Habib Ali Kwitang Menurut HAMKA

Habib Ali Kwitang Menurut HAMKA

Rifai, seorang Indonesia Islam yang tinggal di Florijn 211, Amsterdam Bijlmermeer, Belanda, pada tanggal 30 desember 1974 telah mengirim surat kepada Menteri Agama H.A. Mukti Ali dimana ia mengajukan pertanyaan, “Benarkah habib Ali Kwitang dan habib Tanggul keturunan Rasulallah Saw.? Mohon penjelasan secukupnya mengenai beberapa hal.“

Oleh Menteri Agama, surat itu diserahkan kepada Prof. DR.H.Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA) untuk menjawabnya melalui Panji Masyarakat, dengan pertimbangan agar masalahnya dapat diketahui umum dan manfaatnya lebih merata. Sebagian isi yang kami kutip mengenai penjelasan Prof.Dr.Hamka, tentang gelar Sayid yang dimuat dalam majalah tengah bulanan ‘Panji Masyarakat’ No.169 tahun ke XV11, 15 februari 1975 (4 Shafar 1395 H) hal.37-38 sebagai berikut:

  • Rasulallah Saw. mempunyai empat anak-anak lelaki yang semuanya wafat waktu kecil, dan mempunyai empat anak wanita. Dari empat anak wanita ini, hanya satu saja yaitu (Siti) Fathimah yang memberikan beliau Saw. dua cucu lelaki dari perkawinannya dengan Ali bin Abi Thalib. Dua anak ini bernama Al-Hasan dan Al-Husain, dan keturunan dari dua anak ini disebut orang Sayid jamaknya ialah Sadat. Sebab Nabi sendiri mengatakan, ‘Kedua anakku ini menjadi Sayid (Tuan) dari pemuda-pemuda di Syurga’. Dan sebagian negeri lainnya, memanggil keturunan Al-Hasan dan Al-Husain Syarif yang berarti orang mulia dan jamaknya adalah Asyraf. Sejak zaman kebesaran Aceh, telah banyak keturunan Al-Hasan dan Al-Husain itu datang ketanah air kita ini. Sejak dari semenanjung Tanah Melayu, kepulauan Indonesia dan Filipina.

Harus diakui, banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam diseluruh Nusantara ini. Di antaranya Penyebar Islam dan pembangunan kerajaan Banten dan Cirebon adalah Syarif Hidayatullah yang diperanakkan di Aceh. Syarif kebungsuan tercatat sebagai penyebar Islam ke Mindanao dan Sulu. Yang pernah jadi raja di Aceh adalah, bangsa Sayid dari keluarga Jamalullail, di Pontianak pernah diperintah bangsa Sayid Al-Qadri. Di Siak, oleh keluaga Sayid bin Syahab, Perlis (Malaysia) dirajai oleh bangsa Sayid Jamalullail. Yang dipertuan Agung 111 Malaysia, Sayid Putra adalah Raja Perlis. Gubernur Serawak yang ketiga, Tun Tuanku Haji Bujang dari keluarga Alaydrus.

Kedudukan mereka di negeri ini turun temurun yang menyebabkan mereka telah menjadi anak negeri dimana mereka berdiam. Kebanyakan mereka jadi Ulama. Mereka, datang dari Hadramaut dari keturunan Isa Al-Muhajir dan Faqih Al-Muqaddam. Yang banyak kita kenal dinegeri kita yaitu keluarga Alatas, Assegaf, Alkaff, Bafaqih, Balfaqih, Alaydrus, bin Syekh Abu Bakar, Alhabsyi, Alhaddad, Al Jufri, Albar, AlmuSawa, bin Smith, bin Syahab, bin Yahya …..dan seterusnya.

Yang terbanyak dari mereka adalah, keturunan dari Al-Husain dari Hadramaut (Yaman selatan), ada juga yang keturunan Al-Hasan yang datang dari Hejaz, keturunan syarif-syarif Makkah Abi Numay, tetapi tidak sebanyak dari Hadramaut. Selain dipanggil Tuan Sayid, mereka juga dipanggil Habib. Mereka ini, telah tersebar di dunia. Di negeri-negeri besar seperti Mesir, Baqdad, Syam dan lain-lain mereka adakan NAQIB, yaitu yang bertugas mencatat dan mendaftarkan keturunan-keturunan Sadat tersebut. Disaat sekarang, umumnya mencapai 36-37-38 silsilah sampai kepada Sayidina Ali bin Abi Thalib dan Sayidati Fathimah Az-Zahra [r.a.]

Dalam pergolakan aliran lama dan aliran baru di Indonesia, pihak Al-Irsyad yang menantang dominasi kaum Ba’alwi (Alawiyin), menganjurkan agar yang bukan keturunan Al-Hasan dan Al-Husain memakai juga titel Sayid dimuka nama nya. Gerakan ini sampai menjadi panas. Akan tetapi, setelah keturunan Arab Indonesia bersatu, dengan pimpinan A.R. Baswedan, mereka anjurkan menghilangkan perselisihan dan masing-masing memanggil temannya dengan Al-Akh artinya Saudara.

Baik Habib Tanggul di Jawa Timur dan Almarhum Habib Ali di Kwitang, Jakarta, memanglah mereka keturunan dari Ahmad bin Isa Al-Muhajir yang berpindah dari Basrah/Irak ke Hadramaut, dan Ahmad bin Isa ini cucu yang ke tujuh  dari cucu Rasulallah Saw. Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib.”

Demikianlah Hamka.

Silahkan baca uraian selanjutnya