Maulidan dan Rajaban

Maulidan dan Rajaban

Pernah kami baca dari lembaran internet Salafi tanggal 25/01/2004, Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin Baz, salah seorang ulama mazhab Wahabi-Salafi, mengomentari majlis peringatan Maulid Nabi Saw.:

Pada majlis peringatan maulid Nabi Saw. tersebut berkumpulnya lelaki dan wanita-wanita yang bukan muhrim sehingga itu semua adalah munkar dan haram. Dan di dalam majlis maulid Nabi Saw. tersebut banyak hal-hal yang haram dijalankan oleh kaum muslimin tersebut di antaranya: minum khamar/ alkohol, main judi, minum ganja dan sebagainya.

Ini fitnah luar biasa besar. Sayang sekali, sang Syaikh  ini tidak menyebutkan pada majlis maulid apa dan di mana yang pernah dihadiri oleh beliau. Sampai-sampai ada minuman beralkohol, main judi dan sebagainya? Mungkin beliau ini, hanya mendengar cerita dongengan dari kawan-kawannya yang anti pada majlis maulid tersebut!

Golongan Pengingkar menyatakan pula, sejarah awal mula peringatan maulid Nabi Saw. diadakan oleh Al-Muiz-Liddimillah al-Abadi. Sang pemrakarsa peringatan maulid Nabi menurut kaum Wahabi memiliki nama yang jelek karena dekat dengan kaum Yahudi dan Nasrani serta jauh dari kaum Muslim. Sudah menjadi sifat kebanyakan kelompok ini, amat mudah mendiskreditkan orang yang tidak sefaham dengannya. 

Riwayat kapan dimulainya peringatan maulid Nabi Saw. bermacam-macam. Ada riwayat yang mengatakan, pertama kali yang mengadakan acara peringatan hari kelahiran Nabi Saw. dan para keluarga beliau Saw. adalah pada pertengahan abad kedua Hijriyah, yakni pada zaman Imam Jakfar Shadiq atau Imam Musa Al-Kadhim. Tradisi ini, diteruskan para Khalifah Bani Fatimiyah di Kairo yang berkuasa sejak abad keempat Hijriyah. Mereka memperingati dan mengenang hari k.elahiran dan kewafatan Nabi Saw., Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib kw., Sayidah Fatimah r.a., Imam Hasan dan Imam Husin bin Ali bin Abu Thalib [r.a] dan orang-orang saleh lainnya, walaupun tidak dengan perayaan.

Ada lagi riwayat yang menyatakan, peringatan maulid Nabi Saw. diadakan pada awal abad ke 7 H. Peringatan ini pertama kali dilakukan oleh raja Irbil (sekarang menjadi wilayah). Sang raja bernama Muzhaffaruddin al-Kaukabri. Hal ini sebagaimana disebutkan Ibnu Katsir dalam kitab Tarikh: “Sultan Muzhaffar mengadakan peringatan maulid Nabi pada bulan Rabiul Awal. Beliau merayakannya secara besar-besaran. Beliau adalah seorang yang berani, pahlawan, alim dan seorang yang adil—semoga Allah merahmatinya.”

Riwayat-riwayat tentang awal mulanya peringatan maulidin Nabi Saw. bermacam-macam, begitu juga mengenai tanggal lahir beliau Saw., tetapi semua ini bukan suatu masalah yang perlu kita bahas di sini. Yang sudah pasti, berkumpulnya manusia secara massal untuk menyelenggarakan peringatan-peringatan atau keagamaan ini terjadi setelah zaman Nabi Muhamad Saw. dan para sahabat, tetapi dilakukan pada zaman tabi‘in.

Peringatan maulid ini di selenggarakan oleh muslimin ,baik dari kaum ulama maupun kaum awam di seluruh mancanegara. Mesir, Iran, Irak, Indonesia, Malaysia, Singapura, Afrika, Yaman, Marokko, Pakistan, India,  serta dinegara-negara barat antara lain di Inggris, Belanda, Perancis, Jerman dan lain sebagainya. Bahkan, peringatan maulid Nabi Saw. juga terjadi di Arab Saudi. Hanya saja, peringatannya tidak semeriah di negara-negara lain. Peringatan Maulid Nabi Saw. di Arab Saudi hanya terjadi di rumah-rumah atau flat-flat. Peringatan ini, selalu dihadiri oleh orang banyak dan berkedudukan penting di pemerintahan Arab-Saudi. Mereka tidak dibolehkan menyolok mengadakan peringatan tersebut karena dikhawatirkan akan terjadi keonaran, khususnya gangguan dari kaum Wahabi.

