Riwayat mengenai Abu Thalib menurut pakar Ulama

Abu Thalib

Berikut, kami nukil lagi beberapa riwayat mengenai keluarga Rasulallah Saw, khususnya paman Rasulallah Saw., Abu Thalib. Sejumlah sejarahwan dan kelompok Muslimin ,khususnya kaum Wahabi dan pengikutnya, tidak akan berhenti dan secara gencar untuk menyebarkan versi hadis-hadis yang didalamnya tercantum firman Allah Swt., tentang kekafiran Abu Thalib ini. Beberapa dalil golongan pengingkar, antara lain:  

  • Hadis dari Said bin Musayab, dari bapaknya katanya; ”Ketika Abu Thalib hampir wafat, Rasulullah Saw. datang mengunjunginya. Ditempat Abu Thalib sudah hadir Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayah bin Mughirah. Kemudian Rasullah Saw. bersabda, ‘Wahai paman, ucapkanlah La ilaha illallah, sebuah kalimat yang aku akan menjadi saksi bagi paman nanti dihadapan Allah’. Kemudian Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayah berkata, ‘Hai Abu Thalib, bencikah anda kepada agama Abdul Mutholib’? Rasulullah Saw. terus menerus mengulang-ulang ucapannya itu. Akhirnya, Abu Thalib mengatakan, ‘Dia tetap memegang agama Abdul Mutholib dan enggan mengucapkan laa ilaha illallah’. Kemudian Rasulullah Saw. bersabda, ’Demi Allah! Akan Aku mohonkan ampun bagi paman, selama aku tidak dilarang melakukannya”. Kemudian turun surah al-Qashas:56. (Bukhori dan Muslim, Mukhtashor Ibnu Katsir ,juz 3,hal.19 oleh DR. Ali Asho-bunni).
  •  Firman Allah Swt.; ’Mereka melarang (orang lain) mendengarkannya (AlQuran) dan mereka sendiri menjauh- kan diri daripadanya, dan  mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari. (QS. al-An’am [6]:26).

Sufyan At-Tsauri, meriwayatkan hadis dari Habib bin Tsabit dari seseorang (tidak disebut namanya), yang menyatakan, Ibnu Abbas berkata, “Ayat (diatas) ini, turun ditujukan untuk Abu Thalib, karena ia selalu melindungi Nabi Muhamad dari orang-orang kafir, tetapi tidak pernah mengucapkan dua kalimat syahadat.” (Tabaqat Ibnu Sa’ad, jilid 2, hal. 105; Tarikh atThabari jilid 7, hal. 100; Tafsir, Ibnu Katsir, jilid 2, hal. 172; Tafsir al-Kasyaf, jilid 1, hal. 448; Tafsir, Qurthubi, jilid 6, hal. 406, dan lain lain)

  •  Bukhari dalam Sahih-nya menulis, ’Ketika menjelang wafatnya Abu Thalib, Rasulullah mendekatinya. Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayah telah berada di sana. Rasulullah bersabda, “Wahai paman, katakanlah, ‘Tiada yang patut disembah kecuali Allah, sehingga aku dapat membelamu dengannya di hadapan Allah.’ Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayah berkata, “Wahai Abu Thalib! Apakah engkau akan mengulang kembali ucapan agama Abdul Muthalib?” Lalu Nabi berkata, “Aku akan tetap memohonkan (kepada Allah) ampunan bagimu, meski aku dilarang melakukannya. Lalu, turunlah surah at-Taubah ayat 113, “Tiadalah patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memintakan ampunan Tuhan bagi orang-orang musyrik, sekalipun orang-orang yang musyrik itu kaum kerabatnya sendiri, setelah nyata bagi mereka, orang-orang yang musyrik itu penghuni Jahanam.”’.
  • Bukhori meriwayatkan hadis serupa diatas, dari Musayab: “Ketika Abu Thalib menjelang ajal, nabi Muhamad menemuinya, dan melihat ada Abu Umayah bin Mughirah. Nabi Muhamad berkata, ‘Wahai paman, ucapkanlah tiada yang patut disembah kecuali Allah, kalimat yang aku jadikan pembelaan bagimu di hadapan Allah!” Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayah berkata kepada Abu Thalib, “Apakah engkau akan meninggalkan agama nenek moyangmu, Abdul Muthalib?” Nabi Muhamad terus memintanya untuk mengucap kalimat syahadat, sedangkan dua orang tadi mengulang-ulang kalimat mereka, hingga Abu Thalib mengatakan, kepada mereka terakhir kali, ‘Aku mengikuti agama Abdul Muthalib dan menolak untuk mengatakan ‘tiada yang patut disembah kecuali Allah.’ Nabi berkata, “Demi Allah, aku akan tetap memohonkan ampunan Allah bagimu, meskipun dilarang (Allah)!”

