Tempat qunut (sesudah atau sebelum ruku’?)

Tempat qunut (sesudah atau sebelum ruku’?)

  • Abubakar Jabir Al-Jazairi dalam kitabnya Minhajul Muslim mengatakan, di sunnahkan qunut subuh setelah rukuk dan dikomentari dalam tahkik kitab tersebut, bahwa qunut subuh telah tsabit dalam sahihain!
  • Seorang ulama golongan tabi‘in, Imam Hasan Basri, berkata, ‘Aku pernah shalat dibelakang dua puluh delapan orang dari pahlawan Badar (Ahlul Badar), mereka semua melakukan qunut shubuh sesudah ruku.’ (Irsyadussari syarah Bukhari juz 3).
  • Hadis dari Awam bin Hamzah dimana beliau berkata: “Aku bertanya kepada Usman tentang qunut pada shalat subuh. Beliau berkata: ‘Qunut itu sesudah ruku’. Aku bertanya : ‘Fatwa siapa ? Beliau menjawab : ‘Fatwa Abu Bakar‘, Umar dan Usman [r.a]“. (HR.Baihaqi berkata, hadis ini hasan). Imam Baihaqi meriwayatkan hadis ini, dari Umar dengan beberapa jalan.
  • Hadis dari Abdullah bin Ma’qil at-Thabi’i: ‘Ali r.a qunut pada shalat subuh’. (HR.Baihaqi berkata, hadis sahih dan masyhur)
  • Hadis riwayat Baihaqi dari Abu Rofi’: ’Umar melakukan qunut pada shalat subuh sesudah ruku’.
  • Didalam Al-Majmu’ jilid III/506, “Tempat qunut itu adalah sesudah mengangkat kepala dari ruku. Ini, ucapan Abubakar As-Shiddiq, Umar bin Khatab dan Usman serta Ali [r.a.]“.
  • Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, “Bahwa Nabi Saw. qunut sesudah ruku“. Hadis diriwayatkan juga oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Sirin, beliau berkata: “Aku berkata kepada Anas, ‘Apakah Rasulallah Saw melakukan qunut pada shalat subuh’? Anas menjawab: ’Ya,  setelah ruku’“.
  • Hadis riwayat Ashim Al-Ahwal dari Anas, Anas berkata, ‘qunut sesudah ruku’. Hadis riwayat Hakim dan disahihkan olehnya, dari Abu Hurairah r.a.: “Rasulallah Saw. jika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk pada rakaat kedua shalat subuh, beliau mengangkat kedua tangannya lalu berdoa: Allahummah dini fiman hadait ...hingga akhir doa ‘“.
  • Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: “Aku telah diajari oleh Rasulallah Saw, beberapa kalimat yang aku ucapkan pada waktu sholat witir, ’Allahummahdinii fiiman hadait, wa’aafinii fiimaan ‘aafait, watawallanii fiiman tawallait wabaariklii fiima a’thoit waginii syarra maagodhoit fainnaka taqdhi walaa yugdha ‘alaik wainnahu laa yadzillu man waalait tabaarakta rabbanaa wata’aalait’ ”. (HR.Abu Daud, Turmudzi, Nasa’I dan lainnya dengan isnad sahih).
  • Imam Baihaqi meriwayatkan dari Muhamad bin Hanafiah dan beliau adalah putra Ali bin Abi Thalib ra. Beliau berkata: “Sesungguhnya doa ini (doa qunut diatas), dipakai berdoa oleh ayahku (yakni Ali bin Abi Thalib k.w) pada waktu qunut shalat subuh”.(HR.Al-Baihaqi II/209). Kemudian imam Baihaqi menyimpulkan: “Semua riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi mengajarkan doa Allahummahdinii fiiman hadait... hingga akhirnya, adalah untuk qunut subuh dan qunut witir”.
  • Doa qunut dengan delapan kalimat itu, diajarkan Nabi Saw. kepada Al-Hasan bin Ali ketika qunut witir, diatas itulah yang dinashkan oleh imam Syafi’i didalam Mukhtashar al-Muzanni. 

Selain delapan kalimat tersebut masih ada riwayat tambahan doa dan sholawat kepada Nabi Saw. Semuanya ini dibolehkan.

Sebagian ulama yang mengingkari hadis qunut shubuh antara lain Ibnu Taimiyah. Ia mengatakan, sanad diantara hadis qunut itu lemah, karena ada seorang rawi yang bernama Abu Jakfar Ar-Razi, yang nama aslinya Isa bin Abi Isa. Padahal, menurut pakar hadis lainnya, bahwa Abu Jakfar Ar-Razi, nama aslinya adalah Isa Bin Mahan, layak diterima hadisnya. Yahya bin Ma’in, guru dari Imam Bukhari, mengatakan bahwa Abu Jakfar adalah orang tsiqoh (terpecaya).  Abu Hatim pun berkata demikian, bahwa Abu Jakfar itu adalah tsiqotun shoduq (terpercaya lagi jujur). Juga, berdasarkan amalan para Salaf, para pakar fiqih,, maka hadis qunut shalat shubuh dapat diterima! Wallahua'lam.

Silahkan baca uraian berikutnya.