajar selanjutnya mengatakan bahwa Al-Fakhrur-Razi berkata, ‘Yang dimaksud Zikir dengan lisan itu ialah (pengucapan) kata-kata yang mengandung tasbih [menyucikan Allah], tahmid [memuji Allah] dan tamjid [memuliakan dan mengagungkan Allah Swt.]. Sedang yang dimaksud dengan zikir qalb (dalam hati) ialah berpikir mengenai dalil-dalil atau bukti-bukti mengenai Zat Allah, sifat-sifatNya dan yang berkaitan dengan taklif [kewajiban yang dibebankan oleh syariat] berupa perintah dan larangan. Dengan begitu, orang yang berzikir akan mengetahui hukum-hukum serta rahasia-rahasia Allah yang ada pada (semua) makhluk-Nya.

 

Sedangkan zikir dengan anggota tubuh (lainnya) ialah,  anggota tubuh semuanya dipergunakan–secara optimal atau penuh–dalam taat kepada Allah Swt.. Meskipun demikian, Allah Swt. menyebut shalat itu sebagai zikir. Seperti difirmankan-Nya: ...maka pergilah (untuk menuju) ke zikrullah (shalat jumat). Diriwayatkan dari sebagian al-‘arifin–ahli tauhid–bahwa zikir itu dilakukan lewat tujuh segi:

zikir mata dengan menangis;

zikir telinga dengan mendengarkan (ajaran Allah);

zikir lidah dengan menyanjung atau memuji Allah 

zikir  kedua tangan  dengan memberi infak, sedekah, zakat, hadiah dan lain -lainnya;

zikir badan dengan al-wafa (memenuhi tuntutan dan janji);

zikir hati dapat dilakukan dengan adanya khauf (rasa takut akan murka Allah) dan raja’ (penuh pengharapan terhadap rahmat dan karunia Allah Swt);

zikir ar-ruh dengan berserah diri kepada ketentuan Allah serta ridho/rela atas apa yang ditentukannya.” Demikianlah Ibnu Hajar Al-Asqalani. 

 

Sayid Sabiq ,ulama kontemporer yang sering disebut dan sepaham dengan golongan Wahabi-Salafi, dalam kitabnya Fiqh Sunnah jilid 4 hal. 247 ,terjemahan, cet. pertama th.1978 menulis bahwa Imam Qurtubi berkata: “Majlis zikir maksudnya ilmu dan peringatan yakni majlis dimana disebut firman-firman Allah dan sunnah-sunnah Rasul-Nya. Begitupun berita-berita (riwayat-riwayat) mengenai orang-orang saleh dari golongan Salaf, ucapan ucapan imam dahulu yang zuhud, yang bebas dari bid‘ah dan hal yang dibuat-buat, bersih dari maksud jelek dan maksud serakah”.

 

  • Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan: “Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majah dan disahihkan oleh Imam Al-Hakim hadis dari Abu Darda r.a. secara marfu’, Rasulallah Saw. bersabda, ‘Senangkah kalian jika aku beritahukan mengenai amal yang paling baik dan paling bersih/suci di sisi Raja kalian. Lebih tinggi derajatnya bagi kalian, bahkan lebih baik bagimu daripada menginfakkan emas dan kertas (uang), lebih baik daripada bertemu dengan musuh kalian lalu kalian menebas leher musuh itu dan (atau) mereka membunuh kalian (menebas leher kalian)?’ Mereka menjawab, ‘Ya’. Rasulallah Saw. bersabda: ‘Itulah zikrullah, mengingat Allah Azza wa Jalla (Yang Maha Perkasa dan Agung)’“. (HR.Tirmidzi [V:459, Ibnu Majah [2:1245], Al-Hakim [1: 496]. Hadis ini sahih.

Ibnu Hajar telah mengisyaratkan mengenai zikir tersebut, ketika menjelaskan jihad dan keutamaan orang yang berjihad (al-mujahid). Bahwa mujahid itu, seperti orang yang sedang beribadah puasa tidak berbuka (sering berpuasa), seperti yang bangun malam (untuk ibadah) tidak pernah tidur dan keutamaan-keutamaan lainnya yang menunjukkan keutamaan jihad dibandingkan dengan amal-amal saleh lainnya. Keutamaan jihad–berjuang untuk kemaslahatan dan kejayaan agama Islam–itu juga diakui lebih utama dibandingkan dengan zikir dengan lisan saja tanpa pemaknaan dan penghayatan.

Jika ada yang kebetulan berkesempatan atau dengan sengaja menyempatkan diri untuk melakukan zikir dengan lisan dan hatinya, serta menghayatinya–dan itu semua dilaksanakan ketika dia melakukan shalat, puasa, sedekah atau berperang melawan orang-orang kafir–itulah yang mencapai derajat yang tinggi. Menurut Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi, tiada perbuatan saleh, kecuali zikir merupakan syarat untuk membenarkan atau meluruskannya. Sehingga, siapa saja yang tidak berzikir umpamanya ketika bersedekah atau puasa, amal ibadahnya tidak sempurna. Jadi, zikir, jika dilihat dari fungsinya yang seperti itu dapat dinilai sebagai amal yang paling mulia. Perhatikanlah, hadis yang berarti, “Niat Mukmin itu lebih hebat  daripada amalnya.” Demikianlah menurut Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Al-Fath X1:210. (HR.Thabarani dalam Al-kabir V1:185; Baihaqi dalam Su’ab Al-Iman V:343; Al-Hafidh All-Sakhawi dalam Al-Maqashlud Al-Hasanah hal. 450, mengenai jalan (sanad) hadis tersebut, mengatakan: ‘sanad-sanad hadis tersebut meski dho’if, tetapi semuanya dapat memperkuat hadis tersebut’. Lihat pula kitab Majma’ Al-Zawa’id 1:61

                                                                                 

Dalil-dalil majlis zikir termasuk zikir secara jahar (agak keras)

Ditemukan banyak ayat Al-Quran yang memerintahkan kaum Muslim untuk berzikir, antara lain, “Hai orang-orang yang beriman, Berzikirlah kamu pada Allah sebanyak-banyaknya, dan bertasbih lah pada-Nya  diwaktu  pagi mau pun  petang!”. (QS Al-Ahzab:41-42); “Berzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (QS Al-Baqarah [2]:152). “...Yakni orang-orang zikir pada Allah baik diwaktu berdiri, ketika duduk dan diwaktu berbaring”. (QS Ali Imran [3]:191); “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka aman tenteram dengan zikir pada Allah. Ingatlah dengan zikir pada Allah itu, hatipun akan merasa aman dan tenteram”. (QS Ar-Rad [13]:28).

 

  • Dalam hadis qudsi, Allah Swt. berfirman;              

اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي, وَاَنَا مَعَهُ حِيْنَ يَذْكرُنِي, فَإنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإنْ ذَكَرَنِي فِي مَلاَءٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلاَءٍ خَيْرٍ مِنْـهُ وَإنِ اقْتَرَبَ اِلَيَّ شِبْرًا اتَقَرَّبْتُ إلَيْهِ ذِرَاعًا وَإنِ اقْتَرَبَ إلَيَّ ذِرَاعًا اتَقَرَّبْتُ إلَيْهِ بَاعًا وَإنْ أتَانِيْ يَمْشِي اَتَيْتُهُ هَرْوَلَة.                                                     

“Aku ini menurut prasangka hambaKu, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya (hatinya), Aku akan ingat pula padanya dalam diriKu. Jika ia mengingat-Ku dihadapan umum, Aku akan mengingatnya pula dihadapan khalayak (al-mala’) yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta. Jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sedepa dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR. Bukhari  [jilid 12, hal. 384], Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).

 

  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Al-Fath Al-Bari jilid 13, hal.387 mengatakan, “Sebagian ahli sunnah memberikan jawaban mengenai hadis di atas, bahwa kemungkinan yang dimaksud dengan al-mala’ (sekolompok makhluk) yang lebih baik daripada kelompok manusia muslim yang sedang berzikir, adalah kelompok para nabi dan syuhada, karena mereka–sebagaimana diberitakan Al-Quran–hidup di sisi Tuhannya (bahkan diberi rezeki).”
  • Allamah Al-Jazari dalam kitabnya Miftahul Hishnil Hashin berkata, “Hadis di atas merupakan dalil dibolehkannya berzikir dengan jahar (suara keras).”
  • Imam Suyuthi berkata, “Zikir di hadapan orang-orang tentu zikir jahar, hadis itulah dalil yang membolehkannya’.
  • Al-Hafizh Al-Suyuti dalam Al-Hawi Lil Fatawi jilid 1, halaman 389 mengatakan, “Dan berzikir dalam sekelompok orang itu tidak terbukti kecuali dengan jahar.”
  • Hadis qudsi dari Muaz bin Anas, secara marfu’, Allah Swt. berfirman,

مِنْ مَلاَئِكَتِي  قَالَ اللهُ تَعَالَى: لاَ يَذْكُرُنِي اَحَدٌ فِى نفْسِهِ اِلاَّ ذَكّرْتُهُ فِي مَلاٍ وَلاَيَذْكُرُنِي فِي مَلاٍ اِلاَّ ذَكَرْتُهُ فِي المَلاِ الاَعْلَي وَلاَيَذْكُرُنِي فِي مَلاٍ اِلاَّ   ذَكَرْتُهُ فِي المَلاِ الاَعْلَي                                                          

“Tidaklah seseorang berzikir pada-Ku dalam hatinya kecuali Aku pun akan berzikir untuknya di hadapan para malaikat-Ku. Dan tidak juga seseorang berzikir pada-Ku di hadapan orang-orang kecuali Aku pun akan berzikir untuknya di tempat yang tertinggi’” (HR. Thabrani). Dalam kitab At-Targib wat-Tarhib 3/202 dan Majma’uz Zawaid 10/78. Al-Mundziri berkata: ‘Isnad hadis diatas ini baik/ hasan.

 

  • Rasulallah Saw. bersabda,

  سَبَقَ المُفَرِّدُونَ, قاَلُوْا: وَمَا المُفَرِّدُونَ  يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللهَ      الذَّاكِرُونَ اللهَ كَثِيْرًاوَالذَّاكِرَاتِ (رواه المسلم)                            

“Telah majulah orang-orang istimewa! Tanya mereka ‘Siapakah orang-orang istimewa, ya Rasulallah?’ Ujar Nabi Saw. ‘Mereka ialah orang-orang yang berzikir baik laki-laki maupun wanita’”  (HR. Muslim).

  • Hadis dari Abu Said Khudri dan Abu Hurairah [r.a.], mereka mendengar sendiri dari Nabi Saw. bersabda,

لاَ يَقْـعُدُ قَوْمٌ يَذْكُـرُنَ اللهَ تَعَالَى إلاَّ حَفَّتْـهُمُ المَلاَئِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمة        ُ                              وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِيْنَةُ وَذَكَرَهُمْ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidak satu kaum (kelompok) pun yang duduk zikir kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka akan dikelilingi Malaikat, akan diliputi oleh rahmat, beroleh ketenangan dan akan disebut-sebut oleh Allah pada siapa-siapa yang berada di sisi-Nya.” (HR.Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi).

 

Diterima dari Ibnu Umar bahwa Nabi Saw. bersabda,

 إذَا مَرَرْتُم بِرِيَاضِ الجَنَّة فَارْتَعُوْا, قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنّـَة يَا رَسُولُ الله؟  قَالَ: حِلَقُ الذِّكْرِ فَإنَّ لِلَّهِ تَعَالَى سَيَّرَاتٍ مِنَ المَلآئِكَةَ يَطْلُبُونَ حِلَقَ الذِّكْرِ   فَإذَا أتَوْا عَلَيْهِمْ  حَفُّوبِهِمْ                                                   

Jika kalian lewat di taman-taman surga, hendaklah kamu ikut bercengkerama! Tanya mereka; ‘Apakah itu taman-taman surga ya Rasulallah’? Ujar Nabi Saw.; ‘lingkaran lingkaran zikir, karena Allah Swt. mempunyai rombongan pengelana dari Malaikat yang mencari-cari lingkaran zikir. Bila ketemu dengannya, mereka akan duduk mengelilinginya.’”

  • Hadis riwayat Al-Baihaqi dari Abu Said Al-Khudri r.a, Nabi Saw. bersabda,

يَقُوْلُ الرَّبُّ جَلَّ وَعَلاَ يَوْمَ القِيَامَةِ سَيَعْلَمُ هَؤُلاَءِ الْجَمْعَ الْيَوْمَ مَنْ اَهْلُ الْكَرَمِ؟ فَقِيْلَ مَنْ اَهْلُ الْكَرَمِ؟ قَالَ اَهْلُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ فِي الْمَسَاجِدِ (رواه البيهاقي)    

“Allah jalla wa ‘Ala pada hari kiamat kelak akan bersabda: ’Pada hari ini ahlul jam’i akan mengetahui siapa orang Ahlul Karam (orang yang mulia).’ Ada yang bertanya: ‘Siapakah orang-orang yang mulia itu?’ Allah menjawab, ‘Mereka adalah orang-orang peserta majlis zikir di masjid-masjid.’”

 

  • Dalam sebuah hadis panjang, riwayat Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a., Rasulallah Saw. bersabda,

عَن أبِيْ هُرَيْرَة (ر) قَالَ: رَسُولُ الله .صَ.: إنَّ ِللهِ مَلآئِكَةً يَطًوفُونَ فِي الطُُّرُقِ يَلْتَمِسُـونَ أهْلَ الذِّكْرِ, فَإذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللهَ تَناَدَوْا: هَلُمُّـوْا إلَى حَاجَتِكُمْ  فَيَحُفُّونَهُمْ بِأجْنِحَتِهِمْ إلَى السَّمَاءِ, فَإذَا تَفَرَّقُوْا عَرَجُوْا وَصَعِدُوْا اِلَى السَّمَاءِ فَيَسْألُهُمْ رَبُّهُم ( وَهُوَ أعْلَمُ  بِهِمْ ) مِنْ اَيْنَ جِئْتُمْ ؟ فَيَقُوْلُوْنَ : جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عَبِيْدٍ فِي الاَرْضِ يُسَبِّحُوْنَكَ وَيُكَبِّرُوْنَكَ وَيُهَلِّلُوْنَكَ. فَيَقُوْلُ: هَلْ رَأوْنِي؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : لَوْ رَأوْنِي؟ فَيَقوُلُوْنَ: لَوْ رَأوْكَ كَانُوْا اَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً, وَاَشَدَّ لَكَ تَمْحِيْدًا وَاَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيْحًا, فَيَقُـوْلُ : فَمَا يَسْألُنِى ؟  فَيَقـوُلُوْنَ : يَسْألُوْنَكَ الجَنَّةَ, فَيَقُوْلُ: وَهَلْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ: لاَ, فَيَقُوْلُ: كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ: لَوْ اَنَّهُمْ رَأوْهَا كَانُوْا اَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَ اَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَاَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً. فَيَقُوْلُ: فَمِمَّا يَتَعَـوَّذُوْنَ؟ فَيَقُولُوْنَ: مِنَ النَّـارِ, فَيَقُوْلُ: وَهَلْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ : لاَ, فَيَقُوْلُ : كَيْفَ لَوْ رَأوْهَا ؟ فَيَقُولُوْنَ: لَوْ رَأوْهَا كاَنُوْا اَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا, فَيَقُوْلُ: اُشْهِدُكُمْ اَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ, فَيَقُوْلُ مَلَكٌ مِنَ المَلاَئِـكَةِ : فُلاَنٌ لَيْسَ مِنهُمْ, اِنَّمَا جَائَهُمْ لِحَـاجَةٍ فَيَقُوْلُ : هًمْ قَوْمٌ لاَ يَشْقَى جَلِيْسُهُم                                                    

