Ibnu Taimiyah, mengenai hak-hak ahlul bait

Ibnu Taimiyah, mengenai hak-hak ahlul bait

Dalam pembicaraannya mengenai hak-hak ahlu-bait Rasulallah Saw., Ibnu Taimiyah mengatakan;

  • “Demikianlah, para anggota keluarga (ahlu-bait) Rasulallah Saw. mempunyai beberapa hak yang harus dipelihara dengan baik oleh umat Muhamad. Kepada mereka Allah Swt. telah memberi hak menerima bagian dari seperlima ghanimah (harta rampasan perang), yang ketentuannya telah ditetapkan Allah Swt. dalam Al-Quranul (QS Al-Anfal [8]:41). Selain hak tersebut mereka juga mempunyai hak lain lagi, yaitu hak beroleh ucapan shalawat dari ummat Muhamad Saw., sebagaimana yang telah diajarkan oleh beliau Saw. kepada umatnya, agar senantiasa berdoa sebagai berikut:  “Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhamad dan kepada Aal (ahlu-bait, keluarga) Muhamad, sebagaimana yang telah Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan Aal Ibrahim. Sesungguhnya, Engkau Maha Terpuji lagi maha Agung. Berkatilah Muhamad dan Aal Muhamad, sebagaimana Engkau telah memberkati Ibrahim dan Aal Ibrahim”. (Ibnu Taimiyah, Al-Washiyatul-Kubra, 297).
  • Dalam kitabnya yang sama diatas, sehubungan dengan hak atas ucapan shalawat untuk ahlu-bait Rasulallah Saw., Ibnu Taimiyah mengetengahkan sebuah hadis riwayat Ka’ah bin Syajarah beberapa saat setelah turunnya QS Al-Ahzab [33]:56. Kata Ka’ah, “Kami para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulallah, kami telah mengetahui bagaimana cara mengucapkan salam kepada anda, tetapi bagaimanakah cara kami mengucapkan shalawat kepada anda’? Rasulallah Saw. menjawab, ‘Ucapkanlah, ‘Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhamad dan kepada Ali Muhamad’ ”.
  • Ibnu Taimiyah mengemukakan juga hadis lain yang berasal dari para sahabat Nabi Saw, Rasulallah Saw. mengingatkan para sahabatnya, “Janganlah kalian bershalawat untukku dengan shalawat Batra, (yakni shalawat terputus tanpa lanjutan). Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulallah, apakah yang dimaksud shalawat batra’?. Beliau Saw. menjawab, ‘Kalian mengucapkan, Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhamad, lalu kalian berhenti disitu’! Ucapkanlah, ‘Ya Allah limpahkanlah shalawat kepada Muhamad dan kepada Ali Muhamad’”. (lihat Mahmud Syarqawi, Sayidatu Zainab, 21).
  • Didalam Risalah Al-Aqidah Al-Washithiyah, Ibnu Taimiyah mengecam kaum rawafidh (kelompok yang menuhankan Imam Ali bin Abi Thalib k.w.) dan kaum nawashib (kelompok yang memusuhi keluarga dan kerabat Rasulallah Saw.), dan dia berkata antara lain, “Mereka (kaum Ahlus-Sunnah) mencintai Aal Rasulallah Saw.. Mereka memandang Aal beliau Saw. sebagai para pemimpin agama yang wajib dihormati, dan dijaga baik-baik kedudukan dan martabatnya. Itu, sesuai dengan wasiat yang diucapkan Rasulallah Saw. di Ghadir Khum, ‘…Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlu baitku.’ (hadis tsaqalain—pen).
  • Ibnu Taimiyah, dalam Risalatul-Furqan halaman 163 mengetengahkan pembahasan mengenai Aali (ahlul-bait) Muhamad Rasulallah Saw. Banyak hadis sahih yang dikemukakan sebagai dasar dan sekaligus juga sebagai dalil. Salah satu di antaranya, hadis Tsaqalain—Mengenai hadis ini, ikuti kajian pada halaman berikutnya—,yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam r.a. Hadis ini, oleh Ibnu Taimiyah disebut dalam pembahasannya mengenai ta’rif (definisi) Aali Muhamad hadis tersebut, “...Dan kutinggalkan kepada kalian dua bekal (berat). Yang pertama, Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya terang. Ambillah (terimalah) Kitabullah itu dan berpeganglah teguh padanya… dan (yang kedua) Ahlu-Baitku. Kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku...kalian kuingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku! Kalian Aku ingatkan kepada Allah mengenai ahlu-baitku”.

Mengenai kewajiban mencintai ahlul bait, Ibnu Taimiyah menyebut dua bait sya’ir dari Imam Syafi’i rahimahullah:

Hai ahlu-bait Rasulallah, bahwa kecintaan kepada kalian. Kewajiban dari Allah yang diturunkan dalam Al-Quran.Cukuplah bukti betapa tinggi nilai martabat kalian.Tiada sempurna shalat tanpa shalawat bagi kalian

Ibnu Taimiyah, juga menyebut jawaban Rasulallah Saw. kepada pamannya ,Al-Abbas, ketika ia mengadu kepada beliau adanya perlakuan kasar dari sementara orang terhadap dirinya. Dalam jawabannya itu, Rasulallah Saw. menegaskan:

  • Demi Allah yang nyawaku berada ditangan-Nya, mereka tidak akan masuk surga selama mereka belum mencintai kalian karena aku”. Hadis semakna, juga diketengahkan oleh Tirmidzi dan Musnad Imam Ahmad bin Hanbal berasal dari Mutthalib bin Rabi’ah yang menuturkan, jawaban Rasulallah Saw. kepada Abbas r.a., “Demi Allah iman tidak akan masuk ke dalam hati seseorang selama ia belum mencintai kalian karena Allah dan karena kalian itu kerabatku!
  • Dalam kitabnya, Darajatul-Yaqin,149, Ibnu Taimiyah menyatakan, “Dalam kehidupan umat manusia tidak ada kecintaan yang lebih besar, lebih sempurna dan lebih lengkap daripada kecintaan orang-orang beriman kepada Allah, Tuhan mereka. Di alam wujud ini, tidak ada apa pun yang berhak dicintai tanpa karena Allah. Kecintaan kepada apa saja harus dilandasi kecintaan kepada Allah Swt.. Muhamad Saw. dicintai umatnya demi karena Allah, ditaati karena Allah dan di ikuti pun karena Allah. Sebagaimana firman Allah Swt., ‘Katakanlah’, (hai Muhamad) ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian!’ (Ali Imrani[3]: 31)

 

Sebagai bukti tentang betapa hormat dan betapa besar kecintaan para sahabat Nabi, kepada ahlu-bait Beliau Saw., Ibnu Taimiyah dalam Al-Iqtidha hal. 79 berkata;

  • “Lihatlah ketika khalifah Umar r.a. menetapkan daftar urutan pembagian jatah tunjangan dari harta Allah (Baitul-Mal) bagi kaum Muslim. Banyak orang yang mengusulkan agar nama Umar bin Al-Khattab ditempatkan pada urutan pertama. Umar dengan tegas menolak. Umar kemudian memulai dengan para anggota ahlu-bait Rasulallah Saw. Kemudian menyusul orang-orang lain, hingga tiba urutan orang-orang Bani Adi kabilah Umar r.a. sendiri. Mereka itu (para penerima tunjangan), adalah orang-orang Quraisy yang sudah jauh terpisah hubungan silsilahnya. Namun, urutan seperti itu tetap dipertahankan oleh Khalifah Umar dalam memberikan hak-hak tertentu kepada mereka. Pada umumnya, ia lebih mendahulukan orang-orang Bani Hasyim daripada orang-orang Quraisy yang lain.

Mengapa demikian?  Karena kaum Bani Hasyim adalah kerabat Rasulallah Saw.. Mereka diharamkan menerima sedekah atau zakat, dan hanya diberi hak menerima seperlima jatah pembagian ghanimah. Mereka, adalah orang-orang yang termasuk dalam lingkungan ahlu-bait Rasulallah Saw. Dan ahlu-bait beliau adalah, orang-orang yang dimaksud dalam firman Allah Swt. (QS Al-Ahzab [33]: 33): “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak melenyapkan kotoran (rijs)  dari kalian, hai ahlul-bait, dan hendak mensucikan kalian sesuci-sucinya”. Karena sedekah atau zakat itu merupakan kotoran (dari harta orang lain), para ahlul bait diharamkan menerimanya. Sebagai gantinya, mereka dihalalkan menerima bagian dari seperlima pembagian ghanimah.

  • Ibnu Taimiyah, menyebut pula sebuah hadis yang menerangkan, Rasulallah Saw. pernah bersabda kepada para sahabat, ‘Cintailah Allah, karena Allah mengaruniai kalian berbagai nikmat, hendaklah kalian mencintaiku karena kecintaan kalian kepada Allah, dan cintailah anggota-anggota keluargaku (ahlu-bait dan keturunanku) demi kecintaan kalian kepadaku’. Demikianlah, Ibnu Taimiyah.
  • Syaikh Ibnu Qayim Al-Jauziyah ,murid Ibnu Taimiyah, dalam kitab Jalaul-Afham membicarakan ahlubaitun-nubuwah (keluarga para Nabi) secara menyeluruh. Berikut kami kutipkan bagian terpenting dari karya Ibnu Qayyim:

    • “Dari mulai nabi Ibrahim a.s. hingga ahlu-bait Muhamad Saw. dan keluarga silsilah keturunan Nabi Ibrahim a.s. adalah, keluarga-keluarga yang diberkati dan disucikan Allah Swt.. Oleh karena itu, mereka adalah silsilah keluarga yang paling mulia di antara semua umat manusia. Allah Swt. menganugerahkan berbagai keistimewaan dan keutamaan kepada mereka ini. Allah Swt. telah menjadikan Nabi Ibrahim a.s. dan keturunannya sebagai Imam (pemimpin) bagi seluruh umat manusia sebagaimana firman Allah Swt. (surah Al-Baqarah:125).  Nabi Ibrahim dan putranya Ismail membangun Ka’bah, kemudian Allah tetapkan sebagai kiblat kaum mukmin dan untuk menunaikan ibadah haji.

    Begitu juga Allah Swt. telah memerintahkan semua orang yang beriman, bershalawat pada Nabi Muhamad Saw. dan keluarga (Aali) beliau seperti shalawat yang diucapkan bagi Nabi Ibrahim dan Aali beliau. Allah Swt. telah menjadikan baitun nubuwah (keluarga Nabi Ibrahim a.s. dan keturunan- nya hingga Nabi Muhamad Saw. dan keturunannya) sebagai furqan (batas pemisah kebenaran dan kebatilan).

    Bahagialah, manusia yang mengikuti seruan dan jejak mereka dan celakalah mereka yang memusuhi dan menentangnya.

    Allah Swt. telah menciptakan dua umat manusia terbesar di dunia, umat Musa a.s dan umat Muhamad Saw. sebagai umat terbaik dalam pandangan Allah Swt.. Guna melengkapi jumlah tujuh puluh umat yang diciptakan-Nya, Allah Swt. melestarikan kemuliaan baitun nubuwah sepanjang zaman, disebut-sebutnya keagungan mereka, keluarga serta keturunan mereka, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ash-Shaffat [37]:108-110. Kesemuanya itu, merupakan berkah dan rahmat Allah Swt. yang telah di limpahkan kepada baitun-nubuwah.

    Di antara mereka itu, ada yang memperoleh martabat tinggi dan keutamaan-keutamaan lain, seperti Nabi Ibrahim, sebagai Khalilullah; Nabi Ismail, diberi gelar Dzabihullah, Nabi Musa, didekatkan kepada-Nya dan dianugerahi gelar Kalimullah, Nabi Yusuf, dianugerahi kehormatan dan paras indah yang luar biasa, Nabi Sulaiman, dianugerahi kerajaan dan kekuasaan yang tiada bandingnya, Nabi Isa, diangkat kedudukannya ke martabat yang setinggi-tingginya dan Nabi Muhamad Saw., diangkat sebagai penghulu semua Nabi dan Rasul.

    Mengingat kemuliaan martabat baitun-nubuwah  sejak nabi Ibrahim a.s. secara turun-temurun hingga Nabi Muhamad Saw., tidaklah heran jika beliau Saw. mewanti-wanti umatnya supaya menghormati, mengakui kemuliaan ahlubait dan keturunannya. Ini, bukan semata-mata hanya karena keagungan martabat beliau Saw. sendiri sebagai Nabi dan Rasul, melainkan juga karena kemuliaan baitun-nubuwah yang telah ditetapkan Allah Swt. sejak Nabi Ibrahim a.s.. Itulah, rahasia besar yang terselip dalam hadis tsaqalain dan hadis-hadis lainnya yang berkaitan dengan kedudukan ahlubait keturunan Rasulallah Saw.”. Demikianlah Ibnu Qayyim.

Tidak diragukan lagi, banyak hadis Nabi Saw. menyatakan, mencintai ahlu-bait (keluarga atau Aali) beliau Saw. adalah wajib hukumnya. Mencintai sesama Muslim, sudah merupakan kebajikan yang harus ditaati, apalagi mencintai keturunan Rasulallah Saw. lebih ditekankan lagi oleh syari’at!

Rasulallah Saw. bersabda, “Barangsiapa senang hidup seperti hidupku, dan wafat seperti wafatku, lalu ia ingin menjadi penghuni surga ‘Adn, yang ditanam oleh Tuhanku, hendaknya ia mengangkat Ali sebagai pemimpin sepeninggalku. Orang itu, hendaknya mengikuti pimpinan yang diangkat olehnya (Ali k.w.) sebagai pemimpin. Lalu, harus berteladan kepada ahlubaitku sepeninggalku. Sebab mereka itu, keturunanku dan diciptakan dari darah dagingku serta dikarunia pengertian dan ilmuku. Celakalah, orang dari umatku yang mendustakan keutamaan mereka, dan memutuskan hubungan denganku melalui (pemutusan hubungan dengan) mereka. Allah tidak akan menurunkan syafaatku kepada orang-orang seperti itu”.(At-Thabrani dalam Al-Kabir, Ar-Rafi’i dalam Musnad-nya berdasarkan isnad Ibnu Abbas, Kanzul Ummal jilid 6 hal. 217 hadis no. 3819).

Sabda Rasulallah Saw:

 مَنْ اَحَبَّ اَنْ يَحْيَا حَيَاتِي وَيَمُوْتَ مَيْتَتِيْ وَيَدْخُلَ الجَنَّةَ الَّتِي وَعَدَنِي رَبِّي وَهِيَ جَنَّةُ الخُلْدِ فَالْيَتَوَلَّ عَلِيًّا وَذُرِّيَتَهُمِنْ بَعْدِهِ فَإِنَّهُمْ لَنْ يُخْرِجُوكُمْ بَابَ هُدًي وَ لَنْ يُدْخِلُوكُمْ بَابَ ضَلاَلَةٍ.

“Siapa yang ingin hidup seperti hidupku, wafat seperti wafatku, serta masuk ke surga yang telah dijanjikan kepadaku oleh Tuhanku, Jannatul Khuld, hendaklah ia berwilayah (berpemimpin) kepada Ali dan keturunan sesudahnya, sesungguhnya mereka tidak akan mengeluarkan kamu dari pintu petunjuk dan tidak akan memasukkan kamu kepintu kesesatan”.

Hadis serupa, juga terdapat dalam: [Sahih Bukhari, jilid 5, hal.65, cet. Darul Fikr, jilid 5 hal.159, cet.Mathabi’ Asy-Sya’b; Sahih Muslim, jilid 2, hal.51, cet. Al-Halabi, jilid 5, hal.119, cet. Syirkah Al-I’lanat; Mizanul I’tidal, oleh Ad-Dzahabi, jilid 4, hal. 415 cet. Dar Ihya Al-Kutub Al-Arabiyah; Al-Manaqib oleh Al-Khawarizmi, hal.34; Yanabiul Mawaddah, oleh Al-Qundusi Al-Hanafi, hal.149 dan 150, cet. Al-Haidariyah, hal.126 cet. Istanbul; Al-Ishabah oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i, jilid 1, hal. 541, cet. Mushthafa Muhamad, jilid 1, hal. 559, cet. As-Sa’adah]. Wallahua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya