Keharaman Tawasul Versi Wahabi-Salafi

Keharaman Tawasul Versi Wahabi

Seperti telah disinggung, kaum Wahabi adalah kelompok yang sangat gencar melarang tawasul. Demikian pula dengan tabaruk dan  istighatsah. Argumen keharamannya juga berkenaan dengan tuduhan bahwa praktik tawasul merusak kemurnian tauhid. Jadi, setelah diharamkan, maka menyusul kemudian dengan tuduhan bid‘ah dhalalah dan syirik. Bagi kaum Wahabi, tawasul berarti meminta pertolongan kepada selain Khaliq. Jika pandangannya demikian, maka tabaruk (mengambil berkah dari orang salehatau para wali) tidak ada dalam konsep keberagamaan Wahabi. Begitu pula dengan istighatsah, karena dalam kamus Wahabi, majlis zikir adalah bid‘ah dhalalah.  

Secara leksikon, kata ‘tawasul’ mempunyai arti ‘darajah’  (kedudukan), ‘qurbah’ (kedekatan) dan ‘wasilah’ (penyampai/ penghubung). Sehingga sewaktu di katakan bahwa ‘washala fulan ilallah washilatan idza amala amalan taqarraba bihi ilaihi’ (Bila seseorang beramal dengan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah, amal tersebut dapat menjadi penghubung menyampaikan dirinya kepada Allah Swt.)’. (Ibnu Mandzur, Kitab Lisan al-Arab jilid 11 asal kata wa-sha-la). Dalam Al-Quran terdapat penggunaan kata tawasul dalam ayat berikut: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan’ (QS Al-Maidah [5]:35). Dalam ayat ini, Allah Swt. menjelaskan bahwa ketakwaan dan jihad merupakan sarana untuk sampainya manusia menuju Allah Swt.

Secara garis besar tawasul/wasitah bermakna perantara. Dalam praktiknya, ia banyak dilakukan ketika berdoa kepada Allah Swt.. Doa itu dilakukan dengan menyertakan nama Nabi Muhamad Rasulallah Saw. atau nama pribadi seseorang yang masyhur dikenal sebagai ahli takwa. Atau dengan menyebut-nyebut amal kebajikan si pendoa. Dengan tawasul ini, diyakini bahwa peluang dikabulkannya harapan dan doa lebih besar. Yang penting ditekankan di sini bahwa tujuan permintaan tetap ditujukan kepada Allah Swt. Termasuk juga praktik wasitah/tawasul ialah meminta bantuan kepada makhluk. Hal ini dipraktikkan dengan mengambil qiyas bahwa Nabi Muhamad Saw. adalah pemberi syafaat kepada ummatnya baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Demikian pula dengan permohonan kepada para sahabat Nabi Saw., kepada para waliyullah atau ahli taqwa, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Dalam perdebatan mengenai tawasul, yang menjadi pokok masalah adalah soal sarana-sarana lain ,selain yang disebutkan dalam ayat di atas, yang dipandang sah menurut syariat Islam. Sehingga semua sarana yang tidak mendapat legalitas syariat, tergolong kesesatan yang nyata. Baik kelompok ‘Kejawen’ maupun ‘Wahabi/Salafi’, keduanya telah terjerumus kedalam jurang ekstrimitas sehingga terjadi kerancuan yang berkaitan dengan Tawasul/Istighatsah dan Tabaruk.

Ini pula yang menjadi bahan perdebatan antara kaum Wahabi dengan kelompok lain. Muhamad bin Abdul Wahhab an-Najdi (pelopor dan imam gerakan Wahabi), dalam kitab Kasyfus Syubuhat halaman 60, menyatakan,

