Argumen Kaum Wahabi-Salafi

Argumen Kaum Wahabi

Kemudahan kaum Wahabi memvonis bid‘ah, tidak lain merupakan akibat dari menafsirkan Al-Quran dan Sunnah secara tekstual (zhahir) teks. Argumen yang sering mereka ulang-ulang atas penolakan kepada konsep bid”ah antara lain sebagai berikut:

Rasulallah Saw. tidak pernah memerintahkan dan mencontohkannya. Begitu juga, para sahabatnya tidak ada satupun di antara mereka yang mengerjakannya. Demikian pula para tabi‘in dan tabi'ut-tabi‘in. Kalau sekiranya amalan itu baik, mengapa hal itu tidak dilakukan oleh Rasulallah, sahabat dan para tabi‘in?

Kita kaum Muslim diperintahkan untuk mengikuti Nabi yakni mengikuti segala perbuatan Nabi. Semua yang tidak pernah beliau lakukan, kenapa justru kita yang melakukannya..? Bukankah kita harus menjauhkan diri dari sesuatu yang tidak pernah dilakukan Nabi Saw., para sahabat, ulama-ulama salaf..? Karena melakukan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Nabi adalah bid‘ah”. Mereka selalu mengetengahkan dalil:

        وَمَا اَتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا     

“Apa saja yang didatangkan oleh Rasul kepadamu, maka ambillah dia dan apa saja yang kamu dilarang daripadanya, maka berhentilah (mengerjakannya). (QS. Al-Hasyr [59]:7). Atau hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Bukhari:

 اِذَا أمَرْتُكُمْ بِأمْرٍ فَأْتُوْا مِنْهُ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْئٍ فَاجْتَنِبُوْهُ

‘Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampumu dan jika aku melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah dia!‘  

Atau hadis-hadis riwayat imam Bukhori dan Muslim, “Setiap yang diada-adakan (muhdatsah) adalah bid‘ah dan setiap bid‘ah adalah sesat; Barangsiapa yang didalam agama kami mengadakan sesuatu yang tidak dari agama, ia tertolak”.

Kaidah retorika seperti itulah, yang sering dijadikan pegangan untuk melegitimasi tuduhan bid‘ah kepada praktik tahlil/ yasinan, peringatan Maulid Nabi Saw. dan sebagainya. Terhadap semua ini, mereka langsung menghukuminya dengan ‘sesat’, ‘haram’, ‘mungkar’, dan bahkan ‘syirik’.

Kalau kita teliti dalam surah Al-Hasyr diatas, jelas bahwa perintah untuk tidak mengerjakan sesuatu jika telah tegas dan jelas larangannya dari Rasulallah Saw.. Ayat itu tidak mengatakan,   وَماَلَمْ يَفْعَلْهُ فَانْتَهُوْا  (Dan apa saja yang tidak pernah dikerjakannya [oleh Rasulallah], maka berhentilah [mengerjakannya]). Begitupun juga, dalam hadis diatas Rasulallah Saw. tidak mengatakan:

                 وَاِذَا  لَمْ أفْعَلْ  شَيْئًا فَاجْتَنِبُوْهُ  

‘Dan apabila sesuatu itu tidak pernah aku kerjakan, maka jauhilah dia!’

Silahkan baca uraian berikutnya.