Tabaruk dari Peninggalan Nabi Saw

Tabaruk dari Peninggalan Nabi Saw              

Banyak riwayat menyebutkan, para salaf saleh bertabaruk kepada peninggalan Rasul Saw., setelah wafatnya beliau Saw.. Imam Bukhari dalam kitab Sahih-nya menuliskan satu bab khusus tentang tentang baju besi (untuk perang), tongkat, pedang, gelas dan cincin Nabi, serta apapun yang dilakukan para khalifah pascawafat beliau Saw. dari barang-barang tersebut yang belum disebutkan, dari rambut, sandal dan nampan yang diambil berkahnya oleh para sahabat dan selainnya, pasca wafat beliau. (Bab; “Maa dzakara min Dirun Nabi wa Ashohu wa Saifihi wa Qodhihi wa Khotamihi wa Maa Ista’mala al-Khulafa Ba’dahu min Dzalika Mimma Lam Yudzkar Qisamatuhu, wa min Sya’rihi, wa Na’lihi wa Aniyatihi mimma tabarraka Ashabuhu wa Ghairuhum ba’da Wafatihi”).

Imam Muslim (Al-Libas Wa Az-Zinah, III:140) meriwayat- kan, Asma binti Abu Bakar Shiddiq r.a. menuturkan, ia pernah mengeluarkan Jubah Thayalisah (pakaian kebesaran yang lazim dipakai oleh raja-raja Persia), pada bagian dada dan dua lipatan yang membelahnya berlapiskan sutera mewah. Menurut Asma, itu adalah ‘Jubah Rasulallah Saw’., yang dulu disimpan oleh Aisyah r.a. Setelah Aisyah wafat, jubah itu disimpan oleh Asma r.a.. Asma mengatakan, Nabi Saw. semasa hidupnya pernah memakai jubah tersebut dan sekarang, kata Asma, ‘Jubah itu kami cuci dan kami manfaatkan untuk bertabaruk mohon ke sembuhan bagi penderita sakit’ ”.

Imam Nawawi,  mengomentari hadis di atas dalam Syarah Shahih Muslim jilid 7 halaman 145, “Hadis ini adalah bukti dianjurkannya mencari berkah lewat bekas dari orang-orang saleh dan pakaian mereka”.

Diriwayatkan dari Muhamad bin Jabir, ia berkata,“Aku mendengar ayahku berkisah tentang kakekku. Beliau adalah delegasi pertama Nabi dari Bani Hanafiyah. Suatu saat, kudapati dia menyiram kepalanya dan berkata, ‘Duduklah wahai saudara penghuni Yamamah, siramlah kepalamu!’. Aku siram kepalaku dengan air bekas siraman Rasulallah…, aku berkata, ‘Wahai Rasulallah, berilah aku potongan dari pakaianmu agar aku dapat merasakan ketentraman’. Beliau Saw. memberikannya kepadaku. Selanjutnya, berkata Muhamad bin Jabir, ‘Ayahku berkata, kami biasa menyiramkannya buat orang sakit untuk memohon kesembuhan’”. (Al-Ishabah, II:  102, tarjamah Sayawis Thalq al-Yamani no. 3626)

Diriwayatkan dari Isa bin Thahman, berkata, “Anas menyuruh untuk mengeluarkan sepasang sandal yang memiliki dua tali. Aku dengar Tsabit al-Banani berkata, ‘Itu adalah sandal Rasulallah’”. (Shahih Bukhari VII: 199; Thabaqat karya Ibnu Sa’ad, I: 478).

Jika sandal Rasulallah sama dengan sandal-sandal manusia lain yang tidak layak disimpan dan ditabaruki, buat apa sahabat menyimpannya? Apakah sahabat kurang pekerjaan sehingga menyimpan sandal yang sudah tidak dipakai, atau bahkan sudah rusak? Tentu, ada hikmah dibalik penyimpanan tersebut, salah satunya adalah untuk mengambil berkah dari Rasul, melalui sandal beliau.

Dalam sebuah riwayat, Rasulallah bersabda, “Barangsiapa yang bersumpah di atas mimbarku, dan dia berbohong walaupun terhadap selainnya, selayaknya ia bersiap-siap mendapat tempat di neraka” (HR Ahmad dan Bukhari). Ini membuktikan, betapa sakralnya mimbar Rasulallah Saw..

Zaid bin Tsabit takut untuk bersumpah di mimbar Rasulallah Saw. ketika menghukumi Marwan. (Kanzul Ummal, XVI: 697, hadis ke-46389).

Bukan hanya itu, dalam sebuah riwayat yang disampaikan oleh Yazid bin Abdullah bin Qoshith menjelaskan, “Aku melihat para sahabat Nabi sewaktu hendak meninggalkan masjid, mereka menyentuh pucuk mimbar yang menonjol yang (lantas dikemudian hari terletak) di sisi kanan kubur kemudian mereka menghadap kiblat dan berdoa”.  Bahkan, dalam riwayat Ibrahim bin Abdurrahman bin Abdul Qori menyebutkan, “Beliau melihat Umar meletakkan tangannya ke tempat duduk Nabi di atas mimbar, lalu mengusapkannya kewajahnya”. (At-Thabaqat Al-Kubra, I: 254 tentang mimbar Rasulalllah).

Melihat praktik ini, sungguh aneh jika kaum Wahabi dan  pengikutnya menyatakan syirik para peziarah yang berusaha mengambil berkah dari mimbar Rasulallah di Masjid Nabawi.

Dalam beberapa riwayat dan hadis lain disebutkan bahwa Anas bin Malik dikubur bersama tongkat Rasulallah Saw. (al-Bidayah wan-Nihayah, VI:6). Para sahabat mengambil  berkah dari cincin Rasulallah dengan meniru bentuknya (Shahih Bukhari, VII: 55; Shahih Muslim, III:1656; an-Nasa’i, VIII: 96; Musnad Ahmad bin Hanbal, II:96 hadis ke-472).

Para sahabat mengambil berkah dari sarung Rasulallah dengan memakainya secara bergilir dan dijadikannya kafan. (Shahih Bukhari, VII:189; II: 98; III:80; VIII:16; Sunan Ibnu Majah, II: 1177; Musnad Ahmad bin Hanbal, VI: 456 hadis ke-22318; Fathul Bari, III:144). Muawiyah bin Abi Sufyan yang bersikeras membeli selendang Rasulallah untuk dibawa wafat dan menjadi kafannya (Tarikh Islam karya adz-Dzahabi II:412; As-Sirah al-Halabiyah, III:242; Tarikh Khulafa karya As-Suyuthi, hal.19).

Hadis Ummu Athiyah tentang kehadiran Rasul ketika anak putrinya wafat dan mengambil berkah dari sarungnya (Sahih Bukhari, II: 74; Sahih Muslim, II: 647; Musnad Ahmad, VII: 556 hadis ke-26752; Sunan an-Nasa’i, IV:31 dan As-Sunan al-Kubra, III: 547 bab 34 hadis ke-6634).

Kita akan bertanya lagi kepada kelompok Pengingkarkhususnya Wahabitawasul dan tabaruk; ‘apakah semua riwayat yang diketengahkan para pakar hadis tersebut palsu, dho’if, bohong dan lain sebagainya’? Hanya yang diriwayatkan  kelompok pengingkar saja yang benar dan wajib diikuti?

Silahkan baca uraian selanjutnya