Jawaban para ulama terhadap pendapat imam Tirmidzi

Jawaban para ulama terhadap pendapat imam Tirmidzi

Penafsiran Imam Tirmidzi mengenai hadis di atas, mendapat tanggapan dari para ulama yang lain, di antaranya: Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitabnya As-Syaraful Muabbad li Ali Muhamad, Ibnu Taimiyah dalam Al-Aqidatul-Washiyah dan lainnya. Dalam kitab As-Syaraful Muabbad li Ali Muhamad, Yusuf binIsmail An-Nabhani menuturkan:

  • Sementara jamaah ahli hadis meriwayatkan sebuah hadis (hadis safinah) yang diriwayatkan oleh banyak sahabat Nabi Saw. bahwasanya Rasulallah Saw. bersabda, “Ahlu baitku di tengah-tengah kalian ibarat bahtera Nuh. Barangsiapa menaikinya ia selamat, dan yang ketinggalan ia celaka (sumber riwayat lain mengatakan,…ia tenggelam, dan sumber yang lainnya mengatakan,....ia digiring ke neraka)’.

Abu Dzar Al-Ghifari berkata, Aku mendengar Rasulallah Saw.bersabda, “Jadikanlah ahlubaitku bagi kalian seperti kedudukan kepala bagi tubuh, dan seperti kedudukan dua mata bagi kepala”.  

Imam Al-Hakim meriwayatkan sebuah hadis yang dibenar- kan oleh Bukhari dan Muslim, “Bintang-bintang adalah keselamatan bagi penghuni bumi dari (bahaya) tenggelam (di dasar laut) dan ahlubaitku adalah keselamatan bagi umatku dari perselisihan. Apabila, ada kabilah Arab yang membelakangi ahlubaitku mereka akan berselisih, kemudian mereka akan menjadi kelompok iblis”.

Hadis yang lain dikemukakan pula oleh jamaah ahli hadis, “Bintang-bintang adalah keselamatan bagi penghuni langit, dan ahlubaitku adalah keselamatan bagi umatku. (Menurut sumber riwayat lain keselamatan bagi penghuni bumi). Manakala ahlubaitku lenyap (binasa), maka yang dijanjikan dalam ayat-ayat Al-Quran akan tiba (yaitu bencana)”. Hadis seperti itu, diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad bin Hanbal: “Apabila bintang-bintang lenyap, lenyaplah penghuni langit dan apabila ahlul- baitku lenyap, lenyaplah penghuni bumi”.

                              

Setelah mengemukakan hadis-hadis tersebut diatas, al-Nabhani kemudian mengatakan;

  • Bagaimanapun juga, Ahlul Bait Rasulallah dan keturunan beliau Saw. dipermukaan bumi ini, merupakan sebab atau syarat bagi keselamatan umat manusia, dan pada khususnya merupakan syarat keselamatan umat Muhamad Saw. dari azab/siksa neraka. Yang dimaksud oleh hadis itu, bukan hanya khusus anggota keluarga yang saleh saja. Sebab ciri kemuliaan yang ada pada unsur keturunan beliau Saw. sama sekali tidak tergantung pada sifat-sifat mereka.  

An-Nabhani menunjuk pernyataan As-Shabban di kitab is’afur Raghibin mengatakan, bahwa pengertian tersebut dari isyarat yang terkandung dalam surah Al-Anfal [8]:33; “Dan Allah sekali-kali tidak akan menyiksa mereka (orang-orang durhaka) sedang engkau berada ditengah-tengah mereka”. Sekalipun, ayat ini ditujukan kepada Rasulallah Saw., namun ahlul bait dan keturunan beliau dapat didudukkan pada tempat beliau, karena mereka itu berasal dari beliau dan beliau pun berasal atau senasab dengan mereka, sebagaimana yang diriwayatkan oleh beberapa hadis.

