Membaca Qunut dalam Shalat Shubuh

Membaca Qunut dalam Shalat Shubuh    

Ini, sebenarnya soal ikhtilaf furu’iyah. Tetapi, sebagian kaum  Muslimin memvonis qunut dalam shalat shubuh sebagai bid‘ah. Golongan ini, bila mengatakan suatu amalan sebagi bid’ah, berarti bid’ah dhalalah, bagi mereka tidak ada bid’ah sunnah dan lain sebagainya (baca bab bid’ah dalam buku ini). Karena keegoisan memegang fahamnya ini, mereka ini tanpa segan-segan mencela orang yang mengamalkannya, melontarkan ucapan-ucapan yang justru bisa mendatangkan dosa dan bertentangan dengan akhlak yang diajarkan Nabi Saw. Bagaimana mungkin doa qunut yang masih ada hadisnya itu dikatakan bid‘ah dhalalah atau bid’ah mungkar? Qunut pada shalat shubuh itu mempunyai dasar dari amaliyah Rasulallah Saw. Bukan hanya untuk qunut nazilah (bencana) saja. Kedudukan riwayatnya pun cukup kuat. Imam Bukhari dan Muslim banyak meriwayatkan hal ini. Demikian pula, amalan para ulama salaf seperti Imam Syafi’i dan Imam Malik: 

  • Imam Syafi’i mensunnahkan qunut dalam shalat shubuh dengan mengambil landasan hadis dari Anas bin Malik r.a. Dia pernah ditanya: ‘Apakah Nabi Saw. berqunut dalam shalat shubuh?’. Ia (Anas ra) menjawab: ‘Ya’. Ditanya pula, ‘Sebelum rukuk atau sesudahnya?’ Ia menjawab, ‘Sesudah rukuk’”.(HR. Jama’ah, kecuali Tirmidzi, dari Ibnu Sirin).
  • Imam Syafi'i juga berdalil dengan hadis lainnya, dari Anas bin Malik r.a: “Rasulallah Saw. itu selalu berqunut dalam shalat shubuh, hingga meninggal dunia”(HR. Ahmad, Bazzar, Daruquthni, dan disahih kan oleh Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Imam Nawawi dalam kitab Adzkarun-Nawawiyah mengomentari, bahwa hadis tersebut sahih. Ibnu Hajar Al-Asqolani berkomentar dalam takhrij-nya, hadis tersebut hasan lighoirihi (baik, karena didukung riwayat lainnya).
  • Al-Hafizh Al-Iraqi, guru dari Ibnu Hajar, sebagaimana dikutip oleh Al-Qasthalani dalam Irsyadussari syarah Sahih Bukhari menjelaskan, qunut shubuh itu diriwayatkan oleh Abu Bakar   Umar, Usman, Ali dan Ibnu Abbas [r.a]. Kemudian beliau (al-Hafizh) berkomentar, ‘Telah sah dari mereka (para sahabat) dalil tentang qunut tatkala terjadi pertentangan antara pendapat yang menetapkan dan meniadakan, maka didahulukan pendapat yang menetapkan’. 
  • Hadis dari Al-Barra’ bin Azib ra: “Bahwa Nabi Saw. dahulu melakukan qunut pada shalat maghrib dan shubuh” (HR Ahmad, Muslim dan At-Tirmidzi). At-Tirmidzi mensahihkan hadis ini.
  • Hadis dari Anas r.a.:“Bahwa Nabi Saw. pernah qunut selama satu bulan sambil mendoakan kecelakaan atas mereka kemudian Nabi meninggalkan- nya. Adapun, pada shalat subuh, maka Nabi senantiasa melakukan qunut hingga beliau wafat”. Di antara ulama yang mengakui kesahihan hadis ini adalah; Hafizh Abu Abdillah Muhamad Ali al-Bakhi dan Al-Hakim Abu Abdillah pada beberapa tempat di dalam kitabnya serta imam Baihaqi. Hadis ini, diriwayatkan pula oleh Daraquthni dari beberapa jalan dengan sanad-sanad yang sahih.

Hadis ini diriwayatkan juga oleh Abu Daud dengan tanpa penyebutan shalat maghrib. Imam Nawawi  mengatakan, “Tidaklah mengapa meninggalkan qunut pada shalat maghrib karena qunut bukanlah suatu yang wajib, dan karena ijmak ulama telah mengatakan bahwa qunut pada shalat maghrib itu sudah mansukh, yakni terhapus hukumnya”. (Al-Majmu II/505). Wallahua'lam

Silahkan baca uraian berikutnya.