Keturunan yang dijuluki Syarif/Sayid atau Syarifah/Sayidah

Keturunan yang dijuluki Syarif/Sayid atau Syarifah/ Sayidah 

Nabi Saw. memuliakan anaknya Fathimah sebagai penerus nasabnya, sudah sering diceritakan dalam sejarah. Jadi jelas, nasab keturunan Rasulallah Saw. pada dasarnya semua keturunan Ahlul Bait Rasulallah Saw., khususnya adalah, yang dari keturunan Al-Hasan dan Al-Husain radhiyallah‘anhuma. Bukan dari garis keturunan dua orang saudara perempuan mereka berdua, walaupun semuanya ini adalah putri-putri Siti Fathimah binti Rasulallah Saw, kepada mereka diharamkan menerima sedekah/zakat.

Ketentuan seperti ini, berdasarkan pada beberapa hadis berikut ini;

  • Dari Jabir r.a. yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadraknya dan oleh Abu Ya’la dalam Musnad-nya. Menurut hadis tersebut, Siti Fathimah r.a. menuturkan bahwa ayahnya (Rasulallah Saw.) pernah berkata, “Setiap orang dari anak Adam (yang dilahirkan oleh seorang ibu) termasuk di dalam suatu ‘ashbah (kelompok dari satu keturunan), kecuali dua orang putra (Siti) Fathimah. Akulah wali dan ashobah mereka berdua”. Yang dimaksud dua orang putra Siti Fathimah di sini yaitu Al-Hasan dan Al-Husain. Juga dalam hadis lain, Rasulallah Saw. pernah bersabda, “Semua anak Adam bernasab kepada orangtua lelaki (ayah mereka), kecuali anak-anak Fathimah (Al-Hasan dan Al-Husain). Aku lah ayah mereka dan akulah yang menurunkan mereka”.
  • Beliau Saw. bersabda; “Keturunanku adalah dari anak perempuan ku, Fathimah.” Atau hadis dari Umar bin Khatab r.a., Aku mendengar Rasulullah bersabda, “Semua anak dari perempuan, bernasab kepada ayah mereka, kecuali yang dilahirkan Fathimah. Akulah ayah mereka”. (Kifayah at-Thalib, 381 oleh  Allamah al-Kanji).
  • Dalam hadis dari Jabir bin Abdullah al-Anshari r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Allah azza wajalla menjadikan keturunanku dalam sulbi Ali bin Abi Thalib”. (Kifayah al-Thalib karya Allamah Kanji [Muhammad bin Yusuf al-Syafi’i]; Ibnu Hajar al-Makki dalam al-Shawaiq al-Muhriqah, 79&94, dari At-Thabrani dari Jabir bin Abdulah al-Anshari; Riwayat Khatib al-Khawarizmi dalam Manaqib Ibnu Abbas).
  • Pada kesempatan lain, ketika Nabi Saw. sedang duduk dengan Abbas, Ali datang menemui Rasul. Setelah menjawab salam Ali, lalu Rasul merangkul dan mencium kening Ali. Melihat ini, Abbas bertanya pada Rasul, ’Apakah anda mencintainya’? Jawab Rasul Saw., ‘....Allah menjadikan keturunanku dalam sulbi orang ini (yakni Ali)’. (At-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir).
  • Begitu pula, sabda Rasulallah Saw., “Setiap hasab dan nasab terputus pada hari kiamat kecuali hasab dan nasabku”. (Allamah al-Kanji dalam Kifayah at-Thalib,380, at-Thabari dalam Tarjamah al-Hasan; Sulaiman Hanafi dalam Yanabi al-Mawaddah; Jalaluddin as-Suyuthi dalam Ihya al-Mayyit fi Fadhail Ahl Bayt; Abu Bakar bin Syihabuddin dalam Rasyfah al-Shadi fi Bahr Fadhail Bani al-Nabi al-Hadi, bab 3, cetakan Mesir; Ibnu Hajar Haitami dalam al-Shawaiq al-Muhriqah, Bab 9, Pasal 8, Hadis No.17; dan lain-lain).

Hadis-hadis di atas itu, diperkuat dengan sabda Rasulallah Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, di mana mana beliau Saw. bersabda: “Dua orang putraku ini (beliau sambil menunjuk pada Al-Hasan dan Al-Husain) adalah Imam-Imam, baik di saat mereka sedang duduk atau pun sedang berdiri” Begitu pula,  dengan firman Allah Swt. dalam ayat mubahalah di Surah Ali Imrani [3] : 61.

Peristiwa mubahalah terjadi pada tahun ke 10 Hijriyyah. Kejadian ini berkenaan dengan datangnya utusan utusan kaum Nasrani dari daerah Najran. Maksud para utusan ini adalah untuk menyanggah kebenaran berita-berita Al-Quran mengenai Nabi Isa as. Pembicaraan itu tidak menghasilkan persetujuan apapun, selain kesepakatan bersama untuk bermohon kepada Allah Swt. untuk menurunkan kutukan dan siksa kepada pihak yang berdusta. Dalam hal itu kedua belah pihak menentukan tempat dan waktu yang telah disetujui oleh kedua belah pihak.             

Ketika waktu yang ditentukan tiba, Rasulallah Saw. mengajak orang-orang yang terdekat yaitu kerabat Beliau Saw. yang dipandang paling mulia dan terhormat. Rasulallah Saw. berjalan menuju tempat tersebut dengan menggendong Al-Husain ra. yang masih kanak-kanak dan menggandeng Al-Hasan ra. yang sudah agak besar. Dibelakang Beliau Saw. berjalan Siti Fathimah ra. dengan kain kerudung, sedangkan Imam Alikw. berjalan di belakangnya.

Beliau Saw. bertemu dengan Kaum Nasrani tersebut sambil bersabda: “Mereka ini adalah anak-anak kami, diri kami, dan wanita kami, maka panggillah anak-anak kamu, diri kamu dan wanita-wanita kamu, kemudian mari kita bermubâhalah kepada Allah dan minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”.

Menurut para ahli tafsir dan hadis, yang dimaksud kata anak-anak kami dalam ayat itu ialah Al-Hasan dan Al-Husain ra., yang di maksud wanita-wanita kami  adalah Siti Fathimah ra. dan yang dimaksud diri-diri kami dalam ayat tersebut yaitu Rasulallah Saw. dan Imam Ali kw.. Masalah ini dapat dirujuk, di antaranya dalam (Sahih Muslim; Al-Fadhail, bab Fadhail Ali bin Abi Thalib, jilid 2 hal.360 cet. Isa Al-Halabi; Syarah An-Nawawi jilid 15 hal. 176 cet.Mesir;  Sahih At- Tirmidzi, jilid 4 hal. 293, hadis ke 3085; jilid 5 hal.301 hadis ke 3808; Al-Mustadrak Al-Hakim, jilid 3, hal.150; Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 1 hal.185 cet. Al-Maimaniyah, jilid 3 hal.97 hadis ke 1608, cet. Darul Ma’arif;  Tafsir Ath-Thabari jilid 3, hal.299, 330, 301, jilid 3 hal.192 cet. Al-Maimaniyah Mesir; Tafsir Ibnu Katsir jilid 1, hal.370-371; Tafsir Al-Qurthubi jilid 4 hal. 104; Kifayah Ath-Thalib oleh Al-kanji Asy-Syafi’i hal. 54, 85, 142 cet. Al-Haidariyah; hal.13, 28, 29, 55, 56 cet. Al-Ghira; Ahkamul Qur’an oleh Ibnu Al-‘Arabi jilid 1 hal. 275 cet.kedua Al-Halabi; jilid 1 hal.115, cet. As-Sa’adah Mesir; Jami’ul Ushul oleh Ibnu Atsir, jilid 9 hal. 470). Dan masih banyak lagi lainnya.

 

Kalimat-kalimat hadis tersebut menunjukkan, bahwa  Rasul Saw. telah mengkhususkan pengelompokan Al-Hasan dan Al-Husain sebagai keturunan beliau sendiri, meski pun keduanya adalah putra-putra pasangan Imam Ali bin Abi Thalib dan Siti Fathimah binti Muhamad Saw. Adapun, dua orang saudara perempuan Al-Hasan dan Al-Husain yaitu Siti Zainab dan Siti Ummu Kaltsum -radhiyallahuma- anak-anak mereka berdua ini, dikecualikan dari pengelompokan nasab dengan Rasulallah Saw., karena anak-anak dari dua orang putri Siti Fathimah r.a. ini akan bernasab kepada ayahnya (suami dua orang putri Siti Fathimah) masing-masing yang bukan dari keluarga Ahlul-Bait.

Itulah, sebabnya kaum salaf (kaum dahulu) dan khalaf (kaum belakangan) memandang anak lelaki seseorang syarifah (wanita dari keturunan Rasulallah Saw.) tidak dapat disebut syarif atau sayid, jika ayahnya bukan dari golongan Ahlul-Bait (keturunan) Rasulallah Saw.. Oleh karena itu, Rasulallah Saw. menetapkan kekhususan tersebut hanya berlaku bagi dua orang putra Siti Fathimah r.a. dan tidak berlaku bagi anak-anak yang dilahirkan oleh putri-putri Rasulallah Saw. selain Siti Fathimah ra.

Seperti Siti Zainab binti Muhammad Saw., dia  mempunyai anak perempuan dari seorang suami ,Abul Ash bin Rabi’, yang bukan Ahlul Bait. Dengan sendirinya, anak tersebut tidak termasuk kelompok Ahlul-Bait. Ketentuan Rasulallah Saw. itu ditetapkan oleh beliau semasa hidupnya. Atas dasar itu, maka anak-anak Amamah binti Abul Ash bin ar-Rabi’  tidak dinasabkan kepada Rasulallah Saw. Seandai- nya Zainab binti Muhammad Saw. melahirkan anak lelaki dari seorang suami dari kalangan Ahlul Bait, tentu bagi anak lelakinya itu, berlaku ketentuan yang berlaku juga pada Al-Hasan dan Al-Husain [r.a.], dinasabkan kepada Muhamad Saw.. Wallahua'lam.

Silahkan baca uraian selanjutnya