  

Rasulallah Saw. bersabda; “Sesungguhnya Allah memiliki sekelompok Malaikat yang berkeling di jalan-jalan sambil mencari orang-orang yang berzikir. Apabila mereka menemukan sekolompok orang yang berzikir kepada Allah, mereka saling menyeru, 'Kemarilah kepada apa yang kamu semua hajatkan'. Lalu, mereka mengelilingi orang-orang yang berzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga ke langit. Apabila orang-orang telah berpisah (bubar dari majlis zikir), para malaikat tersebut berpaling dan naik ke langit (ketempat mereka). Bertanyalah Allah Swt. kepada mereka (padahal Dialah yang lebih mengetahui perihal mereka), ‘Darimana kalian semua’? Malaikat berkata, ‘Kami datang dari sekelompok hamba-Mu dibumi. Mereka bertasbih, bertakbir dan bertahlil kepada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Apakah mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata, ‘Tidak pernah.’ Allah berfirman, ‘Seandainya mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata, ‘Andai mereka pernah melihat-Mu, niscaya akan lebih meningkatkan ibadahnya kepada-Mu, lebih bersemangat memuji-Mu dan lebih banyak bertasbih pada-Mu.’

 

Allah berfirman, ‘Lalu apa yang mereka pinta pada-Ku’? Malaikat berkata, ‘Mereka minta surga kepada-Mu.’ Allah berfirman, ‘Apa mereka pernah melihat surga?’ Malaikat berkata: ‘Tidak pernah!’ Allah berfirman, ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihatnya?’ Malaikat berkata, ‘Andai mereka pernah melihatnya, niscaya akan bertambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya dan semakin besar keinginan untuk memasukinya.’ Allah berfirman, ‘Dari hal apa mereka minta perlindungan?’ Malaikat berkata, ‘Dari api neraka.’ Allah berfirman,  ‘Apa mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata, ‘Tidak pernah’. Allah berfirman, ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata, ‘Kalau mereka pernah melihatnya, niscaya akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya.’

 

Allah berfirman, ‘Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka.’ Salah satu dari malaikat berkata, ‘Di situ ada seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok mereka, dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah dia akan diampuni juga?).’ Allah berfirman, ‘Mereka (termasuk seseorang ini) adalah satu kelompok dimana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa’.”] Sedangkan, dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir: “Aku ampunkan segala dosa mereka, dan Aku beri permintaan mereka”. (HR. Bukhari X1 :209 dan Imam Muslim 1V:2070)

 

  • Hadis riwayat Imam Muslim dari Muawiyah;

,خَرَجَ رَسُولُ الله (صَ) عَلَى حَلَقَةِ مِنْ أصْحَابِهِ فَقَالَ: مَا اَجْلََسَكُم ؟ قَالُوْا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ تَعَالَى وَنَحْمَـدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلإسْلاَمِِ وَمَنَّ بِهِ عَلَـيْنَا قَالَ: اللهُ مَا أجْلَسَكُمْ إلاَّ ذَالِك ؟ قَالُوْا وَاللهُ مَا اَجْلَسَـنَا اِلاَّ ذَاكَ. قَالَ : اَمَا إنِّي لَمْ أسْتَخْلِفكُم تُهْمَةُ لَكُمْ, وَلَكِنَّهُ أتَانِي جِبْرِيْلُ فَأخْبَرَنِي أنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُباهِي بِكُمُ المَلآَئِكَةِ                                                                     

Nabi Saw. pergi mendapatkan satu lingkaran dari para sahabatnya, tanyanya;  ‘Mengapa kalian duduk disini?’ Ujar mereka: ‘Maksud kami duduk disini, zikir pada Allah Ta’ala dan memuji-Nya atas petunjuk dan kurnia yang telah diberikan-Nya pada kami dengan menganut agama Islam’. Sabda Nabi Saw.;  ‘Demi Allah tidak salah! Kalian duduk hanyalah karena itu'. Mereka berkata; Demi Allah, kami duduk karena itu. Saya (Muhamad Saw), tidaklah minta kalian bersumpah karena menaruh curiga pada kalian, sebenarnya Jibril telah datang dan menyampaikan bahwa Allah Swt. telah membanggakan kalian terhadap Malaikat’“ (HR.Muslim [1V:2075]).

 

  • Hadis riwayat Al-Baihaqi dari Anas bin Malik, Rasulallah Saw. bersabda,

لأَنْ اَقْعُدَنَّ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالَى مِنْ بَعْدِ صَلاَةِ الْفَجْـر ِالَى طُلُوْعِ الشَّمْسِ اَحَبُّاِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا                                            

ِSungguh aku berzikir menyebut (mengingat) Allah Swt. bersama jama’ah usai sholat Subuh hingga matahari terbit, itu lebih kusukai daripada dunia dan seisinya.”

  • Hadis riwayat Abu Daud dan Al-Baihaqi dari Anas bin Malik r.a, Nabi Saw. bersabda: “Sungguh aku duduk bersama jama’ah berzikir menyebut Allah Swt. dari sholat ashar hingga matahari terbenam, itu lebih kusukai daripada memerdekakan empat orang budak 
  • Hadis riwayat imam Al-Baihaqi, Zaid bin Aslam, dia berkata, اِنْطَلَقْتُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ(صَ) لَيْلَةً, فَمَرَّ بِرَجُلٍ فِي المَسْجِدِ يِرْفَعُ صَوْتَهُ فَقُلْتُ  يَا رَسُوْلَ اللهِ عَسَى اَنْ يَكُوْنَ هَذَا مُرَائِيًا فَقَالَ: لاَ وَلاَكِنَّهُ اَوَّاهُ. (رواه البيهاقي)                                                                                

Aku pernah berjalan dengan Rasulallah Saw. di suatu malam.  Beliau melewati seorang lelaki yang sedang meninggikan suaranya di sebuah masjid. Akupun berkata,Wahai Rasulallah, jangan-jangan orang ini sedang riya’.’ Beliau berkata, ‘Tidak! Dia itu seorang awwah (berdoa, mengadu, menghiba kepada Allah).’” (HR. Baihaqi). Dalam hadis ini, Rasulallah Saw. tidak melarang orang yang meninggikan suara dimasjid (berzikir secara jahar). Bahkan, beliau Saw. mengatakan dia adalah seorang yang banyak mengadu, berdoa pada Allah (beriba hati pada Allah Swt.). Sifat awwah itu adalah sifat yang paling baik! Nabi Ibrahim a.s juga termasuk seorang yang awwah (QS.Hud:75, QS.at-Taubah : 114).

 

  • Hadis dari Abi Said Al-Khudri r.a., dia berkata, Rasulallah Saw. bersabda; اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ  حَتَّى يَقُولُ اِنَّهُ مَجْنُوْنٌ        

“Perbanyaklah kalian berzikir kepada Allah sehingga mereka (yang melihat dan mendengar) akan berkata: ‘Sesungguhnya, dia orang gila.’” (HR. Hakim, Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Ibnu Hibban, Ahmad, Abu Ya’la dan Ibnu as-Sunni).

  • Hadis dari Ibnu Abbas r.a., dia berkata: Rasulallah Saw. bersabda:  اَكْثِرُوْا ذِكْرَاللهَ حَتَّى يَقُولَ المُنَافِقُوْنَ اِنَّكُمْ تُرَاؤُوْنَ

 “Perbanyaklah kalian berzikir kepada Allah, sehingga orang-orang munafik akan berkata, ‘Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang riya’.’” (HR. Thabrani).

