Orang yang telah wafat, bisa berdoa

Orang yang telah wafat, bisa berdoa

Mari kita perhatikan lagi sejumlah nash naqli mengenai kemampuan manusia yang telah wafat dapat berdoa dan melihat amalan para kerabatnya yang masih hidup:

  • Allah Swt. berfirman: “Dan katakanlah (hai Muhamad); Hendaklah kalian berbuat. Allah dan Rasul-Nya serta kaum Mukminin akan melihat perbuatan/pekerjaaan kalian. Kemudian, kalian akan dikembalikan kepada-Nya yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata, lalu oleh-Nya kalian akan di beritahukan apa yang telah kalian perbuat/kerjakan”. (QS At-Taubah [9]: 105):  

Berkaitan dengan makna ayat di atas ini, ada beberapa hadis  Nabi, yang menerangkan, semua perbuatan kaum Mukmin akan dihadapkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhamad Saw. dan kepada sanak-keluarga dan kaum kerabat yang telah wafat. Mereka yang telah wafat itu, akan bersedih hati bila kerabat mereka yang di dunia melakukan amalan-amalan yang dilarang oleh Allah Swt., sehingga mereka berdoa pada Allah Swt. agar kerabatnya yang di dunia mendapat hidayah dari Allah sebelum mereka wafat. Mereka juga akan merasa bahagia bila mendengar amalan-amalan baik dari kerabatnya yang didunia. Perhatikan beberapa riwayat berikut ini:

  • Ibnu Mas’ud ra menuturkan, bahwa Rasulallah Saw. bersabda:......حَياَتيِ خَيْرُْ لَّكُمْ فَاِذَا أَنَامِتُّ كَانَتْ وَفَاتِى خَيْرًا لَكُمْ تُعْرَضُ عَلَىَّ أَعْمَالكُمْ فَاِنْ رَأَيْتُ خَيْرًا حَمِدْتُ الله وَأِنْ رَأَيْتُ شَرًّا اسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ

“Hidupku didunia adalah suatu kebaikan bagi kalian. Bila aku telah wafat, maka wafatku pun kebaikan bagi kalian. Amal perbuatan kalian akan diperlihatkan kepadaku. Jika aku melihat sesuatu baik, kupanjatkan puji syukur kehadirat Allah, dan jika aku melihat sesuatu yang buruk aku mohonkan ampunan kepada-Nya bagi kalian”.

Hadis di atas ini, diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam Musnadnya dengan sanad yang jayyid (bagus) dari Ibnu Mas’ud dan para perawi yang shahih, sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Al-Hafizh As-Suyuthi dalam Khasais Kubra 2/281,  Al-Haitsami dalam Majma’ Az Zawaid 8/594 no 14250, Al-Hafizh Al-Iraqi dalam Tharikh Tatsrib Fi Syarh Taqrib 3/275 dan lain-lainya. Hadis ini, diriwayatkan dari Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad. Beberapa ulama menolaknya dengan alasan dia adalah faham Irja’, padahal penolakan dengan alasan itu bukan merusak kredibilitas Abdul Majid sebagai perawi hadis. Demikian juga, Adz-Dzahabi dalam Man Takallamu Fihi Wa Huwa Muwatstsaq 1/124 no 220 mengetahui, Abdul Majid seorang Murjiah yang menyebarkan fahamnya, beliau tetap menyatakan Abdul Majid itu tsiqat.

Hadis di atas, juga diriwayatkan dengan sanad yang sahih sampai ke Bakr bin Abdullah Al-Muzanni. Dalam sanad hadis dari Bakr bin Abdullah ini, tidak ada satupun yang memuat nama Abdul Majid bin Abdul Aziz bin Abi Rawad. Qadhi Ismail bin Ishaq dalam kitab Fadhail Shalatu Ala Nabi no 25, no 26, meriwayatkan hadis tersebut dengan sanad dari Bakr bin Abdullah Al-Muzani. Begitu juga, Ibnu Sa’ad dengan sanad yang shahih dalam Thabaqat Ibnu Sa’ad 2/194. Dengan demikian, Abdul Majid tidak sendirian ketika meriwayatkan hadis ini.

  • Hadis yang diriwayatkan Ibnu Jarir dari Abu Hurairah ra., sebagai berikut;

                  إنَّ أعْمَالَـكُمْ  تُعْرَضُ عَلََى اَقربَائِكُمْ مِنْ مَوْتَاكـُمْ فَإنْ رَأوْا خَيْرًا فَرِحُوا بِهِ 

                                        وَإذَا  رَأوا شَرًّا  كَرِهُوْا             

“Sesungguhnya perbuatanmu akan dihadapkan pada kaum kerabatmu yang telah wafat. Jika dilihatnya baik, maka mereka akan gembira, dan jika dilihatnya jelek, mereka akan kecewa”. (Riwayat Ibnu Jarir dari Abu Hurairah)

  • Ibnu Katsir menerangkan, amal perbuatan orang-orang yang masih hidup diperlihatkan kepada sanak-keluarga dan kaum kerabat yang telah wafat di alam barzakh. Kemudian, ia mengetengahkan hadis riwayat Abu Dawud At-Thayalaisi dari Jabir r.a., Rasulallah Saw. bersabda, “Amal perbuatan kalian akan diperlihatkan kepada sanak-keluarga dan kaum kerabat (yang telah wafat). Jika amal kalian itu baik, mereka menyambutnya dengan gembira, jika  sebalikya, mereka berdoa, ‘Ya Allah berilah mereka ilham agar berbuat baik dan taat kepada-Mu.’ ”
  • Selanjutnya Ibnu Katsir, mengetengahkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad berasal dari Anas bin Malik ra. yang menuturkan,Rasulallah Saw. bersabda:
    إِنَّ أعْمَالَـكُمْ تُعْرَضُ عَلََى اَقارِبكُمْ وَعَشَائِرِكُمْ مِنَ اللأمْوَاتِ فَإنْ كَاَن خَيْرًا إسْتَبـْشِرُوْا بِهِ, وَإنْ كَانَ غَيْرَذَالِكَ قَالُوْا: اللَّـهُمَّ لاَ تَمُتْهُمْ حَتىَّ تُهْدِيْـهِمْ كَمَا هَدَيْتَنَا                                                                                                       "Sesungguhnya amal perbuatanmu akan dihadapkan kepada kaum kerabat dan keluargamu yang telah wafat. Jika baik, mereka akan gembira karenanya, dan jika tidak mereka akan memohon: ‘Ya Allah, janganlah mereka diwafatkan sebelum mereka Engkau tunjuki, sebagaimana Engkau telah menunjuki kami’“. (HR. Ahmad dan Tirmidzi ). 

Begitu pula, masih banyak hadis yang serupa tapi versinya berbeda. Umpama dalam hadis sahih mengenai Isra Mikraj Nabi Saw., setiap kali beliau bertemu dengan para Rasul di langit, mereka mendoakan beliau Saw..Tidak lain semuanya ini, menunjukkan Rahmat dan Karunia Allah Swt.tidak ada batasnya. Jika kita tidak mempercayai kehidupan selain di alam dunia saja, seperti yang disebutkan oleh ayat-ayat Ilahi dan hadis-hadis Nabi Saw. serta tidak mau tahu hal-hal gaib, maka kita bukan tergolong sebagai orang yang beriman. Allah sendiri menerangkan bahwa urusan ruh tersebut adalah urusan Allah Swt. (QS Al-Isra [17]:85), karena ilmu manusia yang sangat minim ini sangatlah sulit untuk menjangkau hal-hal yang gaib, kecuali orang-orang pilihan yang diberi ilmu oleh Allah Swt. untuk mengetahuinya. Wallahua’alam.

Silahkan baca uraian selanjutnya