Lalu An-Nabhani menyanggah pernyataan Imam Tirmidzi, “Bagaimana bisa dibayangkan bahwa dengan lenyapnya Ahlul Bait dari muka bumi ini maka tidak akan ada lagi seorangpun dari umat Muhamad yang tinggal? Padahal, jumlah umat Muhamad jauh lebih banyak dan Allah selalu melindungi mereka dengan berkah dan rahmat-Nya”. Kata Al-Nabhani;

  • Tidak ada halangan, dan tidak ada salahnya jika orang membayangkan hal sedemikian itu. Apalagi, Rasulallah Saw. sendiri telah menegaskan, “Orang-orang pertama yang mengalami bencana adalah Quraisy, dan orang-orang Quraisy yang pertama mengalami bencana adalah ahlul baitku...” (Riwayat lain, mengatakan bukan bencana [halak] melainkan kepunahan [fana] dan bukan pula ahlul baitku melainkan Bani Hasyim). Hadis ini, merupakan salah satu petunjuk tentang rahmat yang dilimpahkan Allah Swt. kepada keluarga dan keturunan Rasulallah Saw.

Para ahli syarah ilmu hadis, al-Manawi dan lain-lain menjelaskan, makna hadis tersebut sebagai berikut: “Bencana yang menimpa mereka merupakan pertanda akan datangnya hari kiamat, sebab hari kiamat akan terjadi akibat perbuatan manusia-manusia jahat, sedangkan para keluarga keturunan Rasulallah Saw. adalah (keturunan) orang-orang baik”. 

Menanggapi penjelasan Al-Manawi tersebut, An-Nabhani mengatakan, “Rasanya penjelasan Al-Manawi itu dapat dijadikan tafsir bagi hadis tersebut di atas, bahkan lebih baik daripada penafsiran kami. Dengan demikian, teranglah bahwa penafsiran Tirmidzi tidak dapat diterima, yaitu penafsiran yang mengartikan dzurriyah (keturunan) Rasulallah Saw. dengan abdal (orang-orang keramat), sebagaimana yang terdapat di dalam hadis dari Imam Ali bin Abi Thalib r.a.”

An-Nabhani menyanggah penafsiran Imam Tirmidzi, tentang hadis yang mengatakan, “Semua sebab dan nasab akan terputus, kecuali sebab dan nasabku”. An-Nabhani berkata,

  • Kata putus (dalam hadis ini), tidak berarti kepunahan atau kebinasaan keturunan Rasulallah Saw.. Itu hanya dikhusus kan pada saat terjadinya hari kiamat, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadis-hadis sahih. Kata putus, juga berarti nasab (silsilah) tidak bermanfaat, sebagaimana ditegaskan Allah Swt. dalam surah Al-Mukminun [23]:101, ‘Maka tiada lagi hubungan nasab di antara mereka pada hari itu’.

Hanya Rasulallah Saw. sajalah, yang memperoleh pengecualian (kekhususan) dalam hal sebab (melalui pernikahan) dan dalam hal nasab (melalui keturunan). Bagi beliau Saw. kemanfaatan sebab dan nasab tetap berkesinambungan, baik di dunia maupun di akhirat. Hal itu, diperkuat (dalam hadis lainnya) di mana Rasulallah Saw. bersabda di atas mimbar, ‘Mengapa sampai ada orang-orang yang mengatakan, bahwa kekerabatan Rasulallah Saw. tidak bermanfaat  pada hari kiamat? Aku tegaskan, kekerabatanku berkesinambungan di dunia dan akhirat’ ”.

 

Terhadap uraian Imam Tirmidzi yang mengatakan, “Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib, bukan merupakan syarat bagi keselamatan umat Muhamad Saw. dan bukan pula merupakan orang-orang yang akan mengakibatkan lenyapnya dunia, bila mereka lenyap”.

An-Nabhani menjawab:

  • “Mereka itu syarat bagi keselamatan umat ini, bahkan penghuni bumi ini, ialah bahwa dengan masih adanya mereka di dunia berarti saat kepunahan dunia ini belum tiba. Bila mereka  telah punah, maka penghuni bumi ini akan menyaksikan apa yang telah dijanjikan Allah dalam Al-Quran, tentang tibanya hari kiamat dan kepunahan dunia ini”.