Lalu, Allah menurunkan ayat 113 (surah at-Taubah), “Tiada patut bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memohonkan ampunan Tuhan bagi orang-orang musyrik.” Kemudian Allah menurunkan ayat khusus bagi Abu Thalib, “Sesungguhnya Engkau (Muhamad) tidak dapat memberi petunjuk orang yang engkau kehendaki, tetapi Allah yang memberi petunjuk orang-orang yang Ia kehendaki.” (QS. al-Qashash [28] : 56).

Jawaban:

Riwayat-riwayat hadis diatas, tidak tepat untuk dalil sebagai bukti dan dalil mutlak atas kekafiran Abu Thalib, alasannya  sebagai berikut:

  • Ayat At-Taubah [9]:113 tersebut, termasuk Madaniyah (Ayat yang turun di Madinah), sedangkan Abu Thalib wafat di Makkah dua tahun sebelum hijrah, jadi tidak cocok dengan faktanya dan tidak dapat dibuat dalil (lihat,Tafsir Al-Munir,,juz 6,hal.61). Begitu pula, ayat at-Taubah:113 hanya perintah kepada Nabi Muhamad secara umum, bukan keprihatinan untuk sesuatu, yang tidak dilakukan Nabi. Begitu pula, apabila kita melihat ayat selanjutnya (114) yang menunjuk -kan bahwa ayat ini adalah, perintah Allah kepada Nabi Ibrahim yang memohonkan ampun untuk pamannya, Azar [jangan salah, nama ayahnya adalah Tarukh. silahkan baca halaman sebelumnya] sebelum beliau mengetahui bahwa pamannya ini adalah musuh Allah. Quran menyebutkan, “…Apabila telah jelas baginya bahwa ia (Azar) adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri darinya.....” (QS. at-Taubah : 114)

Begitu pula, surah at-Taubah ini, turun pada tahun 9 Hijriah. Surah ini diturunkan pada peristiwa peperangan Tabuk, yaitu pada bulan Rajab 9 H. Nabi Muhamad Saw. telah memerintahkan Abu Bakar r.a. untuk mengumumkan bagian pertama surah ini, pada musim haji di tahun itu, ketika Nabi mengutusnya sebagai Amirul Hajj. Lalu, ia mengutus Imam Ali untuk mengambil alih tugas Abu Bakar dan mengumumkannya, dan Nabi Saw., bersabda, ‘Tiada seorangpun yang membawa surah ini kepada mereka, kecuali salah satu dari Ahlulbaitku’.( Sahih at-Turmudzi, jilid 2, hal. 183, jilid 5, hal. 275, 283; Musnad Ahmad Ibnu Hanbal, jiiid 1, hal. 3,151, jilid 3, hal. 212, 283; Fadhail as-Sahabah, Ahmad bin Hanbal, jilid 2, hal. 526, hadis 946; Mustadrak Hakim, jilid 3, hal. 51; Khasaish al-Awiya, Nasa’i, hal. 20; Fadhail al-Khamsah, jilid 2, hal. 343; Siratun Nabi, Syibli Numani, jilid 2, hal. 239.)

