Kesimpulan singkat

Kesimpulan singkat

Kelompok Wahabi, membanggakan penafsiran kaum Musyabbihah terhadap hadis di atas, dan membelakangi pemahaman jumhur ulama Islam!

Dari keterangan-keterangan semua itu, dapat kita simpulkan, anggapan mujassimah bahwa Allah itu berada di arah atas, adalah pendapat yang ditentang oleh Jumhur pakar ulama Islam! Disamping yang telah dikemukakan tadi, masih banyak lagi hadis Shifat yang tidak tercantum disini, yang ditakwil maknanya oleh para pakar hadis (antara lain Imam Bukhori, Muslim dan lainnya) sesuai dengan sifat Kemahasucian dan Kemahaagungan Allah Swt.  Umpama, dalam riwayat ada kata,  و جاء رَبُّكَ  arti secara bahasa; ‘Dan datanglah Tuhamu’, tapi ditakwil oleh para pakar hadis,جاء ثوابُهُ artinya: ‘Datang pahala-Nya’. Dan kata  الضحك   atau يَضْحَكُ  artinya secara bahasa tertawa, tapi ditakwil oleh para pakar berarti Rahmat, dan ada lagi yang mengartikan Kerelaan dan Kebaikan balasan

Tertawa yang di alami manusia, adalah dengan membuka mulut, dan tentunya makna ini mustahil disamakan maknanya atas Allah Swt.. Akan tetapi, golongan Mujasimah  dan mereka yang tertipu oleh syubhat kaum Mujasimah ini, lebih tertarik mengemukakan hadis-hadis dengan redaksi yang mendukung konsep dan pandangan Tajsim yang mereka yakini, walaupun mereka enggan disebut sebagai Pewaris Mazhab Mujassimah.

Di sini,  kita juga harus mencermati dan memahami dengan benar, perkataan para imam seperti Imam Syafi’i dan para imam lainnya, yang selalu dinukil oleh golongan Mujassimah. Apakah para imam itu, menghendaki makna seperti golongan Mujassimah terjemahkan? Apakah jika para imam itu tidak melakukan ta’wil, berarti mereka memaknai- nya seperti yang golongan Mujassimah terjemahkan? Disinilah letak masalahnya! 

Para Ulama dalam menyikapi ayat-ayat/hadis-hadis sifat mempunyai beberapa tiga pendapat/aliran:

  • Golongan ulama mentafwidh artinya, tidak berkomentar Mereka tidak memberikan arti apapun tentangnya. Mereka menyerahkan pemaknaan- nya kepada Allah Swt.. Artinya, para ulama golongan ini tidak mau melibatkan diri dalam menafsirkannya, tafsirnya adalah bacaannya itu! Jadi gologan ulama ini, tidak memiliki aliran, tetapi, mereka ini tidak berarti menjadi menta’thil (menafikan) dari penyifatan! Itu hanya khayalan kaum mujassimah dan musyabbihah belaka!
  • Golongan ulama yang menakwilkannya, dengan penakwilan tertentu, yaitu memberikan penafsiran yang sesuai dengan ke-Maha-sucian dan ke-Maha-agungan Allah Swt., ini dibolehkan.
  • Golongan lainnya lagi, mengartikan kata-kata sifat itu secara literal. Kata: Yanzilu diartikan turun secara literal;  Yadun diartikan tangan secara literal; dhohika diartikan tertawa secara literal, dan begitu seterusnya. Ini semua menjurus kepada tajsim dan tasybih Allah Swt. kepada Makhluk-Nya. Karena secara bahasa dhahika itu tertawa, dan tertawa itu artinya jelas dalam kamus-kamus bahasa Indonesia maupun bahasa Arab. Kata yanzilu secara bahasa artinya turun, dan turun itu meniscayakan adanya perpindahan dan perpindahan itu meniscayakan adanya gerak, dan gerak itu adalah konsekuensi dari sifat benda, itu jelas sekali! Kalau kata yanzilu tanpa perpindahan dan gerak ya namanya bukan yanzilu! Itu berarti, memaknai kata itu bukan dengan makna bahasa sesungguhnya!

Sebagaimana yang telah dikemukakan tadi, kelompok Mujassimah untuk menetapkan kesucian Allah Swt., mereka mengatakan; Allah Swt. mempunyai jasmani namun tanpa bentuk, Allah  mempunyai darah namun tanpa bentuk, Allah mempunyai daging namun tanpa bentuk, dan Allah mempunyai rambut namun tanpa bentuk dan sebagainya!  Ini semua adalah keyakinan yang tidak benar!  

Marilah kita renungkan sebagian isi khutbah Amirul Mukminin Imam Ali Bin Abi Thalib k.w. yang ditukil dari Kitab Nahjul Balaghah di bawah  ini. Imam Ali sedemikian indah menjelaskan mengenai sifat Allah Swt.:

Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tidak terlukiskan oleh pembicara. Tidak terhitung nikmat-Nya oleh para penghitung. Hak-Nya akan pengabdian tidak akan terpenuhi oleh para pengupaya. Tidak dapat dicapai Dia oleh ketinggian intelek dan tidak pula terselami oleh pemahaman yang bagaimanapun dalamnya. Ia, yang sifat-Nya tiada terbatasi lukisan, pujian yang tepat tidaklah maujud (Maha ada). Sang waktu tidaklah dapat memberi batas, dan tidak kurun yang mengikat-Nya. 

Pangkal agama adalah ma’rifat-Nya, dan kesempurnaan ma’rifat-Nya adalah membenarkan-Nya dan kesempurnaan iman kepada keesaan-Nya adalah ikhlas kepada-Nya, dan kesempurnaan ikhlas kepada-Nya, adalah menafikan sifat yang diberikan kepada-Nya, karena setiap sifat membuktikan bahwa ia bukanlah yang disifati dan setiap yang disifati membuktikan bahwa Ia bukanlah sifat.  

Dan barangsiapa menyifatkan Allah yang Maha Suci, maka ia telah memberikan pasangan kepada-Nya. Dan barangsiapa memberi pasangan kepada-Nya, ia telah menggandakan-Nya. Dan barangsiapa menggandakan- Nya, ia telah membagi-bagi-Nya. Dan barangsiapa membagi-Nya, ia telah berlaku jahil kepada-Nya. Dan barangsiapa berlaku jahil kepada-Nya berarti ia telah menunjuk-Nya. Dan barangsiapa menunjukkan-Nya, berarti telah memberi batas kepada-Nya.

Dan barangsiapa membatasi-Nya, berarti memberi jumlah kepada-Nya.Dan barangsiapa berkata; ‘Di dalam apa Dia berada’ maka ia telah menyisipkan- Nya, dan barangsiapa berkata; ‘Di atas apa Dia berada’ maka sungguh Ia lepas dari hal tersebut.  

Dia maujud, Maha ada, tetapi tidak muncul dari proses kejadian. Ia ada, tetapi tidak dari tiada. Ia bersama segala sesuatu, tapi tidak berdampingan. Dan Ia tidak bersama segala sesuatu, tanpa saling berpisahan. Ia bertindak, tetapi tidak berarti ia bergerak dan menggunakan alat. Ia Maha Melihat tapi tidak tergantung makhluk untuk dilihat. Ia Maha Esa dan tiada sesuatupun yang menemaninya, dan tidak merasa sepi karena ketiadaan”. Wallahua'lam. Silahkan baca uraian berikutnya.