Siapa kelompok Wahabi-Salafi dan bagaimana fahamnya?

 

Riwayat singkat Muhamad Ibnu Abdul Wahab

Menurut riwayat, Muhamad bin Abdul Wahab ,imam dari golongan Wahabi-Salafi, lahir didesa  Ainiyah  di Nejdi, Hijaz (sekarang Arab Saudi)  tahun 1115 H wafat tahun 1206 H bertepatan tahun 1787M dalam usia 91 tahun (riwayat kapan lahir dan wafat beliau beragam). Pada waktu itu Hijaz, termasuk Makkah dan Madinah berada dibawah kekuasaan syarif-syarif Makkah dan dibawah naungan kerajaan Turki Usmaniyah. Dia belajar agama tingkat permulaan kepada ayahnya sendiri Syeikh Abdul Wahab, seorang ulama ahlus sunnah wal jama’ah, yang bermazhab Hanbali.  Pada waktu remaja, Muhamad bin  Abdul Wahab pergi naik haji ke Makkah, dan ke Madinah menziarahi pusara Nabi Muhamad Saw..

Setelah mengerjakan Haji, dia  kembali ke Nejdi. Dia melanjutkan perjalanannya, untuk tinggal di  Makkah dan Madinah sebagai pelajar. Disinilah dia mulai terpengaruh pada kitab-kitab Ibnu Taimiyah yang mengharamkan; tawasul, istighotsah, ziarah ke makam-makam walaupun ke makam Nabi dan para wali. Dia juga  terpengaruh dengan ajaran Ibnu Taimiyah, Allah berada diatas, Allah duduk bersela dan lain sebagainya. (lebih detail baca uraian berikut mengenai tajsim di site ini).

Dalam kitab Munjid halaman 568 ditulis, "Wahabiyah adalah, sebagian dari Firqah Islamiyah didirikan oleh Muhamad bin Abdul Wahab (1702-1787 M). Lawannya menamakan Wahabiyah, tetapi pengikut-pengikutnya menamakan Al-Muwahidun. Dalam fikih, mereka berpegang kepada mazhab Hanbali yang disesuaikan dengan pendapat Ibnu Taimiyah”. Namun, para ulama Wahabi tidak marah kalau mereka diberi gelar ‘Wahabi’, dan bahkan ada sebuah kitab mereka yang berjudul, ‘Al-Hidayatus Suniyah wa Tuhfatul Wahabiyah an Nijdiyah’.

Nama ‘Wahabi’ atau ‘al-Wahabiyah’ sendiri kelihatannya dihubungkan kepada nama imamnya, Muhamad Abdal-Wahab, al-Najdi. Mereka menamakan pula kelompoknya ‘Salafi’ atau pengikut mazhab “Salafus Saleh” (pengikut kaum Salaf). Alasannya, mereka bercita-cita mengembalikan ajaran-ajaran tauhid dan  menjalankan kehidupan murni menurut Sunnah Rasulallah Saw. Muhamad bin Abdul Wahab melihat ,menurut kacamata Ibnu Taimiyah, banyak sekali amal ibadat umat islam Madinah yang berlawanan dengan sunnah Rasulallah Saw. Umpamanya, berbondong-bondong ke Madinah menziarahi makam Nabi Saw, makam Sayidina Hamzah di Uhud dan lain sebagainya. Menurutnya, semua ini ‘Bid’ah’.

Yang paling tidak disenanginya, melihat  seorang mendoa di hadapan makam Nabi Saw. sambil menghadap kepada pusara beliau Saw., bukan menghadap ke Ka’bah. Inipun  tidak lepas dari tuduhan ‘Syirik’. Begitu pula, orang yang mengucapkan ‘Ya Rasulallah’ dihadapan pusara beliau Saw, termasuk ’Syirik’. Karena kejengkelan melihat semuanya ini, dia pulang kedesanya Ainiyah di Nejdi. Didesanya ini, ia mulai membuka pengajian dan langsung memfatwakan bahwa bepergian  ziarah ke makam Nabi adalah  Maksiat. Penduduk desanya ini tidak terima fatwanya. Ia diusir oleh penguasa desanya bernama Usman bin Hamad bin Ma’mar, tanpa diberi ongkos. Usman bin Hamad memerintahkan kepada pengawalnya, agar dia dibunuh waktu diperjalanan (Kasfus Syubahat hal. 5). 

Tetapi iradat Tuhan belum berlaku, ia tidak terbunuh. Dia kemudian pergi ke Basrah, Irak. Di Basrah, dia mengeluarkan fatwa-fatwa ganjil lagi, sehingga ia pun diusir  lagi dari Basrah. Dia ingin melanjutkan perjalanannya ke Bagdad dan Siria, tetapi tidak punya biaya. (Muqaddimah kitab Kasfus Syubahat, oleh Muhamad bin Abdul Wahab, hal.4).

Oleh karena itu, dia pergi ke Hassa yang tidak jauh dari Basrah. Pada mulanya, dia berlindung pada penguasa Hassa ,Syeikh Abdullah bin Abdul Latif. Namun, akhirnya penguasa ini mengusirnya pula, karena tidak menyetujui fatwa-fatwanya. Kemana saja dia pergi, selalu diusir karena fatwa-fatwanya yang salah, berlawanan denga para ulama pada zamannya, termasuk saudaranya sendiri yang bernama Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab. 

Kemudian dia pindah lagi kesebuah negeri, Dur’iyah. Nama Raja Dur’iyah, Muhamad bin Sa’ud. Muhamad bin Abdul Wahab membutuhkan pertolongan seorang penguasa yang dapat melindunginya, karena dia selalu dikejar-kejar dan diusir oleh penguasa-penguasa negeri yang didiaminya. Sedangkan Muhamad bin Sa’ud membutuhkan pula seorang ulama, yang dapat menasihati rakyatnya dengan pelajaran-pelajaran agama, yang bisa mengokohkan kekuasaannya.

Dengan bantuan Raja Dur’iyah ini, Muhamad Abdul Wahab bebas mengembangkan ajaran-ajarannya, muridnya bertambah banyak dan berkembang kedesa-desa sekitarnya. Pengaruh dan kekuasaan Wahabi-Sa’ud ini, tambah lama tambah kuat, sehingga dapat menyerbu Hijaz dan menduduki Makkah, Madinah, selama 10 tahun (1802 M -1812M). Dua tahun menduduki Makkah, mereka mengirim tiga orang putra Minangkabauhaji Miskin, haji Piobang dan haji Sumanik–yang bermukim di Makkah, untuk menyiarkan ajaran-ajaran Wahabi di Minangkabau. Ketiga orang ini, bergabung dengan Tuanku Nan Renceh di Kamang Bukittinggi, untuk membangun gerakan yang bernama ‘Gerakan Paderi’, yang pada hakikatnya adalah Gerakan Wahabi. Ketika Wahabi berkuasa di Makkah,  meruntuhkan kubah-kubah di pekuburan Ma’la dan Baqi’, tetapi tidak sampai meruntuhkan Kubbatul Khudra, yaitu kubah hijau diatas makam Rasulallah Saw. di Madinah.

Setelah 10 tahun di Makkah, mereka diusir oleh tentara Raja Mesir ,Muhamad Ali, dengan pimpinan anaknya, Jendral Ibrahim Pasya. Mereka bukan saja diusir, tetapi diburu sampai ke Nejdi, dan Raja ,ketika itu Muhamad Sa’ud al Kabir,  ditangkap dan dibawa ke Mesir terus ke Istanbul dan dihukum mati disana. Raja Mesir waktu itu, dibawah naungan Kerajaan Turki. Kerajaan Saudi hancur, tetapi pengikut-pengikutnya berserakan, bersembunyi kedesa- desa di Nejdi. Mereka ini, dapat menyerbu kembali kota Hijaz (sekarang Arab Saudi) dan menduduki Makkah, Madinah, dari tahun 1924 sampai sekarang. Nama Raja yang menyerbu Makkah ,Abdul Aziz bin Abdurrahman Ali Faishal,  ayah dari raja Faisal yang berkuasa pada tahun 1972. Muhamad Abdul Wahab, mendapat julukan dari pengikut-pengikutnya sebagai seorang Muslih, seorang ‘Pemodernisasi agama’, dan seorang yang berfaham modern serta maju. Demikianlah riwayat hidup singkat Muhamad Ibnu Abdul Wahab.

 

Konsep-konsep ajaran Muhamad bin Abdul Wahab

Dalam bidang ushuluddin harus menganut faham Ibnu Taimiyah; Dalam bidang fikih harus memakai mazhab Hanbali, tetapi sering berlawanan dengan mazhabnya; Mazhab Syafi’i harus dibuang; Melarang keras umat Islam berdoa dengan tawasul; Melarang bepergian ziarah kubur, walaupun pada pusara Rasulallah Saw (Info: Adapun jamaah haji di-izinkan ke Madinah pada masa Wahabi berkuasa ini, menurut faham mereka  jamaah haji menziarahi masjid, bukan untuk menziarahi Rasulallah Saw.); Menghancurkan tugu-tugu peringatan, termasuk gedung besar yang dibangun diatas tempat lahirnya Nabi Saw di Suq al leil, menghancurkan kubah-kubah kuburan. Semuanya ini, dianggap oleh mereka menjadikan orang musyrik; Melarang membaca qasidah, yang isinya memuji Nabi Saw. dan menceriterakan riwayat hidup beliau Saw, seperti kitab Barzanji, kitab Burdah dan lain sebagainya; Melarang umat Islam merayakan dan memperingati maulid Nabi Saw; Melarang membaca ‘sifat dua puluh’, yaitu kitab-kitab yang biasa dibaca di Indonesia, umpama ‘Kifayatul Awam’, ‘Sanusi’, ‘Juharatut Tauhid’, ‘Husnun Hamadiyah’ dan lain-lain yang serupa; Faham Asy’ari, yaitu faham kaum Ahlus sunnah wal jama’ah harus dibuang jauh-jauh; Dilarang membaca kitab ‘Dalailul Khairat’, ‘Burdah’ dan kitab-kitab wirid yang memuji Nabi Saw; Tidak boleh melagukan lafazh AlQuran, umpamanya dengan lagu orang-orang Mesir, AlQuran harus dibaca lurus saja; Melarang membaca zikir bersama-sama. Melarang keras semua amalan-amalan tariqat, umpama Thariqat Naqsyabandi, Qadiri, Syadzali, Saman dan lain-lain.

 

Riwayat singkat Ibnu Taimiyah

Muhamad Ibnu Abdul Wahab dan kelompoknya, pengikut faham Ibnu Taimiyah. Seorang ulama mazhab Hanbali, yang dalam beberapa karyanya juga memiliki kecenderungan berfaham tajsim. Dekat dengan metode penafsiran kaum Mujassimah. Nama lengkapnya Ibnu Taimiyah; Ahmad Taqiyuddin Abdul Abbas bin Syihabuddin. Famili ini dinamai Ibnu Taimiyah, karena asal perkataan Taimiyah adalah dari kakeknya, yang bernama Muhamad bin Al-Khadar. Beliau ketika naik haji ke Makkah, melalui jalan Taima’. Sekembalinya dari haji, beliau dapati istrinya melahirkan seorang anak wanita, yang kemudian diberi nama Taimiyah, dan keturunannya dinamai keturunan Taimiyah. 

Ahmad Taqiyuddin yang kemudian masyhur dengan nama Ibnu Taimiyah lahir tanggal 10 Rabi’ul awal tahun 661 H ,didesa Heran, sebuah desa kecil di Palestina. Ia dari kecil belajar agama dari ayahnya Syihabuddin, seorang ulama pengikut mazhab imam Ahmad Hanbali. Setelah usia 7 tahun yaitu tahun 667 H, seluruh famili Ibnu Taimiyah mengungsi ke Damsyik, Syria,. karena khawatir desanya akan diserang oleh tentara Tartar, yang ketika itu sudah menduduki kota Baqdad, Irak. Penduduk Damsyik ketika itu adalah campuran dari penganut mazhab Hanbali, Syafi’i dan mazhab Maliki. Ayahnya ,Syihabuddin, menggabungkan diri dengan sebuah madrasah/sekolahan agama dari mazhab Hanbali dikota Damsyik. Anaknya ,Ibnu Taimiyah, dimasukkan juga di madrasah ini. Disinilah awal mulanya Ibnu Taimiyah mendapat seluruh ilmunya dari perguruan mazhab Hanbali. Akhirnya Ibnu Taimiyah menjadi seorang ulama besar dalam mazhab Hanbali, bukan saja dalam ilmu fikih tetapi juga dalam ushuliddin dan ilmu tauhid. Tetapi sayangnya, beliau ini terpengaruh dengan faham kaum ‘Mujassimah dan Musyabbihah’, yaitu sekelompok kaum yang mengatakan, Allah Swt. menyerupai manusia, punya tangan, kaki, wajah dan lain sebagainya.  

Didalam fikih, dia berfatwa menurut pendapatnya sendiri, walaupun ia penganut mazhab Hanbali. Fatwa-fatwanya berlawanan dengan mazhab Hanbali yang murni. Dalam ushul fikih, dia tetap menurut mazhab Hanbali, karena tidak mempunyai ushul fikih sendiri (baca kitab Ibnu Taimiyah oleh Dr.Muhamad Yusuf Musa, hal.168-169-170).

Faham Ibnu Taimiyah disebarluaskan oleh muridnya ,Ibnu Qayim al-Jauzi, pengarang kitab ‘Zadul Ma’ad (wafat 751H). Asal mulanya faham dan pelajaran mereka ini, tidak  mendapat sambutan baik di Syria maupun di Mesir, karena banyak yang berlawanan dengan fatwa ulama yang lazim dipakai ketika itu. Tetapi lama kelamaan–kira-kira 500 tahun kemudian–faham Ibnu Taimiyah disambut oleh Muhamad bin Abdul Wahab–imam gerakan Salafi/Wahabi di gurun pasir tanah Arab. Pelajaran Ibnu Taimiyah, disambut juga di Mesir oleh Syeikh Muhamad Abduh lahir tahun 1849 M dan wafat tahun 1905M. Faham Ibnu Taimiyah ini, oleh Syeikh Muhamad Rasyid Redha (wafat 1935M), disiarkan keseluruh dunia ,termasuk Indonesia, via majalah ‘Al-Manar’, yang dipimpin oleh Muhamad Rasyid Redha sendiri.

Ibnu Bathuthah ,seorang pengembara abad ke 7 Hijriah, dari Tanjah,Tunisia. Beliau menerangkan dalam kitabnya ‘Rahlah Ibnu Bathuthah’ (pengembaraan Ibnu Bathuthah) jilid 1 halaman 57, sebagai berikut: “Ada dikota Damsyik, seorang ahli fikih yang besar bermazhab Hanbali, namanya Taqiyuddin Ibnu Taimiyah. Beliau banyak membicarakan soal-soal ilmu pengetahuan, tetapi sayang ‘fi’aqlihi syai-un’ (akalnya ada sedikit goncang). Penduduk Damsyik menghormati orang itu. Pada suatu kali, dia mengajar sambil berdiri diatas mimbar masjid Damsyik yang besar itu. Ia mengeluarkan fatwa-fatwa yang berlainan dari ahli fikih yang lain, sehingga ia akhirnya diadukan orang kepada Raja Nashir yang berkedudukan di Kairo (Damsyik ketika itu dibawah kekuasaan Kairo (Mesir-red). Dia dibawa ke Kairo, dan kepadanya dihadapkan beberapa tuduhan dalam suatu pengadilan. Jaksa penuntut ketika itu namanya Syarafuddin Zawawi, seorang ahli hukum dalam mazhab Hanbali. Ibnu Taimiyah, tidak menjawab sekalian tuduhan yang dimajukan kepadanya, tetapi jawabnya hanya ucapan ‘La ilaha illallah’ saja. Akhirnya, ia dipenjara beberapa tahun. Setelah ditahan beberapa lama dipenjara Kairo, ibunya memohon kepada Raja Nashir agar anaknya itu dibebaskan. Raja Nashir memperkenankan permohonan ibu ini, dan Ibnu Taimiyah dibebaskan, pulang ke Damsyik.

Tetapi–kata Ibnu Bathuthah–terjadi lagi hal yang serupa. Saya, ketika itu sedang berada di Damsyik. Pada hari jum’at, Ibnu Taimiyah berkhutbah diatas mimbar masjid Damsyik. Diantara khutbahnya dikatakan, Tuhan Allah turun kelangit dunia tiap-tiap malam, seperti turunnya saya ini, lalu ia turun dari mimbar. Ketika itu, hadir seorang ulama mazhab lain, namanya Ibnu Zahra. Ahli fikih ini mendebat Ibnu Taimiyah, karena ia menyerupakan Tuhan dengan dirinya, tetapi beberapa orang murid Ibnu Taimiyah memukul Ibnu Zahra ini, dan membawanya kepada hakim/qadhi Izzuddin bin Muslim yang bermazhab Hanbali. Qadhi Izzuddin menghukum Ibnu Zahra beberapa hari dalam penjara. Ahli-ahli fikih yang lain yaitu ahli fikih mazhab Syafi’i dan Maliki, memprotes hukuman Qadhi Izzuddin ini dan mengajukan perkaranya kepada Raja besar (Malikul Muluk) bernama Saifuddin Tankiz. Raja ini orang baik, kata Ibnu Bathuthah. Dia memerintah Raja Nashir di Kairo, supaya Ibnu Taimiyah dibawa ke pengadilan tinggi, karena fatwa Ibnu Taimiyah dalam agama banyak yang salah.

Diantara fatwanya yang salah itu–kata Ibnu Bathuthah–ialah bahwa talak tiga yang dijatuhkan sekaligus, jatuh satu. Pengadilan tinggi memutuskan, Ibnu Taimiyah melakukan banyak kesalahan dalam fatwanya, dalam fikih maupun dalam ushuluddin, dan ia dihukum penjara dalam benteng Damsyik. Ia ditahan dan wafat dalam penjara benteng Damsyik tanggal 27 syawal tahun 728H”. Demikianlah keterangan Ibnu Bathuthah seorang pengembara yang netral.

Dalam kitab yang berjudul Ibnu Taimiyah halaman 102  103,104 karangan Dr. Muhamad Yusuf Musa, keluaran Darut Tsaqafah Mesir–kitab yang banyak berpihak kepada Ibnu Taimiyah–terjemahan bebasnya secara singkat, mengatakan: “Bagaimanapun juga, ia dibawa ke mahkamah dan dituduh bahwa ia mempercayai bahwa Tuhan itu benar-benar duduk diatas Arsy, boleh ditunjuk dengan jari keatas, Tuhan berkata dengan huruf dan suara. Jaksa menuntut agar Ibnu Taimiyah dihukum mati. Setelah ketua pengadilan ,Ibnu Makhluf, bertanya kepada Ibnu Taimiyah tentang tuduhan itu, beliau memulai jawabannya dengan Alhamdulillah, dan salawat seperti berpidato, maka ia dibentak, bahwa tempat itu bukan tempat untuk berpidato, tetapi langsung harus jawab, bagaimana? Ibnu Taimiyah bertanya, ‘Siapa ketua Pengadilan’? Dijawab: Ibnu Makhluf. Ibnu Taimiyah menjawab,  ‘Engkau musuh saya, bagaimana bisa menghukum saya,’?

Kemudian Ibnu Taimiyah dihukum penjara. Setelah itu keluar siaran pemerintah, supaya sekalian rakyat yang terpengaruh dengan ajaran Ibnu Taimiyah, supaya kembali kepada kebenaran, kalau tidak akan diambil tindakan. Banyaklah ketika itu penganut mazhab Hanbali, yang menerima pengajian Ibnu Taimiyah dimasukkan penjara, baik di Syam atau di Mesir. Setelah ia (Ibnu Taimiyah) ditahan setahun dan beberapa bulan, ia dibebaskan atas permohonan seorang raja Arab namanya Hisamuddin. Setelah bebas, dia tidak pulang ke Damsyik tetapi tinggal di Mesir. Di Mesir, ia berfatwa mencela para ulama tasawuf.  Kemudian dia ditangkap lagi, lalu diberi hukuman pulang ke Damsyik atau tinggal di Iskandariah atau penjara. Dia menerima penjara, karena tidak mau menerima syarat-syarat, tetapi kemudian murid-muridnya mendesak agar ia pulang ke Damsyik. Pada tahun 712 (Hijriah) ia kembali ke Damsyik, setelah meninggalkannya selama 7 tahun.

 

Di Damsyik dia berfatwa lagi yang ganjil-ganjil, diantaranya, Bersumpah dengan talak, tidak jatuh ketika sumpah itu dilanggar, tetapi wajib bayar kafarat sumpah saja. Talak tiga sekaligus, jatuh satu, Bepergian ziarah kemakam-makam, seperti makam Nabi Ibrahim di Madinatul Khalil, dan makam Nabi Muhamad Saw. di Madinah, adalah perbuatan munkar. Kemudian pada tahun 726 H, ia ditangkap lagi atas perintah Sultan, dan dikurung dalam penjara benteng Damsyik. Banyak muridnya ketika itu ditangkap dan dikurung bersama-sama, diantara muridnya yang setia Syamsudin Muhamad bin AlQayim al-Jauziah (Ibnu Qayim al Jauzi, pengarang Zadul Ma’ad), maka wafatlah beliau (Ibnu Taimiyah) dalam penjara benteng Damsyik, 20 Dzulkaedah tahun 728 H”. Demikianlah, keterangan singkat doktor Muhamad

Yusuf Musa, keterangan ini, hampir sama dengan keterangan Ibnu Bathuthah.

 

Dalam kitab  Daf’us Syubah man tasyabbaha wa tamarrad halaman 41 karangan mufti dan syeikhul Islam Taqiyuddin al Husaini ad Dimsyaqi (wafat di Damsyik tahun 829H) mengatakan, yang artinya sebagai berikut: “Mengabarkan Abu Hasan Ali ad Dimsyaqi, ia terima dari ayahnya, bahwa ayahnya menghadiri majlis Ibnu Taimiyah di masjid Damsyik. Ibnu Taimiyah memberi pelajaran di hadapan umum. Keitika ia sampai kepada pembacaan ayat ‘Tuhan istawa diatas Arsy, maka ia mengatakan, Tuhan duduk bersela diatas Arsy seperti saya ini. Pada ketika itu pendengar jadi ribut, karena Ibnu Taimiyah menyerupakan duduknya dengan duduknya Tuhan, sehingga dia dilempari dengan sandal, sepatu dan diturunkan dari kursi duduknya, ditampar dan dipukuli bersama-sama”. Demikianlah al-Husaini.

Dengan demikian dapat diyakini, sesuai dengan fakta-fakta sejarah, Ibnu Taimiyah banyak mengeluarkan fatwa yang salah, yang bertentangan dengan pendapat para ulama Islam yang lain, sehingga pada akhirnya beliau masuk penjara dua kali, satu di Mesir dan kedua di Damsyik, dan  wafat dalam penjara Damsyik tahun 728H.

 

Konsep-konsep ajaran Ibnu Taimiyah

  • Dalam Ushuluddin; Tuhan bersela diatas Arsy, seperti berselanya Ibnu Taimiyah, Tuhan sama besarnya dengan Arsy, Tuhan turun setiap akhir malam kelangit dunia, serupa turunnya Ibnu Taimiyah dari mimbar, Tuhan bertubuh dan pindah-pindah tempat, Tuhan bicara dengan huruf dan suara, Para nabi tidak maksum (terjaga dari dosa), Bepergian ziarah kemakam-makam, seumpama makam para Nabi, para Wali dan para Ulama adalah perbuatan maksiyat (munkar), Berdoa dengan bertawasul syirik, Istighatsah (mohon pertolongan) dengan Nabi syirik, Neraka akan lenyap bukan kekal, Mengingkari ijmak (kesepakatan para ulama) tidak kafir dan lain-lain.
  • Dalam ilmu fikih;Talak tiga sekaligus, jatuh satu, Talak ketika istri berkain kotor tidak jatuh, Sembahyang yang ditinggalkan dengan sengaja tidak boleh digadha, Orang junub boleh sembahyang sunah malam tanpa mandi lebih dahulu, Bersumpah dengan talak, tidak jatuh ketika sumpah itu dilanggar, tetapi wajib dibayar kafarat sumpah saja, Orang yang tidak sembahyang, tidak boleh diberi zakat, Boleh qashar (meringkas sholat) sembahyang dalam perjalanan, walaupun perjalanannya itu pendek, Boleh tayamum untuk sembahyang ,walaupun ada air, ketika dikhawatirkan akan habis waktu sembahyang kalau berwudu, Syarat si Wakif tidak diperdulikan, Talak diwaktu suci yang disetubuhi tidak jatuh, Wanita yang tidak bisa mandi wajib dirumah, dan sulit pergi mandi kekolam diluar rumah, boleh tayamum saja… dan lain lain.
  • Dalam ilmu Tasawuf; Tasawuf, dan amalan orang tasawuf misalnya tarikat-tarikat harus dibuang jauh-jauh, Para ulama tasawuf dikecam habis-habisan.

 

Risalah Ad-Dzahabi kepada Ibnu Taimiyah

Banyak dari kalangan para ulama dan huffazh yang telah menulis kitab, untuk membantah keyakinan-keyakinan Ibnu Taimiyah ini. Umpamanya, Ad- Dzahabi, seorang ulama abad ke-8H/14M dan sezaman dengan Ibnu Taimiyah. Al-Hafizh ad-Dzahabi adalah murid dari Ibnu Taimiyah, dalam banyak masalah ad-Dzahabi mengikuti faham Ibnu Taimiyah–terutama dalam masalah akidah. Beliau menulis surat kepada Ibnu Taimiyah, yang berisi kecaman dan nasehat terhadapnya, agar ia berhenti dari menyerukan faham-faham ekstrimnya, serta berhenti dari kebiasaan mencaci-maki para ulama saleh terdahulu. Berikut dinukilkan dua risalah Adz-Dzahabi yang berjudul  Bayan Zaghl al-‘Ilm Wa ath-Thalab dan an-Nashihah adz-Dzhabiyyah Li Ibnu Taimiyah:

Risalah Pertama,

Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu, jika engkau selamat dari ilmumu sendiri. karena engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibnu Taimiyah. Keistimewaannya ini, ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi, dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun.

Sungguh, aku telah lelah dalam menimbang dan mengawasi sifat-sifat Ibnu Taimiyah. Aku merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata, aku mendapatinya sebagai seorang yang dikucilkan oleh para penduduk Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina). Mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkan nya. Ini semua terjadi, tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan. Ini muncul, karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an”, dan sikap kecintaan terhadap kehormatan semacam ini!”.

Risalah kedua,

Adapun, nasehat adz-Dzahabi terhadap Ibnu Taimiyah yang beliau tuliskan dalam risalah an-Nashihah adz-Dzahabiyyah (risalah kedua), secara lengkap dalam terjemahannya sebagai berikut;

“Segala puji bagi Allah, di atas kehinaanku ini. Ya Allah, berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.

Oh… Alangkah sengsaranya diriku, karena aku sedikit sekali memiliki sifat sedih!

Oh…Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya, telah banyak pergi!

Oh… Alangkah rindunya diriku, kepada saudara-saudara sesama mukmin, yang dapat membantuku dalam menangis!

Oh… Alangkah sedih karena telah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang memiliki sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!

Oh… Alangkah sedih atas semakin langkanya dirham (mata uang) yang halal, dan semakin langkanya teman-teman yang lemah lembut yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukkan dengan memperbaiki aIbnuya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia memperbaiki aIbnuya sendiri.

Sampai kapan engkau (Wahai Ibnu Taimiyah), akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!

Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau hanya memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?!

Engkau selalu mencaci-maki para ulama, dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian, kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.

Benar, saya sadar bahwa bisa saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: ‘Sesungguhnya aib itu, ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tidak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhamad, memerangi mereka adalah jihad’. Padahal, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan, maka seorang manusia akan menjadi sangat beruntung. Dan sungguh, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal (tidak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan)  yang sama sekali tidak memberikan manfa’at kepada diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); ‘Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang, adalah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfa’at bagi dirinya’. (HR. at-Tirmidzi)

 

Hai Bung…(Ibnu Taimiyah)! Demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tidak pernah mau diam dan tidak tidur. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhamad) sangat membenci, dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu, melarang kita untuk banyak bertanya ini dan itu. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya, sesuatu yang paling ditakutkan, yang aku khawatirkan atas umatku, adalah seorang munafik yang tajam lidahnya’. (HR. Ahmad). 

Jika banyak bicara tanpa dalil, dalam masalah hukum halal dan haram, adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras, maka terlebih lagi jika banyak bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka sudah sangat jelas, bahwa itu akan menjadikan hati itu buta. Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara hanya mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat, supaya kita bisa membantah mereka dengan logika kita?

Hai Bung…! Padahal, engkau sendiri telah menelan berbagai macam racun kaum filsafat berkali-kali. Sungguh, racun-racun itu telah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, hingga menjadi bertumpuk pada badanmu.

Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya diisi dengan tilawah dan tadabbur, majelis yang isinya, menghadirkan rasa takut kepada Allah karena mengingat-Nya, majelis yang isinya diam dalam berpikir.