  • Jika ada sebagian orang musyrik (baca: muslim non-Wahabi/Salafi) mengatakan kepadamu, ‘Ingat lah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati’ (QS.Yunus [10]:62), atau mengatakan bahwa syafa’at adalah benar, atau mengatakan bahwa para nabi memiliki kedudukan di sisi Allah, atau mengungkapkan perkataan Nabi untuk berargumen menetapkan kebatilan mereka (seperti syafa’at, tawasul/ istighatsah, tabaruk—pen.), sedang kalian tidak memahaminya (tidak bisa menjawabnya)  katakanlah, ’Sesungguhnya Allah dalam Al-Quran menjelas- kan bahwa orang-orang yang menyimpang adalah orang yang meninggalkan ayat-ayat yang jelas (muhkam) dan mengikuti yang samar (mutasyabih)

Di sini jelas sekali, Muhamad bin Abdul Wahab menyatakan ‘sesat’ (bahkan menuduh musyrik) orang-orang yang meyakini adanya syafa’at. Menarik untuk diperhatikan bahwa Muhamad bin Abdul Wahhab mengajarkan kepada para pengikutnya “cara melarikan diri” dari diskusi mengenai topik ini. Ia tidak mau memasuki topik ini secara detail, tapi langsung melompat pada dalil lain tentang pembagian ayat mutasyabihat dan muhkamat. Tidak heran jika kita menyaksikan bagaimana debat kaum Wahabi saat ini. Mereka banyak mengeluarkan dalil baik dari nash Al-Quran maupun hadis, tapi sering kali konteksnya tidak tepat.

  • Nashiruddin Albani, seorang ahli hadis dari kalangan Wahabi-Salafi, pernah menyatakan dalam salah satu karyanya yang berjudul at-Tawasul: Ahkamuhu wa Anwa‘uhu (Tawasul: hukum-hukum dan jenis-jenisnya) begitu juga dalam mukaddimahnya atas kitab Syarh at-Thahawiyah” (hal.60), menyatakan, “Sesungguhnya masalah tawasul bukanlah tergolong masalah akidah.”
  • Lebih tegas lagi, pernyataan Abdullah bin Baz ,seorang mufti mazhab Wahabi, “Barangsiapa yang meminta (istighatsah/ tawasul) kepada Nabi dan meminta syafaat darinya maka ia telah merusak keislamannya.” (Al-Aqidah as-Shahihah wa Nawaqidh al-Islam).
  • Abdul Aziz Bin Baz ,Imam kelompok Wahabi, dalam kitab al-Fatawa al-Islamiyah jilid 4 hal.29 mengatakan, “Meletakkan Al-Quran dalam kendaraan (mobil) untuk mencari berkah (tabaruk) merupakan sesuatu yang tidak berasas (tidak ada asal/dasarnya) dalam syariat Islam.” Dengan kata lain, Abdul Aziz bin Baz menyatakan bahwa perbuatan semacam itu (mencari berkah) tidak ada dalilnya dan merupakan perbuatan bid’ah!
  • Ibnu Usaimin dalam kitab Majmu’at al-Fatawa li Ibnui Utsaimin fatwa nomer 366 mengatakan: “Mengambil berkah dari kisa’ (kain yang melingkari.red) Ka’bah dan mengusap-usapnya merupakan perbuatan bid’ah, karena Nabi tidak pernah mengajarkannya”. Dalam kasus yang sama (tabaruk) juga ia sebutkan dalam kitab Dalil al-Akhthahalaman 107, “Sebagian penziarah mengusapkan tangannya ke mihrab, mimbar dan tembok-tembok masjid. Semua prilaku itu masuk kategori bid’ah”. Inilah, fatwa Syeikh Utsaimin yang namanya selalu dicantumkan dalam situs dan blog-blog kaum Wahabi/Salafi, selain Abdul Aziz Bin Baz di atas tadi.
  • Ibnu Fauzan dalam kitab al-Bid’ah 28-29 mengatakan, “Tabaruk mempunyai arti mencari berkah, penetapan kebaikan, meminta kebaikan dan meminta tambahan dari hal-hal tadi. Permintaan ini, harus diminta dari sesuatu yang pemiliknya adalah yang memiliki kemampuan. Ini tidak lain hanyalah Allah semata. Hanya Dia yang mampu menurun- kan dan menetapkannya. Tiada satu makhluk pun yang mampu memberi ampunan, memberi berkah atau pun mengadakan dan menetapkan hal-hal tadi. Atas dasar itu, tidak di perbolehkan mengambil berkah dari tempat-tempat, peninggalan-peninggalan ataupun seseorang, baik yang masih hidup maupun yang telah mati. Karena hal itu bisa masuk kategori syirik”.

Jika tadi Bin Baz dan Bin Usaimin menyebutnya sebagai perbuatan bid'ah, sedangkan Ibnu Fauzan lebih berani lagi menyatakan bahwa Pencari Berkah Tergolong Musyrik.

  • Para ulama Wahabisme  yang terhimpun dalam “al-Lajnah ad-Da’imah li al-Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’” (Tim Tetap Pengkaji dan Pemberi Fatwa) dalam fatwanya nomer 3019 menyatakan, “…Perhatian masyarakat terhadap masjid ini dengan mengusap-usap tembok dan mihrab untuk mencari berkah merupakan pekerjaan bid’ah dan juga masuk dari salah satu jenis syirik. Perbuatan ini, sama dengan perbuatan kaum kafir pada zaman jahiliyah”.

 

Ternyata kumpulan ulama Wahabi ini ingin menyatukan antara fatwa para tokoh ulama mereka yang sebagian menyatakan bahwa “tabaruk” merupakan perbuatan bid’ah sedang yang lain menyatakan perbuatan syirik. Mereka ini menfatwakan bahwa “Pencarian berkah (tabaruk) masuk kategori bid’ah dan bagian dari bentuk syirik”. Poin inilah yang harus kita garis bawahi untuk bekal kajian berikutnya.

Ibnu Taimiyah, ulama yang sering disebut-sebut sebagai rujukan utama kaum Wahabi, dalam salah satu kitabnya At-Tawasul wal Wasilah malah tidak terlalu tegas bersikap mengenai soal tawasul. Terkadang Ibnu Taimiyah mengingkarinya, terkadang membolehkannya. Dan ada pula ia mencoba menjawab masalah ini dengan mengklasifikasikan jenis-jenis tawasssul. Dalam kitab itu, Ibnu Taimiyah mengklasifikasikan tawasul dalam tiga jenis:

Pertama, tawasul dengan ketaatan Nabi dan keimanan kepadanya. Ini tergolong asal muasal iman dan Islam. Barangsiapa yang mengingkarinya berarti telah kufur terhadap hal yang umum dan yang khusus.  

Kedua, tawasul dengan doa dan syafa’at nabi dalam arti bahwa nabi secara langsung dapat memberi syafa’at dan mendengar doa semasa hidupnya, sehingga di akhirat kelak, mereka akan ber-tawasul kepadanya untuk mendapat syafa’atnya. Barangsiapa yang mengingkari hal tersebut maka dia tergolong kafir murtad dan harus diminta untuk bertaubat. Jika tidak, maka ia harus dibunuh karena kemurtadannya.

Ketiga, tawasul untuk mendapat syafa’atnya pasca kewafatannya. Sungguh ini merupakan bid‘ah yang dibuat-buat.(Ibnu Taimiyah, At-Tawasul wal Wasilah, hal. 13, 20, dan 50)

Dari penjelasan di atas tadi, menunjukkan bahwa pengkategorian bid‘ah tawasul menurut Ibnu Taimiyah, terletak pada hidup dan wafatnya objek yang dijadikan tempat bertawasul.

Dalam kitab Qa‘idah Jalilah Fit-Tawasul Wal-Washilah ketika membahas firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”(QS Al-Maidah [5]:35). Ibnu Taimiyah menulis, [“Mencari washilah atau bertawasul untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. hanya dapat dilakukan oleh orang yang beriman kepada Muhamad Rasulallah Saw. dengan mengikuti tuntunan agamanya. Tawasul dengan beriman dan taat kepada beliau Saw. adalah wajib bagi setiap orang, lahir dan batin, baik di kala beliau masih hidup maupun setelah wafat, baik langsung di hadapan beliau sendiri atau pun tidak.