  • Adapun, ayat Al-An’am:26, jelas ditujukan orang yang masih hidup. Di ayat itu disebutkan, Mereka melarang (orang lain) mendengarkannya (AlQuran) dan mereka sendiri menjauh- kan diri dari padanya.. Orang yang telah wafat, tidak dapat melarang seseorang untuk mendengarkan Al-Quran, dan diapun tidak dapat melakukannya. Oleh karena itu, ayat tersebut tidak tepat ditujukan kepada Abu Thalib, yang telah wafat.
  • Begitu juga hadis dan ayat tersebut tidak menyebut secara manthuq (tekstual) yang jelas, tentang kekafiran Abu Thalib, sehingga masih ada peluang bagi kita untuk bersangka baik dengan beliau. Dan itu jauh lebih selamat dan aman bagi kita.
  • Hadis dari Habib bin Tsabit diatas, rangkaian perawinya putus setelah Habib bin Abu Tsabit. Sufyan dan lainnya tidak menyebut nama orang yang meriwayatkan dari Habib, hanya mengatakan ia (Habib) meriwayatkan dari seseorang, yang mendengar dari Ibnu Abbas. Menurut Ibnu Hibban, Habib adalah seorang ‘penipu’, ia telah menyalin hadis yang benar-benar mutlak tidak dapat diterima. Ibnu Khuzaimah berpendapat, Habib adalah seorang ‘penipu’. Ad-Dzahabi menulis tentang hadis itu, riwayat yang dibuat Sufyan, itu palsu. (Mizan al-Itidal, Dzahabi, jilid 1, hal. 396.). Oleh karena itu, hadis dari Habib ini tidak dapat dijadikan dalil untuk mengkafirkan Abu Thalib.
  • Justru ada hadis dengan redaksi yang lain, memperkuat argumen pertama tersebut, diriwayatkan oleh Imam Muslim, Tirmidzi dan Al-Baihaqi dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda kepada pamannya; ‘Wahai pamanku, ucapkanlah la ilaaha illallah, niscaya aku akan bersaksi untukmu disisi Allah pada hari Kiamat’. Abu Thalib menjawab, ‘Seandainya kaum Quraisy tidak mencelaku dengan berkata, ’Tidak ada yang mendorong mengucapkannya, kecuali karena kesedihannya menghadapi maut, niscaya aku mengucapkan nya untukmu. Maka, turunlah firman Allah surah Al-Qashash:56 itu (DR.Wahbah Zuhaili,juz 10,hal.498, Tafsir Ibnu Katsir,Mukhtashor, Ali as-Shobuni,juz 3,hal 19)’.
  • Begitu pula,al-Zajjaj berkata; ‘”Telah sepakat umat islam, ayat 56 dari al-Qoshosh itu turun terkait pada Abu Thalib, yang ketika itu beliau berkata disaat jelang kematiannya (kepada orang-orang Quraisy): ‘Wahai masyarakat Bani Abdi Manaf, taat lah kalian dan benarkan (shoddiquhu) oleh kalian ajaran Muhamad, maka kalian akan sukses dan mendapatkan petunjuk’. Maka bersabda Nabi Saw., ‘Wahai pamanku, engkau menasehati mereka dan engkau meninggalkan dirimu’? Berkata Abu Thalib: ’Maka apa yang kamu inginkan wahai keponakanku?’. Bersabda Nabi Saw: ‘Saya menginginkan darimu hanya satu kalimat saja, agar di akhir hidupmu ini di dunia hendaknya dengan berkata laa ilaaha illallah, dengan kalimat itu saya akan bersaksi di sisi Allah Swt {kelak dikemudian hari}’. Berkata Abu Thalib: ’Wahai keponakanku, sungguh saya tahu kalau [ajaran]mu benar, namun saya enggan dikatakan [kalau mengucapkan kalimat tersebut] sebagai kesedihan saja dalam menghadapi kematian. Kalau seandainya, [setelah mengucapkan kalimat tersebut] tidak terjadi pada dirimu dan bagi ayahmu penghinaan dan celaan pasca kematianku, sungguh aku akan mengatakan itu dihadapanmu, ketika aku berpisah [mati], ketika aku lihat besarnya rasa cintamu dan nasehat- mu. Namun, sepertinya saya akan wafat di atas agama Abdul Muthollib, Hasyim dan Abdi Manaf. [Tafsir Al Munir, Wahbah juz 10 ,hal 499-500].
  • Riwayat hadis dari Imam Bukhari pada bab Kematian; “Sekembalinya dari gunung, Nabi Muhamad hampir tidak pernah melewatkan hari-harinya dalam kedamaian setelah Abu Thalib dan Khadijah wafat. Beliau mengunjungi Abu Thalib terakhir kalinya, ketika sedang menjelang ajal. Abu Jahal dan Abdullah bin Umayah telah berada di sana. Nabi meminta Abu Thalib untuk mengucap dua kalimat syahadat, sehingga ia akan memberi kesaksian tentang keimanannya di hadapan Allah. Abu Jahal dan Ibnu Umayah bertengkar dengan Abu Thalib dan bertanya apakah ia akan berpaling dari agamanya Abdul Muthalib. Pada akhirnya, Abu Thalib berkata, ia akan mati dalam agama Abdul Muthalib. Kemudian, ia berpaling kepada Nabi Muhamad dan berkata, ia akan mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi takut kalau-kalau ada orang Quraisy menuduhnya takut mati. Nabi Muhamad bersabda, ia akan berdoa kepada Allah baginya, hingga Allah memberi perlindungan”.(kalimat terakhir diambil dari Sahih Muslim dan bukan dari Bukhari).

