Kehidupan ruh manusia setelah wafat

Kehidupan ruh manusia setelah wafat

Lebih jauh lagi, kita coba bahas sedikit mengenai kehidupan ruh manusia setelah wafat. Allah berfirman:

“Janganlah kalian berkata, bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu wafat. Mereka itu hidup. Tetapi, kalian tidak menyadarinya”. (Al-Baqarah [2]:154);

“Janganlah kalian mengira, orang-orang yang gugur dijalan Allah itu wafat. Mereka itu hidup. Bahkan, mereka memperoleh rezeki (kenikmatan besar)” (Ali-Imran [3]: 169).

“Mereka bertanya kepadamu (hai Muhamad) tentang ruh. Jawablah: ‘Itu termasuk urusan Tuhanku’, dan tidaklah kamu diberi ilmu (pengetahuan) melainkan sedikit”  (Al-Isra [17]: 85).

Dua firman Allah di atas menunjukkan, mereka yang sudah gugur sebenarnya masih hidup. Kehidupan mereka berada di alam ruhani. Jasadnya memang wafat, tapi ruhnya masih hidup.

Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya, III: 3 meriwayatkan, Rasulallah Saw. bersabda, “Seorang mayat mengetahui siapa yang mengangkatnya, siapa yang memandikan- nya dan siapa yang menurunkannya ke liang kubur.” Bahkan, Ibnul Qayyim dalam kitabnya Ar-Ruh menyatakan” “Ruh Abu Bakar‘ As-Shiddiq r.a. tampak (setelah ia wafat) di dalam suatu peperangan bertempur bersama sama pasukan muslimin melawan kaum musyrikin.”

Ibnul-Wadhih pun dalam Tarikh-nya mengemukakan, kesaksian seorang yang melihat Rasulallah Saw. membawa sebuah tombak pendek ikut berperang melawan musuh-musuh ahlul bait di Karbala. Padahal, beliau Saw. telah lama wafat.

Dalam banyak hadis diterangkan, Rasulallah Saw. bersabda: “Ruh-ruh orang yang wafat itu hidup dialam barzakh, bisa mendengar terompah-terompah kaki orang yang mengantarkan ke kuburnya.” (HR Bukhari dan Muslim); “Ruh-ruh orang yang wafat itu hidup dialam barzakh, bisa mendoakan kerabatnya”, (HR Ahmad dan Tirmidzi dari Anas). Begitu juga, dengan riwayat Isra dan Mikraj yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim,  Rasulallah Saw. setiap beliau Saw. bertemu para Nabi dan Rasul terdahulu, semua mendoakan kebajikan bagi beliau Saw.. Dengan demikian, di sini menunjukkan bahwa arwah orang yang telah wafat di alam baqa bisa berdoa.

Rasulallah Saw. juga bersabda: “Arwah kaum mukmin bisa terbang ke mana saja yang mereka kehendaki” (dari Salman Al-Farisi yang ditulis oleh Ibnul Qayyim ‘Mengenai soal ruh’ hal.144. Sabda Rasulallah Saw. yang serupa, diriwayatkan oleh Imam Malik r.a). Ibnul Qayyim lebih jauh menulis:

“Menurut mazhab golongan salaf serta para imam mereka, jika seseorang wafat, adakalanya ia akan berbahagia dan adakalanya pula celaka, hal mana akan di rasakan oleh ruh dan badannya. Ruhnya itu, akan tetap ada setelah ia berpisah dari badan, mengalami kebahagiaan atau kesengsaraan,sewaktu-waktu ia akan kembali berhubungan dengan badannya, buat menikmati kebahagiaan atau menderitakan kesengsaraan itu bersama-sama. Kemudian, bila datang saatnya kiamat besar, ruh-ruh itu pun kembali kepada tubuh masing-masing, dan bangkitlah mereka dari kubur untuk menghadap Allah Rabbul ‘Alamin. Dan, mengenai kembalinya badan-badan ini, disepakati bersama baik oleh golongan Muslimin, maupun Nasrani”.

Di antara para Muthawik atau penjaga sekitar makam Rasulallah Saw. di Madinah, sering membentak kepada para penziarah: “Wahai haji, Rasul telah wafat, berikan salam dan segera pergilah!” Jika, ada yang sedikit berlama-lama dalam berziarah lantas diteriaki, ‘Wahai haji, itu perbuatan bid’ah…!’ Tentu, mereka tidak akan bersikap demikian jika memperhatikan hadis-hadis dan kutipan dari Syaikh Ibnu Qayyim, murid dan penerus Ibnu Taimiyah dan selainnya.

Agama Islam mewajibkan mempercayai adanya alam ruh. Meski, semua ini masih belum diterima oleh akal manusia secara tuntas, namun kehidupan ruh. telah dijelaskan baik dalam kitabullah maupun sunnah Rasulallah Saw..

Marilah kita simak hadis Rasulallah Saw. dari Anas bin Malik sebagai berikut:

  عَنْ أنَسٍ بْنِ مَالِكٍ (ر) أنَّ رَسُوْلَ الله .صَ. تَرَكَ قََتـْلَى بَدْ ٍر ثَلاَثًا ثُمَّ أتَاهُـمْ فَقَامَ عَلَيْهِمْ فَنَادَاهُمْ فَقَالَ: يَا أبَا جَهلٍ ابْنَ هِشَـامٍ يَا أمَيَّةُ ابْنَ خَلَفٍ يَا عُتْبَةُ ابْنَ رَبِيْعَة                                        يَا شَيْبَة ابْنَ رَبِيـْعَة اَلَيْسَ قَدْ وَجَدْتُمْ  مَا وَعَد رَبُّكُمْ حَقـًّا   فَاِنّيِ قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي    حَقـًّا .فَسَمِعَ عُمَرُ قَوْلَ النَّبِي فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله كَيْفَ يَسْمَعُوْا وأنَّي يُجِيبُوْا وَ قَدْ جَيِِّفُوْا  . قَالَ: وَالَّـذِي نَفْسِي بِيَدِه مَا أنْـتُمْ بِأسْمَع لِمَا أقُوْلُ مِنْهُمْ  وَلَـكِنَّهُمْ لاَ يَقـدِرُوْنَ اَنْ يجِيْبُوا (رواه البخاري ومسلم)                                                       

"Rasulallah Saw. membiarkan sejumlah mayat orang kafir yang terbunuh dalam perang Badar selama tiga hari. Kemudian Beliau Saw. mendatangi mereka lalu berdiri sambil menyeru mereka, ‘Hai Abu Jahal bin Hisyam, Hai Umayah bin Khalaf, Hai Utbah bin Rabi’ah, Hai Syaibah bin Rabi’ah! Bukankah kamu telah mendapatkan janji Tuhanku sebagai sesuatu yang benar? Sesungguhnya, aku telah mendapatkan janji Tuhanku sebagai sesuatu yang benar?’. Umar bin Khatab r.a. mendengar ucapan Nabi Saw. bertanya ‘Wahai Rasulallah, bagaimana mereka bisa mendengar mendengar dan bagaimana pula mereka bisa menjawab, sedangkan mereka telah menjadi bangkai?’ Rasulallah Saw. bersabda, ‘Demi zat yang diriku ada di tanganNya, tidaklah kamu memiliki kemampuan mendengar,melebihi mereka terhadap apa yang aku ucapkan, akan tetapi, mereka tidak mampu menjawab’” (HR Bukhari dan Muslim). 

Dalam hadis di atas, ditegaskan kepada Umar bin Khatab r.a., mayat-mayat itu mampu mendengar apa yang diucapkan Rasulallah Saw. Bahkan, pendengaran si mayat lebih tajam dari kemampuan pendengaran para sahabat yang hadir. Hadis ini, juga menunjukkan kebolehan kita untuk memanggil orang yang telah wafat dengan kata-kata “Ya Fulan” (sesuai dengan namanya). 

Ada golongan, yang senang memutar balik makna hadis diatas,dengan mengatakan, hal ini karena Rasulallah Saw. yang berkata kepada si mayat, bila selain beliau Saw., mayat tersebut tidak akan bisa mendengar. Pikiran mereka semacam ini sudah tentu keliru. Dalam hadis itu, Rasulallah Saw. tidak mengatakan khusus untuk beliau mayat tersebut bisa mendengar ucapannya, sedangkan selain beliau mayat itu tidak bisa mendengar. Hal ini, diperkuat juga hadis-hadis lain di mana dinyatakan, orang yang sudah dikuburkan itu dikembalikan ruhnya kedalam tubuhnya, bisa mendengar terompah para pengantar jenazahnya, bisa merasakan hidup bahagia atau sengsara (azab kubur) di alam barzakh, dan lain sebagainya.

Pada riwayat-riwayat yang telah kami kemukakan, Nabi Saw. mensunnahkan ziarah kubur, memberi salam kepada mayat, memohonkan ampun bagi mayat pada waktu shalat jenazah,  berdoa ketika baru selesai dimakamkan, agar si mayat dikuatkan pendiriannya dan lain sebagainya.Tidak lain semuanya ini, menunjukkan semua mayat bisa mendapat syafa’at dan bisa mendengarkan perkataan mereka yang masih hidup. Berikut, kami tambahkan lagi beberapa riwayat yang serupa:

  • Berkata Abdullah bin Dinar r.a.,“Kulihat Abdullah bin Umar r.a. berdiri di hadapan makam Nabi Saw., memberi salam pada Nabi Saw. lalu berdoa, lalu memberi salam pada Abubakar dan Umar [r.a.]” (Sunan Imam Baihaqi Al-kubra hadis no.10052).
  • Dalam kitab yang sama, hadis no.10054, ”Rasulallah Saw. bersabda,‘Barangsiapa yang pergi haji, lalu menziarahi kuburku setelah aku wafat, sama saja dengan mengunjungi aku, saat aku hidup’ ”.
  • Hadis dari Abu Ya’la, dalam mengemukakan persoalan Nabi Isa a.s. dari Abu Hurairah r.a., Rasulallah Saw. bersabda, “Jika orang berdiri di atas kuburku, lalu memanggil ‘Ya Rasulallah’ pasti kujawab”.Hadis ini, diriwayat kan pula oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Al-Mathalibil-Aliyah jilid 4/23 pada bab ‘Kehidupan Rasulallah Saw. dalam kuburnya’.
  • Anas bin Malik r.a., meriwayatkan sebuah hadis, bahwa Rasulallah Saw. pernah menerangkan, “Para Nabi hidup di dalam kubur mereka dan mereka bersembahyang”. Hadis ini, diketengahkan oleh Abu Ya’la dan Al-Bazar di dalam kitab Majma’uz-Zawa’id jilid 8/211.
  • Imam Al-Baihaqi, mengetengahkan juga dalam bagian khusus dari risalahnya. Anas bin Malik r.a. juga mengatakan, “Rasulallah Saw. pernah memberitahu para sahabatnya: ‘Para Nabi tidak dibiarkan di dalam kubur mereka setelah empat puluh hari, tetapi, mereka bersembah-sujud di hadapan Allah Swt. hingga saat sangkala ditiup (pada hari kiamat)’ ”. Al-Baihaqi menanggapi hadis ini, dengan tegas mengatakan: “Tentang kehidupan para Nabi setelah mereka wafat, banyak diberitakan oleh hadis-hadis sahih”. Setelah itu, ia menunjuk kepada sebuah hadis sahih, “Rasulallah Saw. bersabda, ‘Aku melewati Musa (dalam waktu Isra’) sedang berdiri sembahyang di dalam kuburnya’ ”. 

 

Sebagaimana telah diketahui oleh kaum muslimin,  dalam perjalanan Isra Rasulallah Saw. melihat Nabi Musa a.s. sedang berdiri shalat, Nabi Isa as. juga sedang berdiri shalat. Bahkan, Rasulallah Saw. mengatakan, Nabi Isa a.s. mirip dengan Urwah bin Mas’ud As-Saqafi. Beliau Saw. juga melihat Nabi Ibrahim a.s. sedang berdiri shalat dan Nabi ini mirip dengan beliau Saw. Setiba saat shalat berjama’ah, beliaulah yang mengimami para Nabi dan Rasul sebelumnya. Usai shalat, malaikat Jibril as. berkata kepada beliau Saw.: ‘Ya Rasulallah, lihatlah, itu malaikat Malik, pengawal neraka, ucapkanlah salam kepadanya’. Akan tetapi, baru saja Rasulallah Saw. menoleh, ternyata malaikat Malik sudah mengucapkan salam lebih dahulu.  

Riwayat tentang Isra ini, dapat kita baca dalam Shahih Muslim yaitu riwayat yang berasal dari Anas bin Malik dan diketengahkan oleh Abdurrazzaq di dalam Al-Mushannaf jilid 3/ 577.  Dalam Dalailun-Nubuwwah, Al-Baihaqi meriwayatkan  sebuah hadis sahih dari Anas bin Malik r.a., “Rasulallah Saw. mengatakan setelah Isra’, ‘Pada malam Isra’, aku melihat Musa di bukit pasir merah sedang berdiri sembahyang dalam kuburnya”. Hadis ini, diketengahkan juga oleh Muslim dalam Sahih-nya jilid 11/268.  Dengan demikian, keterangan ini menunjukkan bahwa orang yang telah wafat masih bisa juga berdoa kepada Allah Swt. untuk orang yang masih hidup.

Adapun, hadis-hadis shohih Nabi Saw. mengenai pertanyaan dan siksa kubur, yang diriwayatkan oleh pakar hadis,, lebih mudahnya silahkan merujuk Fikih Sunnah karya Sayid Sabiq jilid 4 dari halaman 221. Beberapa pendapat Sayid Sabiq, sengaja kami kutip karena sebagian besar pendapat beliau sesuai dengan pendapat kelompok Wahabi/Salafi. Wallahua’lam.

Silahkan baca uraian selanjutnya