Abdul Muthalib dan kisah pasukan Gajah

Abdul Muthalib,  dan Kisah pasukan Gajah

Sebagian kelompok Muslimin ,khususnya kelompok Wahabi-Salafi dan pengikutnya, tidak akan berhenti dan secara gencar untuk menyebarkan versi hadis yang menyatakan, kekafiran orang tua Rasulallah shalllahu'alaihi wa sallam dan paman beliau shalllahu'alaihiwasallam, Abu Thalib. Mereka mencari semua riwayat untuk memperkuat argumen- nya dalam menjelekkan keluarga Rasulallahshalllahu'alaihiwasallam. 

 

Padahal, riwayat-riwayat tersebut masih diperselisihkan kebenarannya oleh para sejarawan dan pakar hadis, baik secara aqli (akal) maupun naqli (nash). Hal yang demikian, sudah tentu akan menyedihkan Rasulallah Saw. Allah Swt. berfirman, “Sesungguhnya  orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah akan melaknatinya di dunia dan akhirat, dan disiapkan bagi mereka siksa yang menghinakan. (QS.Al-Ahzab [33]:57).

 

Ibnu al-Atsir di dalam kitabnya Usud al-Ghabah : “Ketika Ikrimah bin Abu Jahal masuk Islam, banyak orang yang berkata: ‘Wah!, ini adalah anak musuh Allah, Abu Jahal’. Ucapan ini menyakiti hati ‘Ikrimah, karenanya dia mengadukan perihal tersebut kepada Rasulallah shalllahu'alaihiwasallam. Kemudian beliau bersabda: “Janganlah kalian mencela ayahnya karena mencela orang yang sudah wafat, akan menyakiti orang yang masih hidup (keluarganya).”

 

Tujuan kami mengutip masalah ini, mengajak berprilaku sopan dan berprasangka baik terhadap keluarga Rasulallah shalllahu'alaihiwasallam dan tidak mudah menuduh kafir kepada mereka!!

Berikut, kami tulis riwayat Abdul Muthalib dengan peristiwa pasukan gajah, dan beberapa riwayat tentang keimanan keluarga Rasul shalllahu'alaihi wa sallam.

 

Abdul Muthalib

Allah Taáala berfirman;      

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ . أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ . وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ . تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ . فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ                                                                                              

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia (Allah) telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)." (QS. Al-Fiil [105]: 1-5)

 

Kisah singkat Pasukan Gajah dan Penyerangan Ka'bah

Pada saat Abdul Muthalib (kakek Rasulullah Saw.) menjadi pemimpin bangsa Quraisy, terjadi peristiwa pasukan Gajah, yang diabadikan Allah dalam Alquran surah al-Fiil.

 

Berikut, kami nukil secara singkat, inti dari riwayat penyerangan Ka’bah dari As-Sirah An-Nabawiyah karya Ibnu Hatim:

Seorang raja Yaman, keturunan Bani Kanisah di Shan’a (yaman utara) bernama Abrahah, berasal dari Habasyah (Ethiopia), penduduknya beragama Nasrani, yang telah menguasai Yaman. Ia, ingin agar ritual Haji di Arab, yang biasa dilakukan orang-orang Arab Makkah, dipindahkan ke Yaman. Dia bersumpah, akan memimpin seluruh bala tentaranya untuk menghancurkan Ka’bah.

 

Berangkatlah Abrahah dengan menunggang Gajah. Ketika Abrahah singgah di Al-Muhamis, dia mengirim pasukan berkuda yang dipimpin oleh Al-Aswad bin Maqshud untuk berangkat ke Makkah. Setibanya di Makkah, Al-Aswad disambut oleh penduduk Makkah. Dia merampas harta penduduk, termasuk 200 ekor onta milik Abdul Muthalib bin Hasyim yang berada di daerah Arik.

 

Bangsa Quraisy, Kinanah, Huzail dan seluruh penduduk Makkah ingin untuk menyerang pasukan Abrahah, tetapi tidak mempunyai kekuatan untuk melawan mereka. Lalu, Abrahah memerintahkan Hunathah al-Himyari, untuk mencari pemimpin dan pemuka penduduk kota Makkah, agar mengatakan kepadanya, ‘Sesungguhnya sang Raja berpesan kepadamu, kami datang bukanlah untuk memerangi kalian, kami datang hanya untuk menghancurkan tempat ibadah kalian (Ka’bah). Jika kalian tidak menghalangi niat kami, kami tidak perlu menumpahkan darah kalian, dan jika pemimpin kalian tidak berniat menghalangi niatku, hendaklah ia mendatangiku’.

