Hadiah pahala baca Al-Quran untuk yang telah wafat

Hadiah pahala baca Al-Quran untuk yang telah wafat.

Jumhur ulama Ahlus-Sunnah menyatakan, bacaan Al-Quran yang dihadiahkan kepada yang telah wafat, pastilah sampai. Imam Ahmad bin Hanbal dan segolongan dari sahabat Imam Syafi’i mengatakan, pahalanya akan sampai kepada si mayat. Si pembaca sebaiknya mengucapkan doa setelah membaca Al-Quran,‘Ya Allah sampaikanlah pahala seperti pahala bacaan saya itu kepada si Anu’. Berikut, kami nukil fatwa beberapa Ulama:

  • Syaikh Muhamad Al-Arabi At-Tibani, seorang ulama Masjidil Haram dalam risalahnya, Is’aful Muslimin wal Muslimat bi Jawazil Qira’ah wa Wushulu Tsawabiha Lil Amwat mengatakan, membaca Al-Quran itu dapat sampai kepada arwah orang yang telah wafat.
  • Berkata Muhamad bin Ahmad al-Marwazi: “Saya mendengar Ahmad bin Hambal berkata: ‘Jika kamu masuk kepekuburan, maka bacalah Fatihatul kitab, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur. Maka, sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tetapi, yang lebih baik adalah agar si pembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: ‘Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan….’”. (Hujjatu Ahlis Sunnah Wal-Jama‘ah 15).
  • Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, "Sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayat adalah sedekah, istighfar, berdoa untuknya dan berhaji atas nama dia. Adapun, membaca Al-Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayat dengan cara sukarela tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya, sebagaimana pahala puasa dan haji juga akan sampai kepadanya" (Yasaluunaka fid din wal hayat jilid 1/442).
  • Berkata Syeikh Ali bin Muhamad bin Abil Iz:  “Adapun membaca Al-Quran dan menghadiahkan (pahala)nya kepada orang wafat secara sukarela dengan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji”. (Syarah Aqidah Thahawiyah hal.457).
  • Berkata Dr. Ahmad  Syarbasi: “Sesungguhnya jumhur ulama telah menyebutkan, bacaan Al-Quran Karim dapat memberi manfaat kepada mayat atau sampai pahala bacaan itu kepadanya. Dan terhadap yang demikian sekelompok ulama yang lain tidak menyetujui. Dan bagi mereka yang menyetujui hal tersebut, akan menjadi baik jika si pembaca selesai berdoa dengan mengatakan: ‘Ya Allah, sampaikan lah pahala ayat yang telah aku baca kepada si fulan atau fulanah’”. (Yasaluunaka fid din wal hayat jilid 111/413). 
  • Berkata Syeikh Hasanain Muhamad Makhluf ,mantan mufti Mesir,“Tokoh-tokoh mazhab Hanafi berpendapat, tiap-tiap orang yang melakukan ibadah baik sedekah, membaca Al-Quran, atau dari bermacam-macam kebaikan, boleh baginya menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan pahala- nya itu akan sampai kepadanya”.
  • Berkata Syeikh Ali Ma’shum: “Dalam mazhab Maliki tidak ada khilaf dalam hal sampainya pahala sedekah kepada mayat. Yang ada khilafnya, masalah boleh tidaknya membaca Al-Quran untuk mayat.  Menurut dasar mazhab, hukumnya makruh. Namun, ulama-ulama mutaakhirin berpendapat boleh dan itulah yang diamalkan. Dengan demikian, maka pahala bacaan tersebut sampai kepada mayat dan Ibnu Farhun menukil, pendapat inilah yang rojih (kuat)”. (Hujatu Ahlis Sunnah wal-jamaah hal.13).
  • Berkata Allamah Muhamad al-Arobi, “Sesungguhnya membaca Al-Quran untuk orang-orang yang sudah wafat, hukumnya boleh dan sampai pahalanya kepada mereka menurut jumhur fuqaha Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, walaupun dengan adanya imbalan, berdasarkan pendapat yang tahqiq”. (Majmu’ Tsalatsi Rosaail).
  • Berkata Imam Qurtubi, “Telah ijmak ulama atas sampainya pahala sedekah untuk orang-orang yang sudah wafat, seperti itu pula pendapat ulama dalam hal bacaan Al-Quran, doa dan istiqfar karena masing-masingnya termasuk sedekah dan dikuatkan hal ini oleh hadis: ‘Setiap kebaikan adalah sedekah’. Disini tidak dikhususkan sedekah itu dengan harta”. (Tazkirah Al-Qurtubi hal.26).
  • Berkata Imam Sya’bi, “Orang-orang Anshar jika ada diantara mereka yang wafat, mereka berbondong-bondong kekuburnya sambil membaca Al-Quran disampingnya”. (ucapan Sya’bi ini dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Ar-Ruh hal.13).
  • Berkata Ibnul Qayyim,”Ibadat itu dua macam, Mengenai harta (maliyah) dan mengenai badan (badaniyah). Dengan sampainya pahala sedekah, syara’ mengisyaratkan sampainya pada sekalian ibadah yang menyangkut harta, dan dengan sampainya pahala puasa, diisyaratkan pula sampainya sekalian ibadah badaniyah. Kemudian dinyatakan pula sampainya pahala ibadah haji, suatu gabungan dari ibadah maliyah dan badaniyah. Maka ketiga macam bentuk ibadah itu –jelaslah sampainya (hadiah pahala)– baik dengan keterangan dari nash maupun dengan jalan perbandingan (Qiyas).”
  • Ulama mazhab Hanafi menyatakan, “Setiap orang yang melakukan ibadah–baik berupa doa, istighfar, shadaqah, tilawatul qur’an, zikir, shalat, puasa, tawaf, haji, umrah maupun bentuk-bentuk ibadah lainnya yang bersifat ketaatan dan kebaktian–dan berniat menghadiahkan pahala- nya kepada orang lain, baik yang masih hidup atau yang telah wafat, pahala ibadah yang dilakukannya itu akan sampai kepada mereka dan juga akan diperolehnya sendiri.” (Kitab Al-Hidayah dan Al-Bahr serta Kitab Al-Kamal).

Ditinjau dari dalil ijmak (sepakat) ulama dan qiyas, doa dalam shalat jenazah akan bermanfaat bagi mayat. Pahala itu  adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang Muslim, hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta atau membebaskan untuk orang lain di waktu hidupnya dan setelah wafatnya. Begitu juga, menghadiahkan pahala kurban untuk orang yang belum sempat berkurban, padahal kurban adalah melalui menumpahkan darah. 

Hubungan melalui agama, merupakan sebab yang paling besar bagi sampainya manfaat orang Islam kepada saudaranya dikala hidup dan sesudah wafatnya. Bahkan, doa orang Islam dapat bermanfaat untuk orang Islam lain. Al-Quran tidak menafikan seseorang mengambil manfaat dari usaha orang lain. Adapun amal orang lain adalah miliknya, jika orang lain tersebut menghadiahkan amalnya untuk dia, maka pahalanya akan sampai kepadanya bukan pahala amalnya. Allah Swt. menjelaskan bahwa Dia tidak menyiksa seseorang karena kesalahan orang lain, dan seseorang tidak mendapatkan kebahagiaan kecuali dengan usahanya sendiri.

  • Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya mengatakan, “Adalah benar bahwa orang yang telah wafat beroleh manfaat dari semua ibadah jasmaniah seperti shalat, puasa, membaca Al-Quran dan lain-lain–yang dilakukan orang yang masih hidup baginya–. Ia (si mayat) pun beroleh manfaat juga dari ibadah maliyah seperti shadaqah dan sebagainya. Semua ini, sama halnya jika orang yang masih hidup berdoa dan beristighfar baginya. Mengenai ini para Imam mazhab sepakat.” Ibnu Taimiyah mengatakan pula, “Sesungguhnya mayat itu dapat beroleh manfaat dengan bacaan Al-Quran sebagaimana dia beroleh manfaat dengan ibadah-ibadah kebendaan seperti sedekah dan yang seumpamanya.” (Yasaluunaka fid din wal hayat jilid 1/442)
  • Ibnul Qayyim juga berkata dalam kitabnya Ar-Ruh dan Yasalunaka fid din, menyatakan, “Al-Khallal dalam kitabnya Al-Jami sewaktu membahas ‘Bacaan disamping kubur’, berkata: Menceriterakan kepada kami Abbas bin Muhamad ad-Dauri, dari Yahya bin Mu’in dari Mubassyar al-Halabi dari Abdurrahman bin Ala’ bin al-Lajlaj dari bapaknya, dia berkata: Berkata bapakku, ‘Jika aku telah wafat, maka letakkanlah aku diliang lahad dan ucapkanlah bismillah wa ala sunnati Rasulillah dan ratakan lah tanah atasku dan baca permulaan Al-Baqarah di samping kepalaku karena sesungguhnya aku mendengar Abdullah bin Umar mengatakan yang demikian.”
  • Ibnul Qayyim mengutip pula ucapan AlKhallal, “Mengkabarkan kepadaku Hasan bin Ahmad al-Warraq, menceriterakan kepadaku Ali bin Musa al-Haddad dan dia adalah seorang yang sangat jujur, dia berkata, ‘Pernah aku bersama Ahmad bin Hambal dan Muhamad bin Qudomah al-Jauhari menghadiri jenazah, maka tatkala mayat itu telah dimakamkan, seorang lelaki yang kurus duduk disamping kubur (sambil membaca Al-Quran). Melihat itu, berkatalah Imam Ahmad kepadanya, ‘Hai, sesungguhnya membaca Al-Quran disamping kubur itu bid‘ah’! Maka tatkala kami keluar dari kubur berkatalah Muhamad bin Qudomah kepada Ahmad bin Hambal: ‘Wahai Abu Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubassyar al-Halabi’? Imam Ahmad menjawab: ‘Beliau orang yang tsiqah (terpercaya) apakah engkau ada meriwayatkan sesuatu darinya’? Muhamad bin Qudomah berkata, ‘Ya, mengkabarkan kepadaku Mubassyar dari Abdurrahman bin Ala bin al-Lajlaj dari bapaknya bahwa dia berwasiat apabila telah dikuburkan agar dibacakan disamping kepalanya awal dari surah al-Baqarah dan akhirnya, dan dia berkata, Aku telah mendengar Ibnu Umar berwasiat dengan yang demikian itu’. Mendengar riwayat tersebut, Imam Ahmad berkata, ‘Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar diteruskan bacaan Al-Qurannya’”.
  • Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata, “Sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayat adalah sedekah, istighfar, berdoa untuknya dan berhaji atas nama dia. Adapun, membaca Al-Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayat dengan cara sukarela tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya, sebagaimana pahala puasa dan haji juga akan sampai kepadanya.” (Yasaluunaka fid din wal hayat jilid 1/442). Masih banyak lagi riwayat yang menyetujui hadiah pahala bacaan Al-Quran yang tidak tercantum disini. Wallahua'lam.
  • Silahkan baca uraian selanjutnya