Terhadap uraian Imam Tirmidzi yang mengatakan: “Di antara mereka (keturunan Rasulallah Saw) juga terdapat kerusakan (fasad)…”. An-Nabhani menjawab:

  • Mereka (keturunan Rasulallah Saw), menjadi syarat bagi keselamatan umat ini dan penghuni bumi ini, bukan karena amal kebajikan mereka, melainkan karena mereka itu adalah unsur suci kenabian, yaitu suatu anugerah yang dikhususkan Allah bagi mereka. Sejak semula mereka dianugerahi keistemewaan, yakni Rahmat Allah yang dilimpahkan kepada mereka sebagai anggota-anggota Ahlul Bait Rasulallah Saw.. Di tengah-tengah mereka Allah menurunkan wahyu-Nya. Dalam hal-hal seperti itu, mereka tidak mungkin dapat disamakan dengan orang lain (selain anggota Ahlul Bait)”.

Terhadap uraian Imam Tirmidzi yang mengatakan: “Di bumi ini ada yang lebih mulia daripada keturunan Rasulallah Saw., yaitu Al-Quran…” An-Nabhani menjawab:

  • Tidak ada keharusan bagi Rasulallah Saw., untuk menyebut di dalam sebuah hadis (tentang) kemuliaan anak cucu keturunan beliau bersama-sama dengan kemuliaan Al-Quran, walau pun jelas bahwa kemuliaan Kitabullah Al-Quran jauh lebih besar daripada kemuliaan keturunan Rasulallah Saw. Kendati hal itu bukan merupakan keharusan, namun beliau menyebut kedua-duanya itu dalam hadis tsaqalain. Lagi pula, di antara Ahlul Bait Rasulallah Saw. tidak ada seorangpun yang mengaku dirinya lebih mulia atau sejajar dengan Kitabullah. Mereka pun, tidak beranggapan bahwa kemuliaan Kitabullah itu disebabkan adanya keistemewaan yang ada pada diri mereka (Ahlul Bait).  

Kitabullah, menjelang hari kiamat pun akan diangkat. Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan, “Bacalah Al-Quran sebelum diangkat! Hari kiamat akan terjadi dekat sebelum Al-Quran diangkat!’  Seorang sahabat bertanya, ‘Hai Abu Abdur-Rahman (panggilan Ibnu Mas’ud), bagaimanakah arti Kitabullah akan diangkat, padahal itu telah menetap di dalam dada dan dilembaran-lembaran mushaf kita?’ Ibnu Mas’ud menjawab, ‘Kitabullah memang tetap di dalam dada, tetapi tidak diingat dan dibaca orang’”. Tidak diragukan lagi, Ibnu Mas’ud tidak berkata menurut pendapatnya sendiri, karena persoalan itu berada di luar pikiran orang.

Dari keterangannya itu, jelaslah bahwa Kitabullah menjadi syarat bagi keselamatan umat manusia. Selama Kitabullah masih berada di tengah-tengah umat manusia, dunia ini tidak akan dimusnahkan Allah. Mengenai keturunan suci Rasulallah Saw. tidak boleh diberi penilaian lebih dari apa yang telah kami terangkan.

 

Mengenai penegasan Imam Tirmidzi, “Kemuliaan hanya ada pada para ahli takwa…” dengan merujuk sebuah hadis tentang kedatangan Rasulallah Saw. di kediaman (Siti) Fathimah r.a., saat itu Shafiyah (bibi beliau) berada di tempat itu, kemudian Rasulallah Saw. bersabda, “Hai Bani Abdu-Manaf, hai Bani Abdul Mutthalib, hai Fathimah binti Muhamad, hai Shafiyah…....dan seterusnya (baca hadis terdahulu)”.

An-Nabhani memberi tanggapan atas penegasan Imam Tirmidzi ini, sebagai berikut:

  • Mengenai soal itu, At-Thabrani telah memberikan jawaban meyakinkan, “Benarlah bahwa Rasulallah Saw. tidak mempunyai apa-apa yang (bisa) mendatangkan manfaat dan madharat (yang telah ditimpakan oleh Allah Swt) bagi orang lain. Hanya Allah sajalah yang memiliki hal itu.

Namun, dengan kekuasaan-Nya Allah membuat Rasul-Nya bermanfaat bagi kaum kerabatnya, bahkan, bagi semua umatnya, berupa syafa’at khusus dan umum. Beliau Saw. tidak mempunyai suatu apa pun, selain yang dikaruniakan Allah kepadanya, yaitu seperti yang ditunjukkan oleh sebuah hadis Al-Bukhari,‘Kalian ,yang pria maupun yang wanita, mempunyai hubungan silaturrahmi (denganku), akan kusambung hubungannya ..’.

Demikian pula, dengan sabda Rasulallah Saw., ‘Di hadirat Allah, aku tidak berguna apa pun bagi kalian’. Maknanya (hadis ini) ialah, “Kalau hanya diriku sendiri, tanpa anugerah syafa’at dan ampunan yang dilimpah- kan Allah kepadaku, aku tidak dapat memberi manfaat apa pun kepada kalian.” As-Shabban mengatakan, “Konon hadis tersebut diucapkan oleh Rasulallah Saw. sebelum beliau diberitahu Allah, mengenai manfaatnya bernasab kepada beliau. Tampaknya, bahasa Arab kurang membantu At-Tirmidzi dalam menafsirkan hadis-hadis tentang ahlu bait. Adakah, orang yang mengartikan Ahlul Bait dengan orang-orang keramat (abdal)? Demi Allah, tidak ada! Tidak ada seorang pun, yang mendengar kata Ahlul Bait Rasulallah Saw. memahaminya dengan makna, selain Ahlul Bait yang bernasab kepada Beliau Saw.. Memang, hanya itu sajalah maknanya dalam bahasa Arab, bahasa beliau Saw. sendiri!

Mengenai orang-orang keramat, kemanfaatan mereka bagi kita, atau mengenai ketinggian derajat mereka, dan dekatnya mereka itu dengan Allah dan Rasul-Nya, tidak ada, seorang Muslim pun yang meragukannya. Namun, orang keramat  itu sendiri, tentu merasa tidak senang jika diberi perhiasan yang diambilkan dari keluarga atau dari keturunan orang yang paling mereka cintai, yaitu Rasulallah Saw.

Saya (As-Shabban) yakin, bahwa Imam Al-Hakim At-Tirmidzi sendiri termasuk salah seorang keramat terkemuka. Oleh karena itu, saya berani memastikan bahwa uraiannya (mengenai Ahlul Bait) yang ditulis dalam kitabnya itu mengandung salah satu dari dua kemungkinan:

Pertama,–dan ini yang paling besar kemungkinan- nya–tulisan tersebut dipalsukan oleh orang yang dengki kepada Imam Tirmidzi, dan kepada Ahlul Bait Rasulallah Saw.. Hal seperti itu, sering dialami oleh para ulama dan orang-orang keramat lainnya, seperti yang terjadi pada Syaikh Al-Akbar Sidi Muhyiddin bin Al-‘Arabi, Syaikh Abdul Wahab Asy-Sya’rani dan lain lain….

Kedua, kemungkinan Imam Tirmidzi, pernah bergaul dekat dengan kaum Syiah ekstrem, yang berlebih-lebihan dalam mengagung-agungkan (sampai-sampai mengkultuskan) Ahlul-Bait Rasul  Saw, mereka tidak mau mempercayai kejujuran para sahabat Nabi Saw. terutama Abu Bakar As-Shiddiq r.a. dan Umar Ibnul Khatab r.a. Dengan uraiannya itu, mungkin Tirmidzi hendak mengecam mereka, dan itu tampak jelas pada rumus-rumus kalimat yang dipergunakan olehnya. Kecaman itu, dituangkan olehnya dalam uraian mengenai Ahlul Bait, tetapi bersamaan dengan itu, ia tetap mencintai Ahlul Bait dan memberikan penilaian yang baik, serta tetap mengakui kemuliaan dan keistemewaan mereka (Ahlul-Bait)”. Demikianlah jawaban An-Nabhani.

                                 

Terhadap pendapat Imam Tirmidzi tadi, Ibnu Taimiyah dalam kitab Al-Aqidatul-Washiyyah memberi tanggapan antara lain;

  • Hadis yang berasal dari Zaid bin Arqam, “…Kutinggalkan kepada kalian dua bekal. Yang pertama ialah Kitabullah, didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya terang….. dan ahlul baitku...sampai akhir hadis (silahkan rujuk kembali hadisnya).” Dari hadis ini, kita dapat mengetahui bahwa Rasulallah Saw. pertama mengkhususkan pesan beliau supaya kaum muslimin berpegang teguh pada petunjuk dan hidayat Kitabullah Al-Quran al-Karim. Hikmah mengenai hal itu, beliau menyebutnya dengan kata-kata, ‘didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya terang.’ Setelah itu, barulah beliau menyebut ahlul bait (keluarga, keturunan) dengan ucapan ‘kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlu baitku’. Pesan beliau itu diucapkan dua kali untuk lebih menekankan perlunya memelihara hak-hak mereka, sebagai keluarga keturunan beliau Saw..

