Syair-syair Abu Thalib

Syair-syair Abu Thalib

  • Ketika Nabi Muhamad Saw.masih kecil, di saat hujan jarang turun, Abu Thalib membawanya ke Ka’bah. la berdiri dengan punggung menyentuh dinding Ka’bah, sambil mengangkat Nabi Muhamad Saw. dan memangkunya. Dia, menjadikan Nabi sebagai perantara dalam doanya kepada Allah, untuk meminta hujan. Nabi Muhamad juga berdoa bersamanya dengan wajah menghadap ke atas. Belum lagi selesai doa tersebut, awan hitam muncul di langit dan hujan turun dengan deras. Peristiwa ini, disebutkan dalam syair yang disusun oleh Abu Thalib untuk Nabi Muhamad Saw.:

“Tidakkah kalian lihat? Kami, mengetahui bahwa Muhamad adalah seorang Nabi, sebagaimana Musa. Dia telah
diramalkan pada kitab-kitab sebelumnya.Wajahnya yang
memancarkan cahaya merupakan perantara turunnya hujan. Dia adalah mata air bagi para yatim piatu dan pelindung para janda”
. (Syarah al-Bukhari, Qastalani, jilid 2, hal. 227; as-Sirah al-Halabiyah, jilid 1, ha1.125).

  • Syair lain, yang membuktikan keislaman Abu Thalib adalah:
    Untuk mengagungkannya, la memberi nama dari diri-Nya sendiri, Seseorang yang Agung dinamakan Muhamad.Tiada keraguan bahwa Allah telah menunjuk Muhamad sebagai seorang Rasul. Oleh karena itu, makna Ahmad adalah, pribadi yang paling agung diseluruh alam semesta”.(Dalail Nubuwah, Abu Nu’aim, jilid 1, hal. 6; Tarikh Ibnu Asakir, jilid 1, hal. 275; Syarh Ibnu al-Hadid, jilid 3, hal. 315; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 1, hal. 266; Tarikh Khamis, jilid 1, hal. 254).

Mari kita lanjutkan riwayat mengenai Abu Thalib berikut ini;

  • Abu Thalib adalah seorang lelaki yang beragama kuat dan menyakini kebenaran Nabi Muhamad Saw. la hidup selama 11 tahun dalam membantu kesulitan yang dihadapi Nabi Muhamad Saw. Ketika Abu Thalib wafat, kesulitan beliau Saw. memuncak, karena suku Quraisy membuatnya lebih menderita. Ibnu Abbas meriwayatkan sebuah hadis, ’ketika seseorang dari suku Quraisy melempar kotoran ke kepala Nabi, beliau pulang ke rumah. Pada saat itu, Nabi berkata, “Suku Quraisy tidak pernah memperlakukanku seperti ini, ketika Abu Thalib masih hidup, karena mereka adalah pengecut!” (Tarikh at-Thabari, jilid 2, hal. 229; Tarikh Ibnu Asakir, jilid 1, hal. 284; Mustadrak Hakim, jilid, 2, hal. 622; Tarikh Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 122; al-Faiq, Zamakhsyari, jilid 2, hal. 213; Tarikh al-Kharnis, jilid l, hal. 253; as-Sirah al-Halabiyah, jilid 1, hal. 375; Fathul Bari, jilid 7, hal. 153 dan 154; Sirah Ibnu Hisyam, jilid 2, hal. 58.)
  • Diriwayatkan pula, Nabi Muhamad berdiri di makam Abu Thalib dan berkata, “Engkau telah berlaku sangat baik kepada saudaramu. Semoga engkau mendapatkan balasan, wahai pamanku!” (Dalail Nubuwah, Baihaqi, jilid 2, hal.101; Ibid, jilid 2, hal. 103; Tarikh, Khatib Baghdadi, jilid 13, hal.196; Tarikh, Ibnu Katsir, jilid 3, hal. 125; al-Ishabah, jilid 4, ha1.116; Tadzkirat Sibt, hal. 2; Tarikh Yaqubi, jilid 2, hal. 26.). Dan masih banyak lagi riwayat tentang keimanan Abu Thalib yang tidak tercantum dibuku ini.

 

Dari riwayat-riwayat yang telah kami kemukakan, diatas ,bagi orang yang mau berpikir, menunjukkan bahwa Abdul Muthalib adalah pengikut agama Nabi Ibrahim a.s. yang saleh. Tidak layak jika kita gembar gembor, menuduh Abdul Muthalib, Abu Thalib dan orang tua Rasulallah Saw. itu musyrik/kafir. Begitu pula, dari riwayat-riwayat diatas, Nabi Saw. adalah manusia tersuci, yang telah disiapkan kelahirannya dari rahim yang suci pula,yaitu Aminah r.a.

 

Komentar-komentar lain, mengenai Abu Thalib

Ada orang yang bertanya;

”Apakah Abu Thalib mengucapkan Tuhanku’? Sepanjang yang saya baca, Abu Thalib sering menyebutkan ‘Tuhannya Muhamad’ dan nampaknya ia beriman kepada Tuhan itu, tetapi ia tidak pernah mengatakan ‘Tuhanku’. Hal tersebut, berarti dia tidak pernah mengucapkan secara terang-terangan keyakinan kepada Islam”.

Namun, menurut beberapa riwayat beliau telah  mengucapkan kalimat syahadat sejak awal mula Islam, tetapi tidak di hadapan khalayak. Bukti eksplisitnya tidak ditemukan dalam sejarah, karena sejarah ditulis berdasarkan berita dari masyarakat, bukan dari seseorang. Akan tetapi, ada bukti implisit dalam sejarah yang memberi keyakinan bahwa beliau sudah lama menjadi Muslim. Satu hal saja, yang dapat dijadikan bukti ke islamannya, ia berkata kepada orang kafir, Aku bersumpah dengan Tuhannya Muhamad!  Apakah ada dalam sejarah, dimana seorang yang kafir bersumpah dengan nama Tuhan yang tidak ia yakini, yang bertolak belakang dengan keyakinannya? Ketika seseorang bersumpah, ia bersumpah demi sesuatu yang penting baginya, bila tidak ia akan membuat pernyataanya tidak dapat lebih dipercaya oleh orang lain.

Orang Nasrani, ia akan bersumpah dengan menggunakan Kitab Injil, bila selain Nasrani akan bersumpah dengan kitab sucinya masing-masing. Dengan sumpahnya ini, akan meyakinkan orang lain atau para hakim di pengadilan, yang bersangkutan dengannya.

Perhatikan, masalah ini! Suku Quraisy memiliki banyak tuhan pada saat itu (seperti Hubal dan Uzza). Mengapa Abu Thalib meninggalkan mereka semua dan bersumpah dengan Tuhan yang tidak ia yakini?

Islam, adalah ketundukan dalam hati. Memang benar, seorang harus mengucapkan kalimat syahadat untuk menjadi Muslim, tetapi ia tidak harus melakukannya di depan khalayak, umpama ketika ia sendiri atau bersama seorang saja. Apalagi, bila ia takut dianiaya atau jika mengetahui dengan menyembunyikan keimanannya, ia dapat berjuang lebih baik. Inilah yang disebut Taqiyah. Lain halnya, dengan seorang yang munafik, meskipun menyatakan dirinya Muslim, ia tetap bukan Muslim. Taqiyah dan kemunafikan, adalah dua hal yang sangat berseberangan. Wallahua'lam

Silahkan baca uraian selanjutnya