 

Kemudian Hunathah menanyakan, siapakah pemuka bangsa dan tokoh orang Quraisy? Akhirnya, mendapat jawaban, pemimpinnya adalah, Abdul Muthalib bin Hasyim. Dia mendatangi Abdul Muthalib, dan menyampaikan pesan Abrahah kepadanya.

 

Abdul Muthalib berkata, “Demi Allah, kami tidak akan memeranginya, karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk memeranginya. Ini adalah rumah Allah yang mulia, dan rumah kekasih-Nya Ibrahim, jika Dia (Allah) menghalanginya, ini adalah rumah dan tanah haram-Nya. Dan jika Dia (Allah) membiarkan Abrahah menghancurkan Ka’bah, demi Allah, kami tidak mempunyai kekuatan untuk menahannya.”

 

Kemudian Hunathah berkata, “Berangkatlah bersamaku menuju pemimpin kami, sesungguhnya dia memerintah untuk membawamu kepadanya.” Mereka pergi bersama, setibanya di perkemahan Abrahah dan pasukannya bertemu Dzu Nafar, teman dekat Abdul Muthalib. Abdul Muthalib mendatangi Dzu Nafar dan berkata padanya, “Wahai Dzu Nafar, apakah kamu memiliki kekayaan yang bisa kamu berikan kepada kami?” Dzu-Nafar menjawab, “Tidaklah mungkin seorang yang tertawan memiliki kekayaan.

 

Bahkan, kami sendiri tidak merasa aman dari kematian, bisa jadi besok pagi ataupun sore hari nanti kami akan terbunuh. Akan tetapi, aku akan mengirim kamu ke Unais, pengurus ternak gajah. Aku akan memerintahkan padanya, agar menemui sang raja, agar sang raja akan memberikan sesuatu yang berharga untuk kamu. Dia bisa menyenangkan hatimu dan memberimu kedudukan tinggi di sisinya.”

 

Ketika bertemu dengan Unais, berkata Dzu Nafar kepada Unais, “Sesungguhnya ini (Abdul Muthalib) adalah pemimpin suku Quraisy, pemilik mata air Makkah (Zamzam) yang dengannya dia memberikan minuman kepada manusia di bumi dan binatang-binatang liar di pegunungan. Raja Abrahah, juga telah merampas onta miliknya yang berjumlah 200 ekor. Jika mau, kamu dapat mengambil manfaat darinya. Ambillah manfaat darinya, karena dia adalah teman dekatku.” Secara singkatnya, lalu Unais menemui Abrahah dan berceitera tentang pribadi Abdul Muthalib.

 

Ketika Abrahah berjumpa dengan Abdul Muthalib, dia pun menghargainya. Abrahah, tidak ingin ada orang Habasyah melihat Abdul Muthalib duduk di atas singgasana kerajaannya, tetapi Abrahah yang turun dari singgasananya dan duduk di permadani serta memerintahkan Abdul Muthalib duduk di samping-nya. Abrahah berkata kepada juru bicaranya, ‘Katakan kepadanya, apa yang ia perlukan?’ Lalu, juru bicara memberitahukan kepada Abrahah, jawaban Abdul Muthalib, ‘Keperluanku hanya agar raja mengembalikan 200 ekor onta yang dirampas’. 

 

Abrahah berkata, “Katakan kepadanya, ‘Awalnya di saat aku melihatmu, aku kagum kepadamu, selanjutnya aku jadi merendahkanmu ketika engkau menyampaikan keperluanmu. Mengapa engkau berbicara kepadaku tentang 200 ekor onta yang kurampas darimu? Dan engkau membiarkan rumah ibadahmu, milik agamamu dan agama nenek moyangmu yang akan kuhancurkan, mengapa engkau tidak berbicara  masalah hal ini?’”   Abdul Muthalib menjawab, “Aku adalah pemilik onta-onta tersebut, sedangkan tempat ibadah itu ada pemilik-Nya (Allah), yang akan melindunginya.” Kemudian Abrahah berkata dengan angkuh, “Dia (Allah) tidak akan menghalangiku.” Abdul Muthalib menjawab, “Hal itu terserah padamu.”