 

Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguh- nya, ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya, maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya, maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat. Pedang al-Hajjaj (Ibnu Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibnu Hazm, adalah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan menjadi satu kesatuan di dalam dirimu. 

(Engkau berkata): ‘Jauhkan kami dari membicarakan tentang 'Bid’ah al-Khamis', atau tentang 'Akl al-Hubub', tetapi berbicaralah dengan kami tentang berbagai bid’ah, yang kami anggap sebagai sumber kesesatan’.

(Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni, sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tidak mengetahuinya, maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tidak mengkafirkan orang semacam itu, maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Firaun.

(Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Demi Allah, [ajaran engkau ini] telah menjadikan banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat, maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.

Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut, seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, namun, ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal, hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibnu Taimiyah), bahwa mayoritas pengikutmu, tidak lain kecuali orang-orang yang 'terikat' dan lemah akal?! Atau kalau tidak demikian, maka dia adalah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau kalau tidak demikian, maka dia adalah aneh yang serampangan, dan tukang membuat makar?! Atau kalau tidak demikian, maka dia adalah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang yang tidak paham apapun?! Kalau engkau tidak percaya kepadaku, maka periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!

 

Wahai Muslim (yang dimaksud Ibnu Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu, yang selalu memuji-muji dirimu sendiri?! Sampai kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! Sampai kapan, engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?! Sampai kapan, engkau hanya akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?! Sampai kapan, engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi, orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?! Sampai kapan, engkau hanya akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara? Demi Allah, engkau sendiri tidak pernah memuji hadis-hadis dalam dua kitab shahih (Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim) dengan caramu tersebut?! 

 

Oh… Seandainya hadis-hadis dalam dua kitab shahih tersebut, selamat dari keritikmu..!Tetapi sebaliknya, dengan semaumu engkau sering merubah hadis-hadis tersebut, engkau mengatakan ini dha’if, ini tidak benar, atau engkau berkata yang ini harus dita’wil, dan ini harus diingkari. Tidakkah sekarang ini, saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang, untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah)?! Bukankah engkau sekarang sudah dalam umur 70an tahun, dan kematian telah dekat?! Tentu, demi Allah, aku mungkin mengira, engkau tidak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Aku juga mengira, mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku, dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap memiliki keinginan besar, untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang, sehingga aku sendiri akan berkata kepadaku: ‘Sekarang, sudah cukup, diamlah…!’.

Jika penilaian terhadap dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya sangat menyayangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu terhadap dirimu?! Padahal, para musuhmu ,demi Allah, mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tidak berilmu. 

Aku sangat ridha (rela), jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. ‘Sungguh Allah telah memberikan rahmat kepada seseorang, jika ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aIbnuya’. Karena, memang saya adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya saya, jika saya tidak bertaubat. Alangkah celaka saya, jika aib-aibku dibukakan oleh Allah yang Maha Mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku, tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya. Segala puji hanya milik Allah, Salawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian".

Demikianlah sebagian isi surat Ad-Dzahabi. [Teks lebih lengkap dengan aslinya, lihat an-Nashihah ad-Dzahabiyah dalam dalam kitab Bara-ah al-Asy’ariyyin Min ‘Aqa-id al-Mukhalifin, jilid. 2, hal.9-11]        

                                            

Tauhid dan Syirik versi Wahabi

Kelompok Wahabi, sering lebih mengutamakan metode tafsir tekstual dan cenderung mengharamkan takwil, mengutamakan makna literal dan meniadakan makna majazi atau kiasan. Pilihan metode tafsir literal ini, sering membawa konsekuensi kalangan Wahabi amat mudah membid‘ahkan dan mensyirikkan kalangan lain. Mereka yang biasa melakukan tawasul (berdoa pada Allah sambil menyertakan nama Rasulallah atau para wali dalam doa), tabaruk (memohon berkah), permohonan syafaat pada Rasulallah Saw. dan para wali Allah, adalah kelompok yang sering dituduh sebagai musyrik oleh kalangan Wahabi.

Golongan Wahabi juga melarang orang berkumpul untuk mengadakan peringatan-peringatan yang berkaitan dengan sejarah Islam, seperti maulid Nabi Saw, Isra-Mikraj dan sebagainya, melarang majlis zikir seperti istighatsah, tahlil/ yasinan. Mereka pun dengan gigih melarang ziarah kubur, dan mengharamkan taklid kepada imam mazhab tertentu.

Sikap dan pandangan kaum Wahabi ini secara historis mirip dengan golongan al-Hasyawiyah. Sebuah kelompok yang berkembang pada masa awal zaman Islam yang terkenal sebagai penganjur tafsir literal.  Ahmad bin Yahya al-Yamani (w. 840H/ 1437M) menyatakan, nama al-Hasyawiyah merujuk pada kelompok penerima dan pengamal hadis tanpa interpretasi. Kelompok ini juga mengklaim diri sebagai ashabul-hadis dan ahlus sunnah wal jama‘ah. Salah satu ciri terkuatnya adalah, kepercayaannya pada konsep pemaksaan (Allah berhubungan dengan perbuatan manusia) dan tasybih (bahwa wujud Allah adalah seperti makhluk-Nya).

Al-Syahrastani (w.548H/1153M) menulis, terdapat sebuah kelompok ashabul-hadis, yang dikenal sebagai al-Hasyawiyyah, yang dengan jelas menunjukkan kepercayaan mereka tentang tasybih (yaitu Allah serupa makhluk-Nya, baca uraian selanjutnya mengenai tajsim/tasybih)...sehingga mereka sanggup mengatakan bahwa pada suatu ketika, kedua mata Allah menampakkan kesedihan, lalu para malaikat datang menemui-Nya, dan Dia (Allah) menangisi (kesedihan)–yang mengakibatkan banjir Nabi Nuh a.s.–sehingga mata-Nya menjadi merah, dan Arasy meratap hiba seperti suara pelana baru dan bahwa Dia melampaui Arasy dalam keadaan melebihi empat jari di segenap sudut. [Al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, h.141.]   

Dari segi kebiasaannya mengkafirkan kelompok Muslim lain, kaum Wahabi mirip dan seakan-akan menjiplak kaum Khawarij. Sebuah sekte yang dalam sejarah Islam sebagai kelompok yang bertanggung jawab atas pembunuhan Ali k.w. Kaum khawarij sedemikian mudah mengkafirkan, mensyirikkan, menyesatkan sesama kaum Muslim dengan alasan, kelompok itu tidak sependapat dengan fahamnya. Kaum khawarij ini, dengan penuh konfrontatif mengkafirkan Amirul Mukminin Sayidina Ali bin Abi Thalib k.w. dan para sahabat Nabi Saw. yang mendukungnya. Menghalalkan pembunuhan, perampasan harta kaum muslimin yang tidak serumpun,  segolongan atau semazhab dengan mereka. Sikap dan tindakan kaum khawarij, jelas mencerminkan penyelewengan akidah mereka, dan semua ulama ahlus sunnah menetapkan sebagai ahlul bid’ah dan dhalalah (sesat) berdasarkan dzawahirin-nash (makna harfiah nash).

Tercatat dalam sejarah, bahwa kaum Wahabi hendak menghancurkan Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhamad Saw. dimakamkan. Mereka juga berupaya menggeser maqam Ibrahim. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Sebelumnya, kaum Wahabi sudah menggusur rumah Rasulallah Saw. di Madinah dengan alasan yang sama. Padahal di situlah Rasulallah Saw. berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Sayidah Khadijah wafat. Kaum Wahabi berpandangan bahwa mengonservasi situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru.

Pengaruh Wahabi di Arab Saudi memang sedemikian kental. DR. Sami bin Muhsin Angawi, seorang arsitektur Muslim menyatakan bahwa bahwa beberapa bangunan dari era Islam klasik terancam dimusnahkan oleh kaum Wahabi. Pada lokasi bangunan berumur 1400 tahun itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah. Bagian lokasi dan bangunan bersejarah akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah sudah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada tahun 1932.

Hal itu berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis: “Pelestarian bangunan-bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Rasulallah Saw. Semua jejak jerih payah Rasulallah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi.Namun anehnya, mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam, baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya, dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Tidak diragukan lagi, ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari.Dr. Sami bin Muhsin Angawi mengungkapkan fakta itu lewat video wawancara yang tersebar di Youtube. Dalam video berdurasi 8:23 menit itu, ia mengungkapkan bahwa ia telah melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk mencari situs rumah Baginda Nabi Saw.

Setelah berhasil, ia menyerahkan hasil penelitiannya kepada pihak berwenang. Respon pihak berwenang Arab Saudi ternyata jauh dari perkiraan pakar yang memiliki gelar Doktor arsitektur di London itu. Bukannya dijaga untuk dijadikan aset purbakala, situs temuannya malah mereka hancurkan.

Kaum Wahabi juga tidak konsisten. Satu sisi mereka berupaya serius dan sistematis membumihanguskan situs sejarah Rasulallah Saw. Mereka merobohkan peninggalan rumah Baginda Nabi Sawdan mengubah tempat yang berkah itu menjadi WC umum. Mereka pun mengharamkan pelestarian segala bentuk peninggalan Baginda Nabi Saw. Tapi di sisi lain mereka malah mendirikan sebuah bangunan besar dan mentereng untuk mengabadikan sosok Syaikh Muhamad bin Saleh al-Utsaimin, salah seorang tokoh pentolan mereka. Bangunan berdisain mirip buku itu dibubuhi tulisan “Yayasan Syaikh Muhamad bin Saleh al-Utsaimin.” Di dalam gedung mewah ini terdapat benda-benda peninggalan Syaikh al-Utsaimin, seperti kaca mata, arloji dan pena. Benda-benda itu diletakkan pada etalase kaca dan masing-masing diberi keterangan semisal, “Pena terakhir yang dipakai Syaikh al-Utsaimin”.

Jauh sebelum itu, kaum Wahabi juga telah merobohkan masjid-masjid bersejarah, di antaranya Masjid Hudaybiyah (tempat Syajarah ar-Ridhwan), Masjid Salman Al-Farisi dan masjid di samping makam pamanda Nabi, Sayidina Hamzah bin Abdal Muttalib. Pada tanggal 13 Agustus 2002. Mereka pun membumihanguskan masjid cucu Nabi Saw, Imam Ali Uraidhi,  dengan menggunakan dinamit dan membongkar makam beliau ra. Al-Allamah Syeikh Thahir Asy-Syafi'i, dalam kitabnya Al-Intisharu Lil Auliya Al-Abrar–yang menolak faham wahabi–mengatakan, “..Sedangkan yang dinukil sebagian ulama yang  mengatakan, ‘dia (Muhamad bin Abdul Wahab) adalah semata- mata meluruskan perbuatan orang-orang Najd, berupa anjuran terhadap orang-orang Badui untuk menunaikan shalat jamaah, meninggalkan perkara-perkara keji dan merampok ditengah jalan, serta menyeru kemurnian tauhid’, semua itu tidak benar.

Di antara kekejaman dan kejahilan kaum wahabi/salafi adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam para sahabat Nabi Saw. yang berada di Ma'la (Makkah ), di Baqi' dan Uhud (Madinah). Semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah tempat Nabi Saw. dilahirkan ,di Suq al-Leil, diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta. Karena gencarnya desakan kaum muslimin international kemudian dibangunkan lagi perpustakaan. Kaum wahabi, benar-benar golongan paling jahil di atas muka bumi ini. Tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam.”

Al-Alamah Sayid Alwi bin Ahmad bin Hasan bin As-Sayid Abdullah Al-Haddad Ba’Alawi, dalam kitabnya Jalaa' uzh zhalaam firrarrdil Ladziiadhallal 'awaam –yang menolak faham wahabi–menyebutkan sejumlah hadis, diantaranya, hadis yang diriwayat- kan oleh Abbas bin Abdul Muthalib r.a: "Akan keluar di abad ke- 12H nanti (Muhamad bin Abdul Wahab lahir 1115–H tepat abad 12H ) dilembah Bani Hanifah, seorang lelaki, tingkahnya seperti pemberontak, senantiasa menjilat (kepada penguasa Sa'ud) dan menjatuhkan dalam kesusahan. Pada zaman kehidupannya, banyak kacau-balau, menghalalkan harta manusia yang diambil untuk berdagang, menghalalkan darah manusia, dibunuhnya manusia untuk kesombongan, dan ini semua adalah fitnah, didalamnya orang-orang yang hina dan rendah menjadi mulia (yaitu para petualang & penyamun digurun pasir), hawa nafsu mereka saling berlomba tidak ubahnya seperti berlombanya (maaf) anjing dengan pemiliknya".

As-Sayid Alwi dikitab tersebut menyebutkan, orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhamad bin Abdul Wahab dari Tamim. Oleh sebab itu hadis tersebut mengandung suatu pengertian bahwa (Muhamad) Ibnu Abdul Wahab adalah orang yang datang dari ujung Tamim, dialah yang diterangkan hadis Nabi Saw., yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Said Al-Khudri r.a bahwa Nabi Saw. bersabda: "Sesungguhnya diujung negeri ini, ada kelompok kaum yang membaca AlQuran, namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka membunuh pemeluk Islam dan mengundang berhala-berhala, seandainya aku menjumpai mereka, tentulah aku akan membunuh mereka seperti dibunuhnya kaum 'Ad".

Dalam kitab Misykatul Mashabih disebutkan sebuah hadis: "Diakhir zaman nanti, akan ada suatu kaum yang akan membicarakan kamu tentang apa-apa yang belum pernah kamu mendengarnya, begitu juga (belum pernah) bapak-bapak kamu (mendengarnya), maka berhati-hatilah jangan sampai menyesatkan dan menfitnahmu". Allah Swt. telah menurunkan ayat Al-Quran berkaitan dengan Bani Tamim, (Muhamad bin Abdul Wahab ,termasuk bani Tamim, bin Sulaiman bin Ali bin Muhamad bin Ahmad bin Rasyid bin Barid bin Muhammad bin al-Masyarif at-Tamimi), 'Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar (mu), ke banyakan mereka tidak mengerti' ". (QS . Al-Hujurat [49]:4). (Imam Muhammad Ibnu Ahmad Ibnu Juzay, al-Tashil [Beirut,1403] hal.702; Ibnu Hazm, Jamharat ansab al-Arab [Cairo,1382], 208, in the chapter on Tamim).

Sayid Alwi Al-Haddad melanjutkan,"Sebenarnya ayat yang diturunkan dalam kasus Bani Hanifah dan mencela Bani Tamim dan Wa'l itu banyak sekali, akan tetapi cukuplah sebagai bukti buat anda, kebanyakan orang-orang Khawarij itu dari mereka, demikian pula Muhamad bin Abdul Wahab dan tokoh pemecah belah umat, Abdul Aziz bin Muhamad bin Sa'ud adalah dari (suku) mereka".

Penentangan terhadap Muhamad bin Abdul Wahab

Tokoh pertama, yang mengumumkan penentangan kepada Muhamad Ibnu Abdul Wahhab adalah ayahnya sendiri, Syaikh Abdul Wahab. Sikap sang ayah ini kemudian diikuti oleh saudara Ibnu Abdul Wahab, Syaikh Sulaiman. Kedua ulama ini penganut mazhab Hanbali. Syaikh Sulaiman menulis kitab khusus untuk menentang dan memerangi ajaran Wahabi. Kitab itu berjudul al-Shawa‘iq al-Ilahiyyah fi al-Radd ala al-Wahabiyyah untuk menentang dan memeranginya. Selain dari ayah dan saudaranya, Muhamad Ibnu Abdul Wahab, juga mendapat tantangan dari sepupunya, Abdullah bin Husain.

Mufti Makkah Syaikh Zaini Dahlan mengatakan, “Syaikh Abdul Wahab—ayah Muhamad bin Abdul Wahab, adalah seorang saleh dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu. Begitu pula dengan saudaranya Syaikh Sulaiman. Keduanya sudah mengikuti pemikiran Muhamad Ibnu Abdul Wahab sejak Ibnu Abdul Wahab masih mengikuti pendidikan di Madinah.  Sejak itu juga, keduanya telah mengkritik pendapat dan pandangan Muhamad bin Abdul Wahab dan memperingatkan orang ramai mengenai bahaya pemikiran Muhamad bin Abdul Wahab.”  (Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, halaman 357). 

Dalam keterangan Syeikh Zaini Dahlan yang lain mengenai Muhamad Abdul Wahab, dikatakan: “Ayahnya ,Abdal-Wahab, saudaranya ,Sulaiman, serta guru-gurunyanya, telah dapat mengesani tanda-tanda penyelewengan agama (ilhad) dalam diri (Muhamad Abdul Wahab)nya yang didasarkan kepada perkataan, perbuatan, dan tentangan Muhamad terhadap banyak persoalan agama.” (Syeikh Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahabiyah, hal.4).

Abbas Mahmud al-Aqqad al-Masri mengatakan, “Orang yang paling kuat menentang Muhamad Abdul Wahab dalam soal tauhid adalah saudaranya sendiri, Syaikh Sulaiman. Beliau tidak mengakui Muhamad Abdul Wahab mencapai kedudukan berijtihad dan berkemampuan memahami al-Kitab dan al-Sunnah. Sulaiman menekankan, para imam terdahulu tidak pernah mengkafirkan kaum yang disebut Wahabi sebagai ashab bid’ah. Oleh karena itu,  tidak ada ketetapan yang mewajibkan agar mereka memisahkan diri, apalagi memeranginya karena alasan tersebut.”

Lebih jauh Syaikh Sulaiman dalam kitabnya yang berjudul ash-Shawa’iq al-Ilahiyyah fi ar-Radd ala al-Wahabiyah, menulis bahwa sejak zaman sebelum Imam Ahmad bin Hanbal, belum pernah ada yang meriwayatkan bahwa seorang imam kaum Muslimin mengkafirkan kelompok yang aktif di majlis zikir, melakukan tawasul, dan ziarah kubur. Tidak juga menilai bahwa mereka murtad. Tidak pernah juga ada perintah dari para imam untuk memerangi mereka. Belum pernah ada seorang pun dari para imam kaum Muslimin yang menamakan negeri kaum Muslimin sebagai negeri syirik dan negeri yang harus diperangi, sebagaimana sering dikatakan Muhamad Abdul Wahab.

Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahab juga berkata untuk adiknya--Muhamad Abdul Wahab, “Hari ini umat mendapat musibah dengan kehadiran orang yang mengklaim bahwa ia telah menisbahkan dirinya kepada Al-Quran dan Sunnah. Ia memang menggali ilmu dua sumber ajaran Islam itu. Namun tidak membuka diri kepada ragam pendapat dan tafsir. Jika  ia diminta untuk memperlihatkan perkataannya kepada ahli ilmu, ia tidak akan melakukannya. Bahkan, ia mengharuskan seluruh manusia untuk menerima perkataan dan pemahamannya. Barangsiapa yang menentangnya, maka dalam pandangannya orang itu kafir. Demi Allah, pada dirinya tidak ada satu pun sifat seorang ahli ijtihad. Namun demikian, begitu mudahnya perkataannya menipu orang-orang yang bodoh. Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un. Ya Allah, berilah petunjuk orang yang sesat ini, dan kembalikanlah dia kepada kebenaran.”

Kelompok Wahabi menyatakan, di akhir hayat Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab–kakak sekandung Muhamad bin Abdul Wahab–telah bertaubat dan menyesali segala yang telah dilakukannya sebagai penentang keras ajaran adiknya, Wahabisme.

Sebenarnya, penentangan yang dilakukan oleh Syeikh Sulaiman adalah nasehat kepada sang adik, baik secara lisan maupun tertulis (risalah), atas keyakinan sang adik. Bukti-bukti konkrit yang kuat dan ilmiah telah beliau sampaikan kepada sang adik, namun ikhtiyar menerima kebenaran bukan terletak pada tangan Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. 

Khairuddin az-Zarkali yang bermazhab Wahabi asal Syria, dalam kitab al-A’lam jilid 3 halaman 130 menyatakan, “Ada yang menyatakan bahwa Syeikh Sulaiman bin Abdul-Wahab telah bertaubat atas penentangannya terhadap pemikiran adiknya, Muhamad bin Abdul-Wahab.”

Namun sayangnya, dalam buku ini az-Zarkali tidak berani memberi isyarat tentang kebenaran pernyataan taubatnya Syeikh Sulaiman, apalagi meyakininya dengan menyebut bukti-bukti konkrit. Hal itu karena memang ketiadaan bukti yang konkrit serta otentik berkaitan dengan taubat Syeikh Sulaiman dalam penentangannya atas ajaran adiknya. 

Padahal, kalau kita baca kitab Syeikh Sulaiman As-Shawa’iq al-Ilahiyah fi Mazhab al-Wahabiyah adalah merupakan surah teguran terhadap adiknya secara langsung. Sedangkan kitab Syeikh Sulaiman yang berjudul Fashlul Khitab fi Mazhab Muhamad bin Abdul Wahab adalah surah yang ditujukan kepada Hasan bin ‘Idan, salah satu sahabat dan pendukung setia dan fanatik Muhamad bin Abdul Wahab. Jadi ada dua karya yang berbeda dari Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, yang keduanya berfungsi sama yaitu mengeritik ajaran Wahabisme, walaupun berbeda dari sisi obyek yang diajak bicara. Dan tidak benar jika dikatakan bahwa terjadi perubahan judul dari karya beliau tadi, karena adanya dua kitab dengan dua judul yang berbeda tersebut. Kedua kitab tersebut memiliki argumentasi yang kuat dan ilmiah, baik dari Al- Quran, hadis maupun pendapat Salaf Saleh.

Pengakuan para ulama Wahabi kontemporer yang menyatakan bahwa Syeikh Sulaiman telah taubat, bahkan telah mengikuti dan menyokong ajaran adiknya (Wahabisme), adalah kebohongan yang di atas namakan Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab. Semua itu mereka lakukan tidak lain hanya untuk membersihkan pengaruh dan image negatif akibat pengingkaran kakak kandung pencetus Wahabisme.

Kenyataan yang ada, para pengikut Wahabi–khususnya para ulamanya yang berada di Saudi, Yaman dan Kuwait–sangat membenci Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahab.

 

Wahabi Mengafirkan Kaum Non-Wahabi

Kaum Wahabi mengklaim bahwa mereka adalah satu-satunya pemilik ajaran tauhid. Mereka tidak mengakui konsep tauhid dari ulama lain. Bahkan dengan tegas mereka mengkafirkannya. Beberapa kutipan dari karya Abdurrahman bin Muhamad bin Qasim al-Hanbali an-Najdi yang berjudul “Ad-Durar as-Saniyah” mungkin bisa sedikit membantu memahami klaim kaum Wahabi. Di dalamnya diungkapkan mengenai sejumlah ungkapan Muhamad bin Abdul Wahab tentang klaim kekufuran konsep tauhid non-Wahabi. Bahkan berulang kali menegaskan bahwa selain konsep tauhid mereka adalah hal batil yang harus diperangi. Di sebuah kesempatan, Muhamad Ibnu Abd Wahab menulis:

“…Dahulu, aku tidak memahami arti dari ungkapan la ilaha illallah. Kala itu, aku juga tidak memahami apa itu agama Islam. (Semua itu) sebelum datangnya anugerah kebaikan yang Allah berikan (kepadaku). Begitu pula para guru (ku), tidak seorangpun dari mereka yang mengetahuinya. Atas dasar itu, setiap ulama ’al-Aridh’ yang mengaku memahami arti la ilaha illallah, atau mengerti makna agama Islam sebelum masa ini (yakni sebelum masa anugerah Allah kepada Muhamad bin Abdul Wahab, red) atau ada yang mengaku bahwa guru-gurunya mengetahui hal tersebut, maka ia telah melakukan kebohongan dan penipuan.” (Ad-Durar as-Saniyah, jilid 10 hal.51).

Ungkapan itu, menunjukkan Muhamad bin Abdul Wahab  menafikan pemahaman ulama lain tentang konsep tauhid. Termasuk guru-gurunya sendiri dari mazhab Hanbali. Apalagi dari mazhab lain. Dia menuduh para ulama lain sebagai tidak memahami konsep tauhid dan hanya menyebarkan ajaran yang batil.

“Mereka (ulama Islam) tidak bisa membedakan antara agama Muhamad dan agama ‘Amr bin Lahyi’, yang diciptakan untuk di-ikuti orang Arab. Bahkan menurut mereka, agama ‘Amr, adalah agama yang benar.” (Lihat: Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 hal.51).  

Siapakah gerangan Amr bin Lahyi itu? Dalam kitab sejarah karya Ibnu Hisyam disebutkan, “Ia (Amr) adalah pribadi yang pertama kali pembawa ajaran penyembah berhala ke Makkah dan sekitarnya. Dahulu, ia pernah pergi ke Syam. Disana, ia melihat masyarakat Syam menyembah berhala. Melihat hal itu, ia bertanya dan lalu dijawab: ‘Berhala-berhala inilah, yang kami sembah. Setiap kali kami menginginkan hujan dan pertolongan, merekalah yang menganugerahkannya kepada kami, dan memberi kami perlindungan’. Kemudian Amr bin Lahyi berkata kepada mereka, ‘Apakah kalian tidak berkenan memberikan patung-patung itu kepada kami, dan akan kami bawa ke tanah Arab untuk kami sembah?’. Kemudian ia mengambil patung terbesar ,Hubal, untuk dibawa ke kota Makkah, yang kemudian diletakkan di atas Ka’bah. Dia menyeru masyarakat sekitarnya, untuk menyembahnya” (Lihat: as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam jilid 1 hal.79). 

Dengan demikian, Muhamad bin Abdul Wahab telah menyamakan para ulama Islam–selain kelompoknya–dengan  Amr bin Lahyi, pembawa ajaran syirik dan mengajak para pengikutnya menyembah berhala.

Dalam sebuah surat yang dilayangkan kepada Syaikh Sulaiman bin Sahim—seorang tokoh mazhab Hanbali pada zamannya, Muhamad bin Abdul  Wahab menulis:

“Aku mengingatkan kepadamu bahwa engkau bersama ayahmu telah dengan jelas melakukan perbuatan kekafiran, syirik dan kemunafikan! ….Engkau bersama ayahmu siang dan malam sekuat tenagamu telah berbuat permusuhan terhadap agama ini!… Engkau adalah seorang penentang yang sesat  dan dengan sengaja melakukan kekafiran terhadap Islam. Kitab kalian itu menjadi bukti kekafiran kalian!” (Ad-Durar as-Saniyah, jilid 10 hal.31).

Kepada Ahmad bin Abdul Karim, seorang ulama yang banyak mengkritik ajaran Wahabi, Muhamad Abdul  Wahab menulis surat: “Engkau telah menyesatkan Ibnu Ghonam dan beberapa orang lainnya. Engkau telah lepas dari millah (ajaran) Ibrahim. Mereka menjadi saksi atas dirimu bahwa engkau tergolong pengikut kaum musyrik” (Ad-Durar as-Saniyah, jilid 10 hal.64).

Kepada kritikus Wahabi lain, yakni Ibnu Isa, Muhamad Abdul  Wahab menvonis sebagai sesat. Bahkan, ia menuduh sesat kaum fuqaha’ secara keseluruhan. (Ad-Durar as-Saniyah jilid 2 halaman 59). Abdul Wahab juga mengkafirkan Imam Fakhrur Razi, seorang ulama mazhab Syafi’i-Asy’ari, pengarang kitab Tafsir al-Kabir. Muhamad Abdul  Wahab mengatakan: “Sesungguhnya al-Razi telah mengarang sebuah kitab yang membenarkan para penyembah bintang”. (Ad-Durar as-Saniyah jilid 10 halaman 355). Penilaian ini diungkapkan karena dalam Tafsir al-Kabir, Al-Razi menjelaskan tentang beberapa hal yang menjelaskan fungsi gugusan bintang dalam kaitannya dengan fenomena yang berada di bumi, termasuk berkaitan dengan bidang pertanian.

Muhamad Abdul Wahab mengklaim, bahwa kesesatan para pakar teologi itu merupakan konsensus (ijmak) para ulama dengan mencatut nama para ulama seperti ad-Dzahabi, Imam Daruquthni dan al-Baihaqi. Padahal jika meneliti tulisan ad-Dzahabi–yang kata Ibnu Abdul Wahab juga mengkafirkan para teolog–dalam kitabnya Siar A’lam an-Nubala, beliau banyak menjelaskan dan memperkenalkan beberapa tokoh teolog, tanpa ungkapan pengkafiran dan penyesatan. Kalau pun, misalnya, terdapat beberapa teolog yang menyimpang, bukan hal yang bijak jika menggeneralisir.

Muhamad bin Abdul  Wahab sedemikian mudah mengkafirkan ulama dan kelompok lain. Kebiasaan ini, nyaris diikuti secara buta seratus persen oleh para pengikutnya. Bahkan ada kecenderungan menggenaralisasi seluruh ulama non-Wahabi sebagai  kafir dan sesat. Di bawah naungan keyakinan inilah mereka  membunuh kaum Muslim dan merampas harta benda mereka. Bahkan, tercatat dalam sejarah bahwa mereka sering mengancam: “Masuklah kedalam ajaran Wahabi/Salafi. Dan jika tidak, niscaya anda terbunuh, istri anda menjadi janda, dan anak anda menjadi yatim”. 

Salah satu contoh yang cukup terkenal, adalah bagaimana Muhamad Ibnu Abd Wahab mengkafirkan Ibnu Arabi. Bagi Ibnu Abdul Wahab, Ibnu Arabi yang bermazhab Maliki itu lebih kafir dari Fir’aun. Muhamad Abdul Wahab juga memerintahkan (baca: mewajibkan) orang lain untuk mengkafirkan Ibnu Arabi. “Barangsiapa tidak mengkafirkannya (Ibnu Arabi) maka ia pun tergolong orang yang kafir pula. Atau Barangsiapa yang meragukan kekafirannya (Ibnu Arabi) maka ia tergolong kafir juga,” tegas Ibnu Abd Wahab (Ad-Durar as-Saniyah  jilid 10 hal.25)

Selain individu ulama, dalam kitab Ad-Durar as-Saniyah jilid 9, halaman 291, jilid 10 halaman 113, jilid 8 halaman 57 disebutkan, Muhamad Ibnu Abd Wahab pada zamannya juga mengkafirkan penduduk Makkah, Ihsa’, ‘Anzah, Dhufair, Uyainah dan Dar’iyah. Bahkan, untuk dua wilayah terakhir, Muhamad Abdul Wahab juga secara khusus mengkafirkan para ulama di Uyainah dan Dar’iyah, khususnya Ibnu Sahim al-Hanbali dan para pengikutnya. Vonis kafir juga dialamatkan Ibnu Abdul Wahab kepada kaum ulama dan seluruh penduduk awam di Wasym dan Sudair. (Ad-Durar as-Saniyah jilid 2, hal. 77)

 

Argumen pengkafiran atas seluruh penduduk dan ulama di kawasan di atas adalah sama. Mereka semua, dalam tuduhan Muhamad bin Abdul  Wahab adalah para pelaku bid‘ah. Muhamad bin Abdul  Wahab menyatakan: “Banyak dari penghuni zaman sekarang ini tidak mengenal Tuhan yang seharusnya disembah. Mereka tidaklah menyembah Allah, melainkan Hubal, Yaghus, Ya’uq, Nasr, Lata, Uzza dan Manat. Jika mereka memiliki pemahaman yang benar niscaya akan mengetahui bahwa kedudukan benda-benda yang mereka sembah sekarang ini seperti manusia, pohon, batu, matahari, rembulan. Ibadah mereka mirip menyembah berhala. Derajat kesyirikan kaum kafir Quraisy tidak jauh berbeda dengan mayoritas masyarakat sekarang ini. Kekafiran dan kemusyrikan mayoritas masyarakat sekarang ini lebih dahsyat dari kekafiran dan kesyirikannya dari kaum musyrik yang telah diperangi oleh Nabi”. (Ad-Durar as-Saniyah jilid 1 hal.117, 120, 160). 

Muhamad bin Abdul  Wahab menyatakan, “Kami tidak mengkafirkan seorang pun melainkan sebagai dakwah kepada kebenaran. Kelompok itu telah menangkap dalil kami sehingga argumen kami telah sampai kepadanya. Namun, jika mereka tetap sombong dan menentangnya. Mereka bersikeras tetap meyakini akidahnya sebagaimana sekarang ini kebanyakan dari mereka telah kita perangi. Mereka telah bersikeras dalam kesyirikan dan mendemonstrasikan perbuatan dosa besar dan hal-hal haram”. (Ad-Durar as Saniyah, jilid 1 hal. 234) .  

Muhamad bin Abdul  Wahab, amat mudah menjatuhkan vonis kafir, syirik dan bid‘ah kepada kaum non-Wahabi. Yang dimaksud dengan kaum musyrik pada akhirnya adalah kelompok yang mengingkari dakwah Wahabi. Mereka, adalah kelompok yang meyakini di hal-hal yang dinyatakan syirik dan kafir oleh Wahabisme seperti tabaruk, tawasul, dan ziarah kubur. Fatwa ini, hingga saat ini ditaklidi dan dilestarikan oleh pengikut Wahabisme, tidak terkecuali di Tanah Air. 

 

Dalam kitab Halaqat Mamnu’ah karangan Hisyam al-Aqqad ,ulama Wahabi, disebutkan bahwa mengucap zikir Laillaha ilallah sebanyak seribu kali adalah sesat dan musyrik (padahal dalam Al-Quran surah al-Ahzab [33]:41 Allah berfirman;“Wahai orang-orang yang beriman berzikirlah dengan menyebut nama Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.”)

Dalam kitab karangan Abdullah Ibnu Zaid ,ulama Wahabi, yang berjudul al-Iman bi al-Anbiyai Jumlatan (beriman kepada semua Nabi/kitab) disebutkan, Adam a,s. bukanlah Nabi dan juga bukan Rasulallah.

Ibnu Baz ,ulama senior Wahabi, mengatakan, mengucapkan kalimat Shadaqallahul-adzim (maha Benar Allah dengan segala firman-Nya) setelah selesai membaca AlQuran adalah bid’ah sesat dan haram hukumnya! Padahal, Islam justru menganggap baik mengucapkan kalimat itu, karena mengandung pujian kepada Allah, dan sesuai dengan firman Allah Swt. dalam  surah Ali-Imran [3]: 95; “Katakanlah shadaqallahu (Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya).”)………Masih banyak lagi fatwa-fatwa yang aneh dari kelompok Wahabi, yang berlawanan para Salaf Saleh yang tidak tercantum di site ini. 

 

Kesan kaku, beku, terbatas dan tidak dapat beradaptasi pada setiap masa dan zaman, pada akhirnya menjadi sesuatu yang tipikal dari pengikut Wahabisme. Mereka terkesan tidak bersedia berdialog dan cenderung memaksakan pendapatnya. Siapa pun yang memiliki pendapat berbeda dengan Wahabisme, akhirnya akan kena vonis kafir, musyrik atau bid‘ah!

 

Tauhid dan Syirik Versi Mazhab Wahabi-Salafi  

Dalam catatan sejarah, Muhamad Ibnu Abdul Wahab terkenal sebagai seorang yang amat mahir dalam bidang retorika. Kemahirannya ini mengakibatkan tidak sedikit orang menjulukinya sebagai “Syaikhul Islam”. Ajarannya yang paling terkenal adalah di bidang tauhid. Muhamad Ibnu Abdul Wahab membagi keyakinan tauhid menjadi dua macam: Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah. Bagi Muhamad Ibnu Abdul Wahab, tauhid rububiyyah adalah hal yang diakui benar baik oleh kaum Muslim maupun non-Muslim. Adapun, tauhid uluhiyah dinilai Ibnu Abdul Wahab sebagai pembeda antara kekufuran dan keimanan.

Ibnu Abdul Wahab berkata: ‘Hendaknya setiap Muslim dapat membedakan antara kedua jenis tauhid ini. Kaum Muslim juga harus tahu bahwa bahwa orang-orang kafir tidak mengingkari keberadaan Allah Swt. sebagai Pencipta, Pemberi rezeki dan Pengatur.  Jika telah terbukti bagi anda bahwa orang-orang kafir mengakui yang demikian, niscaya anda mengetahui bahwa perkataan anda yang mengatakan, “Sesungguhnya tidak ada yang menciptakan dan tidak ada yang memberi rezeki kecuali Allah, serta tidak ada yang mengatur urusan kecuali Allah, tidaklah menjadikan diri anda seorang muslim sampai anda mengatakan: “Tidak ada Tuhan selain Allah dengan mengikuti/disertai melaksanakan artinya” (Muhamad bin Abdul Wahab, Fi Aqaid al-Islam, hal.38).

 

Tauhid Rububiyah

Kata ar-Rab dalam pandangan Wahabi diartikan sebagai Pencipta. Hemat kami, penerjemahan ar-Rab dengan “pencipta” adalah sesuatu yang salah. Arti kata ar-Rab, baik makna leksikal maupun dalam penggunaannya dalam Al-Quran, tidak keluar dari arti “Yang memiliki urusan pengelolaan dan pengaturan”. Makna umum ini, sejalan dengan berbagai macam ekstensinya, seperti pendidikan, perbaikan, kekuasaan, dan kepemilikan. Coba perhatikan kutipan dua ayat Al-Quran berikut:

“Wahai manusia, sembahlah Rab-mu yang telah menciptakanmu.” (QS Al Baqarah [2]: 21);  “Sebenarnya Rab kamu ialah Rab langit dan bumi yang telah menciptakan nya” (QS Al-Anbiya [21]: 56).   

Jika kata ar-Rab berarti Pencipta, maka ayat-ayat  di atas tidak diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu atau kata yang telah menciptakan- nya. Karena jika tidak, maka berarti terjadi pengulangan kata yang tidak perlu. Jika kita meletakkan kata al-Khaliq (Pencipta), sebagai ganti kata ar-Rabb pada kedua ayat di atas, maka tidak lagi diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu dan kata yang telah menciptakannya. Sebaliknya, jika kita mengatakan arti kata ar-Rabb adalah Pengatur atau Pengelola, maka disana tetap diperlukan penyebutan kata, yang telah menciptakanmu dan kata yang telah menciptakannya.

Dengan demikian, makna atau arti ayat  pertama di atas, “Sesungguhnya Zat yang telah menciptakanmu,  Pengatur urusanmu”, sementara arti pada ayat kedua,“Sesungguhnya pencipta langit dan bumi, penguasa dan Pengatur keduanya". 

Oleh karena itu, perkataan Muhamad Ibnu Abdul Wahab yang berbunyi “Adapun tentang tauhid rububiyah, baik Muslim maupun Kafir mengakuinya” adalah perkataan yang tidak tepat. Al-Quran sendiri menyatakan,”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rab bagi segala sesuatu” (QS Al-An’am [6]: 164). Firman Allah Swt kepada Rasul-Nya ini, tidak lain berarti agar beliau menyampaikan kepada kaumnya sebagai berikut: ‘Apakah engkau memerintahkan aku untuk mengambil Rab, yang aku akui pengelolaan dan pengaturannya selain Allah, yang tidak ada pengatur selain-Nya sebagaimana engkau mengambil berhala berhalamu dan mengakui pengelolaan dan pengaturannya’.

Jika semua orang-orang kafir mengakui bahwa pengelolaan dan pengaturan hanya semata-mata milik Allah ,sebagaimana dikatakan Muhamad bin Abdul Wahab, maka ayat di atas tidak mempunyai arti sama sekali. Muhamad bin Abdul  Wahab, menukil pemikiran ini dari Ibnu Taimiyahtanpa melalui proses pengkajian. Akibatnya, kaum Wahabi begitu mudah mengkafirkan kaum non-Wahabi. Baik Al-Quran maupun Sunnah, tidak ada keterangan yang menyebutkan tentang adanya kaum musyrik beriman dengan tauhid rububiyah saja! Al-Quran dengan tegas menyatakan bahwa mereka itu bukanlah kaum beriman.

Ayat-ayat berikut–tentang keimanan kaum musyrikin–yang dikutip dalam kitab-kitab tafsir para ulama;

Surah al-Ankabut [29]:61,“Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka:” Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan” Tentu mereka akan menjawab:” Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).”

Al-Qurthubi berkata, maka betapakah mereka (dapat) di palingkan (dari jalan yang benar)’ maksudnya: Bagaimana mereka kafir dengan keesaan-Ku dan berbalik dari menyembah-Ku. Artinya: Sesungguhnya, mereka akan mengatakan jawaban itu dengan lisan mereka saja, ketika ditegakkan dalil- dalil atas mereka, sementara hakikatnya mereka tidak mengatakannya (tidak beriman).[Tafsir al Jami’ Li Ahkam al Qur’an, 13/161.]

Surah Yunus [10]:31,“Katakanlah:”Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang wafat dan mengeluarkan yang wafat dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan” Maka mereka akan menjawab:” Allah”. Maka katakanlah:” Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya).”

Al-Qurthubi berkata,“..Maka mereka akan menjawab, Allah..” Sebab mereka meyakini, bahwa Sang pencipta adalah Allah . Atau mereka akan mengatakan Dia adalah, ‘Allah’, jika mereka mau berfikir dan bersikap obyektif.”[Ibid, 8/ 247].

Ibnu Athiyah berkata tentang ayat di atas, “Maka mereka akan menjawab, ’Allah’.” Tidak ada jalan bagi mereka, kecuali mengatakannya, dan mereka tidak dapat menentang dengan selainnya.[ Al Muharrar al Wajiz,9/38].

Imam al-Baidhawi berkata, Maka mereka akan menjawab, ’Allah’.” Sebab, mereka tidak dapat menentang dan membantah dalam masalah ini, mengingat begitu jelasnya bukti. [Anwar at tanzil,1/434. Keterangan serupa juga terdapat dalam tafsir Ruh al Ma’ani, jilid 7 juz 11, 161.]

Al-Gharnathi berkata tentang surah Yunus:31, “Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rezeki kepadamu …’.“ Ayat ini, berargumentasi atas kaum kafir dengan hujjah yang banyak lagi jelas, yang tiada jalan bagi mereka melainkan mengakuinya.”[ At Tashil Li Ulum at tanzil,1/356.]  

Selain mereka, bisa kita temukan keterangan serupa dalam tafsir Fathu al- Qadir; karya asy-Syaukani dan al- jawahir al-Hisan karya ats-Tsa’Alibi…, demikian juga keterangan mereka pada surah al Mu’minun [23]:84-92!

Ibnu Jarir at-Thabari, ketika menafsirkan surah al-Baqarah [2]:22, menukil dua pendapat, tentang siapa yang menjadi objek pembicaraan dalam firman Allah Swt, ”Oleh karena itu, janganlah kalian menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kalian mengetahui (bahwa tidak satupun dari para sekutu itu yang menciptakanmu dan memberikan rezeki kepadamu.”

Pendapat pertama, Yang dimaksud, kaum Musyrik dan Ahlul Kitab. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Abbas r.a.

Pendapat kedua, Yang dimaksud, Ahlul Kitab. Kaum Musyrik tidak termasuk. Ini pendapat, Mujahid dan dari generasi Salaf. Selanjutnya Ibnu Jarir at- Thabari berkata, “Dalam hemat saya, yang mendorong Mujahid  menyandarkan objek pembicaraan itu hanya untuk Ahlul Kitab ,Taurat dan Injil, adalah anggapan bahwa bangsa Arab tidak mengetahui, Allah itu adalah Sang Pencipta, Pemberi Rizki, karena mereka mengingkari keesaan Tuhan mereka, dan mempersekutukanNya dalam penyembahan sesembahan lain. Ada juga, yang berpendapat demikian. Hanya saja, firman Allah Swt. dalam kitab-Nya, mereka itu mengakui ke Esaan Allah, tetapi mereka menyekutukan-Nya dalam penghambaan sesembahan-sesembahan lain.” [Tafsir Jami al Bayan, 1/164.]

 

Walaupun at-Thabari tidak memilih pendapat Mujahid, namun, terbukti di kalangan para penafsir Salaf ada yang berpendapat seperti itu! Pengakuan mereka akan kemaha Penciptaan dan kemaha Pengaturan Allah Swt, tidak meniscaya- kan mereka mentauhidkan Allah dalam Rububiyah/ Khaliqiyah, karena pada waktu yang sama, mereka juga menyekutukan Allah dalam Rububiyah/Khaliqiyah! Mereka berkeyakinan, selain Allah sebagai Pencipta, Pengatur alam semesta dan sebagai Tuhan Akbar, ada pula tuhan-tuhan lain, yang memiliki kemandirian dalam menjalankan fungsi Rububiyah.

Di antara firman Allah Swt yang menjelaskan keyakinan kaum Musyrik Arab, yang menyamakan sesembahan-sesembahan mereka dengan Allah Swt berikut ini; diantaranya, “dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat”, dan dikatakan kepada mereka:’Di manakah sesembahan-sesembahan yang dahulu kamu selalu menyembah (nya), selain dari Allah?Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri? Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka, demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam.” (QS asy-Syuaraa [26]:91-98).

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)” (QS Yusuf [12]:106). Tentang ayat ini, Ibnu Jauzi dalam tafsirnya menerangkan, mereka yang di maksud bukanlah Mukmin sejatinya,…ia berkata, “Jika dikatakan, ‘Bagaimana Allah mensifati si musyrik itu dengan keimanan?’ Maka jawabnya, ‘Sesungguhnya yang dimaksud, bukanlah hakikat keimanan, akan tetapi maknanya, meskipun kebanyakan dari mereka menampakkan keimanan dengan lisan-lisan mereka, mereka itu adalah orang-orang musyrik.” [ Zad al Masir,4/227.]

Ibnu Athiyah, menukil dari Ibnu Abbas r.a.; “Ayat itu untuk Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani), mereka beriman kepada Allah, kemudian mereka menyekutukan-Nya dari sisi kekafiran mereka kepada nabi-Nya. Atau dari sisi perkataan mereka Uzair itu anak Tuhan. Isa anak Tuhan…”[ Al Muharrar al Wajiz,9/386-387].

Ibnu Abi Hatim, menukil dua riwayat tentang tafsir ayat diatas. Ayat ini, berbicara tentang syirik ashghar/kecil. Maksudnya adalah riya’. Ia berkata,‘….Dari Zakariya Ibnu Zurarah, ayahku bercerita kepadaku, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Abu Jakfar Muhamad Ibnu Ali tentang ayat: “Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” Abu Jakfar berkata, “Syirik dalam ketaatan. Seperti ucapan seorang, ‘Anda bukan karena Allah, tapi karena si fulan,.” [Tafsir Abu Hatim 7/2208.]

Ibnu Jarir at-Thabari berkata, Perkataan tentang takwil firman Allah “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah kecuali mereka berbuat kesyirikan” (QS Yusuf : 106). Allah berkata: Dan tidaklah kebanyakan mereka–yaitu yang telah disifati oleh Allah dengan firmanNya,“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya”)–mengakui bahwasanya Allah Pencipta, Pemberi rizki kepada mereka, dan Pencipta segala sesuatu, melainkan mereka berbuat kesyirikian kepada Allah dalam peribadatan mereka kepada patung-patung. Serta  menjadikan selain Allah, sebagai tandingan bagi Allah dan persangkaan mereka bahwasanya Allah memiliki anak. Maha tinggi Allah, dari apa yang mereka ucapkan. Dan para ahli tafsir berpendapat seperti pendapat kami ini.”[Tafsir At Thabari 13/372.]

Imam at-Thabari sadar kemusyrikan mereka dalam penyembahan itu, meskipun mereka beriman dalam pengesaan Allah dalam urusan penciptaan dan pengaturan, bukanlah sebab tunggal. Tetapi di samping itu, mereka mengaku bahwa Allah punya anak. Akidah terburuk kaum Musyrik Arab, mereka klaim bahwa Allah memiliki anak–Maha Suci Allah dari anggapan itu–. Allah Swt. berfirman dalam surah Maryam [19]:88-93, “Dan mereka berkata, Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.”

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat, ‘Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak’. Allah berfirman, Langit-langit dan bumi serta gunung-gunung dan seluruh makhluk selain manusia dan jin benar-benar terkejut karena kemusyrikan itu, dan hampir-hampir musnah, akibatnya karena kemaha Agungan Allah.”[Tafsir Ibnu Katsir,3/146.]

Beragam ayat yang berbicara tentang akidah kaum musyrik Arab, Allah memiliki anak, misalnya dalam Surah Al-Baqarah ayat 116; Surah Yunus ayat 68; Surah al-Kahfi; An-Najm dan lain lain.

Dalam surah an-Najm [53]:19-23 menyebutkan nama nama tuhan sesembahan yang mereka yakini sebagai “putri-putri” Tuhan. Allah Swt berfirman, “Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Lata dan Al Uzza dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan. Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.”

Asy-Syaukani berkata tentang ayat: Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan.– ‘Bagaimana kalian menjadikan bagi Allah sesuatu yang kalian benci untuk diri kamu sendiri, yaitu anak-anak perempuan. Kalian menjadikan untuk kalian apa-apa yang kalian sukai, berupa anak-anak laki-laki. Hal demikian, karena klaim mereka bahwa para malaikat adalah anak-anak perempuan Allah.’ [Tafsir Fathu al Qadir,5/131.]

Al-Qurthubi berkata, “Dan barang siapa membolehkan untuk menjadikan malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah, berarti ia menjadikan para malaikat itu sebagai yang serupa dengan Allah. Sebab anak itu sejenis dan serupa dengan bapaknya.” [Al-Jami’ Li Ahkam Al-Quran,15/122].

 

Keterangan serupa, dijelaskan oleh an-Nasafi dalam tafsirnya. Ia berkata, “Kemudian Allah makin menekankan kepalsuan mereka, dengan firman-Nya, ‘Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, (sebab Allah Maha Suci dari sejenis, dan anak seseorang, pasti sejenis dengan bapaknya) dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, (tiada bersama sekutu dalam ketuhanan) kalau ada tuhan beserta-Nya, masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, (niscaya setiap tuhan akan menyendiri  dengan apa yang ia ciptakan)…[Tafsir an Nasafi,2/142]. Keterangan serupa juga disampaikan oleh al Alusi dalam tafsir Ruh al Ma’ani, jilid X juz, 18/90.

Sebenarnya, masih banyak lagi yang perlu dicantumkan disini, tapi Insya Allah pendapat sebagian ulama yang telah kami kemukakan, cukup jelas bahwa kaum Musyrik Arab itu menyekutukan Allah tidak hanya dalam Uluhiyah semata, tetapi mereka juga menyekutukan Allah dalam Rububiyah-Nya!

Jika golongan Wahabi-Salafi, tidak sependapat dengan pakar tafsir diatas, adalah hak mereka. Tetapi, mereka tidak berhak menganggap pilihannya adalah satu-satunya tafsiran dalam ayat-ayat tersebut, apalagi memaksa orang lain menerima pilihannya itu!

Sesuatu hal yang aneh, jika dalam sebuah masalah golongan wahabi membanggakan tafsir Salaf seperti; Ibnu Abbas ra., Mujahid, Qatadah atau Imam Malik, namun, ketika para salaf ini berseberangan dalam sebuah masalah atau dalam memahami ayat-ayat/hadis-hadis sifat, nukilan-nukilan dari mereka tidak digubris, bahkan nama-nama mereka segera di kesampingkan!

 

Tauhid Uluhiyah

Pandangan Muhamad Abdul Wahab mengenai tauhid uluhiyah, bahwa ibadah semata-mata hanya untuk Allah Swt., dan seseorang tidak boleh menyekutukan-Nya dalam beribadah kepada-Nya. Inilah tauhid yang menjadi tujuan di utusnya para Nabi dan para Rasul. Kita semua tidak ada keraguan sedikitpun tentang pemahaman ini. Namun, disana terdapat kekaburan mengenai istilah. Karena, didalam Al-Quran, Allah Swt. bukanlah berarti al-ma’bud. Kita dapat menamakan tauhid ini dengan tauhid ibadah. Namun, tidak ada masalah dengan istilah jika kita telah sepakat mengenai pemahamannya. Kaum Muslimin sepakat, akan wajIbnuya menjauhkan diri dari ber-ibadah kepada selain Allah Swt. dan hanya semata-mata kepada-Nya kita beribadah. Namun, yang menjadi perselisihan, mengenai batasan pengertian ibadah. Dan ini, merupakan sesuatu yang paling penting didalam bab ini. Karena, inilah yang menjadi tempat tergelincirnya kaki golongan muslimin yang melarang tawasul/tabaruk, penghormatan /ta'zim kepada para Rasul dan para sholihin, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup.

Jika kita mengatakan, tauhid yang murni ialah, kita mempersembahkan ibadah semata-mata kepada Allah Swt., maka yang demikian tidak akan ada artinya jika kita tidak mendefenisikan terlebih dahulu pengertian ibadah, sehingga kita mengetahui batas-batasannya, yang tentunya akan menjadi tolok ukur yang tetap bagi kita, untuk membedakan seorang muwahhid (yang bertauhid) dan seorang musyrik.

Kaum Salafi-Wahabi menganggap, seluruh ketundukan, perendahan diri dan penghormatan adalah ibadah. Muhamad Ibnu Abdul  Wahab berkata pada salah satu risalahnya: “..... Barangsiapa yang menginginkan sesuatu dari kuburan, pohon, bintang, para malaikat atau para Rasul, dengan tujuan untuk memperoleh manfaat atau menghilangkan bahaya, maka dia telah menjadikannya sebagai Tuhan selain Allah. Berarti dia, telah berdusta dengan ucapannya, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’. Dia harus diminta bertaubat. Jika dia bertaubat, dia akan dibebaskan; namun jika tidak, maka dia harus dibunuh. Jika orang musyrik ini berkata, ‘Saya tidak bermaksud darinya kecuali hanya untuk bertabaruk, dan saya tahu bahwa Allah-lah yang memberikan manfaat dan mendatangkan madharat.’ Katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya Bani-Israilpun tidak menghendaki kecuali apa yang kamu kehendaki’. Sebagaimana yang telah Allah Swt. beritakan tentang mereka. Yaitu manakala mereka telah berhasil menyeberangi laut, mereka mereka mendatangi sebuah kaum yang tengah menyembah berhala mereka. Kemudian Bani Israil berkata, ‘Hai Musa, buatkanlah untuk kami seorang Tuhan, sebagaimana Tuhan-Tuhan yang mereka miliki’, kemudian Musa berkata, ‘Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh.’” (‘Aqa’id al-Islam, kumpulan surat-surat Muhamad bin Abdul Wahab, hal.26).

 

Muhamad bin Abdul  Wahab berkata dalam risalahnya yang lain: “Barangsiapa yang bertabaruk kepada batu atau kayu, atau menyentuh kuburan atau kubah dengan tujuan untuk bertabaruk (mengambil barokah) kepada mereka, maka berarti dia telah menjadikan mereka sebagai Tuhan-Tuhan yang lain”. (‘Aqa’id al-Islam Muhamad bin Abdul Wahab, hal.26).

Muhamad Sultan al-Ma‘shumi ,seorang ulama Wahabi, memandang kaum Muslim yang sedang menziarahi kuburan Rasulallah Saw. untuk bertabaruk kepada Nabi Saw,. sebagai berikut: “Pada kunjungan saya yang ke empat ke kota Madinah, saya menyaksikan di  Nabawi di sisi kuburan Rasulallah Saw. yang mulia, banyak sekali terdapat hal-hal yang bertentangan dengan iman. Hal-hal yang menghancurkan Islam dan hal-hal yang membatalkan ibadah. Yakni kemusyrikan-kemusyrikan yang muncul disebabkan sikap berlebihan, kebodohan, taklid buta dan ta’asub yang batil. Sebagian besar yang melakukan kemunkaran-kemunkaran ini, orang-orang asing yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat agama. Mereka telah menjadikan kuburan Rasulallah Saw. sebagai berhala disebabkan cinta yang berlebihan.”(Al–Musyahadat al-Ma‘shumiyah Inda Qabr Khair al-Bariyyah, hal.15)      

Terdapat kecenderungan kuat, bagi kaum Wahabi-Salafi definisi ibadah hanya berurusan dengan bentuk lahiriyahnya saja. Ketika mereka melihat seorang peziarah kuburan Rasulallah Saw. menciumi makam Rasulallah Saw. atau makam para waliyullah, maka dengan serta merta terbayang di dalam benak mereka, seorang musyrik yang menciumi berhalanya. Lalu, dengan segera mereka memvonis, seorang Muslim yang menciumi kuburan sebagai seorang musyrik.

Pikiran seperti itu, hemat kami adalah keliru. Jika semata-mata bentuk lahiriyah menjadi sandaran utama untuk menetapkan kesyirikan atau kekufuran, tentu kaum Wahabi pun mengkafirkan seluruh kaum Muslim yang mencium hajar aswad. Tentu kenyataannya tidak demikian! Kaum Muslim yang mencium hajar aswad, perbuatannya itu dihitung sebagai salah satu bentuk eskpresi tauhid murni.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis:

Bahwa Usamah bin Zaid r.a. telah membunuh seorang pimpinan laskar kafir yang telah terjatuh pedangnya. Si kafir kala itu dengan wajah tidak serius mengucap syahadat. Namun Usamah tetap menebas lehernya. Mendengar kejadian itu, Rasulallah Saw. sedemikian murka. Lalu memanggil Usamah, seraya bersabda: “Apakah engkau membunuhnya padahal dia telah berucap la ilaha illallah?” Usamah r.a. menjawab: “Kafir itu hanya bermaksud ingin menyelamatkan diri Wahai Rasulallah.” Beliau Saw. bangkit dari duduknya dengan wajah merah padam dan membentak Usamah: “Apakah engkau telah belah sanubari- nya? hingga engkau tahu isi hatinya (perkataan ini diulangi tiga kali) … ..sampai akhir hadis.

Golongan Wahabi-Salafi, menganggap bahwa setiap bentuk ke tundukan atau perendahan diri seorang pada sesuatu (Nabi Allah, Waliyullah dan sebagainya), orang tersebut dianggap sebagai hamba sesuatu tersebut, dilain kata dia telah  menyembahnya. Dengan demikian, berarti dia telah menyekutukan Allah. Menurut golongan ini, bila seorang yang menempuh perjalanan yang jauh dengan tujuan untuk menziarahi Rasulallah Saw., sehingga dapat mencium dan menyentuh makamnya yang suci, dengan tujuan bertabaruk (baca bab Tabaruk), maka dia terhitung sebagai orang kafir dan orang musyrik. Demikian juga, halnya orang yang mendirikan bangunan di atas kuburan, untuk menghormati dan mengagungkan orang yang dikubur didalamnya.

Dalam Risalah Arba’ah Qawa’id (hal.4), Muhamad Abdul  Wahab menulis: ’Sesungguhnya orang-orang musyrik dari kalangan kaum Muslim lebih keras kemusyrikannya dibandingkan kaum musyrik di zaman dulu. Karena kaum musyrik zaman dahulu hanya menyekutukan Allah di saat lapang, sementara di saat genting mereka mentauhidkan-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt.: “Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai kedarat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).”(QS Al Ankabut [29]:65).

Siapakah kaum Musyrik dari kalangan kaum Muslim? Muhamad Ibnu Abdul Wahab menulis: “Setiap orang yang bertawasul kepada Rasulllah Saw. dan para Ahlul-Baitnya, atau menziarahi kuburan mereka, maka dia itu kafir dan musyrik. Kemusyrikan mereka jauh lebih besar daripada kemusyrikan para penyembah Lata,‘Uzza, Mana dan Hubal.”

Sudah jelas, bagi orang yang berpendidikan agama akan menolak tegas pikiran si Syekh Muhamad bin Abdul Wahab dan Muhamad Sulthan al-Ma’shumi ini. Dengan omongannya itu, mereka tidak bisa membedakan antara ibadah dan  ta’zim/ penghormatan. Baik menurut syariat maupun akal, kita tidak dapat meletakkan secara keseluruhan kata ketundukkan (khudhu’) dan perendahan diri (tadzallul) sebagai ibadah. Kita melihat banyak sekali perbuatan yang dilakukan oleh manusia didalam kehidupan sehari-harinya yang disertai dengan ketundukkan dan perendahan diri. Contohnya; ketundukkan seorang murid kepada gurunya, begitu juga ketundukkan seorang prajurit yang berdiri hormat dan sebagainya dihadapan komandan- nya. Tidak mungkin ada seorang manusia yang berani mengatakan perbuatan yang mereka lakukan itu ibadah. Allah Swt. telah memerintahkan kita untuk menampakkan diri kepada kedua orang tua ketundukkan dan perendahan. Sebagaimana firman-Nya: “Dan turunkanlah sayapmu (rendahkan lah dirimu) di hadapan mereka berdua dengan penuh kasih sayang”. 

 

Kata “penurunan sayap” disini, merupakan kiasan dari ketundukan yang tinggi. Kita tidak mungkin menyebut perbuatan ini sebagai ibadah. Bahkan, pedoman seorang muslim adalah “tunduk dan merendahkan diri di hadapan seorang Mukmin, serta congkak dan meninggikan diri dihadapan orang kafir”. Jika semua perendahan diri dikatakan sebagai ibadah, berarti Allah telah memerintahkan orang-orang mukmin untuk beribadah kepada satu sama lainnya. Jelas, ini sesuatu yang mustahil!

Banyak ayat ilahi, dengan jelas berbicara tentang hal ini, antara lain ayat yang menceritakan sujudnya para malaikat kepada Adam a.s. Sujud adalah merupakan peringkat tertinggi dari khudhu’ (ketundukkan) dan tadzallul (perendah- an  diri). Allah  Swt. berfirman: “Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada  para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam’”.(QS. al-Baqarah: 34).

 

Jika sujud kepada selain Allah Swt. dan penampakkan puncak ketundukkan dan perendahan diri itu disebut ‘ibadah’ –sebagaimana pemikiran kalangan Salafi/Wahabi– maka tentu para malaikat ,na’udzu- billah, telah musyrik dan kafir. Tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa kata ‘sujud’ didalam ayat ini, berarti makna hakiki/yang sesungguhnya. Banyak ahli tafsir menulis, sujud di ayat tersebut, sujud penghormatan atau ta’dzim terhadap Adam as, bukan sujud ibadah atau sujud kepada Adam untuk dijadikan sebagai kiblatnya, sebagaimana menjadikan Ka’bah sebagai kiblat mereka. Iblis memahami perintah Allah Swt. tersebut, sujud kepada diri Adam itu sendiri (sebagai ta’zim). Oleh karena itu, dia protes dengan mengatakan, ‘saya lebih baik/utama darinya’.

 

Tolok ukur Tauhid dan Syirik

Kelompok Salafi-Wahabi percaya bahwa Al-Quran dan Sunnah hanya bisa diartikan secara tekstual (apa adanya tekst) atau literal, dan tidak ada arti majazi atau kiasan didalamnya. Pada kenyataannya, terdapat ayat Al-Quran yang mempunyai arti harfiah dan ada juga yang mempunyai arti majazi, yang mana kata-kata Allah Swt. harus diartikan sesuai dengannya. Jika kita, tidak dapat membedakan diantara keduanya, kita akan menjumpai beberapa kontradiksi yang timbul didalam Al-Quran. Dengan adanya keyakinan seluruh kandungan Al-Quran dan Sunnah secara tekstual atau literal dan jauh dari makna Majazi atau kiasan ini, akibatnya mereka memberi sifat secara fisik kepada Allah Swt.. (umpama Dia Swt. mempunyai tangan, kaki, mata dan lain-lain seperti makhluk-Nya). Mereka mengatakan, terdapat kursi yang sangat besar (Arsy) dimana Allah Swt. duduk diatasnya.

 

Terdapat banyak masalah lainnya yang diartikan secara tekstual. Hal ini, telah membuat banyak fitnah diantara umat Islam, dan inilah yang paling pokok dari mereka yang membuat berbeda dari Mazhab yang lain. Salafisme ini, hanya berjalan atas tiga komposisi yaitu; Syirik, Bid’ah dan Haram.

Mengartikan ayat-ayat Ilahi dan Sunnah secara tekstual, akan secara otomatis menolak atau menyembunyikan bagian dari Al-Quran maupun Sunnah yang berlawanan dengan keyakinan kaum Wahabi. Mereka juga kadangkala kerepotan dan kebingungan untuk menafsirkan ayat-ayat  dan hadis Rasulallah Saw. yang (kelihatannya) berlawanan dan mencari jalan sedapat mungkin agar yang berlawanan ini sampai sesuai dengan keyakinannya. Umpamanya, mereka berdalil dengan surah Al-Fatihah:5, ‘Hanya kepada Mu kami menyembah dan hanya kepada Mu kami memohon pertolongan’ dan ayat-ayat yang semakna. Atau berdalil dengan hadis riwayat Tirmudzi dari Ibnu Abbas r.a., Rasulallah Saw. bersabda:

                      :إذَا سَألْتَ فَاسْألِ اللهَ, وَإذَا اسْتَعَـنْتَ فَاسْتَتعِنْ بَاللهِ

  • وَاعْلَمْ أنَّ الاُمَّـةَ لَوِ اجْتَمَـعَتْ عَلَى اَنْ يَنْفَـَعُوكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَنْفَـَعُوكَ إلاَّ بِشَـيْئٍ قَدْ كَتَبهُ

اللهُ لَكَ, وَلَوِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْئٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إلاَّ بِشَيْئٍ قَدْ كَتَبهُ  اللهُ لَكَ

“Jika engkau minta sesuatu mintalah pada Allah. Jika engkau hendak minta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah seumpama manusia sedunia berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak akan dapat memberi pertolongan, selain apa yang telah disuratkan Allah bagimu. Dan seumpama mereka berkumpul untuk mencelakakan dirimu mereka tidak akan dapat mencelakakanmu selain dengan apa yang telah disuratkan Allah menjadi nasibmu.”

Dengan berdalil dengan ayat dan hadis tersebut mereka mengatakan, kita harus langsung minta pertolongan dan pengampunan pada Allah Swt. tidak boleh melalui hamba-Nya, Apakah Allah tuli–na’udzubillah–sehingga Dia tidak bisa mendengar kita secara langsung?

Kaum Wahabi-Salafi, memahami ayat dan hadis itu secara tekstual. Akibatnya, mereka berani memusyrikkan orang yang minta tolong atau pelindung pada Rasulallah Saw. atau hamba-hamba Allah yang saleh. Padahal maksud hadis itu, manusia tidak boleh lupa bahwa sebab utama yang melindungi dan menolong manusia adalah Allah Swt. Jadi bukan berarti manusia haram untuk minta pertolongan atau pelindungan dari hamba-Nya yang beriman dan meminta syafa’at pada hamba Allah yang diberi izin oleh-Nya.

 

Bila kita mempunyai faham seperti kaum Wahabi, pastilah akan kerepotan untuk memahami beberapa ayat Quran dan hadis berikut,

Sesungguhnya penolong kamu (Waliukum) adalah Allah, dan Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk/rukuk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah, itulah yang pasti menang”. (QS Al-Maidah [5]: 55-56)

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan), dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan (begitupula) Jibril dan orang orang mukmin yang baik, dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula”.  (QS At-Tahrim [66]: 4)

”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang lalim penduduknya dan berilah kami pelindung (waliyan) dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong (nashira) dari sisi Engkau”. (QS An-Nisaa [4]: 75).   Sementara dalam hadis riwayat Imam Muslim dan lainnya, Allah akan menolong hambaNya selagi hambaNya mau  menolong sesamanya,  Rasulallah Saw. bersabda:

وَاللهُ فِى عَوْنِ العَبْدِ مَاكَانَ العَبْدُ فِى عَوْنِِ أخِيْهِ                          

'…Allah menolong hamba-Nya selagi hamba itu mau menolong saudaranya’.

 

Kalau kita baca ayat An-Nisa diatas, manakala Allah cukup sebagai Pelindung (waliyan) dan Penolong (Nasira), mengapa orang memohon kepada Allah supaya orang lain (yang disisi-Nya) menjadi Pelindungnya dan Penolongnya? Apakah kita benar-benar menyekutukan sesuatu kepada Allah, ketika kita percaya bahwa Jibril a.s, orang beriman dan para malaikat sebagai Waliyan (Pelindung) kita dan Naseer (Penolong) bersama-sama dengan Allah? Apakah Allah Swt. bukan satu-satunya Wali (penolong) karena disamping Dia, ada Penolong lainnya? Apakah tidak cukup hanya Dia (Allah Swt.) sebagai penolong?Jika kita tetap memakai pengertian Syirik ,faham Wahabi, secara otomatis dengan membaca ayat-ayatNya telah membuat Allah sendiri Musyrik -na‘udzubillah- dan begitu pula dengan orang-orang yang percaya terhadap seluruh ayat Al-Quran.

Kaum Wahabi tentu hanya akan menukil ayat-ayat yang mana Allah menyatakan, hanya Dialah sebagai Wali (Penolong). Dengan hanya merujuk pada ayat ini, mengenyampingkan ayat-ayat lainnya, kaum Wahabi mencoba menciptakan kesan bahwa mempercayai Rasulallah Saw sebagai Wali (Penolong) adalah syirik. Dengan argumen ini, kaum Wahabi juga melontarkan kata-kata Syirik kepada para ulama  pengarang kitab Diba’, Barzanji,  Burdah, dan syair keagungan Rasulallah Saw. Keyakinan kaum Wahabi di atas jelas berbeda dengan faham kelompok ahli sunnah wal jamaah (sunni).

 

Kaum Sunni membolehkan memohon kepada Allah melalui Rasul-Nya atau melalui orang yang saleh. Bagi kaum Sunni, bertawasul kepada Rasulallah Saw. dan kaum beriman bukanlah berarti permohonan kepada hamba-Nya. Itu hanya merupakan cara yang baik untuk sampai kepada Allah Swt. Tema ini akan dibahas lebih jauh dalam bab mengenai tawasul. Kaum Wahabi jelas ingin menghapus praktik tawasul/tabaruk. Mereka dengan tegas mengategorikan praktik-praktik itu sebagai syirik dan bid‘ah.

Kelompok Wahabi-Salafi mengatakan, tidak ada perantara antara Allah dan hambaNya. Sementara pada ayat lain ada hamba-Nya yang beriman bisa menjadi perantara, “Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (Muhamad), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.(QS An-Nisaa[4]:64).

Semua ahli tafsir (Mufassirin) termasuk golongan Salafi/Wahabi setuju, ayat ini di turunkan ketika suatu saat sebagian sahabat melakukan kesalahan yang kemudian mereka sadar atas kesalahannya dan ingin bertaubat. Mereka meminta ampun secara langsung kepada Allah, tapi lihat bagaimana kita memahami firman Allah dalam hal ini; 

Alllah menolak untuk menerima permohonan ampun secara langsung, tapi Allah memerintahkan mereka untuk terlebih dahulu mendatangi Rasulallah Saw. dan kemudian beliau Saw. memintakan ampun kepada Allah Swt.; Allah memerintahkan sahabat untuk bersikap seperti yang di perintahkan, menyertakan Rasulallah Saw. dalam permohonan ampun mereka, hanya setelah melakukan ini mereka akan benar-benar mendapat pengampunan dari Yang Maha Penyayang.

        

Sebenarnya terdapat sepuluh ayat dalam Al-Quran yang mana Allah Swt. menyatakan bahwa hanya Dialah sebagai satu-satunya perantara. Dan terdapat tujuh ayat dalam Al-Quran yang menyatakan bahwa Rasulallah, orang-orang saleh dan malaikat dapat menjadi perantara atas izin Allah. Kaum Wahabi berpendapat bahwa bertawasul kepada sebab-sebab yang alami tidaklah menjadi masalah. Seperti menggunakan sebab-sebab di dalam keadaan alami. Akan tetapi, golongan pengingkar ini menolak keras bertawasul kepada sebab-sebab gaib. Golongan ini, menjadikan sebab-sebab materi berarti tauhid yang sesungguhnya dan sebab-sebab gaib berarti syirik yang sebenarnya. Sebenarnya tolok ukur tauhid dan syirik kembali kepada keyakinan manusia terhadap sebab-sebab ini. Jika seorang manusia meyakini bahwa sebab-sebab ini mempunyai kemerdekaan yang terlepas dari kekuasaan Allah Swt., maka keyakinannya ini syirik. Misalnya, seseorang meyakini obat tertentu dapat menyembuhkan sebuah penyakit, tanpa ada kaitan dengan kekuasaan Allah Swt., maka perbuatan ini syirik, meskipun itu melalui sebab-sebab alami atau gaib. Jika seseorang meyakini bahwa semua sebab tidak merdeka dan tidak terlepas dari kekuasaan Allah Swt.–baik dalam wujud maupun pengaruhnya–dan dia itu tidak lebih hanya merupakan makhluk Allah Swt. yang menjalankan perintah dan kehendak-Nya, maka keyakinan orang ini adalah tauhid yang sesungguhnya.

 

Allah Swt. telah berfirman tentang sebab-sebab, sebagian menisbatkan langsung kepada-Nya, dan ada kalanya menisbatkan kepada yang menjadi sebab-sebabnya secara langsung. Berikut ini, beberapa contoh firman Allah Swt..

“Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” Ayat ini menekankan bahwa rezeki berada ditangan Allah Swt. Sedangkan pada firman Allah Swt., “Berilah mereka rezeki (belanja) dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik,” kita melihat rezeki dinisbatkan kepada manusia. Pada ayat yang lain, Allah Swt. menyatakan diri-Nya sebagai penanam yang hakiki.

Allah Swt. berfirman; “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu tanam? Kamukah, yang menanamnya ataukah Kami yang menanamnya?” (QS. al-Waqi'ah [56]: 63–64). Adapun, pada ayat yang lain, Allah menisbahkan sifat penanaman tersebut kepada manusia sebagaimana firman-Nya, “Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.”(QS.Al-Fath [48]: 29).

Pada sebuah ayat, Allah Swt. menyatakan diri-Nya sebagai pencabut nyawa, sebagaimana firman-Nya, “Allah memegang jiwa (orang) ketika wafatnya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum wafat di waktu tidurnya.” (QS. Az-Zumar[39]:42). Sementara pada ayat lain Allah Swt. menjelaskan, bahwa mencabut nyawa adalah tugas malaikat. Allah Swt. berfirman: “Sehingga apabila datang kewafatan kepada salah seorang diantara kamu, dia di wafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajibannya.” (QS. al-An'am [6]:61). Atau firman Allah Swt, “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri… sampai akhir ayat.” (QS. an-Nisa’: [4]:97).

 

Pada suatu ayat  Allah Swt. menyatakan, bahwa syafa’at hanya khusus milik Allah Swt, sebagaimana firman-Nya, “Katakanlah, hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya" (QS. az-Zumar [39]:44).  Sementara pada ayat lain, Allah Swt. memberitahukan tentang adanya para pemberi syafa’at selain Allah, sebagaimana firmanNya, “Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka  sedikit pun tidak berguna kecuali sesudah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai-Nya.” (QS. an-Najm [53]: 26). Ayat ini menyatakan bahwa hamba Allah Swt. bisa memberi syafa’at setelah diizinkan Allah.

Pada sebuah ayat, Allah menyatakan bahwa pengetahuan tentang hal-hal yang gaib adalah khusus milik Allah,. firman-Nya; "Katakanlah, 'Tidak ada seorang pun dilangit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib kecuali Allah.' " (QS. an-Naml [27]: 65). Sementara pada ayat lain, Allah Swt. memilih para Rasul diantara hamba-hamba-Nya, untuk diperlihatkan kepada mereka hal-hal yang gaib. Allah Swt. berfirman: ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepadamu hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya diantara Rasul-Rasul-Nya.’ (QS. Ali Imran [3]:179). Sudah tentu Rasulallah Saw. berada pada urutan pertama dari para Rasul lainnya. Dan masih ada ayat-ayat lainnya yang serupa.

 

Pada beberapa ayat Allah Swt. mengatakan ‘hanya Allah-lah’  sebagai Pelindung dan Penolong: 

Dialah satu-satunya sebagai pelindung. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak pula penolong baginya selain dari Allah’ (QSAn-Nisa [4]:123).  

'Dan Allah lebih mengetahui (daripada kamu) tentang musuh-musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu) ’ (QS An-Nisa [4]:45).

Katakanlah:‘Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?’ Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan menolong selain Allah”. (QS Al-Ahzab [33] :17). 

Sementara pada ayat lain, selain Allah Swt. sebagai Pelindung dan Penolong ada hamba-hamba-Nya dengan seizin-Nya juga sebagai Penolong dan Pelindung, (baca surah Al-Maidah [5]:55-56; surah At-Tahrim [66]:4; surah  An-Nisa [4]:75, yang telah kami cantumkan pada halaman sebelumnya).

Begitu pula beberapa ayat, Allah Swt. mengatakan,  pengampunan bisa di mohonkan pula  melalui hamba-Nya,...:

“Karena itu maafkan lah  mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka.” (Ali Imran [3] :159):

‘....maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’ (An Nuur [24] : 62),  

“ ..., maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Mumtahanah [60]:12 ), dan ayat-ayat yang semakna.

 

Allah Swt. mengatakan, disamping Dia, Rasulallah Saw diberi izin memberi Karunia“Jika mereka sungguh sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan kepada kami sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, …sampai akhir ayat” (At Taubah [9]:59). Atau ayat, “….kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpah kan karunia-Nya kepada mereka….”.(At-Taubah[9] :74).

Apakah kita telah syirik dengan mengatakan, Rasulallah Saw. dapat memberikan Karunia bersama dengan Allah Swt.? Ayat-ayat seperti diatas, bertentangan langsung dengan faham golongan Wahabi-Salafi tentang Syirik, mereka berusaha menolak dan mengenyampingkannya, karena takut orang-orang akan  menjadi syirik!

Berikut, ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat Allah Swt, Karim, Rahim, Rouuf, dinisbatkan pula kepada  RasulNya, ‘Sesungguhnya Al-Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia (Kariim)’  (Al-Haqqah [69]:40);

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang (Rouufun Rahiim) terhadap orang-orang mu’min”. (At-Taubah [9]:128 ).

Kata-kata Karim , Rouf, Rahim dan sifat-sifat Allah Swt. yang lain (qawi, halim ..)  yang disebutkan di Al-Quran, ketika disifatkan kepada Allah Swt. merupakan arti literal atau arti sebenarnya. Dan ketika disifatkan kepada para RasulNya mengandung arti kiasan/majaz. Apakah kita telah syirik dengan mengatakan bahwa Rasulallah Saw. adalah Rahim, Rouf? Sudah tentu tidak!

 

Golongan Pengingkar, tidak siap dan menolak penggunaan ungkapan secara kiasan/Majaz! Perhatikan ayat berikut ini;

Allah Swt. berfirman,” ...sungguh tuanku (Robbi) telah memperlakukan aku dengan baik.” Sesungguhnya orang-orang yang lalim tiada akan beruntung’. (QS Yusuf (12) : 23).       

Kata Robbi dalam surah Yusuf ini, sebagai ungkapan majazi/ kiasan dalam Al-Quran, karena  jelas kata Robbi yang diucapkan oleh Nabi Yusuf as ditujukan kepada penguasa Mesir. Untuk lebih jelasnya, kita bisa baca ayat sebelumnya (QS Yusuf: 21) yang berkaitan dengan ayat 23 diatas. Semua Mufasirin (ahli tafsir) mempunyai penafsiran yang sama tentang ayat ini. Ayat ini secara tidak langsung bertentangan dengan keyakinan golongan wahabi mengenai Tauhid dan literalisme.

Maulana Maududi ,seorang ulama dari Pakistan, dalam buku tafsirnya yang terkenal Tafhimul Quran berusaha untuk merubah arti ayat tersebut supaya sesuai dengan keyakinannya dan keyakinan teman-temannya golongan Salafi. Sebagaimana yang dia tulis dalam bahasa Inggris yang terjemahan bebasnya, “Pada umumnya para ahli tafsir (telah membuat kesalahan dan) yang karenanya (beranggapan) bahwa Yusuf (as) menggunakan kata ‘robbi’ sebagai sebutan pada penguasa Mesir saat itu, bagaimana mungkin beliau as. berhubungan intim (selingkuh) dengan isteri sang penguasa yang tentunya hal ini bertentangan dengan loyalitasnya. Tetapi tidaklah mungkin bagi para Rasul melakukan dosa demi orang lain daripada demi Allah. Dan juga tidak ada contoh didalam AlQuran seorang Rasul yang menyebut selain Allah dengan sebutan ‘Robbi’ ”.

Pernyataan beliau ini tidak konsekwen, karena Al-Quran telah jelas dalam masalah ini dan hampir tidak satupun ahli tafsir mulai abad pertama hijriah hingga abad ini yang memahami ayat diatas seperti pendapat Maulana Maududi. 

Begitu pula dalam masalah tawasul, Maulana Maududi ini lebih extrem daripada golongan Salafi, Arab Saudi.  Beliau merubah arti firman Allah Swt. dalam Surah Thaha [20]:96, ‘Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku’. Hampir semua hadis Rasulallah Saw. menginformasikan, yang dimaksud dengan Rasul dalam ayat diatas adalah malaikat Jibril a.s. Semua ahli tafsir dari abad pertama tahun Hijriah hingga sekarang menerima yang adanya barokah dalam jejak Jibril a.ss, Pemerintah Arab Saudi menerbitkan Al-Quran dalam bahasa Urdu yang mengakui tentang barakah ini, tapi Maulana Maududi berusaha dengan keras merubah arti ayat dan menolak untuk menerima tentang barakah dalam ayat ini, karena bertentangan dengan keyakinannya!

Secara sekilas, ayat-ayat yang telah kami kemukakan  terkesan bertentangan, namun sesungguhnya ayat-ayat di atas menguatkan pembahasan kita. Yaitu bahwa hanya Allah Swt. yang merdeka dalam melakukan segala sesuatu. Sedangkan selain Allah, dalam melakukan perbuatannya mereka semua bersandar dan berada di bawah naungan kekuasaan Allah Swt.. Allah Swt. telah meringkas pengertian ini dalam firman-Nya;

,وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللهَ رَمَى

“Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah lah yang melempar."(QS. al-Anfal [8]: 17)

Allah menyatakan bahwa Rasulallah Saw. yang telah melempar, dengan kata-kata ketika kamu melempar. Namun, pada saat yang sama Allah Swt. menyatakan diri-Nya sebagai Pelempar yang sesungguhnya, karena sesungguhnya Rasulallah Saw. tidak melempar, melainkan dengan kekuatan yang telah Allah berikan kepadanya. Sehingga dengan begitu, Rasulallah Saw. adalah pelempar ikutan (bittaba’)Dengan demikian kita dapat membagi perbuatan Allah kepada dua bagian:

Pertama, Perbuatan tanpa perantara (kun fayakun).

Kedua,  Perbuatan dengan perantara.

 

Dengan meniadakan arti majaz/kiasan dalam Al-Quran,  kelompok Wahabi juga melontarkan kata-kata Syirik kepada para ulama–para penyair atau pengarang kitab-kitab: Diba’, Barzanji,  Burdah dan lain-lain–yang didalam bait-bait syairnya antara lain terkandung sifat-sifat Allah Swt. (Pengampun, Penolong, Pengabul hajat, dan....) yang ditujukan pada Rasulallah Saw. Padahal, diantara sifat-sifat Allah Swt yang ditujukan  pada Rasulallah Saw tersebut adalah sebagai majaz/kiasan, sebagaimana firman Allah Swt. ,yang telah kami kemukakan, menyebutkan sifat-sifat yang dimiliki-Nya pada para Rasul-Nya.

Para penyair, pembaca serta pendengar syair itu tahu dan tidak lengah sebab utama yang memberi pelindungan, penolongan adalah Allah Swt., sedangkan Malaikat, Rasulallah Saw. dan hamba-Nya yang saleh termasuk didalamnya atas izin-Nya. Dengan pemahaman ayat atau hadis secara tekstual, golongan Wahabi sering menghardik para peziarah Rasulallah Saw. dengan mengatakan, “Hai musyrik, Rasulallah Saw. tidak memberikan manfaat sedikit pun kepadamu.” Pikiran seperti ini, sangat naif sekali. Sesungguhnya masalah manfaat atau tidak, tidak memberikan pengaruh didalam masalah tauhid dan syirik.

Pandangan Wahabi-Salafi ini, meneruskan pandangan Ibnul Qayyim–murid Ibnu Taimiyah–yang mengatakan, “Salah satu di antara bentuk syirik, ialah meminta kebutuhan dari orang yang telah wafat, serta memohon pertolongan dan menghadap kepada mereka. Inilah asal mula syirik yang ada di alam ini. Karena sesungguhnya orang yang telah wafat telah terputus amal perbuatannya. Mereka tidak memiliki sedikit pun kekuasaan untuk mendatangkan bahaya dan manfaat bagi dirinya.” (Mufid bin Abdul Wahab, Fath al-Majid, hal. 67).

Bagaimana mungkin permintaan sesuatu dari orang yang masih hidup dikatakan tauhid, sementara permintaan sesuatu yang sama dari orang yang telah wafat dikatakan syirik? Jelas, perbuatan yang semacam ini keluar dari kerangka pembahasan tauhid dan syirik, tetapi kita dapat meletakkannya dalam pembahasan, “apakah permintaan ini berguna atau tidak?”.  Dan permintaan yang tidak berguna, tidak termasuk syirik.

Perkataan Ibnul Qayyim yang berbunyi; ‘Sesungguhnya orang yang wafat telah terputus amal perbuatannya’. Seandainya benar, itu tidak lebih memiliki arti hanya menetapkan bahwa meminta dari orang yang wafat itu tidak berguna, namun tidak bisa menetapkan bahwa perbuatan itu syirik. Adapun perkataan beliau yang berbunyi, ‘Orang yang telah wafat tidak memiliki sedikit pun kekuasaan untuk mendatangkan bahaya atau manfaat bagi dirinya’, ini adalah merupakan perkataan yang umum yang mencakup untuk semua manusia baik yang telah wafat maupun yang masih hidup. Karena seluruh makhluk ,baik yang hidup maupun yang wafat, tidak memiliki sedikitpun ke kuasaan atas dirinya dan hanya memiliki kekuasaan atas dirinya semata-mata dengan izin dan kehendak Allah.

Dengan adanya keterangan ini, maka kita bisa ambil kesimpulan bahwa Rasulallah Saw. dan para sahabat bukan dari golongan Salafi/Wahabi, ini disebabkan karena:

Para sahabat sering menjadikan Rasulallah Saw. dan hamba yang saleh sebagai perantara antara Allah dan mereka, seperti halnya yang telah diterangkan diatas.  Para sahabat sering memerlukan Nabi Saw. untuk memohonkan perlindungan dan pengampunan dari Allah Swt., walaupun Allah sendiri sanggup mendengar setiap ucapan dan panggilan para sahabat tersebut dan Dia juga lebih dekat di banding urat lehernya (para hamba-Nya).Rasulallah Saw. tidak menolak permohonan para sahabat dan tidak bersabda kepada sahabat: ‘Pergilah dan mintalah pada Allah Swt. secara langsung’!