Abu Thalib enggan mengucapkan kalimat syahadat, bukan karena tidak beriman dengan kalimat tersebut, namun karena Taqiyah (membela diri dengan menyembunyikan keimanannya) agar terhindar dari celaan orang Quraisy, yang akan menganggapnya masuk Islam, karena mau wafat saja. Padahal, hakekatnya dibatin beliau telah menerima keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini dibuktikan, dalam tarikh/sejarah, ketika Abu Thalib mengajak Nabi pada saat umur 9 tahun ke Syam dan bertemu pendeta/rahib Bahira yang melihat tanda kenabiannya dan hal itu disampaikan ke Abu thalib agar berhati-hati karena orang-orang yahudi tidak menyukai hal itu (Zaadul Maa’ad,juz 1,hal.37).

  • Begitu pula, riwayat hadis Imam Bukhori dari Musayab r.a. yang menyebutkan, dua ayat ,at-taubah dan al-qashash, turun berturut-turut, bertolak belakang dengan hadis yang disebutkan imam Bukhari dalam Sahihnya dari Bara, “Surah terakhir yang turun adalah surah at-Taubah…” (Sahih al-Bukhari, Kitabul Tafsir, versi bahasa Inggris, jilid 6, hal. 102, hadis 129). Sumber hadis lainnya, menegaskan, ‘surah at-Taubah adalah surah yang terakhir turun dan merupakan surah Madaniyah’, adalah; Tafsir al-Kusyaf, jilid 2, hal. 49; Tafsir Qurthubi, jilid 8, haI. 273; Tafsir al-Itqan, jilid l, hal. 18; Tafsir Syaukani, jilid 3, hal. 316).
  • Riwayat Imam Bukhari diatas yang perawi terakhirnya adalah Musayab, tidak tepat untuk dijadikan dalil atas kekafiran Abu Thalib menjelang wafatnya. Musayab baru masuk Islam setelah tumbangnya kota Makkah, dan ia tidak berada di tempat kejadian ketika Abu Thalib wafat. Oleh karena itu, Al-Aini dalam Tafsirnya menyatakan, hadis ini mursal.
  • Begitu pula, surah al-Qashash, turun di Makkah, kira-kira 10 tahun sebelum surah at-Taubah (turun di Madinah). Jelas sudah, dua ayat ini tidak turun berturut-turut! Surah Al- Qoshosh: 56 itu, tidak ada pada zohirnya ayat tersebut, yang menunjukkan tentang kekafiran Abu Thalib. Seolah-olah ayat tersebut, menginfokan kepada Nabi Saw. bahwa hidayah pamannya itu, adalah berada dalam urusan Allah Swt.
  • Abbas bin Abdul Muthalib, menjelang kewafatan Abu Thalib, mendekatkan telinganya ke bibir Abu Thalib dan berkata, ia telah mengucapkan kalimat (kalimat syahadat) yang kau minta, ya Rasulallah. (Ibnu Hisyam,edisi Kairo, hal. 146., riwayat serupa dalam Tarikh Abu Fida, jilid l, hal.120, Baihaqi dalam Dalail Nubuwah, jilid 2, hal.101, Sibli Numani dalam Siratun Nabi jilid 1, hal. 219-220). Dengan demikian, pernyataan syahadatnya sebelum beliau wafat, dicatat pula oleh para sejarahwan ahlus Sunnah.
  • Meskipun, menyembunyikan keimanannya, Abu Thalib telah mengungkapkan keimanannya kepada Islam, sebelum beliau wafat lebih dari satu peristiwa., sebelum ia wafat. Menjelang ajalnya, Abu Thalib berkata kepada Bani Hasyim:

“Aku perintahkan kepada kalian untuk berbuat baik kepada Muhamad. Ia, adalah orang yang paling terpercaya di antara suku Quraisy dan paling benar di kalangan bangsa Arab. Ia, membawa ayat yang diterima oleh hati dan disangkal oleh bibir karena takut permusuhan. Demi Allah, barangsiapa yang mengikuti petunjuknya ia akan mendapat kebahagiaan di masa datang. Dan kalian Bani Hasyim, masuklah kepada seruan Muhammad dan percayailah dia. Kalian akan berhasil dan diberi petunjuk yang benar. Sesungguhnya ia adalah penunjuk ke jalan yang benar.” (al-Muhabil Bunya, jilid 1, hal. 72; Tarikh al-Khantis, jilid 1, hal. 339; Balughul Adab, jilid 1, hal. 327; as-Sirah al-Halabiyah, jilid 1, hal. 375; Sunni al-Muthalib, jilid 5; Uruzul Anaf, jilid 1, hal. 259; Tabaqat Ibnu Sa’d, jilid l, hal. 123). Wallahu’alam. Silahkan baca uraian berikutnya.

 

Riwayat-riwayat lain mengenai Abu Thalib

Berikut, kami tambahkan beberapa riwayat yang berkaitan dengan Abu Thalib dan Pembelaan beliau kepada Rasulullah Saw:

Pernikahan Nabi Muhamad Saw.

  • Abu Thalib berkata kepada para lelaki Quraisy yang hadir pada pernikahan Nabi Muhamad Saw:

“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kami keturunan Ibrahim dan keturunan Ismail. la menganugrahi kita Rumah Suci dan tempat berhaji. la menjadikan kita tinggal di tempat yang suci (haram), tempat segala sesuatu tumbuh. la menjadikan kami penengah dalam urusan lelaki dan menganugrahi kami negeri tempat kami bernaung.

Kemudian, ia melanjutkan: Sekiranya Muhamad, putra saudaraku Abdullah bin Abdul Muthalib, disandingkan dengan lelaki di kalangan bangsa Arab, ia akan mengagung- kannya. Tidak ada seorangpun yang sebanding dengannya. la tidak tertandingi oleh lelaki manapun, meskipun kekayaan- nya sedikit. Kekayaan hanya kepemilikan sementara, dan penjaga yang tak dapat dipercaya. Ia telah mengungkapkan niatnya kepada Khadijah, demikian pula dengan Khadijah, ia telah menunjukkan niatnya kepadanya. Karena setiap pengantin harus memberikan mahar, sekarang ataupun di masa nanti, maharnya akan aku beri dari kekayaanku sendiri”. (Sirah al-Halabiyyah, jilid 1, hal. 139.)

  • Sikap Abu Thalib terhadap kemenakannya, Nabi Muhamad Saw., jasa-jasanya terhadap penyebaran Islam dan pernyataan keislamannya, banyak diriwayatkan oleh para pakar Islam. Sejarah Islam telah mencatat, bagaimana suku Quraisy sering memberikan peringatan, mengancam kepada Abu Thalib untuk menghentikan kemenakannya, dalam menyebarkan  agama Islam, yang bertentangan dengan agama nenek moyang mereka.

Namun, Abu Thalib tidak menekan kemenakannya untuk menghentikan syiarnya mengenai Islam. Dia hanya memberitahu tentang peringatan suku Quraisy dan dengan lembut berkata kepada Rasulallah Saw., “Selamatkanlah aku dan dirimu, wahai kemenakanku, dan janganlah engkau bebani aku dengan sesuatu, yang tidak dapat aku pikul !”

Ketika Nabi Muhamad Saw. menolak peringatan tersebut, mengatakan pada pamannya, ‘aku tidak akan mengubah pesan pemilik semesta alam’. Abu Thalib langsung mengubah sikapnya, dan memutuskan untuk bergabung dengan Nabi Muhamad ,hingga akhir hayat. Pernyataan Abu Thalib kepada Nabi Muhamad Saw., “Kembalilah, kemenakanku, lanjutkanlah, katakanlah semua yang engkau sukai. Aku, tidak akan pernah meninggalkanmu setiap saat.” (Sirah Nabi Muhamad, Ibnu Hisyam, jilid 1, hal. 266; Tabaqat Ibnu Sa’d, jilid 1, hal. 186, Tarikh at-Thabari, jilid 2, hal. 218; Diwan Abu Thalib, hal. 24; Syarh Ibnu al-Hadid, jilid 3, hal. 306; Tarikh, Ibnu Katsir, jilid 2, hal. 258; Tarikh, Abu Fida, jilid l, hal. 117; as-Sirah al-Halabiyyah, jilid 1, hal. 306).