 

Akhirnya, Abrahah mengembalikan onta-ontanya dan ia dipersilahkan kembali ke Quraisy. Setelah Abdul Muthalib mendapatkan kembali onta miliknya, dia pun pergi. Dia mengabarkan kepada penduduk Quraisy dan menyarankan agar mereka mengungsi ke daerah perbukitan. Abrahah yang saat itu sudah berada di Mughamas, segera menyiapkan bala tentaranya untuk memasuki kota Makkah. Dia mendekati seekor gajah yang akan menjadi kendaraannya. Ia membawa segala sesuatu yang dibutuhkan.

 

Dengan angkuh dia pun berdiri di atas gajah. Akan tetapi, manakala dia menggerakkan gajahnya ke arah Makkah, tiba-tiba gajah tersebut tidak mau beranjak seakan-akan kakinya terikat dan berlutut (menderum). Para ajudan Abrahah, mencoba memukul kepala gajah tersebut dengan beliung, tetapi tetap tidak mau bergerak. Mereka, mencoba memasukkan kayu di bawah lekuknya, tapi tetap gajah itu tidak berkutik. Anehnya, ketika gajah tersebut di arahkan ke Yaman dan lain tempat, ia mau beranjak. Mereka kembali berusaha membelokkan ke Makkah, tapi gajah berhenti dan tidak mau berjalan.

 

Tidak lama kemudian, tiba tiba dari arah laut datang burung-burung Ababil dan setiap ekor burung membawa tiga batu. Dua batu di kakinya dan satu batu lagi di paruhnya, laksana membawa kacang dan adas. Burung-burung tersebut, berterbangan di langit menuju Abrahah dan bala tentaranya.

 

Batu-batu yang dibawa burung tersebut dihujamkan kebawah, siapa pun yang terkena batu tersebut pasti hancur binasa. Bala tentara Abrahah berjatuhan terkena batu itu, tetapi tidak semua bala tentara Abrahah terkena batu-batu tersebut. Abrahah pun berusaha menyelamatkan diri, tetapi batu tersebut sempat mengenai jari-jari Abrahah, sehingga menimbulkan luka dan rontok satu persatu. Dari jari-jarinya, keluar darah dan nanah. Abrahah pulang ke Yaman dan menderita sakit yang teramat parah. Abrahah tak ubahnya seperti tengkorak burung dan akhirnya Abrahah pun mati.

 

Dalam kitab sejarah, sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hisyam, Ibnu Ishak menuturkan, ‘ketika menjelang serangan akan datang, Abdul Muthalib berdiri depan pintu Ka’bah dan dibantu oleh berapa orang Quraisy. Mereka, berdoa kepada Allah agar menurunkan pertolongan-Nya untuk menghalangi Abrahah dan pasukannya. Abdul-Muthalib sambil memegang pintu Ka’bah seraya berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya seorang hamba hanya mampu melindungi kendaraannya, lindungilah rumah Engkau. Jangan Engkau biarkan pasukan salib dan agama mereka mengalahkan kekuatan-Mu esok hari.”

 

Kemudian, Abdul Muthalib membawa pintu Ka’bah dan berangkat bersama penduduk Quraisy menuju ke kawasan pegunungan. Dari sana, mereka mengawasi dan melihat apa yang akan dilakukan Abrahah, tatkala memasuki kota Makkah. Akan tetapi apa yang terjadi, Abrahah dan bala tentaranya binasa sebelum sampai di kota Makkah’.         

 

Sebagaimana yang telah dikemukakan, ketika Ka’bah akan diserang oleh pasukan Abrahah, Abdul Muthalib berdoa kepada Allah Swt  ,bukan kepada berhala Hubal dan lainnya, dan Allah Taáala mengabulkannya. Ini terbukti, Abdul Muthalib bukan musyrik penyembah berhala, tetapi seorang beriman kepada Allah Taáala.

Begitu pula,  apakah mungkin seorang penyembah berhala (musyrik) akn memberi nama salah satu anaknya, Abdullah (hamba Allah)?!  

 

Nama Abdullah ini, menunjukkan ayah dari anak ini seorang yang beriman kepada Allah, dan nama Abdullah ini, telah diabadikan dalam Al-Quran, sebagaimana firman-Nya dalam surah Maryam. Ketika masyarakat menuduh zina terhadap Siti Maryam, beliau menunjuk kepada bayinya (nabi Isa a.s.) dan atas kekuasaan Allah Ta'aala, si bayi ini berkata, "Sesungguhnya aku ini hamba Allah (Abdullah). Dia memberikan Al-Kitab (injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi." (QS maryam [19]:30).

Wallahua'lam

Silahkan ikuti kajian berikutnya.