Dalam pesan beliau itu, sama sekali tidak terdapat pengistemewaan seseorang dibanding yang lain di antara semua keluarga ahlul-bait. Jelaslah kiranya, yang dimaksud dengan keluarga keturunan Rasulallah Saw. atau ahlul bait ialah, mereka semua yang diharamkan menerima sedekah atau zakat, sebagaimana yang dikatakan oleh Zaid bin Arqam dalam hadis tsaqalain.

Hadis tsaqalain ini, tidak hanya berlaku bagi para Imam atau orang-orang terkemuka dari keluarga keturunan Rasulallah Saw. saja, melainkan berlaku juga bagi semua orang yang berasal dari keluarga keturunan beliau Saw., baik yang awam mau pun yang khawash (khusus), yang menjadi imam maupun yang tidak. Oleh Rasulallah Saw., mereka itu disebut secara beriringan dengan penyebutan Kitabullah. Sudah pasti, itu bermaksud menghormati kedudukan mereka, dan untuk menekankan wasiat beliau, agar hak-hak mereka dipelihara sebaik-baiknya oleh kaum muslimin. 

Pernyataan Rasulallah Saw. yang menegaskan, ‘Dua-duanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaku di Haudh’, tidak mengandung makna, bahwa mereka (keluarga Nabi Saw) itu harus sanggup melaksanakan semua ketentuan yang telah ditetapkan dalam Kitabullah, sehingga Tirmidzi mengatakan, “diantara mereka itu ada orang-orang berbuat buruk atau orang yang amalan baiknya bercampur-aduk dengan amalan buruknya....”  

 

Perumusan Tirmidzi yang berbunyi: “Apabila, orang-orang yang tidak seunsur atau seasal keturunan dengan mereka (keluarga keturunan ahlul bait) benar-benar menguasai ilmu-ilmu agama secara mendalam, kita pun wajib meneladani mereka, sama seperti kita meneladani orang-orang (imam-imam) terkemuka yang berasal keturunan Rasulallah Saw..”

  • Ibnu Taimiyah merasa aneh dan heran, mengenai uraian Imam Tirmidzi ini. Perumusan kalimat Tirmidzi seperti itu, oleh Ibnu Taimiyah dianggap menarik garis persamaan antara keluarga keturunan Rasulallah Saw. dan orang-orang dari keturunan lain, yang bukan keluarga keturunan Rasulallah Saw.. Jadi, tidak ada keistemewaan apa pun pada orang-orang keturunan Rasulallah Saw.. Yang dipandang oleh Tirmidzi sebagai ciri istimewa ialah ‘kedalaman ilmu’ yang ada pada orang-orang keluarga keturunan Rasulallah Saw.. Dengan demikian, yang diartikan ‘itrah’ dan ‘ahlul-bait’ (dalam hadis Nabi Saw) ,menurut Tirmidzi, tidak lain hanyalah para ulama, para imam dan para ahli fiqih dikalangan umat Islam. Benarkah itu yang dimaksud oleh Rasulallah?

Yang dimaksud oleh Rasulallah Saw. ialah, keluarga keturunan dan kaum kerabat, tidak pandang apakah mereka itu imam, ulama atau bukan. Mengenai para ahli fiqih, para ulama dan para imam, mereka itu memang teladan bagi umat Islam dan merupakan pelita yang menerangi kegelapan. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa mereka itu keluarga keturunan Rasulallah Saw. Para ulama, para ahli fiqih dan para imam itu justru orang-orang yang paling pertama berkewajiban mengindahkan wasiat Nabi Saw., yakni secara umum, mereka itu wajib menghormati kedudukan dan memelihara hak-hak keluarga keturunan Rasulallah Saw. dengan sebaik-baiknya.

Firman Allah dalam surah Ad-Dhuha [93]:5: “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau (Muhamad) menjadi puas”

Al-Qurthubi dalam tafsir-nya, yang dikutip dari Ibnu Abbas r.a., mengatakan, “Kepuasan Muhamad Rasulallah Saw. ialah, karena tidak ada seorangpun dari ahlubaitnya yang akan masuk neraka”. Dalil-dalil hadis mengenai hal itu banyak sekali, antara lain sabda Rasulallah Saw., “Fathimah telah sungguh-sungguh menjaga kesucian dirinya, oleh karena itu, dia dan keturunannya dihindarkan Allah dari siksa neraka” (Al-Hakim menegaskan,hadis ini sahih). Dalil hadis lainnya, berasal dari Imran bin Hashin r.a.. Dia mengatakan, Rasulallah Saw. pernah bersabda, “Aku telah mohon kepada Tuhanku, supaya tidak memasukkan seorangpun dari keluargaku (ahlu-baitku) kedalam neraka, dan Dia mengabulkan permohonanku.”

Demikianlah antara lain yang ditulis Ibnu Taimiyyah.

Dengan adanya keterangan diatas, jelas bagi kita bahwa para ulama–antara lain Yusuf bin Ismail An-Nabhani dalam kitabnya Ashsyaraful Muabbad li Aal Muhamad  dan Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Al-Aqidatul-Washiy–menyanggah pendapat Imam Tirmidzi tersebut di atas. Apa yang dikatakan Imam Tirmidzi dalam Nawadirul-Ushul itu perlu dihargai. Tetapi sayangnya, beliau ini tidak mengemukakan hujjah atau dalil bahwa yang dimaksud oleh Rasulallah Saw. dalam hadis tsaqalain, hadis Safinah itu, sebagaimana yang beliau kemukakan tadi. Imam Tirmidzi ini, membatasi makna itrah (keluarga keturunan) yang terdapat dalam kalimat hadis tersebut hanya kepada para pemuka atau imam-imam yang terdiri dari keturunan Rasulallah Saw. saja, berdasar- kan  pemikiran beliau sendiri dari segi dan istilah bahasa atau dari bidang ilmu atau ketaqwaan

Lepas dari penafsiran di atas, jelas Allah Swt. dalam firman-firmanNya––baik untuk Ahlul Bait Rasulallah Saw. (misalnya QS Al-Ahzab [33]:33),maupun untuk para sahabat beliau Saw (misalnya QS Al-Fath [48]:18, QS At-Taubah [9]: 100), menunjukkan kemuliaan dan penilaian tinggi yang diberikan Allah Swt. kepada mereka.

Hanya saja sebagai manusia, para Ahlul Bait dan keturunan Rasulallah Saw. adalah sama dengan para sahabat Nabi Saw. serta keturunannya, yakni bisa berbuat kesalahan. Mereka ini, bisa saja berbuat suatu kekeliruan atau terkena dosa, karena bukan orang-orang ma‘shum, yakni yang terpelihara dari kemungkinan berbuat kekeliruan. Bisa saja terjadi suatu perbuatan yang dilakukan seseorang atau beberapa orang sahabat yang tidak menyenangkan ahlul bait Rasulallah Saw. dan sebaliknya.

Hal itu, bukan merupakan kejadian aneh, karena setiap manusia, selain Rasulallah Saw, dapat saja berbuat kekeliruan dan kesalahan. Orang-orang yang ma‘shum menurut ahlus sunnah wal jama’ah hanyalah para Nabi dan Rasul. Betapa pun tingginya martabat, keutamaan (fadha’il) dan ketakwaan keluarga keturunan Nabi Saw. dan para sahabat, sebagai manusia mereka tetap menghadapi kemungkinan berbuat kekeliruan. Hal itu, bukan merupakan kejadian aneh. Kaum Muslim hanya wajib melaksanakan wasiat Nabi Saw: untuk mencintai Ahlul Bait untuk meraih ridha Ilahi. Allah berfirman: “Barangsiapa taat kepada Rasul berarti taat kepada Allah”. (QS An-Nisa [4]:80); “… Allah beserta Rasul-Nya itulah yang lebih berhak didambakan keridhaan Nya”. (QS An-Nisa [4]: 136). Tentu saja, fadhilah dzatiyyah (keutamaan dzat) yang dikaruniakan Allah  kepada para keturunan Rasulallah Saw., sama sekali tidak lepas dari rasa tanggung jawab mereka, yang lebih berat dan lebih besar. Wallahua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya