Tawasul melalui Doa Rasul

Tawasul melalui Doa Rasul.

Dalam banyak ayat Al-Quran, Allah Swt. menyebutkan betapa agung kedudukan para Nabi dan Rasul di sisi-Nya. Apalagi berkaitan dengan pribadi agung Muhamad Saw. Dalam masalah seruan (panggilan) saja misalnya, manusia diperintahkan untuk tidak menyamakannya dengan seruan terhadap manusia biasa lainnya. Allah Swt. berfirman, “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih”. (QS An-Nur [24]: 63).

Bahkan, dalam kesempatan lain Allah Swt. juga menjelaskan, betapa manusia agung pemilik kedudukan (jah) tinggi di sisi Allah Swt. itu, mampu menjadi pengaman bagi penghuni bumi ini dari berbagai bencana: “Dan Allah sekali-kali tidak akan menyiksa/mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengadzab mereka, sedang mereka meminta ampun” . (QS Al-Anfal [8]: 33).

Dalam banyak kesempatan (ayat), Allah Swt. menyandingkan nama-Nya dengan nama Rasulallah Saw. dan menyatakan bahwa perbuatan keduanya dinyatakan sebagai berasal dari sumber yang satu. Ini sebagai bukti, betapa tinggi, agung dan mulianya sosok Nabi Muhamad Saw. Allah Swt. berfirman, “Mereka (orang-orang munafik) mengemukakan ‘udzurnya kepadamu, apabila kamu telah kembali kepada mereka (dari medan perang). Katakanlah: ‘Janganlah kamu mengemukakan ‘uzur; kami tidak percaya lagi kepadamu, (karena) sesungguhnya Allah telah memberitahukan kepada kami beritamu yang sebenarnya dan Allah serta rasul-Nya akan melihat pekerjaanmu, kemudian kamu dikembalikan kepada yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dia memberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’”. (QS At-Taubah [9]: 94).

“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucap- kan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya. telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi” (QS At-Taubah [9]:74).

Masih banyak ayat lainnya yang membuktikan, Rasulallah Saw. adalah makhluk termulia dan memiliki kedudukan khusus di sisi Khaliknya. Jika kita telah mengetahui kedudukan tinggi Rasulallah Saw. semacam ini maka kita akan mendapat kepastian (dengan berdasar dalil) bahwa permohonan doa–tentu doa yang baik–dengan menjadikan Rasulallah Saw. sebagai sarana (wasilah) niscaya Allah Swt. akan enggan menolak permintaan kita. Rasulallah Saw. bersabda;

                                        وَإنَّمَا أنَا قَا سِمٌ وَاللهُ مُعْطيِ   

“Sesungguhnya aku hanyalah pembagi, Allah-lah Maha Pemberi,”

Para sahabat mengetahui bahwa yang diberikan Rasulallah Saw. pada hakekatnya adalah seizin Allah.

Allah Swt. berfirman, “Dan kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS An-Nisa[4]: 64).

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: marilah (beriman), agar Rasulallah memintakan ampunan bagimu, mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling sedang mereka menyombongkan diri”.(QS Al-Munafiqun [63]:5).

Itu adalah sedikit bukti bahwa Rasulallah Saw. memiliki kedudukan, kemuliaan dan keagungan di sisi Allah Swt. Bagi orang yang belum mengenal hakikat tersembunyi dari keagungan kepribadian baginda Rasul Saw. niscaya ia akan meragukannya. Mengapa? Karena masih mengaggap Rasulallah sebagai manusia biasa, selayaknya manusia biasa lainnya. Asumsi inilah yang sering menjerumuskan kaum Wahabi memvonis sesat kepada kelompok lain yang mengetahui rahasia keagungan Rasul sewaktu mereka bertawasul dengan memuji-muji Rasulallah Saw.

Syekh Utsaimin ,ulama kebanggaan Wahabi, dalam al-Manahi al-Lafzhiyyah hal 161, menulis:

“Dan saya tidak mengetahui sampai detik ini bahwa Muhamad (baca:Nabi Muhamad Saw) adalah makhluk Allah yang lebih utama dari segala makhluk apa pun secara mutlak.”

Agaknya kalimat inilah, yang membuat penganut Wahabi-Salafi lebih mengagungkan Utsaimin dari pada Baginda Rasulallah Saw…! Wallahua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya