Sekelumit Macam-Macam Makalah

                                  Sekelumit macam-macam makalah

 

Batalkah wudu, menyentuh wanita bukan muhrim?

Umat islam Indonesia khususnya, menganut mazhab Syafi’iyah ,yang berpendapat, wudu akan batal bila menyentuh atau tersentuh dengan istrinya atau wanita lain yang bukan muhrimnya. Persoalan ini, bagi pemeluk mazhab Syafi’i sangat penting sekali, karena akan menyangkut soal sah atau tidaknya sembahyang. Ada golongan muslimin ,khususnya anti mazhab, yang sering mencela, mensesatkan kelompok Syafi’íyah ini. Mereka mengatakan, mazhab ini tidak berdalil dari Al-Quran dan sunnah Rasulallah Saw.. Berikut ini, kami kutip beberapa dalilnya;

  • At-Tuhfatun Imam Syafi’i ,rahimahullah, menulis dalam kitab Al-Umm jilid 1 hal.15-16, “Apabila seseorang pria memegang/ menyentuh istrinya dengan tangannya dan kulitnya tanpa dilapisi kain ,baik dengan bersyahwat (nafsu) maupun tidak bersyahwat, wajib baginya wudu kalau hendak sembahyang dan wajib pula bagi istri yang disentuhnya.”
  • Imam Nawawi ,rahimahullah,–seorang ulama pakar  bermazhab Syafi’i–dalam kitabnya Minhajut Thalibin bab Asbabul hadas mengatakan, “Yang ketiga (yang membatalkan wudu), bertemu kulit pria dengan kulit wanita, kecuali mahram (muhrim) menurut fatwa yang lebih dhohir. Orang yang disentuh, sama hukumnya dengan yang menyentuh, menurut fatwa yang jelas. Dan tidak membatalkan wudu, kalau bersentuhan dengan anak kecil, dengan rambut, dengan gigi dan kuku, menurut pendapat yang lebih sahih “. 

Beberapa dalil-dalil para imam ini:

Allah Swt. berfirman,“….dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau datang dari tempat buang air (wc) atau kamu telah menyentuh wanita (Au Lamastumun Nisa) kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamum lah kamu dengan tanah yang baik (suci), sapulah wajahmu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.”(QS An-Nisa [4]:43).

“…jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit (sakit yang tidak boleh kena air) atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (wc) atau menyentuh wanita (Au Lamastumun Nisa) lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah..sampai akhir ayat “(QS.Al-Maidah [5]:6)

Kalimat, Au Lamastumun Nisa di dua ayat tersebut, sebagian  besar (jumhur) ulama ahli tafsir–khususnya mazhab Syafi’iyah–mengartikan, menyentuh bukan bersetubuh. Arti kata Lamasa, ‘Al massu bil yadi’ (menyentuh dengan tangan) [baca kamus al-Muhith jilid 2 hal.249, kamus al-Mu’atmad dan kamus Munjid]. Tidak ada, ayat Qur’an yang mengartikan ‘Lamasa’ dengan bersetubuh atau bercium-ciuman. Tidak ada pula, dalam hadis Nabi Saw. yang mengartikan lamasa dalam dua surah tersebut dengan ‘menyentuh dengan syahwat’, karena dalam ayat itu, sudah ada kalimat Junuban yang berarti bersetubuh. (setelah bersetubuh tapi belum bersuci). Oleh karena itu,, Allah Swt berfirman dalam dua ayat itu, Junuban untuk bersetubuh dan kalimat lamasa untuk menyentuh.

Imam Malik bin Anas rahimahullah, dalam kitabnya  al-Muwatha jilid 1 hal.65, “ Mengabarkan kepadaku Yahya,  dari Malik, dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah, dari bapaknya, Abdullah bin Umar, beliau berkata, ‘Ciuman lelaki atas istrinya, dan menyentuh dia dengan tangannya, termasuk mulamasah, maka barangsiapa mencium istrinya, atau menyentuhnya dengan tangannya, wajib ia berwudu (kalau akan sembahyang)“.

Abdullah bin Umar bin Khatab, seorang sahabat Nabi yang utama, banyak merawikan hadis dari Nabi Saw.. Beliau tegas mengatakan, bersentuh dengan wanita ,bukan muhrim, mewajibkan wudu kalau akan sembahyang.

 

Dalil-dalil dari golongan yang membantah dan jawabannya

Kelompok pengingkar, berdalil dengan hadis-hadis Nabi Saw. berikut ini; 

Hadis riwayat imam Ahmad bin Hanbal, ”Dari habib Ibnu Abi Tsabit, dari Urwah dari siti Aisyah r.a, Nabi Muhamad Saw. mencium sebagian istrinya, kemudian beliau keluar pergi sembahyang dan beliau tidak berwudu lebih dulu”. Kata mereka, jelas hadis ini menegaskan, berciuman dengan istri tidak membatalkan wudu. 

Para pakar hadis; Sofyan Tsuri, Yahya bin Said al-Qat’han, Abubakar an-Nisaburi, Abu Hasan Daruquthni, Abubakar al-Baihaqi dan lain-lain mengatakan, hadis diatas ini dho’if (lemah), tidak dapat dipakai untuk sumber hukum. Berkata imam Ahmad bin Hanbal, berkata Abubakar an-Nisaburi, Habib Ibnu Tsabit tersalah, dari cium orang puasa, kepada cium orang berwudu. (al Majmu’jilid 2 hal.32). Yang

Berkata imam Abu Daud, “Diriwayatkan oleh Sofyan Tsuri, bahwa habib Ibnu Tsabit hanya merawikan hadis dari Urwah al Muzni, bukan dari Urwah bin Zubair. Urwah al-Muzni, seorang tidak dikenal (majhul), hadis yang shahih dari Siti Aisyah ialah ‘bahwa Nabi mencium istrinya ketika beliau berpuasa’ ” (al-Majmu’ jilid 2 halaman 32). 

Dalam kitab Mizanul I’tidal jilid 3 hal.65 karangan Ad-Zahabi, dikatakan, “Urwah al-Muzni ,guru habib bin Tsabit, adalah seorang yang tidak dikenal (majhul). Karenanya, hadis Habib bin Tsabit dari Urwah ini, hadis  dha’if, yang menurut usul fiqih tidak boleh dipakai untuk dalil. 

Kelompok pengingkar, mengemukakan dalil, ”Dari Abu Rouq diambilnya dari Ibrahim at-Taimi, diambilnya dari Siti Aisyah ra, beliau berkata, ‘Bahwasanya, Nabi Saw. adalah mencium (istrinya) sesudah berwudu, kemudian beliau tidak mengulang wudunya lagi”. Kata mereka, jelaslah dari hadis ini, mencium istri tidak membatalkan wudu!

Abu Roug didho’ifkan/dilemahkan oleh Ibnu Mu’in (al-Majmu’ jilid 2 hal.33). Dalam hadis ini, Ibrahim at-Taimi mengambil hadis dari siti Aisyah, padahal ibrahim at-Taimi tidak pernah bertemu dengan siti Aisyah, beliau adalah seorang Tabi’ Tabi’in bukan Tabi‘in. 

Dalam kitab Mizanul I’tidal, Ibrahim bin Muhamad bin Ibrahim bin al-Harits at-Taimi mengambil hadis dari bapaknya, dan bapaknya itu mengambil dari Ibnu Ubaidah. Berkata Abu Hatim, ‘Dia (maksudnya Ibrahim at-Taimi) banyak mengeluarkan hadis yang mungkar’. Berkata Imam Bukhori, ‘Hadisnya, tidak tsabit (tidak tetap/kuat)’. Berkata Imam Daruquthni, ‘Dia dho’if’ (lihat Mizanul I’tidal jld 1, hal.55).

Hadis yang dha’if, menurut usul fiqih, tidak boleh dipakai untuk dalil.

Mereka berdalil lagi, hadis riwayat imam Bukhori, “Dari Abu Qutadah al-Anshari, Rasulallah Saw. shalat sedang menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulallah Saw. (cucu beliau Saw). Manakala, beliau sujud, beliau letakkan anak itu, dan manakala beliau berdiri beliau gendong anak itu”(HR.Bukhori dan Muslim–fathul Bari jilid 2, hal.37). Kata  mereka , dalam hadis ini Nabi menggendong anak wanita, ini satu bukti, bersentuhan dengan wanita, tidak membatalkan wudu.

Umamah binti Zainab adalah cucu (termasuk muhrim) beliau Saw.,dari anak beliau Zainab r.a., dan ketika itu Umamah masih kecil. Oleh Karena itu, bersentuh dengan wanita muhrim dan anak kecil,  tidak membatalkan wudu.

Mereka berdalil lagi dengan hadis, “Dari siti Aisyah r.a,  yang berkata, ‘Aku tidur dihadapan Rasulallah, dan kakiku dipihak kiblat beliau. Apabila beliau sujud, beliau singkirkan kakiku (dengan tangannya), maka saya tarik kakiku, dan apabila beliau telah berdiri, saya luruskan kembali” (HR. Bukhori,–fathul Bari jilid 2, hal. 135).

Atau hadis riwayat Imam Muslim, “Dari Aisyah ra, beliau berkata, “Saya kehilangan Rasulallah Saw. ketika tidur, saya berdiri mencari beliau. Maka jatuh tangan saya (terpegang oleh tangan saya) pangkal tumit beliau. Ketika beliau selesai sembahyang, berkata kepada saya, ‘Datang kepadamu setanmu’ ”. Kata mereka, hadis ini membuktikan, bersentuh antara lelaki dan wanita ,bukan muhrim, tidak membatalkan wudu.

Imam Nawawi, dalam Syarah Muslim jilid 4 hal.229-230 ketika mengomentari hadis ini berkata, “Dan menurut fatwa jumhur ulama (para ulama umumnya), bersentuh wanita itu membatalkan wudu. Mereka (para ulama), menerangkan hadis ini, Nabi Muhamad Saw. menyentuh siti Aisyah dibalik kain, karenanya hadis ini bukan sebagai dalil atau bukti atas tidak batalnya wudu apabila menyentuh kulit wanita. Begitu pula, hadis ini ada Ihtimal (kemungkinan/ boleh jadi  didalamnya). Tidak disebutkan, dalam hadis ini antara tangan Nabi dan kulit siti Aisyah, yang disebutkan dalam hadis ini hanya menyingkirkan kaki siti Aisyah. Boleh jadi, Nabi Saw. menyingkirkan kaki siti Aisyah, dibalik kain atau dibalik kaus kaki”.

Adapun, dalam Syarah Muslim jilid 2, hal.33, Imam Nawawi mengomentari hadis terakhir ini, ”Dan jawaban atas hadis Aisyah ini, tentang jatuh tangan beliau ketumit Nabi Saw., hal itu boleh jadi berdinding/tertutup dengan kain”. Hadis yang ihtimal, menurut usul fiqih tidak boleh dipakai untuk dalil. 

 

Kesimpulan:

Yang membatalkan wudu: Bersentuh antara kulit lelaki dan kulit wanita yang bukan muhrim. Muhrim ialah, wanita atau lelaki yang ada hubungan nasab dan tidak boleh dikawini seperti; Anak, cucu, orang tua, saudara, bibi, paman   keponakan, kakek, nenek dan mertua. Info: istri atau suami tidak termasuk muhrim, karena tidak ada hubungan nasab dan boleh dikawin.        

Yang tidak membatalkan wudu: Bersentuh dengan muhrim atau dengan anak kecil yang belum baligh, menyentuh rambut, gigi dan kuku. Bersentuh antara lelaki dan wanita, dengan memakai kain pembatas. Wallahu’alam.

 

Kewajiban baca surah AlFatihah dalam sholat

Sebagian kelompok muslimin, ada juga yang mencela, membid’ahkan pembacaan surah Al-Fatihah ,khususnya bagi makmum, yang  diamalkan pengikut mazhab Syafi’iyah, pada setiap rakaat dalam sholat jahar (isya, maghrib, shubuh dan jum’at). Berikut, kami nukil riwayat-riwayat kewajiban membaca Al-Fatihah, baik bagi imam maupun makmum:

  • Firman Allah Swt.,  ‘Dan sesungguhnya, Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung’. (Al-Hijr[15]:87). Yang dimaksud tujuh ayat dalam ayat Al-Hijr, surah Al-Fatihah.
  • Imam Bukhori (V11:381 Al-Fath Al-Bari) meriwayatkan, dari Abu Sa’id Al-Mu’alla, “Nabi Muhamad Saw. lewat dan aku (sedang) sholat. Lalu, beliau memanggilku. Aku tidak menjawab hingga aku selesaikan sholatku, aku datangi beliau Saw.. Beliau bersabda, ‘Apa yang menghalangimu untuk mendatangiku, ketika aku memanggilmu’? Aku menjawab, ‘aku sedang sholat (ketika itu)’. Beliau Saw. bersabda, ‘Bukankah Allah Swt. berfirman, ‘wahai orang orang beriman, jawablah (penuhilah) panggilan Allah dan Rasul-Nya’? Setelah itu, beliau bersabda; ‘Senangkah jika aku mengajarimu surah yang paling agung didalam Al-Quran, sebelum aku keluar dari masjid’? Setelah–berselang beberapa saat–Nabi Muhamad Saw. pergi untuk keluar dari masjid. Lalu, aku mengingatkannya. Beliau bersabda, ‘Alhamdu lillahi Rabbil-alamin, itulah tujuh ayat,yang diulang-ulang dan (itulah) Al-Quran yang diberikan padaku’ ”.
  • Hadis dari Abu Hurairah r.a, Rasulallah Saw.bersabda, “Ummu Al-Quran ialah, tujuh ayat yang diulang-ulang dalam Al-Quran yang agung” (HR.Bukhori dalam Sahih-nya [V11:381] Al-Fath Al-Bari).
  • Hafiz Ibnu Hajr dalam Fathul Bari V11:382 mengatakan, “Imam Thabrani meriwayatkannya dengan dua isnad yang bagus, dari Umar r.a, dan dari Ali k.w. Dia mengatakan, ‘As-Sab’u Al-Matsani itu, adalah Fatihat Al-Kitab‘ (Al-Fatihah). Dari Umar ada tambahan ‘Diulang-ulang pada setiap rakaat’”
  • Imam Bukhori (11:238), Imam Muslim (1:295) dan dalam Al-Fath al-Bari (11:241), ada pembahasan yang lengkap mengenai sabda Rasulallah Saw., ‘Tidak ada sholat–yang mencukupi–, bagi orang yang tidak membaca Fathihat Al-Kitab’. Hadis ini, menurut Imam Bukhori mutawatir. Maksud hadis ini, bukan tidak ada sholat yang sempurna, melainkan tidak ada sholat yang mencukupi (sah) bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah. Karenanya, dalil wajIbnuya membaca al-Fatihah ini, berlaku baik untuk sholat berjamaah maupun yang melakukan sholat sendirian (munfarid).
  • Dalam redaksi, yang dikeluarkan oleh Al-Isam’ili melalui jalan Abbas bin Al-Walid Al-Narsi–gurunya Imam Bukhori– dari Sufyan dengan isnad tersebut, ‘Tak ada satu sholat pun yang mencukupi, jika tidak dibacakan Fatihat Al-Kitab’. Al-Hafidh Ibnu Hajar, dalam Al-Fath (11:241) menyebutkan, riwayat itu ada mutaba’ahnya (yang mengikuti dan menguatkannya) yaitu, yang diriwayatkan Al-Daraquthni, begitu pula ada saksi penguatnya yang diriwayatkan Ibnu Hibban [dalam Sahihnya V:89] dan Ibnu Khuzaimah dalam Shohih-nya.
  • Hadis riwayat Imam Bukhori [11:277] dan Imam Muslim [1:298], sabda Rasulallah Saw. ,kepada seseorang yang melakukan sholat tidak sempurna,“Kemudian lakukan itu, pada (gerakan) sholatmu semuanya (setiap raka’at)”.
  • Imam Bukhori (pada juz ‘Membaca [al-Fatihah] di belakang Imam’ [bab wajib membaca al-Fatihah, bagi imam dan makmum, dan ukuran minimal yang dibaca] hal. 8 cet. Al-Iman Madinah Al-Munawarah) mengatakan, “secara mutawatir, ada berita dari Rasulallah Saw., tidak ada sholat (yang sah), kecuali dengan membaca Ummu Al-Quran’ (yakni al-Fatihah). Abdullah bin Amr r.a meriwayatkan, “Nabi Muhamad Saw. berkhutbah, “Siapa yang melakukan sholat wajib atau sunnah, hendaklah membaca Ummu Al-Quran dan (ayat) Quran bersamanya. Jika dia sampai (selesai) membaca Ummu Al-Quran itu, cukup baginya. Dan, siapa yang (melakukan sholat) bersama imam, maka hendaklah dia membaca (ummul Al-Quran itu) sebelumnya, atau jika dia (imam) diam. Oleh karena itu, siapa yang melakukan sholat tidak membaca Ummu Al-Quran, maka sholatnya khidaj (kurang)” (beliau mengucapkannya) tiga kali. (HR.Abdar-Razzaq dalam Al-Mushannaf (II:133 nr. 2787). Hadis ini hasan, sesungguhnya Al-Mutsanni bin As-Shabbah itu tidak  tercela dalam periwayatannya dari Amr bin Syu’aib. Hal itu, sebagaimana dikatakan oleh para penghafal hadis, dan telah disebutkan mengenai riwayat hidupnya, dalam Tahdzib At-Tahdzib (X:33). Tetapi, dia terkena ikhtilath (kekacauan/percampuran) dalam periwayatannya dari Atha, sebagaimana ahli hadis menjelaskan hal itu. Dia diakui kuat/tsiqah oleh yahya bin Mu’in.

 

Baca surah Al-Fatihah bagi makmum

Ada lagi yang membid’ahkan bacaan Al-Fatihah bagi makmum, dengan berdalil hadis,

‘Ibnu Ukaimah dari Abu Hurairah r.a, yang mengatakan, “Rasulallah Saw. melakukan sholat dengan kami, dimana bacaan (al-Fatihah dan surahnya) dijaharkan. Setelah selesai, beliau menghadap kepada orang-orang seraya bersabda, ‘Apakah ada salah seorang dari kamu yang membaca (Al-Quran) bersama-sama aku’? Kami menjawab, ‘ya’. Beliau Saw. bersabda, ‘Ingatlah, aku mengatakan,  aku tidak pantas menentang Al-Quran (ma li unazi’u Al-Qurana)’. Abu Hurairah mengatakan, ‘orang-orang pun berhenti membaca (Al-Quran), jika imam menjaharkan bacaan. Dan, mereka membaca (al-Fatihah dan surah) secara sir (pelan) dalam dirinya, jika imam tidak menjaharkan bacaannya”. 

Syeikh al-Albani (imam kelompok Salafi), dalam kitabnya Shifatu Shalatihi (Sifat Sholat Nabi Muhamad Saw) hal.99 mengatakan, ‘kalimat dalam hadis ‘orang-orang pun berhenti membaca.. ..’, hanya perkataan Abu Hurairah saja. 

Padahal yang benar, bukan begitu. Itu hanya kata-kata–mudrajah (tambahan)–dari Az-Zuhri. Hal itu, telah diterangkan oleh para imam hadis, antara lain Imam Bukhori (Juz Al-Qira’at Khalfa Al-Imam hal. 29-30). Begitu pula, hadis Ibnu Ukaimah diatas, lemah/dhoif (lihat penjelasannya dalam kitab At-Tanaqudhat Al-Wadihat Juz III oleh Syeikh Hasan bin Ali, jordania). Hadis dhoif, tidak bisa dibuat dalil untuk suatu hukum.

Berikut ini, dalil-dalil yang mewajibkan membaca al-Fatihah ,khususnya, bagi makmum;

  • Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Al-Fath(II:242), mengenai hadis–siapa yang mempunyai imam, maka bacaan imam menjadi bacaan baginya–berkata,  “Tetapi, hadis tersebut menurut para Hafidh–penghafal hadis– merupakan hadis lemah/dhoif. Semua thariq (jalan) dan ilat-nya telah diambil (dikaji) oleh Al-Daraquthni dan yang lainnya”. Begitu pula, diantara yang melemahkan dan menolak hadis tersebut, Imam Bukhori dalam Juz Al-Qira’at9.  Ia mengatakan, ‘Kabar ini, tidak tsabit (kuat) menurut para pakar, baik menurut penduduk (ulama) Hijaz maupun penduduk (ulama) Irak. dan yang lainnya, karena hadis tersebut mursal dan munqathi’ “. Berikut, diantara bukti-bukti kelemahan dan kebatilan hadis, Siapa yang mempunyai imam, maka bacaan imam menjadi bacaan baginya:
  • Jika benar, bacaan Imam itu mewakili bacaan (rukun sholat surah Al-Fatihah) ma’mum, mengapa zikir-zikir selain al-Fatihah seperti tasbih, takbir, tahmid dan lainnya, tidak dibatalkan hukum membacanya dari ma’mum, padahal hukumnya bacaan-bacaan ini, adalah sunnah?
  • Seandainya, hadis tersebut sahih–dan itu tidak mungkin–tidak tercantum didalam hadis itu, yang menunjukkan bacaan imam mencakup semua bacaan makmum, karena hadis tersebut bersifat umum. Dan kalimat ‘bacaan imam’termasuk isim jenis yang mudhaf (disandarkan), mencakup apa saja yang dibaca oleh imam, tidak hanya terbatas kepada bacaan al-Fatihah saja.
  • Ubadah bin Shamit meriwayatkan,“Kami pernah melakukan sholat bersama Rasulallah Saw. pada sholat shubuh. Beliau, merasa berat untuk membaca (Al-Quran/al-Fatihah). Setelah berpaling (selesai sholat), beliau Saw. bersabda, ‘Sesungguhnya, aku melihat kamu sekalian (mengetahui kamu), (apakah) kamu membaca di belakang imam kalian’? Kami menjawab, ‘ya’. Beliau Saw. bersabda: ’Jangan kalian lakukan, kecuali dengan (membaca) Ummu Al-Kitab (al-Fatihah), karena tidak ada sholat (yang sah), bagi orang yang tidak membacanya’” (HR.Imam Ahmad [V:316];Imam Bukhori dalam Al-Qiraat Khalfa Al-Imam [membaca ,Alfatihah, dibelakang Imam]; Ath-Thahawi meriwayatkannya dalam Syarh Ma’ani Al-Autsar [1:215]; Abu Dawud [1:217-218]; Imam Turmudzi [II:117]; Ibnu Khuzaimah dalam sahih-nya [III:36]; Ibnu Hibban dalam sahihnya [V:86];  Al-Baihaqi dalam Syarh As-Sunnah [III:82] dalam Sunannya [II:164] dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan Wa Al-Atsar [III:8] dalam periwayatan dan penjelasan yang luas; Ad-Daraquthni [I:318] dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak [I:238], hadis tersebut sahih dan tsabit (kuat); Dan menurut Al-Khathabi seperti disebutkan dalam Syarh Muhazzab Imam Nawawi [III:366], ‘Isnad hadis tersebut jayid (bagus sekali) dan tak ada cacadnya’; Ibnu Hajar dalam Al-Fath [II: 242], menyifatinya sebagai hadis tsabit [kuat] ).
  • Hadis Ubadah diatas, bersifat khusus bacaan makmum surah al-Fatihah, sehingga hadis ini mengkhususkan atau mengecualikan keterangan yang umum tersebut. Demikianlah, yang ditetapkan  dan diakui dalam ilmu Ushul (Fiqih). 
  • Imam Turmudzi, (setelah adanya hadis Ubadah bin Shamit diatas) mengatakan,“Berkenaan dengan bab itu, terdapat riwayat (yang serupa hadis itu) dari Abu Hurairah, Siti Aisyah, Anas bin Malik, Abu Qatadah dan Abdullah bin Amr (r.a)”. Imam Turmudzi mengatakan: “Mengamalkan hadis ini, yang berkenaan dengan membaca (al-Fatihah) dibelakang imam, berarti mengikuti pendapat kebanyakan ahli ilmu, baik dari kalangan para sahabat Nabi Saw.mau pun Tabi’in. Begitu pun, pendapat yang dipergunakan oleh Imam Malik bin Anas, Asy-Syafi’i, Ibnu Al-Mubarak, Ahmad dan Ishak. Mereka semua, berpendapat (mengenai wajIbnya) membaca (al-Fatihah) di belakang imam.
  • Hadis dari Anas bin Malik r.a., “Bahwa Rasulallah Saw. melakukan sholat dengan para sahabatnya. Setelah selesai sholat, beliau Saw.menghadap kepada mereka, sambil bersabda: ‘Apakah kalian membaca (Al-Quran) dalam sholat kalian di belakang imam, padahal imam (sedang) membaca? Mereka diam. Rasulallah Saw. mengucapkan itu tiga kali. Kemudian, ada yang berkata: ‘Sesungguh- nya, kami melakukannya (membaca Al-Quran)’. Beliau Saw. bersabda, ‘Maka janganlah kalian lakukan, dan hendak lah salah seorang diantaramu (masing-masing kalian) membaca Fatihah Al-Kitab didalam dirinya (tidak dijaharkan)’.” (HR. Ibnu Hibban dalam sahih-nya  (V:162), Imam Daraquthni dalam As-Sunan (I:340), hadis ini sahih, Al-Hafidh Al-Haitsami dalam Mujma’ Al-Zawaid (II:110) dari hadis Anas)
  • Diriwayatkan oleh Abu Ya’la. Imam Thabarani dalam Al-Ausath, dan perawinya tsiqat.Hadis yang dikemukakan oleh Yazid bin Syuraik, “Saya pernah bertanya kepada Umar mengenai membaca (Al-Quran) dibelakang imam. Dia menyuruhku untuk membaca (al-Fatihah). Saya bertanya; ‘Engkau bagaimana’? Dia berkata, ‘Aku juga sama’. Saya bertanya lagi, ‘Apakah hal itu dilakukan jika engkau menjahar (dalam sholat jahar)?’. Dia menjawab; ‘Jika aku menjahar (melakukan sholat jahar) aku pun membacanya’” (HR.Al-Daraquthni dalam As-Sunan I:317) berkata, ‘Ini isnad  sahih’. Atsar-atsar sahih mengenai hal itu, banyak juga dari kalangan sahabat.

 

Adapun, kalimat hadis, ‘dan apabila dia (imam) membaca maka perhatikanlah’, Imam itu dijadikan hanya untuk di-ikuti, maka apabila ia bertakbir, bertakbirlah…’, riwayat hadis ini tidak kuat. Riwayat ini, disebutkan dalam Sahih Muslim (I:304). Imam Nawawi (Al-Majmu’ III:386) mengatakan, ‘menurut Imam Baihaqi, lafaz tersebut tidak ada dari Nabi Saw’. Abu Daud dalam Sunannya; ‘lafadh itu tidak terjaga/terpelihara’ (laisat bi mahfudhah).

Info: Menurut ijmak para ulama, membaca al-Fatihah gugur (kewajibannya), bagi ma’mum yang mendapatkan imam  sedang rukuk (ketinggalan sholat berjamaah). Dalam kondisi seperti itu, dia dianggap telah mendapatkan satu raka’at (telah membaca al-Fatihah) meskipun dia belum membaca al-Fatihah. Masih banyak lagi, yang tidak dicantumkan disini. Wallahu’alam.

 

Kewajiban membaca Basmalah di Awal surah Al-Fatihah

Dalam mazhab Syafi'iyah khususnya, mewajibkan setiap orang membaca Basmalah di awal surah Al-Fatihah dengan jahar/keras pada sholat maghrib, isya, shubuh dan jum’at, dengan suara lirih pada sholat dhuhur dan ashr. Oleh karena, basmalah merupakan ayat pertama dari surah ini. Hal tersebut didasarkan beberapa hadis berikut ini:

  • Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulalallah Saw. bersabda, “Jika kamu sekalian membaca Alhamdulillah, bacalah Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Sesungguhnya, Al-Fatihah itu Ummu Al-Quran (induk Al-Quran), Ummul-Kitab (induk Kitab), As-Sab’al-Matsani dan Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, adalah salah satu ayatnya”.(HR.Daruquthni [I:312], Imam Baihaqi [II:45], dan lain-lainnya dengan isnad sahih ,baik secara marfu’ mau pun secara mauquf). Syeikh Albani, mensahihkan hadis diatas dalam beberapa tempat dari kitabnya, dan dalam beberapa kitab karangan yang dinisbatkan kepada dirinya, antara lain kitab Sahih Al-Jami’ Wa Ziyadatuh[I:261] dan Shihatuh [I1I:179]. Meski pun demikian, dia tetap saja berkata dalam kitabnya ‘Sifat Sholat Nabi halaman 96’, “Kemudian Rasulallah Saw. membaca Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, dan tidak mengeraskan bacaan- nya” . Jika Basmalah, diakui oleh Syeikh ini, sebagai salah satu ayat dari Al-Fatihah, lalu mengapa tidak dikeraskan juga bacaannya?
  • Ibnu Abbas r.a. meriwayatkan,dia membaca Al-Fatihah, lalu membaca ‘wa-laqad atainaaka sab’an min al-matsaaniya wal-Quranal adhiim’. Lalu, dia berkata, “Itulah Fatihat al-Kitab (Pembuka Al-Kitab/Al-Quran) dan Bismillahir Rahmanir Rahim, adalah ayat yang ketujuh” (Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Al-Fath VIII:382 mengatakan  hadis tersebut di riwayatkan oleh Imam Thabrani dengan isnad Hasan).
  • Diriwayatkan dari Ummu Salamah r.a., “Rasulallah Saw. membaca Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim dalam sholat, dan beliau menganggapnya sebagai satu ayat…”. (HR.Abu Dawud dalam as-Sunan [IV:37], Imam Daraquthni [I:307], Imam Hakim [II:231], Imam Baihaqi [II:44] dan lain-lainnya dengan isnad sahih). 
  • Imam Ishak bin Rahuwiyah, pernah ditanya tentang seseorang yang meninggalkan Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim. Maka dia menjawab, “Siapa yang meninggalkan ba’, atau sin, atau mim dari basmalah, maka sholatnya batal, karena Al-hamdu (Al-Fatihah) itu tujuh ayat”. (Hal ini akan ditemukan pada kitab Sayr A’lam Al-Nubala’ [XI:369] karangan Ad-Dzahabi).
  • Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah [r.a],  serta yang lainnya: “Sesungguhnya Nabi Muhamad   menjaharkan Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahiim”. (Hadis dari Ibnu Abbas, diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam Kasyf Al-Atsar [I:255]; Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra [II:47] dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan wa Al-Atsar [II:308] dan lain-lainnya; Al-Haitsami dalam Mujma’ Al-Zawaid [II:109] mengatakan, hadis tersebut, di riwayatkan oleh Al-Bazzar dan rijal-nya mautsuqun (terpercaya); Al-Daraquthni [I:303-304] telah meriwayatkan dalam berbagai macam isnad, siapa pun yang menemukannya tidak akan meragukan ke sahihannya. Rincian pembicaraannya dapat dilihat pada jilid III dari At-Tanaqudhat. Adapun, hadis dari Abu Hurairah ra., di riwayatkan oleh Imam Hakim dalam Al-Mustadrak-nya [I:232] dan perawi lainnya. Hadisnya sahih).
  • Ad-Dzahabi, berusaha melemahkan hadis tersebut dalam Talkhish Al-Mustadrak. Dia mengatakan, ‘Muhamad itu dhaif,  yang dia maksud adalah Muhamad bin Qais, padahal tidak demikian. Muhamad bin Qais, orang baik dan terpercaya, termasuk rijal (sanad) Imam Muslim, sebagaimana disebutkan dalam Tahdzib At-Tahdzib [IX:367]. Disitu, disebutkan Muhamad bin Qais diakui mautsuq oleh Ya’qub bin Al-Fusawi dan Abu Dawud, Al-Hafidh pun mengakui hal itu juga dalam At-Taqrib-nya. 
  • Dalam sahih Bukhori [II:251 dalam Al-Fath al-Bari], Abu Hurairah ra. berkata: “Pada setiap sholat dibaca (Al-Fatihah dan surah—Red.). Apa yang yang beliau perdengarkan (jaharkan), kamipun memperdengarkannya (menjaharkan nya), dan apa yang beliau samarkan (lirihkan), kamipun menyamarkannya (melirihkannya) ..”.
  • Imam Muslim dalam Sahih-nya [I:300], meriwayatkan hadis dari Anas r.a.,“Ketika suatu hari Rasulallah Saw. berada disekitar kami, tiba-tiba beliau mengantuk (tidur sebentar), lalu, mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Kami bertanya, ‘Apa yang menyebabkan engkau tertawa, wahai Rasulallah’? Beliau menjawab, ‘Tadi ada surah yang diturunkan kepadaku, lalu, beliau membaca Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim, inna a’thainakal kautsar….sampai akhir hadis’ “.
  • Imam Nawawi mengatakan, ‘Basmalah itu, merupakan satu ayat dari setiap surah, kecuali surah Bara’ah/at-Taubah, berlandaskan dalil, basmalah itu di tulis didalam mushaf dengan khath (tulisan/kaligrafi) mushaf. Hal itu, didasarkan kepada kesepakatan sahabat dan ijma’, mereka tidak akan menetapkan sesuatu didalam Al-Quran dengan khath Al-Quran, yang selain dari Al-Quran. Umat Islam, sesudah mereka, sejak dahulu sampai sekarang, sepakat atau ber-ijmak, basmalah itu tidak ada pada awal surah Bara’ah dan tidak ditulis padanya. Hal itu semua, menguatkan apa yang telah kami katakan. (Syarh Muslim IV:111)
  • Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al-Mujmir,  seorang Imam, Faqih, terpercaya, termasuk periwayat hadis sahih Enam, sempat bergaul dengan Abu Hurairah r.a. selama 20 tahun: "Aku melakukan sholat dibelakang Abu Hurairah r.a., maka dia membaca Bismillahi Ar-Rahman Ar-Rahim, lalu, dia membaca Ummu Al-Quran hingga sampai kepada Wa laadh dhaallin, dia mengatakan amin. Dan, orang-orang pun mengucapkan amin. Setiap (akan) sujud, ia mengucapkan Allahu Akbar. Dan, apabila bangun dari duduk dia mengucap kan Allahu Akbar. Dan, jika bersalam (mengucapkan assalamu‘alaikum). Dia kemudian mengatakan, ‘Demi Allah, yang jiwaku ada pada kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku orang yang lebih mirip shalatnya dengan Rasulallah Saw. (daripada kalian)”. (Imam Nasa’i dalam As-Sunan II:134; Imam Bukhori mengisyaratkan hadis tersebut dalam sahihnya [II:266 dalam Al-Fath]; Ibnu Hibban dalam sahih-nya [V:100]; Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya I:251; Ibnu Al-Jarud dalam Muntaqa hal.184; Al-Daraquthni [I:300] mengatakan semua perawinya tsiqah; Hakim dalam Al-Mustadrak [I:232]; Imam Baihaqi dalam As-Sunan [II:58] dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan wa Al-Atsar [II:371], mengatakan,  isnadnya sahih. Dan hadis itu, disahihkan oleh sejumlah para penghafal hadis seperti Imam Nawawi; Ibnu Hajar dalam Al-Fath [II:267] mengatakan, Imam Nawawi membuat bab khusus ‘Menjaharkan Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim’, itulah hadis yang paling sahih mengenai hal tersebut). 
  • Hadis diatas, dikuatkan lagi dengan sabda Abu Hurairah ra., Rasulallah Saw. bersabda, ”Alhamdulillah rabbil ‘aalamiin sab’u ayat ihdaahunna Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, wa hiya as-sab’u al-matsaani wa al-Quraani al-‘adhiim, wa hiya Ummu Al-Quran wa Fatihat Al-Kitaab, (Al-Fatihah itu tujuh ayat, salah satunya adalah Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Itulah tujuh (ayat) yang diulang-ulang Al-Quran yang agung, dan itulah induk Al-Quran dan Fatihat (Pembuka) Al-Kitab (Al-Quran)”. Al-hafidh Al-Haitami dalam Al-Mujma’ [II: 109] mengatakan, “Hadis tersebut, diriwayatkan Imam Thabarani dalam Al-Ausath, rijal-nya tsiqat”.
  • Diriwayatkan, para sahabat yang empat-radhiyallahu‘anhum- khususnya khalifah Umar dan khalifah Ali, semuanya menjaharkan bacaan basmalah dalam Al-Fatihah (lihat kitab Ma’rifat As-Sunan Wa Al-Atsar [II:372 dan 378] ). 
  • Dalam Sahih Bukhori [IX:91 dalam Al-Fath], “Anas bin Malik r.a. pernah ditanya, mengenai bacaan Nabi Muhamad Saw.. Dia menjawab: ‘Bacaan Nabi itu, (mengandung) mad (dipanjangkan), (yakni) memanjangkan bacaan Bismillah, memanjangkan kata Ar-Rahman dan memanjangkan kata Ar-Rahim’”.
  • Ibnu Hajar dalam Al-Fath II:229 menetapkan, untuk menggunakan hadis yang menetapkan adanya jahar dalam membaca basmalah. Selanjutnya, dia mengatakan, ‘Maka jelaslah (benarnya), hadis yang menetapkan adanya jahar dengan basmalah’. 