  • Imam Suyuthi, dalam kitabnya Natijatul Fikri fil Jahri bid Dzikri berkata, “Bentuk istidlal (penggunaan dalil) dengan dua hadis di atas, ucapan ‘Dia itu gila’ dan ‘Kamu itu riya’’, hanyalah dikatakan kepada orang-orang yang berzikir dengan jahar, bukan dengan lirih (sir).”
  • Terdapat riwayat bahwa Umar bin Khatab r.a. berzikir secara jahar, sedangkan sahabat Abu Bakar r.a. dengan suara lirih (sir). Waktu mereka berdua ditanya oleh Rasulallah Saw. mereka menjawab dengan penjelasan seperti diatas itu. Ternyata, Rasulallah Saw. membenarkan mereka berdua ini! (Al-Fatawa al-Hadisiyah hal. 56, Ibnu Hajr al-Haitami).  
  • Diantara yang membolehkan lagi zikir jahar ini, ulama mutaakhhirin terkemuka Al-Allaamah Khairuddin ar-Ramli, dalam risalahnya berjudul Taushilul Murid ilal Murad bi Bayani Ahkamil Ahzab wal Aurad, mengatakan; “Zikir jahar dan tilawah, berkumpul untuk berzikir ,baik itu di majlis ataupun di masjid, sesuatu yang dibolehkan dan disyariatkan berdasarkan hadis (qudsi) Nabi Saw., ‘Barangsiapa berzikir kepada-Ku (Allah) dihadapan orang-orang, maka Aku pun akan berzikir untuknya dihadapan orang-orang yang lebih baik darinya’, dan firman Allah Swt., ‘Seperti zikirmu terhadap nenek-moyangmu atau zikir yang lebih mantap lagi’ (QS Al-Baqarah [2]:200), bisa juga dijadikan sebagai dalilnya (dalil jahar)”.

Sebagian ulama hanya memakruhkan zikir jahar yang terlalu keras (menjerit-jerit) atau jahar yang tidak keterlaluan tetapi menyebabkan dirinya riya’ atau mewajibkannya sebagai amalan wajib. Berapa banyak perkara yang sebenarnya mubah, tapi karena di wajibkan atau disyariatkan pelaksanaanya dengan cara-cara tertentu akan berubah menjadi makruh, sebagaimana dijelas kan oleh Al-Qari’ dalam Syarhul Miskat, Al-Hashkafi dalam Ad-Durrul Mukhtar dan beberapa ulama lainnya.

  • Dalam kitab Natijatul fikri Jahri Bid Zikri tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Imam As-Suyuthi mengenai tokoh Sufi yang membentuk kelompok-kelompok zikir dengan suara agak keras, apakah itu merupakan perbuatan makruh atau tidak? Jawab beliau: “Itu tidak ada buruknya (tidak makruh)! Ada hadis yang menganjurkan zikir dengan suara agak keras (jahar) dan ada pula menganjurkan dengan suara pelan (sirran). Penyatuan dua macam hadis ini yang tampaknya berlawanan, semua tidak lain tergantung pada keadaan tempat dan pribadi orang yang akan melakukan itu sendiri.`

 

  • Imam An-Nawawi, berkaitan dengan masalah membaca secara jahar dan lirih, berpendapat, “Membaca Al-Quran maupun berzikir lebih utama secara lirih (sir) bila orang yang membaca khawatir untuk riya atau mengganggu orang yang sedang shalat di tempat itu atau orang yang sedang tidur. Di luar situasi seperti ini, zikir secara jahar adalah lebih utama.”

Selain itu, membaca Al-Quran dan zikir secara jahar ini manfaatnya berdampak pada orang-orang yang mendengar, lebih konsentrasi atau memusatkan pendengarannya sendiri, membangkitkan hati pembaca sendiri, hasrat berzikir lebih besar, menghilangkan rasa ngantuk dan lain-lain. Menurut sebagian ulama bahwa beberapa bagian Al-Quran lebih baik dibaca secara jahar, adapun bagian lainnya dibaca secara lirih. Bila membaca secara lirih akan menjenuhkan, bacalah secara jahar dan bila secara jahar melelahkan maka bacalah secara lirih.

 

Sebagian orang senang berzikir secara jahar untuk dapat memerangi bisikan busuk (was-was), godaan hawa nafsu, lebih konsentrasi tidak mudah lengah, dan langsung menyatukan ucapan lisan dengan hatinya, lebih khusyu’ apalagi dengan irama zikir yang enak, menghilangkan ngantuk dan lain-lain

  • Dalam kitab Majmu al-Fatawa ,mengenai majlis zikir, Ibnu Taimiyah dimintai pendapat mengenai perbuatan berkumpul beramai-ramai berzikir, membaca Al-Quran, berdoa sambil menanggalkan serban dan menangis, sedangkan niat mereka bukanlah karena riya ataupun membanggakan diri tetapi hanyalah karena hendak mendekatkan diri kepada Allah Swt.. Adakah perbuatan-perbuatan ini dibolehkan? Beliau menjawab, “Segala puji hanya bagi Allah, perbuatan-perbuatan itu semuanya adalah baik dan merupakan perintah syariat (mustahab) untuk berkumpul dan membaca Al-Quran dan berzikir serta berdoa....” (Pertanyaan ini berkaitan dengan majlis zikir yang dilakukan kaum Sufi Syaziliyah di masjid-masjid).
  • Ibnu Hajr dalam kitabnya Khatimatul Fatawa mengatakan: “Wirid-wirid, bacaan-bacaan secara jaharyang dibaca oleh kaum Sufi (para penghayat ilmu tasawuf) seusai shalat menurut kebiasaan dan suluh (amalan-amalan khusus yang ditempuh kaum Sufi) sungguh mempunyai akar/dalil yang sangat kuat”.

.

  • Adapun, hadis ‘Sebaik-baik zikir adalah secara lirih (sir) ..‘ riwayat Baihaqi, Ibnu Majah dan Ahmad adalah hadis  lemah. Dalam kitab Sahih Ibn Hibban 3: 91 dan Al-Maqashid Al-Hasanah karangan Al-Sakhawi hal. 207 disebutkan, `Maknanya (hadis itu) tidak seperti yang dipahami oleh sebagian orang.´ Selanjutnya Al-Sakhawi mengatakan; ‘Maknanya, bahwa menyembunyikan amal, tidak mencari kemasyhuran dan berisyarat kepada seseorang dengan jari jemari tangan itu, lebih baik daripada kebalikannya dan lebih menyelamatkan didunia dan akhirat. Jadi makna zikir–dalam hadis dhoif itu–ialah as-syrah al-dzatiyah (perilaku dzatiyah manusia), yakni, bahwa al-khumul (tidak terkenal/masyhur) itu lebih baik daripada kemasyhuran.

Begitu pula, hadis diatas dalam sanadnya ada tiga jalur (thariq) yang mengandung tiga ilal (kelemahan atau penyakit); Muhamad bin Abdurrahman bin Abu Sayibah dan Al-Laitsi, keduanya lemah. Adapun, riwayat Ibn Abi Syaibah dari Sa’d bin Abu Waqash itu munqathi’ah (terputus, yakni menjadi mursalah). 

  • Imam as-Suyuthi mengatakan kata-kata 'Sebaik-baik' dalam suatu hadis berarti Keutamaan, bukan yang lebih utama. Hadis diatas ini ,umpama sahih, bukan menunjukkan kepada buruknya  atau dilarangnya zikir secara jahar, karena banyak riwayat hadis sahih yang mengarah pada bolehnya zikir secara jahar.

 

Kaum Mukmin dianjurkan berzikir setiap saat. Baik dalam keadaan junub, haid, nifas (kecuali bacaan ayat Al-Qurannya) maupun dalam keadaan suci, sedang sibuk atau lenggang waktu, sedang berbaring atau duduk dan pada setiap tempat. Itulah yang dimaksud firman Allah Swt. antara lain dalam surah An-Nisa [4]:103. Zikir semacam ini boleh dilaksanakan terus menerus! Lain halnya dengan shalat, ada syarat dan waktu-waktu tertentu yang tidak boleh melakukan shalat, umpama: orang yang sedang haid, nifas, junub (harus mandi dulu).

 

 Ancaman pada suatu majlis tanpa disebut nama Allah,Shalawat atas Nabi Saw.

 Hadis riwayat imam Turmudzi (yang menyatakan Hasan) dari Abu Hurairah r.a., Nabi Saw. bersabda,

مَا قَعَدَ قَوْمُ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرُونَ اللهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى النَّبِيِّ اِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رواه الترمذي وقال حسن)                         

Artinya: Tiada suatu kelompok pun yang duduk menghadiri suatu majlis, mereka disana tidak zikir (mengingat) Allah Swt. dan tidak mengucapkan shalawat atas Nabi Saw., kecuali mereka akan mendapat kekecewaan di hari kiamat.

 

  • Begitu pula, yang diriwayatkan Imam Ahamad bin Hanbal yang berkata ;

    مَا جَلَسَ قَوْمُ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوْا اللهَ فِيهِ اِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تَرَةً      

“Tiada suatu kelompok yang menghadiri suatu majlis tanpa adanya zikir kepada Allah, kecuali mereka akan mendapat tiratun artinya kesulitan...“

Dalam kitab Fathul ‘Alam tertera: Hadis diatas sebagai alasan atas wajibnya (pentingnya) berzikir dan membaca shalawat atas Nabi Saw. pada setiap majlis.

 

Hadis riwayat Abu daud dari Abu Hurairah r.a., Nabi Saw. bersabda:

مَا مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْن مِنْ مَجْلِسٍ َ وَعَنْ اَبِي هُرَيْرَة (ر) قَالَ : قَالَ رَسُوْلَ اللهِ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ تَعَالىَ فِيْهِ اِلاَّ قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَة  Artinya: “Tiada suatu kaum yang bangun (bubar) dari suatu majlis, mereka tidak berzikir kepada Allah Ta’ala dalam majlis itu, melainkan mereka bangun serupa dengan bangkai himar/keledai, dan akan menjadi penyesalan mereka kelak dihari kiamat ”. (HR. Abu Daud).

 

Zikir secara jahar setelah sholat fardhu

  • Syaikh Sulaiman bin Sahman An-Najdi Al-Hanbali–wafat th 1349H–dalam kitabnya Tahqiq Al-Kalam fi Masyri‘iyyati Al-Jahr Bi-al-Zikir ba’da As-Salam (Menegaskan pembicaraan mengenai di syariatkan menjahar zikir setelah mengucapkan salam) halaman 48, mengatakan, “Hadis sahih dari Nabi Muhamad Saw. menyebutkan, men-jahar zikir setelah mendirikan shalat fardhu itu tidak mengganggu orang lain. Justru pendapat yang menentang sunnah itulah yang mengganggu dan membingungkan umat Islam. Bahkan, itulah kebatilan yang paling batil dan kemungkaran yang sangat jelas karena bertentangan dengan nash. Pendapat seperti itu, merupakan penolakan tanpa ilmu dan argumentasi yang tidak dapat dipertanggung jawabkan”.

 Juga diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan kata-katanya yang berbunyi sebagai berikut :

  • Hadis dari Amar bin Dinar, dia berkata: “Aku dikabari oleh Abu Ma’bad–bekas budak Ibnu Abbas yang paling jujur–dari tuannya yakni Ibnu Abbas dimana beliau berkata;

  اَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِيْنَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنَ المَكْتُوْبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ   رَسُوْلِ الله                                                                   

Sesungguhnya berzikir dengan mengeraskan suara ketika orang selesai melakukan shalat fardhu, terjadi dimasa Rasulallah Saw.’“. (HR. Bukhori dan Muslim).

  • Dalam riwayat lain diterangkan, Ibnu Abbas berkata: “Aku mengetahui selesainya shalat Rasulallah Saw. dengan adanya ucapan takbir beliau (yakni ketika berzikir)”. (HR Bukhori [2:324] dalam Al-Fath Al-Bari dan Imam Muslim [1: 410]).
  • Hadis yang serupa diriwayatkan juga oleh: Imam al-Hafidz Al-Maqdisi dalam kitabnya ‘Al-Umdah Fi Al-Ahkaam’  halaman 25; Imam Abd Wahab Asy-Sya'rani dalam kitabnya Kasyf al-Ghummah hal.110; Imam Al-Kasymiri dalam kitabnya Fathul Bari hal. 315; As-Sayid Muhamad Siddiq Hasan Khan dalam kitabnya Nuzul Al-Abrar hal.97; Imam Al-Baghawi dalam kitabnya Mashaabiih as-Sunnah 1/48 dan Imam as-Syaukani dalam Nail al-Autar.
  • Ibnu Hajr (Fath-Al-Bari 2:325) mengatakan, ‘Dalam hadis tersebut terkandung makna bolehnya mengeraskan zikir setelah menunaikan shalat’.
  • Imam Suyuti dalam kitab Natijt Al-Fikr fi Al-Jahr Bi Al Dzikr (Hasil pemikiran mengenai zikir dengan suara keras). Tulisan tersebut dimuat dan dicetak dalam kitab Imam Suyuti Al-Hawi Lil Fatawi. Imam Suyuti (Lihat Al-Hawi Lil Fatawi 1:393) mengatakan: “Bila kamu memperhatikan secara cermat hadis-hadis yang kami (Imam Suyuti) kemukakan, kamu akan memahami–dari keseluruhannya–bahwa menjahar zikir setelah sholat itu tidak di makruhkan sama sekali, justru ada isyarat untuk mensunnahkan baik isyarat tersebut secara terang-terangan atau secara tersirat saja”.
  • Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam kitab I’lam Al-Muqi’in [2:289] mengatakan: “Ada ketentuan atau ketetapan (taqir atau ikrar) nabi Muhamad Saw. terhadap para sahabatnya untuk mengangkat suara dalam zikir setelah mengucapkan salam (penutup sholat wajib). Sehingga orang diluar masjid mengetahui bahwa sholat telah selesai.dan tidak seorangpun yang mengingkari (perbuatan) mereka (para sahabat) itu”.
  • Demikian pula yang dikatakan oleh Ibn Hazm dalam Al-Mahali [1V:260] Mas’alatu Raf’I Ash-Shauwti Bi-At Takbir Itsra Kulli Shalatin Hasanun [Masalah mengangkat suara (jahar) dengan takbir setelah melakukan sholat (fardhu) itu adalah baik].
  • Imam Syafi’i dalam kitabnya Al-Umm berkata sebagai berikut, Aku memilih untuk imam dan makmum agar keduanya berzikir pada Allah sesudah salam dari shalat dan keduanya melakukan zikir secara lirih. Kecuali imam yang menginginkan para makmum mengetahui kalimat-kalimat zikirnya maka dia boleh melakukan jahar sampai dia yakin para makmum itu sudah mengetahuinya kemudian diapun berzikir secara sir lagi.”  

Dengan demikian, tidak diketemukan pernyataan Imam Syafi’i atau ulama mazhab Syafi’i yang melarang zikir secara jahar, apalagi sampai memutuskannya sebagai bid’ah dholalah.