Bagi setiap muslim, tawasul dengan iman dan taat kepada Rasulallah Saw. adalah suatu hal yang tidak mungkin dapat ditinggalkan. Untuk memperoleh keridhaan Allah dan keselamatan dari murka-Nya tidak ada jalan lain kecuali tawasul dengan beriman dan taat kepada Rasul-Nya. Sebab, beliaulah penolong (Syafi’) ummat manusia. Beliau Saw. adalah makhluk Allah termulia yang dihormati wafat dan diagungkan oleh manusia-manusia terdahulu maupun generasi-generasi berikutnya hingga hari kiamat kelak. Di antara para Nabi dan Rasul yang menjadi penolong ummatnya masing-masing.

Muhamad Rasulallah Saw. adalah penolong (Syafi’) yang paling besar dan tinggi nilainya dan paling mulia dalam pandangan Allah Swt. Mengenai Nabi Musa as. Allah Swt. berfirman, bahwa Ia mulia di sisi Allah. Mengenai Nabi Isa as. Allah Swt. juga berfirman bahwa Ia mulia di dunia dan di akhirat, namun dalam firman-firman-Nya yang lain menegaskan bahwa Muhamad Rasulallah Saw. lebih mulia dari semua Nabi dan Rasul. Syafa’at dan doa beliau Saw. pada hari kiamat hanya bermanfaat bagi orang yang bertawasul dengan iman dan taat kepada Beliau Saw.”.]

Demikianlah pandangan Ibnu Taimiyah mengenai tawasul. Dari penjelasan Ibnu Taimiyah di atas kita dapat diambil dua pengertian:

  • Seorang Muslim yang taat, mencintai dan mengikuti tuntunan Rasulallah Saw. serta mempercayai syafa’at beliau, dapat dibenarkan kalau ia bertawasul dengan keimananannya, ketaatannya, kecintaannya dan kepatuhannya mengikuti tuntunan beliau Saw.. Kita bertawasul dengan Nabi kita Muhamad Saw. dibawah kesaksian Allah Swt., bahwa tawasul kita itu benar-benar atas dasar keimanan dan kecintaan kita kepada beliau Saw. Tambah lagi dengan keyakinan kita bahwa beliau Saw. adalah seorang Nabi dan Rasul yang sangat mulia dan amat tinggi martabatnya dalam pandangan Allah Swt..
  • Ibnu Taimiyah mengatakan, barang siapa yang didoakan oleh Rasulallah Saw. ia dapat bertawasul dengan doa beliau. Mengenai itu kita mempunyai keyakinan, bahwa Rasulallah Saw. senantiasa mendoakan umatnya. Hal ini kita ketahui dari berbagai hadis, antara lain yang di riwayatkan oleh Aisyah r.a., “Aku tahu benar bahwa Rasulallah Saw. orang yang baik hati, karena itu aku berani berkata kepada beliau, ‘Ya Rasulallah, berdoalah untukku.’ Kemudian beliau berdoa, ‘Ya Allah, limpahkanlah ampunan-Mu bagi Aisyah atas segala dosanya di masa lalu dan di masa mendatang, yang diperbuat secara diam-diam maupun secara terang-terangan.’ Aisyah r.a. tertawa. Kepadanya Rasulallah Saw. bertanya, ‘Apakah engkau gembira mendengar doaku? Ia menjawab, ‘Bagaimana aku tidak gembira karena doa anda? ’Rasulallah Saw. kemudian menegaskan, ‘Itulah doa bagi ummatku yang kuucapkan setiap shalat.’” (Hadis ini dikemukakan oleh Al-Bazzar dengan para perawi yang sahih, dan Ahmad bin Manshur Ar-Ramadi sebagai orang yang dapat dipercaya, demikianlah menurut kitab Majma’ az-Zawa’id).

 

Ada keterangan yang lebih mengherankan lagi, jika kaum Wahabi kontemporer sedemikian gencar melarang tawasul, Muhamad Ibnu Abdul Wahab dalam bukunya yang lain, Al-Istifta, menunjukkan peralihan sikap. Sikap pertama, sebagaimana diikuti Albani dan Al-Baz, ulama dan mufti Wahabi modern, memandang soal tawasul sebagai merusak akidah. Sedangkan dalam kitab Al-Istifta, Muhamad Ibnu Abd Wahab menyatakan bahwa soal tawasul adalah soal ikhtilaf fiqhiyah. Perbedaan mengenai soal cabang, bukan soal pokok (tauhid). Anehnya, kendati demikian, kaum Wahabi tetap menolak dan melarang keras praktik tawasul. Dalam kitab Al-Istifta dan juga diulang dalam Majmu’ah al-Muallafat bagian 111 halaman 68, yang diterbitkan khusus oleh Universitas Islam Imam Muhamad bin Sa’ud dalam pekan peringatan Muhamad Ibnu Abdul-Wahhab, tertulis,

  • Tidak ada salahnya seseorang bertawasul kepada orang-orang shalih. Pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang memperbolehkan tawasul khusus kepada Nabi Muhamad Saw. saja, berlainan sekali dengan pendapat sementara orang yang tidak memperbolehkan minta pertolongan kepada sesama makhluk.  

Banyak ulama yang tidak menyukai hal itu (tawasul). Kami sendiri sependapat dengan jumhur ulama yang memandang tawasul itu makruh, tidaklah berarti bahwa kami mengingkari atau melarang orang bertawasul. Kami pun tidak mempersalahkan orang yang melakukan ijtihad mengenai soal itu. Yang kami ingkari dan tidak dapat dibenarkan ialah orang yang lebih banyak meminta (berdoa) kepada sesama makhluk daripada mohon kepada Allah Swt.. Yang kami maksud adalah orang yang minta-minta kepada kuburan, seperti kuburan Syaikh Abdul Kadir Al-Jailani dan lain-lain. Kepada kuburan-kuburan itu mereka minta supaya diselamatkan dari bahaya, minta supaya dipenuhi keinginannya dan lain sebagainya.

Keterangan di atas berbeda sekali dengan isi surat yang dikirimkan oleh Muhamad Ibnu Abdul Wahab kepada warga Qushim. Dalam surat itu, Muhamad Ibnu Abd Wahab menghukumi kafir orang yang bertawasul kepada orang-orang saleh; menghukumi kafir Al-Bushairi (pengarang kitab  Burdah) atas kalimat ya akramal khalq... dan membakar kitab Dalailul Khairat. (lihat kumpulan fatwa Syaikh Abdul Wahab yang diterbitkan oleh Universitas Muhamad Bin Saud Riyadh bagian ketiga hal.68).

Kelompok Wahabi-Salafi memahami tawasul sebagai bentuk penyembahan kepada selain Allah. Mereka menyamakan argumen kaum jahiliah ketika diminta berhenti menyembah berhala, “Kami tidak menyembah mereka (berhala-berhala) kecuali untuk mendekatkan diri kami sedekatnya dengan Allah.” (QS. Az-Zumar [39]:3). Mereka mendudukan para ahli takwa dan orang-orang saleh, yang dijadikan sebagai sarana (wasilah) dalam bertawasul sebagai “berhala” yang disembah oleh para ahli tawasul. Oleh karena ityu, kaum Wahabi menyebut praktik tawasul sebagai syirik. Dengan asumsi seperti ini, maka kaum Wahabi memperkuat tuduhannya dengan sejumlah dalil nash mengenai larangan menyekutukan Allah Swt., antara lain:

“...Maka janganlah kalian menyembah kepada Allah (dengan) menyertakan seseorang…”  (QS Al-Jin [72]: 18);

Hanya Allah lah (yang berhak mengabulkan) doa yang benar. Apa-apa juga yang mereka seru selain Allah tidak akan dapat mengabulkan apapun juga bagi mereka.” (QS. Ar-Ra’ad [13]: 14).

“Tahukah engkau, apakah hari pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah engkau, apakah hari pembalasan itu? Yaitu hari pada saat seseorang tidak berdaya sedikitpun menolong orang lain; dan segala urusan pada hari itu berada di dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infithar [82]:17-19)

Kelompok ini, menyamakan orang-orang yang bertawasul sebagai sama dengan kaum musyrikin jahiliyah. Mereka menuduh bahwa dengan bertawasul berarti mengakui dan meyakini adanya sifat-sifat ketuhanan kepada objek tawasul, sebagaimana kaum musyrik jahiliyah menganggap patung-patung mereka. Semuanya dinilai sebagai telah menyembah selain Allah dan menyekutukan Allah dengan yang lain.

Untuk menyerang kaum yang sering bertawasul, kaum Wahabi biasanya memahami dua hadis berikut secara tekstual. Hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Jika engkau minta sesuatu mintalah pada Allah dan jika engkau hendak minta pertolongan mintalah kepada Allah. Ketahuilah, seumpama manusia sedunia berkumpul untuk menolongmu, mereka tidak akan dapat memberi pertolongan, selain apa yang telah disurahkan Allah bagimu. Dan seumpama mereka berkumpul untuk mencelakakan dirimu, mereka tidak akan dapat berbuat mencelakakan dirimu selain dengan apa yang telah disurahkan Allah menjadi nasibmu” (HR. Tirmidzi).
  • Pada zaman Rasulallah Saw. ada seorang munafik yang selalu mengganggu kehidupan kaum muslimin. Ketika itu Abu Bakar r.a. berkata pada teman-temannya, “Mari kita minta pertolongan pada Rasulallah dari gangguan si munafik itu.” Kepada mereka beliau Saw. menjawab, “Itu tidak dapat dimintakan pertolongan kepadaku, tetapi hanya dapat dimintakan pertolongan kepada Allah.” (HR. Thabrani)

 

Dengan hadis di atas, bagi kaum Wahabi-Salafi semua permintaan dan semua pertolongan yang diminta dari selain Allah adalah syirik (keluar dari agama). Mereka, menyamaratakan semua wasilah sebagai “berhala” yang disembah. Oleh karena itu, tawasssul adalah syirik. Berbeda dengan kaum Sunni yang memahami hadis-hadis tersebut sebagai peringatan agar kaum Muslim jangan lengah, segala sebab musabab yang mendatangkan kebaikan berasal dari Allah Swt. Jadi bila hendak minta tolong pada manusia, haruslah tetap yakin bahwa bisa atau tidak, mau atau tidak mau, sepenuhnya tergantung pada kehendak dan izin Allah Swt. Hadis-hadis di atas, bagi kebanyakan kaum Sunnni bermakna untuk memantapkan akidah. Posisi para nabi dan wali Allah hanyalah sebagai wasilah (perantara), tidak lebih dari itu.

Bagi mayoritas ulama Sunni,  penghormatan, pemuliaan, tawasul dan tabaruk terhadap para waliyullah serta orang-orang saleh lainnya merupakan hal yang mustahab (lebih disukai). Para nabi, wali dan orang-orang saleh adalah kelompok yang selalu mendekatkan diri kepada Allah. Mereka berzikir siang malam.

Rasulallah Saw. menyebutkan kemuliaan dan keistemewaan para wali Allah (shalihin) dari hadis yang berasal dari Mu’adz bin Jabal r.a., dimana Rasulallah Saw. bersabda, “Ingat kepada para nabi adalah bagian dari ibadah; ingat kepada orang-orang saleh adalah kaffarah (menebus dosa); ingat mati adalah sedekah dan ingat kuburan mendekatkan kalian kepada surga” (HR Ad-Dailimi).

Agaknya sulit bagi golongan pengingkar untuk menerima kedudukan khusus para nabi, wali dan orang-orang shalih. Dipastikan juga, bahwa mereka sulit menerima kenyataan tawasul kepada para nabi, wali dan orang-orang saleh yang gerak-geriknya selalu dalam bimbingan Allah Swt.. Karena jika melibatkan para nabi, wali dan orang-orang saleh dalam berdoa kepada Allah, bagi golongan ini berarti menempatkan para nabi, wali dan orang-orang saleh sebagai berhala.Wallahua'lam.

Silahkan baca uraian selanjutnya