Dengan adanya internet, kita bisa melihat—di YouTube 'Sayid Abbas Maliki in television art'  atau 'Dhikr mawlid mouhadith Al-Alawi al-Maliki al-Makki' (ulama yang berdomisili di Arab Saudi)—peringatan maulid yang diadakan di Arab Saudi atau negara Arab lainnya. 

Kira-kira mulai sepuluh-limabelas tahun lalu, di Madinah, setiap musim haji, bulan-bulan Rajab, Sya’ban dan bulan mulia lainnya, pada setiap malam jum’at mulai jam 22.00, ribuan orang sebagian besar dari golongan mazhab Syiah dari Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait dan lainnya duduk berkumpul di depan kuburan Baqi’ (yaitu kuburan yang letaknya berhadapan dengan Kubah kuburan Nabi Saw.di Masjid Nabawi Madinah) untuk membaca bersama doa Kumail (doanya Kumail bin Ziyad) dengan pengeras suara, dan sekitar tempat itu dijaga oleh tentara-tentara Arab Saudi hanya untuk menjaga keamanan saja.  

Pada mulanya, ulama-ulama Saudi melarang keras kumpulan-kumpulan pembacaan doa di muka umum seperti itu, apalagi sambil menggunakan pengeras suara. Belakangan para ulama Saudi tidak melarangnya. Begitu juga, dahulu para muthawik melarang orang mengambil gambar (foto) Masjidil Haram walaupun dari luar, tetapi sekarang di dalam masjid Haram pun boleh orang mengambil gambar. Mungkin?, para ulama Saudi ini, dapat tegoran dari para ulama bahwa mengambil gambar foto itu tidak dilarang oleh syariat Islam

Peringatan maulid memang tidak pernah dilakukan orang pada masa kehidupan Nabi Saw.. Ini memang bid‘ah (rekayasa baru), tetapi rekayasa yang baik (bid‘ah hasanah), karena sejalan dengan hukum syara’ dan sejalan pula dengan kaidah-kaidah umum agama. Sifat rekayasanya terletak pada bentuk berkumpulnya jamaah, bukan terletak pada per-orangan (individu) yang memperingati hari kelahiran Nabi Saw. Sebab, masa hidup beliau Saw. dengan berbagai cara dan bentuk setiap Muslim melakukannya meskipun tidak disebut perayaan atau peringatan. Tidak adanya contoh pada zaman Rasulallah Saw. atau para sahabat, bukanlah menjadi dalil melarang atau menyesatkan peringatan maulidin Nabi Saw. Tidak lain semua itu, adalah ijtihad para ulama.

Lupa, adalah salah satu ciri kelemahan yang ada pada setiap orang. Tidak pandang apakah ia berpikir cerdas atau tidak. Kita sering mendengar orang berkata, Summiyal-Insan liannahu mahallul khatha’i wan-nisyan (dinamakan manusia/ Insan karena ia tempat kekeliruan dan kelupaan/nisyan). Dengan demikian, lupa sering digunakan orang untuk beroleh maaf atas suatu kesalahan atau kekeliruan yang telah diperbuat. Bahkan, di Al-Quran dalam surah Al-Kahfi [18]:63 terdapat isyarat bahwa lupa adalah dorongan setan, yaitu ketika murid (pengikut) Nabi Musa a.s. menjawab pertanyaan nabi Musa, dengan mengatakan, ‘Tidak ada yang membuatku lupa mengingat (makanan) itu kecuali setan’.

Satu-satunya obat untuk dapat mencegah atau menyembuh- kan penyakit lupa yaitu peringatan. Bila orang telah di-ingatkan atau diberi peringatan, ia tidak mempunyai alasan lagi untuk menyalahgunakan lupa agar beroleh maaf atas perbuatannya yang salah itu. Kata zikir, dzakkara, atau dzikra (ingat, mengingat- kan, peringatan dan seterusnya) adalah sempalan kata lain dari akar kata zikir yang berulang-ulang ditekankan dalam Al-Quran. Bahkan, para Nabi dan Rasul termasuk junjungan kita Nabi Muhamad Saw. disebut juga sebagai Mudzakkir yakni Pemberi ingat. Dengan tekanan makna yang lebih tegas dan keras, para Nabi dan Rasul disebut juga sebagai Nadzir yakni pemberi peringatan keras kepada manusia yang menentang kebenaran Allah Swt.

Dengan keterangan singkat di atas, jelaslah betapa besar dan penting masalah peringatan dan mengingatkan. Tujuannya adalah agar manusia sebatas mungkin dapat terhindar dari penyakit lupa dan lalai yang akan menjerumuskannya kedalam pemikiran salah dan perbuatan sesat. Itulah masalah yang melandasi pengertian kita tentang betapa perlunya kegiatan memperingati maulid Nabi Muhamad Saw.. Allah Swt. sendiri telah berfirman  agar kita selalu ingat mengingatkan karena peringatan sangat bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.(QS Ad-Dzariyat [51]: 55)

Allah Swt. berfirman,  “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), ‘Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah  mereka kepada hari-hari Allah”. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. ” (QS  Ibrahim [14] : 5).

Yang dimaksud dengan hari-hari Allah pada ayat itu,  peristiwa yang telah terjadi pada kaum-kaum dahulu serta nikmat dan siksa yang dialami mereka. Umat nabi Musa disuruh oleh Allah Swt. untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang telah lalu. Baik itu yang berupa nikmat atau berupa azab dari Allah Swt.. Dengan adanya peringatan maulid itu, kita selalu di-ingatkan kembali kepada junjungan kita Rasulallah Saw. sebagai penghulu para Nabi dan Rasul!

Tidak ada ketentuan syariat, cara mengingat atau memperingati hari-hari Allah yang harus diselenggarakan pada hari-hari tertentu. Juga tidak ditetapkan peringatan itu harus dilakukan secara berjamaah ataupun secara individual. Begitu juga halnya dengan peringatan maulid. Ia dapat diadakan setiap waktu, boleh secara individu atau berjamaah. Sudah tentu, waktu yang paling tepat ialah pada hari turunnya nikmat Allah. Dalam hal memperingati maulid Nabi Saw. waktu yang paling sesuai adalah pada bulan Rabiul-awal (bulan kelahiran Rasulallah Saw.).

Akan tetapi, mengingat besarnya manfaat peringatan maulid ini dan mengingat pula bahwa dengan cara berjamaah lebih utama dan lebih banyak barakah, peringatan maulid dapat diadakan pada setiap kesempatan yang baik secara berjamaah. Misalnya, pada hari-hari mengkhitankan anak-anak, pada waktu hari pernikahan, pindah rumah, pelaksanaan nazar yang baik, beroleh rezeki yang banyak dan lain sebagainya.

Mengenai pilihan waktu untuk memperingati hari-hari Allah, terdapat hadis sahih yang dapat dijadikan dalil. Hadis ini, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim tentang puasa pada hari Asyura. Puasa sunnah Asyura dianjurkan oleh Rasulallah Saw. setelah beliau Saw.melihat kaum Yahudi di Madinah puasa pada hari 10 Muharram. Beliau Saw. bertanya kepada kaum Yahudi ‘mengapa mereka ini berpuasa pada hari itu’? Mereka menjawab, ‘Pada hari ini, Allah Swt. menyelamatkan Nabi mereka dan menenggelamkan musuh mereka’. Kemudian Nabi Saw. menjawab, ‘Kami lebih berhak memperingati Musa  dari pada kalian’!

Terdapat pula, hadis lainnya yang diketengahkan Ibnu Taimiyah dari Ahmad bin Hanbal,

  • Aku mendengar berita, pada suatu hari sebelum Rasulallah Saw. tiba (di suatu tempat di Madinah) di antara para sahabatnya ada yang berkata, ‘Alangkah baiknya jika kita menemukan suatu hari dimana kita dapat berkumpul untuk memperingati nikmat Allah yang terlimpah kepada kita’. Yang lain menyahut, ‘Hari Sabtu!’ Orang yang lain lagi menjawab, ‘Jangan (karena) berbarengan dengan harinya kaum Yahudi’! Terdengar suara yang mengusulkan, ‘Hari Minggu saja!’ Dijawab oleh yang lain, ‘Jangan (karena) berbarengan dengan harinya kaum Nasrani!’ Kemudian menyusul yang lain lagi berkata, ‘Kalau begitu, hari Arubah saja!’ Dahulu mereka, menamakan hari Jum’at hari Arubah. Mereka, lalu pergi berkumpul di rumah Abu Amamah Sa’ad bin Zararah. Dipotonglah seekor kambing cukup untuk di makan bersama”.(Ibnu Taimiyah, Iqtidaus Shirathil Mustaqim)

Selain dua hadis tersebut di atas, terdapat hadis lainnya dari Imam Bukhari dan Muslim mengenai nyanyian yang didendangkan oleh sekelompok muslimin, untuk memperingati hari bersejarah. Peristiwanya terjadi dikala Rasulallah Saw. masih hidup di tengah umatnya. Nyanyian itu justru didendangkan orang ditempat kediaman Rasulallah Saw. berkaitan dengan datangnya hari raya Idul Akbar.

Peringatan demikian itu, dilakukan juga oleh sekelompok Muslim berkaitan dengan hari bersejarah lainnya, yakni hari Biats yaitu hari kemenangan suku-suku Arab melawan Persia, sebelum Islam. Pada hari itu, Abu Bakar dan Umar berusaha mencegah sejumlah wanita berkumpul dan menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan oleh orang-orang Anshar. Melihat Abu Bakar dan Umar berbuat demikian itu, Rasulallah Saw. menegur dua orang sahabatnya ini. Beliau Saw. minta agar kedua-duanya membiarkan mereka merayakan hari besar dengan cara-cara yang sudah biasa dipandang baik menurut tradisi dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

  • Hadis yang berasal dari Ummul mukminin Aisyah r.a. itu lengkapnya sebagai berikut: “Pada suatu hari Abu Bakar As-Shiddiq ra datang kepada Aisyah ra (putrinya). Pada saat itu, dikediaman Aisyah r.a. ada dua orang wanita Anshar sedang menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan oleh kaum Anshar pada hari Bi’ats. Siti Aisyah r.a. memberitahu ayah- nya, bahwa dua orang wanita yang sedang menyanyi itu bukan biduanita. Abu Bakar menjawab, ‘Apakah seruling setan dibiarkan dalam tempat kediaman Rasulallah?’ Peristiwa tersebut terjadi pada hari raya. Menanggapi pernyataan Abu Bakar r.a., Rasulallah Saw. berkata,‘Hai Abu Bakar, masing-masing kaum mempunyai hari raya, dan sekarang ini hari raya kita’“.(Sahih Muslim III: 210 dan Sahih Bukhari, I:170).

Yang dimaksud dalam hadis kata hari raya kita ialah, hari terlimpahnya nikmat Allah Swt. kepada kita. Oleh karena itu kita boleh merayakannya. Berdasarkan riwayat yang berasal dari Ummul Mukminin Aisyah r.a. itu imam Bukhari dan Muslim memberitakan, “di dalam tempat kediaman Nabi Saw. pada saat itu terdapat dua orang wanita sedang bermain rebana (gendang)”.

  • Dalam Sahih Bukhari, I:119 diriwayatkan sebuah hadis dari Aisyah r.a. yang berkata, “Pada suatu hari Rasulallah Saw. datang kepadaku. Saat itu, di rumah terdapat dua orang wanita sedang menyanyikan lagu-lagu Bi’ats. Beliau Saw. lalu berbaring sambil memalingkan wajah. Tak lama kemudian, datanglah Abu Bakar (ayah Aisyah). Ia marah kepadaku seraya berkata, ‘Apakah seruling setan dibiarkan berada di rumah Rasulallah ?’ …. ..Mendengar itu Rasulallah Saw. segera menemui ayahku lalu berkata, ‘Biarkan sajalah mereka’! Setelah Abu Bakar tidak memperhatikan lagi keberadaan dua orang wanita itu, mereka lalu keluar meninggalkan tempat”.
  • Riwayat lain, memberitakan, “Pada hari perayaan Muna, Abu Bakar r.a. datang kepada Siti Aisyah r.a. Ketika itu, di rumah istri Nabi Saw. terdapat dua orang wanita sedang menyanyi sambil menabuh/memukul rebana. Saat itu, Rasulallah Saw. sedang menutup kepala dengan burdahnya. Oleh Abu Bakar dua orang wanita itu dihardik. Mendengar itu, Rasulallah Saw. sambil menanggalkan burdah dari kepalanya berkata, ‘Hai Abu Bakar, biarkan mereka, hari ini hari raya!’”
  • Siti Aisyah r.a. juga menceritakan pengalamannya sendiri, “Aku teringat kepada Rasulallah Saw. di saat beliau Saw. sedang menutupi diriku dengan bajunya (yang dimaksud adalah hijab/kain penyekat), agar aku dapat menyaksikan beberapa orang Habasyah (Ethiopia) sedang bermain hirab (tombak pendek) di dalam masjid Nabawi (di Madinah). Beliau Saw. merentang bajunya di depanku agar aku dapat melihat mereka sedang bermain. Setelah itu, aku pergi meninggalkan tempat. Mereka, mengira diriku seorang budak perempuan Arab yang masih muda usia dan gemar bersenang-senang”.
  • Dalam Sahih Muslim ketika itu Aisyah r.a. mengatakan, “Aku melihat Rasulallah Saw. berdiri di depan pintu kamarku, pada saat beberapa orang Habasyah sedang bermain hirab didalam masjid Nabawi. Kemudian beliau Saw. merentang- kan baju di depanku agar aku dapat melihat mereka bermain. Setelah itu aku pergi. Mereka, mengira diriku seorang budak perempuan Arab yang masih muda usia dan gemar bersenang-senang”.
  • Dalam hadis yang lain lagi Siti Aisyah r.a. menuturkan, “Pada suatu hari raya beberapa orang kulit hitam negro dari Habasyah bermain darq  (perisai terbuat dari kulit tebal) dan hirab. Saat itu, entah aku yang minta kepada Rasulallah Saw. ataukah beliau Saw. yang bertanya kepadaku, ‘Apakah engkau ingin melihat’? Aku menjawab, ‘Ya’. Aku lalu diminta berdiri di belakang beliau demikian dekat hingga pipiku bersentuhan dengan pipi beliau Saw.. Kepada orang-orang yang bermain-main itu Rasulallah Saw. bersabda, ‘Hai Bani Arfidah…teruskan, tidak apa-apa’! Kulihat mereka terus bermain hingga merasa jemu sendiri. Kemudian, Rasulallah Saw. bertanya kepadaku, ‘Sudah cukup’? Kujawab, ‘Ya’. Beliau lalu menyuruhku pergi, ‘kalau begitu pergilah!’ ”
  • Dalam Sahih Muslim diriwayatkan juga sebuah hadis berasal dari Atha r.a yang menuturkan, yang bermain-main itu entah orang-orang Persia, entah orang-orang Habasyah (Ethiopia). Mereka bermain hirab di depan Rasulallah Saw. Tiba-tiba Umar Ibnul Khattab datang, ia lalu mengambil beberapa buah kerikil dan dilemparkan kepada mereka. Ketika melihat kejadian tersebut Rasulallah Saw. berkata, ‘Hai Umar, biarkan saja mereka’!

Kini telah kita ketahui, bentuk perayaan atau peringatan  sebagaimana yang dituturkan hadis-hadis di atas, ternyata bermacam-macam. Ada yang berupa ibadah puasa, ada yang dengan cara memotong kambing lalu dimakan bersama, ada yang merayakan dengan nyanyian, dan mendeklamasikan syair-syair sambil memukul rebana dan ada pula yang merayakan dengan bermain-main tombak serta perisai. Semua ini, diriwayatkan oleh para sahabat Nabi terdekat, bahkan oleh istri beliau Saw. sendiri yang langsung menyaksikan.

Semua riwayat ini, kemudian dicatat dan diberitakan oleh para Imam ahli hadis seperti Imam Ahmad bin Hanbal, Bukhari dan Muslim. Dalam hadis-hadis itu, telah diketahui pula bahwa Rasulallah Saw. membolehkan diadakannya perayaan-perayaan atau peringatan-peringatan hari bersejarah, terutama sekali hari-hari pelimpahan nikmat Allah Swt. kepada umat manusia.

Dalam hadis-hadis tadi beliau Saw. tidak pernah mengatakan perayaaan atau peringatan itu perbuatan kufur atau bid’ah dhalalah (sesat). Kita mengetahui pula, sayidina Abubakar r.a. menyebut nyanyian sebagai seruling setan. Sayidina Umar r.a. melempari orang-orang yang bermain tombak dengan kerikil. Kemudian Rasulallah Saw. menegor kedua sahabatnya tersebut. Karena beliau Saw. tidak memandang permainan-permainan atau perayaan-perayaan itu sebagai perbuatan kufur, maksiat atau keluar dari garis-garis yang ditentukan syariat Islam. Dua sahabat Nabi Saw. menerima tegoran Nabi Saw. dengan jujur dan ikhlas.

Allah berfirman, “ ’Isa putra Maryam berdoa, ‘Ya Tuhan kami turunkanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari Raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling Utama’”.(QS Al-Maidah [5] :114).

Turunnya makanan dari Allah Swt. untuk umat nabi Isa saja sudah sebagai suatu kenikmatan dan hari Raya untuk umat Isa a.s. dan untuk yang datang sesudah mereka. Bagi umat Muhamad Allah Swt. telah memberikan berbagai kenikmatan dan kemuliaan karena lahirnya dan turunnya makhluk yang paling mulia yaitu Habibullah Rasulallah Saw. kedunia ini!!

Dalam Sahih Muslim halaman 168 juga memperkuat dalil-dalil keabsahan peringatan maulid (kelahiran) Nabi Saw., yaitu mengenai puasa setiap hari Senin yang dilakukan oleh Nabi Saw. Beberapa orang sahabat Beliau Saw. bertanya apa sesungguhnya motivasi beliau berpuasa tiap hari Senin? Beliau Saw. menjawab: “Pada hari itu yakni hari Senin adalah hari kelahiranku dan hari turunnya wahyu (pertama) kepadaku”. Dengan adanya hadis ini, kita memandang bahwa hari Senin sebagai hari yang bersejarah, karena mencakup dua peristiwa besar. Dan Rasulallah Saw. memperingati dan merayakannya dengan berpuasa setiap hari Senin.

Dalam kitab Al-Madhkal oleh Ibnu al-Hajj jilid 1 halaman 261 disebutkan, “Menjadi satu kewajiban bagi kita untuk memperbanyak kesyukuran kepada Allah setiap hari Senin bulan Rabiul Awal karena Dia (Allah Swt.) telah mengurniakan kepada kita nikmat yang besar yaitu diutus-Nya Nabi Saw. untuk menyampaikan Islam”.

Kelahiran Nabi Muhamad Saw. adalah sebuah tanda besar turunnya rahmat Allah Swt.. Sudah selayaknya momentum ini mendapatkan peringatan. Allah Swt.berfirman, “Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah (lambang kebesaran) Allah, itu sesungguhnya (timbul) dari hati yang takwa”, (QS Al-Hajj [22]:32); “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa yang mulia di sisi Allah, itulah yang terbaik baginya di sisi Tuhannya”. (QS Al-Hajj [22]: 30).

Begitu pula dengan peringatan Isra dan Mikraj. Ini termasuk hari-hari Allah yang layak diperingati. Ia berkaitan langsung dengan perjalanan Nabi Besar Muhamad Saw. ke alam jabarut atas kehendak dan kekuasaan Allah Swt. Kejadian Isra dan Mikraj Rasulallah Saw. ini diabadikan dalam firman Allah Swt. (QS Al-Isra [17]. Adapun, detail riwayat perjalanan Isra dan Mikraj Rasulallah Saw. banyak diriwayatkan dalam berbagai hadis, di antaranya oleh Imam Bukhari, Imam Muslim dan lainnya.

Peristiwa Isra dan Mikraj ternyata merupakan ujian tentang sejauh mana orang benar-benar mengimani kebenaran Allah dan Rasul-Nya. Di antara sejumlah kaum muslimin yang masih sedikit pada masa itu, sebagian goyah dan goncang keimanannya. Bagi mereka yang tidak beroleh hidayah dari Allah Swt. bahkan keluar meninggalkan Islam, kembali ke kepercayaan semula.  

Tidak dapat dipungkiri, peristiwa Isra dan Mikraj Nabi Muhamad Saw. merupakan nikmat dan bukti keagungan Allah Swt. Di dalamnya, mengandung banyak hikmah dan pelajaran bagi umat manusia. Peristiwa Isra yang mendahului Mikraj dan terjadi pada malam yang sama, juga merupakan mukjizat yang meyakinkan manusia akan kebenaran Risalah dan agama yang dibawakan oleh junjungan kita Nabi Muhamad Saw., terutama mengenai pemberitaan bentuk bangunan Masjid Al-Aqsa di Yerussalem yang disampaikan oleh beliau Saw. kepada para sahabat.

Secara singkat, kejadian Isra-Mikraj, berdasarkan rujukan kitab hadis yang shahih dapat dikemukakan sebagai berikut: Setelah beliau Saw. shalat dua rakaat di Masjid Al-Aqsha, dan beliau Saw. mengimami shalat jamaah para Nabi dan Rasul terdahulu, Jibril as. membawa beliau Saw. Mikraj, yakni naik ke langit pertama sampai ke langit ketujuh.

Setiap langit yang beliau Saw. hampiri, beliau Saw. disambut oleh para Rasul terdahulu. Nabi Adam a.s berada di langit yang pertama, Nabi Isa dan Yahya –‘alaihimas salaam-berada di langit kedua, Nabi Yusuf a.s. di langit ketiga, Nabi Idris a.s di langit keempat, Nabi Harun a.s. di langit kelima, Nabi Musa a.s. di langit yang dan Nabi Ibrahim a.s. berada di langit ketujuh. Semuanya sedang bersandar pada Al-Baitul-Makmur.

Tiap hari, tujuh puluh ribu malaikat masuk kedalam (Baitul Makmur) tanpa keluar lagi. Kemudian, Rasulallah Saw. naik ke ‘Sidratul-Muntaha’. Pada waktu peristiwa Mikraj ini, Allah Swt. mewahyukan kepada beliau Saw. tentang ketetapan lima waktu shalat wajib sehari semalam. Beliau Saw. adalah manusia satu-satunya yang mengalami kejadian itu. Ini tidak lain menunjukkan betapa luhur dan agungnya kedudukan beliau Saw..

Dari peristiwa ini, bisa kita ambil pelajaran penting. Umpamanya, setiap beliau Saw. sampai di satu lapis langit selalu disambut gembira oleh para Nabi dan Rasul terdahulu. Semuanya mendoakan kebajikan bagi beliau Saw.. Dalam perjalanan Isra ke Palestina di Yerussalem, Beliau Saw. mengimami shalat jamaah para Nabi dan Rasul terdahulu di Masjidul-Aqsa. Tidak kurang pentingnya dari semuanya itu, ialah doa kebajikan yang dipanjatkan oleh para Nabi dan Rasul di alam baqa bagi junjungan Nabi kita Muhamad Saw.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, tidak ada ketentuan syariat tentang tata cara memperingati hari-hari Allah. Begitu pula, halnya dengan peringatan Isra dan Mikraj Nabi Muhamad Saw., walaupun sementara orang berpendapat, tidak ada nash yang jelas menyebut pada malam apa, tanggal berapa dan bulan apa Isra dan Mikraj itu terjadi, itu sama sekali bukan halangan atau larangan untuk memperingatinya. Keabsahan peringatan Isra Mikraj menurut syara’ sama dengan keabsahan peringatan maulid. Alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan dibuku ini untuk memperkokoh keabsahaan maulid, pada dasarnya memperkuat juga keabsahan peringatan Isra dan Mikraj.

Peringatan Isra Mikraj ini, dapat diselenggarakan kapan saja. Tetapi yang lebih utama/afdhal ialah, pada waktu yang telah diisyaratkan dalam berbagai riwayat (yaitu pada bulan Rajab). Oleh karena itu, bagi masyarakat tertentu, peringatan Isra Mikraj sering juga disebut dengan “Rajaban”. Tujuan utama memperingati ini tidak lain, sama halnya dengan peringatan maulid Nabi Saw. dan hari-hari Allah lainnya adalah mensyukuri nikmat Allah Swt. yang tidak terhingga besarnya.

Silahkan baca uraian selanjutnya