Hadiah pahala baca Al-Quran untuk yang telah wafat

Hadiah pahala baca Al-Quran untuk yang telah wafat.

Jumhur ulama Ahlus-Sunnah menyatakan, bacaan Al-Quran yang dihadiahkan kepada yang telah wafat, pastilah sampai. Imam Ahmad bin Hanbal dan segolongan dari sahabat Imam Syafi’i mengatakan, pahalanya akan sampai kepada si mayat. Si pembaca sebaiknya mengucapkan doa setelah membaca Al-Quran,‘Ya Allah sampaikanlah pahala bacaan saya itu kepada si Anu’. Berikut, fatwa paraUlama:

  • Ma’qal Ibnu Yasar r.a meriwayatkan, Rasulallah Saw. bersabda, “Ya Sin adalah kalbu (hati) dari Al-Quran. Tidak seorang pun yang membacanya dengan niat menginginkan akhirat, melainkan Allah akan mengampuninya. Bacalah, atas orang-orang yang telah wafat di antaramu.” (HR Abu Dawud). Imam Hakim dalam Mustadrak jilid 1, hal.565 mengklasifikasikan hadis ini sebagai sahih, lihat juga at-Targhib jilid 2 hal. 376. Hadis yang serupa, diriwayatkan oleh Hafid As–Salafi (Mukhtasar Al-Qurtubi hal. 26).
  • Ma'qal bin Yasar juga berkata bahwa Nabi Muhamad Saw. bersabda, “Iqrauu yaasin ‘alaa mautaakum” (Bacakanlah untuk orang yang akan/telah wafat (mautakum) surah Ya-Sin). (HR. Sunan Abu Daud jilid III hal.91).
  • Al-Baihaqi dalam Sya’bul Iman menjelaskan pula hadis riwayat Mi’qal bin Yasar, Rasulallah Saw. bersabda,

مَنْ قَرَأ يَس إبْتِغَاء وَجْه اللهِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ , فَاقْرَؤُاهَاعِنْدَ مَوْتَاكُم                                                                            ْ

Barangsiapa membaca Ya-Sin semata-semata demi keridhaan Allah, ia memperoleh ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Karenanya, bacakan oleh kalian Ya-Sin bagi orang yang akan/telah wafat di antara kalian (muslimin)”.

Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud lafaz Mautakum (مَوْتَاكُم ) dalam hadis diatas, orang yang hampir wafat bukan yang telah wafat. Hadis tersebut menggunakan arti majas (arti kiasan), bukan arti aslinya. Akan tetapi, tidak salah juga jika kita artikan lafaz tersebut dengan arti aslinya, orang yang telah wafat. Karenanya, perawi hadis ,imam Abu Daud, memberi judul hadis tersebut Babul quraati indal mayit.  

  • Riwayat serupa diatas, dari Abu Hurairah r.a telah dicatat oleh Abu Ya’la dalam Musnad beliau dan Ibnu Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (sanadnya) sebagai hasan /baik (Tafsir Ibnu Katsir Juz 3 hal. 570).

Berdasarkan riwayat surah Ya Sin yang cukup banyak, para ulama pakar yang berpegang hadis-hadis tersebut, mengamalkan- nya baik secara individu atau berkelompok sebagai amalan tambahan.

  • Ma'qal ibn Yasar r.a meriwayatkan pula bahwa Rasulallah Saw. bersabda

مَنْ مَرَّ عَلَى المَقَبِرِ وَقَرَأ قُلْ هُوَا الله اَحَدٌ إحْدَ عَشَرَةَ مَرَّةٌ, ثُمَّ وَهَـبَ أجْرُهَا  لِلأَمْوَاتِ أعْطِي مِنَ الأجْرِ بِعدد الأمْوَات ِ                            

                                                                   

"Barangsiapa melewati kuburan, kemudian ia membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ sebelas kali dengan niat menghadiahkan pahala nya pada para penghuni kubur, ia sendiri akan memperoleh pahala sebanyak orang yang wafat disitu (atau mendapat pahala yang diperoleh semua penghuni kubur)”.

  • Abu Hurairah r.a. meriwayatkan, Nabi Saw. bersabda, “Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca Al-Fatihah, Qul Huwallahu Ahad dan Alhakumut takatsur, lalu ia berdoa, ‘Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mukminin dan Mukminat penghuni kubur ini’, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafa’at) pada hari kiamat”.
  • Syaikh Muhamad Al-Arabi At-Tibani, seorang ulama Masjidil Haram dalam risalahnya, Is’aful Muslimin wal Muslimat bi Jawazil Qira’ah wa Wushulu Tsawabiha Lil Amwat mengatakan, membaca Al-Quran itu dapat sampai (pahalanya) kepada arwah orang yang telah wafat.
  • Berkata Muhamad bin Ahmad al-Marwazi: “Saya mendengar Ahmad bin Hambal berkata, ‘Jika kamu masuk kepekuburan  bacalah Fatihatul kitab, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas dan sampaikan pahalanya untuk para penghuni kubur. Sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tetapi, yang lebih baik adalah agar si pembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: ‘Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan….’” (Hujjatu Ahlis Sunnah Wal-Jama‘ah hal. 15)
  • Ibnul Qayim Al-Jauziyah berkata, "Sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayat adalah sedekah, istighfar, berdoa untuknya dan berhaji atas nama dia. Adapun, membaca Al-Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayat dengan cara sukarela tanpa imbalan akan sampai kepadanya, sebagai mana pahala puasa dan haji akan sampai kepadanya" (Yasaluunaka fid din wal hayat jilid 1/442).
  • Berkata Syeikh Ali bin Muhamad bin Abil Iz,  “Membaca Al-Quran dan menghadiahkan (pahala)nya kepada orang wafat secara sukarela dengan tanpa upah, pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji”. (Syarah Aqidah Thahawiyah hal.457).
  • Berkata Dr. Ahmad  Syarbasi, “Sesungguhnya jumhur ulama telah menyebutkan bahwa bacaan Al-Quran Karim dapat memberi manfaat kepada mayat atau sampai pahala bacaan itu kepadanya. Sekelompok ulama yang lain tidak menyetujui. Bagi mereka yang menyetujui hal tersebut, lebih baik jika si pembaca selesai membaca, berdoa, ‘Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca kepada si fulan atau fulanah’”. (Yasaluunaka fid din wal hayat jilid 111/413). 
  • Berkata Syeikh Hasanain Muhamad Makhluf ,mantan mufti Mesir,“Tokoh-tokoh mazhab Hanafi berpendapat, tiap-tiap orang yang melakukan ibadah baik sedekah, membaca Al-Quran atau dari bermacam-macam kebaikan, boleh baginya menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan pahalanya itu akan sampai kepadanya”.
  • Berkata Syeikh Ali Ma’shum: “Dalam mazhab Maliki tidak ada khilaf dalam hal sampainya pahala sedekah kepada mayat. Yang ada khilafnya, masalah boleh tidaknya membaca Al-Quran untuk mayat.  Menurut dasar mazhab hukumnya makruh. Namun, para ulama mutaakhirin berpendapat boleh dan itulah yang diamalkan. Dengan demikian, pahala bacaan tersebut sampai kepada mayat dan Ibnu Farhun menukil, pendapat inilah yang rojih (kuat)”. (Hujatu Ahlis Sunnah wal-jamaah hal.13).
  • Berkata Allamah Muhamad al-Arobi, “Sesungguhnya membaca Al-Quran untuk orang yang sudah wafat, hukumnya boleh dan sampai pahalanya kepada mereka menurut jumhur fuqaha Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah, walaupun dengan adanya imbalan (upah dll), berdasarkan pendapat yang tahqiq”. (Majmu’ Tsalatsi Rosaail).
  • Berkata Imam Qurtubi, “Telah ijmak ulama atas sampainya pahala sedekah untuk orang-orang yang sudah wafat, seperti itu pula pendapat ulama dalam hal bacaan Al-Quran, doa dan istiqfar karena masing-masingnya termasuk sedekah dan dikuatkan hal ini oleh hadis, ‘Setiap kebaikan adalah sedekah’. Disini tidak di khususkan sedekah itu dengan harta.”(Tazkirah Al-Qurtubi hal.26) 
  • Berkata Imam Sya’bi, “Orang-orang Anshar jika ada diantara mereka yang wafat, berbondong-bondong kekuburnya sambil membaca Al-Quran disampingnya”. (ucapan Sya’bi ini dikutip oleh Ibnul Qayim dalam kitab Ar-Ruh hal.13).

Berkata Ibnul Qayim,”Ibadah itu dua macam, Mengenai harta (maliyah) dan mengenai badan (badaniyah). Dengan sampainya pahala sedekah, syara’ mengisyaratkan sampainya pada sekalian ibadah yang menyangkut harta dan dengan sampainya pahala puasa, diisyaratkan pula sampainya sekalian ibadah badaniyah. Kemudian dinyatakan pula sampainya pahala ibadah haji, suatu gabungan dari ibadah maliyah dan badaniyah. Ketiga macam bentuk ibadah itu–jelaslah sampainya (hadiah pahala)–baik dengan keterangan dari nash maupun dengan jalan perbandingan (Qiyas).”

  • Ulama mazhab Hanafi menyatakan, “Setiap orang yang melakukan ibadah–baik berupa doa, istighfar, sedekah, tilawatul qur’an, zikir, shalat, puasa, tawaf, haji, umrah maupun bentuk-bentuk ibadah lainnya yang bersifat ketaatan dan kebaktian–dan berniat menghadiahkan pahalanya kepada orang lain, baik yang masih hidup atau yang telah wafat, itu akan sampai pahalanya kepada mereka dan juga akan diperolehnya sendiri.” (Kitab Al-Hidayah dan Al-Bahr serta Kitab Al-Kamal).

Ditinjau dari dalil ijmak (sepakat) ulama dan qiyas, doa dalam shalat jenazah akan bermanfaat bagi mayat. Pahala itu  adalah hak orang yang beramal. Jika ia menghadiahkan kepada saudara- nya yang Muslim, hal itu tidak ada halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta atau membebaskan hutang untuk orang lain di waktu hidupnya dan setelah wafatnya. Begitu pula, menghadiahkan pahala kurban untuk orang yang belum sempat berkurban, padahal kurban adalah melalui menumpahkan darah. 

Hubungan melalui agama, merupakan sebab yang paling besar bagi sampainya manfaat orang Islam kepada saudaranya dikala hidup dan sesudah wafatnya. Bahkan, doa orang Islam dapat bermanfaat untuk orang Islam lain. Al-Quran tidak menafikan seseorang mengambil manfaat dari usaha orang lain. Adapun, amal orang lain adalah miliknya, jika dia menghadiahkan amalnya untuk seseorang, pahalanya akan sampai kepadanya bukan pahala amalnya.

  • Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya mengatakan, “Adalah benar bahwa orang yang telah wafat beroleh manfaat dari semua ibadah jasmaniah seperti shalat, puasa, membaca Al-Quran dan lain-lain yang dilakukan orang yang masih hidup baginya. Ia (si mayat) pun beroleh manfaat juga dari ibadah maliyah seperti sedekah dan sebagainya. Semua ini, sama halnya jika orang yang masih hidup berdoa dan beristighfar baginya. Mengenai ini para Imam mazhab sepakat.”
  • Ibnu Taimiyah mengatakan juga, “Sesungguhnya mayat itu dapat beroleh manfaat dengan bacaan Al-Quran sebagaimana dia beroleh manfaat dengan ibadah-ibadah kebendaan seperti sedekah dan yang seumpamanya.” (Yasaluunaka fid din wal hayat jilid 1/442)

Hadis tentang wasiat Ibnu Umar r.a yang tertulis dalam Syarah Aqidah Thahawiyah halaman 45

عَنِ إبْنِ عُمَر(ر) أوْصَى أنْ يُقْرَأ عَلَى قَبْرِهِ وَقْتَ الدَفنِ بِفَوَاتِحِ سُوْرَة البَقَرَةَِوَخَوَاتِمِهَ                                     

“Bahwasanya beliau berwasiat agar di atas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal dan akhir surah al-Baqarah.”

Hadis ini, dijadikan pegangan oleh Muhamad bin Hasan dan Imam Ahmad bin Hanbal.  Padahal, Imam Ahmad sebelumnya termasuk orang yang mengingkari sampainya pahala amalan dari orang yang hidup pada orang yang telah wafat. Namun, setelah beliau mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat Ibnu Umar ini, beliau pun mencabut pengingkarannya itu. (Mukhtashar Tazkirah Qurtubi hal.25).

  • Ibnul Qayim berkata dalam kitabnya Ar-Ruh dan Yasalunaka fid din, “Al-Khallal dalam kitabnya Al-Jami sewaktu membahas ‘Bacaan disamping kubur’, berkata; Menceriterakan kepada kami Abbas bin Muhamad ad-Dauri dari Yahya bin Mu’in dari Mubassyar al-Halabi dari Abdurrahman bin Ala’ bin al-Lajlaj dari bapaknya, dia berkata: Ayahku berkata, ‘Jika aku telah wafat,  letakkanlah aku diliang lahad, ucapkanlah bismillah wa ala sunnati Rasulillah dan ratakanlah tanah atasku, baca permulaan Al-Baqarah disamping kepalaku karena sesungguhnya aku mendengar Abdullah bin Umar mengatakan yang demikian.’”  

Ibnul Qayim mengutip pula ucapan Al-Khallal, “Mengabarkan kepadaku Hasan bin Ahmad al-Warraq, menceriterakan kepadaku Ali bin Musa al-Haddad dan dia adalah seorang yang sangat jujur, dia berkata, ‘Pernah aku bersama Ahmad bin Hambal dan Muhamad bin Qudomah al-Jauhari menghadiri jenazah. Tatkala mayat itu telah dimakamkan, seorang lelaki yang kurus duduk disamping kubur (sambil membaca Al-Quran). Melihat itu, berkatalah Imam Ahmad kepadanya, ‘Hai, sesungguhnya membaca Al-Quran disamping kubur itu bid‘ah’! Tatkala kami keluar dari kubur, berkatalah Muhamad bin Qudomah kepada Ahmad bin Hambal, ‘Wahai Abu Abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubassyar al-Halabi’? Imam Ahmad menjawab, ‘Beliau orang yang tsiqah (terpercaya) apakah engkau ada meriwayatkan sesuatu darinya’? Muhamad bin Qudomah berkata, ‘Ya, mengkabarkan kepadaku Mubassyar dari Abdurrahman bin Ala bin al-Lajlaj dari bapaknya bahwa dia berwasiat apabila telah di kuburkan agar dibacakan disamping kepalanya awal dan akhir dari surah al-Baqarah, dan dia berkata, Aku telah mendengar Ibnu Umar berwasiat yang demikian itu’. Mendengar riwayat tersebut, Imam Ahmad berkata, ‘Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar diteruskan bacaan Al-Qurannya.’”

  • Selain fatwa imam Ahmad bin Hanbal, terdapat pula fatwa para ulama dalam mazhab Hanafi, Maliki dan mazhab Syafi’i, antara lain; Muhamad bin Ahmad al-Marwazi dalam kitab Hujjatu Ahli Sunnah Wal-Jama’ah hal.15; Syaikh Ali bin Muhamad bin Abil Iz (Syarah Aqidah Thahawiyah hal.457); Dr. Ahmad Syarbasi (Yasalunaka fid din wal-hayat 3/413); Ibnul Qayim al-Jauziyah (Yasalunaka fid din wal-hayat jilid 1/442), Ibnul Qayim dalam kitabnya Ar-Ruh mengatakan, “Al-Khallal  dalam kitabnya Al-Jami: “Sewaktu membahas ‘Bacaan disamping kubur’; Al-Allamah Muhamad al-Arabi  (Majmu Tsalatsi Rasa’il); Imam Qurtubi (Tazkirah Al-Qurtubi hal.26), menyepakati mengenai sampainya pahala bacaan Al-Quran kepada si mayat. Bahkan, Imam Sya’bi meriwayatkan: ‘Orang-orang Anshar jika ada di antara mereka yang wafat, mereka berbondong-bondong kekuburnya sambil membaca Al-Quran disampingnya (kuburannya)’. Ucapan Syekh Sya’bi ini, dikutip oleh Ibnul Qayim dalam kitabnya Ar-Ruh hal.13; Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa.Wallahu'alam
  • Silahkan ikuti kajian berikutnya