Masih banyak yang perlu dicantumkan disini, insya Allah dengan riwayat diatas, cukup sebagai dalil bagi pengikut mazhab syafi’íyah. Wallahu’alam.

 

Tidak mengerak-gerakkan jari telunjuk ketika Tasyahud          

Masyarakat muslim ,khususnya penganut  mazhab Syafi’iyah, menganggap sunnah ketika duduk tasyahud/tahiyat untuk mengangkat jari telunjuknya, apabila telah sampai pada illallah dalam mengucapkan Asyhadu an allaa ilaaha illallah (syahadat), serta tidak mengerak-gerakkan jari telunjuknya, dan tidak menurunkan jari telunjuknya sampai mengucapkan salam. Hal tersebut, didasarkan beberapa hadis berikut ini:

  • Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, “Jika Rasulallah Saw. duduk dalam tasyahud, beliau meletakkan tangan kirinya diatas lututnya yang kiri, dan meletakkan tangan kanannya pada lutut yang kanan, seraya membuat (angka) lima puluh tiga sambil berisyarat dengan telunjuknya" (HR. Imam Muslim dalam Sahihnya I/408). Sebagian orang menyangka, tahliq (membuat lingkaran) itu maksudnya menggerak-gerakkan telunjuk untuk  membuat semacam lingkaran. Padahal, yang dimaksud ialah menggenggam tiga jari (jari tengah, jari manis dan kelingking) itulah angka tiga. Sedangkan jari telunjuk dan ibu jari, dijulurkan sehingga membentuk semacam lingkaran bundar, mirip angka lima (angka bahasa arab), menjadilah semacam angka lima puluh tiga.
  • Dalam kitab yang sama, riwayat dari Ali bin Abdurrahman Al-Mu’awi mengatakan, “Abdullah bin Umar r.a. melihat aku bermain-main dengan kerikil dalam sholat. Setelah berpaling (selesai sholat), beliau melarangku, seraya berkata, ‘Lakukan lah seperti apa yang dilakukan oleh Rasulallah’. Dia berkata, ‘Jika Rasulallah Saw. duduk dalam sholat, beliau meletakkan tangan kanannya pada paha kanannya, seraya menggenggam semua jemarinya, dan mengisyarat- kan (menunjukkan) jari yang dekat  ibu jarinya ke kiblat. (penambahan kata ke kiblat ini, terdapat pada sahih Ibnu Hibban V:274; sahih Ibnu Khuzaimah I:356 dan lainnya). Beliau, meletakkan tangan kirinya diatas paha kirinya’”.  Al-isyarah (mengisyaratkan) itu, menunjukkan tidak adanya (perintah) menggerak-gerakkan (tahrik).
  • Diriwayatkan dari Numair Al-Khuzai ,seorang yang tsiqah dan salah seorang anak dari sahabat, “Aku melihat Rasulallah Saw. meletakkan dzira’nya [tangan dari siku sampai keujung jari] yang kanan, diatas pahanya yang kanan sambil mengangkat jari telunjuknya dan membengkok kannya [mengelukkannya] sedikit”. (HR.Ahmad III:471; Abu Dawud I:260; Nasa’i III:39; Ibnu Khuzaimah dalam shohihnya I:354 dan pensahihannya itu ditetapkan oleh Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah no.8807; Ibnu Hibban dalam As-Shohih V:273; Imam Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra II:131 serta perawi lainnya).
  • Diriwayatkan dari Ibnu Zubair, “Rasulallah Saw. berisyarat dengan telunjuk, dan beliau tidak menggerak-gerakkan, pandangan beliau tidak melampaui isyaratnya itu” (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban). Hadis ini, merupakan hadis yang sahih, sebagaimana diterangkan oleh Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ jilid III:454 dan oleh sayid Umar Barokat dalam Faidhul Ilaahil Maalik jilid 1:125. 
  • Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Zubair r.a. “Rasulallah Saw. berisyarat dengan jarinya (jari telunjuknya) jika berdoa, dan tidak menggerak-gerakkannya”. (HR.Abu ‘Awanah dalam sahihnya II:226; Abu Dawud I:260; Imam Nasa’i III:38;  Baihaqi II:132; Baihaqi dalam syarh As-Sunnah III:178 dengan isnad sahih). 

Adapun, hadis yang menyebutkan Yuharrikuha (menggerak-gerakkan nya) itu, tidak kuat (laa tatsbut) dan merupakan riwayat syadz (yang aneh). Karena, hadis mengenai tasyahhud dengan mengisyaratkan (menunjuk- kan) telunjuk itu serta meniadakan tahrik adalah riwayat yang sharih (jelas/ terang) dan diriwayatkan oleh sebelas perawi tsiqah dan kesemuanya tidak menyebutkan adanya tahrik tersebut.

 

Waktu mengangkat jari telunjuk

Dalam sunan Baihaqi II:133 disebutkan: “Rasulallah Saw. melakukan itu, ketika men-tauhid-kan Tuhannya yang Mahamulia dan Mahaluhur”, yakni ketika menetapkan tauhid dengan kata-kata illallah (hanya Allah) dalam syahadat. Dalam riwayat lain, Imam Baihaqi II:133 dengan sanad yang sama dari Khilaf bin Ima’ bin Ruhdhah Al-Ghiffari dengan redaksi, “Sesungguhnya Nabi Muhamad Saw. hanya menghendaki dengan (isyarat) itu adalah (ke) tauhidan (Meng-Esa-kan Allah Swt.)”, sedangkan ungkapan ketauhid- an terdapat dalam kalimat syahadat itu. 

Al-Hafidh Al-Haitsami mengatakan dalam Mujma’ Al-Zawaid II:140, “Hadis tersebut di riwayatkan oleh Imam Ahmad secara panjang lebar..”. 

Imam Al-Baihaqi dalam Syarh As-Sunnah III:177 mengatakan “Yang dipilih oleh ahli ilmu dari kalangan sahabat dan tabi’in, dan orang-orang setelah mereka, berisyarat dengan jari telunjuk (tangan) kanan ketika mengucapkan tahlil (la ilaaha illallah), dan (mulai) mengisyaratkannya pada kata illallah…”.Hal ini, didasarkan  hadis Abdullah bin Umar ra.; “Dan (beliau Saw.) mengangkat jari tangan kanannya yang dekat ke ibu jari, lalu berdoa.” (HR.Imam Muslim dan Imam Baihaqi II:130, dan perawi lainnya).

 

Menggerak-gerakkan jari makruh hukumnya

Pada uraian sebelumnya, kami meriwayatkan  gerakan jari waktu tasyahud. Berikut, kami  tambahkan pendapat ulama mazhab Syafi’iyah, yang memakruhkan menggerak-gerakkan telunjuk, waktu tasyahud:

  • Dalam Hasiyah al-Bajurijilid 1:220, dikatakan, “Dan tidaklah boleh, seseorang itu menggerak-gerakkan jari telunjuknya. Apabila digerak-gerakkan, makruh hukumnya  dan tidak membatalkan sholat menurut pendapat yang lebih shohih, karena gerakan telunjuk itu, gerakan yang ringan”.
  • Menurut satu pendapat, “Batal sholat seseorang, apabila dia  menggerak-gerakkan telunjuknya itu tiga kali berturut-turut.” [pendapat ini, bersumber dai Ibnu Ali bin Abu Hurairah, sebagaimana tersebut dalam Al-Majmu’ III/454]. Adanya, khilaf [perbedaan) tersebut, terletak pada gerakan pada telapak tangan. Selama tapak tangannya tidak ikut bergerak, hukumnya makruh, tetapi, jika tapak tangannya ikut bergerak, batal lah shalatnya.
  • Imam Nawawi dalam Fatawa-nya hal.54, dan dalam Syarh Muhadzdab III/454 menyatakan, makruhnya menggerak-gerakkan telunjuk tersebut. Karena, perbuatan tersebut, perbuatan sia-sia dan main-main, disamping menghilangkan kekhusyuan.
  • Dalam kitab Bujairimi Minhaj1/218: “Tidak boleh mentahrik jari telunjuk karena ittiba’ (mengikuti sunnah Nabi)”

 

Jika ada yang berkata, ‘Sesungguhnya, ada hadis sahih, mengenai pentahrikan jari telunjuk, dan Imam Malik pun telah mengambil hadis tersebut. Begitu pula, ada beberapa hadis yang shohih, tidak digerak-gerakannya jari telunjuk. Manakah yang diunggulkan’?:

  • Imam Syafi’i, memilih riwayat hadis tanpa menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahud, oleh karena, dapat mendatangkan ketenangan, yang senantiasa dituntut didalam sholat.
  • Dalam kitab Tuhfatul MuhtajII:80: “Tidak boleh mentahrik jari telunjuk, ketika mengangkatnya karena ittiba’. Dan telah sahih pula, riwayat hadis kepada pentahrikannya, demi untuk menggabungkan kedua dalil, di bawalah tahrik itu kepada makna ‘diangkat’. Terlebih lagi, didalam tahrik tersebut ada pendapat yang menganggapnya  haram, yang dapat membatalkan sholat. Oleh karena itu, kami mengatakan, tahrik yang dimaksud, hukumnya makruh”.
  • Dalam kitab Mahalli1/164: “Tidak boleh mentahrik jari telunjuk, berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud. Pendapat lain mengatakan, Sunnah mentahrik jari telunjuk, berdasarkan hadis riwayat Baihaqi’, beliau berkata, kedua hadis itu shohih. Dan (harus) didahulukannnya hadis pertama, yang menafikan tahrik, daripada hadis kedua yang menetapkannya, karena adanya beberapa maslahat pada ketiadaan tahrik itu”. 
  • Dalam kitab Syarqawi1/210: “Mengangkat telunjuk itu,  dengan tanpa tahrik. Begitu pula, ada hadis yang meriwayatkan adanya tahrik. Namun, dalam kasus ini yang menafikan didahulukan dari yang menetapkan. Berbeda dengan kaidah ushul Fiqih, (bahwa yang menetapkan di dahulukan dari yang menafikan). Hal ini, karena adanya beberapa maslahat pada ketiadaan mentahrik itu, yakni; ‘Yang dituntut dalam sholat tidak bergerak, karena bergerak-gerak dapat menghilangkan kekhusyu’an. Tahrik itu, sejenis perbuatan yang tidak ada gunanya, dan sholat haruslah terpelihara dari hal tersebut, selama itu memungkinkan. Karenanya, ada pendapat yang membatalkan shalat, walau pun pendapat ini dho’if”. 

 

Dalil yang menggerak-gerakkan telunjuk dan jawabannya:

Mereka mengatakan, sunnah hukumnya menggerak-gerakkan telunjuk, berdalil sebagai berikut:

Riwayat  Wa’il bin Hujrin yang menerangkan, “Kemudian Nabi mengangkat jari telunjuknya (ketika tasyahud), aku melihat beliau menggerak-gerakkan, sambil berdoa” (HR.Nasa’i).

Hadis ini, oleh sebagian mazhab Maliki sebagai dalil untuk mensunnahkan tahrik telunjuk itu, dengan gerakan yang sederhana, dimulai sejak awal tasyahud hingga akhirnya. Dan gerakan tersebut, mengarah ke kiri dan ke kanan, bukan ke atas dan ke bawah (Al-Fighul Islami 1/716).

Mereka berdalil pula hadis dari Ibnu Umar,  “Menggerak gerakkan telunjuk diwaktu shalat, dapat menakut-nakuti setan”.

Hadis ini dho’if, hanya diriwayatkan seorang diri oleh Muhamad bin Umar al-Waqidi (Al-Majmu’ III/454 dan Al-Minhajul Mubin hal.35). Ibnu Adi dalam Al-Kamil Fi Al-Dhu’afa VI/2247, “Tahrik jari (telunjuk) dalam sholat, dapat menakut-nakuti setan  hadis maudhu’”.

Mereka berdalil, dengan ucapan Syeikh Al-Albani ,imam kelompok Wahabi, dalam kitabnya Sifat-sifat Sholat Rasulallah Saw. ,khusus- nya hal.158-159, mengemukakan sebuah hadis, “Beliau (Saw.) mengangkat jarinya (dan), menggerak-gerakkannya seraya berdoa. Beliau (Saw) bersabda; ‘Itu ,yakni jari,  sungguh lebih berat atau lebih keras bagi setan daripada besi’”.        

  • Redaksi hadis yang sebenarnya, tidak seperti yang disebutkan oleh Syeikh ini. Syeikh ini, telah menyusun dua hadis yang berbeda, dengan menyusupkan kata-kata yang bukan dari hadis. Redaksi hadis yang sebenarnya, terdapat dalam Al-Musnad II:119, Al-Du’a karangan Imam Thabarani II:1087, Al-Bazzar dalam Kasyf Al-Atsar I:272 dan kitab hadis lainnya ialah; “Diriwayatkan dari Nafi’, Abdullah bin Umar r.a., jika (melakukan) sholat ber-isyarat dengan (salah satu) jarinya, lalu diikuti oleh matanya, seraya berkata, Rasullah Saw. bersabda; ‘Sungguh, itu lebih berat bagi setan daripada besi’“. Al-Bazzar berkata; “Katsir bin Zaid, meriwayatkan secara sendirian (tafarrud) dari Nafi’, dan tidak ada riwayat (yang diriwayatkan Katsir ini) dari Nafi’, kecuali hadis ini”. Syeikh Albani sendiri, dikitab Sahihah-nya IV:328 mengatakan; ‘Saya berkata, Katsir bin Zaid adalah Al-Aslami yang dha’if/lemah’! 

Oleh karena itu, jelas dalam hadis diatas ini,  tidak di sebutkan kata-kata Yuharrikuha (menggerak-gerakkannya), tetapi hanya disebutkan ‘berisyarat dengan jarinya’. 

  • Para Imam (Mujtahidin) pun, tidak mengamalkan hadis yang mengisyaratkan tahrik itu, termasuk ulama dahulu dari kalangan Imam Malik (Malikiyah) sekali pun. Orang yang melakukan tahrik itu, bukan dari mazhab Malikiyah dan bukan juga yang lainnya. Al-Hafidh Ibnu Al-Arabi Al-Maliki dalam Aridhat Al-Ahwadzi Syarh Turmduzi II/85 menyatakan, “Jauhi lah olehmu, menggerak-gerakkan jarimu dalam tasyahud, dan janganlah berpaling ke riwayat Al-Uthbiyah, karena riwayat tersebut baliyah (mengandung bencana)”.
  • Al-Hafidh Ibnu Al-Hajib Al-Maliki dalam Mukhtashar Fiqh-nya mengatakan, ‘yang masyhur dalam mazhab Imam Malik, tidak menggerakkan telunjuk yang di-isyaratkan itu’.
  • Tiga imam mazhab (Hanafi, Syafi’i dan Hanbali) tidak memakai dhohir hadis Wa’il bin Hujr tersebut, dan  tidak mensunnahkan tahrik. Oleh karena itu, mensunnahkan tahrik berarti menggugurkan hadis Ibnu Zubair dan hadis-hadis lainnya, yang menunjukkan Nabi Saw. tidak menggerak-gerakkan telunjuk.
  • Imam Baihaqi, yang bermazhab Syafi’i, memberi komentar terhadap hadis Wa’il bin Hujr, “Terdapat kemungkinan, yang dimaksud dengan tahrik disitu, mengangkat jari telunjuk, bukan menggerak-gerakkannya secara berulang, sehingga dengan demikian tidak lah bertentangan dengan hadis Ibnu Zubair”. Kesimpulan Imam Baihaqi ini, hasil dari penerapan metode penggabungan dua hadis diatas yang berbeda.

Kalau mengikuti komentar Imam Baihaqi ini, memang semulanya jari telunjuk itu tidak bergerak, ketika sampai pada hamzah illallah, ia kita angkat, itu menunjukkan adanya penggerakan jari telunjuk tersebut, tetapi, bukan digerak-gerakkan berulang-ulang, sebagaimana pendapat sebagian orang. Wallahu a’lam.

Silahkan baca uraian pada bab berikutnya.