 

Masih banyak dalil mengenai kebolehan zikir baik secara sir maupun jahar yang tidak tercantum dibuku ini, tetapi kami kira cukup sebagai bukti bahwa amalan para ulama ahlus sunnah itu bersandar pada nilai-nilai yang terkandung dalam Kitabullah dan Sunnah Rasulallah Saw.. Nash-nash yang telah dikemukakan sebelumnya menunjukkan keutamaan kumpulan majlis zikir. Allah Swt. akan melimpahkan rahmat, ketenangan dan ridha-Nya pada para hadirin, termasuk disini orang yang tidak niat untuk berzikir. Majlis seperti itulah yang sering dicari dan dihadiri oleh para malaikat. Alangkah bahagianya bila kita sempat dan selalu kumpul bersama majlis zikir yang dihadiri oleh malaikat tersebut, sehingga doa yang dibaca ditempat majlis zikir tersebut lebih besar harapan untuk diterima oleh Allah Swt.. 

Kita sering bertanya-tanya: Kalau kaum Pengingkar mengikuti Sunnah Rasualllah Saw., mengapa Para Imam dimasjidil Haram Mekah dan Madinah atau dalam masjid lain di Arab Saudi tidak pernah menjaharkan suaranya waktu berzikir seusai sholat? Padahal cukup jelas riwayat-riwayat sahih dari para sahabat (tokoh para salaf) berzikir dengan jahar seusai sholat Fardhu!?  Ataukah golongan pengingkar ini tidak pernah menemukan riwayat-riwayat tersebut? Wallahua’lam.

 

Adab/Cara berzikir dan membakar dupa/kemenyan

Sekelumit mengenai adab berzikir yang disebutkan oleh Syaikh Ali Al-Marsyafi dalam kitabnya Manhajus Shalih, antara lain sebagai berikut: “Kita sebaiknya selalu dalam keadaan bersih, mandi dan berwudu, menghadap kiblat (kalau bisa), duduk ditempat yang suci (bukan najis). Orang agar sepenuhnya konsentrasi (penuh perhatian) dengan hatinya mengenai zikir yang dibaca itu. Tempat zikir tersebut ditaburi dengan minyak wangi. Berzikir dengan ikhlas karena Allah Swt...”.

Yang dimaksud Syaikh Ali Al Marsyafi ditaburi minyak wangi pada tempat zikir agar tempat zikir tersebut semerbak wangi baunya. Dalam hal ini, dibolehkan semua jenis bahan yang bisa menimbulkan bau harum. Umpama minyak wangi atau sebangsa kayu-kayuan (gahru dan sebagainya), menyan Arab kalau dibakar asapnya berbau wangi. Bau-bauan wangi ini lebih menyegarkan, mengkhusyukkan, menyenangkan pribadi orang atau para hadirin  di majlis zikir ini. Bau harum ini lebih diperlukan bila berada di ruangan yang penuh para hadirin.  

 

Ada lagi ceritera khurafat (tahayul) yang aneh dan diada-adakan oleh sebagian golongan Pengingkar. Mereka berkata, pembakaran dupa/gahru dan sebagainya didalam dimajlis zikir untuk mendatangkan setan-setan dan lain-lain! Ucapan jahil ini. tidak berdalil dari nash. Perhatikan hadis dan perilaku/fatwa para ulama berikut ini:

Hadis dari Abu Hurairah r.a, Rasulallah Saw.bersabda, “Siapa yang diberi wangi-wangian janganlah ditolak, karena ia mudah dibawa dan semerbak harumnya”. (HR. Muslim, Nasa’i dan Abu Dawud). Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan [Nasa’i no. 5152]: “Ada kalanya Ibnu Umar r.a. membakar uluwwah tanpa campuran, dan adakalanya kapur barus yang dicampur dengan uluwwah seraya berkata, ‘Beginilah Rasulallah Saw. mengasapi dirinya.’

Imam Nawawi mensyarahi hadis terakhir diatas sebagai berikut: ”Yang dimaksud Istijmar (dalam hadis tsb.) ialah memakai wewangian dan berbukhur (dupa) dengannya. Lafaz Istijmar itu di ambil dari kalimat Al-Majmar yang bermakna Al-bukhur "dupa". Adapun Uluwah itu menurut Al-Ashmu'i dan Abu Ubaid dan seluruh pakar bahasa arab bermakna kayu dupa yang di buat dupa. Selanjutnya Imam Nawawi mengatakan, ‘Dan sangat disunnahkan memakai wewangian (termasuk istijmar) bagi lelaki  pada hari jumat dan hari raya dan saat menghadiri perkumpulan kaum muslimin, majlis zikir juga majlis ilmu.’” (Syarh Nawawi ala Muslim  15/10).

Dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Muhadzdzab jilid 5, hal. 160 disebutkan, “Sahabat-sahabat kita (dari Imam Syafi’i) berkata: ‘Sesungguhnya disunnahkan membakar dupa di dekat mayit, karena terkadang ada sesuatu bau yang muncul maka bau kemenyan tersebut bisa menghalanginya.’”

 

Dalam kitab Tanwirul Hawalik syarah Muwattho' Malik Imam Suyuti. jilid 3 no 166 disebutkan, Mutrif berkata: “Apabila orang-orang mendatangi kediaman imam Malik, mereka di sambut oleh pelayan wanita yang masih kecil lalu berkata kepada mereka, Imam Malik bertanya, apakah kalian mau bertanya tentang hadis atau masalah keagamaan? Jika mereka berkata ‘masalah keagamaan’, imam Malik akan keluar dari kamar dan berfatwa. Jika mereka berkata ‘hadis’, beliau (imam Malik) mempersilahkan mereka untuk duduk, kemudian beliau mandi, memakai minyak wangi, berpakaian yang bagus dan memakai sorban. Beliau memakai selendang panjang di atas kepalanya, kemudian beliau keluar (menenui tamu-tamu) dengan khusyu, di hadapan beliau di letakkan (serupa) meja datar, lalu membakar dupa sampai selesai dari menyampaikan hadis Rasulallah Saw.

 

Dalam kitab Bulghot ath-Thullab hal. 53-54 disebutkan, “Membakar dupa atau kemenyan ketika berzikir pada Allah dan sebagainya, seperti membaca al-Qur’an atau di majlis-majlis ilmu, mempunyai dasar dalil dari hadis, dilihat dari sudut pandang bahwa sesungguhnya Nabi Muhamad Saw. menyukai bau wangi dan menyukai minyak wangi dan beliau pun sering memakainya.”

Kalau kita pergi negara Arab Saudi ,sentral lokasi mazhab wahabi/salafi, disana di sekitar Raudhah (antara rumah dan mimbar Rasulallah Saw.) dan disekitar Mimbar Rasulallah Saw. pada waktu-waktu tertentu selalu di asapi kayu gahru yang wangi. Para jamaah dimasjid ini bisa menghirup bau wanginya bila kebetulan hadir pada waktu tersebut. Begitu juga, toko-toko minyak wangi di Arab Saudi banyak menjual dupa dan gahru ini. Tidak ada satupun ulama dari kaum Wahabi-Salafi yang melarangnya.

Alangkah baiknya, bila golongan pengingkar ini berani melarang dan mengatakan pada para ulama Arab Saudi bahwa menjual dan membakar dupa/gahru di Mekah, Madinah itu haram, khurafat karena bisa mendatangkan setan!

 

Dalil-dalil yang mencela kumpulan zikir secara jahar

Walaupun sudah jelas dan gamblang banyaknya dalil mengenai majlis zikir, golongan Pengingkar dan pengikutnya  mengajukan beberapa dalil untuk mengharamkan kumpulan majlis zikir secara jahar. Dalil yang mereka ajukan antara lain firman Allah Swt: “Dan  ingatlah Tuhanmu di dalam hatimu sambil merendahkan diri dan merasa takut serta tidak dengan suara keras (yang berlebihan) di pagi maupun sore hari.” (QS Al-A’raf [7]:205),  

Sudah tentu, pemikiran seperti ini adalah faham yang keliru. Ayat diatas tidak bisa dibuat dalil untuk melarang semua bentuk zikir secara jahar. Sebenarnya yang dimaksud adalah, untuk orang-orang yang sedang mendengarkan Al-Quran yang dibaca oleh orang lain, sebagaimana ditunjukkan pada surah Al-A’raf [7]:204, ’Dan apabila dibacakan (kepadamu) ayat-ayat suci Al-Quran, dengarkanlah dia dan perhatikan agar kamu diberikan rahmat’. A’raf [7]:204);

Yang dimaksud surah Al-A’raf [7]:205 tadi, “Berzikirlah kepada Tuhanmu di dalam hati wahai orang yang memperhatikan dan mendengarkan bacaan Al-Quran dengan merendahkan diri serta rasa takut dan dengan tidak mengeraskan suara (yang berlebihan)..” Seperti ini pula makna yang di kehendaki  oleh ulama pakar di antaranya, Ibnu Jarir, Abu Syaikh dan Ibnu Zaid.

 

Membaca Al-Qur’an dan berzikir secara jahar dan lirih, Imam Suyuthi dalam Natijatul fikri Jahri Biz Zikri, berhasil menyerasikan dua hal ini kedalam suatu pengertian. Beliau berkata, ‘Jika anda berkata, Allah Swt. telah berfirman:                                           

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيْفَةً وَدُوْنَ الجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُضُوِّ وَالآصَالِ وَلاَ تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِيْنَ                                                   

‘Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hati dengan merendahkan diri disertai perasaan dan tanpa mengeraskan suara’. (Al A’raf:205). Itu dapat saya (Imam Suyuthi) jawab dari tiga sisi:

Ayat diatas ini, ayat Makkiyah (turun di Makkah sebelum hijrah). Masa turun ayat (Al A’raf 205) ini berdekatan dengan masa turunnya ayat berikut ini:

        وَلاَ تَجْهَرْ بصَلاَتِكَ وَلاَ تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِبَيْنَ ذَالِكَ سَبِيْلاً       

Dan janganlah engkau (hai Nabi) mengeraskan suaramu diwaktu sholat, dan jangan pula engkau melirihkannya…” (Al Isra’:110)

  1. a)Ayat itu (Al A’raf :205) turun pada saat Nabi Saw. sholat dengan suara agak keras (jahar), kemudian didengar oleh kaum musyrikin Quraisy, lalu mereka memaki Al Qur’an dan yang menurunkannya (Allah Swt). Karenanya, beliau Saw. diperintah (oleh Allah) untuk meninggalkan cara jahar (pembacaan al-qur'an) guna mencegah terjadinya kemungkinan yang buruk (saddudz-dzari’ah). Makna ini, hilang setelah Nabi Saw. hijrah ke Madinah dan kaum Muslimin mempunyai kekuatan untuk mematahkan permusuhan kaum musyrikin. Demikian pula, yang di katakan Ibnu Katsir dalam kitab tafsir
  2. b)Jamaah ahli tafsir (Jama’atul Mufassirin) antara lain, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan Ibnu Jarir, menerangkan makna ayat diatas tentang zikir masalah membaca Al-Qur’an. Nabi Saw. menerima perintah jahran (agak keras) membaca Al-Qur’an sebagai pemuliaan (ta’dziman) terhadap Kitabullah tersebut, khususnya pada waktu sholat tertentu. Hal itu, diperkuat kaitannya dengan turunnya ayat: ‘Apabila Al-Qur’an sedang dibaca maka hendaklah kalian mendengarkannya...’ (Al A’raf:204).

Dengan turunnya perintah ‘mendengarkan’, orang yang mendengar Al-Qur’an, jika ia (orang yang beriman) tentu takut dalam perbuatan dosa. Selain itu, ayat tersebut juga menganjurkan inshat (diam, memperhatikan bacaan Al-Quran), tetapi kesadaran berzikir dihati tidak boleh berubah, dengan demikian orang tidak lengah meninggalkan zikir (menyebut) nama Allah. Karena ayat tersebut diakhiri: ‘Dan janganlah engkau termasuk orang-orang yang lalai’.

 

  1. c) Orang-orang Sufi mengatakan, berzikir sirran (lirih) itu hanya khusus dapat dilakukan dengan sempurna oleh Rasulallah Saw., karena beliau Saw. manusia yang disempurnakan oleh Allah Swt. Manusia-manusia selain beliau Saw., sangat sulit sekali melakukan dengan sempurna sering diikuti was-was, penuh berbagai angan-angan perasaan, karena itulah mereka berzikir  agak keras/jahran. Zikir jahran semua was-was, angan-angan dan perasaan, lebih mudah dihilangkan, serta akan mengusir setan-setan jahat.

Pendapat demikian itu, diperkuat oleh sebuah hadis yang diketengahkan oleh Al Bazar dari Mu’az bin Jabal r.a., Rasulallah Saw. bersabda: ‘Barangsiapa diantara kamu sholat diwaktu malam hendaklah bacaannya diucapkan jahran (agak keras). Sebab para malaikat turut sholat seperti sholat yang dilakukannya,  mendengarkan bacaan-bacaannya. Jin-jin beriman yang berada di antariksa, tetangga yang serumah dengannya, mereka pun sholat seperti yang dilakukannya dan mendengarkan bacaan-bacaannya. Sholat dengan bacaan keras akan mengusir jin-jin durhaka dan setan-setan jahat’.” Demikianlah pendapat Imam Suyuthi.

Bahkan, menurut Imam Ar-Razi, surah Al-A’raf [7]:205 justru menetapkan zikir dengan jahar yang tidak berlebihan, bukan malah mencegahnya karena disitu disebut juga  “...dan bukan dengan mengeraskan suara (jahar yang berlebihan)...” Sehingga dapat diambil kesimpulan,tuntutan ayat itu adalah “melakukan zikir antara lirih dan jahar yang berlebihan”. Makna  yang demikian, sesuai dan dikuatkan oleh firman Allah Swt. dalam surah Al-Isra’ [17]:110 yang berbunyi, “Janganlah kamu mengeraskan suara dalam berdoa dan janganlah pula kamu melirihkannya melainkan carilah jalan tengah di antara yang demikian itu.”

 

Selain nash Al-Quran diatas, golongan pengingkar sering mengutip hadis riwayat dari Ibnu Abi Syaibah, Ahmad bin Hanbal, Ibnu Marduwaih dan Al-Baihaqi dari Abu Musa Al-Asy’ari r.a., yang berkata, “Kami pernah bersama Rasulallah Saw. dalam sebuah peperangan, terjadilah satu keadaan di mana kami tidak menuruni lembah dan tidak pula mendaki bukit kecuali mengeraskan suara takbir kami. Mendekatlah Rasulallah Saw. kepada kami dan bersabda, ‘Lemah lembutlah kalian dalam bersuara karena yang kalian seru bukanlah Zat yang tuli atau tidak ada, tetapi kepada Zat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Sesungguhnya yang kalian seru itu lebih dekat kepadamu ketimbang leher-leher onta tungganganmu’” 

Atas dasar hadis di atas, kaum Pengingkar sering berargumen, “Mengapa kita harus mengeraskan suara dalam berzikir...? Padahal hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari di atas memerintahkan untuk merendahkan suara ketika berzikir karena Zat yang dituju dalam berzikir adalah Allah Swt. bukan Zat yang tuli, bukan Zat yang tidak ada bahkan ilmu dan kekuasan-Nya ada di hadapan kita. Dia lebih dekat kepada kita dibanding leher-leher onta tunggangan kita.”

Alasan ini pun tidak tepat untuk dijadikan dalil melarang atau mengharamkan semua bentuk zikir jahar. Perintah irba’u (merendahkan suara) di hadis tersebut bukanlah hukum wajib sehingga berakibat haramnya berzikir secara jahar. Hal ini, karena perintah dengan menggunakan kata ar-rab’u adalah semata-mata untuk memberikan kemudahan kepada mereka.

Berdasarkan inilah, Syaikh Ad-Dahlawi dalam kitab Al-Lama‘at Syarhul Misykat mengatakan bahwa irba‘u adalah satu isyarat di mana larangan jahar hanyalah untuk memudahkan, bukan karena berzikir secara jahar tidak disyariatkan. Sebenarnya hadis ini berkaitan dengan larangan mengangkat suara zikir di jalanan atau ketika sedang berjalan-jalan, berbeda dengan hadis-hadis yang telah kami kemukakan. Berzikir secara jahar seusai shalat atau berzikir berkelompok telah disebutkan dalam hadis-hadis sahih di antaranya juga disebutkan dalam Shahihain (Sahih Bukhari dan Sahih Muslim).

 

Sekiranya Rasulallah Saw. tidak mencegah para sahabat berzikir secara keras di jalanan apalagi dalam waktu peperangan menaiki dan menuruni bukit, maka mereka jelas akan menyangka bahwa mengeraskan suara zikir yang berlebihan (menjerit-jerit) sewaktu dalam perjalanan adalah disunnahkan. Padahal sunnah yang seperti itu tidak dikehendaki oleh beliau Saw.. Pada saat itu, mengeraskan zikir, dalam perjalanan perang menuju Khaibar, tidak ada kebaikannya, bahkan bisa menimbulkan bencana kalau sampai didengar oleh musuh. Terlebih lagi ada hadis mengatakan “Perang itu adalah suatu tipu daya.” Beliau Saw. melarang mereka supaya nantinya tidak merasa lebih lelah dan kesulitan dalam menghadapi peperangan. Al-Bazzazi juga menerangkan demikian.

Pengarang kitab Fathul Wadud Syarah Sunan Abi Daud mengatakan bahwa kata-kata rafa‘u ashwatahum (meninggikan suara mereka) menunjukkan bahwa mereka terlalu berlebihan dalam menjaharkan zikir. Hadis itu, tidaklah menuntut larangan men-jahar-kan zikir secara mutlak. Jadi zikir jahar yang dilakukan oleh para sahabat ketika itu adalah jahar yang berlebihan (menjerit-jerit) sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa riwayat berkaitan dengan larangan itu.

 

Bila hadis dari Abu Musa Al-Asy’ari di atas ini dipakai sebagai dalil untuk melarang semua bentuk zikir secara jahar akan berbenturan dengan hadis-hadis sahih yang berkaitan dengan zikir secara jahar.

Dasar larangan golongan Pengingkar atas Majlis zikir, juga  mengutip suatu riwayat bahwa Umar bin Khatab r.a.mencambuk suatu kaum yang berkumpul, karena kaum ini berdoa untuk kebaikan kaum muslimin dan para pemimpin. Dengan berdalil pada riwayat  ini, mereka melarang semua bentuk berzikir secara jahar.

 

Umpama riwayat tersebut benar-benar ada dan sahih, kita harus meneliti dahulu mengapa Umar bin Khatab r.a. melarang mereka berkumpul untuk berdoa kebaikan tersebut. Sehingga tidak langsung menghukumi semua perkumpulan manusia untuk doa kebaikan itu dilarang. Zikir dan doa itu, termasuk amal ibadah yang sangat dianjurkan oleh Allah Swt. dan Rasulallah Saw.. Tidak ada kewajiban dalam syariat tentang tata cara berzikir dan berdoa, boleh dilakukan secara berkumpul atau pun secara individu. Penafsiran seperti itu adalah sangat sembrono, karena bisa mengakibatkan orang merendahkan sifat Umar bin Khatab r.a  

Kelompok Pengingkar juga mengatakan ada riwayat dari Imam Bukhari yang berkata; “Ada suatu kaum setelah melaksanakan shalat maghrib seorang dari mereka berkata, ‘Bertakbirlah kalian semua pada Allah seperti ini… bertasbihlah seperti ini….dan bertahmidlah seperti ini…,Ibnu Mas’ud r.a. mendatangi orang ini dan berkata, '….. sungguh kalian telah datang dengan perkataan bid‘ah yang keji atau kalian telah menganggap lebih mengetahui dari sahabat Nabi.'”

 

Riwayat di atas, oleh kaum Pengingkar itu dibuat dalil untuk melarang semua kumpulan majlis zikir, alasan seperti ini juga tidak tepat sama sekali. Pertama, kita harus mengetahui dahulu kalimat takbir, tasbih atau tahmid yang diperintahkan orang tersebut pada sekelompok muslimin itu. Kedua, misalkan bacaan takbir, tasbih, tahmid serta cara pemberitahuan sesuai yang dianjurkan oleh Nabi Saw.,tidak mungkin Ibnu Mas’ud r.a. akan melarangnya, karena Rasulallah Saw. sendiri meridhai dan memberi kabar gembira bagi kelompok kaum yang sedang berzikir. Ketiga, kelompok tersebut belum melakukan zikir yang diperintahkan oleh orang itu. Karenanya, Ibnu Mas’ud bukan tidak menyenangi kumpulan zikir dan bacaannya. Akan tetapi, beliau tidak menyenangi cara pemberitahuan orang itu kepada kelompok tersebut, seakan-akan mewajibkan atau mensyariatkan kelompok itu untuk mengamalkannya, karena zikir adalah amalan-amalan sunnah bukan wajib.

 

Janganlah kita main pukul rata mengharamkan semua jenis kelompok zikir secara jahar dengan alasan ada larangan dari Rasulallah Saw. atau dari sebagian sahabat pada kelompok manusia tertentu. Kita harus meneliti motif atau sebab apa zikir tersebut dilarang. Dengan demikian, tidak akan ke bingungan atau kesulitan untuk mengamalkan hadis-hadis sahih yang mengarah kepada kebolehan dan kesunnahan untuk berzikir,baik secara individu maupun berkelompok, secara lirih maupun jahar, sebagaimana yang telah dijelaskan para ulama pakar, Imam Nawawi, Ibnu Hajr, Imam Suyuthi dan lainnya.

Begitu pula, bila ada sebagian ulama tidak menyenangi berzikir secara jahar, tidak berarti semua bentuk zikir secara jahar  itu haram diamalkan! Hal itu, tergantung pada situasi lokasi dan tempat untuk berzikir.

Bahkan, sekarang sering dijual dan dikumandangkan dipasar-pasar atau ditoko-toko diberbagai negara; Saudi Arabia, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Marokko, Mesir dan negara barat maupun timur, qasidah  dan zikir pujian pada Allah Swt dan sholawat atas Nabi Muhamad Saw. Kalau semua zikir jahar ini mungkar dan dilarang, menjual dan mengumandangkan kaset-kaset inipun harus dilarang, terutama dinegara-negara Islam yang anti majlis zikir. Tapi, nyatanya sampai detik ini tetap berjalan bahkan lebih banyak lagi toko yang jual kaset, CD tersebut karena banyak peminatnya.

Insya Allah kaum muslimin yang belum pernah menghadiri atau mendapat kesalahan informasi mengenai kumpulan zikir, tahlil/yasinan dan sebagainya, diberi hidayah dan taufik oleh Allah Swt. bisa menghadiri majlis yang penuh berkah. Setidaknya, mereka tidak mencela, mensyirikkan dan mensesatkan orang yang mengamalkan amalan tersebut. Mencela, mensesatkan sesuatu amal kebaikan itu hanya akan menambah dosa bukan menambah pahala. Wallahu’alam. Silahkan ikuti kajian berikut bab 8