 

Tajsim (penjasmanian) dan Tasybih (penyerupaan)

Pemahaman secara literal-tekstual ayat ayat Al-Quran dan hadis, akan mengakibatkan pemberian sifat secara fisik (tajsîm) kepada Allah Swt. Kaum Wahabi yakin bahwa Allah mempunyai tangan, kaki, mata dan lain-lain seperti makhluk-Nya. Mereka juga mengatakan terdapat kursi yang sangat besar (‘Arsy) di mana Allah Swt. Duduk, sehingga Dia Swt. membutuhkan ruangan atau tempat untuk duduk di atasnya. Bagi kaum Wahabi, siapa pun yang setuju dengan kebolehan menakwil ayat-ayat mutasyabihat, berarti ia telah melakukan tahrif (perubahan) terhadap ayat Al-Quran. Pemahaman jenis ini dekat dengan pandangan kelompok mujassimah.

Bagi kaum Mujassimah, ayat-ayat Ilahi yang mutasyabihat (kalimat perumpamaan atau kalimat samar) dalam menerangkan keadaan diri-Nya, haruslah diartikan sebagaimana adanya. Tidak ada takwil untuk sejumlah ayat seperti: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy…. sampai akhir ayat (QS Al-A’raf [7]: 54); “.. kemana pun kamu menghadap disitulah wajah Allah ..“(QS Albaqarah [2]:115);  “…Mereka melupakan Allah maka Allah pun melupakan  mereka” (QS At-Taubah [9]:67).

Dengan metode tafsir seperti itu, kaum Mujassimah berkonsekuensi menolak bahwa Allah Swt. sudah qidam/ berada sebelum Dia menciptakan semua makhluk-Nya.  Jika ada golongan yang mengatakan bahwa Allah Swt. bersemayam di Arsy dalam arti sesungguhnya, maka kita bakal bertanya, di manakah Allah Swt. bersemayam sebelum arsy, langit, tempat, ruang, arah, atas, bawah dan sebagai- nya, diciptakan? Begitu juga kita akan bertanya di manakah Allah sesudah diciptakannya semua makhluk? Kaum Mujassimah juga mengatakan, bahwa pada sepertiga malam Allah berada dilangit pertama bukan  di atas arsy. Padahal orang semua tahu bahwa waktu itu bergilir setiap saat. Jika di Indonesia tengah malam maka di Amerika adalah siang hari. Kita akan bertanya apakah Allah Swt. berada di langit pertama setiap saat?

Telah diketahui, bahwa sifat Allah tetap tidak berubah. Sifat Allah tidak sama dengan makhluk. Maka orang yang mengatakan Tuhan bertempat dan berarah menyalahi sifat wajib salbiyah Allah, yaitu sifat yang digunakan untuk menolak sesuatu yang tidak patut untuk dinisbahkan kepada Allah. Sifat yang digunakan untuk menolak sesuatu yang tidak patut untuk di nisbahkan kepada Allah, itu ada lima; 

Wahdaniyah/Esa, Allah tidak terpisah-pisah yakni ada tuhan yang dilangit, ada tuhan yang di arsy, ada tuhan yang di sorga, ada tuhan yang di baitullah dsb.nya;

Qidam, Ada sebelum semua makhluq ada (Allah Ada sebelum tempat dan arah ada);

Baqo/Kekal, Allah kekal sedangkan langit dan alam semesta  akan hancur;

Mukhalafatu lil hawaditsi, berbeda dgn makhluk (Allah beda dengan makhluk, sedangkan yang bertempat dan berarah adalah benda kasar/makhluk);

Qiyamuhu binafsihi, tidak memerlukan apapun ( Allah tidak memerlukan tempat/arsy dsb).

Kaum Mujassimah mengatakan “Allah punya tangan tetapi beda dengan tangan Makhluk”. Mereka ini mengatakan akan menerima secara zhahir dan yang zhahir itu berbeda dengan zhahirnya makhluk. Kita ingin bertanya, makna zhahir mana yang mereka katakan “menerima secara zhahir?” Seorang pelajar di kota Makkah berceritera, ada seorang ulama tunanetra yang suka menyalahkan dan juga mengesampingkan para ulama lain yang tidak sefaham dengannya mendatangi seorang ulama yang berpendapat bahwa boleh melakukan takwil (penggeseran arti) terhadap ayat-ayat mutasyabihat (samar) seperti ayat: yadullah fauqa aidihim (tangan Allah diatas tangan mereka), tajri bi a’yunina ([kapal] itu berlayar dengan mata Kami) dan lain sebagainya. Ulama yang membolehkan takwil berpendapat, kata tangan pada ayat itu berarti kekuasaan (jadi bukan berarti tangan Allah Swt. secara hakiki) sedangkan kata mata pada ayat ini berarti pengawasan.           

Ulama tunanetra yang memang tidak setuju dengan kebolehan menakwil ayat mutasyabihat, langsung membantah dan mengajukan argumentasi dengan cara yang tidak sopan dan menuduh pelaku takwil sama artinya dengan melakukan tahrif (perubahan) terhadap ayat Al-Quran. Ulama yang membolehkan takwil itu dengan tenang memberi komentar, “Kalau saya tidak boleh takwil, maka anda akan buta di akhirat.” Ulama tunanetra itu bertanya, “Mengapa anda mengatakan demikian?” Ulama yang membolehkan takwil mejawab, “Bukankah Allah Swt. berfirman, ‘Barangsiapa buta didunia, maka di akhirat pun dia akan buta dan lebih tersesat dari jalan yang benar. (QS. Al-Isra [17]:72). Kalau saya tidak dibolehkan takwil, buta pada ayat ini pasti diartikan dengan buta mata dan tentunya nasib anda akan sangat menyedihkan di akhirat, karena di dunia ini anda buta (tunanetra). Oleh karena itu, bersyukurlah dan hargai pendapat orang-orang yang membolehkan takwil sehingga kalimat buta pada ayat di atas diartikan degan buta hati dan bukan arti sesungguhnya yaitu buta mata. Ulama tunanetra itu akhirnya terdiam, tidak memberi tanggapan apa-apa.”

Dalam kutipan berikut, ditunjukkan bahwa kaum Wahabi-Salafi cenderung sefaham dengan kaum Mujassimah. Mereka menyakini serta mempercayai makna zhahir hadis-hadis berikut  secara hakiki, hanya manusia tidak boleh membayangkan Tuhannya:

Berkata Wahab bin Munabbih waktu ditanya oleh Jaad bin Dirham tentang Asma wa Shifat: “Celaka engkau wahai Jaâd karena permasalahan ini. Sungguh aku menduga engkau akan binasa. Wahai Jaâd, kalau saja Allah tidak mengkabarkan dalam kitab-Nya bahwa Dia memiliki tangan, mata atau wajah, tentu kamipun tidak akan mengatakannya. Bertakwalah engkau kepada Allah!” (Aqidatus Salaf As-habul Hadis, hal.190) 

Abdullah Ibnu Ahmad rahimahullah meriwayatkan, disertai dengan menyebut sanad-sanadnya. Beliau berkata, “Rasul- Allah Saw. telah bersabda; ’Tuhan kita telah menertawakan keputus-asaan hamba-hamba-Nya dan kedekatan yang lainnya. Perawi berkata; ‘Saya bertanya, ‘Ya Rasulallah, apakah Tuhan tertawa?’ Rasulallah Saw. menjawab, ‘Ya.’ Saya berkata, ‘Kita tidak kehilangan Tuhan yang tertawa dalam kebaikan’“.(Kitab as-Sunnah, hal.54). 

Abdullah Ibnu Ahmad berkata, “Saya membacakan kepada ayahku. Lalu, dia menyebutkan sanadnya hingga kepada Sa’id bin Jubair yang berkata, Sesungguhnya mereka berkata, ‘Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu yaqut-Nya. Saya tidak tahu, apakah dia mengatakan merah atau tidak?’ Saya berkata kepada Said bin Jubair, lalu dia berkata, ‘Sesungguhnya ruh-ruh berasal dari batu zamrud dan naskah tulisan emas, yang Tuhan menuliskannya dengan tangan-Nya, sehingga para penduduk langit dapat mendengar suara gerak pena-Nya.”(Kitab as-Sunnah, hal. 76). 

 

Abdullah Ibnu Ahmad berkata, “Ayahku berkata kepadaku dengan sanad dari Abi Ithaq yang berkata, ‘Allah menuliskan Taurat bagi Musa dengan tangan-Nya, dalam keadaan menyandarkan punggungnya ke batu, pada lembaran-lembaran yang terbuat dari mutiara. Musa dapat mendengar bunyi pena Tuhannya, sementara tidak ada penghalang antara dirinya dengan Tuhannya kecuali sebuah tirai.’” (Kitab as-Sunnah, hal. 76). 

Mari kita baca lagi riwayat lainnya berikut ini, Allah mempunyai jari, dan di antara jari-jari-Nya itu terdapat jari kelingking, serta jari kelingking-Nya mempunyai sendi. Beberapa hadis berikut difahami kaum Wahabi-Salafi secara tekstual-literal:

Ibnu Khuzaimah dalam kitab at-Tauhid dengan bersanad dari Anas bin Malik r.a. yang berkata:   Rasulallah Saw. telah bersabda;“Manakala Tuhannya menaiki gunung, Dia mengangkat jari kelingking-Nya, dan mengerutkan sendi jari kelingkingnya itu, sehingga dengan begitu lenyaplah gunung.” Humaid bertanya kepadanya, ‘Apakah kamu akan menyampaikan hadis ini’? Dia menjawab, ‘Anas menyampaikan hadis ini kepada kami dari Rasulallah, lalu kamu menyuruh kami untuk tidak menyampaikan hadis ini?’”  (Kitab at-Tauhid, hal 113; Kitab as-Sunnah, hal.65). 

Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Swt. mempunyai tangan, tangan-Nya mempunyai jari, di antara jari-Nya itu ialah jari kelingking, dan jari kelingking itu mempunyai sendi...! 

Abdullah juga berkata, dengan bersanad dari Abu Hurairah, dari Rasulallah Saw. yang bersabda; ”Sesungguhnya kekasaran kulit orang kafir panjangnya tujuh puluh dua hasta, dengan ukuran panjang tangan Yang Maha Perkasa.” (Kitab at-Tauhid, hal.190). Dari hadis ini kaum Mujasiimah mengatakan, Tuhan mempunyai  dua tangan, juga kedua tangan Tuhan mempunyai ukuran panjang tertentu. Karena jika tidak, maka tidak mungkin kedua tangan tersebut menjadi ukuran bagi satuan panjang. 

 

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, dengan bersanad kepada Anas bin Malik yang berkata, “Rasulallah Saw. telah bersabda, ‘Orang-orang kafir dilemparkan kedalam neraka. Lalu, neraka berkata, ‘Apakah masih ada tambahan lagi?, maka Allah pun meletakkan kaki-Nya kedalam neraka, sehingga neraka berkata, ‘Cukup, cukup’“.(Kitab at-Tauhid, hal.184). 

Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulallah Saw. yang bersabda; “Neraka tidak menjadi penuh sehingga Allah meletakkan kaki-Nya kedalamnya. Lalu, neraka pun berkata, ‘Cukup cukup.’ Ketika itulah neraka menjadi penuh.” (Kitab at-Tauhid, hal.184). Dari riwayat ini kaum Mujassimah memahami bahwa Allah Swt. mempunyai kaki. 

Ada riwayat lebih jauh lagi, dengan menetapkan keyakinan kaum Mujasimah, bahwa Allah Swt. mempunyai nafas. Abdullah bin Ahmad bin Hanbal berkata, dengan bersanad kepada Ubay bin Ka’ab yang berkata, “Janganlah kamu melaknat angin, karena sesungguhnya angin berasal dari nafas Tuhan.” (Kitab as-Sunnah, hal.190). 

Kaum Mujassimah juga menetapkan dan bahkan menyerupakan  suara Allah dengan suara besi. Abdullah bin Ahmad, dengan sanadnya telah berkata, “Jika Allah berkata-kata menyampaikan wahyu, para penduduk langit mendengar suara bising tidak ubahnya suara bising besi di suasana yang hening.” (Kitab as-Sunnah, hal.71). 

Kaum Mujassimah juga meyakini, Allah Swt. duduk dan mempunyai bobot. Oleh karena itu, terdengar suara derit kursi ketika Allah sedang duduk di atasnya. Atau, tidak ubahnya seperti suara kantong pelana unta yang dinaiki oleh penunggang yang berat. Jika Allah tidak mempunyai bobot, lantas apa arti dari suara derit? Dasar argumen kaum Mujassimah ini didasarkan pada keterangan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal yang meriwayatkan hadis dengan bersanad dari Umar r.a. yang berkata, “Jika Allah duduk di atas kursi, akan terdengar suara derit tidak ubahnya seperti suara deritnya koper besi.” (Kitab as-Sunnah, hal.79).

Beliau juga mengatakan, dengan bersanad kepada Abdullah Ibnu Khalifah, “Seorang wanita telah datang kepada Nabi Saw. lalu berkata, ‘Mohonkanlah kepada Allah supaya Dia memasukkan saya kedalam surga.’ Nabi Saw. berkata, Maha Agung Allah.’ Rasulallah Saw. kembali berkata, ‘Sungguh luas kursi-Nya yang mencakup langit dan bumi. Dia mendudukinya, sehingga tidak ada ruang yang tersisa darinya kecuali hanya seukuran empat jari. Dan sesungguhnya Dia mempunyai suara tidak ubahnya seperti suara derit pelana tatkala dinaiki’“.(Kitab as-Sunnah, hal. 81)  

Ada juga keterangan yang membuat kaum Wahabi yakin bahwa Allah Swt dapat dilihat, mempunyai tangan yang dingin dan sebagainya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, dengan bersanad kepada Ibnu Abbas yang berkata: Rasulallah Saw. telah bersabda, “Aku melihat Tuhanku dalam bentuk-Nya yang paling bagus. Lalu Tuhanku berkata, ‘Ya Muhamad.’ Aku menjawab, ‘Aku datang memenuhi seruan-Mu.’ Tuhanku berkata lagi, ‘Dalam persoalan apa malaikat tertinggi bertengkar’? Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu, wahai Tuhanku.’ Rasulallah Saw. melanjutkan sabdanya, ‘Kemudian Allah meletakkan tangan-Nya di antara dua pundak-ku, sehingga aku dapat merasakan dinginnya tangan-Nya di antara kedua tetek-ku, maka akupun mengetahui apa yang ada di antara timur dan barat’”. (Kitab at-Tauhid, hal.217). 

Keyakinan Mujassimah, juga didasarkan pada sebuah riwayat yang lebih aneh lagi.  Abdullah bin Ahmad juga berkata: “Sesungguhnya Abdullah bin Umar bin Khatab r.a mengirim surat kepada Abdullah bin Abbas r.a., Abdullah bin Umar bertanya, ‘Apakah Muhamad telah melihat Tuhannya?’ Maka Abdullah bin Abbas pun mengirim surat jawaban kepadanya. Abdullah bin Abbas menjawab, ‘Benar’. Abdullah bin Umar kembali mengirim surat untuk menanyakan bagaimana Rasulallah Saw. melihat Tuhannya? Abdullah bin Abbas mengirim surat jawaban, ‘Rasulallah Saw. melihat Tuhannya di sebuah taman yang hijau, dengan permadani dari emas. Dia tengah duduk di atas kursi yang terbuat dari emas, yang diusung empat orang malaikat. Seorang malaikat dalam rupa seorang laki-laki, seorang lagi dalam rupa seekor sapi jantan, seorang lagi dalam rupa seekor burung elang dan seorang lagi dalam rupa seekor singa.’” (Kitab at-Tauhid, hal.194). 

Lebih aneh lagi, ada riwayat hadis yang diragukan kebenarannya, tapi dibenarkan oleh Ibnu Taimiyah dan kaum Wahabi. Riwayat itu menyebutkan, Rasulallah Saw. melihat Allah Swt berupa seorang pemuda Amrad (yang belum tumbuh jenggot dan kumisnya). Ibnu Taimiyah dan kelompok Wahabisme dengan jelas menyatakan shahih marfu’ hadis ini, dalam kitabnya Bayaan Talbis Al-Jahmiyyah jilid 7 halaman 290. Hadis ini, sudah jelas tidak bisa diterima kebenarannya. Di samping bertentangan dengan Al-Quran dan jelas sekali menunjukkan bahwa Allah Swt. adalah seorang makhluk. Na’udzubillah.

Para ulama Salaf bersepakat, bahwa barang siapa yang menyifati Allah secara hakiki dengan salah satu sifat di antara sifat-sifat manusia maka ia telah kafir. Sebagaimana hal ini ditulis oleh Imam al-Muhaddis as-Salaf ath- Thahawi (227–321 H) dalam kitab aqidahnya yang terkenal: al-Aqidah at-Thahawiyah: “Barang siapa mensifati Allah dengan salah satu sifat dari sifat-sifat manusia, maka ia telah kafir”.

Semua riwayat hadis tersebut, jelas menunjukkan tajsim atau tasybih Allah kepada makhluk-Nya. Orang yang mempercayai hadis-hadis itu sudah pasti akan membayangkan Tuhannya–walaupun mereka ini berkata tidak membayangkanNya–tentang bentuk jari kelingking Allah Swt., kaki-Nya,  wajah-Nya, berat-Nya, rambut-Nya dan lain sebagainya.  Umpama saja, riwayat-riwayat diatas ini sahih, maka makna yang berkaitan dengan sifat Allah Swt. tersebut, harus ditakwil yang sesuai dengan ke Mahasucian dan ke Mahaagungan-Nya. Atau tidak diartikan secara hakiki/sebenarnya.

 

Marilah kita lihat diskusi mengenai seputar sifat-sifat Allah antara seorang mazhab sunnah  (lebih mudahnya kita juluki si A) dengan salah seorang tokoh Wahabi/Salafi (kita juluki si B). Si A mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tersebut dalam hadis-hadis  di atas ini, dan dengan berbagai jalan berusaha membuktikan kesalahan keyakinan-keyakinan tersebut. Namun, semuanya itu tidak mendatangkan manfaat. 

Si A (mazhab sunnah) bertanya pada si B (Wahabi): “Jika memang Allah Swt. mempunyai sifat-sifat ini, yaitu Dia mempunyai wajah, mempunyai dua tangan, dua kaki, dua mata, dan sifat-sifat lainnya yang mereka alamatkan kepada Tuhan mereka, apakah tidak mungkin kemudian seorang manusia membayangkan dan mengkhayalkan-Nya? Dan dia pasti akan membayang- kanNya. Karena jiwa manusia tercipta sedemikian rupa, sehingga dia akan membayangkan sesuatu yang telah diberi sifat-sifat yang seperti ini.”   

 Si B (mazhab Wahabi) menjawab: “Ya, seseorang dapat membayangkan-Nya (bentuk Allah), namun dia tidak di perkenankan memberitahukannya!!” 

Si A bertanya lagi: “Apa bedanya antara anda meletakkan sebuah berhala dihadapan anda dan kemudian anda menyembahnya dengan anda hanya membayangkan sebuah berhala dan kemudian menyembahnya?” 

Si B menjawab: “Ini adalah perkataan kelompok sesat semoga Allah memburukkan mereka. Mereka beriman kepada Allah namun mereka tidak mensifati-Nya dengan sifat-sifat seperti ini (mempunyai dua tangan, kaki dan lain-lain). Sehingga dengan demikian, mereka itu menyembah Tuhan yang tidak ada.” 

Si A ini berkata lagi: “Sesungguhnya Allah yang Maha benar, Dia tidak dapat diliputi oleh akal, tidak dapat dicapai oleh penglihatan, tidak dapat ditanya di mana dan bagaimana, serta tidak dapat dikatakan kepada-Nya kenapa dan bagaimana. Karena Dialah yang telah menciptakan di mana dan bagaimana. Segala sesuatu yang tidak dapat anda bayangkan itulah Allah, dan segala sesuatu yang dapat anda bayangkan adalah makhluk. Kami telah belajar dari para ulama dari keturunan Nabi Saw. Mereka berkata, ‘Segala sesuatu yang kamu bayangkan, meskipun dalam bentuk yang paling rumit, dia itu makhluk seperti kamu.’ Keseluruhan pengenalan Allah ialah ketidak mampuan mengenal- Nya.” 

Si B berkata dengan penuh emosi, “Kami menetapkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk diri-Nya, dan itu cukup! “ Demikianlah diskusi singkat ini.  

Kaum Wahabi-Salafi berusaha memberikan pembenaran terhadap hadis- hadis mengenai penjasmanian/tajsim dan tasybih/ penyerupaan tersebut dengan alasan: “Tanpa bentuk (bi la kaif)”?! Sungguh benar apa yang dikatakan seorang penyair, “Mereka telah menyerupakan-Nya dengan makhluk-Nya, namun mereka takut akan kecaman manusia maka oleh karena itu mereka pun menyembunyikannya dengan mengatakan tanpa bentuk (bi la kaif)”.

Seorang mazhab sunnah pernah berdiskusi dengan salah seorang dosennya di kampus tentang seputar masalah duduknya Allah di atas ‘Arsy. Ketika si dosen terdesak dia mengemukakan alasan: “Kami hanya akan mengatakan apa yang telah dikatakan oleh kalangan salaf, ‘Arti duduk (al-istiwa) diketahui, tapi bentuk (al-kaif) duduknya tidak diketahui, dan pertanyaan tentangnya adalah bid‘ah.”. Seorang mazhab sunnah  berkata kepadanya; “Anda tidak menambahkan apa-apa kecuali kesamaran, dan anda hanya menafsirkan air dengan air setelah semua usaha ini.”

Dosen ini berkata, “Bagaimana mungkin, padahal diskusi demikian serius.” Mazhab sunnah ini mengatakan; “Jika arti duduk diketahui, maka tentu bentuknya pun diketahui juga. Sebaliknya, jika bentuk tidak diketahui, maka duduk pun tidak diketahui, karena tidak terpisah darinya. Pengetahuan tentang duduk adalah pengetahuan tentang bentuk itu sendiri. Akal tidak akan memisahkan antara sifat sesuatu dengan bentuknya, karena keduanya adalah satu. Jika anda mengatakan si A duduk, maka ilmu anda tentang duduknya adalah tentang bentuk (kaifiyah) duduknya. Ketika anda mengatakan, duduk diketahui, maka ilmu anda tentang duduk itu adalah tentang bentuk duduk itu sendiri. Karena jika tidak, maka tentu terdapat pertentangan di dalam perkataan anda, yang mana pertentangan itu bersifat zat. Ini tidak ada bedanya dengan pernyataan bahwa anda mengetahui duduk, namun pada saat yang sama anda mengatakan bahwa anda tidak mengetahui bentuknya.” Kemudian si Dosen pun terdiam beberapa saat, lalu dengan tergesa-gesa dia meminta izin untuk pergi.!!  

Dimensi ruang/tempat, waktu, dan kesadaran adalah milik makhluk Allah. Allah tidak dibatasi oleh ruang, waktu dan kesadaran makhluk. Bukankah Allah Swt. sendiri telah berfirman: Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya’ (QS Asy-Syura [42]:11); ‘Tiada Ia tercapai oleh penglihatan mata’ (QS  Al-An’am [6]:103);  “Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan” ( QS Ash-Shaffaat [37]: 159). Ayat-ayat inilah sebagai dalil yang kuat bahwa Allah Swt. tidak bisa disamakan atau disifatkan secara hakiki seperti makhluk-Nya.

Nash-nash yang menyatakan sifat atau perbuatan Sang Pencipta tentunya harus difahami dengan landasan dalil-dalil bahwa ruang, waktu, pikiran, dan kesadaran adalah makhluk Allah, sehingga harus difahami bahwa Allah Swt. bukan makhluk, memahami makna “sifat atau perbuatan Allah” itu tentu dalam pengertian memahami sesuatu yang diluar batas ruang, waktu, dan kesadaran. Memahami ayat-ayat sifat itu sebagai memakai bahasa majazi/ kiasan adalah hal yang paling baik. Metode ini menghindari orang terjerumus ke dalam mujassimah.

Lebih mudahnya kami beri contoh. Tatkala kita menyebutkan kata ‘singa’ yaitu berupa kata tunggal, maka dengan serta merta terbayang di dalam benak kita seekor binatang buas yang hidup di hutan. Makna yang sama pun akan hadir di dalam benak kita manakala kata tersebut disebutkan dalam bentuk tarkibi (susunan kata) yang tidak mengandung qarinah (petunjuk) yang memalingkannya dari makna ifradi (tunggal). Seperti kalimat yang berbunyi, ‘Saya melihat seekor singa sedang memakan mangsanya di hutan”. Kata Singa di sini maknanya adalah sama yaitu binatang buas. Sebaliknya, makna kata singa akan berubah sama sekali apabila di dalam susunan kata (kalimat) kita mengatakan, ‘Saya melihat singa sedang menyetir mobil ’. Maka yang dimaksud dari kata singa yang ada di dalam kalimat ini adalah arti kiasan, yaitu seorang laki-laki pemberani. Bukan berarti binatang buas. Inilah kebiasaan orang Arab di dalam memahami perkataan. Manakala seorang penyair berkata; ‘Dia menjadi singa atas saya, namun di medan perang dia tidak lebih hanya seekor burung onta yang lari karena suara terompet perang yang dibunyikan’.  

Dari syair itu, kita dapat mengetahui bahwa kata singa di atas tidak lain adalah seorang laki-laki yang berpura-pura berani di hadapan orang-orang yang lemah. Kemudian lari sebagai seorang pengecut tatkala berhadapan dengan musuh dalam peperangan. Orang yang mengerti perkataan ini, tidak mungkin akan menamakannya sebagai orang yang merubah kalimat dengan sesuatu yang keluar dari makna zhahir perkataan.

Begitu juga susunan kata seperti,  ‘Negeri ini berada di dalam genggaman tangan Raja’. Orang akan memahami yang dimaksud kalimat ini ialah ‘Negeri ini berada di bawah kekuasaan dan kehendak Raja’. Susunan kata ini tetap sesuai atau tetap diucapkan meskipun pada kenyataannya Raja tersebut buntung tangannya. Jadi kata ‘genggaman tangan’ dalam kalimat ini sebagai kata kiasan/majazi yang harus disesuaikan maknanya. 

Demikian juga halnya, dengan ayat-ayat sifat Allah Swt. (wajah-Nya, tangan-Nya, betis, turun, tertawa dan lain sebagainya) baik yang tertulis dalam Al-Quran maupun dalam hadis, walaupun zhahir tektsnya tetap tertulis di dalam Al-Quran dan hadis, tetapi para sahabat dan ulama pakar menerangkan dan mensesuaikan maknanya dengan ke Maha Sucian dan keMaha Agungan-Nya atau diserahkan pe-makna-annya kepada Allah Swt., untuk menghindari orang terjerumus dalam mujassimah. Perhatikan uraian berikut tentang ayat dan hadis mutasyabihat yang ditakwil dari makna zhahirnya tekts.

 

Ayat Al-Quran dan hadis mutasyabihat yang ditakwil

Banyak ahli tafsir mentakwil ayat-ayat mutasyabihat dalam AlQuran, yang disesuaikan dengan ke Maha Sucian dan ke Maha Agungan-Nya, untuk menjauhkan makna dari segi dzahirnya, kepada makna yang lebih layak bagi Allah Swt. Oleh karena dzahir makna nash al-Mutasyabihat tersebut, jelas mempunyai unsur persamaan Allah dengan makhluk-Nya. Diantara sahabat besar yang berjalan diatas kaidah ta’wil adalah Sayiduna Ibnu Abbas r.a., anak paman Rasulallah Saw. dan murid utama Sayidina Ali k.w.

Para ahli tafsir banyak yang mengartikan makna ayat Allah: “Kursi Allah meliputi langit dan bumi.“, kata Kursi dalam ayat ini berarti Ilmu. Jadi ayat ini diartikan sebagai berikut:Ilmu Allah meliputi langit dan bumi”. Begitu juga firman-firman Allah Swt., seperti:  Wajah Allah berarti Dia Allah, Tangan Allah berarti Kekuasaan Allah, Mata Allah berarti Pengawasan Allah dan lain sebagainya. Takwil ini jelas dilakukan para Salaf, demi menjaga kesucian Allah. Sebuah upaya yang sering dituduh sebagai bid‘ah oleh kaum Wahabi.

Firman Allah Swt dalam surah Ali-Imran [3]:7, ‘Dan tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah dan orang-orang yang mendalami’. Diriwayatkan dari Mujtahid dari Ibnu Abbas yang berkata: Saya termasuk dari orang yang mengetahui ta’wilnya (Ad-Durrul Manshur 2/152 dan Zadul Masir 1/354). Begitu pula doa Rasulallah Saw untuk Ibnu Abbas: ‘Ya Allah ajarkanlah kepadanya hikmah dan takwil Al-Quran’ (HR Ibnu Majah dalam Sunannya).

Al-Hafiz Ibnu Jauzi Al Fagih Al Hanbali dalam kitab Al-Majalis hal.13, antara lain berkata: “Dan bagaimana bisa   dikatakan, sesungguhnya salaf tidak memakai takwil? Dan  sesungguhnya Abdullah bin Abbas waktu menyediakan air wudu untuk Rasulallah Saw, beliau bersabda; ‘Siapa yang melakukan itu?’, Saya (bin Abbas) berkata; ‘Saya wahai Rasulallah’. Rasulallah bersabda:  ‘Ya Allah, fahamkan lah dia dalam agama dan ajarkanlah dia takwil’. Apabila takwil itu dilarang dalam agama,  tidak mungkin Rasul Saw berdoa kepada Ibnu Abbas agar Allah Swt. mengajarinya ilmu takwil. Dengan demikian, jelas bahwa orang yang tidak membolehkan takwil, adalah perkataan orang yang kurang mendalami ilmu agama, dan bertentangan dengan pendapat para salaf. ”

Metode ta’wil ini, juga dipraktikkan oleh Ibnu Abbas ra. Beliau menta’wil ayat: يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ

“Pada hari betis disingkapkan.” (QS.Al-Qalam [68]:42), dengan  “Disingkap dari kekerasan (kegentingan).” Disini kataسَاقٍ  (betis) ditakwil dengan makna  شِدَّةٌ  (kegentingan).Takwil ayat di atas ini, telah disebutkan juga oleh Ibnu Hajar dalam Fathu al Bari,13/428 dan Ibnu Jarir dalam tafsirnya 29/38. Ia mengawali tafsirnya dengan mengatakan,“Berkata sekelompok sahabat dan tabi’in dari para ahli takwil, maknanya (ayat al-Qalam:42), “Hari dimana disingkap (di angkat) perkara yang genting.” Takwil ini, juga dinukil oleh Ibnu Jarir dari Mujahid, Said Ibnu Jubair, Qatadah dan lain-lain. Ibnu Hajar dalam syarah Bukhori (fathul bari 13/428) berkata: “Adapun (masalah) betis, Ibnu Abbas dalam firman Allah yang Maha Tinggi, ‘Pada hari betis disingkapkan’, berkata; Karena dahsyatnya urusan (waktu itu), bangsa Arab berkata, peperangan berkecamuk diatas betis, bila peperangan itu dahsyat, diantaranya;  Kawan-kawanmu telah mengadakan pemukulan (ke) leher–leher, dan peperangan berkecamuk diatas betis (dengan dahsyat)”. Al-Muhallab berkata; ‘Penyingkapan betis untuk orang-orang beriman, adalah rahmat dan untuk selain mereka adalah siksa’.

Al-Khothobi dalam Asma wash Shifaat karangan al-Baihaqi hal.345, berkata; Kebanyakan para guru besar merasa segan untuk mendalami tentang arti betis. Arti perkataan Ibnu Abbas sesungguhnya Allah menyingkap kekuasaan-Nya yang karenanya tampak kedahsyatan.

Ibnu Abbas r.a. juga menakwil beberapa ayat berikut: 

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَّ إِنَّا لَمُوْسٍعُوْنَ          

‘Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa.’(QS Ad-Dzariyat [51]:47). Kata أَيْدٍ secara lahiriyah adalah telapak tangan atau tangan dari ujung jari jemari hingga lengan, ia bentuk jamak dari kata يَدٌ. (Baca Al Qamus al Muhith dan Taj al Arus,10/417). Ibnu Abbas r.a. mentakwil arti kata tangan dalam ayat Ad-Dzariyat ini dengan ةٍبِقُوَّ artinya dengan kekuatan. Demikian  yang diriwayatkan al-Hafizh Imam Ibnu Jarir ath-Thabari dalam tafsirnya, 7/27.

Allah Swt. berfirman فَاليَوْمَ نَنْسَاهُمْ كَمَا نَسُوْا لِقَاءَ يَوْمِهِم هَذَا  “ ‘Maka pada hari ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini…’ (QS.al-A’raf [7]:51).  Ibnu Abbas r.a. mentakwil kata ‘melupakan’ diayat itu dengan ‘menelantarkan’

 

Ibnu Jarir berkata: ‘Yaitu (ayat) ‘maka pada hari ini (hari kiamat), Kami melupakan mereka, Dia berfirman, ‘Kami membiar- kan  mereka dalam siksa..’(Tafsir Ibnu Jarir, 8/201)  Ibnu Jarir menakwil kata melupakan dengan membiarkan. Ini adalah, penggeseran sebuah kata dari makna aslinya yang dhahir kepada makna majazi/kiasan. Beliau telah menukil takwil tersebut dengan berbagai sanad dari Ibnu Abbas ra., Mujahid dan lain-lain.  Ibnu Abbas r.a. adalah seorang sahabat besar dan pakar dalam tafsir Al Qur’an…. Mujahid adalah seorang tabi’in agung…Ibnu Jarir, ath-Thabari adalah Bapak Tafsir kalangan Salaf… 

 

Al-Baihaqi dalam manaqib Imam Ahmad bin Hanbal telah meriwayatkan dari Al-Hakim dari Abu Amr bin As Sammak dari Hanbal, sesungguhnya Ahmad bin Hanbal telah mentakwil firman Allah Swt. dalam surah Al-Fajr [89]:22 ‘Dan datanglah Tuhanmu …’ dengan ‘Sesungguhnya datang pahalanya ‘. Al-Baihaqi berkata; ‘Sanad ini tidak ada debunya’. Ibnu Katsir menukil hal tersebut dalam tarikh-nya (Al-Bidayah wa Annihayah 10/327).

Al-Baihaqi dalam managib Ahmad (Ta’liq Azzahid Al-Kautsari als Saifish Shoqil 120-121 karangan Imam As-Subki) berkata: “Dari Al-Hakim, dari Abu Amr bin As-Sammak, dari Hanbal bin Ishaq yang berkata; Saya dengar dari pamanku Abu Abdillah–yakni Ahmad–berkata; Mereka berargumen padaku hari itu–yakni pada hari didebat dirumah Amirul- mukminin–, mereka berkata; ‘Pada hari kiamat surah Al-Baqarah akan datang dan surah Tabarak akan datang’. Saya (Ahmad) berkata kepada mereka, hanya saja dia (yang di maksud) adalah pahala.. Allah yang Maha Tinggi berfirman, ‘Dan datanglah Tuhanmu’ (QS Al-Fajr:22). Hanya saja yang akan datang adalah kekuasaanNya …sampai akhir riwayat.

Imam Malik, Az-Zarqoni (Syarh Az-Zarqoni  alaa Al-Muwattho 2/35 dan Syarah At-Tirmidzi 2/236) menukil dari Abu Bakar Al-Arabi, sesungguhnya dia berkomentar tentang hadis, ‘Tuhan kita turun’. Turun ini, kembali pada perbuatan-perbuatan-Nya bukan kepada Zat-Nya. Bahkan, hal itu adalah keterangan tentang malaikat-Nya yang turun dengan perintah dan larangan-Nya. Turun disini adalah gambaran perasaan sifat malaikat yang diutus untuk suatu hal, makna, dengan arti tidak mengerjakan kemudian mengerjakan. Kemudian hal itu disebut turun dari satu martabat ke martabat yang lain. Ini adalah (ungkapan) bahasa Arab yang benar. 

 

Ibnu Hajar, dalam syarah al-Bukhori (fathul bari 3/30) -mengenai hadis, ‘Tuhan kita turun’, berkata; (arti) turun kembali kepada perbuatan-perbuatanNya bukan kepada Zat-Nya, bahkan hal itu adalah keterangan tentang malaikat-Nya yang turun dengan perintah dan laranganNya…dan seterusnya sampai akhir riwayat.

 

Perhatikan sebuah hadis qudsi berikut ini:

“Hai anak Adam, Aku sakit tapi engkau tidak menjenguk  Ku. Ia [hamba] berkata, ‘Bagaimana aku menjenguk-Mu sementara Engkau adalah Rabbul Alamin?’ Allah menjawab, ‘Tidakkah engkau mengetahui bahwa hamba-Ku si fulan sakit, engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau mengetahui bahwa jika engkau menjenguknya engkau akan dapati Aku di sisinya…“ (HR Muslim).

Imam Nawawi dalam Syarah Muslim mengatakan, para ulama berkata, “Disandarkannya sifat sakit kepada-Nya sementara yang dimaksud adalah hamba, hal itu merupakan tasyrif –pengagungan bagi hamba dan untuk mendekatkan. Sedangkan, kalimat engkau akan dapati Aku disisinya, para ulama berkata bahwa maksudnya adalah engkau akan mendapatkan pahala dari-Ku dan pemuliaan-Ku…“(Syarah Sahih Muslim, 6/126).

Begitu pula, kita sering mendengar sebutan Ka’bah sebagai Baitullah (rumah Allah) atau sebutan untuk  masjid. Inipun, tidak boleh kita artikan secara tekstual, tetapi yang dimaksud adalah Rumah yang dimuliakan Allah Swt. Atau kata-kata Naqatallah dalam Al-Quran, tidak bisa diartikan secara tekstual (onta betina Allah), tapi makna yang dimaksud ialah Onta betina yang dimuliakan Allah Swt.

Metode takwil juga dipakai oleh sejumlah tokoh tabi’in dan para pemuka salaf Saleh Mujahid, Qatadah, Manshur Ibnu Zaid dan Sufyan. Dari sini tampak jelas bahwa mentakwil ayat sifat adalah metode dan diamalkan para sahabat dan tabi’in.

Seorang ulama dari kelompok wahabi ,Syaikh Albani, mencela Imam Bukhari karena telah menafsirkan QS Al-Qashash [28]:88, “Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya” dengan “Segala sesuatu akan binasa kecuali Kekuasaan-Nya”. Kata Wajah-Nya pada  ayat itu ditakwil oleh Imam Bukhari dengan makna Kekuasaan-Nya. Albani berkata: “Takwil (Imam Bukhari) ini sepatutnya tidak dituturkan oleh seorang Muslim yang beriman. (Fatawa Al-Bani, hal. 523). Dengan kata-kata ini, seakan-akan imam Bukhori tidak termasuk seorang muslim yang beriman.

Anehnya lagi, Ibnu Taimiyah mengatakan, “Kalangan salaf tidak berbeda pendapat sedikit pun dalam masalah sifat.” Beliau juga mengatakan, “Saya tidak menemukan hingga saat ini seorang sahabat yang mentakwil sedikit saja ayat-ayat sifat.” Beliau mengaku telah merujuk seratus kitab tafsir. Tetapi nyatanya, ada kalangan salaf yang berbeda pendapat. Di samping contoh yang telah dikemukakan di atas, kita ambil contoh pada riwayat Ath-Thabari. Mengenai tafsir Ath-Thabari Ibnu Taimiyah mengatakan, Di dalamnya tidak terdapat bid’ah, dan tidak meriwayatkan dari orang-orang yang menjadi tertuduh.” (Al-Muqaddimah fi Ushul at-Tafsir, hal.51).

Mengenai ayat kursi–yang oleh Ibnu Taimiyah dianggap termasuk salah satu ayat sifat terbesar, sebagaimana beliau katakan dalam kitab al-Fatawa al-Kabirah, jilid 6, hal 322–Ath-Thabari mengemukakan dua riwayat yang bersanad kepada Ibnu Abbas. Ath-Thabari berkata, “Para ahli takwil berselisih pendapat tentang arti kursi pada firman Allah Swt., ‘Kursi Allah meliputi langit dan bumi.’ Sebagian berpendapat, bahwa  yang dimaksud adalah ilmu Allah. Orang yang berpendapat demikian, bersandar kepada Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Kursi-Nya adalah ilmu-Nya.” (Tafsir ath-Thabari, jilid 3, hal. 7).  

Contoh kedua, Ath-Thabari berkata, “Para pengkaji berbeda pendapat tentang makna firman Allah Swt., ‘Dan Allah Mahatinggi dan Mahabesar.’ Sebagian mereka, berpendapat bahwa maknanya adalah ‘Dan Dia Mahatinggi dari padanan dan bandingan.’ Mereka menolak makna ‘Dia Mahatinggi dari segi tempat.’ Mereka mengatakan, ‘Dia tidak ada di suatu tempat.’ Maknanya, bukanlah Dia tinggi dari segi tempat. Karena yang demikian berarti menyifati Allah Swt. ada di sebuah tempat, dan tidak ada di tempat yang lain.”. (Tafsir Thabari, jilid 3, hal. 9).  

Demikianlah pendapat kalangan salaf, yang tidak mempercayai keyakinan tempat bagi Allah Swt., sementara Ibnu Taimiyah mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi, untuk membuktikan keyakinan tempat bagi Allah Swt.. Bahkan, tatkala beliau sampai kepada firman Allah Swt. yang berbunyi, “Sesungguhnya Allah Swt. bersemayam di atas ‘Arsy”, beliau mengatakan, “Sesungguhnya Dia berada di atas langit.”(Al-Aqidah al-Hamawiyyah al-Kubra, kumpulan surat-surat Ibnu Taimiyyah, hal.329 - 332).

Jelaslah, dalam memahami ayat-ayat dan hadis-hadis yang berkaitan dengan sifat, metode ta’wil telah dilakukan oleh para Salaf. Di atas metode ini para ulama, seperti Imam al-Asy’ari dan para pengikutnya, berjalan.

Syeikh Abdurrahman Ibnu Hasan Alu ,ulama Wahabi, dalam kitab Fathu al Majid Syarah Kitab at-Tauhid: 405, telah mengakui bahwa Ibnu Abbas dan murid-muridnya termasuk Salaf. Jika ada yang menuduh sikap menta’wil adalah sikap menyimpang, dan berjalan di atas kesesatan faham Jahmiyah, dan ber-ilhad (membelokkan) dalam ayat-ayat dan asma Allah, sebagaimana yang dituduhkan kaum Wahabi–seperti Ibnu Utsaimin (Syarah Aqidah al Washithiyah: 58-63) dan kawan-kawannya–maka ia benar-benar dalam kekeliruan yang nyata.

Al-Quran sendiri mengungkapkan, bahwa di dalamnya ada ayat mutasyabihat dan ayat muhkamat. Sejumlah perkara seperti hukum waris dan sejumlah hukum syariat muamalat dijelaskan dengan kalimat konkret, tanpa kiasan. Akan berbeda jika mencakup persoalan gaib, seperti tentang Allah, rahasia langit, peralatan akhirat, surga, neraka dan lain-lain, Al-Quran sering menggunakan kalimat metafora. Jika tidak ada pembedaan ini, tentulah gambaran mengenai Allah Swt., menjadi mirip dengan kondisi makhluk. Ini berkonsekuensi pada kemungkinan menyamakan Khalik dengan makhluk.

 

Pengajuan dalil kaum Mujassimah dan jawabannya

Berikut beberapa argumen dari kelompok Wahabi-Salafi, tentang ayat-ayat yang membuktikan bahwa Allah Swt. itu bertempat diatas;

Firman Allah Swt.,‘(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arasy.’(QS.Thaha [20];5).

Kaum Mujassimah, memaknai kata: Istawa diayat ini, dengan arti bersemayam!

Dalam keyakinan mereka, Allah bersemayam di atas Arsy-Nya. Pemaknaan seperti itu, jelas tidak benar! Sebab yang demikian, meniscayakan Allah Swt bertempat! Dalam ayat di atas, ditegaskan, Istiwa’ dan ke Maha Tinggian Allah itu dengan al-Qahr (kekuasaan dan penguasaan) atas sekalian hamba dan makhluk ciptaan-Nya, bukan dengan ketinggian fisikal, seperti yang biasa kita saksikan pada makhluk-Nya. Dasar pemaknaan yang benar ini, sebagaimana firmanNya, ”Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS.Al An’am [6];18 dan 61)

Sebagaimana yang telah kami kemukakan, Imam al Baihaqi dalam kitabnya  al Asma wa ash-Shifat, hal.506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami, dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah Saw,:‘Engkau adh-Dhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al-Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah-Mu” (HR. Muslim dan lainnya). Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya, berarti Dia tidak bertempat”.

“…..Kepada-Nyalah naik (yash’adu) perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang saleh dinaikan-Nya…” (QS.Fathir [35];10).

Kaum Mujassimah mengatakan, ayat ini juga membuktikan,  Allah berada diatas!

Ayat ini, sama sekali tidak menunjukkan apa yang mereka katakan. Itu adalah, ungkapan yang menunjukkan kerelaan atas keyakinan yang benar, dan diterimanya amal kebajikan hamba. 

Mufassir Abu Hayan al Andalusi dalam tafsir al-Bahru al-Muhith 7/303 menerangkan;”Naiknya perkataan-perkataan yang baik kepada-Nya, adalah kata kiasan/majazi pada pelaku/fa’il, dan para al musamma ilahi (Allah), sebab Dia Swt. tidak berada di sebuah sisi/arah tertentu, dan karena al kalim adalah, ucapan yang tidak dapat disifati dengan naik. Naik itu terjadi pada benda. Ungkapan itu menunjukkan arti diterima dan sempurna, seperti ucapan: ‘Meninggi mata kakinya dan urusannya’. Dari makna ini, juga orang-orang Arab mengatakan: ‘Mereka mengangkat perkara mereka kepada Hakim.’ dan ‘Perkara ini diangkat kepadanya.’ Pada ucapan ini, tidak ada ketinggian fisikal ke tempat tertentu, berarti keagungan, kemuliaan dan ketinggian maknawi, bukan ketinggian hissi (material). Penafsiran ini, telah didukung oleh Salaf Saleh, seperti Malik Ibnu Sa’ad, Hasan al Bashri, Qatadah dan Mujahid. Mereka semua menerangkan, makna diterimanya amal perbuatan yang didasarkan atas keyakinan yang benar, dan niat yang tulus (tafsir Ibnu Jarir,22/120-121 dan ad Durr al Mantsur,5/462-463).

 

Firman Allah Swt, ”Malaikat-malaikat dan Jibril naik (Ta’ruju) kepada-Nya dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun.” (QS. Al Ma’arij [70];4). 

Kaum Mujassimah, memahami makna ayat ini, para Malaikat itu naik keatas menemui Allah Swt yang sedang bertempat diatas!

Para malaikat bukan naik menuju Alah Swt. di atas,  tetapi Malaikat pergi ke tempat yang Allah siapkan untuk mereka yaitu langit, sebab langit adalah tempat kebaikan dan kemurahan Allah. Keterangan ini sesuai dengan tafsir yang dipilih oleh Imam al Qurthubi dalam tafsirnya,18/218.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menegaskan dalam Fathul Bari-nya: ”Al-Baihaqi berkata: Naiknya perkataan yang baik dan sedekah yang baik, adalah ungkapan lain dari diterimanya amal itu. Dan naiknya malaikat, adalah ke tempat-tempat mereka di langit.”.

 

Kaum Mujassimah mengandalkan ayat berikut ini, sebagai dalil yang ampuh, bahwa Allah bersemayam diatas, oleh karenanya, mengangkat Nabi Isa a.s. kepada-Nya, di atas langit! Allah berfirman,“Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan engkau kepada akhir ajalmu, dan mengangkat engkau kepada-Ku (Waraafi’uka ilaiya).. sampai  akhir ayat” (QS.Al-Imran[3];55).

Ini pemahaman yang salah. Sebagaimana kita ketahui dalam hadis, riwayat Imam Bukhari & Muslim tentang mikraj nabi Muhamad Saw. yang berjumpa  Nabi Isa a.s. di langit ke dua, dan para Nabi lainnya yang berada dilangit pertama, ketiga dan sebagainya. Dengan demikian, makna ayat diatas, ‘Kami (Allah) mengangkat Isa a.s. ke tempat (yang telah disediakan Allah untuknya), sehingga kamu (kaum yahudi yang hendak membunuh Isa itu) tidak dapat sampai kepadanya. Jadi, bukan berarti Allah mengangkat Isa a.s., ke tempat bersemayamNya. Bukan pula berarti, Isa a.s. sekarang sedang berada di sisi-Nya; duduk di samping-Nya, seperti yang di bayangkan kaum Mujassimah! 

 

Begitu pula halnya, dengan firman Allah, “Kemudian Kami menarik bayang-bayang itu kepada Kami, dengan tarikan yang perlahan-lahan.” (QS.Al-Furqan [25];46).

Firman: ‘kepada Kami ‘, sama sekali tidak dimaksud bahwa bayang-bayang itu pada malam hari ditarik Allah Swt. kepada tempat bersemayam-Nya.

Imam Asy-Syaukani mengatakan, ”Dan makna ‘kepada Kami’, bahwa kesudahannya kepada-Nya Swt. sebagaimana awal kejadiannya dari-Nya pula.” (Fathul Qadir,4/ 80).

Kaum mujassimah, sering mengandalkan juga surah Al Mulk [67];17) , ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit ( مَنْ فِىالسَّمَاءِ )  bahwa Dia akan mengirimkan badai yang  berbatu..”. Ini jelas, bahwa Allah Swt. bersemayam dilangit!

Ayat ini, bukan berarti Allah bersemayam dilangit. Makna ayat di atas adalah; ‘apakah kamu merasa aman terhadap Dzat Yang Maha Agung, Pemilik hal pengaturan/ rububiyah dan kekuasaan, bahwa Dia akan mengirimkan badai batu yang membinasakan kamu’. Ayat ini bisa juga yang dimaksud, adalah malaikat Jibril as. atau malaikat khusus yang dikirim Allah untuk menurunkan azab-Nya.

Oleh karena tempat para malaikat adalah di langit, seperti yang disebutkan dalam hadis Bukhari dan Muslim, ”Para malaikat malam dan  malaikat siang, silih berganti di tengah-tengah kalian, mereka berkumpul pada waktu shalat Subuh dan shalat Ashar, kemudian mereka yang telah bermalam dengan kalian naik (kelangit), lalu Tuhan bertanya kepada mereka–padahal Dia Maha Mengetahui–,’Bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba Ku? Maka mereka menjawab, ”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat, dan kami datang, mereka dalam keadaan shalat.”

Mengenai ayat-ayat yang menyebut ‘Man Fis Samai’ ( مَنْ فِىالسَّمَاءِ ), Abu Hayan berkata: “Kalimat Zat yang berada di langit, adalah bentuk majaz/kiasan. Dan telah dipaparkan bukti, bahwa Allah Swt tidak berlokasi di arah/sudut tertentu. Penggunaan bentuk majazi ini, bahwa ke Maha-Rajaan-Nya berada di langit. Karena kalimat فِى السَّمَاءِ  adalah shilah/penghubung dari kata: مَنْ, padanya terdapat kata ganti yang terkait dengan ‘amil di dalamnya, yaitu kata: استقرَّ.  Makna ayat tersebut adalah: Zat Yang malakut/ke Maha- Rajaan-Nya berada di langit. Disini adalah mudhaf yang sengaja tidak disebutkan. Memang ke Maha-Rajaan Allah itu dimana-mana, tetapi disebutnya langit secara khusus, oleh karena, ia adalah tempat tinggal para malaikat. Di sana (langit) juga ada Arsy, Kursi Allah, dan Lauh Mahfud. Dan dari sanalah ketetapan Allah, kitab-kitab suci-Nya, larangan dan perintah-Nya diturunkan. Atau mungkin penyebutan (Allah dilangit) itu, berdasar apa yang diyakini kaum Kafir, sebab mereka ini, adalah kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya), sehingga maknanya adalah: ‘Apakah kalian merasa aman dari Tuhan, yang kamu (orang kafir) anggap dan yakini berada di atas langit?’! Dan Dia adalah Zat yang Maha Tinggi, dari berada di sebuah tempat…”(Lebih lanjut,baca tafsir al Bahru al Muhith, 10/226).

 

Imam Nidzamuddin an-Nisaburi berkata, menjelaskan makna ayat yang menyebut Man Fis Samai, “Apakah kalian merasa aman terhadap Zat (yang kalian anggap berada) di langit?! Pendapat sekelompok (yang dimaksud) Ahli Tafsir, ‘Apakah kalian merasa aman dari Tuhan Yang ke Maha-Rajaan-Nya atau Sulthan-Nya atau Ke Maha-Perkasaan-Nya berada di langit?’. Sebab kebiasaan telah berlaku, diturunkannya azab/siksa dari arah langit. Dan ada pendapat lain yang mengatakan, maksud kalimat: مَنْ فِىالسَّمَاءِ (yang berada di langit) adalah malaikat Jibril.” (baca keterangan beliau dalam tafsir Gharaib Al-Quran [dicetak bersama tafsir at-Thabari, 29/9]).

Imam Nawawi ,yang sudah terkenal pribadi dan ilmunya, dalam syarah Muslim berkata: Al-Qodi Iyadh berkata,’Tidak ada perbedaan, diantara orang-orang islam semuanya, ahli fiqih, ahli hadis, ahli tauhid, ahli piker, dan pengikut mereka, bahwa yang dapat diambil dari yang dhohir dalam penyebutan Allah Swt dilangit seperti firmanNya dalam surah Al-Mulk;16; ‘Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) dilangit’ (atau) dan dalil lainnya, bukanlah atas dhohir (teks)nya, akan tetapi menurut mereka, adalah takwil. Yakni takwil secara global atau takwil secara terperinci.  (Syarah Sahih Muslim 5/24).

Para ahli tafsir, seperti Imam Fakhruddin Ar-Rozi dalam Tafsir Ar-Rozi 30/99, Abu Hayan Al-Andalusi dalam Al-Bahru Muhith 10/226, Abu as-Suud dalam Tafsir Abi As-Suud 9/7, Al-Qurthubi dalam Al-Jami’u li Ahkamil Qur’an 18/215 dan lain-lain. Al-Qurthubi menjelaskan (mengenai tafsir ayat al-mulk:16); Abdullah bin Abbas (sahabat Nabi Saw) berkata; ‘Apakah kamu merasa aman terhadap siksa Allah yang dilangit jika kamu bermaksiat kepadaNya’. Kemudian dia berkata; ‘Dan dikatakan, adalah isyarat kepada para malaikat, ada yang mengatakan kepada Jibril dan dia adalah malaikat yang diserahi untuk siksa. Saya mengatakan, ada kemungkinan artinya adalah apakah kamu merasa aman terhadap pencipta yang dilangit untuk menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sebagaimana menjungkir balikkan bumi bersama Qarun’.

Selain riwayat-riwayat yang telah kami kemukakan, golongan Mujassimah juga menyebutkan hadis-hadis berikut yang mereka  andalkan, dalam membuktikan bahwa Allah Swt. berada di atas langit;

Nabi Saw. bersabda, “Tidaklah kalian mepercayai aku, padahal, aku ini kepercayaan dari yang berada di atas langit (Allah). Datang kepadaku kabar langit pagi dan sore.” (HR.Imam Bukhari, 8/67/4351 dan Muslim, 2/742/1064, dari riwayat Umarah bin al Qa’qa’).    

Redaksi hadis ini, telah diselisihi oleh Said bin Masruq ats-Tsauri ,ayah Sufyan at-Tsauri. Riwayat Said at-Tsauri,sebagai berikut, ‘Apakah Allah mempercayaiku untuk mengurus penduduk bumi, sedangkan kalian tidak mempercayai aku?” Dalam riwayat Said ini, tidak terdapat redaksi مَنْ فِىالسَّمَاءِ , hadis ini di riwayatkan Imam Bukhari dalam Sahih-nya, 6/376/3344, dan Muslim, 2/741/ 1064. Begitu pula, yang diriwayatkan Imam an-Nasai dalam as-Sunan as-Shughra 5/87/ 2578, Abu Daud, 4/243/4764, Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 3/67 dan 73, serta masih banyak lainnya.

 

Mengenai hadis yang menggunakan redaksi Allah berada di atas langit, Imam al-Hafidz Ibnu Hajar telah menerangkan dalam Kitab at-Tauhid;  “Al Kirmani berkata, مَنْ فِىالسَّمَاءِ makna dzahirnya, jelas bukan yang di maksudkan, sebab Allah Maha Suci dari bertempat di sebuah tempat. Akan tetapi, karena sisi atas adalah sisi termulia di banding sisi-sisi lainnya, maka ia disandarkan kepada-Nya, sebagai isyarat akan ketinggian Zat dan sifat-Nya.’ Dan seperti inilah, para ulama lainnya menjawab/menerangkan setiap kata didalam nash yang menyebut kata fauqiyyah /atas dan semisalnya.”     

Hadis lain yang diandalkan golongan mujassimah,

“Orang-orang yang penyayang, disayangi oleh ar-Rahmaan. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya akan menyayaingimu yang ada di langit (Allah).” (HR. At-Turmudzi dan disahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Hadis diatas ini dha’if dan munkar!  Ia telah diriwayatkan oleh Abu Daud,4/285 hadis no.4941 dan at-Turmudzi,4/324 hadis no.1924, dan oleh lainnya, seperti al-Hakim. Dalam sanad hadis ini, terdapat seorang perawi bernama Abu Qabus. Ia tidak dikenal identitasnya, majhul! Tidak meriwayatkan hadis darinya, kecuali Malik bin Dinar. Ad-Dzahabi berkata, “Ia tidak dikenal, la yu’raf!”. Sementara Ibnu Hajar berkata dalam Tahdzib at-Tahdzib, 12/223, Imam Bukhari dalam kitabnya Al-Kabir telah menyebutnya didalam daftar perawi lemah...

Ketika menerangkan hadis di atas, al-Mubarakfuri berkata, “Ada yang berkata yang dimaksud (..menyayangi yang ada dilangit....dalam hadis itu) adalah penghuni langit, yaitu para Malaikat. Mereka (para malaikat) itu memohonkan ampunan bagi kaum Mukminin. Allah berfirman, ‘(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy, dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya, dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala.’ (QS. Ghafir [40];7)”.

Penafsiran terakhir ini, didukung oleh banyak hadis sahih lainnya, antara lain: Rasulallah Saw bersabda: “Tidak akan dirahmati Allah, orang yang tidak merahmati/berbelas-kasih kepada manusia.”(HR.Bukhari, Kitab at-Tauhid, bab kedua Bab: Qaulullah Tabaraka wa ta’ala, ‘Qulid’u Allah au ud’ur Rahman    13/358 hadis no. 7376. Lihat juga Fathu al Bari,28/130-131).

 

Begitu pula redaksi hadis, “Rasulullah Saw. mencium al Hasan bin Ali, dan saat itu al-Aqra bin Habis duduk di samping beliau. Lalu al-Aqra’ berkata, ‘Aku punya sepuluh putra, tetapi aku tidak pernah mencium satu pun dari mereka’. Lalu, Rasulullah memandangnya kemudian bersabda: ‘Barangsiapa tidak merahmati, ia tidak akan dirahmati.’” (HR.Bukhari dalam Kitabul Adab,10/438 hadis no. 60131). 

 

Berdoa tangan menengadah keatas, Apakah Allah Swt. berada diatas?

Selanjutnya kaum Mujassimah mengatakan, dalam beberapa hadis disunnahkan seorang yang berdoa mengangkat tangan dan menengadahkannya kearah atas. Ini juga menunjukkan Allah Swt. berada diatas!

Ini, pemahaman yang salah. Para ulama Islam berikut ini–selain kelompok Mujassimah, Musyabihah–menerangkan, arah atas adalah kiblat berdoa sebagaimana, Ka’bah adalah kiblat Shalat:

Imam Abu Manshur Al-Maturidi (W. 333H) berkata, “Adapun mengangkat tangan ke arah langit saat berdoa, maka ia murni karena tuntutan ibadah (dalam syariat). Allah berhak memperhamba hamba-hamba-Nya dengan apa saja yang Dia kehendaki, dan mengarahkan mereka ke arah mana saja yang dikehendaki-Nya. Dan jika ada yang menganggap, diangkatnya pandangan ke arah langit karena Allah di arah itu, maka ia seperti orang yang menganggap, Allah berada di arah bawah (perut) bumi, karena ia meletakkan dahinya di saat sujud, baik dalam shalat ataupun di luar shalat. Atau seperti orang yang menganggap, Allah itu berada di sisi barat atau timur, karena ia menghadap Allah di saat shalat (kearah barat atau timur), atau Allah berada di sisi Makkah, Oleh karena itu, ia haji menuju kota Makah.”(Kitab at Tauhid:75-76)

 

Imam Ghazali berkata, “Adapun mengangkat tangan ketika memohon/berdoa ke arah langit, itu dikarenakan ia adalah kiblat doa. Di dalamnya, juga terdapat isyarat bahwa Zat yang kita berdoa kepadanya, adalah menyandang sifat Kemahaagungan dan Kemahaperkasaan, sebagai peringatan  bahwa menuju arah atas adalah sebagai sifat keagungan dan ketinggian. Karena sesungguhnya, Dia (Allah) di atas segala sesuatu dengan penguasaan dan penaklukan.” [Ihya Ulumid Din,1/107, Dar al Ma’rifah. Lebanon.]

Imam Sayid Muhamad al Husaini az Zabidi–pensyarah kitab al-Ihya’– menerangkan perkataan Imam Ghazali ini, “Adapun mengangkat tangan ketika memohon/berdoa ke arah langit, itu dikarenakan ia adalah kiblat doa. (sebagaimana Ka’bah adalah kiblah Shalat). Ia (seorang mushalli) menghadap Allah dengan dada dan wajahnya. Sedangkan,Zat yang kita tuju (Allah Swt) –dengan doa dan shalat kita itu–Maha suci dari bertempat di Ka’bah atau di langit.”

An-Nasafi telah menyinggung masalah ini, ia berkata, “Dan mengangkat tangan dan wajah ketika berdoa, adalah murni ta’abud/arahan agama, persis seperti menghadap Ka’bah ketika shalat. Jadi langit adalah, kiblat doa sedangkan Ka’bah adalah kiblat shalat. Di dalamnya, juga terdapat isyarat bahwa Zat yang kita berdoa kepadanya, adalah menyandang sifat Kemaha-agungan dan Kemahaperkasaan sebagai peringatan, menuju arah atas adalah sebagai sifat keagungan dan ketinggian. Oleh karena sesungguhnya Dia (Allah) di atas segala sesuatu dengan penguasaan dan penaklukan. (dan yang menunjukkan hal itu adalah) firman Allah, وَ هُوَ الْقاهِرُ فَوْقَ عِبادِهِ 

“Dan Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya.” (QS.Al-An’am [6];18). Karena penyebutan status ubudiyah (kehambaan), ketika menyebutkan pihak yang Allah di atasnya, menguatkan asumsi penafsiran, bahwa yang dimaksud adalah, penguasaan dan penaklukan. Dan penulis (Imam Ghazali), telah menyebutkan dengan panjang lebar dalam kitab al-Iqtishad, rahasia mengapa menghadap ke arah atas, dalam berdoa. Harap dirujuk.” [Ithaf as Sadah al Muttaqin Bi Syarhi Ihya’i Ulumid Din,2/170. Dar al Kotob al Ilmiyah. Beirut-Lebanon].

Dalam kesempatan lain, beliau juga menegaskan: “Jika ada yang berkata, ‘Apabila Allah Zat Yang maha Haq itu tidak berada di lokasi/arah tertentu, lalu apa arti mengangkat tangan ke arah langit di saat berdoa?’ Maka jawabnya dari dua sisi, seperti disebutkan at-Thurthusyi, [nama lengkapnya, Abu Bakar Muhamad bin al Walid al Andalusi al Maliki (w.520H)], Pertama, Ia murni penghambaan (sesuai perintah semata), seperti menghadap Ka’bah dalam shalat, menempelkan dahi ketika sujud, dengan tetap meyakini prinsip Kemaha Sucian Allah dari Bertempat di Ka’bah atau di tempat Sujud. Maka langit itu, sebagai kiblat doa. Kedua, Langit itu adalah tempat turunnya rizki, wahyu, rahmat dan keberkahan... [Ibid.5/244].

 

Imam an-Nawawi juga menegaskan hal itu dalam syarah  Sahih Muslim, “Sesungguhnya langit, adalah kiblat untuk para pendoa, sedangkan Ka’bah adalah kiblat untuk orang-orang yang shalat.”[Syarah Muslim,5/24]. Keterangan serupa, disampaikan pula oleh para ulama di antaranya, al Hafidz Ibnu Hajar dalam syarah Sahih Bukharinya.

Mulla Ali al-Qari berkata, “Langit adalah kiblat doa, dengan arti dia adalah tempat turunnya rahmat, yang mana ia adalah sebab berbagai nikmat. Dan ia (doa itu) penyebab dicegahnya beragam bencana…. dan Syeikh Abu Mu’in an-Nasafi, panutan dalam disiplin ini, menyebutkan dalam kitab at-Tamhid-nya, bahwa para muhaqiqin telah menegaskan, diangkatnya tangan saat berdoa adalah murni perintah agama.” [ Syarah al Fiqhi al Akbar:199.]

Allamah al-Bayadhi al-Hanafi berkata, “Diangkatnya tangan di saat berdoa ke arah langit, bukan karena Allah Ta’ala berada di atas langit tertinggi, akan tetapi, karena ia adalah kiblat doa, karena dari arah itulah kebaikan dinanti-nanti dan dan keberkahan diharap turun, sesuai dengan firman Allah,

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS.Adz Dzariyat [51];22). Disamping adanya isyarat, akan sifat Kemaha Agungan dan Keperkasaan yang Dia sandang, dan Dia berada diatas makhluk-Nya dengan penaklukan dan penguasaan.”[ Isyarat al Maram:198.]

 

Kelompok Mujassimah berkata, penduduk Jannah/Surga akan melihat Wajah Rabb-nya, kemudian menyebutkan riwayat, ‘kelak penduduk surga akan melihat Tuhan dengan mata telanjang, sebagaimana mereka dahulu di dunia melihat bulan yang tidak terhalang oleh awan’. Ini juga sebagai bukti, bahwa Allah berada di atas sana!

Memang benar kebanyakan ulama Ahlusunnah menerima hadis tentang Ru’yah (dapat dilihatnya Allah kelak di akhirat), tetapi pada waktu yang sama, mereka menolak jika dikatakan bahwa Allah itu dilihat pada suatu tempat. Maha Suci Allah dari berada di sebuah sudut/tempat, dan Maha Suci Allah dari Kaifiyah!

Perhatikan keterangan para ulama, yang dirangkum oleh al Hafidz Ibnu Hajar al Asqallani dalam Fathu al Bari-nya, ketika ia mensyarahi hadis yang dibawakan oleh kelompok Mujassimah  tersebut.

Al Hafidz Ibnu Hajar dengan tegas mengatakan, prinsip dasar akidah bahwa Allah Maha Suci dari al Jihah wa al kaifiyyah––Maha Suci dari bertempat/ berlokasi di sebuah arah/ lokasi/tempat tertentu, dan Maha Suci dari penetapan cara/bagaimana dilihatnya Allah Swt! Lebih lanjut baca keterangan al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathu al-Bari, 28/204/ Kitabu at-Tauhid, Bab Qaulillah Ta’ala: Wajuhun yaumaidzin Nadzirah…

Diterimanya riwayat tentang dapat dilihatnya Wajah Allah di surga atau di alam akhirat, sama sekali tidak dengan serta merta membenarkan akidah kaum Mujassimah, bahwa Allah berada di atas. Sebab para ulama telah berselisih pendapat tentang esensi dan hakikat melihat Allah yang dimaksud dalam hadis dan ayat tersebut!

 

Kelompok Mujassimah menyebutkan argumen lagi sebuah riwayat, ‘Allah turun kelangit dunia setiap sepertiga malam yang terakhir’,  mereka berkata riwayat ini mutawatir. Ini jelas, menunjukkan bahwa Allah Swt berada diatas!

Ketahuilah,hadis-hadis yang redaksinya menyebutkan bahwa Allah Swt. turun ke langit dunia, dzahir teks/redaksinya bukan yang dimaksud! Maha suci Allah, dari pensifatan yang jahil lagi sesat! Pemaknaan yang benar, tentang hadis-hadis Nuzul/turun itu, yang turun itu adalah Malaikat pesuruh Allah Swt., untuk menyerukan kepada penghuni langit dunia di waktu sahur /menjelang shubuh. Pengertian ini, telah didukung oleh beberapa hadis sahih lainnya;

  • Hadis riwayat Imam Nasa’i dalam as-Sunan al Kubra,6/ 124 dengan sanad shahih dan ia juga dimuat dalam Amalu al yaum wa al Lailah:30 hadis482, dari Abu Sa’id al Khudri dan Abu Hurairah, bahwa keduanya berkata, “Rasulallah Saw, bersabda:إنَّ اللهَ  عز  و جل يُمْهِل حتَّى يمضِيَ شطر الليل الأَول ثم يأمر منادِيًا يُنادي يقول: هل مِنْ داعٍ فيستجاب له؟ هل مِنْ  مستغفِر  يُغْفَرُ  لهُ ؟ هل مِنْ سائلٍ يعطَى؟

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memberi tangguh sampai berlalu separuh pertama malam, kemudian Dia memerintah penyeru (malaikat) agar menyerukan: ‘Adakah orang yang mau berdoa, lalu di-ijabahkan untuknya? Adakah orang yang memohon ampunan, lalu ia diampuni? Adakah orang yang meminta, lalu ia diberi?”

  • Hadis riwayat Ustman bin Abil Ash ats-Tsaqafi, ia berkata, “Rasulallah Saw. bersabda:تُفتَحُ أبوابُ السماءِ نِصفَ الليلِ فينادي منادٍ: هل مِنْ  داعٍ  فيستجاب  له؟ هل مِنْ  سائلٍ فيُعطى ؟ هل مِنْ مكروبٍ فيُفرج  عنه؟ فلا يبقى مسلِمٌ يدعو بدعوةٍ إلا استجاب الله عز و جل إلا زانية تسعى بفرجِها أو عشارا.

“Pintu-pintu langit dibuka di pertengahan malam, lalu penyeru (malaikat) menyerukan, ‘Adakah orang yang mau berdoa, lalu di-ijabahkan untuknya? Adakah orang yang meminta, lalu ia diberi? Adakah seorang yang ditimpa bencana, lalu ia dibebaskan darinya? Maka tiada seorang Muslim berdoa dengan doa tertentu, melainkan Allah kabulkan untuknya, kecuali seorang wanita pezina yang menjual kehormatan- nya, atau seorang Assyara.”

Hadis ini, telah diriwayatkan oleh: Imam Ahmad dalam Musnad-nya,4/22 dan 217, Al-Bazzar dalam Kasyfu al Astar, 4/44, Ath-Thabarani dalam Mu’jam-nya,9/51. Dan masih banyak lainnya. Sanad hadis di atas sahih. Arti  ‘Asysyara’, seorang yang kerjanya memeras/menekan sepersepuluh dari harta orang, atau tukang peras suruan penguasa. [Lihat Lisanul Arab,6/261.]

 

Berikut, keterangan dua tokoh ulama Ahlusunnah ,yang sering dibenci dan diserang oleh penganut Kaum Wahabi Salafi, karena sikap dua tokoh ulama ini, tegas memaparkan kesesatan kaum Mujassimah/Musyabbihah. Mereka adalah Muhyiddin an-Nawawi dalam syarah Shahih Muslim dan al Hafidz Ibnu Hajar al Asqallani dalam Fathu al Bari Bi Syarhi Shahihal Bukhari.

  • Keterangan Imam An-Nawawi, Sabda Nabi Saw.;

                 ينزلُ ربُّنا كلَّ ليلةٍ  إلى سماء الدنيا …     

“Tuhan kita, turun setiap malam ke langit dunia….”, lalu (Allah) berkata, ‘Adakah orang yang menyeru-Ku, maka Aku akan kabulkkan untuknya.’ Hadis ini termasuk hadis-hadis Shifat. Tentangnya, ada dua aliran/pendapat ulama yang terkenal. Telah lewat keterangan lengkap tentangnya pada Kitabul Iman, kesimpulannya adalah sebagai berikut;

Aliran Pertama, adalah mazhab Jumhur Salaf dan sebagian Ahli Kalam, bahwa hadis-hadis seperti itu harus di imani bahwa ia adalah haq/benar sesuai dengan makna yang pantas bagi Allah. Dan jelas, bahwa dzahir maknanya yang berlaku pada kita bukanlah yang dimaksud. Mereka tidak melibatkan diri dalam menakwilkannya, tetap meyakini Kemahasucian Allah dari sifat-sifat makhluk, dan Maha Suci dari Berpindah, Bergerak dan seluruh sifat makhluk(Nya).    

 

Aliran Kedua, yaitu mazhab kebanyakan Ahli Kalam dan sekelompok Salaf, dan ia adalah mazhab yang telah dinukil dari (Imam) Malik, al-Auza’i. Hadis- hadis itu, harus dita’wil dengan makna yang pantas, sesuai dengan masing-masing teksnya dalam hadis-hadis tersebut. Atas dasar itu, mereka menakwilkan hadis ini (hadis nuzul) dengan dua ta’wil:

Pertama, adalah takwil Malik bin Anas, dan ulama lainnya. Hadis itu maknanya adalah: Turunnya Rahmat,dan Perintah, serta (turunnya) Malaikat Allah. Seperti dikatakan: ‘Si Sultan melakukan ini dan itu.’ Sedangkan yang melakukannya, adalah pendukung dan pengikutnya.

Kedua, kalimat itu adalah isti’arah/kata pinjam. Maksudnya adalah, menunjukkan bahwa Allah memberikan perhatian-Nya kepada para pendoa, dengan mengkabulkan dan berlemah lembut kepadanya. Allahu A’lam.” [Syarah Shahih Muslim; oleh Imam Nawawi,6/36-37.]

  • Al Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqallani, ketika menerangkan hadis nr. 1145 pada Babad Du’a wa ash Shalah Min Akhiril Lail/Doa dan Shalat Di Waktu Akhir Malam,

                      ينزلُ ربُّنا كلَّ ليلةٍ  إلى سماء الدنيا                   

“Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia”

Dengannya, berdalil orang yang menetapkan Arah untuk Allah. Ia berkata, ‘Arah itu adalah arah atas. Sementara, Jumhur Ulama  menentangnya.  Karena pendapat itu, menyebabkan kepada keyakinan, bahwa Allah berlokasi, Maha Suci Allah  dari berlokasi.        

Selanjutnya Ibnu Hajar menyimpulkan, “Al-Hasil, intinya bahwa ia ditakwilkan dengan dua makna: (pertama), makna turun di sini, adalah turunnya perintah atau malaikat Allah atas perintah-Nya. Atau (kedua) adalah kata isti’arah dengan makna, Kelemah-lembutan Allah kepada para pendoa, dengan mengkabulakan doa mereka dan semisalnya. Dan Abu Bakar bin Faurak, telah mengkhikayatkan bahwa sebagian masyaikh/guru besar hadis, telah membaca kata:  ينزل dengan membaca dengan dhammah huruf pertamanya: يُنزل (yang artinya: menurunkan), maksudnya menurunkan malaikat. Bacaan ini, dikuatkan oleh riwayat an-Nasa’i… dan hadis Utsman bin Abi al- Ash… .” (kemudian beliau menyebutkan dua hadis yang telah kami cantumkan sebelumnya)…

Ibnu Hajar juga mengutip, keterangan Imam al-Baidhawi, “Karena telah tetap berdasarkan bukti-bukti yang nyata, bahwa Allah Maha Suci dari bersifat Jism dan berlokasi, maka mustahil bagi Allah Turun, dengan arti berpindah dari sebuah tempat ke tempat lain, yang lebih rendah. Jadi maknanya adalah turunnya rahmat Allah.…“ [Fathu al-Bari,6/36-37]

 

Kesimpulan singkat

Kelompok Wahabi, membanggakan penafsiran kaum Musyabbihah terhadap hadis di atas, dan membelakangi pemahaman jumhur ulama Islam!

Dari keterangan-keterangan semua itu, dapat kita simpulkan, anggapan mujassimah bahwa Allah itu berada di arah atas, adalah pendapat yang ditentang oleh Jumhur pakar ulama Islam! Disamping yang telah dikemukakan tadi, masih banyak lagi hadis Shifat yang tidak tercantum disini, yang ditakwil maknanya oleh para pakar hadis (antara lain Imam Bukhori, Muslim dan lainnya) sesuai dengan sifat Kemahasucian dan Kemahaagungan Allah Swt.  Umpama, dalam riwayat ada kata,  و جاء رَبُّكَ  arti secara bahasa; ‘Dan datanglah Tuhamu’, tapi ditakwil oleh para pakar hadis,جاء ثوابُهُ artinya: ‘Datang pahala-Nya’. Dan kata  الضحك   atau يَضْحَكُ  artinya secara bahasa tertawa, tapi ditakwil oleh para pakar berarti Rahmat, dan ada lagi yang mengartikan Kerelaan dan Kebaikan balasan

Tertawa yang di alami manusia, adalah dengan membuka mulut, dan tentunya makna ini mustahil disamakan maknanya atas Allah Swt.. Akan tetapi, golongan Mujasimah  dan mereka yang tertipu oleh syubhat kaum Mujasimah ini, lebih tertarik mengemukakan hadis-hadis dengan redaksi yang mendukung konsep dan pandangan Tajsim yang mereka yakini, walaupun mereka enggan disebut sebagai Pewaris Mazhab Mujassimah.

 

Di sini,  kita juga harus mencermati dan memahami dengan benar, perkataan para imam seperti Imam Syafi’i dan para imam lainnya, yang selalu dinukil oleh golongan Mujassimah. Apakah para imam itu, menghendaki makna seperti golongan Mujassimah terjemahkan? Apakah jika para imam itu tidak melakukan takwil, berarti mereka memaknainya seperti yang golongan Mujassimah terjemahkan? Disinilah letak masalahnya! 

Para Ulama dalam menyikapi ayat-ayat/hadis-hadis sifat mempunyai beberapa tiga pendapat/aliran:

  • Golongan ulama mentafwidh artinya, tidak berkomentar Mereka tidak memberikan arti apapun tentangnya. Mereka menyerahkan pemaknaan- nya kepada Allah Swt.. Artinya, para ulama golongan ini tidak mau melibatkan diri dalam menafsirkannya, tafsirnya adalah bacaannya itu! Jadi gologan ulama ini, tidak memiliki aliran, tetapi, mereka ini tidak berarti menjadi menta’thil (menafikan) dari penyifatan! Itu hanya khayalan kaum mujassimah dan musyabbihah belaka!
  • Golongan ulama yang menakwilkannya, dengan penakwilan tertentu, yaitu memberikan penafsiran yang sesuai dengan ke-Maha-sucian dan ke-Maha-agungan Allah Swt., ini dibolehkan.
  • Golongan lainnya lagi, mengartikan kata-kata sifat itu secara literal. Kata: Yanzilu diartikan turun secara literal;  Yadun diartikan tangan secara literal; dhohika diartikan tertawa secara literal, dan begitu seterusnya. Ini semua menjurus kepada tajsim dan tasybih Allah Swt. kepada Makhluk-Nya. Karena secara bahasa dhahika itu tertawa, dan tertawa itu artinya jelas dalam kamus-kamus bahasa Indonesia maupun bahasa Arab. Kata yanzilu secara bahasa artinya turun, dan turun itu meniscayakan adanya perpindahan dan perpindahan itu meniscayakan adanya gerak, dan gerak itu adalah konsekuensi dari sifat benda, itu jelas sekali! Kalau kata yanzilu tanpa perpindahan dan gerak ya namanya bukan yanzilu! Itu berarti, memaknai kata itu bukan dengan makna bahasa sesungguhnya!

                                                 

Sebagaimana yang telah dikemukakan tadi, kelompok Mujassimah untuk menetapkan kesucian Allah Swt., mereka mengatakan; Allah Swt. mempunyai jasmani namun tanpa bentuk, Allah  mempunyai darah namun tanpa bentuk, Allah mempunyai daging namun tanpa bentuk, dan Allah mempunyai rambut namun tanpa bentuk dan sebagainya!  Ini semua adalah keyakinan yang tidak benar!  

Marilah kita renungkan sebagian isi khutbah Amirul Mukminin Imam Ali Bin Abi Thalib k.w. yang ditukil dari Kitab Nahjul Balaghah di bawah  ini. Imam Ali sedemikian indah menjelaskan mengenai sifat Allah Swt.:

Segala puji bagi Allah yang nilai-Nya tidak terlukiskan oleh pembicara. Tidak terhitung nikmat-Nya oleh para penghitung. Hak-Nya akan pengabdian tidak akan terpenuhi oleh para pengupaya. Tidak dapat dicapai Dia oleh ketinggian intelek dan tidak pula terselami oleh pemahaman yang bagaimanapun dalamnya. Ia, yang sifat-Nya tiada terbatasi lukisan, pujian yang tepat tidaklah maujud (Maha ada). Sang waktu tidaklah dapat memberi batas, dan tidak kurun yang mengikat-Nya. 

Pangkal agama adalah makrifat-Nya, dan kesempurnaan makrifat-Nya adalah membenarkan-Nya dan kesempurnaan iman kepada keesaan-Nya adalah ikhlas kepada-Nya, dan kesempurnaan ikhlas kepada-Nya, adalah menafikan sifat yang diberikan kepada-Nya, karena setiap sifat membuktikan bahwa ia bukanlah yang disifati dan setiap yang disifati membuktikan bahwa Ia bukanlah sifat.  

Dan barangsiapa menyifatkan Allah yang Maha Suci, ia telah memberikan pasangan kepada-Nya. Dan barangsiapa memberi pasangan kepada-Nya, ia telah menggandakan-Nya. Dan barangsiapa menggandakan-Nya, ia telah membagi-bagi-Nya. Dan barangsiapa membagi-Nya, ia telah berlaku jahil kepada-Nya. Dan barangsiapa berlaku jahil kepada-Nya berarti ia telah menunjuk-Nya. Dan barangsiapa menunjukkan-Nya, berarti telah memberi batas kepada-Nya.

Dan barangsiapa membatasi-Nya, berarti memberi jumlah kepada-Nya.Dan barangsiapa berkata; ‘Di dalam apa Dia berada’ maka ia telah menyisipkan- Nya, dan barangsiapa berkata; ‘Di atas apa Dia berada’ maka sungguh Ia lepas dari hal tersebut.  

Dia maujud, Maha ada, tetapi tidak muncul dari proses kejadian. Ia ada, tetapi tidak dari tiada. Ia bersama segala sesuatu, tapi tidak berdampingan. Dan Ia tidak bersama segala sesuatu, tanpa saling berpisahan. Ia bertindak, tetapi tidak berarti ia bergerak dan menggunakan alat. Ia Maha Melihat tapi tidak tergantung makhluk untuk dilihat. Ia Maha Esa dan tiada sesuatupun yang menemaninya, dan tidak merasa sepi karena ketiadaan”.

                               
Albani: Tokoh Wahabisme Modern

Di era modern, kaum Wahabi sangat bangga dengan kehadiran Syaikh Muhamad Nashiruddin Albani. Tokoh ini lahir di kota Ashkodera, negara Albania pada tahun 1914 M. Albani digelari kaum Wahabi sebagai Imam Muhaddisin  (Imam para ahli hadis), karena ilmunya tentang hadis bagaikan samudera tanpa bertepi. Bahkan kaum Wahabi menyatakan, kepakaran Albani dalam ilmu hadis sederajat dengan Imam Bukhari, pada zamannya. Oleh karena itu,  semua hadis bila telah disahihkan atau dilemahkan olehnya, sudah pasti lebih mendekati kebenaran. 

Sayangnya, derajat kepakaran hadis Albani bukan tanpa cela. Syaikh Hasan Ali Assegaf ,seorang ulama Yordania, menilai terlalu banyak kontradiksi dari tashih hadis dari Albani. Inkonsistensi Albani dalam catatan Assegaf terlalu banyak. Ia mencatat, tashih hadis Albani tidaklah konsisten. Inkonsistensi itu terjadi pada tashih atas 1.200 hadis lebih. Syaikh Hasan secara khusus menulis hal ini dalam sebuah buku berjudul: Tanaqudhat Albani al-Wadhihah fîma waqa’a fi tashihi al-Ahadis wa tadh‘ifiha min akhtha’ wa ghalath (Kontradiksi Albani yang nyata, terhadap penshahihan hadis-hadis dan pendhaifannya yang salah dan keliru). Jumlah kesalahan ini, bukan sedikit jika dikaitkan dengan gelar Imamul Muhaddisin atau Al-Mujaddid (pembaru dalam Islam) yang disandangkan oleh para pengikutnya.

Albani sendiri, sebenarnya secara tidak langsung pernah mengakui kecerobohannya dalam menilai hadis. Ini dapat terlihat dengan jelas dalam kitab Taraju’ul al-All amah al-Albani fima Nashsha ‘alaih Tashhihan wa Tadh’afan (ralat Albani atas penjelasannya mengenai penilaian sahih dan dha’if). Dalam kitab ini, Albani mengaku secara terus terang kesalahannya dalam menilai sahih dan dha’if suatu hadis yang pernah ia tulis. Dalam kitab ini, Albani meralat penilaiannya hanya 621 hadis yang sebenarnya sahih tetapi ia nilai dha’if dan sebaliknya. Kelompok Wahabi, tetap meyakini tidak ada kontradiksi atau kesalahan dalam hadis yang dikemukakan oleh Albani tersebut, tapi lebih merupakan ralat, koreksi atau rujukan. Alasan ini, baik oleh ulama maupun awam, tidak bisa diterima secara aqli (akal) maupun naqli (menurut nash). Seorang yang dijuluki Imam Muhadditsin atau Al-Mujaddid, seharusnya tidak gegabah dalam menentukan suatu hadis sahih, dha’if, terputus atau selainnya. Sehingga tidak memerlukan ralat yang begitu banyak pada kitabnya yang lain.

Dengan demikian, hadis yang ditentukan oleh Syeikh ini dan pengikut-pengikutnya sebagai lemah, palsu atau selainnya, tidak bisa dipertanggung- jawabkan kebenarannya, harus diteliti dan diperiksa lagi oleh ulama mazhab lainnya. 

Kelompok Wahabi mengatakan, kontradiksi tentang hadis Nabi Saw. itu atau perubahan pendapat, juga terjadi pada empat imam mazhab (Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hanbali) atau ulama lainnya. Padahal, kalau kita teliti perubahan pendapat para ulama ini, biasanya berkaitan dengan pendapat atau ijtihad mereka sendiri. Misalnya di salah satu kitab, mereka membolehkan suatu masalah sedangkan pada kitabnya yang lain memakruhkan atau mengharamkan masalah yang sama atau sebalik- nya. Perubahan pendapat ulama ini, tidak ada sangkut pautnya dengan hadis yang mereka kemukakan. Seandainya ditemukan kontradiksi yang berkaitan dengan hadis antara satu kitab mereka dan yang lain, maka kontradiksi ini tidak akan melebihi 10 hadis, bukan ratusan seperti yang di ketemukan pada pendapat Albani. 

Dalam kitab itu, Syeikh Seggaf secara terperinci memberikan penilaian, bahwa di satu halaman buku Albani mengatakan hadis ini adalah lemah, tapi di halaman atau di buku lainnya mengatakan hadis yang sama itu sebagai sahih atau hasan. Begitu juga dengan inkosistensi tentang penilaian para perawi hadis. Di satu buku atau halaman mengatakan, bahwa perawi ini tidak bisa dipercaya, namun di halaman atau di buku lain, perawi yang sama dinilai dapat dipercaya dan baik. Begitu juga Albani, di satu halaman atau bukunya memuji-muji seorang perawi, namun di bagian lain ia mencela perawi yang sama.  

Dalam kitab Tanaqudhat Al-Bani al-Wadhihah fîma Waqa’a fi Tashhihi al-Ahadits wa Tadh‘ifiha min Akhtha’ wa Ghalath karya Syeikh Seggaf, beberapa contoh kesalahan Albani dipaparkan. Berikut adalah beberapa di antaranya.

  • Shalat Jum’at itu wajib bagi setiap Muslim”, hadis ini oleh Albani dianggap lemah, dalam penelitiannya dari Mishkat Al-Masabih, 1/434. Kata perawinya hadis ini bisa dipercaya, tetapi terputus sebagaimana yang dijelaskan oleh Abu Daud. Tetapi, Albani dalam Irwa Al-Ghalil 3/54 nomor 592 mengatakan hadis ini sahih.
  • Syeikh Albani dalam  Syarh Al-Aqidah at-Thahawiyah karya Syeikh Ibnu Abi Al-Izz Al-Hanafi rhm. halaman 27-28 cetakan ke 8 Maktab Al-Islami berkata, “Hadis-hadis sahih yang dikumpulkan oleh Bukhari dan Muslim, kesahihannya bukan karena diriwayatkan oleh mereka, tapi karena hadis-hadis itu sendiri sahih.” Tetapi, Albani telah nyata berlawanan dengan omongannya sendiri, karena sering melemahkan hadis dari dua syeikh tersebut.

Al-Albani dalam Dha’if Al-jami’ wa Ziyadatuh 4/111 nr. 4054. melemahkan hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Rasulallah Saw. bersabda, Allah Swt. berfirman, “Aku musuh dari tiga orang pada hari kebangkitan. Orang yang mengadakan  perjanjian atas Nama-Ku, tetapi dia sendiri melakukan pengkhianatan atasnya. Orang yang menjual orang yang merdeka sebagai budak, dan makan harta hasil penjualan tersebut. Dan orang yang mengambil buruh untuk dikerjakan dan bekerja penuh untuk dia, tapi dia tidak mau membayar gajinya”. (HR. Bukhari no.2114 dalam versi bahasa Arab atau dalam versi bahasa Inggris  3/430 hal. 236). 

  • Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan Nasai dari Abi Darda r.a., “Siapa yang membaca 10 surah terakhir dari Surah Al-Kahfi, akan dilindungi dari kejahatan Dajjal.” Hadis ini oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-jami’ wa Ziyadatuh, 5/233 nr. 5772 dinyatakan lemah. Walaupun hadis ini, juga dikutip oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin 2/1021 (dalam versi Inggris).  

Dalam riwayat Muslim, hadis ini tertulis menghafal 10 surah terakhir Al-Kahfi, bukan membaca sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Albani, ini adalah kesalahan yang nyata. Dan masih banyak riwayat Imam Bukhari dan Muslim yang dilemahkannya.

  • Albani sering mengatakan, dia tidak menemukan sanadnya atau dia tidak menemukannya. Misalnya, hadis dari Ibnu Mas’ud ra., “Al-Quran diturunkan dalam tujuh (macam) bahasa, setiap ayat ada yang jelas dan ada yang kurang jelas dan setiap larangan itu jelas...” Albani dalam Misykat al-Masabih, 1/80 no. 238 menyatakan, menurut penyelidikan nya dalam Syarh as-Sunnah banyak hadis dengan kata-kata “diceriterakan/diriwayatkan”. Ketika, dia menyelidiki Bab Masalah Ilmu dan Keutamaan Al-Quran, dia tidak menemukan hadis itu.  Syeikh Seggaf berkata, “Bila dia benar-benar tertarik menemukan hadis ini,  dianjurkan untuk melihat dalam bab yang berjudul  ‘Al-Khusama fi Al-Quran van Sharh-us-Sunnah (1/262). Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya no. 74; Abu Ya’la dalam Musnad-nya no. 5403; Tahawi dalam Syarh Al-Musykil Al-Athar 4/172, Bazzar dalam Kasy Al-Asrar 3/90, Haitami telah menyatakan dalam Majmu’ Al-Zawaid 7/152 dan dia merujuk kepada Bazzar, Abu Ya’la dan Thabrani dalam Al-Ausat yang berkata bahwa semua perawinya bisa dipercaya.
  • Albani sering menyalahkan para pakar Islam dalam menilai hadis. Misalnya Al-Albani mengeritik Imam Al-Muhaddis Abu al-Fadl Abdullah Ibnu Al-Siddiq Al-Ghimari rahimahullah, ketika meriwayatkan hadis dari Abu Hurairah r.a. dalam kitabnya Al-Kanz Al-Thameen yang bertalian dengan perawi Abu Maimuna, “Sebarkan salam, beri makan orang-orang miskin..” Setelah merujuk hadis ini dari Imam Ahmad dan lain-lain, Al-Albani dalam Silsilah Al-Dha’ifa, 3/492 berkata, bahwa sanadnya lemah.  Daruqutni juga berkata, “Qatada dari Abu Maimuna dari Abu Hurairah tidak dikenal dan itu harus dikesampingkan.” Al-Albani berkata pada halaman yang sama, “Pemberitahuan, pukulan bagi Suyuthi dan Munawi, ketika mereka menemukan hadis ini, dan saya juga telah menunjukkan dalam referensi yang lalu no. 571 bahwa Al-Ghimari telah salah menyebutkan (hadis) itu dalam Al-Kanz.”

Syeikh Seggaf berkata, “Sebenarnya justru Al-Albani yang terkena pukulan,  sebab sangat bertentangan dengan perkataannya dalam  Irwa Al-Ghalil, 3/238  yang menggunakan sanad yang sama. Dia berkata,  ‘Diklasifikasi- kan oleh Ahmad (2/295), al-Hakim....dari Qatada dari Abu Maymuna dan orang mempercayainya, sebagaimana yang disebutkan didalam buku Al-Taqrib dan Hakim berkata bahwa sanad yang sahih dan Ad-Dzahabi sepakat dengan Hakim.”

  • Albani, memuji seseorang di salah satu bukunya, dan mengecilkan orang tersebut di buku yang lain. Dia memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami dalam Sahih al Targhib wa Tarhib halaman 63, dengan perkataannya, “Saya ingin agar engkau mengetahui....yang dikomentari oleh ulama yang terkenal dan terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami.” Dan pada halaman yang sama dia mengatakan, “Dan apa yang membuat saya lebih senang dalam hal ini, bahwa kajian serta hasil penelitian ini ditanggapi (dengan baik--pen.) oleh yang terhormat Syeikh Habib al-Rahman al-Azami.” Tetapi, dalam Adab az-Zafaf (Akhlak Perkawinan dan Pernikahan), halaman 8 dia berkata,  “...salah satu musuh sunnah, hadis dan tauhid yang cukup terkenal adalah Syaikh Habib al-Rahman al-Azami...karena sikap pengecut- nya dan kekurangan ilmunya...”.

Inilah sebagian kecil yang kami nukil kesalahan Albani, yang ditulis oleh Syeikh Seggaf.  Bagi para pembaca, yang ingin membaca seluruh isi kitab Syeikh Seggaf ini dan berminat untuk memiliki kitab aslinya, bisa menulis surat pada alamat: IMAM AL-NAWAWI HOUSE Postbus 925393 AMMAN, Jordan.

 

Fatwa-fatwa Albani yang berlawanan dengan para salaf

  • Al-Albani fatwanya sering berlawanan pendapat para salaf dan pakar Islam. Al-Albani dan  kelompoknya, mengartikan penyerupaan Allah Swt secara dhohir teks tidak boleh ditakwil., misalnya firman Allah Swt. dan hadis mutasyabihat, yang menyebutkan betis, kaki, ketawa, turun, dilangit dan sebagainya.
  • Al-Albani berkata, “Kami sungguh meyakini kebanyakan juru takwil, bukanlah orang kafir yang pura-pura beriman, akan tetapi sesungguhnya mereka (juru ta’wil) benar-benar mengutarakan perkataan orang-orang kafir yang pura-pura beriman. Lebih lanjut dia berkata, Takwil adalah puncak (pemikiran) mazhab yang mengingkari sifat-sifat Tuhan.” (Fatawa A-Albani hal.522-523 dan Muktashorul Uluwwi hal. 23 dan sesudahnya).

Golongan anti takwil ada yang berkata, ‘mentakwil itu boleh secara global, kecuali apa yang berkaitan dengan Allah dan sifat-sifatNya, maka tidak ada penakwilannya!’        

Padahal, metode takwil sudah dilakukan oleh sahabat senior Abdullah bin Abbas r.a, dan diriwayatkan para pakar Islam (baca uraian kami dihalaman sebelumnya).

Kelompok Wahabi, sering berlawanan dengan faham para sahabat, salaf dan kholaf. Sudah tentu ada ulama-ulama yang memuji Syekh Albani ini, tapi mereka semuanya semazhab dan serumpun. 

Mengenai Tawasul, Albani lebih extrem lagi, dia mengatakan;

  • “Saya katakan kepada mereka, yang bertawasul dengan wali dan orang saleh, bahwa saya tidak segan sama sekali menamakan dan menghukum mereka sebagai Sesat dari kebenaran.Tidak ada masalah untuk menghukum mereka sebagai sesat dari kebenaran, dan ini sejalan dengan firman Allah kepada nabi Muhamad sebagai sesat dari kebenaran, sebelum turunnya wahyu Ad-Dhuha[93]:7”.(Fatawa Al-Albani hal.432).

Al-Albani menafsirkan surah Ad-Dhuha:7, Rasulallah Saw. yang sesat, padahal tidak ada para mufassirin yang menafsirkan seperti Imam mazhab Wahabi-Salafi ini. Para Mufasirin, tidak menisbatkan kata Dhollan kepada Rasulallah  Saw., sebagai seorang yang sesat, karena Nabi Muhamad Saw. tidak pernah sesat dari kebenaran baik sebelum masa kenabian maupun sesudahnya. Para mufassirin menafsirkan ayat itu, bahwa beliau Saw. ketika itu belum mengetahui kandungan isi Al-Quran dan kitab lainnya, kemudian diberi petunjuk dan jalan keluar oleh Allah Swt.. Beginipun juga, menurut tafsiran Imam Qurtubi.

Dalam Al-quran dan terjemahannya, yang dikeluarkan oleh Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran Dept. Agama RI th.1979/1980 di terjemahkan oleh Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Quran, diartikan sebagai beikut: “Dan Dia mendapati kamu (Muhamad) sebagai seorang yang bingung (kebingungan untuk mendapatkan kebenaran, yang tidak bisa dicapai oleh akal, lalu Allah Swt. menurunkan wahyu [petunjuk] kepada Muhamad Saw.), lalu Dia memberikan petunjuk”.  Jadi kata Dollan pada ayat Ad-Dhuha:7 itu, bukan diartikan bahwa junjungan kita Muhamad Saw.sebagai orang yang sesat!

  • Al-Albani mengatakan, ‘tawasul dengan zat Nabi dan menjadikan istighotsah (minta bantuan) kepada selain Allah adalah Syirik!’ (At-Tawasul  hal.25, hal.70 dan 74).

Perhatikan, hadis riwayat Imam Bukhori dalam–sahihnya kitab zakat bab barangsiapa meminta-minta kepada manusia untuk memperbanyak harta– meriwayatkan hadis dari Ibnu Umar,  Rasulallah Saw bersabda; “Sesungguhnya matahari kelak pada hari kiamat dekat, sehingga keringat sampai separuh telinga. Ketika mereka dalam keadaan seperti itu, mereka beristighotsah kepada Adam.., kemudian kepada Musa.. kemudian kepada Muhamad”   

Tawasul dan Istighotsah artinya sama, sebagaimana dikata- kan oleh Al-Hafizh Al-Lughowi (ahli bahasa) Taqiyudin As-Subki. Imam as Suyuti berkata, tentang pribadi As-Subki: Sungguh dia adalah Hafiz mujtahid Lughowi, Faqih (ahli fiqih) ushuli (ahli usuluddin) ahli nahwu dan ahli tauhid.

Hadis syafa’at diriwayatkan oleh imam Bukhori dengan dua lafaz. Lafaz yang pertama, ialah yang tersebut diatas dari Ibnu Umar dan yang kedua, dari Anas bin Malik dengan Lafaz istisyfaa’ (permohonan syafaat), konteksnya ialah, Fasyfa’ lanaa ‘inda Rabbana. (Berilah kami syafaat disisi Tuhan kita). 

Dari dua riwayat diatas ini, dapat diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya istighotsah itu adalah tawasul dan tawasul itu adalah istighotsah.

Al-Albani juga mengingkari pemberian nama Izroil—malaikat Pencabut nyawa Izroil. Dia berkata; ‘Sesungguhnya pemberian nama malaikat kewafatan dengan Izroil sebagaimana tersebar di kalangan manusia, itu tidak ada sumber asalnya. Hanya saja itu termasuk dari Israiliat (ceritera-ceritera bohong yang dibuat oleh Bani Israel)’.

Al-Albani menyalahi ijmak para pakar islam berikut;

  • Al-Hafiz Ibnu Jauzi Al-Hanbali ,dalam sebagaian karangan- nya, menyebut malaikat kewafatan itu dengan nama Izroil (Ismail bin Katsir Al-Qurasyi dalam tafsirnya jilid 3 hal.458 mengatakan bahwa malaikat kewafatan dalam atsar dikenal dengan nama Izroil).
  • Al-Qodhi Iyadh dalam kitab Asy-Syifa 2/303 telah menukil ijmak, bahwa nama malaikat kewafatan adalah Izroil!! Sebenarnya dalil ijmak ini saja, sudah cukup untuk menjawab kesalahan Al-Albani. Sabda Rasulallah Saw dari Abu Mas’ud Al-Badri: ‘Dan kamu harus berjamaah (menerima ijmak), karena sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan umat ini bersepakat atas kesesatan’ (Muwafa qotul Khobar Al-Khobaru 1/115). Hadis yang senada, juga disampaikan oleh Rasulallah Saw: ‘Umatku tidak akan bersepakat dalam kesalahan’.

 

Al-Albani  mengutip beberapa hadis, hendaknya orang membaca salam kepada Rasulallah Saw. dalam tasyahud; ‘Assalamu ‘alan Nabi’ (Salam sejahtera semoga dilimpahkan atas Nabi), sebagai ganti; ‘Assalamu ‘alaika ayuhan Nabiyyu warahmatullahi wa barakatuh” (Salam sejahtera, rahmat dan berkah Allah semoga tetap tercurahkan atasmu wahai Nabi). Alasannya, waktu Nabi Saw masih hidup boleh mengatakan, assalamua alaika....tetapi setelah wafatnya beliau harus mengucapkan Assalamu alan Nabi …     

Padahal, kalau kita membaca tulisan para Salaf dan pakar hadis, ucapan salam kepada Nabi Saw. dalam tasyahud, Assalamu ‘alaika … baik beliau masih hidup maupun setelah wafatnya. Kholifah Abubakar, Umar bin Khatab dan Ibnu Zubair mengajarkan kepada segenap manusia diatas mimbar setelah kewafatan Nabi Saw, at-Tasyahhud dengan lafal yang masyhur, yang didalamnya terdapat lafal ‘Assalaamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu warahmatullahi wa barakaatuh”.(lihat Ath-Thohawi dalam syarh Ma’aani Al-Aatsar 1/264, Al-Baihaqi dalam sunannya 2/142, dan Malik dalam Al-Muwattha’ kitab shalat bab tasyahhud dalam sholat).

Begitu pula, bisa kita baca kitab-kitab figih para pakar hadis, lebih mudahnya baca kitab fiqih empat mazhab (Hanafi, Maliki,Syafi’i dan Hanbali [ra]) oleh Allamah  Syeikh Muhamad bin Abdurrahman ad-Dimasyqi, menyebutkan lafal bacaan salam  dalam tasyahhud, Assalamu ‘alaika….! 

 

Nama para ulama pengeritik Al-Albani .

  • Murid Abdul Aziz bin Baz ,Muhamad bin Saleh al-Utsaimin, (ulama kelompok Wahabi) dalam kitabnya Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah (Cet. Riyadh: Dar al-Tsurayya, 2003). Dalam kitab itu, al-Utsaimin tampak sangat marah kepada Albani, “Ada seorang laki-laki dewasa ini (yang dimaksud Albani), yang tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali, mengatakan bahwa azan Jum'at yang pertama adalah bid‘ah, karena tidak dikenal pada masa Rasul, dan kita harus membatasi pada azan kedua saja. Kita katakan pada laki-laki tersebut, ‘sesungguhnya sunnahnya Utsman r.a., sunnah yang harus di ikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul Saw., dan tidak ditentang oleh seorang pun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih memiliki ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (Albani). Utsman ra. termasuk Khulafaur Rasyidin yang memperoleh pentunjuk, dan diperintahkan oleh Rasullah Saw. untuk di ikuti”.
  • Kritik lain datang dari sarjana ahli hadis asal India, Habib al-Rahman al-A‘zami. Ia secara khusus menulis buku berjudul Al-Bani Shudhudhuh wa Akhta’uh (Kekhilafan dan Kesalahan Albani) dalam empat jilid. 
  • Sarjana Syria, bernama Muhamad Said Ramadan al-Buuti, rahimahullah. Kritiknya kepada Albani, ia sampaikan dua buku klasiknya yang berjudul al-Lamadhhabiyya Akhtaru Bid‘atin Tuhaddidu al-Syari‘ah  al-Islamiyyah.
  • Demikian pula, dengan sarjana hadis asal Maroko, bernama Abdallah Ibnu Muhamad Ibnu al-Siddiq al-Ghumari.
  • Beberapa nama lain yang cukup memberikan perhatian serius kepada metode tashih hadis dan fatwa-fatwa Albani antara lain: Abdal-Aziz Ibnu Muhamad Ibnu al-Siddiq al-Ghumari, seorang sarjana hadis asal Maroko; Abdal-Fattah Abu Ghudda, ulama hadis asal Syiria; Muhamad Awama dan Mahmud Said Mamduh, dua sarjana hadis asal  Mesir; Ismail Ibnu Muhamad al-Ansar, sarjana hadis Arab Saudi, menuliskan kritik kepada Albani dalam sejumlah buku antara lain: Ta‘aqqubat ala “Silsilat al-Ahadis al-Dha‘ifa wa al-Mawdu‘a” li Al-Bâni (“Critique of Albani’s Book on Weak and Forged Hadis”), Tashhih Shalat al-Tarawikh ‘Isyrina Rak‘atan wa al-Râdd ‘ala Al-Bâni fi Tad‘ifih (“Establishing as Correct the Tarawih Sholat in Twenty Rak‘as and the Refutation of Its Weakening by Albani”), dan Ibahat al-Tahalli bi al-Dzahab al-Muhallaq li al-Nisa’ wa al-Radd ‘ala Al-Bani fi Tahrimih (“The Licitness of Wearing Gold Jewelry for Women Contrary to Albani’s Prohibition of it”).
  • Dan masih banyak nama-nama lain, yang memberikan perhatian khusus kepada derajat kepakaran Albani dalam ilmu hadis. Kendati demikian, kaum Wahabi tetap berkeyakinan bahwa tidak ada kontradiksi atau kesalahan dalam penilaian hadis oleh Syaikh Albani. Itu semua lebih sebagai ralat, koreksi atau rujukan. Setelah itu, kaum Wahabi balik menyerang dan mengecam pribadi ulama yang mengkritik Albani sebagai orang bodoh, golongan zindik, golongan sesat, tidak mengerti bahasa Arab, dan lain sebagainya.

Syaikh Albani, sering menyalahkan ulama lainnya. Ia sering mendudukkan dirinya sebagai sumber yang tidak pernah dikalahkan. Dia selalu meniru kata-kata ulama pakar dalam menyelidiki suatu hadis yaitu  Lam aqif ala sanadih artinya saya tidak akan berhenti hanya pada rantaian sanadnya atau kata-kata yang serupa.

Setelah kita menyimak sebagian kecil yang kami nukil, kesalahan, penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh ‘Syeikh Al-Albani’, bisa ditarik kesimpulan bahwa ilmu hadis tidak dapat digeluti oleh sembarang orang,  kecuali orang yang telah memenuhi kualifikasi sebagai seorang yang layak untuk menyandang gelar Al-Muhaddis (Ahli Hadis) dan memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu hadis dari universitas-universitas Islam yang terkemuka dan ‘Para Masyaikh’ yang memang ahli dalam bidang ini.

Para Ulama, telah menetapkan kriteria yang ketat agar hanya benar-benar ‘orang yang memang memenuhi kriteria sajalah’ yang layak menyandang gelar ini seperti yang diungkapkan para ulama berikut ini:

  • Al-Hafidh Ibnu Abdil Barr meriwayatkan dalam Jami’ Bayan Al-Ilmu, juz 2 halaman 130, dengan sanadnya sampai kepada Al-Qodhi Al-Mujtahid Ibnu Laila, ia berkata, “Seorang tidak dianggap memahami hadis kalau ia tidak mengetahui mana hadis yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan”. 
  • Al-Qodhi Iyadh dalam Tartib Al-Madarik, juz 2 halaman 427; Ibnu Wahab berkata, “Kalau saja Allah tidak menyelamatkan Aku melalui Malik dan Laits, maka tersesatlah aku. Ketika ditanya, mengapa begitu, ia menjawab, ‘Aku banyak menemukan hadis dan itu membingungkanku. Lalu aku menyampaikannya pada Malik dan Laits, maka mereka berkata, Ambillah ini dan tinggalkan itu.’”
  • Imam Malik berpesan kepada  kedua keponakannya (Abu Bakar dan Ismail, putra Abi Uwais); “Bukankah kalian menyukai hal ini (mengumpulkan dan mendengarkan hadis) serta mempelajarinya?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau berkata, “Jika kalian ingin mengambil manfaat dari hadis ini dan Allah menjadikannya bermanfaat bagi kalian, maka kurangilah kebiasaan kalian dan pelajarilah lebih dalam.” Seperti ini pula Al-Khatib meriwayatkan dengan sanad-nya dalam Al-Faqih wa Al-Mutafaqih juz II halaman 28. 
  • Al-Khatib meriwayatkan dalam kitabnya Faqih wa Al-Mutafaqih, juz II halaman 15-19, suatu pembicaraan yang panjang dari Imam Al-Muzni, pewaris ilmu Imam Syafi’i. Pada bagian akhir Al-Muzni berkata: “Perhatikan hadis yang kalian kumpulkan.Tuntutlah Ilmu dari para fuqaha agar kalian menjadi ahli fiqh.”
  • Imam Sakhowi, ‘siapakah Ahli Hadis itu sebenarnya’, “Menurut sebagian Imam hadis, orang yang disebut dengan Ahli Hadis (Muhaddis) adalah orang yang pernah menulis hadis, membaca, mendengar, dan menghafalkan, serta mengadakan rihlah (perjalanan) keberbagai tempat untuk, mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadis)  dan mengkomentari cabang dari kitab Musnad, Illat, Tarikh yang kurang lebih mencapai 1000 buah karangan. Jika demikian, (syarat-syarat ini terpenuhi--pen) maka tidak di ingkari bahwa dirinya adalah ahli hadis. Tetapi, jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, dan berkumpul dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan (dirinya memakai--pen) perhiasan lu’lu’ (permata-pen) dan marjan atau memakai pakaian yang berlebihan (pakaian yang berwarna-warni -pen). Dan hanya mempelajari hadis Al-Ifki wa Al-Butan. Maka ia telah merusak harga dirinya, bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asalnya. Ia, tidak pantas menyandang gelar seorang Muhaddis bahkan, ia bukan manusia. Karena dengan kebodohannya, ia telah memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar dari Agama Islam”. (Lihat Fathu Al-Mughis li Al-Sakhowi, juz 1 hal. 40-41).
  • Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadis yang bermazhab Hanafi, menukil pendapat Ibnu Asy-Syihhah ditambah syarat dari Ibnu Abidin dalam Hasyiyah-nya, yang dirangkum dalam bukunya ‘Daf Al-Auham An-Masalah AlQira’af Khalf Al-Imam’, hal. 15: “Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya diatas awan, padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi, ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadis (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadis yang bertentangan dengan mazhab Abu Hanifah, lalu berkata buanglah mazhab Abu Hanifah ke dinding, dan ambil hadis Rasulallah Saw.. Padahal hadis ini, telah mansukh atau bertentangan dengan hadis yang sanadnya lebih kuat dan sebab lainnya, sehingga hilanglah kewajiban mengamalkannya, dan dia tidak mengetahui. Bila pengamalan hadis seperti ini, diserahkan secara mutlak kepadanya maka ia akan tersesat dalam banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan banyak orang “.
  • Perhatikan peringatan Al-Hafidz Ibnu Abdil Barr berikut ini: “Dikatakan oleh Al-Qodhi Mundzir, bahwa Ibnu Abdil Barr mencela dua golongan, yang pertama, golongan yang tenggelam dalam ra’yu dan berpaling dari Sunnah, dan kedua, golongan yang sombong yang berlagak pintar padahal bodoh“. (menyampaikan hadis, tetapi tidak mengetahui isinya --pent) (Dirangkum dari Jami’ Bayan Al-Ilm juz II hal. 171).
  • Syeikh Ibnu Al-Qoyyim Al-Jauziyah berkata, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: “Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi Saw., perbedaan sahabat dan tabi’in, maka ia tidak boleh mengamalkan, dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar”. (I’lamu Al-Muwaqqi’in juz I hal. 44). Dan masih banyak lagi pendapat pakar Islam lainnya.

 

Apakah tidak terlalu berlebihan atau bahkan termasuk Ghuluw, menyamakan Syeikh Al-albani dengan Imam Bukhari, Imam Muslim, imam Abu Dawud dan sahabat-sahabat mereka? Ditambah lagi, dengan munculnya sikap arogan, dimana dengan mudahnya menyalahkan, bahkan membodoh-bodohkan para Ulama selain mazhabnya. Sehingga bukan Sunnah Nabi yang dibela dan ditegakkan, malah sebaliknya yang muncul adalah fitnah dan kekacauan yang timbul dari karya-karyanya.

Para ulama Salaf ,panutan umat, sudah memperingatkan kita akan kelompok orang seperti mereka ini. Sebagaimana juga hadis baginda Nabi Saw. yang artinya: “Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan,  hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur di dustakan,  para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta para ‘Ruwaibidhoh’. Ada yang bertanya: ‘Apa itu ‘Ruwaibidhoh’? Beliau Saw. menjawab: ‘Orang bodoh pandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak’ “. (HR. Al-Hakim jilid 4 hal. 512 No. 8439—ia menyatakan hadis ini sahih; HR. Ibnu Majah jilid 2 hal. 1339 no. 4036; HR. Ahmad jilid 2 hal. 219, 338 No.7899, 8440; HR. Abi Ya’la jilid 6 hal. 378 no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18 hal. 67  No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7 hal. 284 dalam Majma’ Zawa’id). 

Kami cantumkan sebagian judul kitab dan nama-nama ulama, yang mengeritik akidah atau keyakinan golongan Wahabi/Salafi dan pengikutnya, bukan ingin mencari kesalahan lawan atau ingin membongkar rahasia kekurangannya, tetapi yang kami sesalkan dan sayangkan,  golongan Wahabi/Salafi ini sangat fanatik kepada ulama kelompoknya sendiri, sehingga sering mensesatkan, mencela, mengkafirkan para ulama atau muslimin selain mazhabnya.  Mereka merasa yang paling pandai, murni dan.....dalam syari’at Islam !. Semoga Allah Swt. memberi hidayah kepada semua kaum muslimin dan mengampunkan dosa-dosa muslimin baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.Amin. Wallahua'lam.

Silahkan baca uraian pada Bab berikutnya.