 

  • Pada suatu peristiwa, Abu Thalib berkata, “Aku meyakini, agama Muhamad adalah, agama yang paling benar dari semua agama, yang ada di alam semesta.” (Khazanatal Adab, Khatib Baghdadi, jilid 1, ,hal. 261; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 42; Syarh, Ibnu Hadid, jilid 3, hal. 306; Tarikh, Abu Fida, jilid l, hal. 120; Fathul Bari (syarah Sahih al-Bukhari), jilid 7, hal. 153; al-Ishabah, jilid 4, hal. 116; As-Sirah al-Halabiyyah, jilid l, hal. 305; Talba tul Thalib, hal. 5.). Jelas, peristiwa tersebut, pernyataan yang membuktikan keislaman Abu Thalib.
  • Suku Quraisy rencana akan membunuh Nabi Muhamad Saw. dan keluarganya. Mereka membuat sebuah perjanjian, agar tidak ada seorangpun yang memiliki ikatan perkawinan dengan Bani Hasyim atau melakukan transaksi jual-beli dengan mereka. Dan tidak ada orang yang boleh berhubungan dengan mereka atau memberi persediaan makanan, hingga mereka semua binasa. Perjanjian ini, digantungkan di pintu Kabah. Dalam keadaan seperti ini, memaksa Abu Thalib beserta seluruh keluarganya, menyingkir ke sebuah gunung yang dikenal dengan ’Syi’ib Abi Thalib’.

Bani Hasyim benar-benar diasingkan dari seluruh penduduk kota. Bentengpun dikepung oleh suku Quraisy untuk menambah penderitaan mereka, dan mencegah kemungkinan mendapat persediaan makanan. Akhirnya, kelompok Abu Thalib kelaparan, karena tidak mendapat makanan. Di bawah pengawasan suku Quraisy yang sangat ketat, Abu Thalib merasa takut kalau-kalau ada serangan di malam hari. Oleh karena itu, dia senantiasa menjaga keamanan kemenakannya dan sering berganti ruang tidur, sebagai tindakan pencegahan bila ada serangan mendadak.

Menjelang tahun ketiga pengasingan tersebut, Nabi Muhamad memberitahu pamannya ini, Allah telah menunjukkan ketidakridhaan-Nya pada perjanjian tersebut, dan mengirim cacing-cacing untuk melumat setiap kata yang tertulis di dokumen yang tergantung di pintu Kabah, kecuali nama-Nya (Allah).

Abu Thalib yang mempercayai kemenakannya sebagai penerima wahyu dari langit, tanpa ragu pergi menemui orang-orang Quraisy, mengatakan kepada mereka apa yang telah diceritakan Muhamad kepadanya. Percakapannya Abu Thalib dicatat para pakar sejarah, sebagai berikut:

Muhamad telah memberitahu kami, dan aku ingin bertanya kepada kalian, sebagai bukti kepada kalian. Apabila (dia) benar,  aku meminta kalian untuk memikirkan kembali dari pada menyengsarakan Muhamad atau munguji kesabaran kami. Percayalah kepada kami, kami lebih suka mempertaruhkan nyawa kami daripada menyerahkan Muhamad kepada kalian. Dan, jika Muhamad terbukti salah dalam ucapannya, maka kami akan menyerahkan Muhamad kepada kalian, tanpa syarat. Kalian bebas memperlakukan- nya, membunuhnya atau membiarkannya tetap hidup.

Mendengar tawaran Abu Thalib, suku Quraisy sepakat untuk memeriksa dokumen tersebut, dan mereka terkejut ketika melihat dokumen itu telah dimakan ular, hanya nama Allah saja, yang masih tertulis di sana. Mereka berkata, hal itu adalah sihir Muhamad. Abu Thalib marah kepada suku Quraisy, dan mendesak mereka agar menyatakan, ‘dokumen tersebut digugurkan dan pelarangan itu dihapus- kan’. Kemudian dia (Abu Thalib) menggenggam ujung kain Kabah, dan mengangkat tangan satunya ke atas lalu berdoa, Ya Allah! Bantulah kami menghadapi orang-orang yang telah menganiaya kami…!” (Tabaqat Ibnu Sa’d, jilid 1, hal. 183; Sirah Ibnu Hisyam, jilid l, hal. 399 dan 404; Awiwanui Ikbar, Qutaibah, jilid 2, hal. 151; Tarikh, Ya’qubi, jilid 2, hal. 22; al-Istiab, jilid 2, hal. 57; Khazantul Ihbab, Khatib Baghdadi, jilid 1, hal. 252; Tarikh, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 84; al-Khasais al-Kubra, jilid 1, hal. 151; as-Sirah al-Halabiyah, jilid 1, hal. 286).Wallahua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya